Sebagian besar remaja memikirkan terhadap pernyataan yang tidak logis atau ideologis yang bertentangan dengan pemikirannya. Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal, namun mereka melakukan ibadah secara individual dengan privasi di dalam kamar mereka sendiri. Mereka mungkin memerlukan eksplorasi terhadap konsep keberadaan Tuhan dan membandingkan agama mereka dengan orang lain. Hal ini dapat menyebabkan mereka mempertanyakan keyakinan mereka sendiri, namun pada akhirnya dapat menghasilkan perumusan dan penguatan spiritualitas mereka sendiri (Wong, 2008).
Perkembangan spiritualitas remaja memungkinkan diterapkannya nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai-nilai agama sejak dini akan membentengi remaja terhadap pengaruh nilai buruk dari luar. Penanaman nilai agama di keluarga menjadi sangat penting, karena keluarga adalah wahana pendidikan yang pertama sebelum remaja terjun kemasyarakat.
Menurut Wong (2000) selama masa remaja, hubungan dengan lawan jenis merupakan hal baru yang penting. Jenis dan tingkat keseriusan hubungan sangat bervariasi. Tahap awal hubungan biasanya tidak memiliki komitmen. Perasaan tertarik dengan lawan jenis merupakan perasaan pelekatan yang kuat terhadap seorang dewasa yang penting atau yang tampaknya baik. Hal ini merupakan bentuk keterikatan cinta yang pertama. Pada remaja awal sampai pertengahan anak laki-laki jatuh cinta lebih sering dan lebih awal dibandingkan dengan anak perempuan. Pada masa pertengahan, remaja mulai mengembangkan hubungan romantik dengan lawan jenis. Pada saat inilah kebanyakan remaja mulai melakukan percobaan aktivitas seksual. Insidensi aktivitas seksual remaja tinggi dan meningkat sesuai dengan pertambahan usiamereka. Menurut Alan Guttmacher Institute (1998), pada usia 17 tahun, lebih dari 50% remaja mempunyai keinginan untuk melakukan hubungan seksual. Seiring dengan perkembangan remaja ke masa akhir, pilihan pasangan lebih berdasarkan kerakteristik dan ketertarikan pribadi daripada karakteristik fisik dan kepribadian yang diterima oleh kelompok teman sebaya (dalam Stanhope & Lancaster, 2004). Hal ini dapat dikaitkan dengan perkembangan kognitif dan emosional remaja akhir. Pada remaja akhir, secara kognitif mereka sudah dapat memikirkan akibat dari tindakannya. Akibat yang dimaksud adalah termasuk akibat dari pilihannya terhadap pasangan jika mereka hanya memikirkan ceriteria pasangan menurut kelompok. Sedangkan secara emosional, remaja akhir lebih matang dalam pengambilan keputusan dari pada remaja awal.
