Respon Orangtua Terhadap KTD (skripsi, tesis, disertasi)

 

Ketika kehamilan terungkap, respon dari orangtua atau orang lain biasanya negatif. Hasil penelitian menyebutkan bahwa banyak orang tua yang kecewa dan marah besar begitu mendengar kehamilan anak remajanya. Namun, pada akhirnya mereka dapat menerima kehamilantersebut dan tidak mendukung aborsi karena alasan takut dosa dua kali lipat. Keputusan  selanjutnya  adalah  orang   tua  remaja  perempuan biasanya memusyawarahkan masalah ini  dengan pacar anak remajanya dan orangtua sang pacar. Akhirnya kedua anak remaja tersebut dinikahkan. Usia kehamilan pada saat pernikahan sosial adalah:70% pada usia 1-3bulan, 20% pada usia 3-6 bulan, dan 10% pada usia 7-9 bulan. Penelitian lain dilakukan oleh Neamsakul (2008 ) tentang  proses yang dihadapi remaja KTD di Thailand. Pada penelitian ini juga terungkap respon orang tua remaja terhadap KTD anaknya. Respon terbagi menjadi dua, yaitu unavoidable acceptance/penerimaan yang tidak bias dihindari atau rejection/penolakan. Penerimaan yang tidak bisa dihindari merupakan keputusan yang harus diterima oleh remaja maupun keluarga karena hal itu telah terjadi. Alasan mengambil keputusan tersebut antara lain adalah adanya kepercayaan bahwa janin memang harus dilahirkan, pendekatan yang dilakukan oleh pihak lain, ada ayah untuk sibayi, dan keyakinan agama. Sedangkan respon rejection/penolakan membawa orangtua untuk mengambil keputusan aborsi. Selain itu, terdapat respon orang lain termasuk orangtua terhadap KTD anak remajanya. Respon ini dilakukan dengan cara terang- terangan  maupun  tertutup.  Respon secara terang-terangan dilakukan dengan melalui kata-kata maupun sikap. Kata-katayang dikeluarkan berupa pertanyaan,  kata-kata kasar, menyalahkan dan mengeluh. Sedangkan respon melalui sikap ditunjukkan melalui tatapan tajam dan pandangan asing. Respon secara tertutup dilakukan dengan“menggosip”, diam, dan“acuh tak acuh”.

Selanjutnya, respon keluarga adalah dalam pengambilan keputusan terkait KTD anak. Pengambilan keputusan menghadapi KTD anak lebih banyak dilakukan oleh keluarga. Hasil penelitian oleh Khisbiyah, Murdijana dan Wijayanto(1997) menyebutkan bahwa pada proses pengambilan keputusan untuk melanjutkan kehamilan, dari 26r esponden, inisiator paling besar adalah orang tua 50%; responden dan pasangan 30,8%; responden saja11,5%; dan pasangan saja7,7%. Hal ini juga didukung olehPKBI(2005) yang menyebutkan bahwa pilihan-pilihan yang dibuat oleh remaja perempuan dalam menghadapi KTD adalah pilihan yang “dibuatkan”oleh kekuasaan keluarga dan atau pasangannya. Pilihan-pilihan tersebut meliputi:melanjutkan kehamilan dengan menikah atau tidak menikah, melanjutkan kehamilan dengan merawat sendiri anak yang dilahirkan atau menjadikan anak tersebut sebagai anak adopsi, atau pilihan yang sebenarnya sangat tidak diharapkan adalah aborsi.