Neamsakul (2008) juga telah mengidentifikasi beberapa hasil penelitian yang menunjukkan adanya masalah kesehatan psikologis yang timbul pada remaja KTD. Penelitian Thongchompo,(1999);Vongjinda,(2004) menemukan bahwa remaja yang mengalami KTD, sebelum menikah menghadapi berbagai masalah dan mengalami perasaan seperti terkejut, takut, merasa bersalah, marah, malu, frustrasi, depresi, kesal, stress, cemas, bingung, malu, terhina, rewel, moody, dan kecewa. Masalah-masalah tersebut antara lain adalah adanya beban moral dan psikologis karena secara norma sosial yang berlaku remaja hamil yang belum menikah belum diterima oleh masyarakat. Masyarakat masih memegang norma umum yang disepakat bersama bahwa seorang yang hamil harus menikah dahulu. Sehingga, walaupun pernikahan dilakukan setelah remaja hamil hal tersebut sedikit mengurangi beban moral karena tuntutan masyarakat.
Gabrielson, Klerman, Currie, (1970), juga mengatakan beberapa remaja akan mempertimbangkan bahkan mungkin akan berusaha untuk melakukan bunuh diri. Beratnya beban psikologis remaja, kurangnya kemampuan problem solving, dan kurangnya dukungan disekitar remaja dapat sebagai pemicu timbulnyakeinginan bunuh diri. Penelitian yang membandingkan tingkat depresi dan kecemasan pada remaja dan orang dewasa yang menjadi ibu telah dilakukan oleh Piyasil pada tahun 1998 di bangsal Rajvithi Hospital Bangkok. Hasil penelitian tersebut adalah adanya prevalensi tingkat depresi yang lebih tinggi pada remaja yang menjadi ibu (23%) jika dibandingkan dengan perempuan dewasa yang menjadi ibu (12%). Penelitian tersebut juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan diantara 2 kelompok umur.
Penelitian lain oleh Niratharadornet.al. (2005) bertujuan untuk menguji model persamaan struktural dari depresi maternal dan menentukan bagaimana harga diri, support sosial dan depresi ante partum mempengaruhi depresi postpartum pada remaja Thailand yang menjadi ibu. Penelitian ini menemukan bahwa harga diri dan support social mempunyai pengaruh negatif langsung secara signifikan terhadap depresi antepartum dan postpartum. Harga diri dan support sosial antepartum mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung yang signifikan terhadap depresi postpartum. Sriumporn (2000) juga melakukan penelitian deskriptif untuk menentukan hubungan antara harga diri, supportsosial, faktor yang dipilih serta perilaku perawatan diri remaja yang hamil. Faktor terpilih dimaksud adalah tingkat pendidikan, status pernikahan, keinginan untuk mempunyai bayi, pekerjaan dan pendapatan keluarga. Penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara harga diri, support sosial, tingkat pendidikan, dan keinginan untuk mempunyai bayi dengan perilaku perawatan diri. Faktor-faktor tersebut menjelaskan 26% varians dari perilaku perawatan diri, dengan varians tertinggi adalah supportsosial (13%).
Penelitian yang dilakukan terhadap remaja Indonesia di DIY oleh Khisbiyah, Murdijana danWijayanto(1997) tentang KTD remaja juga menunjukkkan adanya masalah psikologis yang sangat berat yang dihadapi remaja. Cemas, stress bahkan depresi mulai dialami remaja ketika mereka menyadari bahwa dirinya hamil. Mereka cemas karena telah keluar dari pandangan ideal tentang sosok remaja yang disepakati bersama oleh masyarakat.Mereka juga stress ketika mengalami kegagalan dalam usaha aborsi melalui self-treatment, juga karena kuatir bayi akan lahir cacat.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa perasaan remaja terkait KTD yang dialaminya dapat berupa perasaan terkejut, takut, merasa bersalah, marah, malu, frustrasi, depresi, kesal, stress, cemas, bingung, malu, terhina, rewel, moody, dan kecewa. Selain itu dapat juga timbul masalah psikologis lain seperti: risiko bunuh diri, depresi ante dan postpartum, kurang dukungan sosial, kurang harga diri, kurang PD dan adanya perasaan tidak menerima kehamilannya.
