Remaja yang hamil merasakan dampak terhadap pendidikannya baik selama kehamilan maupun setelah melahirkan. Dampak tersebut meliputi: dikeluarkan atau tidak tamat dari sekolah dan menjadi pengangguran. Ketergantungan mereka terhadap orang tua juga semakin lama, pada akhirnya remaja menjadi beban ekonomi bagi keluarga mereka dan bagi masyarakat pada umumnya. Terkait pendidikan, penelitian Khisbiyah,Murdijana dan Wijayanto (1997) menyebutkan dari 44 responden dalam penelitian, 35orang diantaranya sedang menempuh pendidikan ketika kehamilan terjadi. Dari 35 orang ini 18 orang diantaranya meneruskan kehamilan dan dari 18 orang yang meneruskan kehamilan, 14 orang di antaranya drop out. Mereka yang melanjutkan pendidikan setelah melahirkan umumnya adalah responden yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sedangkan responden yang ketika kehamilan terjadi masih duduk di bangku SMA, biasanya dikeluarkan dari sekolah. Responden yang pendidikannya terputus sulit mendapatkan pekerjaan karena tingkat pendidikannya terbatas atau karena sibuk mengurus anak. Keadaan ini diperburuk dengan keadaan suami yang umumnya sebaya yang tidak bekerja karena masih menempuh pendidikan atau karena sulit mendapatkan pekerjaan. Pada akhirnya hal inilah menyebabkan kesulitan ekonomi yang berkepanjangan.
Selain masalah terkait pendidikan dan pekerjaan, juga timbul masalah sosial. Remaja yang melanjutkan kehamilannya umumnya merasa malu kepada masyarakat dilingkungan mereka, karena menyadari bahwa kehamilannya pasti dibicarakan oleh masyarakat sekitar. Hal ini yang menyebabkan remaja malu untuk keluar rumah bahkan untuk memeriksakan kandungannya ke dokter. Mereka rata-rata baru memeriksakan kandungannya setelah berumur lebih dari 4 bulan.
Keterbatasan terhadap pendidikan dan pekerjaan menimbulkan masalalah ekonomi yang cukup berat. Remaja yangmemutuskan untuk melanjutkan kehamilan membutuhkan biaya perawatan kehamilan dan persalinan. Dari 26 responden, distribusi sumber biaya untuk perawatan kehamilan dan persalinan adalah: 61,5% responden mendapatkan biaya dariorangtua;15,4% responden mengeluarkan biaya sendiri dengan dibantu pasangan;11,5% responden mendapatkan biaya dari pasangan saja;7,7% mendapatkan biaya dari saudara dan 3,8% responden menanggung biaya sendiri. Disini terlihat peran orangtua dalam ikut membantu permasalahan ekonomi yang dihadapi remaja menjadisangat besar. Neamsakul (2008) juga telah mengidentifikasi beberapa hasil penelitian yang menunjukkan adanya masalah sosial ekonomi yang timbul pada remaja KTD. Isanurung dan colega (2006) mengatakan bahwa remaja yang hamil juga mempunyai pendapatan keluarga yang tidak memadai, tidak mempunyai rumah sendiri, singleparents, dan jarang berkonsultasi dengan pemberi pelayanan kesehatan. Hal ini juga didukung oleh BuhacatdanPinjareon(1998) bahwa remaja yang hamil tidak pernah atau terlambat dalam mendatangi klinik pre natal dan menerima perawatan prenatal yang tidak adekuat yang berguna bagi kesehatan bayi mereka DeMayo-Esteves, (1990);Ham & Larson ,(1990); & Oxley & Weekes, (1997), juga menyebutkan bahwa remaja yang hamil juga terisolasi dari temannya dan aktivitas sosial, yang pada akhirnya dapat menyebabkan meningkatnya stress selama kehamilan. Thompson,et.al, (1995);Ladewig,et.al.(2006); juga mengatakan bahwa remaja yang menjadi ibu juga berisiko besar untuk mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan bayi mereka juga berisiko mengalami childabuse. Thongchompo (1999) juga mengatakan bahwa perkawinan yang dimulai dengan kehamilan yang tidak direncanakan mempunyai peluang yang lebih tinggi untuk mengalami kegagalan.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa masalah sosial ekonomi yang dapat muncul pada remaja dengan KTD adalah dikeluarkan atau tidak tamat dari sekolah, pengangguran, menjadi beban ekonomi keluarga, pendapatan ekonomi tidak memadai, tidak mempunyai rumah sendiri, single parent, jarang berkomunikasi dengan pelayanan kesehatan, tinggal di luar rumah remaja, isolasi sosial, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan kegagalan atau perkawinan yang tidak harmonis. Selain masalah yang dirasakan remaja, terdapat masalah yang juga dapat muncul pada anak yang dilahirkan oleh remaja yaitu child abuse.
Timbulnya masalah sosial ekonomi semakin menimbulkan kompleksnya permasalahan remaja.Hal ini dapat memicu kerentanan kondisi kesehatan remaja yang memang sudah rentan secara fisiologis maupun psikologis. Langkah yang harus diambil untuk menyelesaikan permasalahan ini harus melibatkan support sosial yang lebih luas.
