Purnawan (2004) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual adalah:
- Faktor Internal
- Tingkat Perkembangan Seksual (fisik/psikologis)
Perbedaan kematangan seksual akan menghasilkan perilaku seksual yang berbeda pula. Misalnya, anak yang berusia 4-6 tahun berbeda dengan anak usia 13 tahun.
- Pengetahuan Mengenai Kesehatan Reproduksi
- Motivasi
Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Rusmiati (2001) mengatakan bahwa perilaku seksual memiliki tujuan untuk memperoleh kesenangan, mendapatkan perasaan aman dan memperoleh uang.
- Faktor Eksternal
- Keluarga
Wahyudi (2000) mengungkapkan bahwa kurangnya komunikasi secara terbuka antara orangtua dengan remaja dapat memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang.
- Pergaulan
Harlock (1994) berpendapat bahwa perilaku seksual sangat di pengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas, di mana pengaruh teman sebaya lebih besar di bandingkan orangtua atau anggota keluarga yang lain.
- Media massa
Penelitian yang di lakukan Mc Carthi et al (1975) menunjukan bahwa frekuensi menonton film kekerasaan yang di sertai adegan-adegan merangsang dapat berkorelasi positif dengan agresi seperti konflik dengan orang tua, berkelahi, dan perilaku lain sebagai manifestasi dari dorongan seksual yang di rasakan.
Kartono (2006) mengungkapkan bahwa bentuk perilaku seksual dipengaruhi oleh:
- Perubahan seksual sekunder maupun primer yaitu dengan memberikan kesadaran baru bagi remaja dalam menanggapi tugas perkembangan yang baru. Hal inilah yang memberikan perhatian baru yang berbeda dari tugas perkembangan yang dilalui remaja pada masa sebelumnya yaitu ketika masa kanak-kanak.
- Perubahan emosi atau “emotional changes” yang meliputi; desakan atau tekanan penyesuaian diri, ingin diakui sudah dewasa, ingin bebas dari aturan orang tua, malu tampil di muka umum bersama orang tua, masalah kebingungan, masa mencari identitas diri, rasa ingin tahu yang besar, rendah diri.
- Pendidikan Keluarga merupakan norma pertama yang dimiliki renaja sebelum individu tersebut mulai mengembangkan penerimaan norma baru yang berasal dari lingkungan. Seksualitas mengandung perilaku yang dipelajari sejak dini dalam kehidupannya melalui pengamatan terhadap perilaku orang tuanya. Untuk itulah orang tua memiliki pengaruh secara signifikan terhadap seksualitas anak-anaknya. Seringkali bagimana seseorang memandang diri mereka sebagai mahluk seksual berhubungan dengan apa yang telah orang tua tunjukkan tentang tubuh dan tindakan mereka.
Menurut Deney & Quadagno dalam sebuah penelitian menunjukan kecenderungan orang tua memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara berbeda, mendekorasi kamar secara berbeda, dan demikian pula respon terhadap tindakan mereka, misalkan orang tua juga akan memberikan penghargaan terhadap anak lak-laki yang melakukan eksplorasi dan mandiri, sedangkan anak perempuan sering didorong untuk menjadi penolong dan meminta bantuan. Lebih lanjut orang tua cenderung mempertegas permainan sesuai dengan jenis kelamin pada anak-anak prasekolah mereka. Kesimpulannya orang tua memperlakukan anaknya sesuai dengan jender.
- Norma masyarakat dimana norma yang diterima dan dikembangkan individu tersebut seiring dengan perkembangan yang dilaluinya. Boleh dikatakan bahwa seksualitas dipengaruhi oleh norma dan peraturan kultural yang menentukan apakah perilaku tersebut diterima atau tidak berdasarkan kultur yang ada. Sehingga keragaman kultural secara global menyebabkan variabilitas yang sangat luas dalam norma seksual dan menghadirkan spektrum tentang keyakinan dan nilai yang luas. Misalnya: perilaku yang diperbolehkan selama pacaran, hal-hal yang dianggap merangsang, tipe aktivitas seksual, sanksi dan larangan dalam perilaku seksual, atau menentukan orang yang boleh dan tidak boleh untuk dinikahi.
