Menurut Sarafino (1994) faktor-fakor yang mempengaruhi perilaku kesehatan ada tiga yaitu :
- Faktor Sosial
Faktor terbesar dari kebiasaan merokok adalah faktor sosial atau lingkungan. Telah diketahui bahwa karakter seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan sekitar baik keluarga, tetangga, maupun teman pergaulan.
- Faktor Psikologis
Beberapa alasan psikologis yang menyebabkan seseorang merokok, yaitu demi relaksasi atau ketenangan serta mengurangi kecemasan atau ketegangan.
- Faktor Genetik
Faktor genetik dapat menjadikan seseorang tergantung pada rokok. Faktor genetik atau biologis ini dipengaruhi juga ileh faktor-faktor lain seperti faktor sosial dan psikologis.
Perilaku merupukan respon dari berbagai macam faktor baik aspek internal dan eksternal. Perilaku tidak berdiri sendiri akan tetapi berkiatan dengan faktor-faktor lain. Green dan Keuter (dalam Baequni, 2004) menjelaskan bahwa perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:
- Faktor predisposing
Adalah faktor yang ada dalam individu yang termasuk diantaranya adalah sikap, nilai dan kepercayaan
- Faktor reinforcing
Adalah faktor yang muncul dari konsekuensi positif dari perilaku seperti penerimaan kelompo atau konsekuensi negatif seperti sanksi sosial
- Faktor enabling
Faktor ini adalah kondisi lingkungan yang secara umum memungkinkan suatu perilaku dilakukan atau mengjlangi perilaku tersebut.
Intensi perilaku menurut Ajzen (2008) dapat dipengaruhi oleh tiga aspek, yaitu:
- Sikap terhadap perilaku
Sikap terhadap perilaku yang akan dilakukan dipengaruhi oleh keyakinan individu bahwa melakukan perilaku tertentu akan membawa pada konsekuensi-konsekuensi tertentu (behavioral beliefs) dan penilaian individu terhadap konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi pada individu (outcome evaluations).
- Norma subjektif terhadap perilaku
Norma subjektif merupakan persepsi individu terhadap norma sosial untuk menampilkan atau tidak menampilkan perilaku tertentu. Norma subjektif ditentukan oleh keyakinan normatif (normative beliefs) mengenai harapan-harapan kelompok acuan atau orang tertentu yang dianggap penting terhadap individu dan motivasi individu untuk memenuhi atau menuruti harapan tersebut (motivations to comply).
- Persepsi terhadap kontrol perilaku
Selain kedua faktor di atas, Ajzen memperluas teori mengenai intensi tindakan yang beralasan (reasoned action theory) dengan menambahkan faktor yang ketiga, yaitu persepsi terhadap kontrol perilaku, dalam teori tingkah laku terencana (theory of planned behavior). Persepsi terhadap kontrol perilaku merupakan penilaian terhadap kemampuan atau ketidakmampuan untuk menampilkan perilaku, atau penilaian seseorang mengenai seberapa mudah atau seberapa sulit untuk menampilkan perilaku.
Penelitian mengenai intensi merokok pernah dilakukan oleh Wulandari (2007) hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pengaruh lingkungan, sikap terhadap perilaku, norma subjektif, persepsi terhadap kontrol perilaku, dan afeksi negatif memberikan hubungan yang signifikan terhadap niat untuk merokok. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Stockdale, dkk (2005). Mereka menyimpulkan bahwa sikap yang positif terhadap perilaku merokok, lingkungan yang permisif, adanya teman yang merokok akan meningkatkan kemungkinan untuk memulai atau menambah jumlah rokok yang dikonsumsi.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan aspek-aspek intensi menurut Ajzen (1988), yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif terhadap perilaku, dan persepsi terhadap kontrol perilaku
