Defisiensi besi primer bertanggung jawab atas sekitar 80% dari anemia non-fisiologik selama kehamilan. Sekitar 1000 mg tambahan besi dibutuhkan selama kehamilan untuk perluasan massa sel darah merah ibu, untuk Hb janin dan untuk kehilangan besi melalui perdarahan pada saat kelahiran (Hacker, 2001).
Keperluan akan besi bertambah dalam kehamilan, terutama dalam trimester terakhir. Apabila masuknya besi tidak ditambah dalam kehamilan, maka mudah terjadi anemia defisiensi besi, lebih-lebih pada kehamilan kembar (Winkjosastro, 1999).
Kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan dan membentuk set darah merah janin dan seorang wanita mengalami kehamilan dan jumlah set darah merah plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan anak akan semakin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin sering anemis (Manuaba, 1998).
Berikut gambaran kebutuhan zat besi menurut Manuaba (1998) pada setiap kehamilan :
- Meningkatkan sel darah ibu 500 mg Fe
- Terdapat dalam plasenta 300 mg Fe
- Untuk darah janin 100 mg Fe
Total jumlah 900 mg Fe
Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30-40% yang puncaknya pada kehamilan 32-34 minggu. Jumlah peningkatan sel darah 18-30%, dan dan hemoglobin sekitar 19%. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil sekitar 11 gr% maka dengan terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis, dan Hb ibu akan menjadi 9,5-10 gr% (Manuaba, 1998).
