Kehamilan remaja membawa peningkatan insiden hipertensi yang ditimbulkan karena kehamilan, anemia defisiensi besi, kelahiran prematur, dan cephalo pelvic disproportion. Cephalopelvic disproporsi menjadi penyebab meningkatnya kelahiran cesarean (Pilliteri,1999). Breedlove dan Schorfheide (2001) juga mengatakan bahwa remaja berisiko untuk mengalami preeclampsia, anemia, kelebihan Berat Badan (BB) atau BB yang kurang dan infeksi saluran kencing (Murray & McKinney,2007). Grady dan Punpuing, (1999);Steven-Simon & White,(1991) juga mengatakan masalah kesehatan umum di antara remaja yang menjadi ibu adalah BB yang kurang, kelahiran prematur, dystocia, kelahiran operative, dan prolonged labor karena disproporsi cephalopelvic (dalam Neamsakul, 2008).
Remaja yang hamil juga berisiko tinggi mengalami Penyakit Menular seksual (PMS) karena kemungkinan tidak menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom ketika melakukan hubungan seksual(Stanhope&Lancaster, 2004). Gaya hidup remaja juga tidak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang baik. Fastfood, seringnya makan snack, dan padatnya jadwal kegiatan sosial membatasi remaja memilih makanan yang bernutrisi baik. Pola makan remaja yang buruk dan kebutuhan nutrisi untuk kehamilan dan pertumbuhan remaja itu sendiri dapat mengakibatkan remaja kekurangan zat gizi termasuk vitamin dan mineral yang dibutuhkan (Stanhope&Lancaster, 2004).
Selain masalah kesehatan pada remaja akibat kehamilan, masalah kesehatan juga ditemukan pada bayi. Remaja mempunyai kemungkinan lebih besar untuk melahirkan bayi dengan Berat Badan kurang dari 5,5pond sebelum umur kehamilan 37 minggu jika dibandingkan remaja dewasa. Pada tahun 1998 diAmerika, bayi dengan Berat badan lahir rendah (BBLR) mencapai 9,5% dari semua bayi yang dilahirkan oleh remaja (ACOG, 2000 dalam Stanhope & Lancaster, 2004). Neamsakul (2008) telah mengidentifikasi beberapa hasil penelitian yang menunjukkan adanya masalah kesehatan fisik yang timbul pada bayi yang dilahirkan oleh remaja KTD. Guyer, dkk, (1999) mengatakan dari penelitian di Amerika, bayi yang lahir dari ibu yang berumur kurang dari15 tahun berisiko mempunyai BBL kurang dari 2500 gram dan berisiko mengalami kematian pada 28 hari pertama jika dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu dengan usiayang lebih tua.
Kematian dan kesakitan bayi post-neonatal juga lebih tinggi pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang masih remaja. Morris dan colega (1993) menemukan bahwa setelah mengontrol BBL bayi, tingkat kematian bayi post-neonatal dua kali lebih tinggi pada bayi yang lahir dari ibu yang berumur kurang dari 17 tahun dibandingkan pada bayi yang lahir dari ibu yang lebih tua. Insiden Suddent Infant DeathSyndrom (SIDS) juga lebih tinggi pada bayi yang lahir dari ibu yang masih remaja. Bayi mereka juga mengalami kesakitan dan injuri yang lebih sering.
Beberapa faktor dapat menjadi penyebab buruknya kondisi kesehatan dan komplikasinya pada bayi yang baru lahir dari ibu remaja. Menurut Steven-Simon dan White (1991, dalam Neamsakul, 2008), ibu remaja mempunyai BB yang kurang dan melahirkan bayi dengan BBL kurang karena pola makan yang buruk dan pelayanan prenatal yang tidak adekuat. Selain itu juga disebabkan karena ibu yang masih remaja tingkat ekonominya kurang dari ibu yang lebih tua.
