Faktor-faktor Resiliensi (skripsi, tesis, disertasi)

Grotberg (1999), mengemukakan faktor-faktor resiliensi yang diidentifikasikan berdasarkan sumber-sumber yang berbeda. Untuk kekuatan individu, dalam diri pribadi digunakan istilah ‘I Am’ yang merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri, seperti perasaan, tingkah laku, dan kepercayaan yang terdapat dalam diri seseorang. Faktor ‘I Am’ terdiri dari beberapa bagian antara lain: bangga pada diri sendiri, perasaan dicintai dan sikap yang menarik, individu dipenuhi harapan, iman dan kepercayaan, mencintai, empati dan altruistic, yang terakhir adalah mandiri dan bertanggung jawab. Untuk dukungan eksternal dan sumber-sumbernya seperti, memberi semangat agar mandiri, struktur dan aturan rumah, role models, mempunyai hubungan digunakan istilah ‘I Have’. Sedangkan untuk kemampuan interpersonal digunakan istilah ’I Can’ yang merupakan kompetensi sosial dan interpersonal seseorang. Bagian-bagian dari faktor ini adalah mengatur berbagai perasaan dan rangsangan. Individu dapat mengenali perasaan mereka, mengenali berbagai jenis emosi, mengekspresikannya dalam kata-kata dan tingkah laku, namun tidak menggunakan kekerasan terhadap perasaan dan hak orang lain maupun diri sendiri.

Menurut Barankin and Khanlou (2009) ada dua hal yang harus diperhatikan untuk memahami resiliensi. Kedua faktor tersebut adalah faktor resiko (risk factor) dan faktor protektif (protective factor). Faktor protektif merupakan faktor yang bersifat menunda, meminimalisir bahkan menetralisir hasil akhir yang negatif. Faktor protektif juga membantu melindungi anak dan remaja dari efek-efek negatif faktor resiko. Faktor resiko terdapat pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat, yang merupakan prediktor awal dari sebuah hasil yang tidak menguntungkan dan sesuatu yang membuat orang menjadi rentan (Kaplan, 1999) atau variabel mengarah pada ketidakmampuan (Rutter, 2000) atau mediator menyebabkan terjadinya perilaku bermasalah (Luthar, 1999). Alimi (2005) menyatakan bahwa faktor resiko adalah variabel-variabel yang secara langsung bisa memperbesar dosis potensi resiko bagi individu dan sekaligus meningkatkan kemungkinan berkembangnya perilaku dan gaya hidup yang mal-adaptif.

Beberapa hal yang termasuk dalam faktor resiko adalah: kemiskinan (status sosial ekonomi yang rendah), ketidaknyamanan akibat perubahan fisik yang terjadi, penerimaan yang rendah dari peers, efek kumulatif dari ketidakberuntungan, adanya hambatan dalam perkembangan. Secara umum, Gizir (2004) mengelompokkan faktor risiko menjadi tiga kelompok besar berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yaitu yang berasal dari individu, keluarga, dan lingkungan. Faktor risiko yang berasal dari individu antara lain seperti kelahiran prematur, penyakit kronis atau kejadian buruk yang dialami dalam kehidupannya.

Faktor risiko yang berasal dari keluarga antara lain seperti penyakit yang dialami orang tua, perceraian atau perpisahan orang tua, orang tua tunggal, dan ibu yang masih remaja, sedangkan yang termasuk faktor lingkungan antara lain adalah status sosial ekonomi yang rendah, peperangan, kesulitan ekonomi dan kemiskinan. Faktor protektif dibagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal (Benard, 1991). Faktor internal adalah keterampilan dan kemampuan sehat yang dikuasai individu, sedangkan faktor eksternal adalah karakteristik tertentu dari lingkungan yang dapat menjadikan individu mampu menghindar dari tekanan hidup dan mampu bertahan kendati berada dalam kondisi beresiko tinggi. Faktor protektif internal terdiri atas: 1) kompetensi sosial (keterampilan sosial dan empati); 2) keterampilan menyelesaikan masalah (membuat keputusan dan berpikir kritis); 3) otonomi (self esteem, self efficacy, locus of control); dan 4) memiliki tujuan. Faktor eksternal yang dimaksud adalah berupa kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam aktivitas kelompok, hubungan yang hangat dan harapan yang tinggi dari lingkungan (Benard, 1991).

Menurut Sun dan Stewart (2007), faktor internal atau karakteristik individu yang berpengaruh pada resiliensi, terdiri atas: 1) komunikasi dan kerjasama; 2) self-esteem; 3) empati; 4) help seeking behavior, dan 5) tujuan dan aspirasi. Sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah: 1) dukungan keluarga; 2) dukungan sekolah; 3) dukungan masyarakat; 4) autonomy experience; 5) hubungan dengan teman sebaya; 6) partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler; dan 7) dukungan teman sebaya. California Healthty Kids Survey menggunakan The Resilience and Youth Development Module (RYDM) untuk mengukur faktor internal (personal strength) dan faktor ekstenal (developmental support and opportunities).

Faktor internal terdiri atas 18 item, dibangun untuk mengukur 6 aspek inti yang terdapat dalam Benard’s Resilience Model (Benard and Slade dalam Furlong et al 2009). Asset internal dalam Resilience and Youth Development Module adalah 1) kerjasama dan komunikasi; 2) self efficacy; 3) empati; 4) problem solving; 5) self-awareness; dan 6) tujuan dan aspirasi. Faktor eksternal dalam RYD meliputi hubungan yang baik, harapan yang tinggi dan partisipasi dalam aktivitas di rumah, sekolah, teman sebaya dan masyarakat. Dengan demikian secara garis besar, dapat dikatakan bahwa faktor protektif yang mempengaruhi resiliensi terbagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu (faktor individu), sedangkan faktor eksternal (faktor di luar individu), yaitu keluarga dan lingkungan (sekolah, teman sebaya dan masyarakat).

Kerjasama dan komunikasi, yaitu kompetensi sosial yang mengarah pada fleksibilitas dalam menjalin hubungan, kemampuan untuk bekerja secara efektif dengan orang lain, mampu saling bertukar informasi dan gagasan serta mengekspresikan perasaan pada orang lain. Kemampuan individu untuk bekerjasama dan berkomunikasi ini dapat menjadi sebuah kekuatan dalam membentuk hubungan yang baik (caring relationship). Sebaliknya, kurangnya kompetensi sosial ini dapat menyebabkan terjadi kriminalitas, penyakit mental dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Self-efficacy berhubungan dengan kepercayaan seseorang akan kompetensi yang dimilikinya untuk membuat sesuatu yang berbeda, seperti kemahirannya dalam melakukan pekerjaan dan kemampuan untuk bekerja dengan baik. Empati merupakan kemampuan untuk memahami dan peduli pada perasaan orang lain dan apa yang dialami orang lain. Empati ini merupakan akar dari moralitas dan rasa menghormati. Goleman (1995) menyatakan bahwa “Empathy is the single human quality that leads individuals to override self-interest and act with compassion and altruism.” Penelitian pada bayi menemukan bahwa bayi berusia dua tahun sudah dapat mengetahui bahwa perasaan orang lain mungkin saja berbeda dengan dirinya. Kurangnya rasa empati berhubungan dengan banyaknya tindakan plagiat, bullying, mengganggu orang lain dan bentuk kekerasan lainnya.