Indikator Pengembangan Karir


Menurut Veitzhal Rivai (2008), menjelaskan indikator
pengembangan karir adalah sebagai berikut :
a) Perlakuan yang adil dalam karir
Perlakukan yang adil itu hanya bisa terwujud apabila kriteria
promosi didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang
objektif, rasional, dan diketahui secara luas dikalangan
karyawan.
b) Kepedulian para atasan langsung
Para karyawan pada umumnya mendambakan keterlibatan
langsung mereka dalam perencanan karir masing-masing. Salah
satu bentuk keperdulian itu adalah memberikan umpan balik
kepada para karyawan tentang pelaksanaan tugas masingmasing karyawan tersebut mengetahui potensi yang perlu
diatasi. Pada giliranya umpan balik itu merupakan bahan
penting bagi karyawan mengenai langkah awal apa yang perlu
diambilnya agar kemungkinannya untuk dipromosikan menjadi
lebih besar.
c) Informasi tentang berbagai peluang promosi
Para karyawan pada umumnya mengharapkan bahwa mereka
memiliki akses kepada informasi tentang berbagai peluang
untuk dipromosikan. Akses ini sangat penting terutama apabila
lowongan yang tersedia diisi melalui proses seleksi internal
yang bersifat kompetitif. Jika akases demikian tidak ada atau
sangat terbatas para karyawan akan mudah beranggapan bahwa
prinsip keadilan dan kesamaan dan kesempatan untuk
dipertimbangkan.
d) Adanya minat untuk dipromosikan
Pendekatan yang tepat digunakan dalam hal menumbuhkan
minat para karyawan untuk pengembangan karir adalah
pendekatan fleksibel dan proaktif. Artinya, minat untuk
mengembangan karir sangat individualistic sifatnya. Seorang
karyawan memperhitungkan berbagai faktor seperti usia, jenis
kelamin, jenis dan sifat pekerjaan sekarang, pendidikan dan
pelatihan yang ditempuh, jumlah tanggungan dan berbagai
faktor lainnya. Berbagai faktor tersebut dapat berakibat pada
besarnya minat seseorang untuk mengembangkan karirnya.
e) Tingkat kepuasan
Meskipun secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang
ingin meraih kemajuan, termasuk dalam meniti karir, ukuran
keberhasilan yang digunakan memang berbeda-beda. Perbedaan
tersebut merupakan akibat tingkat kepuasan, dan dalam konteks
terakhir tidak selau berarti keberhasilan mencapai posisi
tertinggi dalam organisasi, melainkan pula berarti bersedia
menerima kenyataan bahwa karena berbagai faktor pembatasan
yang dihadapi oleh seseorang. Karyawan merasa puas apabila ia
dapat mencapai tingkat tertentu dalam karirnya meskipun tidak
banyak anak tangga karir yang berhasil dinaikinya. Tegasnya,
seseorang bisa merasa puas karena mengetahui bahwa apa yang
dicapainya itu sudah meruapakan hasil yang maksimal dan
berusaha mencapai anak tangga yang lebih tinggi merupakan
usaha yang sia-sia karena mustahil untuk dicapai.