Memilih dan mengambil keputusan merupakan dua tindakan yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Dalam sepanjang hidupnya manusia selalu diperhadapkan pada pilihan-pilihan atau alternatif dan pengambilan keputusan (Kuntadi, 2004). Hal ini sejalan dengan teori real life choice, yang menyatakan dalam kehidupan sehari-hari manusia melakukan atau membuat pilihan-pilihan di antara sejumlah alternatif. Pilihan-pilihan tersebut biasanya berkaitan dengan alternatif dalam penyelesaian masalah (Kuntadi, 2004).
Menurut Matlin (1998) dalam (Kuntadi, 2004), tahapan individu dalam pengambilan keputusan melewati beberapa tahapan, antara lain:
- Situasi atau kondisi, dalam hal ini seseorang harus mempertimbangkan, berpikir, menaksir, memilih dan memprediksi sesuatu. Pilihan atau alternatif yang dihadapi oleh setiap orang seringkali berlainan, demikian pula dalam hal akibat, risiko maupun keuntungan dari pilihan yang diambilnya. Hal seperti ini jelas sekali pada gilirannya akan membuat situasi pengambilan keputusan antara individu yang satu dengan individu yang lain akan berbeda. Matlin (1998) dalam (Kuntadi, 2004), pada penjelasan berikutnya, juga menyatakan bahwa situasi pengambilan keputusan yang dihadapi seseorang akan mempengaruhi keberhasilan suatu pengambilan keputusan.
- Tindakan, dalam hal ini individu mempertimbangkan, menganalisa, melakukan prediksi, dan menjatuhkan pilihan terhadap alternatif yang ada. Dalam tahap ini reaksi individu yang satu dengan yang lain berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Ada beberapa individu dapat segera menentukan sikap terhadap pertimbangan yang telah dilakukan, namun ada individu lain yang nampak mengalami kesulitan untuk menentukan sikap mereka. Tahap ini dapat disebut sebagai tahap penentuan keberhasilan dari suatu proses pengambilan keputusan Matlin (1998) dalam (Kuntadi, 2004).
Menurut Charles O. Jones, sedikitnya ada 4 (empat) golongan atau tipe aktor (pelaku) yang terlibat, yakni: golongan rasionalis, golongan teknisi, golongan inkrementalis, dan golongan reformis.
- Golongan Rasionalis:
Ciri-ciri utama dari kebanyakan golongan aktor rasionalis ialah bahwa dalam melakukan pilihan altematif kebijaksanaan mereka selalu menempuh metode dan langkah-langkah berikut: 1) mengidentifikasikan masalah; 2) merumuskan tujuan dan menyusunnya dalam jenjang tertentu; 3) mengidentifikasikan semua altematif kebijaksanaan; 4) meramalkan atau memprediksi akibat-akibat dari tiap alternatif; 5) membandingkan akibat-akibat tersebut dengan selalu mengacu pada tujuan; dan 6) memilih alternatif terbaik. Berdasarkan pada ciri-ciri tersebut, maka perilaku golongan aktor rasionalis ini identik dengan peran yang dimainkan oleh para perencana dan analis kebijaksanaan yang profesional yang amat terlatih dalam menggunakan metode-metode rasional apabila menghadapi masalah-masalah publik.
- Golongan Teknisi. Seorang teknisi pada dasamya tidak lebih dari rasionalis, sebab ia adalah seorang yang karena bidang keahliannya atau spesialisasinya dilibatkan dalam beberapa tahapan proses kebijaksanaan. Golongan teknisi dalam melaksanakan fugasnya boleh jadi memiliki kebebasan, namun kebebasan ini sebatas pada lingkup pekerjaan dan keahliannya.
- Golongan inkrementalis: Golongan aktor inkrementalis ini dapat kita identikkan dengan para politisi. Golongan inkrementalis pada umumnya meragukan bahwa sifat yang komprehensif dan serba rasional itu merupakan sesuatu yang mungkin dalam dunia yang amat penuh dengan ketidaksempurnaan ini.
- Golongan Reformis (pembaharu): Golongan inkrementalis berpendirian bahwa keterbatasan informasi dan pengetahuan itulah yang mendikte gerak dan langkah dalam proses pembuatan kebijaksanaan.
Menurut Simon dalam (Hasan, 2004) proses pengambilan keputusan terdiri 3 fase keputusan, yaitu:
- Fase intelegensia merupakan fase penelusuran informasi untuk keadaan yang memungkinkan dalam rangka pengambilan keputusan. Kegiatan pengamatan lingkungan dalam pengambilan keputusan. Data dan informasi diperoleh, diproses dan diuji untuk mencari bukti-bukti yang dapat diidentifikasi, baik pemasalahan pokok peluang untuk memecahkannya.
- Fase desain merupakan fase pencarian/penemuan, pengembangan serta analisa kemungkinan suatu tindakan. Kegiatan perancangan dalam pengambilan keputusan, fase ini terdiri atas sebagai berikut: 1) identifikasi masalah yaitu merupakan perbedaan antara situasi terjadi dengan situasi ingin dicapai; dan 2) formulasi masalah yaitu merupakan langkah di mana masalah dipertajam sehingga kegiatan desain dan pengembangan sesuai dengan permasalahan yang sebenarnya. Cara yang dilakukan dalam formulasi permasalahan adalah sebagai berikut: 1) menentukan batasan-batasan pemasalahan; 2) menguji perubahan-perubahan yang dapat menyebabkan permasalahan dapat dipecahkan; dan 3) merinci masalah pokok kedalam sub-sub masalah.
- Fase pemilihan: merupakan fase seleksi alternatif atau tindakan yang dilakukan dari alternatif-alternatif tersebut. Alternatif yang dipilih kemudian diputuskan dan dilaksanakan. Jadi fase pemilihan merupakan kegiatan memilih tindakan atau alternatif tertentu dari bermacam-macam kemungkinan akan ditempuh.
Menurut Terry (2008), proses pengambilan keputusan meliputi: a) merumuskan problem yang dihadapi; b) menganalisa problem tersebut; c) menetapkan sejumlah alternatif; dan d) mengevaluasi alternatif dan memilih alternatif keputusan yang akan dilaksanakan
