Keempat tipe ini muncul ketika ikatan emosional yang tinggi dan
rendah saling berklasifikasi silang dengan pengulangan dalam
mengkonsumsi yang tinggi dan rendah. Empat tipe loyalitas tersebut yaitu:
- Loyalitas Premium (premium loyalty)
Merupakan tipe loyalitas yang diinginkan atau diharapkan
oleh setiap perusahaan. Pelanggan pada kategori ini bangga terhadap
produk yang mereka gunakan dan tidak segan-segan menghimbau 10
orang-orang yang ada disekitarnya untuk membeli produk tersebut.
Pelanggan ini adalah yang sangat berharga dan harus dipertahankan
serta diperhatikan kebutuhannya oleh perusahaan karena memberikan
keuntungan dalam melakukan promosi. - Loyalitas lemah (innertia loyalty)
Pelanggan pada tipe ini, melakukan pembelian terhadap suatu
produk atau jasa hanya dikarenakan kebiasaan mereka. Pelanggan
dengan tipe ini sangat mudah untuk berpaling pada pesaing secara
nyata. Sangat memungkinkan bagi perusahaan untuk meningkatkan
pelanggan kategori ini pada tingkat yang lebih tinggi. Caranya adalah
dengan bersikap ramah dalam pelayanan dan meningkatkan
perubahan positif dari produk dan jasa seperti yang diharapkan
pelanggan tersebut. - Loyalitas tersembunyi (latent loyalty)
Ketika seorang pelanggan berada pada tahapan ini, dalam
melakukan pembelian mereka akan mereka cenderung untuk lebih
situasional daripada attitudinal. Dengan memahami faktor situasional,
pihak pelaku bisnis dapat melakukan diversifikasi produk untuk
memerangi situasi tersebut dan memberikan tingkat kepuasan
terhadap tamu, dengan harapan mampu meningkatkan tamu dalam
melakukan pembelian ulang. - Tidak loyal (no loyalty)
Untuk berbagai macam alasan, beberapa pelanggan tidak
menerapkan sifat loyalitas pada suatu suatu produk barang atau jasa.
Para pelaku bisnis hendaknya menghindari tamu tersebut untuk
menjadi target mereka, karena mereka tidak akan menjadi loyal dan
hal tersebut akan sedikit berpengaruh pada tingkat penjualan dan
keuntungan bisnis perusahaan.
