Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan (skripsi, tesis, disertasi)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan pengambilan keputusan. Secara garis besar, terdapat 2 faktor mempengaruhi pengambilan keputusan, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar diri individu. Menurut Noorderhaven (1995), faktor-faktor dari dalam diri individu yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan antara lain adalah kematangan emosi, kepribadian, intuisi, umur. Cervone et al. (1991) dalam penelitiannya menemukan bahwa suasana hati yang positif dapat meningkatkan kecepatan dan efisiensi pengambilan keputusan. Janis dan Mann yang dikutip (Forgas, 1991) membuktikan bahwa motivasi memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan. Selanjutnya dikatakan oleh (Bandura and Jourden, 1991), bahwa pengambilan keputusan dapat dipermudah atau dihambat oleh adanya resiliensi dan efikasi diri. Miner (1992) mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi cara seseorang dalam mengambil keputusan adalah resiliensi dan kreativitas. Berdasarkan pandangan ini, kreativitas didefinisikan sebagai pencapaian prestasi yang diakui secara sosial dalam hal pembentukan perilaku baru untuk bangkit dan menjadi lebih baik atau lebih meningkatkan ketahanan diri dan lain sebagainya. Hal senada dikemukakan oleh (Blascovich et al., 1993) bahwa sikap individu terhadap objek atau masalah dapat mempermudah atau menghambat proses pengambilan keputusan. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Baradell and Klein, 1993b) menyatakan peristiwa-peristiwa hidup yang tidak menyenangkan berhubungan dengan rendahnya kualitas pengambilan keputusan. Menurut Millet dalam (Hasan, 2004), faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: 1) pria dan wanita: pria umumnya bersifat lebih tegas atau berani dan cepat mengambil keputusan dan wanita pada umumnya relatif lebih lambat dan sering ragu-ragu; 2) peranan pengambil keputusan: peranan bagi orang yang mengambil keputusan itu perlu diperhatikan, mencakup kemampuan mengumpulkan informasi, kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan, kemampuan menggunakan konsep yang cukup luas tentang perilaku manusia secara fisik untuk memperkirakan perkembangan-perkembangan hari depan yang lebih baik; dan 3) keterbatasan kemampuan: perlu didasari adanya kemampuan yang terbatas dalam pengambilan keputusan yang dapat bersifat institusional ataupun bersifat pribadi. Keputusan kreatif ini asli, berbeda dengan orang lain tetapi bukan keputusan yang eksentrik dan mampu memberikan kontribusi sosial.

Faktor lain yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah strategi coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan permasalahan (proses adaptasi). Strategi coping adalah suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya (Fachri, 2008). Para ahli menggolongkan 2 strategi coping yang biasanya digunakan oleh individu, yaitu: 1) problem-solving focused coping, individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres; 2) emotion-focused coping, individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi penuh tekanan (Fachri, 2008).

Penelitian dilakukan oleh Vongjinda (2004) bertujuan untuk memahami pengalaman kehamilan pertama pada remaja di klinik prenatal RS Kamphaensan, provinsi Nakornprathom, Thailand. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa faktor yang berhubungan dengan diterima atau tidaknya kehamilan antara lain adalah makna yang telah diberikan terhadap kehamilan dan reaksi dari orang-orangterdekat (dalam Neamsakul, 2008). Pemberian makna terhadap kehamilan dan reaksi keluarga terhadap kehamilan terutama yang tidak diinginkan menjadi sangat penting dalam pengambilan keputusan menghadapi KTD. Keluarga yang memahami bahwa si bayi adalah makhluk yang tidak berdosa tentu tidak   akan   menyetujui  pengambilan   keputusan   aborsi.   Bagi keluarga yang memahami ini, aborsi hanya akan menambah dosa zina yang  mengakibatkan KTD dengan dosa pembunuhan bayi yang  mungkin lebih besar.