Sikap Materialistis


Menurut Kamus Bahasa Indonesia, materialisme berarti “pandangan hidup
yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam
alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang
mengatasi alam indera” (Materialisme, n.d.). Dalam psikologi, materialisme
didefinisikan pandangan yang berisi orientasi, sikap, keyakinan, dan nilai-nilai
hidup yang menekankan atau mementingkan kepemilikan barang- barang
material atau kekayaan material di atas nilai-nilai hidup lainnya, seperti
yang berkenaan dengan hal-hal spiritual, intelektual, sosial, dan budaya (Kasser,
2002, dalam Husna, 2015). Pada definisi yang lain, materialisme
mencerminkan suatu set keyakinan yang berkenaan dengan seberapa penting
perolehan dan pemilikan objek (barang) dalam hidup (Unanue, Rempel, Gómez,
& Van den Broeck, 2017).
Materialisme dapat menyebabkan sederet konsekuensi negatif, seperti
berkurangnya kesejahteraan, ketidakamanan, kerapuhan harga diri, dan minimnya
hubungan dengan sesama (Kasser, 2002, dalam Xie, 2016). Dalam dunia kerja,
studi baru-baru ini mengindikasikan bahwa nilai materialistik berhubungan
negatif dengan luasnya indikator dari kesejahteraan individu, termasuk kepuasan
akan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik, kepuasan kerja, serta kepuasan karir
(Xie, Shi, & Zhou, 2016). Orang yang mendukung nilai materialistik akan tidak
mungkin menunjukkan jiwa sosial dan perilaku yang kooperatif, serta cenderung
untuk meningkatkan kesenjangan sosial dari yang lain (Xie, Shi, & Zhou, 2016).
Studi meta-analisis terbaru juga menunjukkan bahwa nilai materialistik memiliki
asosiasi negatif yang signifikan dalam lingkup etika dan perilaku (Xie, Shi, &
Zhou, 2016).
Penelitian terdahulu telah menemukan berbagai konsep dan pengukuran terhadap
materialisme. Grouzet, et. al., mengonsep materialisme sebagai pengejaran tujuan
dari identitas, sementara skala materialisme Richins & Dawson mengonsep
materialisme sebagai sebagai orientasi nilai (Deckop , John R. ; Jurkiewicz ,
Carole L.; Giacalone, Robert A., 2010). Menurut Richins dan Dawson, individu
yang materialistis dikenal meyakini tiga keyakinan yang mana ketiganya
merupakan aspek-aspek nilai materialistis, yaitu: (1) acquisition
centrality/perolehan barang adalah sentral kehidupan, (2) acquisition as the
pursuit of happiness/perolehan barang sebagai pengejaran kebahagiaan, dan (3)
possession defined success/kesuksesan didefinisikan dengan barang milik
(Pratono, 2018).