Pengaruh Supervision terhadap Job Performance


Spector dalam Surajiyo et al., (2020), menjelaskan bahwa karyawan lebih
senang bekerja dengan atasan yang memiliki sikap penuh perhatian, mendukung,
hangat, dan mau mendengarkan pendapat bawahan, dari pada bekerja dengan atasan
yang cuek, kasar, dan hanya memusatkan perhatian kepada pekerjaan. Semantara
Hon dan Lu (2016) dalam Shum (2020), mengungkapkan bahwa para pemimpin
tingkat menengah yang melakukan pengawasan secara kasar atau kurang baik di
sebuah hotel di Cina, berpengaruh terhadap terganggunya kinerja pelayanan
karyawan. Sedangkan Jin et al., (2016) dalam Valei dan Jiroudi (2016),
menjelaskan bahwa jika dukungan supervisor yang dirasakan tinggi, maka
karyawan memiliki tingkat kebahagiaan kerja yang lebih tinggi, yang mana hal
tersebut berpengaruh terhadap meningkatnya kinerja (job performance)

Job Performance


Menurut Levinson dalam Surajiyo et al., (2020), job performance atau
kinerja merupakan pencapaian atau hasil yang diraih oleh karyawan dalam
menjalankan tugas – tugas yang diberikan kepadanya. Adapun pengertian job
performance atau kinerja menurut Erni dan Donni (2018) dalam Surajiyo et al.,
(2020), adalah tingkat kesuksesan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan yang
menjadi tanggung jawabnya. Karyawan dinilai sukses apabila mampu
menyelesaikan pekerjaan yang diberikan dengan baik dan hasil kerja karyawan
tersebut sesuai dengan harapan perusahaan.
Menurut Sedarmayanti (2018) dalam Surajiyo et al., (2020), job
performance atau kinerja adalah upaya – upaya yang dilakukan oleh karyawan
dalam mencapai tujuan perusahaan dan berpengaruh terhadap meningkatnya
prestasi perusahaan. Adapun pengertian Zainal et al., (2015) dalam Sinaga et al.,
(2020), kinerja adalah seluruh aktivitas yang dilakukan karyawan dalam organisasi
selama periode waktu tertentu. Aktivitas – aktivitas tersebut dilakukan dengan rasa
tanggung jawab dan efisiensi untuk mencapai tujuan organisasi.

Co-workers


Menurut Sudaryo et al., (2018), menjelaskan co-workers atau rekan kerja
merupakan orang – orang yang sering menjalin interaksi atau korelasi dalam
menjalankan pekerjaan pada suatu perusahaan. Sedangkan menurut Surajiyo et al.,
(2020), hubungan yang baik diantara rekan kerja memiliki pengaruh positif
terhadap kinerja. Dengan adanya dukungan rekan kerja membuat suasana kerja
menjadi lebih nyaman dan menyenangkan, yang mana hal tersebut berpengaruh
terhadap meningkatkan kinerja.
Menurut Zhou dan George (2001) dalam Joiner (2007), rekan kerja adalah
mereka yang saling membantu dalam tugas, saling berbagi pengetahuan, dan saling
memberi dukungan, yang mana hal tersebut berpengaruh terhadap kinerja mereka.
Sedangkan menurut Tangem et al., (2018) dalam Putra et al., (2021), lingkungan
kerja yang baik berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Rekan kerja
termasuk ke dalam lingkungan kerja, sehingga adanya rekan kerja yang baik
berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Definisi tersebut didukung oleh
Riyanto et al., (2017) dalam Putra et al., (2021), yang menjelaskan bahwa
lingkungan kerja termasuk rekan kerja memiliki hubungan yang kuat dengan
kinerja.

Operating Conditions


Menurut Rino (2020), operating conditions atau beban kerja adalah
sejumlah tugas berkaitan dengan perusahaan yang harus diselesaikan oleh
karyawan dalam jangka waktu tertentu. Apabila karyawan tidak berhasil
menyelesaikan tugas tersebut, maka tugas tersebut akan menjadi beban. Sementara
menurut Saane et al., (2003) dalam Valei dan Jiroudi (2016), operating conditions
(operating procedures) adalah beban kerja, yang berkaitan dengan jumlah dokumen
atau pekerjaan lain dalam suatu organisasi atau perusahaan yang harus diselesaikan.
Menurut Fitriana (2018), operating conditions atau beban kerja adalah
pekerjaan sehari – hari yang dilakukan seorang karyawan di dalam organisasi.
Beban kerja berkaitan dengan tanggung jawab yang harus diselesaikan karyawan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Beban kerja yang berlebih akan terasa
memberatkan karyawan, hal ini berdampak pada kinerja karyawan tersebut.

Supervision


Menurut Adiyati (2019), supervision berperan untuk mengawasi pekerjaan
karyawan di dalam perusahaan, memberikan informasi kepada top manajer
berkaitan dengan karyawan, serta memberi saran yang berguna untuk karyawan
dalam meningkatan kinerjanya. Dalam melakukan penilaian supervisor harus
objektif, transparan, dan bersikap adil. Pada dasarnya supervisor adalah mitra kerja
karyawan, dimana supervisor dan karyawan saling membutuhkan komunikasi
secara efektif.
Menurut Koswara dan Komariah (2011) dalam Setiyadi (2020), supervision
merupakan seseorang yang memiliki kedudukan di dalam perusahaan yang
berwenang melakukan pengawasan, penilaian, dan pembinaan secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Sementara menurut Jin et al., (2016)
dalam Valei dan Jiroudi (2016), mengungkapkan bahwa jika dukungan supervisor
yang dirasakan tinggi, maka karyawan memiliki tingkat kebahagiaan kerja yang
lebih tinggi, yang mana hal tersebut berpengaruh terhadap meningkatnya kinerja
karyawan.
Berd

Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Marjuni (2015), manajemen sumber daya manusia merupakan
serangkaian aktivitas dalam membuat rencana, mengadakan pengembangan, dan
pemeliharaan terhadap sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Dengan adanya manajemen sumber daya manusia dapat membantu anggota
organisasi untuk bekerja dengan optimal. Sedangkan menurut Saihudin (2019),
manajemen sumber daya manusia merupakan proses melatih, menilai, dan
membina anggota organisasi agar dapat mewujudkan tujuan organisasi, dimana
organisasi harus memperhatikan hal – hal berkaitan dengan keselamatan, kesehatan,
dan kesehjateraan anggotanya.
Menurut Nyoto (2019), manajemen sumber daya manusia adalah suatu
proses dalam mengelola hubungan ketenagakerjaan, mulai dari calon karyawan
sampai menjadi karyawan. Pengelolaan karyawan meliputi proses rekrutmen,
seleksi, pelatihan, penempatan karyawan, dan pengembangan karir, yang mana hal
tersebut bertujuan agar karyawan mampu memberi kontribusi maksimal untuk
organisasi. Adapaun pengertian lain menurut Amrullah (2021), manajemen sumber
daya manusia adalah cara – cara yang dilakukan untuk mengelola hubungan anggota
organisasi secara efektif dan efisien, serta mengatur peran dari masing – masing
anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi

Fungsi Administrasi


 Planning (Perencanaan) adalah penyusun perencanaan memerlukan
kegiatan adminitrasi, seperti pengumpulandata, pengolahan data,
penyusunan perencanaan.
 Organizing (pengorganisasian) adalah aktivitas menyusun dan
membentuk hubungan-hubungan kerja anatara orang-orang sehingga
terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan.
 Staffing adalah salah satu fungsi dari manajemen yang menyusun
personalia pada suatu organiasik mulai dari merekrut tenaga kerja,
pengembangannya sampai dengan usaha untuk setiap tenaga petugas
memberi daya guna yang maksimal kepada organisasi.
 Coordinating adalah sebagian daru fungsi manajemen untuk melakukan
sejumlah kegiatan agar berjalan baik dengan menghindari terjadinya
kekacauan, percekcoka, kekosongan kegiatan yang dilakukan dengan
menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan
sehingga terdapat kerja sama yang terarah dalam usaha untuk mencapai
tujuan organisasi.
 Reporting adalah manajemen yang berada pada penyampaian
perkembangan atau hasil dari kegaitan dengan pemberian keterangaan dari
tugas dan fungsi para pejabat yang lebih tinggi baik lisan maupun tulisan
sehingga dalam menerima laporan dapat memperoleh gambaran tentang
pelakasanaan tugas orang yang memberi laporan.
 Budgeting adalah suatu kegaitan yang mengelola dan perencanaan yang
berkelanjutan mengenai keuangan atau anggaran.

Pengertian Administrasi


Irra Chisyanti Dewi (2011:3) Administrasi adalah memiliki pengertian
dalam arti sempit, yaitu sebagai pekerjaan tulis menulis atau ketatausahaan
atau kesekretarisan, meliputi kegiatan menerima, mencatat, menghimpun,
mengolah, mengadakan, mengirim, menyimpan

Fungsi Manajemen


Menurut Pendapat George R. Terry,1958, suatu proses yang khas, dimana
terdiri dari kegiatan pengorganisasian, perencanaan, menggerakan dan
pengawasan yang dilaksanakan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang
telah ditetapkan dengan bantuan manusia dan sumber lainnya.

  1. Planning (Fungsi Perencanaan)
    Fungsi planning meliputi pengaturan tujuan dan mencari cara bagaimana
    untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam fungsi perencanaan kita harus memikirkan
    apa yang akan dikerjakan dengan sumber daya yang dimiliki. Perencanaan
    dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan. Selain itu
    juga harus direncanakan cara dan metode terbaik untuk memenuhi tujuan tersebut.
    Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil
    tindakan. Setelahnya akan dilihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat
    digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan menjadi proses
    terpenting dari semua fungsi manajemen. Tanpa adanya perencanaan maka
    fungsi-fungsi yang lainnya tidak akan dapat berjalan.
  2. Organizing (Fungsi Pengorganisasian)
    Fungsi organizing dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar
    menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Lebih detailnya berarti proses
    mengelompokkan semua orang, alat, tugas tanggung-jawab dan wewenang yang
    dimiliki hingga memunculkan kesatuan yang bisa digerakkan dalam mencapai
    tujuan.
    Pengorganisasian akan mempermudah manajer dalam melakukan
    pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas
    yang telah dibagi-bagi. Aspek utama lain dari organizing adalah pengelompokan
    kegiatan ke departemen atau beberapa subdivisi lainnya.
    Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang
    harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas
    tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut dan
    pada tingkatan mana keputusan harus diambil.
  3. Directing (Fungsi Pengarahan)
    Fungsi actuating meliputi pelaksanaan kerja dan tugas yang diberikan.
    Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti
    dengan pelaksanaan kerja. Untuk itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas
    dan kerjasama antar semua anggota.
    Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai
    visi, misi dan program kerja organisasi. Pelaksanaan kerja harus sejalan dengan
    rencana kerja yang telah disusun. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas,
    fungsi, keahlian dan kompetensi masing-masing yang telah ditetapkan.
  4. Controlling (Fungsi pengendalian)
    Fungsi controlling meliputi kegiatan dalam menilai suatu kinerja yang
    berdasarkan pada standar yang sudah dibuat perubahan atau suatu perbaikan jika
    dibutuhkan. Pengontrolan dibutuhkan agar pekerjaan berjalan sesuai dengan visi,
    misi, aturan dan program kerja perusahaan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan

Menurut Sanjaya (2019:14) faktor-faktor tersebut adalah faktor
lingkungan internal organisasi, faktor lingkungan eksternal, dan faktor
internal karyawan, masing-masing faktor tersebut dijelaskan sebagai
berikut :
1. Faktor Internal
Faktor-faktor dari dalam diri pegawai yang merupakan faktor
bawaan dari lahir dan faktor yang diperoleh ketika ia
berkembang. Faktor-faktor bawaan, misalnya bakat, sifat pribadi,
serta keadaan fisik dan kejiwaan. Sementara itu, faktor-faktor
yang diperoleh, misalnya kualitas, kuantitas, ketepatan waktu,
efektivitas, kemandirian, dan komitmen kerja.
2. Faktor Lingkungan Internal Organisasi
Dalam melaksanakan tugasnya, pegawai memerlukan dukungan
organisasi tempat ia bekerja. Dukungan tersebut sangat
memengaruhi tinggi rendahnya pegawai. Sebaliknya, jika sistem
kompensasi dan iklim kerja organisasi buruk, kinerja karyawan
akan menurun. Faktor internal organisasi lainnya misalnya
strategi organisasi, dukungan sumber daya yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan, serta sistem manajemen dan
kompensasi. Oleh karena itu, manajemen organisasi harus
menciptakan lingkungan internal yang kondusif sehingga dapat
mendukung dan meningkatkan produktivitas karyawan.
3. Faktor Lingkungan Eksternal Organisasi
Faktor-faktor lingkungan eksternal organisasi adalah keadaan,
kejadian, atau situasi yang terjadi di lingkungan eksternal
organisasi yang memengaruhi kinerja karyawan.

Pengertian Kinerja Karyawan

Menurut Kasmir (2016:182) menyebutkan “Kinerja merupakan hasil
kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai dalam menyelesaikan
tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu periode
tertentu”.
Menurut Rivai dan Basri (2017:138) menyatakan “Kinerja adalah
hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama
periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan
berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran
maupun kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati
bersama”.
Menurut Mangkunegara (2017:139) menyatakan “Kinerja karyawan
adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.

Self Efficacy dan Work Engagement

Menurut (Bandura et al., 1999), self-efficacy atau efikasi diri
merupakan bagaimana setiap individu merasa dirinya yakin dan percaya
terhadap kemampuannya yang dimiliki, yang mana dapat digambarkan
dengan memotivasi diri sendiri serta berfikir dirinya mampu dalam
melaksanakan sesuatu dan berperilaku di dalam pekerjaan yang akan
dilaksanakan oleh individu tersebut. Kepercayaan ataupun keyakinan
seseorang dapat menyelesaikan tugasnya merupakan ciri dari efikasi diri.
Keyakinan yang dimiliki individu ini mampu menilai apakah individu
tersebut memiliki suatu kekuatan yang mana dari kekuatannya dapat
menghasilkan pengaruh, sehingga menjadi suatu keinginan yang ingin
dicapai. Apabila seorang karyawan mempunyai tingkat self-efficacy yang
tinggi tentunya juga dapat memotivasi diri individu tersebut menjadi terarah
hingga dapat mencapai tujuannya.
Self Efficacy merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada
work engagement sebagai bentuk sumber daya pribadi yang mana memiliki
umpan balik pada keterikatan karyawan seperti gaji, bonus, peluang karir,
kompensasi dan tunjangan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh (Hotimah & Izzati, 2019) yang menunjukkan adanya
hubungan yang searah, artinya semakin tinggi nilai efikasi diri, maka
semakin tinggi pula work engagement. Sebaliknya, apabila semakin rendah
nilai efikasi diri pada karyawan, maka semakin rendah work engagement.

Persepsi Terhadap Beban Kerja dan Work Engagement

Work engagement adalah keadaan yang memuaskan dan positif
dalam bekerja serta perasaan termotivasi dalam bekerja dimana dapat dilihat
sebagai lawan dari kelelahan kerja atau burnout (Bakker, Arnold B & Leiter,
2010). Karyawan akan memiliki tingkat energi yang tinggi dan antusias
dalam melakukan pekerjaan. Hal ini dapat dikatakan bahwa individu yang
memiliki work engagement ditandai dengan adanya vigor, dedication, dan
absorption dalam melakukan pekerjaan sehingga karyawan dalam
pekerjaannya akan lebih fokus, merasakan dirinya adalah bagian dari sebuah
tim, merasa mampu dan tidak merasakan sebuah tekanan dalam membuat
sebuah perubahan dan perencanaan dalam pekerjaan serta menyukai
tantangan dalam pekerjaannya.
Terdapat faktor yang mempengaruhi keterikatan dengan
pekerjaannya menurut (Bakker, Arnold B & Leiter, 2010) yakni sumber
daya kerja, sumber daya pribadi dan tuntutan pekerjaan. Salah satu faktor
yang dapat dimanifestasikan dalam bentuk beban kerja adalah tuntutan
pekerjaan. Menurut (Bakker, Arnold B & Leiter, 2010) tuntutan pekerjaan
merujuk pada waktu dan tekanan kerja, tuntutan emosional kerja karyawan,
lingkungan kerja yang buruk, peran ambiguitas, konflik peran, dan
kelebihan peran.
Menurut (Nurendra, 2016) tuntutan kerja secara signifikan akan
menimbulkan beban kerja dan menurunkan keterikatan kerja sehingga
apabila karyawan mempersepsikan beban kerjanya secara negatif maka
karyawan akan menimbulkan suatu yang hal yang tidak menyenangkan dan
suatu hal yang berat untuk dilakukan sehingga dalam melakukan pekerjaan
karyawan merasa bosan, kelelahan, menunda-nunda pekerjaan dan
menimbulkan perasaan negatif pada pekerjaannya. Sebaliknya apabila
karyawan mempersepsikan beban kerjanya secara positif maka ia
menganggap bahwa pekerjaan-pekerjaannya menyenangkan dan tidak
memberatkan bagi dirinya sehingga mengakibatkan karyawan tidak merasa
kelelahan dan dalam melakukan pekerjaan akan semangat, memiliki inovasi
untuk menyelesaikan dan merasa tertantang untuk menyelesaikannya dan
menimbulkan perasaan positif pada pekerjaannya (Elftasari & Mulyana,
2018).

Indikator Self efficacy

Berdasarkan pemaparan teori yang dijelaskan oleh (Bandura et al.,
1999) menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator dalam teori selfefficacy yang mengacu pada dimensi level atau magnitude, strength, dan
generality yang menghasilkan beberapa indikator sebagai berikut :
a) Yakin dapat menyelsaikan tugas tertentu
Individu yakin bahwa dirinya mampu untuk menyelesaikan tugas
tertentu yang dimana dengan menentukan target atas tugas apa yang
perlu untuk diselesaikan
b) Yakin dapat memotivasi diri untuk melakukan Tindakan yang di
perlukan untuk menyelsaikan tugas.
Individu mampu untuk menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk
dapat melakukan serangkaian tindakan yang nantinya diperlukan untuk
menyelesaikan tugas.
c) Yakin bahwa diri mampu untuk berusaha dengan keras, gigih, dan
tekun
Individu mempunyai ketekunan dalam rangka untuk menyelesaikan
tugas dengan menggunakan segala daya yang dimiliki.
d) Yakin bahwa diri mampu untuk bertahan menghadapi hambaatan dan
kesulitan
Individu mampu untuk bertahan dalam segala situasi serta dapat
menghadapi hambatan dan juga kesulitan serta mampu bangkit dari
kegagalan.
e) Yakin dapat menyelesaikan permasalahan di berbagai situasi
Individu memiliki keyakinan dalam menyelesaikan permasalahan tidak
bergantung pada situasi maupun kondisi tertentu.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Menurut (Bandura et al., 1999) faktor-faktor yang mempengaruhi
Self efficacy adalah:
a. Pencapaian Prestasi
Keberhasilan yang didapatkan akan meningkatkan efikasi diri yang
dimiliki seseorang sedangkan kegagalan akan menurunkan efikasi dirinya.
Apabila keberhasilan yang di dapatkan seseorang lebih banyak karena
faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh
terhadap peningkatan efikasi diri.
b. Pengalaman Orang Lain
Individu yang orang lain berhasil dalam melakukan suatu aktivitas dan
memiliki kemampuan sebanding dapat meningkatkan efikasi dirinya.
Pengalaman keberhasilan orang lain yang memiliki kemiripan dengan
individu dalam mengerjakan tugas yang sama. Efiaksi tersebut didapat
melalui social models yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang kurang
pengetahuan tentang kemampuan dirinya sehingga melakukan modeling.
Namun efikasi diri yang di dapat tidak akan berpengaruh bila model yang
diamati tidak memiliki kemiripan atau berbeda dengan model.
c. Persuasi Variabel
Individu diarahkan dengan saran, nasihat, bimbingan sehingga dapat
meningkatkan keyakinan seseorang bahwa kemampuan-kemampuanyang ia
dimiliki dapat membantu untuk mencapai apa yangdiinginkan. Informasi
tentang kemampuan yang di sampaikan secara verbal oleh seseorang yang
berpengaruh biasanya dugunakan untuk menyakinkan seseorang bahwa ia
mampu melakukan tugas.
d. Kondisi Emosional
Seseorang akan lebih mungkin mencapai keberhasilan jika tidak terlalu
sering mengalami keadaan yang menekan karena dapatmenurunkan
prestasinya dan menurunkan keyakinan kemampuandirinya. Kecemasan
dan stres yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan tugas sering
diartikan suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang cenderung akan
mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diselingi oleh
ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan

Sumber – sumber Self efficacy

(Bandura et al., 1999) mengemukakan bahwa teori self-efficacy
memiliki 4 (empat) sumber yang terdiri dari :
1) Pengalaman diri sendiri (mastery experience)
Pengalaman diri sendiri mengacu pada keberhasilan dan juga
kegagalan yang dialami oleh individu dalam suatu bidang yang dimana
nantinya dapat menentukan tingkat self-efficacy. Self-efficacy dapat
dipengaruhi oleh keberhasilan dan juga kegagalan, karena keberhasilan
mampu meningkatkan self-efficacy seseorang, begitupun dengan kegagalan
yang terus menerus juga mampu untuk menurunkan self-efficacy, terutama
untuk kegagalan yang terjadi pada awal unjuk kerja serta tidak dikarenakan
usaha yang kurang atau terdapat kesalahan strategi sebagai penyebab dari
kegagalan itu sendiri.
2) Pengalaman orang lain (vicarious experience)
Self-efficacy juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman dari orang
lain, dimana dengan melihat realita dari kerberhasilan orang lain akan
meningkatkan keyakinan diri bahwa individu juga memiliki kesempatan
serta kemampuan yang sama untuk dapat berhasil dalam melakukan tugas
ataupun aktivitas yang sama. Seorang individu juga dapat menjadikan
pengalaman orang lain sebagai ukuran seberapa baik atau buruknya orang
tersebut dalam mengerjakan suatu tugas, dengan kata lain individu harus
mampu menilai kemampuannya dengan melihat hasil yang telah dicapai
oleh orang lain.
Pada kasus yang lain, pengalaman kegagalan yang dialami oleh
orang lain juga dapat melemahkan keyakinan individu terhadap
kemampuannya dalam menyelesaikan tugas, terlebih jika individu tersebut
melihat orang lain yang dirasa memiliki tingkatan kemampuan yang lebih
baik dari dirinya. Sehingga, dengan mengamati keberhasilan orang lain
yang memiliki kemampuan yang sebanding akan mampu meningkatkan
self-efficacy atau efikasi diri, begitupun sebaliknya apabila seorang individu
melihat kegagalan orang lain, maka hal tersebut akan berdampak pada
menurunnya self-efficacy serta usahanya dalam menyelesaikan tugas
tersebut.

Pengertian Self Efficacy

Menurut (Bandura et al., 1999), self-efficacy atau efikasi diri
merupakan bagaimana setiap individu merasa dirinya yakin dan percaya
terhadap kemampuannya yang dimiliki, yang mana dapat digambarkan
dengan memotivasi diri sendiri serta berfikir dirinya mampu dalam
melaksanakan sesuatu dan berperilaku di dalam pekerjaan yang akan
dilaksanakan oleh individu tersebut.
Sementara itu menurut (Baron & Byrne, 2000) mengemukakan
efikasi diri merupakan penilaian seseorang pada suatu kemampuannya
untuk berkompetisi dalam hal melakukan tugas tertentu guna mencapai
tujuan yang mana dapat menghasilkan sesuatu dari pekerjaan yang telah
dilakukan serta dapat menyelesaikan hambatan ataupun kesulitan pada
pekerjaannya.
(Robbins, 2016) mengungkapkan bahwa semakin tinggi selfefficacy yang dimiliki oleh seseorang, semakin membuat dirinya yakin
bahwa memiliki kemampuan untuk berhasil, dalam situasi yang sulit
seseorang dengan self-efficacy rendah lebih cenderung mudah dalam
menyerah, sementara seseorang dengan self-efficacy tinggi akan berusaha
dengan lebih keras untuk menguasai tantangan.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa efikasi diri adalah keyakinan manusia akan kemampuan dirinya
untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian agar mampu mengatasi
masalah yang ada berdasarkan kemampuan diri mereka atas kejadian di
lingkungannya.

Indikator Persepsi Beban Kerja

Berdasarkan pemaparan teori yang dijelaskan oleh (Gawron, 2014)
dan (Reid, 2011). menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator dalam
beban kerja dengan metode SWAT (Subjective Workload Assesment
Technique) metode ini untuk mengetahui beban mental karyawan dan
mengabaikan beban kerja secara fisik sehingga metode SWAT dapat
digunakan untuk mengukur beban kerja subjektif dalam berbagai lingkungan
kerja secara luas yang dapat digunakan untuk bermacam-macam profesi yang
mengacu pada dimensi beban waktu, beban mental dan tekanan psikologi
yang menghasilkan beberapa indikator sebagai berikut :
1. Target hasil
Pandangan individu mengenai besarnya target yang diberikan untuk
menyelesaikan pekerjaannya serta pandangan mengenai hasil kerja
yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu.
2. Usaha mental
Mencakup tentang konsentrasi dan usaha mental yang diperlukan
dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
3. Tuntutan pekerjaan
Kondisi dimana perasaan yang muncul akibat dari tuntutan pekerjaan
yang diberikan, berupa stress, kebingungan dan juga kekhawatiran.

Pengertian Persepsi Terhadap Beban Kerja

(Robbins, 2016) yang menyatakan tentang persepsi merupakan
sebuah proses dari individu dalam mengorganisasikan dan
menginterpretasikan apa yang telah ditangkap di lingkungan kemudian
memberikan arti terhadap lingkungannya.
Terdapat tiga komponen utama dalam proses persepsi menurut
(Sobur, 2016) diantaranya adalah:
a. Seleksi adalah proses penyaringan rangsangan yang ditangkap oleh
indra, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
b. Interpretasi adalah proses pengelompokan suatu informasi sehingga
informasi tersebut dapat diartikan.
c. Reaksi dalam bentuk tingkah laku sebagai akibat dari interpretasi dan
persepsi.
Menurut Simamora (2000), persepsi merupakan suatu proses,
dengan mana seorang menyeleksi, mengorganisasikan dan menginterpretasi
stimuli kedalam gambaran dunia yang berarti menyeluruh. Yang berarti
sudut pandang seseorang terhadap sesuatu yang tertangkap oleh panca
indera secara keseluruhan. Sunaryo (2002), mengatakan bahwa persepsi
adalah proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses pengindraan,
yaitu proses di terimanya stimulus oleh alat indra, kemudian individu ada
perhatian, lalu diteruskan ke otak, dan kemudian baru individu menyadari
dengan sesuatu yang dinamakan persepsi. Dengan persepsi individu
menyadari dapat mengerti dengan keadaan lingkungan yang ada di
sekitarnya maupun tentang hal yang ada dalam diri individu yang
bersangkutan.
Menurut (Gawron, 2014) mendefinisikan beban kerja sebagai
berikut: ”Workload has been defined as a set of task demands, as effort, and
as activity or accomplishment”, yang berarti bahwa beban kerja telah
didefinisikan sebagai seperangkat tuntutan tugas, sebagai upaya, dan
sebagai kegiatan atau prestasi.
Menurut (Riggio, 2014) Beban kerja yaitu tuntutan kerja yang
dilakukan oleh individu sehingga dapat menimbulkan stress.
Menurut (Ulfah et al., 2018)Persepsi beban kerja merupakan
penilaian individu mengenai sejumlah tuntutan tugas yang membutuhkan
kegiatan psikis, fisik, dan harus diselesaikan pada waktu yang telah
ditentukan.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi
terhadap beban kerja merupakan penilaian individu mengenai sejumlah
tuntutan tugas atau kegiatan yang membutuhkan aktivitas mental misalnya
untuk mengingat hal-hal yang diperlukan, konsentrasi, mendeteksi
permasalahan, mengatasi kejadian yang tak terduga dan membuat keputusan
dengan cepat yang berkaitan dengan pekerjaan dan kekuatan fisik untuk
mencetak, mengikir, menghaluskan, mengangkat atau finising barang yang
harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Apabila individu tersebut
memiliki persepsi yang positif maka mereka akan menganggap beban kerja
sebagai tantangan dalam bekerja sehingga mereka lebih
bersungguhsungguh dalam bekerja dan menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat bagi dirinya maupun perusahaan tempat bekerja. Sebaliknya
jika persepsi negatif yang muncul maka beban kerja dianggap sebagai
tekanan kerja sehingga dapat mempengaruhi kinerja individu, memiliki
dampak negatif bagi dirinya maupun perusahaan tempat bekerja.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Work Engagement

1. Sumber Daya Kerja
Sumber daya kerja dan kinerja kerja memiliki umpan balik pada
keterikatan karyawan. Sumber daya kerja yang dapat mengurangi tuntutan
pekerjaan mengacu pada aspek fisik, sosial atau organisasi dari segi
fisiologis dan psikologis kemudian juga dapat menstimulasi pertumbuhan,
pembelajaran, dan pengembangan pribadi. Sumber daya kerja dapat
ditempatkan pada sistem organisasi seperti gaji/bonus, peluang karir,
keamanan kerja, kejelasan peran dan partisipasi dalam pengambilan
keputusan; hubungan interpersonal dan sosial seperti adanya dukungan dari
rekan kerja; Menurut (Bakker, Arnold B & Demerouti, 2012) dalam sumber
daya kerja juga terdapat motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal
memainkan peran dalam menumbuhkan pertumbuhan, pembelajaran dan
pengembangan karyawan sedangkan motivasi eksternal memainkan peran
mencapai tujuan kinerja.
2. Tuntutan Pekerjaan
Menurut (Bakker, Arnold B & Leiter, 2010) menyatakan tuntutan
pekerjaan adalah usaha yang dilakukan dalam bentuk fisik, kognitif maupun
emosional secara berkelanjutan dimana terdapat aspek-aspek yang
mendukung yakni fisik, psikologis, sosial dan organisasi. Tuntutan kerja
tidak selalu menimbulkan dampak negatif, tetapi dapat berubah menjadi
ketegangan dalam diri individu apabila tuntutan tugas terlalu tinggi
sehingga mengakibatkan dampak negatif seperti depresi, kecemasan, dan
burnout. Selain menimbulkan stress tuntutan tugas juga dapat menimbulkan
beban kerja bagi karyawan. Tuntutan kerja ada berbagai macam diantaranya
adalah waktu dan tekanan kerja, tuntutan emosional kerja karyawan,
lingkungan kerja yang buruk, peran ambiguitas, konflik peran, dan
kelebihan peran.
3. Sumber Daya Pribadi
Sumber daya pribadi juga menjadi aspek dari work engangement.
Sumber daya pribadi merupakan kepribadian serta emosional yang ada
dalam diri individu. Menurut (Bakker, Arnold B & Leiter, 2010)
menyatakan bahwa sumber daya pribadi sebagai evaluasi diri positif yang
berhubungan dengan pekerjaan. Karyawan akan memiliki hubungan yang
positif dengan pekerjaan. Contoh hubungan yang positif seperti optimis,
self-efficacy, dan harga diri. Sikap-sikap positif tersebut juga menjadi
mediasi antara sumber daya pekerjaan terhadap work engagement, selain itu
juga dapat mengantisipasi burnout yang dialami oleh karyawan.

Indikator Work Engangement

Menurut (Bakker, Arnold B & Leiter, 2010) menyatakan bahwa
terdapat tiga indikator dalam work engagement diantaranya adalah:
a. Vigor ( semangat )
Vigor ( semangat ) merupakan semangat yang dimiliki sebagai
perasaan individu dalam melakukan pekerjaan. menggambarkan level
energy dan mental resiliensi yang dimiliki seseorang ketika bekerja. Selain
itu, vigor juga menunjukkan adanya kesediaan karyawan untuk melakukan
usaha yang besar dalam menyelesaikan pekerjaan, tidak mudah merasa lelah
dalam melakukan pekerjaan. meski mengalami suatu hal yang sulit dalam
pekerjaan.
b. Dedication ( dedikasi )
Dedication ( dedikasi ) didefinisikan sebagai keterlibatan yang kuat
dari karyawan terhadap pekerjaannya. Keterlibatan karyawan merupakan
perasaan yang bersifat positif seperti antusias dalam penyelesaian pekerjaan
serta perasaan keterikatan diri terhadap pekerjaan dan perusahaan yang
ditempati.
c. Absorption (penyerapan )
Absorption ( penyerapan ) merupakan konsentrasi penuh yang
dimiliki karyawan dalam melakukan pekerjaan dimana karyawan merasa
pada saat melakukan pekerjaan, waktu terasa begitu cepat berlalu karena
menikmati pekerjaanya serta sulit melepaskan diri mereka pada saat
melakukan pekerjaan karena mereka merasa nyaman dengan pekerjaan yang
dilakukan.

Pengertian Work Engangement

Menurut (Bakker, Arnold B & Leiter, 2010) menyatakan bahwa
work engagement adalah keadaan kerja yang memuaskan dan positif, serta
perasaan termotivasi dalam bekerja dimana dapat dilihat sebagai lawan dari
kelelahan kerja (burnout) sehingga dalam melakukan pekerjaan karyawan
akan antusias dan memiliki tingkat energi yang tinggi.
(Aziz & Rahardjo, 2014) Work engagement adalah sebuah konsep
dimana karyawan memiliki komitmen dan semangat bekerja tinggi dalam
pekerjaannya, merupakan upaya karyawan untuk mengekspresikan diri
secara fisik, kognitif dan emosional selama bekerja.
(Kahn, 2012) menyatakan bahwa work engagement didefinisikan
sebagai keterikatan karyawan sebagai anggota organisasi dimana mereka
mengekspresikan diri mereka secara fisik, kognitif, dan emosional serta
secara penuh terhadap peran kerja mereka.
Menurut (Robinson et al., 2015) work engagement yaitu sikap positif
yang dipegang oleh karyawan terhadap organisasi atau perusahaan yang
ditempati dan dapat bekerjasama meningkatkan kinerja untuk kepentingan
organisasinya.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
work engagement merupakan keterikatan karyawan sebagai anggota
organisasi dan memiliki komitmen kuat yang didukung oleh perasaan
termotivasi dalam bekerja dimana dapat dilihat sebagai lawan dari kelelahan
kerja (burnout) sehingga dalam melakukan pekerjaan karyawan akan
antusias dan memiliki tingkat energi yang tinggi.

Pengaruh Employee Engagement terhadap kinerja

Employee engagement atau keterikatan karyawan didefinisikan oleh
(Robbins, 2012) sebagai suatu komitmen emosional yang dimiliki oleh setiap
karyawan dalam proses mencapai tujuan organisasi. Dalam hal ini fokus
karyawan tidak sekedar hanya berfokus pada upah yang akan diterima atau
tunjangan dan promosi lainnya tetapi karyawan juga memiliki andil berupa
keterlibatan dalam upaya mewujudkan tujuan organisasi atau perusahaan
(Kruse, 2012) . Keterlibatan dan keterikatan karyawan terhadap perusahaan
tempat ia bekerja menjadi salah satu aspek penting untuk menentukan
tercapainya tujuan suatu perusahaan. Akbar (Rustono, 2014), menjelaskan
bahwa employee engagement (keterikatan karyawan) dapat dikorelasikan
dengan keberhasilan suatu perusahan dalam mencapai suatu tujuan baik itu
berupa peningkatan kualitas perusahaan, rendahnya tingkat turnover, juga
meningkatnya kualitas kinerja karyawan menjadi lebih baik. Oleh karena itu
dapat dipahami bahwa keterikatan karyawan (employee engagement) dengan
kinerja karyawan saling bersinggungan dan memiliki hubungan yang bersifat
positif. Maksudnya semakin tinggi keterikatan karyawan makan kinerjanya
juga akan mengikuti semakin baik.
Hal tersebut dibuktikan oleh (Setiawan, 2017) yang menyatakan
bahwa employee engagement memberikan pengaruh positif dan dinamis pada
kinerja karyawan. Kemudian didukung dengan penelitian (Wicaksono, 2019)
yang menyimpulkan dalam hasil penelitiannya bahwa secara parsial
ditemukan pengaruh elemen absorption terhadap kinerja karyawan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

Adapun pencapaian kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor
kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation):
1. Faktor Kemampuan (Ability) Jika dilihat dengan sudut pandang psikologis
kemampuan yang dimiliki oleh seseorang ini berupa dua jenis kemampuan
yaitu kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (knowledge and
skills). Tentu saja faktor kemampuan (Ability) ini kemudian memberi
dampak terhadap bagaimana cara seorang karyawan atau pemimpin dalam
menjalankan kewajibannya di dalam suatu organisasi atau perusahaan.
Seorang pemimpin atau karyawan yang punya kemampuan potensi (IQ) di
atas rata-rata (110-120) atau kemampuan yang lebih tinggi seperti IQ
superior, very superior, gifted, dan jenius akan lebih terampil dalam
menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan sehari-hari dan menjadi
tanggung jawabnya apalagi jika didukung dengan pendidikan yang
memadai. Semakin baik faktor kemampuan (ability) akan semakin mudah
mencapai kinerja maksimal misalnya employee engagement.
2. Faktor Motivasi (Motivation). Faktor ini dipahami sebagai suatu perilaku
(attitude) yang dimiliki setiap individu baik pemimpin atau karyawan
dimana memiliki pandangan positif mengenai situasi kerja (situation) di
lingkungan tempat bekerja dan berbagai elemen di dalamnya. Individu
yang memiliki karakter positif terhadap setiap kondisi yang terjadi di
lingkungan kerja menggambarkan individu yang memiliki motivasi tinggi
sedangkan yang sulit berpandangan positif dan cenderung bersikap
resisten (kontra) terhadap kondisi kerja menggambarkan individu tersebut
tidak banyak memiliki motivasi untuk bekerja. Kondisi kerja yang
dimaksud dalam hal ini meliputi interaksi kerja, kebijakan perusahaan,
iklim kerja, fasilitas kerja, dan pola kepemimpinan

Indikator Kinerja

Kinerja dapat diidentifikasi dengan menilai beberapa indikator
penting yang membentuk kinerja karyawan. (Mangkunegara, 2017)
menguraikan indikator penting untuk mengetahui kinerja karyawan terdiri
dari beberapa poin penting, yaitu:
1. Kualitas yaitu seberapa baik seorang karyawan dalam menyelesaikan
tugas-tugas yang harus diselesaikan. Untuk mengukur kualitas kerja
seorang karyawan dapat diidentifikasi dengan mengidentifikasi tiga
indikator, yakni:
a. Ketelitian
b. Kehandalan.
c. Kerapian
2. Kuantitas Kerja merupakan rentang seberapa lama karyawan dapat
beraktifitas untuk menjalankan pekerjaan dengan optimal. Kuantitas
kerja yang dimiliki karyawan dapat diidentifikasi dengan melihat
seberapa cepat tiap-tiap karyawan ketika melaksanakan pekerjaan yang
sudah ditugaskan. Adapun untuk mengetahui kuantitas kerja seorang
karyawan dapat diketahui dengan menggunakan tiga indikator sebagai
berikut:
a. Hasil Kerja
b. Kepuasan Kerja
c. Ketepatan waktu
3. Kerjasama dipahami sebagai kesiapan seorang karyawan dalam
melibatkan diri dengan lingkungan perusahaan atau organisasi baik
antar karyawan atau pegawai lain secara horizontal maupun vertikal.
Kemampuan kontribusi antar karyawan ini dibutuhkan dalam pekerjaan
maupun diluar urusan pekerjaan sehingga bounding yang baik ini
berdampak pada hasil kerja tiap karyawan yang semakin baik. Indikator
yang digunakan untuk menilai kemampuan kerjasama adalah sebagai
berikut:
a. Kekompakan
b. Membentuk kerjasama
4. Tanggung jawab merupakan pemahaman seorang karyawan terhadap
kewajiban untuk mengerjakan hingga selesai tugas yang telah
disampikan oleh atasan perusahaan dan menjadi tanggung jawab
karyawan tersebut. Mengukur tanggung jawab dapat menggunakan dua
indikator, yakni:
a. Menjalankan keputusan
b. Hasil kerja
5. Inisiatif merupakan bentuk kesadaran yang ada dalam diri seorang
karyawan untuk memulai pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya,
mulai dari mengatasi masalah hingga menyelesaikan masalah dalam
pekerjaan tanpa menunggu arahan dari pemimpin atau atasan. Artinya
dorongan untuk menyelesaikan tanggung jawab terbentuk dari dalam
diri karyawan itu sendiri. Indikator untuk mengukur tingkat inisiatif
seorang karyawan adalah:
a. Kemandirian
b. kemampuan dalam bekerja

Definisi Kinerja

Menurut (Lijan, 2016) kinerja adalah bentuk dari hasil upaya yang
mampu direalisasikan individu atau kumpulan orang yang tergabung
dalam wadah organisasi, sesuai dengan tugas maupun wewenang yang
dimiliki oleh tiap masing-masing anggota yang terlibat dalam upaya
mewujudkan rencana perusahaan/organisasi.
Kemudian (Priansa, 2016) berpendapat bahwa kinerja merupakan
keberhasilan pegawai untuk mencapai tugas dalam melaksanakan
pekerjaannya. Kinerja bukan karakteristik yang ada dalam diri individu
seperti bapak atau kemampuan, namun bentuk kinerja ini adalah
perwujudan dari realisasi bakat dan kemampuan itu sendiri. Hasil akhir
dari proses melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan atasan
kepada karyawan yang mamp diwujudkan seoptimal mungkin merupakan
wujud dari kinerja itu sendiri.
Menurut (Mangkunegara, 2017) definisi kinerja (prestasi kerja)
yakni hasil akhir suatu pekerjaan baik berupa kualitas ataupun kuantitas
yang mampu diwujudkan oleh seorang karyawan sebagai bentuk
keterlibatan karyawan tersebut untuk mewujudkan tanggung jawab yang
sudah diberikan oleh atasan kepada karyawan tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami mengenaai definisi
kinerja sebagai tingkat pencapaian atau hasil kerja yang dilakukan
karyawan mengenai tugas dan kewajiban, kemampuan serta tanggung
jawab yang dilakukan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi
suatu organisasi sehingga memberikan kontribusi terhadap perusahaan.

Indikator Employee Engagement

Menurut (Schaufeli & Bakker, 2016), terdapat tiga indikator dari
employee engagement, yaitu:
1. Vigor,Dapat dinilai dari semangat yang di tunjukkan seseorang untuk
melakukan pekerjaannya serta dapat dilihat dari energi dan stamina
yang tinggi ketika bekerja. Kemauan untuk berusaha dengan sungguhsungguh dalam melakukan pekerjaan serta kegigihan dan ketekunan
dalam menghadapi kesulitan dalam bekerja
2. Dedication, Mengacu pada kekuatan perasaan terikat dengan
pekerjaan sehingga akan selalu terlihat antusias dan bangga dengan
pekerjaan yang dimilikinya serta penuh dengan perasaan yang
bermakna.
3. Absorption,Ditandai dengan adanya konsentrasi dan keseriusan dalam
bekerja,menikmati pekerjaan sehingga waktu terasa berlalu begitu
cepat ketika sedang bekerja dan merasa sulit untuk keluar dari
pekerjaan. Adanya ketertarikan untuk menyelesaikan apa yang
dibutuhkan dari pekerjaan

Definisi Employee Engagement

Gibbons (Hughes, dkk, 2012) menjelaskan mengenai employee
engagement sebagai suatu keterkaitan yang tinggi baik secara intelektual
maupun emosional dalam diri seorang pekerja pada pekerjaan, organisasi,
manajer atau rekan kerja yang mampu menawarkan keterlibatan sehingga
memberikan pengaruh dalam meningkatkan discretionary effort terhadap
pekerjaan yang dilakukannya. Keterlibatan yang bersifat positif dengan
pekerjaannya ini kemudian bermanifestasi sebagai tanggung jawabnya
terhadap organisasi dimana tempat dia melaksanakan pekerjaannya,
manajer selaku pemimpin dan atasannya, dan memberikan motivasi serta
arahan, atau rekan kerja yang saling memberikan dukungan satu sama lain
sehingga mampu memberikan usaha maksimal yang bahkan lebih tinggi
dari standar suatu pekerjaan. Rothbar (dalam Saks 2006) menguraikan
bahwa definisi mengenai keterikatan sebagai sebuah susunan motivasional
yang terdiri dari dua dimensi yakni attention (kemampuan seseorang untuk
menggunakan proses berpikirnya terhadap kedudukannya dalam suatu
aktifitas bekerja dalam sebuah periode waktu tertentu) dan absorption
(kemampuan seseorang untuk bersuungguh-sungguh dalam memusatkan
konsentrasinya terhadap peran kerja yang ia lakukan).
(Robinson, Jakarta) mengartikan employee engagement sebagai
suatu perilaku positif seorang karyawan mengenai lingkungan kerja tempat
ia berproses dan mengimplementasikan asas-asas yang terdapat pada satu
organisasi atau perusahaan. Oleh karena itu, dalam konsep employee
engagement, dapat dipahami sebagai hubungan timbal balik yang
dilakukan oleh perusahaan kepada pekerja bergitupula sebaliknya.
Memaknai beberapa uraian mengenai pengertian employee
engagement oleh berbagai tokoh maka dapat disimpulkan bahwa employee
engagement ini berarti sebuah relasi emosional dan intelektual yang tinggi
yang dimiliki oleh karyawan terhadap pekerjaan yang ia tekuni. Employee
engagement pun diekspresikan dengan perilaku karyawan yang
memberikan keterlibatan lebih terhadap pekerjaannya dan mampu
berkontribusi secara efisien dan efektif di lingkungan tempat ia bekerja.

Pengaruh employee engagement terhadap kinerja dengan komitmen organisasi sebagai variabel intervening

Employee enggament (keterikatan kerja) seorang karyawan
terhadap perusahaan ditunjukkan dengan karyawan yang memiliki
energi penuh saat bekerja, semangat, serta mempunyai sikap pantang
menyerah dalam menyelesaikan pekerjaannya sehingga berdampak
terhadap komitmen karyawan dengan perusahaan dimana karyawan
merasa pekerjaannya memiliki makna yang mendalam dan penting
bagi hidupnya sehingga dapat meningkatkan kinerja dengan
ditunjukkan melalui upaya karyawan untuk bekerja dengan teliti dan
menyelesaikan pekerjaannya dengan akurat. Dalam penelitian
(Prabawati, 2017) mengatakan bahwa ketika seorang karyawan
memiliki keterikatan dan komitmen dalam pekerjaannya maka akan
meningkatkan hasil kerja karyawan itu sendiri

Pengaruh employee engagement terhadap kinerja

Employee engagement adalah keterikatan karyawan terhadap
pekerjaannya pada perusahaan yang digambarkan karyawan melalui
perilakunya yang antusias dalam menyelesaikan pekerjaan yang
diberikan sehingga tidak bisa bersikap acuh dengan pekerjaannya.
Keterikatan karyawan terhadap perusahaan juga dapat membuat
karyawan tenggelam dalam pekerjaannya.
Kinerja merupakan hasil yang didapatkan seorang karyawan
dalam menyelesaikan tugas dengan baik sehingga dapat mencapai
target yang ditetapkan oleh perusahaan.
Keterikatan kerja yang dimiliki karyawan terhadap
pekerjaannya akan membuat karyawan merasa bangga terhadap
pekerjaannya dan mereka akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Hal
ini tentu saja dapat mempengaruhi kinerja karyawan, dimana
karyawan yang memiliki keterikatan terhadap perusahaan akan
sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh
perusahaan sehingga karyawan dapat bekerja mencapai target yang
sudah ditetapkan perusahaan.

Pengaruh komitmen organisasi terhadap kinerja

Komitmen organisasi adalah seorang karyawan yang
memiliki keingiman untuk tetap berada dalam perusahaan karena bagi
mereka pekerjaannya penting untuk hidupnya dan pekerjaannya
memiliki makna yang mendalam bagi dirinya.
Kinerja adalah suatu hasil yang diraih oleh karyawan pada
saat melaksanakan pekerjaannya yang diberikan oleh perusahaan
dengan teliti dan akurat sehingga pekerjaan yang dihasilkan sesuai
dengan kriteria perusahaan.
Karyawan yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap
pekerjaannya, maka akan terikat secara emosional dengan perusahaan
dan mudah beradaptasi dalam perusahaan. Karyawan yang berperilaku
seperti ini akan mempengaruhi kinerja karyawan, karena dengan
beradaptasi dengan rekan kerja di perusahaan akan menghasilkan
kerjasama yang baik antar karyawan sehingga dapat menghasilkan
kinerja yang memuaskan

Pengaruh Employee Engagement terhadap Komitmen Organisasi

Employee engagement merupakan keterikatan karyawan
terhadap pekerjaannya yang digambarkan dengan memiliki energi
yang tinggi dan ketahanan mental serta tidak mudah menyerah saat
menghadapi kesulitan dalam bekerja. Dalam dunia perusahaan sikap
karyawan seperti ini dapat membantu proses aktivitas yang dilakukan
perusahaan.
Komitmen organisasi adalah keinginan seseorang karyawan
untuk tetap tinggal dalam perusahaan karena karyawan merasa
memiliki tanggungjawab untuk tetap berada dalam perusahaan demi
mencapai tujuan perusahaan karena bagi karyawan itu merupakan
kewajibannya.
Karyawan yang memiliki keterikatan karyawan terhadap
pekerjaannya yang ditunjukkan dengan ketahanan mental tinggi dan
memiliki energi penuh saat bekerja sehingga dapat mempengaruhi
komitmen seorang karyawan, karena karyawan merasa memiliki
tanggungjawab atas pekerjaannya, dengan itu karyawan yang
memiliki keterikatan terhadap pekerjaannya akan tetap tinggal dalam
perusahaan karena bagi karyawan itu merupakan kewajiban dalam
menjalankan tugasnya.

Dampak Kinerja

Menurut (Cendani & Tjahjaningsih, 2015) kinerja merupakan hal
yang dapat mempengaruhi mereka untuk seberapa banyak mereka
melibatkan dirinya dalam organisasi antara lain sebagai berikut :
a. Kuantitas keluaran
b. Kualitas keluaran
c. Jangka waktu keluaran
d. Kehadiran ditempat kerja

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja menurut
Gibson (2002) dalam (Sa’diyah, Irawati, & Faidal, 2017) antara lain :
1 Atribut Individu. Atribut yang dimiliki dan melekat pada individu
akan membedakan dengan yang lainnya.faktor ini merupakan
kecakapan individu dalam menyelesaikan tugas-tugasnya yang
telah ditetapkan, antara lain :
a.Karakter demografi, meliputi umur, jenis kelamin, dan
sebagainya.
b. Karakter kompetensi, seperti bakat, kecerdasan, kemampuan,
ketrampilan, dan sebagainya.
c.Karakteristik psikologi, dapat dilihat dari nilai yang dianut
seperti sikap dan perilaku.
2 Kemauan untuk bekerja. Karyawan yang telah memiliki atribut
yang melekat pada dirinya memiliki kesempatan untuk mencapai
suatu prestasi. Kemauan karyawan untuk bekerja merupakan suatu
kekuatan karyawan yang dapat meningkatkan usaha kerja yang
lebih terarah dalam melaksanakan pekerjaan.
3 Dukungan organisasi. Dukungan organisasi terhadap karyawan
merupakan hal yang penting dalam mencapai tujuan organisasi
tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi keterbatasan baik karyawan
maupun organisasi atau perusahaan. Misalnya dalam hal
perlengkapan, peralatan dan kelengkapan kejelasan dalam
memberikan informasi.

Dimensi Kinerja

Menurut (Viswesvaran & Ones, 2000) mengatakan bahwa kinerja
mempunyai 6 dimensi sebagai berikut :
1) Effort
Usaha seseorang dalam menyelesaikan tugas yang diberikan
perusahaan yang diperlihatkan dari inisiatif dan giat dalam bekerja
seorang karyawan.
2) Job Knowledge
Seberapa jauh karyawan memiliki pengetahuan dan ketrampilan saat
melaksanakan pekerjaan, serta seberapa tingginya karyawan dalam
memahami tugas yang diberikan oleh perusahaan.
3) Quality
Tingkat seberapa baiknya karyawan dalam menyelesaikan tugas
yang diberikan kepadanya.
4) Quantity
Seberapa banyak jumlah pekerjaan yang dihasilkan dalam bentuk
mata uang dan seberapa banyak unit yang diproduksi atau jumlah
aktivitas yang dikerjaan dalam satu harinya.
5) Compliance with rules
Karyawan yang bersedia memahami dan mematuhi peraturan dan
regulasi yang ada di perusahaan tempat dimana bekerja.
6) Interpersonal competence
Seseorang yang mampu menjalin hubungan dengan baik terhadap
rekan kerja, serta mampu untuk berkerjasama dengan antar
karyawan dalam perusahaan.

Hambatan dalam Evaluasi Kerja

Berikut beberapa faktor yang mungkin dapat menjadi hambatan dalam
penilaian evaluasi prestasi yang adil:
1. Perubahan standar
Standar yang tidak konsisten dan berubah-ubah akan mempengaruhi
pengukuran prestasi karyawan.
2. Hallo effect
Terjadi apabila penilaian manajer terhadap prestasi karyawan secara
keseluruhan hanya bergantung pada satu atau beberapa aspek saja. Efek tersebut
merupakan efek berantai. Biasanya hal ini terjadi karena pimpinan melibatkan
emosi dalam sebuah penilaian, menilai terlalu lunak atau keras, melibatkan
prasangka pribadi, serta menilai berdasarkan data atau fakta dari waktu yang
paling akhir saja.
3. Perbedaan sifat manajer
Manajer mempunyai sifat dan karakter yang berbeda. Penilaian karyawan
bias menjadi berbeda karena sifat manajer. Oleh karena itu, disarankan untuk
membuat standar/pedoman penilaian untuk dijadikan patokan penilaian agar
penilaian secara adil dapat diwujudkan dan karyawan terhindar dari bias yang
disebabkan karakter manajer.
4. Perbedaan stereotype tertentu
Manajer dapat menjadi bias karena faktor etnis, jenis kelamin, atau
golongan tertentu. Untuk menghindari hal itu, manajer harus berpegang pada
pedoman/standar tertulis dan hasil penilaian prestasipun harus dilakukan secara
tertulis sehingga dapat dipertanggung jawabkan, (Rachmawati, 2008)

Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja (performance appraisal) adalah proses yang dipakai oleh
organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja individu karyawan, (Simamora,
2004).
Penilaian kinerja kadang-kadang merupakan kegiatan manajer yang paling
tidak disukai, dan mungkin ada beberapa alasan untuk perasaan demikian. Tidak
semua peniiaian kinerja bersifat positif, dan mendiskusikan nilai dengan karyawan
yang nilainya buruk bias menjadi tidak menyenangkan. Penilaian kinerja
karyawan memiliki dua penggunaan yang umum didalam organisasi, dan
keduanya bisa merupakan konflik yang potensial.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Dalam pencapaian tujuan organisasi tidak terlepas dari kinerja induvidu
karyawan, oleh karena itu factor-faktor yang mempengaruhi kinerja individu
adalah (Mathis dan Jackson, 2006) :
1. Kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan tersebut yaitu
bakat, minat dan faktor kepribadian.
2. Tingkat usaha yang dicurahkan yaitu motivasi yang dimiliki, etika
kerja, tingkat kehadiran, rancangan kerja.
3. Dukungan organisasional yaitu pelatihan dan pengembangan,
peralatan dan tekhnologi, standar kerja, manajemen dan rekan
kerja.
Pendapat lain tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja, antara
lain dikemukakan (Armstrong dan Baron dalam Wibowo, 2011) yaitu sebagai
berikut :
1. Personal factors, ditujukkan oleh tingkat keterampilan, kompetensi,
yang dimiliki, motivasi, dan komitmen individu.
2. Leadership factors, ditentukan oleh kualitas dorongan, bimbingan dan
dukungan yang dilakukan menejer dan team leader.
3. Team factor, ditujukan oleh kualitas dukungan yang diberikan oleh
rekan sekerja.
4. System factors, ditujukan oleh adanya system kerja dan fasilitas yang
diberikan organisasi.
5. Contextual / situational factors, ditujukan oleh tingginya tingkat
tekanan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal.
Indikator kinerja atau performance indicators kadang-kadang
dipergunakan secara bergantian dengan ukuran kinerja. Indikator kinerja dipakai
untuk aktivitas yang hanya dapat ditetapkan secara lebih kualitatif atas dasar
perilaku yang dapat diamati. Terdapat tujuh indicator kinerja menurut Hersey,
Blanchard, dan Johnson dalam (Wibowo, 2010), yakni tujuan, standar,
umpanbalik, alat atau sarana, kompetensi, motif, peluang.

Pengertian Kinerja

Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas
kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu, (Hasibuan, 2005)
Kinerja karyawan adalah suatu keadaan yang menunjukkan banyaknya
pekerjaan yang harus dilakukan atau dihasilkan seorang individu atau sekelompok
kerja sesuai dengan job description mereka masing-masing, (Manullang, 2001).
Sedangkan pakar lain, mengatakan bahwa kinerja merupakan perilaku
nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh
karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan, (Rivai, 2004).
Sementara menurut (Siagian, 2002) kinerja merupakan suatu keadaan
yang menunjukkan kemampuan seseorang karyawan dalam menjalankan tugas
sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh organisasi kepada karyawan
sesuai dengan job description nya.
Berdasarkan uraian tersebut diatas mengungkapkan bahwa dengan hasil
kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melakukan suatu pekerjaan dapat
dievaluasi tingkat kinerja pegawainya. Maka kinerja karyawan harus dapat
ditentukan dengan pencapaian target selama periode waktu yang dicapai
organisasi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja

Menurut Hadari Nawawi (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi
lingkungan kerja adalah sebagai berikut :
a. Kondisi fisik (kondisi kerja) merupakan keadaan kerja dalam
perusahaanyang meliputi penerangan tempat kerja, penggunaan warna,
pengaturan suhu udara, kebersihan dan ruang gerak.
b. Kondisi non fisik (iklim kerja) sebagai hasil persepsi karyawan
terhadap lingkungan kerja tidak dapat dilihat atau disentuh tetapi dapat
dirasakan oleh karyawan tersebut. Iklim kerja dapat dibentuk oleh para
pemimipin yang berarti pemimpin tersebut harus mempunyai
kemampuan dalam membentuk iklim kerja tersebut.

Jenis lingkungan Kerja

Secara garis besar lingkungan kerja terbagi atas dua, yaitu lingkungan
kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik (Sedarmayati : 2009). Lingkungan
kerja fisik adalah semua keberadaan yang berbentuk fisik, yang terdapat disekitar
tempat kerja karyawan, yang dapat mempengaruhi karyawan tersebut secara
langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja fisik ada yang lansung
berhubungan langsung dengan karyawan, namun ada juga yang berhubungan
dengan perantara atau lingkungan umum, yang dapat juga disebut lingkungan
kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, seperti temperatur, kelembaban, dan
sirkulasi udara.
Sementara itu, lingkungan kerja non fisik merupakan suatu keadaan yang
terjadi dan memiliki kaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan,
sesama rekan kerja, maupun bawahan. Perusahaan hendaknya dapat menyediakan
kondisi kerja yang kondusif dan mendukung kerja sama antar karyawan yang
bekerja di dalamnya baik di atas maupun tingkat bawah, dengan suasa
kekeluargaan, adanya komunikasi yang baik, dan juga pengendalian diri yang
baik.
Lingkungan kerja fisik mencakup setiap hal dari fasilitas parkir diluar
gedung perusahaan, lokasi dan rencana gedung sampai jumlah cahaya dan suara
yang menimpa meja kerja ruang kerja atau ruang kerja seorang tenaga kerja
(Ashar S. Munandar : 2008).
Schultz (Dalam Ashar S. Munandar :2008) mangajukan hasil suatu
penelitian di Amerika Serikat tentang kantor yang dirancang seperti pemandangan
alam. Kantor yang terdiri dari ruangan yang luas tanpa dinding-dinding bagi yang
membagi ruangan kedalam ruangan-ruangan terpisah. Semua karyawan dari
pegawai rendah sampai menengah dikelompokan kedalam satuan kerja fugional,
masing-masing dipisahkan dari satuan-satuan lainnya dengan pohon-pohon
(pendek) dan tanaman, kaca jendela yang rendah lemari-lemari pendek, rak-rak
buku. Kantor-kator pemandangan alam ini dikatakan melancarkan komunikasi dan
alur kerja. Disamping itu keterbukaan menunjang timbulya ikatan dan kerjasama
kelompok serta mengurangi rintangan-rintangan psikologis antara manajemen dan
karyawan. Keluhan kantor dalam kantor pemandangan ala mini berkaitan dengan
tidak adanya keleluasaan pribadi, adanya banyak kebisingan dan kesulitan
berkonsentrasi.
Jenis-jenis lingkungan kerja menurut Anwar P. Mangkunegara (2005)
yaitu:
1. Kondisi lingkungan kerja fisik yang meliputi :
a. Faktor lingkungan tata ruang kerja
Tata ruang kerja yang baik akan mendukung terciptanya hubungan kerja
yang baik antara sesama karyawan maupun dengan atasan karena akan
mempermudah mobilitas bagi karyawan untuk bertemu. Tata ruang yang
tidak baik akan membuat ketidak nyamanan dalam bekerja sehingga
menurunkan efektivitas kinerja karyawan.
b. Faktor kebersihan dan kerapian ruan kerja.
Ruang kerja yang bersih, rapi, sehat dan aman akan menimbulkan rasa
nyaman dalam bekerja. Hal ini akan meningkatkan gairah dan semangat
kerja karyawan dan secara tidak langsung akan meningkatkan efektivitas
kinerja karyawan.
2. Kondisi lingkungan kerja non fisik yang meliputi :
a. Faktor lingkungan sosial
Lingkungan sosial yang sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan
adalah latar belakang keluarga, yaitu antara lain status keluarga, jumlah
keluarga, tingkat kesejahteraan dan lain-lain.
b. Faktor status sosial
Semakin tinggi jabatan seseorang semakin tinggi pula kewenangan dan
keleluasan dalam mengambil keputusan.
c. Faktor hubungan kerja dalam perusahaan
Hubungan kerja yang ada dalam perusahaan adalah hubungan kerja antara
karyawan dengan karyawan dan antara karyawan dengan atasan.
d. Faktor sistem informasi
Hubungan kerja akan dapat berjalan dengan baik apabila ada komunikasi
yang baik diantara anggota perusahaan. Dengan adanya komunikasi di
lingkungan perusahaan maka anggota perusahaan maka anggota
perusahaan akan beriteraksi, saling memahami, saling mengerti satu sama
lain dapat mehilangkan perselisihan salah paham.
3. Kondisi psikologis dari lingkungan kerja yang meliputi :
a. Rasa Bosan
Kebosanan kerja dapat disebabkan perasaan yang tidak enak, kurang
bahagia, kurang istirahat dan perasaan lelah.
b. Keletihan Dalam Bekerja
Keletihan kerja terdiri atas dua macam yaitu keletihan kerja psikis dan
keletihan psikologis yang dapat menyebabkan meningkatkan absensi,
turn over dan kecelakaan

Pengertian lingkungan Kerja

Dalam melakukan aktivitas perusahaan, lingkungan kerja merupakan
segala kondisi yang berada disekitar para pekerja, sehingga baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat mempengaruhi dirinya dalam melaksanakan tugas
yang dibebankan. Lingkungan yang baik dan menyenangkan akan dapat
menimbulkan semangat dan bergairah kerja, dan sebaliknya jika lingkungan kerja
yang tidak menyenangkan akan dapat mengurangi semangat dan bergairah kerja.
Menurut Alex Nitisimito (2006), lingkungan kerja adalah segala yang ada
disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas
yang dibebankan. Lussier (Dalam Hadari Nawawi : 2003) mengartikan bahwa
lingkungan kerja adalah kualitas internal operganisasi yang relatif berlangsung
terus menerus yang dirasakan oleh anggotanya.
Lingkungan kerja adalah semua aspek fisik kerja, psikologis kerja dan
peraturan kerja yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja dan tercapai
produktivitas (Anwar P. Mangkunegara : 2005).

Hubungan keamanan dengan adopsi internet banking (skripsi, tesis, dan disertasi)

Keamanan digunakan dalam mengukur persepsi nasabah tentang keselamatan dan rasa aman serta internet bankingyang dapat diandalkan. Penyedia layanan internetbankingdalam hal ini menjamin bahwa resiko yang ditimbulkan akan lebih kecil jika menggunakan internet bankingdari pada datang langsung ke bank untuk melakukan transaksi. Keamanan dapat mempengaruhi nasabah menggunakan internet banking. Dengan menggunakan layanan internet bankingakan memperkecil resiko yang akan ditimbulkan dibandingkan datang langsung ke bank.

 Jaminan keaamanan berkaitan dengan sejauh mana situs web internet banking dapat menjamin keselamatan pelanggan mengenai keuangan dan informasi pribadi pelanggan (Kimery dan Mc Cord, 2002 dalam Ala Eddin dan Hassan, 2001:52). Internet bankingmerupakan terjaminnya data beserta dana yang dimiliki nasabah dari resiko kehilangan ataupun pencurian ketika melakukan transaksi melaui internet banking

Hubungan kemudahan penggunaan dengan adopsi internet banking (skripsi, tesis, dan disertasi)

Perspektif kemudahan penggunaan memberikan indikasi bahwa suatu sistem dirancang bukan untuk mempersulit pemakainya, namun dapat mempermudah seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan apabiladihubungkan dengan penggunaan internet banking, layanan internet bankingsudah disediakan dengan segala kemudahannya agar dapat dipahami dan digunakan dengan mudah, sehingga nasabah akan lebih mudah dalam melakukan transaksi menggunakan internet banking. Penggunaan merupakan kepercayaan seseorang bahwa teknologi mudah untuk digunakan, nasabah yang menggunakan sistem akan lebih mudah dalam melakukan transaksi dibandingkan dengan nasabah yang tidak menggunakan sistem atau masih secara manual.Studi yang dilakukan oleh Chen et all., 2002; Heijden et all., 2003,Guriting,. 2006 (dalam Fatima et all, 2014:482) menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan adalah adalah atribut utama dari aplikasi e-bisnis seperti internet bankin. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Fatima menemukan bahwa kemudahan penggunaanberpengaruh positif terhadap adopsi internet banking.

Hubungan kepercayaan dengan adopsi internet banking(skripsi, tesis, dan disertasi)

Menurut Fatima et.all., (2014:483) menjelaskan bahwa keamanan yaitu sejauh mana seseorang percaya bahwa orang lain akan memenuhi harapan dan tidak mengambil keuntungan yang tidak semestinya. Menurut Mahardika dan Basuki, 2012 dalam (Setyo et all., 2015:445) mendefinisikan dimenssi kepercayaan dibagi menjadi 4 antara lain adalah keadaan psikologis yang mengarah pada kepercayaan dalam melakukan traansaksi perbankan dengan internet, menjaga kepentingan transaksi nasabah menjaga komitmen dalam melayani nasabah dan memperikan manfaat pada penggunanya sehingga kepercayaan harus dijaga dan dipertahankan.Dalam penelitian sebelumnya yaitu Husseindan Abdelhalim(2016:97) kepercayaan itu akan meningkat jikanasabahmerasa memiliki tingkat kontrol yang tinggi terhadap transaksi perbankan, selain itu pemeliharaan laba masa depan dan kepercayaan konsumen dapat dicapai melalui membangun

 hubungan yang baik dengan pelanggandan dapat dikatakan kepercayaan menmpengaruhi adopsi internet banking.Dalam penelitian yang dilakukan Hussein dan Abdelhalim (2016:101) menjelaskan bahwa kepercayaan memiliki hubungan positif signifikan terhadap adopsi internet banking

Adopsi internet banking (skripsi, tesis, dan disertasi)

Menurut Tatik Suryani (2013:241) pandangan tradisional tentang proses adopsi internet bankingmempunyai tahapan (awareness,internet evaluation,trial, adoption) yang dapat dijelaskan sebagai berikut :1.Tahap awareness yaitu dalam tahap ini konsumen mengetahui terdapat ide ide yang baru namun informasi yang didapat sangat terbatas.2.Tahap interest yaitu dalam tahap ini konsumen mulai berminat terhadap inovasi serta mulai mencari informasi lebih banyak.3.Tahap evaluation yaitu dalam tahap ini konsumen menilai produk baru berdasarkan informasi yang didapatkan serta mencoba menghubungkan dengan kondisinya (kebutuhan dan harapannya) sebelum memutuskan untuk mencobanya.4.Tahap trial (percobaan) yaitu dalam tahap ini konsumen menggunakan ataupun mencoba inovasi produk baru guna memastikan ide-ide yang ada dalam skala kecil untuk menentukan kegunaan apa yang susuai dengan dirinya.5.Tahap Adoption (penerimaan) yaitu dalam tahap ini berdasarkan evaluasinya, konsumen selama mencoba produk serta merasakan hasilnya akan memutuskan menggunakan produk apabila tertanya produk baru dinilai sesuai dengan kegunaan dan harapan konsumen.Dalam penelitian Indikator dari adopsi adalah sebagai berikut

 a.Menggunakan internet bankingsecara teratur : keputusan untuk selalu menggunakan internet bankinguntuk transaksi transfer, cek saldo dan untuk mendapatkan informasi. b.Menggunakan internet bankinguntuk masa depan : keputusanuntuk menggunakan internet bankingsecara terus menerus bahkan sampai di masa depan.c.Berniat untuk meningkatkan penggunan internet banking: niat untuk memutuskan akan meningkatkan penggunaan internet banking dalam bertransaksi maupun untuk mengakses berbagai informasi perbankan

Resiko (skripsi, tesis, dan disertasi)

Konsep risiko diatur sekitar gagasan bahwa perilaku konsumen melibatkan resiko dalam arti bahwa setiap tindakan konsumen akan menghasilkan konsekuens bahwa nasabah tidak bisa mengantisipasi sesuatu yang mendekaati kepastian (Bauer, 1967 dalam Michael et al, 2012:36). Risiko yang dirasakan sangat kuat dalam menjelaskan sebuah perilaku konsumen, konsumen lebih sering termotivasi untuk menghindari kesalahan dari pada untuk memaksimalkan utilitas dalam pembelian (Mitchell, 1999 dalam Michael et al2012:36). Ketidakpastian yang terkait dengan keputusan menggunakan at

Kepercayaan (skripsi, tesis, dan disertasi)

Kepercayaan nasabah didefinisikan sebagai keadaan psikologis yang mengarah pada kepercayaan dalam melakukan transaksi perbankan melalui internet, menjaga kepentingan transaksi nasabah, menjaga komitmen dalam melayani nasabah, serta memberikan manfaat pada penggunaannya (Mahardika, 2011dalam Setyoet all, 2015 : 455) Kepercayaan pelanggan mengacu pada antusiasme untuk menjadi rentan terhadap layanan berdasarkan harapan positif. Orientasi ini bergantung pada pertukaran informasi dan jasa dengan mitra yang memiliki kepercayaan (Rochanakitumnuai 2003 dalam Hussein 2016:97). Kepercayaan itu akan meningkat apabila nasabahmerasa bahwa memiliki tingkat kontrol yang tinggi terhadap transaksi perbankan (Roy et al, 2001dalam Hussein 2016:97). Ibbotson 2003 dalam Hussein, (2016 : 97) melaporkan bahwa pemeliharaan laba masa depan dan kepercayaan konsumen dapat dicapai melalui membangun hubungan yang baik dengan pelanggan.ShumailaYousafzai et all (2009:594)dalam penelitiannya menyatakan bahwa pelanggan harus percaya bahwa bank memiliki kemampuan dan motivasi,yaitu kepercayaanuntuk memberikan layanan perbankan online.

 Indikator dari kepecayaan antara lain yaitu 1.Kepercayaan terhadap internet banking : keyakinan bahwa internet banking merupakan suatu teknologi di bidang perbanakan yang dapat memudahkan dalam melakukan transaksiperbankan2.Kepercayaan terhadap penyedia internet banking : keyakinan bahwa bank penyelenggara internet banking akan bertanggung jawab apabila terjadi masalah3.Kepercayaan terhadap internet untuk transaksi perbankan : keyakinan bahwa internet dapat membantumengakses fitur fitur internet banking

Perkembangan Remaja (skripsi,tesis,disertasi)

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak ke dewasa, banyak
perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja tersebut. Perubahan yang terjadi
yaitu perubahan secara fisik yang merupakan gejala primer dari pertumbuhan
remaja. Sedangkan perubahan psikologis muncul akibat dari perubahanperubahan fisik remaja tersebut (Sarwono, 2013).
Perubahan biologis adalah percepatan pertumbuhan, perubahan
hormonal, dan kematangan seksual yang datang dengan pubertas (Santrock,
2011). Perubahan fisik yang sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan
jiwa remaja adalah pertumbuhan tinggi badan yang semakin tinggi, berfungsinya
alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada
laki-laki), dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh. Perubahan fisik
tersebut dapat meyebabkan kecanggungan bagi remaja karena ia harus
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya,
sehingga dapat berpengaruh pada perubahan psikologi remaja tersebut
(Sarwono, 2013).

Perkembangan atau perubahan kognitif yang terjadi selama masa transisi
dari masa kanak-kanak ke masa remaja adalah peningkatan dalam berpikir
abstrak, idealis, dan logis. Ketika mereka melakukan transisi tersebut, remaja
mulai berpikir secara lebih egosentris, sering merasa bahwa mereka berada di
panggung, unik, dan tidak terkalahkan. Dalam menanggapi perubahan tersebut,
orang tua memberikan lebih banyak tanggung jawab untuk pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh para remaja (Santrock, 2011).
Peubahan sosio-emosional yang dialami remaja adalah pencarianbukaan
diri. Ketika untuk kebebasan, konflik dengan orang tua, dan keinginan untuk
menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sebaya. Percakapan dengan
teman-teman menjadi lebih intim dan memasukkan lebih banyak keterbukaan
diri. Ketika anak-anak memasuki masa remaja mereka akan mengalami
kematangan seksual sehingga mereka akan mengalami ketertarikan yang lebih
besar dalam hubungan dengan lawan jenis. Remaja akan mengalami perubahan
mood yang lebih besar daripada masa kanak-kanak (Santrock, 2011).

Pengertian Motivasi Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Setiap organisasi tentu ingin mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, peranan manusia yang terlibat didalamnya sangat penting. Untuk menggerakkan manusia agar sesuai dengan yang dikehendaki organisasi, maka harus dipahami motivasi manusia yang bekerja di dalam organisasi tersebut, karena motivasi inilah yang menentukan perilaku orang-orang untuk bekerja. Motivasi merupakan faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan seseorang.Hartatik (2018:160),“motivasi merupakan hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia supaya mau bekerja giat serta antusias mencapai hasil yang optimal”.

 Soroso dalam Fahmi (2018:107)mengatakan bahwa “motivasi adalah suatu set atau kumpulan perilaku yang memberikan landasan bagi seseorang untuk bertindak dalam suatu cara yang diarahkan kepada tujuan spesifik tertentu (specific goal directed way)”.

Hubungan Disiplin Kerja dengan Kinerja(skripsi, tesis, dan disertasi)

Dalam disiplin kerja dituntut adanya kesanggupan untuk mengikuti aturan hukum dan tata tertib sehingga sadar akan melaksanakan dan menaati peraturan tersebut. Disiplin kerja mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang telah diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja dan semangat kerja yang mendukung terwujudnya tujuan organisasi.

 Riva’i dalam Hartatik (2018:183) menyebutkan bahwa “disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan manajer untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan serta norma-norma sosial yang berlaku”.Pentingnya disiplin kerja dalam perusahaan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Disiplin yang baik dari karyawanakan menunjukkan bahwa suatu organisasi dapat memelihara dan menjaga loyalitas maupun kualitas karyawannya. Selain itu, dengan mengetahui disiplin kerja karyawanmaka nilai kinerja dari setiap karyawanpun akan diketahui. Hal tersebut karena disiplin kerja dan kinerja karyawanmemiliki hubungan yang sangat erat. Karyawanyang berdisiplin diri dalam bekerja maka ia akan bekerja secara optimal, tekun, dan mengerjakan sesuatu pekerjaan secara terarah dan sebaliknya karyawanyang memiliki disiplin kerja yang rendah maka ia akan bermalas-malasan dan cendrung akan menunda-nunda pekerjaan. Salah satu faktor yang memengaruhikinerja karyawanadalah disiplin kerja. Disiplin kerja merupakan salah satu tolok ukur dari penilaian hasil kinerja karyawan. Setiap karyawanyang mampu menunjukkan sikap disiplin dalam bekerja cendrung memiliki ketelitian dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan atau tugas-tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya secara personal. Semakin memiliki kesadaran akan tugas dan tanggung jawab ini akan menimbulkan disiplin kerja yang tinggi. Karyawanyang mampu mengatasi segala permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaan cendrung lebih mampu menyelesaikan tugas tepat pada waktunya

Indikator Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Kedisiplinan menjadi kunci terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Dengan disiplin yang baik berarti karyawansadar dan bersedia mengerjakan semua tugasnya yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik. Tujuan utama disiplin adalah untuk meningkatkan efisiensi semaksimal mungkin dengan cara mencegah kerusakan atau kehilangan peralatan dan perlengkapan kerja yang disebabkan oleh tidak adanya sikap kehati-hatian.

 Disiplin berusaha mencegah keterlambatan dan kemalasan kerja karyawanserta berusaha untuk mengatasi perbedaan pendapat antarkaryawandan mencegah ketidaktaatan yang disebabkan oleh salah pengertian dan salahpenafsiran. Disiplin berusaha untuk melindungi perilaku yang baik dengan menetapkan peraturan dan ketentuan yang telah disepakati demi terwujudnya tujuan organisasi. Karyawanyang tunduk pada ketetapan dan peraturan perusahaan menggambarkan adanya kondisidisiplin yang baik dan sebaliknya karyawanyang sering melanggar atau mengabaikan perusahaan maka karyawantersebut mempunyai disiplin kerja yang buruk.Menurut Fathoni dalam Hartatik (2018:200), terdapat indikator yang memengaruhitingkat kedisiplinan karyawansuatu organiasi, sebagai berikut :1.“Tujuan dan kemampuan2.Keteladanan pimpinan3.Keadilan4.Pengawasan melekat5.Sanksi hukuman6.Ketegasan7.Hubungan kemanusian”

Faktor –Faktor yang memengaruhi Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Pada umumnya bahwa pemimpin mempunyai pengaruh langsung atas sikap kebiasaan yang diperoleh karyawan. Kebiasaan itu ditentukan oleh pemimpin, baik dengan iklim atau suasana kepemimpinan maupun melalui contoh diri pribadi. Untuk mendapat disiplin yang baik,maka pemimpin harus memberikan kepemimpinan yang baik pula.Helmi dalam Hartatik (2018:197) merumuskan faktor-faktor yang memengaruhidisiplin kerja menjadi dua, yaitu :a.“Faktor KepribadianFaktor yang penting dalam kepribadian seseorang adalah sistem nilai yang dianut berkaitan langsung dengan disiplin. Sistem nilai akan terlihat dari sikap seseorang, dimana sikap ini diharapkan akan tercermin dalam perilaku seperti disiplin karena kepatuhan, disiplin karena identifikasi, dan disiplin karena internalisasi.b.Faktor LingkunganSikap disiplin dalam diri seseorang merupakan produk interaksinya dengan lingkungan, terutama lingkungan sosial. Oleh karena itu, pembentukan disiplin tunduk pada kaidah-kaidah proses belajar. Pemimpin yang merupakan agen pengubah perlu memperhatikan prinsip-prinsio konsisten, adil, bersikap positif, dan terbuka”.Menurut Singodimedjo dalam Sutrisno (2019:89) mengemukakan beberapa faktor-faktor yang memengaruhidisiplin karyawanadalah:1.“Besar kecilnya pemberian kompensasi2.Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan3.Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan4.Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan5.Ada tidaknya pengawasan pimpinan6.Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan7.Diciptakan kebiasaan -kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin”.

Jenis-Jenis Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Disiplin merupakan suatu kegiatan manajemen untuk menjalankan standar dan prosedur organisasi. Kedisiplinan merupakan fungsi operatif manajemen sumber daya manusia yang terpenting karena semakin baik disiplin kerja karyawanmaka semakin tinggi prestasi kerja yang dicapai. Kurangnya kedisiplinan karyawanakan membuat perusahaan sulit mencapai hasil kerja yang optimal.Sutrisno (2019:86) menyebutkan beberapa bentuk disiplin yang baik yang tercermin pada suasana, sebagai berikut :

 a.“Tingginya rasa kepedulian karyawan terhadap pencapaian tujuan perusahaan.b.Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif para karyawan dalam melakukan pekerjaan.c.Besarnya rasa tanggung jawab para karyawan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.d.Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi di kalangan karyawan.e.Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja para karyawan”

Pengertian Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Disiplin kerja sangatlah penting bagi suatu perusahaan atau instansi pemerintah dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan. Tanpa adanya disiplin kerja yang baik sulit bagi suatu perusahaan untuk mencapai hasil yang optimal. Disiplin yang baik mencerminkan besarnya tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Kedisiplinan merupakanfungsi sumber daya manusia yang keenam dari fungsi operatif manajemen sumber daya manusia yang terpenting karena semakin banyak disiplin karyawan, semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin kerja karyawanyang baik, sulit bagi perusahaan mencapai hasil kerja yang optimal. Hasibuan (2019:193), “kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku”.Latainer dalam Sutrisno (2019:87) mengartikan “disiplin sebagai suatu kekuatan yang berkembang di dalam tubuh karyawan dan menyebabkan karyawan dapat menyesuaikan diri dengan sukarela pada keputusan, peraturan, dan nilai-nilai yang tinggi dari pekerjaan dan perilaku”.Salah satu upaya untuk mengatasi penyebab tindakan indispliner yang bertujuan untuk pertumbuhan organisasi yaitu memotivasi karyawanagar dapat mendisiplinkan diri dalam melaksanakan pekerjaan baik secara perorangan maupun kelompok. Adanya disiplin kerja sangat bermanfaat dalam mendidik karyawanuntuk mematuhi peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku pada perusahaan tersebut sehingga akan menghasilkan kinerja yang optimal

Penilaian Kinerja Institusi Pemerintahan (skripsi, tesis, dan disertasi)

Salah satu yang menjadi sasaran dalam penerapan reformasi birokrasi adalah mewujudkan instansi yang akuntabel. Instansi pemerintah diwajibkan melakukan pengelolaan kinerja yang dimulai dari perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, sampai evaluasi kinerja (Permenpan Nomor 11 Tahun 2011). Hal ini dilakukan agar instansi pemerintah terukur capaian kinerjanya sehingga dapat diketahui efektivitas dari pencapaian visi, misi, tugas dan fungsi pokok instansi pemerintah tersebut. Kinerja di dalam Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) merupakan rangkaian sistematik dari berbagai aktivitas, alat dan prosedur yang dirancang untuk tujuan penetapan, pengukuran, pengumpulan data, pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada instansi pemerintah, dalam rangka pertanggungjawaban dan peningkatan kinerja instansi pemerintah. Keberhasilan suatu program yang dijalankan, diukur berdasarkan indikator kinerja yang merupakan ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari kinerja program dan kegiatan yang telahdirencanakan (Perpres Nomor 29 tahun 2014). Indikator kinerja terbagi atas tiga hal, yaitu:1)Indikator Kinerja Program (IKP) yang merupakan ukuran atas hasil (outcome)dari suatu program yang merupakan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi suatu kementerian/lembaga dan pemerintah daerah yang dilaksanakan oleh satuan kerja/SKPD.2)Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) adalah ukuran atas keluaran (output) dari suatu kegiatan yang terkait secara logis dengan Indikator Kinerja Program (IKP).3)Indikator Kinerja Utama (IKU) merupakan ukuran keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan merupakan ikhtisar hasil berbagai program dan kegiatan sebagai penjabaran tugas dan fungsi organisasi.

Kinerja Organisasi (skripsi, tesis, dan disertasi)

Mulyadi (2007) menyatakan bahwa kinerja merupakan keberhasilan yang dicapai personel, tim atau unit organisasi dalam mewujudkan sasaran strategik yang telah ditetapkan sebelumnya dengan perilaku yang diharapkan.Bastian (2006:274) berpendapat bahwa kinerja adalah gambaran pencapaian atas pelaksanaan dari suatu kegiatan/kebijakan/ program dalam rangka mewujudkan visi, misi, tujuan organisasi, dimana apa yang ingin dicapai tertuang dalam perumusan perencanaan strategik (strategic planning) organisasi. Kinerja dapat juga diartikan sebagai prestasi yang dicapai oleh organisasi dalam suatu periode tertentu. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2004 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) menyatakan bahwa kinerja merupakan keluaran/hasil dari kegiatan/programyang telah atau hendak dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kualitas dan kuantitas yang terukur. Berdasarkan beberapa pengertianmengenai kinerja, terdapat dua hal pokok yang terkandung dalam pengertian kinerja, yaitu: (1) hasil akhir dari keseluruhan kegiatan yang dilakukan organisasi yang disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang telah ditetapkan, dan (2) kinerja mencerminkan prestasi yang dicapai oleh organisasi. Brewer dan Selden (2000) menyebutkan adanya kesulitan dalam memperoleh data historis yang objektif untuk dapat digunakan sebagai dasar evaluasi kinerja. Oleh karena itu, pengukuran kinerja organisasi dapat menggunakan metode alternatif yaitu secara subjektif atau perseptif, yakni persepsi dari anggota organisasi. Kinerja organisasi sektor publik dapat dibedakan ke dalam dua dimensi yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal (Kim, 2005). Setiap dimensi tersebut dispesifikkan mengikuti nilai-nilai yang terkait dengan kinerja, yaitu efisiensi, efektivitas dan kewajaran. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja organisasional, diantara faktor personal (seperti motivasi, komitmen dan kepuasan), leadership(kepemimpinan), kualitas dan dukungan yang diberikan oleh kelompok (rekan kerja), sistem kerja dan fasilitas serta faktor-faktor kontekstual (situasional)

Teori Dua Faktor (Two Factor Theory) (skripsi, tesis, dan disertasi)

HerzbergTeori pendukung yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang kepuasankerja atau sering dikenal dengan sebutan Two Factor Theory(teori dua faktor) yang dikemukakan oleh Herzbergtahun 1996. Situasi yang memengaruhi sikap puas atau tidaknya seseorang terhadap pekerjaan terbagi dalam dua kelompok(Mangkunegara, 2015:121-122), yaitu:a)Kepuasan intrinsik atau satisfies merupakan faktor-faktor atau situasi yang dipandang sebagai sumber kepuasan kerja, yakni: pekerjaan itu sendiri (work it self),adanya kesempatan untuk berprestasi (achievement), adanya tanggung jawab (responsibility), dan pengembangan potensi individu yang didukung oleh pengakuan (recognition)serta promosi. Jika seorang individu memenuhi faktor-faktor tersebut, rasa kepuasan terhadap pekerjaannya akan terpenuhi. b)Kepuasan ekstrinsik atau dissatisfies (hygiene factors)merupakan faktor-faktor atau situasi yang dipandang sebagai sumber ketidakpuasan, yakni gaji/upah, pengawasan pimpinan, tatakelola dan kebijakan organisasi, hubungan antarpribadi, kondisi dan keamanan kerja serta status/kedudukan

Teori Agensi (skripsi, tesis, dan disertasi)

Teori keagenan pada dasarnya merupakan teori yang muncul karena adanya konflik kepentingan antara prinsipal dan agen. Teori ini mengasumsikan bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflikkepentingan antara prinsipal dan agen. Prinsipal mengontrak agen untuk melakukan pengelolaan sumber daya dalam perusahaan dan berkewajiban untuk memberikan imbalan kepada agen sedangkan agen berkewajiban melakukan pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dan bertanggungjawab atas tugas yang dibebankan kepadanya (Jensen dan Meckling, 1976:29). Teori keagenan dilandasi oleh 3 (tiga) asumsi yaitu (a) asumsi tentang sifat manusia; (b) asumsi tentang keorganisasian dan (c) asumsi tentang informasi. Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat mementingkan diri sendiri (self interest) memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded rationality) dan tidak menyukai resiko (risk aversion). Asumsi keorganisasian menekankan adanya konflik antar anggota organisasi, efisiensi sebagai kriteria produktivitas. Asimetri informasi (asimmetric information)merupakan informasi yang tidak seimbang karena perbedaan distribusi informasi antara prinsipal dan agen (Jensen dan Meckling, 1976:38-41). Teori keagenan akan terjadi pada berbagai organisasi termasuk dalam organisasi pemerintahan dan berfokus pada persoalan ketimpangan/asimetri informasi antara pengelola (agen/pemerintah) dan publik (diwakili prinsipal/dewanperwakilan rakyat). Prinsipal harus memonitor kerja agen, agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien serta tercapainya akuntabilitas publik (Mustikawati, 2004). Akuntabilitas publik sebagai kewajiban pihak pemegang amanah (agen) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkansegala aktivitas dankegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (prinsipal) yang memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban tersebut. Teori Keagenan ini diimplementasikan di dalam sektor publik melalui penetapan kinerja yang disusun di dalam kontrak kinerja yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai prinsipal dan melakukan monitoring atas pencapaian kinerja Pemerintah. Pemerintah dalam hal ini sebagai agen, akan berusaha mencapai target yang telah ditetapkan oleh prinsipal, maka diperlukan sebuah sistem pengendalian internuntuk memastikan seluruh elemen
 di dalam organisasi pemerintahan tersebut melakukan tugasnya sesuai dengan aturan, prosedur dan kode etik yang ada, yang kemudian dikenal dengan Sistem Pengendalian InternPemerintah (SPIP)

Teori Goal Setting (skripsi, tesis, dan disertasi)

Goal Setting Theory yang dikemukakan oleh Locke, 1978 menjelaskan hubungan antara tujuan yang ditetapkan dengan prestasi kerja (kinerja). Konsep dasar teori ini adalah seseorang yang memahami tujuan (apa yang diharapkan organisasi kepadanya) akan mempengaruhi perilaku kerjanya. Goal-Setting Theorymengisyaratkan bahwa seorang individu berkomitmen pada tujuan (Mangkunegara, 2014: 73). Jika seorang individu memiliki komitmen untuk mencapai tujuannya, maka komitmen tersebut akan mempengaruhi tindakannya dan mempengaruhi konsekuensi kinerjanya. Salah satu hal penting yang dapat menentukan kinerja, baik kinerja individu yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerja organisasi adalah kompetensi yang dimiliki individu di dalam organisasi (Mangkunegara, 2015:67). Seorang individu yang berkomitmen untuk memberikan kinerja yang terbaik pada organisasi akan berusaha meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja(kompetensi) yang dimilikinya. Hal tersebut sebagai konsekuensi yang harus dicapai, bila seorang individu tersebut ingin meraih hasil kinerja yang optimal. TeoriGoal Settingini juga menyatakan bahwa perilaku individu diatur oleh ide (pemikiran) dan niat seseorang. Sasaran dapat dipandang sebagai tujuan/tingkat kinerja yang ingin dicapai oleh individu.Penetapan tujuan yang menantang (sulit) namundapat diukur hasilnya akan dapat meningkatkan prestasi kerja (kinerja). Capaian atas sasaran (tujuan) mempunyai pengaruh terhadap perilaku pegawai dan kinerja dalam organisasi. Berdasarkan pendekatan goal setting theoryini, kinerja organisasi yang maksimal merupakan tujuan yang ingin dicapai, sedangkan kompetensi pegawai dan kepuasan kerja merupakanfaktor penentu. Semakin tinggi faktor penentu tersebut, maka akan semakin tinggi pula kemungkinan pencapaian tujuannya

Teori Sikap dan Perilaku(Theory of Attitude and Behavior) (skripsi, tesis, dan disertasi)

Teori sikap dan perilaku (theory of attitude and behavior) yang dikembangkan oleh Triandis di tahun 1971menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh untuk apa sesuatuhal dilakukan (sikap), pedoman atas suatu halyang dilakukan (aturan-aturan sosial), dan apa yang biasa dilakukan(kebiasaan) yang menentukan terbentuknya suatu perilaku. Sikap terdiri dari komponen kognitif yang berkaitan dengan keyakinan, dan komponen afektif yang berkaitan dengan konotasi suka atau tidak suka, sertakomponen perilaku yakni bagaimana seseorang ingin berperilaku terhadap sikap. Gibson, dkk di tahun 1982 sebagaimana yang dikemukakan oleh Mangkunegara (2008:16) menyebutkan bahwa sikap seseorang didorong oleh faktor-faktor stimulus, seperti gaji, tunjangan, gaya manajer, rangsangan pekerjaan, teknologi dan kebijakan perusahaan. Faktor-faktor stimulus tersebut menentukan apakah suatu perasaan positif yang menimbulkan kesukaan atau malahan perasaan negatif yang menimbulkan ketidaksukaan terhadap suatu pekerjaan. Perasaan positif dan negatif tersebut pada akhirnya yang menentukan kepuasan atau ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaannya, yang pada akhirnya menentukan perilaku seseorang di dalam organisasi. Mangkunegara (2015:117-119) menyebutkan kepuasan kerja seseorang memiliki dampak terhadap organisasi antara lain yaitu tingkat turn over, tingkat kehadiran pegawai, tingkat kesehatan pegawai, tingkat efektivitas penyelesaian pekerjaan, pengembangan ide dan inovasi, tingkat kesalahan, sampai rasa kebanggaan terhadap organisasi/perusahaan yang diwujudkan dalam komitmen dan loyal terhadap organisasi/perusahaan.

 Aturan-aturan sosial yang merupakan pedoman atas suatu halyang dilakukan seorang individu di dalam organisasi, ditentukan oleh nilai-nilai yang dianut oleh suatu organisasi yang pada akhirnya menjadi kebiasaan yang merupakan embrio dari suatu budaya yang dimiliki oleh organisasi. Susanto (1997:21), budaya organisasi merupakan nilai-nilaiyang menjadi pedoman sumber daya manusia di dalam organisasi untuk menghadapi permasalahan eksternal dan dan berusaha untuk melakukan penyesuaian integrasi ke dalam tubuh organisasi. Masing-masing individu di dalam organisasi harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku dan berperilaku di dalam organisasi. Nilai-nilai organsasi menjadi petunjuk (guidance) dan pedoman bagi individu di dalam organisasi dalam berperilaku serta berinteraksi dengan individu lainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Nilai-nilai organisasi menjadi hal yang penting dan ditanamkan secara kokoh dan kuat serta harus diterima secara luas di semua kalangan dalam organisasi. Semakin tinggi penerimaan anggota organisasi terhadap nilai-nilai pokok organisasi, maka kesetiaan, dan kinerja seseorang kepada organisasi semakin besar yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerja organisasi (Yuliana, 2014).

Indikator Kinerja Karyawan (skripsi, tesis, dan disertasi)

Dikembangkan oleh J. Richard Hackman dan Gred Oldman, model karakteristik pekerjaan (job characteristic model) mengatakan bahwa kita dapat menggambarkan suatu pekerjaan dalam bentuk lima dimensi utama pekerjaan yaitu (Robbins dan Judge, 2015:155-156) :1.Keahlian yang bervariasi adalah kondisi yang mana suatu pekerjaan memerlukan aktivitas berbeda yang bervariasi sehingga pekerja dapat menggunakan keahlian danbakat;2.Identitas tugas adalah keadaan di mana suatu pekerjaan memerlukan penyelesaian secara keseluruhan dan dapat mengindentifikasikan hasilkerja;3.Signifikansi tugas adalah di mana suatu pekerjaan memengaruhi kehidupan atau pekerjaan oranglain;4.Kemandirian adalah keadaan di mana suatu pekerjaan memberikan kebebasan yang cukup besar dan keleluasan kepada individu dalam menjadwalkan pekerjaan dan dalam menetapkan prosedur yang akan digunakan untuk melaksanakannya;5.Umpan balik adalah keadaan di mana pelaksanaan aktivitas kerja menghasilkan informasi secara langsung dan jelas tentang kinerja andasendiri.Menurut Dessler (2014 : 324-325) Inti dari manajemen kinerja adalah pemikiran bahwa upaya karyawan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada dua aspek yang terkait dalam hal ini. Pertama, manajer harus menilai karyawan bedasarkan bagaimana orang tersebut melakukan tugas-tugasnya sesuai dengan pencapaian standar tertentu yang di inginkan oleh karyawan. Kedua, tujuan dan standar kinerja harus sesuai dengan tujuan strategis organisasi.Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan, dan faktor tersebut berupa faktor internal dan eksternal. Menurut Sastrohadiwiryo (2012:230) mengatakan bahwa “pada umumnya bahwa prestasi kerja seseorang antara lain dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan, pengalaman dan kesungguhan karyawan yang bersangkutan”.Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan yaitu sebagai berikut (Mathis dan Jackson, 2012:13) :1)Kemampuanindividual untuk melakukan pekerjaan tersebut, seperti bakat, minat dan faktorkepribadian;2)Tingkat usaha yang dicurahkan, seperti etika kerja, kehadiran, motivasi dan rancangantugas;3)Dukungan organisasi, seperti pendidikan dan pelatihan, pengembangan, peralatan dan teknologi, standar kerja, manajemen, dan rekankerja.

Pengertian Kinerja Karyawan (skripsi, tesis, dan disertasi)

Pengertian kinerja menurut Rivai, dkk (2015 : 141) adalah hasil atau tingkatan keberhasilan seseorang secara keseluruhan selam periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu serta telah disepakati bersama. Kinerja juga tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan dengan kepuasan kerja dan kompensasi, dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan dan sifat-sifat individu. Dengan itu kinerja ditentukan oleh kemampuan, keinginan dan lingkungan. Oleh karena itu agar mempunyai kinerja yang baik, seseorang harus mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengerjakan dan mengetahui pekerjaannya serta dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuan.Pengertian kinerja adalah sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2017:67). Sementara menurut Soedjono, (2013: 93) kinerja karyawan adalah prestasi kerja yakni perbandingan antara hasil kerja yang secara nyata dengan standar kerja yang ditetapkan dalam melaksanakan tugasnya sebagai karyawan. Selanjutnya Robbins, (2015: 88) mengistilahkan kinerja (performance)dengan prestasikerja yaitu proses melalui mana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan.Menurut Rivai, dkk (2015 : 309) Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan yang dapat dinilai hasil kerja, dan juga merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan dengan peranan dalam pemerintahan.

Indikator motivasi kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

menurut Sedarmayanti (2016:233-239) yaitu antara lain sebagai berikut:1.Gaji (salary).  Bagi pegawai, gaji merupakan faktor penting untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarganya. Gaji selain berfungsi memenuhikebutuhan pokok bagisetiap pegawai juga dimaksudkan untuk menjadi daya dorong bagi pegawai agar dapat bekerja dengan penuh semangat. Tidak ada satu organisasi pun yang dapat memberikan kekuatan baru kepada tenaga kerjanya atau meningkatkan produktivitas, jika tidak memiliki system kompensasi yang realitis dan gaji bila digunakan dengan benar akan memotivasi pegawai. Agar pegawai dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik, dalam pemberian kompensasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :a.Dapat memenuhi kebutuhan fisikminimum.b.Ketepatan pembayarangaji.c.Pemberian bonus atau insentif harus menimbulkan semangat dan kegairahankerja.d.Selalu ditinjaukembali.e.Mencapai sasaran yang diinginkan.f.Mengangkat harkatkemanusiaan.g.Berpijak pada peraturan yangberlaku.2.Supervisi.Supervisi yang efektif akan membantu peningkatan produktivitas pekerja melalui penyelenggaraan kerja yang baik, juga pemberian petunjuk-petunjuk yang nyata sesuai standar kerja, dan perlengkapan pembekalan yang memadai serta dukungan-dukungan lainnya. Tanggung jawab utama seorang supervisor adalah mencapai hasil sebaik mungkin dengan mengkoordinasikan

 sistemkerja pada unitkerjanya secara efektif. Supervisor mengkoordinasikan sistem kerjanya itu dalam tiga hal penting yaitu: melakukan dengan memberi petunjuk/pengarahan, memantau proses pelaksanaan pekerjaan, dan menilai hasil dari sistem kerja yang diikuti dengan melakukan umpan balik (feed back).3.Kebijakan danAdministrasi.Keterpaduan antara pimpinan dan bawahan sebagai suatu keutuhan atau totalitas sistem merupakan faktor yang sangat penting untuk menjamin keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui pendekatan manajemen partisipatif, bawahan tidak lagi dipandang sebagai objek, melainkan sebagai subjek. Dengan komunikasi dua arah akan terjadi komunikasi antar pribadi sehingga berbagai kebijakan yang diambil dalam organisasi bukan hanya merupakan keinginan dari pimpinan saja tetapi merupakan kesepakatan dari semua anggota organisasi. Para pendukung manajemen partisipatif selalu menegaskan bahwa manajemen partisipatif mempunyai pengaruh positif terhadap pegawai.4.Hubungankerja.Untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, haruslah didukung oleh suasana kerja atau hubungan kerja yang harmonis yaitu terciptanya hubungan yang akrab, penuh kekeluargaan dan saling mendukung baik hubungan antara sesama pegawai atau antara pegawai dengan atasan. Manusia sebagai makhluk sosial akan selalumembutuhkan hubungan dengan orang lain, baik di tempat kerja maupun di luar lingkungan kerja. Manusia sebagai
 makhluk sosial membutuhkan persahabatan dan mereka tidak akan bahagia bila ditinggalkan sendirian, untuk itu maka mereka akan melakukan hubungan dengan teman-temannya. Kebutuhan social secara teoritis adalah kebutuhan akan cinta, persahabatan, perasaan memiliki dan diterima oleh kelompok, keluarga dan organisasi. Kelompok yang mempunyai tingkat keeratan yang tinggi cenderung menyebabkan para pekerja lebih puas berada dalam kelompok. Kelompok kerja juga dapat memenuhi sistem sebagai sounding board terhadap problem mereka atau sebagai sumber kesenangan atauhiburan.5.Kondisikerja.Kondisi kerja yang nyaman, aman dan tenang serta didukung oleh peralatan yang memadai tentu akan membuat pegawai betah untuk bekerja. Dengan kondisi kerja yang nyaman, pegawai akan merasa aman dan produktif dalam bekerja sehari-hari. Lingkungan fisik dimana individu bekerja mempunyai pengaruh pada jam kerja maupun sikap mereka terhadap pekerjaan itu sendiri. Sebanyak 30% dari kasus absensi para pekerja ternyata disebabkan oleh sakit yang muncul dari kecemasan yang berkembang sebagai reaksi bentuk kondisikerja.6.Pekerjaan itusendiri.Pekerjaan itu sendiri menurut Herzberg merupakan faktor motivasi bagi pegawai untuk berforma tinggi. Pekerjaan atau tugasyangmemberikan perasaan telah mencapai sesuatu, tugas itu cukup menarik, tugas yang memberikan tantangan bagi pegawai, merupakan faktor motivasi, karena keberadaannya sangat menentukan bagi motivasi untuk hasil performace yang
 tinggi. Suatu pekerjaan akan disenangi oleh seseorang bila pekerjaan itu sesuai dengan kemampuannya, sehingga dia merasa bangga untuk melakukannya. Pekerjaan yang tidak disenangi kurang dan menantang, biasanya tidak mampu menjadi daya dorong, bahkan pekerjaan tersebut cenderung menjadi rutinitas yang membosankan dan tidak menjadi kebanggaan. Teknik pemerkayaan pekerjaan dapat dijadikan sebagai sarana motivasi pegawai dengan membuat pekerjaan mereka lebih menarik, dan membuat tempat kerja lebih menantang dan memuaskan untukbekerja.7.Peluang untukmaju.Peluang untuk maju (advance) merupakan pengembangan potensi diri seorang pegawai dalam melakukan pekerjaan. Setiap pegawai tentunya menghendaki adanya kemajuan atau perubahan dalam pekerjaannya yang tidak hanya dalam hal jenis pekerjaan yang berbeda atau bervariasi, tetapi juga posisi yang lebih baik. Setiap pegawai menginginkan adanya promosi ke jenjang yang lebih tinggi, mendapatkan peluang untuk meningkatkan pengalamannya dalam bekerja. Peluang bagi pengembangan potensi diri akan menjadi motivasi yang kuatbagi pegawai untuk bekerja lebih baik. Promosi merupakan kemajuan pegawai ke pekerjaan yang lebihdalam bentuktanggung jawab yang lebih besar, prestise atau status yang lebih, skill yang lebih besar, dan khususnya naiknya tingkat upah atau gaji.8.Pengakuan atau penghargaan(recognition).Setiap manusia mempunyai kebutuhan terhadap rasa ingin dihargai. Pengakuan terhadap prestasi merupakan alat motivasi yang cukup ampuh,
 bahkan bisa melebihi kepuasan yang bersumber dari pemberian kompensasi. Pengakuan merupakan kepuasan yang diperoleh seseorang dari pekerjaan itu sendiri atau dari lingkungan psikologis dan/atau fisik di mana orang tersebut bekerja, yang masuk dalam kompensasi nonfinansial. Seseorang yang memperoleh pengakuan atau penghargaan akan dapat meningkatkan semangat kerjanya. Kebutuhan akan harga diri/penghormatan lebih bersifat individual atau mencirikan pribadi, ingin dirinya dihargai atau dihormati sesuai dengan kapasitasnya (kedudukannya). Sebaliknya setiap pribadi tidak ingin dianggap dirinya lebih rendah dari yang lain. Mungkin secara jabatan lebih rendah tetapi secara manusiawi setiap individu (pria atau wanita) tidak ingin direndahkan. Oleh sebab itu pimpinan yang bijak akan selalu memberikan pengakuan/penghargaan kepada pegawai yang telah menunjukkan prestasi membanggakan sebagai faktor motivasi yang efektif bagi peningkatan prestasi kerja pegawainya.9.Keberhasilan(achievement).Setiap orang tentu menginginkan keberhasilan dalam setiap kegiatan/tugas yang dilaksanakan. Pencapaian prestasi atau keberhasilan (achievement) dalam melakukan suatu pekerjaan akan menggerakkan yang bersangkutan untuk melakukan tugas-tugas berikutnya. Dengan demikian prestasi yang dicapai dalam pekerjaan akan menimbulkan sikap positif, yang selalu ingin melakukan pekerjaan dengan penuh tantangan. Sesorang yang memiliki keinginan berprestasi sebagai suatu kebutuhan dapat mendorongnya untuk mencapai sasaran. Kebutuhan berprestasi biasanya dikaitkan dengan sikap positif dan keberanian mengambil resiko yang diperhitungkan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.10.Tanggungjawab.Tanggung jawab merupakan kewajiban seseorang untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang ditugaskan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan pengarahan yang diterima. Setiap orang yang bekerja pada suatu perusahaan/organisasi ingin dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar apa yang telah diperolehnya. Tanggung jawab bukan saja atas pekerjaan yang baik, tetapi juga tanggung jawab berupa kepercayaan yang diberikan sebagai orang yang mempunyai potensi. Setiap orang ingin diikutsertakan dan ingin diakui sebagai orang yang mempunyai potensi, dan pengakuan ini akanmenimbulkan rasa percaya diri dan siap memikul tanggung jawab yang lebih besar

Indikator Motivasi Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Indikator motivasi kerja menurut Sedarmayanti (2016:233-239) yaitu antara lain sebagai berikut:1.Gaji (salary).

 Bagi pegawai, gaji merupakan faktor penting untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarganya. Gaji selain berfungsi memenuhikebutuhan pokok bagisetiap pegawai juga dimaksudkan untuk menjadi daya dorong bagi pegawai agar dapat bekerja dengan penuh semangat. Tidak ada satu organisasi pun yang dapat memberikan kekuatan baru kepada tenaga kerjanya atau meningkatkan produktivitas, jika tidak memiliki system kompensasi yang realitis dan gaji bila digunakan dengan benar akan memotivasi pegawai. Agar pegawai dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik, dalam pemberian kompensasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :a.Dapat memenuhi kebutuhan fisikminimum.b.Ketepatan pembayarangaji.c.Pemberian bonus atau insentif harus menimbulkan semangat dan kegairahankerja.d.Selalu ditinjaukembali.e.Mencapai sasaran yang diinginkan.f.Mengangkat harkatkemanusiaan.g.Berpijak pada peraturan yangberlaku.2.Supervisi.Supervisi yang efektif akan membantu peningkatan produktivitas pekerja melalui penyelenggaraan kerja yang baik, juga pemberian petunjuk-petunjuk yang nyata sesuai standar kerja, dan perlengkapan pembekalan yang memadai serta dukungan-dukungan lainnya. Tanggung jawab utama seorang supervisor adalah mencapai hasil sebaik mungkin dengan mengkoordinasikan
 sistemkerja pada unitkerjanya secara efektif. Supervisor mengkoordinasikan sistem kerjanya itu dalam tiga hal penting yaitu: melakukan dengan memberi petunjuk/pengarahan, memantau proses pelaksanaan pekerjaan, dan menilai hasil dari sistem kerja yang diikuti dengan melakukan umpan balik (feed back).3.Kebijakan danAdministrasi.Keterpaduan antara pimpinan dan bawahan sebagai suatu keutuhan atau totalitas sistem merupakan faktor yang sangat penting untuk menjamin keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui pendekatan manajemen partisipatif, bawahan tidak lagi dipandang sebagai objek, melainkan sebagai subjek. Dengan komunikasi dua arah akan terjadi komunikasi antar pribadi sehingga berbagai kebijakan yang diambil dalam organisasi bukan hanya merupakan keinginan dari pimpinan saja tetapi merupakan kesepakatan dari semua anggota organisasi. Para pendukung manajemen partisipatif selalu menegaskan bahwa manajemen partisipatif mempunyai pengaruh positif terhadap pegawai.4.Hubungankerja.Untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, haruslah didukung oleh suasana kerja atau hubungan kerja yang harmonis yaitu terciptanya hubungan yang akrab, penuh kekeluargaan dan saling mendukung baik hubungan antara sesama pegawai atau antara pegawai dengan atasan. Manusia sebagai makhluk sosial akan selalumembutuhkan hubungan dengan orang lain, baik di tempat kerja maupun di luar lingkungan kerja. Manusia sebagai
 makhluk sosial membutuhkan persahabatan dan mereka tidak akan bahagia bila ditinggalkan sendirian, untuk itu maka mereka akan melakukan hubungan dengan teman-temannya. Kebutuhan social secara teoritis adalah kebutuhan akan cinta, persahabatan, perasaan memiliki dan diterima oleh kelompok, keluarga dan organisasi. Kelompok yang mempunyai tingkat keeratan yang tinggi cenderung menyebabkan para pekerja lebih puas berada dalam kelompok. Kelompok kerja juga dapat memenuhi sistem sebagai sounding board terhadap problem mereka atau sebagai sumber kesenangan atauhiburan.5.Kondisikerja.Kondisi kerja yang nyaman, aman dan tenang serta didukung oleh peralatan yang memadai tentu akan membuat pegawai betah untuk bekerja. Dengan kondisi kerja yang nyaman, pegawai akan merasa aman dan produktif dalam bekerja sehari-hari. Lingkungan fisik dimana individu bekerja mempunyai pengaruh pada jam kerja maupun sikap mereka terhadap pekerjaan itu sendiri. Sebanyak 30% dari kasus absensi para pekerja ternyata disebabkan oleh sakit yang muncul dari kecemasan yang berkembang sebagai reaksi bentuk kondisikerja.6.Pekerjaan itusendiri.Pekerjaan itu sendiri menurut Herzberg merupakan faktor motivasi bagi pegawai untuk berforma tinggi. Pekerjaan atau tugasyangmemberikan perasaan telah mencapai sesuatu, tugas itu cukup menarik, tugas yang memberikan tantangan bagi pegawai, merupakan faktor motivasi, karena keberadaannya sangat menentukan bagi motivasi untuk hasil performace yang
 tinggi. Suatu pekerjaan akan disenangi oleh seseorang bila pekerjaan itu sesuai dengan kemampuannya, sehingga dia merasa bangga untuk melakukannya. Pekerjaan yang tidak disenangi kurang dan menantang, biasanya tidak mampu menjadi daya dorong, bahkan pekerjaan tersebut cenderung menjadi rutinitas yang membosankan dan tidak menjadi kebanggaan. Teknik pemerkayaan pekerjaan dapat dijadikan sebagai sarana motivasi pegawai dengan membuat pekerjaan mereka lebih menarik, dan membuat tempat kerja lebih menantang dan memuaskan untukbekerja.7.Peluang untukmaju.Peluang untuk maju (advance) merupakan pengembangan potensi diri seorang pegawai dalam melakukan pekerjaan. Setiap pegawai tentunya menghendaki adanya kemajuan atau perubahan dalam pekerjaannya yang tidak hanya dalam hal jenis pekerjaan yang berbeda atau bervariasi, tetapi juga posisi yang lebih baik. Setiap pegawai menginginkan adanya promosi ke jenjang yang lebih tinggi, mendapatkan peluang untuk meningkatkan pengalamannya dalam bekerja. Peluang bagi pengembangan potensi diri akan menjadi motivasi yang kuatbagi pegawai untuk bekerja lebih baik. Promosi merupakan kemajuan pegawai ke pekerjaan yang lebihdalam bentuktanggung jawab yang lebih besar, prestise atau status yang lebih, skill yang lebih besar, dan khususnya naiknya tingkat upah atau gaji.8.Pengakuan atau penghargaan(recognition).Setiap manusia mempunyai kebutuhan terhadap rasa ingin dihargai. Pengakuan terhadap prestasi merupakan alat motivasi yang cukup ampuh,
 bahkan bisa melebihi kepuasan yang bersumber dari pemberian kompensasi. Pengakuan merupakan kepuasan yang diperoleh seseorang dari pekerjaan itu sendiri atau dari lingkungan psikologis dan/atau fisik di mana orang tersebut bekerja, yang masuk dalam kompensasi nonfinansial. Seseorang yang memperoleh pengakuan atau penghargaan akan dapat meningkatkan semangat kerjanya. Kebutuhan akan harga diri/penghormatan lebih bersifat individual atau mencirikan pribadi, ingin dirinya dihargai atau dihormati sesuai dengan kapasitasnya (kedudukannya). Sebaliknya setiap pribadi tidak ingin dianggap dirinya lebih rendah dari yang lain. Mungkin secara jabatan lebih rendah tetapi secara manusiawi setiap individu (pria atau wanita) tidak ingin direndahkan. Oleh sebab itu pimpinan yang bijak akan selalu memberikan pengakuan/penghargaan kepada pegawai yang telah menunjukkan prestasi membanggakan sebagai faktor motivasi yang efektif bagi peningkatan prestasi kerja pegawainya.9.Keberhasilan(achievement).Setiap orang tentu menginginkan keberhasilan dalam setiap kegiatan/tugas yang dilaksanakan. Pencapaian prestasi atau keberhasilan (achievement) dalam melakukan suatu pekerjaan akan menggerakkan yang bersangkutan untuk melakukan tugas-tugas berikutnya. Dengan demikian prestasi yang dicapai dalam pekerjaan akan menimbulkan sikap positif, yang selalu ingin melakukan pekerjaan dengan penuh tantangan. Sesorang yang memiliki keinginan berprestasi sebagai suatu kebutuhan dapat mendorongnya untuk mencapai sasaran. Kebutuhan berprestasi biasanya dikaitkan dengan sikap positif dan keberanian mengambil resiko yang diperhitungkan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.10.Tanggungjawab.Tanggung jawab merupakan kewajiban seseorang untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang ditugaskan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan pengarahan yang diterima. Setiap orang yang bekerja pada suatu perusahaan/organisasi ingin dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar apa yang telah diperolehnya. Tanggung jawab bukan saja atas pekerjaan yang baik, tetapi juga tanggung jawab berupa kepercayaan yang diberikan sebagai orang yang mempunyai potensi. Setiap orang ingin diikutsertakan dan ingin diakui sebagai orang yang mempunyai potensi, dan pengakuan ini akanmenimbulkan rasa percaya diri dan siap memikul tanggung jawab yang lebih besar

Pengertian Motivasi Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Peranan manusia dalam mencapai suatu tujuan sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi. Untuk menggerakkan manusia agar sesuai dengan yang dikehendaki organisasi, maka haruslah dipahami motivasi manusia bekerja pada suatu organisasi, karena motivasi inilah yang menentukan perilaku orang-orang untuk bekerjaatau dengan kata lain perilaku merupakan cerminan yang paling sederhana dari motivasi.Motivasi di dalam dunia kerja adalah sesuatu yang dpat menimbulkan semangat atau dorongan kerja. Motivasi keja merupakan pemberian dorongan. Pemberian dorongan ini dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang atau karyawan agar mereka bersemangat dan dapat mencapai hasil sesuai dengan tuntutan perusahaan. Oleh karena itu manajer harus dituntutpengenalan atau pemahaman akan sifat dan karakteristik karyawannya, suatu kebutuhan yang
dilandasi oleh motif dengan penguasaan manajer terhadap perilaku atau tindakan yang dibatasi oleh motif, maka manajer dapat mempengaruhi bawahannya untuk bertindak sesuai dengan keinginan organisasi.Teori kebutuhan yang dikemukakan oleh David McClelland (1974)dalam Edy Sutrisno (2016 : 128-129), ada tiga jenis komponen dasar yang dapat digunakan untuk memotivasi orang bekerja, yaitu kebutuhan akan :1.Motivasi untuk berprestasi (need for achievement)Merupakan kebutuhan untuk mencapai sukses, yang diukur berdasarkan standar kesempurnaan dalam diri seseorang. Kebutuhan ini, berhubungan erat dengan pekerjaan, dan mengarahkan tingkah laku pada usaha untuk mencapai prestasi tertentu. Kebutuhan ini pada hirarki Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Ciri-ciri individu yang menunjukkan orientasi tinggi antara lainbersedia menerima resiko yang relatif tinggi, keinginan untuk mendapatkan umpan balik tetang hasil kerja mereka, keinginan untuk mendapatkan tanggung jawab pemecahan masalah.2.Motivasi untuk berafiliansi/bersahabat (need for affiliantion)Merupakan kebutuhan akan kehangatan dan songkongan dalam hubungannya dengan orang lain. Kebutuhan ini mengarahkan tingkah laku untuk mengadakan hubungan secara akrab dengan orang lain. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi yang tinggi umumnya berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksi soasial yang tinggi. McClelland mengatakan bahwa kebanyakan orang memiliki kombinasi karakteristik tersebut, akibatnya akan mempengaruhi perilaku karyawan dalam bekerja atau mengelola
organisasi.3.Motivasi untuk berkuasa (need of power)Kebutuhan untk menguasai dan memengaruhi terhadap orang lain. Kebutuhan ini, menyebabkan orang yang bersangkutan tidak atau kuran memedulikan perasaan orang lain. Kebutuhan ini pada hirarki Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. McClelland menyatakan bahwa kebutuhanakan berkuasa sangat berhubgnan dengan kebutuhan untuk mencapai suatu posisi kepemimpinan.Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatukekuatan yang dapat memberikan rangsangan atau dorongan serta semangat kerjakepada pegawai sehingga dapat merubah perilaku pribadi orang tersebut dandigunakan sebagai tujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja agar dapatbekerja sesuai yang diinginkan perusahaan2.1.7Tujuan dan FaktorMotivasiMenurut Hasibuan (2015 : 97-98) tujuan motivasi antara lain:1.Mendorong gairah dan semangat kerjakaryawan.2.Meningkatkan moral dan kepuasan kerjakaryawan.3.Meningkatkan produktivitas kerjakaryawan.4.Mempertahankan loyalitas dan kstabilankaryawan.5.Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan.6.Mengefektifkan pengadaankaryawan.7.Menciptakan suasana dan hubungan kerja yangbaik.8.Meningkatkan kreatifitas dan partisipasi karyawan.
9.Meningkatkan tingkat kesejahteraankaryawan.10.Mempertinggi rasa tanggung jawab terhadaptugasnya.11.Meningkatkan efisiensipenggunaan alat-alat dan bahan baku. Berkaitan tentang faktor-faktor motivasi kerja,berikutdikemukakan beberapa pendapat oleh para ahli di bidang manajemen sumber daya manusia. Saydamdalam Kadarsiman (2013:296)mengemukakan bahwa motivasi sebagai proses psikologi dalam diri seseorang akan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tesebut dapat dibedakan atas faktor intern yang terdapat pada diri karyawan itu sendiri dan faktor ekstern yang berasal dari luar dirikaryawan.

Indikator Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Menurut Hasibuan (2015 : 194-198) Pada dasarnya banyak indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan seorang pegawai diataranya:1.Tujuan dan kemampuanTujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan kepada karyawan harus sesuai dengan kemampuan karyawan bersangkutan, agar dia bekerja sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya.2.Teladan pimpinanTeladan pimpinan sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan karyawan karena pimpinan dijadikan teladan danpanutan oleh para bawahannya.Pimpinan harus memberi contoh yang baik, berdisiplin baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Dengan teladan pimpinan yang baik, kedisiplinan bawahan pun akan baik. Jika teladan pimpinan kurang baik (kurang disiplin) para bawahan pun akan kurang baik.3.Balas jasaBalas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan karyawan karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan karyawan terhadap perusahaan atau pekerjaannya. Jika kecintaan karyawan semakin baik

 terhadap pekerjaan, kedisiplinan mereka akan semakin baik pula.4.KeadilanKeadilan yang dijadikan dasar kebijakan dalam pemberian balas jasa (pengakuan) atau hukuman akan merangsan tercapainya kedisiplinan karyawan yang baik.5.Pengawasan melekatWaskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan. Dengan waskat berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja dan prestasi kerja bawahannya. Hal ini berarti atasan harus selalu ada atau hadir ditempat kerja agar dapat mengawasi dan memberikan petunjuk jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan dalam meyelesaikan pekerjaannya.6.Sanksi hukumanSanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan karyawan. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, karyawan akan semakin takut melanggar perarturan-peraturan perusahaan, sikap dan perilaku indisipliner karyawan akan berkurang.7.KetegasanKetegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan karyawanperusahaan. Pimpinan harus berani dan tegas, bertindak untuk menghukum setiap karyawan yang indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan.
 8.Hubungan kemanusiaanHubungan kemanusiaan yang harus harmonis diantara sesamekaryawanikutmenciptakankedisiplinanyangbaikpadasuatuperusahaan.Hubunganhubunganbaikbersifatverticalmaupunhorizontalyangterdiri dari direct single relationship, direct group relationship, dan cross relationshiphendaknya harmonis

Pengertian Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

MenurutRivai, dkk (2015:255) mengemukakan bahwa Disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua perarturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Disiplin karyawan memerlukan alat komunikasi, terutama pada peringatan yang bersifat spesifik terhadap karyawan yang tidak mau berubah sifat dan perilakuya. Penegakan disiplin karyawan biasanya dilakukan oleh penyelia. Sedangkan kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela mentaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya.Menurut Terry sebagaimana dikutif oleh Mulyadi (2015:49) mengemukakan bahwa disiplin adalah merupakan alat penggerak karyawan. Agar setiap pekerjaan dapat berjalan dengan lancar, maka harus diusahakan agar ada disiplin yang baik. Teori tersebut mengisyaratkan adanya ketidak setujuan jika disiplin hanya dihubungkan dengan hal-hal yang kurang menyenangkan (hukuman) karena sebenarnya hukuman adalah merupakan alat yang paling akhir untuk menegakkan disiplin.Hal ini kemudian dipertegas oleh Hasibuan (2015: 193) Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggungjawab seseorangterhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong semangat kerja, dan terwujudnya tujuan perusahaan agar para bawahannya mempunyai disiplin yang baik. Seorang
manajer dikatakan efektif dalam kepemimpinannya jika para bawahannya berdisiplin baik. Untuk memelihara dan meningkatkan kedisiplinanyang baik adalah hal yang sulit, karena banyak faktor yang mempengaruhi.Disiplin adalah fungsi operatif dari Manajemen Sumber Daya Manusia. Kedisiplinan merupakan fungsi operatif manajemen sumber daya manusia yang terpenting, Karena semakin baik disiplin karyawan, semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin karyawan, yang baik, sulit bagi organisasi perusahaan mencapai hasil yang optimal.Sedangkan menurut Singodimedjo dalam Mulyadi (2015 : 29), disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang berlaku disekitarnya. Disiplin (discipline) adalah bentuk pelatihan yang menjalankan peraturan-peraturan organisasional. Dimana yang paling dipengaruhi oleh disiplin dalam organisasi adalah karyawan yang menyusahkan dan yang tidak mematuhi peraturan atau tidak menaati aturan yang ada. Ada dua macam tipe kegiatan kedisiplinan yaitu preventif dan korektif.a.Disiplin PreventifDisiplinpreventif adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mendorong para karyawan agar mengikuti berbagai standar dan aturan, sehingga tidak ada penyelewengan-penyelewengan. Sedangkan tujuan dasarnya adalah untuk menggerakkan pegawai agar berdisiplin diri.b.Disiplin KorektifDisiplin korektif adalah suatu upaya menggerakkan pegawai dalam menyatakan suatu peraturan dan mengarahkan agar tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada suatu perusahaan

Indikator Budaya Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Budaya kerja merupakan sejumlah pikiran dasar atau program mental yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas kerja dan kerjasama manusia yang dimiliki oleh suatu golongan masyarakat. Serta membagi budaya kerja menjadi dua unsur yaitu (Sulaeman, 2014) :1.Sikap terhadap pekerjaan yakni kesuksesan akan kerja dibandingkan dengan kegiatan lain, seperti bersantai, atau semata-mata memperoleh kepuasan dari kesibukan pekerjaannya sendiri, atau merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya untuk kelangsungan hidupnya;2.Perilaku pada waktu bekerja, yaitu seperti rajin, berdedikasi, tanggung jawab, berhati-hati, teliti, cermat,kemauan yang kuat untuk mempelajari tugas dan kewajibannya, suka membantu sesama karyawan atau sebaliknya

Fungsi dan Manfaat Budaya Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Budayakerja merupakan hal yang sangat penting yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas kerja dalam suatu perusahaan. Menurut Robbins (2015 : 82) menjelasakan mengenai fungsi budaya dan manfaat dari terlaksananya budaya kerjayaitu sebagai berikut:1.Mempunyai boundrary-difining roles, yaitu menciptakan perbedaan antara organisasi yang satu dengan lainnya;2.Menyampaikan rasa indentitas untuk anggota organisasi;3.Budaya memfasilitasi bangkitnya komitmen pasa sesuatu yang lebih besar daripada kepetingandiri individual;4.Meningkatkan stabilitas sistem sosial. Budaya adalah perekat sosial yang membantu menghimpun organisasi bersama dengan memberikan standar yang cocok atas apa yang dikatakan dan dilakukan pekerja;5.Budaya melayani sebagai sense-making dan mekanisme kontrol yang membimbing dan membentuk sikap dan perilaku karyawan.Budaya kerja dapat diartikan yang sangat dalam karena akan mengubah sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk mencapai produktivitas kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan. Manfaat yang dapat diperoleh, seperti menjamin hasil kerja dengan kualitas yang lebih baik, membuka seluruh jaringan komunikasi, keterbukaan, kebersamaan, bergotong-royong, kekeluargaan, menemukan kesalahan dan cepat memperbaiki kesalahan, cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan dari luar (faktor eksternal) organisasi, serta mengurangi laporan berupa data-data dan informasi yang salah dan palsu.

 Selain itu, terdapat beberapa manfaat lain dari budaya kerja, seperti kepuasan kerja meningkat, pergaulan yang lebih akrab, disiplin yang meningkat, pengawasan fungsional berkurang, pemborosan yang bekurang, tingkat kehadiran menurun, adanya keinginan belajar terus, keinginan memberikan yang terbaik bagi organisasi, dan lain-lain (Pujiani, 2014)

Pengertian Budaya Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Menurut Triguno dalam Ruliyansa (2018 : 83) Budaya kerja merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan perusahaan atau organisasi dalam membangun prestasi dan produktivitas kerja para pegawai sehingga mengarahkan perusahaan kepada keberhasilan yang dilakukan dengan kesadaran masing-masing individu, sedangkan kesadaran adalah merupakan sikap seseorang yang secara sukarela mentaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Budaya kerja adalah Cara kerja sehari-hari yang bermutu dan selalu mendasari nilai-nilai yang penuh makna, sehingga menjadi motivasi, memberi inspirasi, untuk senantiasa bekerja lebih baik, dan memuaskan bagi masyarakat yang dilayani (Ruliyansa, 2018 : 83) .Sedangkan menurut Sulaksono, (2010 ) budaya kerja adalah “ The way we are doing here”artinya sikap dan perilaku pegawai dalam melaksanakan tugas.Selanjutnya Robbins (2015:721) budaya kerja mengarah kepada kesatuan sistem makna bersama yang dianut oleh anggota organisasi yang membedakan organisasi itu dengan organisasi yang lain. Budaya kerja adalah perwujudan dari kehidupan yang dijumpai di tempat kerja. Secara lebih khusus, budaya kerja merupakan suatu sistem makna yang terkait dengan kerja, pekerjaan dan interaksi kerja yang disepakati bersama dan digunakan di dalam kehidupan sehari-hari. Budaya kerja yang terdapat dalam suatu organisasi adalah tempat mengasah anggota organisasi berkarya di organisasi tersebut. Kualitas dari karakter budaya kerja inilah yang akan membentuk besar kecilnya kemauan, hasrat, dan gairah anggota organisasi untuk memunculkan dan memanfaatkan potensi insani mereka untuk dikontribusikan pada proses penciptaan kinerja organisasi (Hartanto, 2009).Menurut Moeljono (2005: 90) budaya mempunyai suatu dampak yang sangat kuat dan semakin besar pada prestasi kerja organisasi, yaitu:1.Budaya korporat dapat mempunyai dampak signifikan pada prestasi kerja ekonomi organisasi dalam jangka panjang;2.Budaya korporat bahkan mungkin merupakan faktor yang lebih penting dalam menentukan sukses atau kegagalan suatu organisasi dalam masa mendatang;3.Budaya korporat yang menghambat prestasi keuangan yang kokoh dalam jangka panjang adalah tidak jarang, dan budaya itu berkembang dengan mudah, bahkan dalam organisasi yang penuh dengan orang yang bijaksana dan pandai;4.Walaupun sulit diubah, budaya korporat dapat dibuat untuk lebih meningkatkan prestasi

Jenis Perilaku Tidak aman (skripsi, tesis, dan disertasi)

Perilaku tidak aman merupakan salah satu penyebab langsung terjadinya kecelakaan. Jenis –jenis perilaku tidak aman yaitu:a)Menurut santoso (2004) perilaku tidak aman, antara lain:1.Melakukan pekerjaan tanpa mempunyai wewenang2.Gagal menciptakan keadaan baik sehingga menjadi tidak aman.3.Menggunakan APD hanya berpura-pura4.Menggunakan peralatan yang tidak sesuai

 5.Pengrusakan alat pengaman peralatan yang digunakan untuk melindungi manusia6.Bekerja berlebihan atau melebihi jam kerja di tempat kerja7.Mengangkat beban berlebihan8.Menggunakan tenaga berlebihan9.Mengkonsumsi narkobab)Menurut Budiono (2005) perilaku tidak amanantara lain:1.Mengoperasikan peralatan tanpa wewenang2.Gagal untuk memberi peringatan3.Gagal untuk mengamankan4.Bekerja dengan kecepatan yang salah5.Menyebabkan alat-alat keselamatan tidak berfungsi6.Menggunakan alat yang rusak7.Menggunakan alat dengan salah8.Kegagalan memakai alat pelindung diri secara benar9.Memperbaiki mesin yang sedang beroperasi10.Mengangkat beban tidak sesuai metode

Pengukuran perilaku (skripsi, tesis, dan disertasi)

Menurut Azwar (2008), pengukuran perilaku yang berisi pernyataan –pernyataan terpilih dan telah diuji reabilitas dan validasinya maka dapat digunakan untuk mengungkapkan perilaku kelompok responden.kriteria pengukuran perilaku menuut Azwar (2008), yaitu :a.Perilaku positif jika nilai T skor yang di peroleh responden dari kuesioner lebih dari meanatau medianb.Perilaku negatif jika niali T skor yang diperoleh responden dari kuesioner kurang atau sama dengan meanatau medianSubyek memberi respon dengan empat kategori tertentu yaitu selalu, sering, jarang dan tidak pernah, dengan skor jawaban:1.Jawaban dari item pernyataan perilaku positifa.Selalu (SL) jika responden sangat setuju dengan pernyataan dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor empatb.Sering (SR) jika responden setuju dengan pernyataan kuesioner dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor tigac.Jarang (JR) jika responden ragu-ragu dengan pernyataan kuesioner dan diberikan melalui jawaban kuesione skor satud.Tidak pernah (TP) jika responden tidak setuju dengan pernyataan kuesioner dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 12.Jawaban dari item pernyataan perilaku negatifa.Selalu (SL) jika responden sangat setuju dengan pernyataan kuesioner dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 1b.Sering (SR) jika responden setuju dengan pernyataan kuesioner dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 2c.Jarang (JR) jika responeden ragu-ragu dalam pernyataan kuesioner dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 3d.Tidak pernah (TP) iika responden tidak setuju dengan pernyataan kuesioner dan diberikan jawaban kuesioner skor 4

 Penilaian perilaku yang di dapatkan jika :1.Nilai lebih dari 50, berarti subjek berperilaku positif2.Nilai kurang atau sama dengan 50, berarti subjek berperilaku negatif

Bentuk –Bentuk Perubahan Perilaku (skripsi, tesis, dan disertasi)

Bentuk –bentuk perubahan perilaku menurut WHOdalam Notoatmojo (2012), terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu :1.Perubahan Alamiah (natural change)Perubahan perilaku yang terjadi secara alamiah yang disebabkan oleh perubahan suatu lingkungan sosial fisik atau sosial budaya dan ekonomi2.Perubahan terencana (planned change)Perubahan terencana terjadi karena perubahan perilaku ini memang direncanakan sendiri oleh subjek. Sehingga, hanya subjek itu sendiri yang ingin dan dapat mengubahnya.3.Kesediaan untuk berubah (readdiness to change)Kelompok ini akan terjadi apabila terjadi suatu inovasi atau program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi adalahsebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut.

Pengertian Perilaku (skripsi, tesis, dan disertasi)

Menurut Geller (2001), perilaku sebagai tingkah atau tindakan yang dapat di observasi oleh orang lain, tetapi apa yang dilakukan seseorang tidaklah selalu sama dengan apa yang individu tersebut pikirkan, rasakan dan yakini.Perilaku manusia merupakan hasil dari pada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan,sikap dan tindakan. Dengan kata lain perilaku merupakanrespon atau reaksiseorang individu tehadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini bersifat pasif (tanpa tindakan: berfikir, berpendapat,bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku aktif dapat dilihat sedangkan perilakupasif tidak tampak, seperti pengetahuan, persepsi atau motivasi (Sarwono,2010).Menurut Skinner dalam Notoatmojo (2012), menyatakan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi orang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skinner ini disebut teori „S-O-R” atau Stimulus –Organisme –Respon.Menurut Geller (2001), penghargaan merupakan konsekuensi positif yang diberikan kepada individu atau kelompok dengan tujuan untuk mengembangkan, mendukung, dan memelihara perilaku yang diharapkan

Faktor-faktor Penentu Kepribadian (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Menurut Robbins & Judges (2014, h. 127-129), terdapat 2 faktor penentu kepribadian, yaitu : 1.“Faktor Keturunan”Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi, dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua.2.“Faktor Lingkungan”Faktor lingkungan yaitu lingkungan dimana kita tumbuh dan dibesarkan, norma dalam keluarga, teman-teman, kelompok sosial dan pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. Kepribadian seseorang dapat berubah pada situasi yang dihadapi

Teori Big Five Model (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Menurut Robbins & Judge (2014, h. 132-133), Model Lima Besar (Big Five Model) kepribadianyang mendasar dan sangat relevan dengan kegiatan sumber daya manusia dalam perusahaan yaitu :a.Ekstraversi (Extroversion)Ekstaversi (Extroversion)mencerminkan tingkat kenyamanan seseorang dalam berhubungan dengan individu lain. Ekstrover cenderung tegas, suka bergaul dan mampu bersosialisasi. Ekstrover juga cenderung berkinerja lebih tinggi pada keseluruhan pekerjaan. b.Keramahan (Agreeableness)Agreeablenessmerupakan kecenderungan individu untuk patuh terhadap individu lainnya. Individu yang senang akan bekerja sama, kooperatif, penuh kepercayaan, dan hangat merupakan individu yang mudah bersepakat.c.Kehati-hatian (Conscientiounsness)Karyawan yang memiliki sifat kehati-hatian pada umumnya dapat diandalkan, bertanggung jawab, teratur, dan gigih dalam bekerja. Orang-orang yang berhati-hati cenderung berkinerja tinggi dibandingkan dengan orang yang kurang berhati-hati dalam bekerja.

 d.Stabilitas Emosi (Emotional Stability)Stabilitas emosi adalah penyesuaian emosional. Pekerjaan membutuhkan karyawan yang tenang, stabil, dan merasa aman. Stabilitas emosional karyawan menyebabkan karyawan terlihat lebih handal daripada rekan-rekan mereka yang kurang stabil. Dalam hal ini, sisi agama juga berpengaruh dalam emosi yang ada alam diri seseorang. Seseorang yang mempunyai sifat religius tinggi, ia akan berusaha untuk mengatasi emosinya sendiri dengan tenang. e.Keterbukaaan terhadaphal-hal baru (Openness to experience)Individudengan tingkat keterbukaan tinggi bersedia untuk mendengarkan ide-ide baru dan mengubah ide, keyakinan dan sikap mereka sendiri sebagai respons terhadap adanya informasi baru. Karyawan dengan keterbukaan yanglebih besar diharapkan berkinerja lebih baik karena fleksibilitas mereka dan kemungkinan bahwa mereka akan diterima secara lebih baik oleh orang lain dalam organisasi

Pengertian Kepribadian (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Menurut Robbins & Judge(2014, h. 127), Personality (kepribadian) sebagai jumlah total cara dimana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. Penggabungan dari seperangkat karakteristik mental dan fisik seseorang yang merupakan cerminan diri seseorang individu adalah hasil dari kepribadian itu sendiri. Griffin & Moorhead (dalam Ria Mardiana Yusuf & Darman Syarif, 2017, h. 91), mengemukakan bahwa Personality (kepribadian) adalah kumpulan atribut psikologis yang relatif stabil yang membedakan seseorang dari orang lain. Personality(kepribadian) merupakan kecenderungan untuk memiliki keyakinan tertentu, sikap, dan perilaku. Personality (kepribadian) memiliki dua elemen yaitu elemen internal dan eksternal. Ciri-ciri eksternal adalah perilaku yang dapat diamati sehingga dapat digunakan untuk mengindentifikasi personality(kepribadian) seseorang. Keadaan internal mewakili pikiran, nilai-nilai, dan karakteristik genetik yang dapat disimpulkan dari perilaku yang diamati.Kepribadian setiap individu berbeda-beda, namun sikap yang berkaitan dengan kepribadian perlu dikembangkan ke arah yang lebih positif demi tercapainya kinerja mereka.

Perilaku Individu (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Perilaku merupakan interaksiberupa sikap dan tindakan seseorang terhadap lingkungannya. Perilaku setiap individu sangat berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya. Seseorang manajer harus memahami perilaku individu karyawannya agar dapat memenentukan keputusan yang tepat untuk menjalankan kegiatan perusahaan.

 Irham Fahmi (2016, h. 34) memberikan definisi reaksi dari seseorang karyawan dalam bersikap terhadap apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan merupakan definisi perilaku individual. Background(latar belakang) dari masing-masing individu itu berbeda beda, sehingga perilaku setiap individu ketika memahami suatu hal pun dapat berbeda. Keputusan dalam pehaman tersebut dapat memberikan pengaruh pada perusahaan yang sedang dijalankannya. “Performa merupakan output dari setiap perilaku karyawan yang berkaitan langsung dengan tugas-tugas pekerjaan dan perlu dilaksanakan untuk mencapai sasaran-sasaran perusahaan”.Irham Fahmi (2016, h. 195) menyebutkan terdapat 3 (tiga) kelompok variabel yang secara langsung mempengaruhi perilaku dan performa seseorang karyawan, yaitu :1.Individuala.Kemampuan dan ketrampilan Kemampuan & ketrampilan adalah kapasitas seseorang untuk melaksanakan beberapa kegiatan dalam satu pekerjaan.b.Latar belakang (keluarga, kelas sosial, pengalaman)c.Demografik (umur, jenis kelamin) 2.Psikologikala.PersepsiPersepsi merupakan suatu proses memperhatikan dan menyeleksi, mengorganisasikan, dan menafsirkan stimulus lingkungan.b.SikapSikap merupakan faktor yang harus dipahami agar dapat memahami individu lain. Dengan saling memahami sikap individu maka organisasi dapat berjalan dengan baik.c.Kepribadian Kepribadian sebagai cara dengan mana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain.d.MotivasiMerupakan dorongan dalam diri seseorang karyawan untuk melakukan suatu pekerjaan.e.BelajarBelajarmerupakan suatu proses perubahan yang relatif konstan dalam tingkah laku yang terjadi karena adanya pengalaman atau latihan.
 3.Keorganisasiana.KepemimpinanKepemimpinan adalah proses mempengaruhi yang dilakukan seseorang terhadap seseorang dalam mencapai suatu tujuan organisasi.b.Imbalan-imbalanMerupakan balas jasa yang diberikan kepada seseorang.c.Desain pekerjaanDesain pekerjaan adalah suatu rincian tugas dan cara pelaksanaan tugas dalam suatu pekerjaan.d.Sumber-sumber dayaSumber daya merupakan apa yang dimiliki dari perusahaan tersebut. Misalnya : sumber daya finansial dan manusia

Model Perilaku Organisasi (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Menurut John A. Wagner & Hollenbeck (dalam Ria Mardiana Yusuf & Darman Syarif, 2017, h. 5) terdapat 3 subbidang perilaku organisasi yang berkembang, yaitu :a.Perilaku Oganisasi Mikro Perilaku Oganisasi Mikro berkaitan dengan perilaku individu yang bekerjab.Perilaku Organisasi Meso Perilaku organisasi meso berkaitan dengan pemahaman perilaku individu-individu yang berkerjasama secara tim atau kelompokc.Perilaku Organisasi Makro Perilaku organisasi makro berfokus pada pemahaman perilaku organisasi secara keseluruhan

Pengertian Perilaku Organisasi (skripsi, tesis, dan disertasi)

 “Organisasi adalah suatu perserikatan atau persatuan individu-individu yang bekerjasama untuk mengembang visi dan misi yang sama atau tujuan yang sama”. Suatu organisasi dikatakan baik apabila keberadaaanya oleh masayarakat atau lingkungan sekitar karena memberi kontribusi tertentu dalam masyarakat atau lingkungan tersebut.Menurut John A. Wagner & Hollenbeck (dalam Ria Mardiana Yusuf & Darman Syarif, 2017, h. 4) menyatakan bahwa perilaku organisasi adalah bidang studi yang berupaya untuk memahami, menjelaskan, memprediksi, dan mengubah perilaku manusia yang terjadi dalam konteks organisasi. Perilaku Organisasi (Organizational behavior) adalah suatu bidang studi yang menyelidiki pengaruh yang dimiliki oleh individu, kelompok, dan struktur terhadap perilaku dalam organisasi yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan semacam ini guna meningkatkan keefektifan suatu organisasi (Robbins & Judge, 2014, h. 11).

Penilaian Kinerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Penilaian kinerja dikenal dengan istilah “Performance rating, performance appraisal, personel assesment, employee evaluation, merit taing, efficiency rating, and service rating”.Andrew E. Sikula (dalam Mangkunegara, 2013, h. 69) menjelaskan bahwa Penilaian kerja merupakan evaluasi sistematis dari pekerjaan pegawai/ karyawan dan potensi yang dapat dikembangkan. Penilaian adalah proses penkasiran/ penentuan nilai, kualitas, atau status dari beberapa objek, orang ataupun sesuatu.Sedangkan Leon C. Megginson (dalam Mangkunegara, 2013, h. 69) mengemukakan bahwa performance appraisaladalah suatu proses digunakan atasan untuk menentukan apakah pegawai/karyawan melakukan pekerjannya sesuai dengan yang dimaksudkan.Berdasarkan pendapat diatas, penilaian pegawai adalah suatu proses penilaian kerja pegawai yang dilakukan pimpinan perusahaan secara sistematik berdasarkan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya.Menurut Gary Desler (2009, h. 264), tujuan dari penilaian kinerja karyawan, yaitu :a.Mengetahui ketrampilan dan kemampuan karyawanb.Sebagai dasar pengembangan dan pendayagunaan karyawan secara optimalc.Mendorong terciptanya hubungan baik antar atasan dan bawahan atau sesasama rekan kerjad.Mengetahui kinerja karyawan karywan dalam bekerjae.Karyawan dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masingf.Hasil penilaian pelaksanaa pekerjaan dapat bermanfaat bagi peneliti dan pengembangan dibidang kepegawaian

Indikator Kinerja Karyawan (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Wirawan (2015, h. 289), menyebutkan beberapa indikator dimensi dari kinerja karyawan, yakni :1.Hasil kerjaHasil kerja adalah suatu pencapaian seseorang dalam bentuk kualitas atau kuantitas ketika bekerja, seperti ketepatan dalam melaksanakan pekerjaanserta cekatan atau tidaknya dalam bekerja.

 2.Perilaku kerjaPerilaku kerjakaryawan berkaitan dengan aktifitas individu pada suatu perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan, sepertimembantu teman sekerja/ mampu bekerja samadan memiliki semangat kerja.3.Sifat pribadiSifat merupakan satu karakteristik spesifik dalam diri seseorang dan ketika dikombinasikan antara satu dengan yang lainnya, membuat seseorang menjadi pribadi yang unik dan membentuk identitas orang tersebut. Sifat dari seseorang karyawan haruslah baik. Sebagai seorang karyawan, karyawan harus memiliki sifat jujurdan berkomitmenpada perusahaan

Faktor-faktor yang menpengaruhi kinerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Mangkunegara (2013, h. 67), mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja karyawan adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation).a.“Faktor kemampuan”Kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan reality (knowladge & skill) dan kemampuan potensi (IQ). Semakin tinggi IQseseorang maka kinerja pegawai akan sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, pegawai harus ditempatkan sesuai dengan keahlianya (the right man in the right places, the right man on the right job). b.“Faktor Motivasi”Motivasi terbentuk dari sikap(attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).Selain itu, Wirawan (2015, h. 276) juga menyebutkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan antara lain:a.Faktor Lingkungan Organisasi”Meliputi : manajemen SDM, kepemimpinan, kompensasi, budaya organisasi, tim kerja, fasilitas kerja.b.Faktor pegawai”Meliputi : etos kerja, disiplin kerja, kepuasan kerja, semangat kerja, loyalitas, stres kerja, komitmen organisasi, pengalaman kerja, dan motivasi kerja

Pengertian Kinerja Karyawan (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Menurut Moeheriono (2014, h. 95), kinerja berasal dari kata job performancedan disebutjuga actual performanceatau prestasi sesungguhnya yang telah dicapai oleh seseorang karyawan. “Kinerja atau performancemerupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian karyawan adalam pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi.Menurut Mangkunegara (2013, h. 67), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.Pihak pemberi kerja pasti menginginkan karyawannya memiliki kinerja ysng baik untuk dapat memberikan hasil yang memuaskan bagi perusahaan. Sehingga perusahaan mampu berkembang dan bersaing dengan kompetitif. Ada hubungan erat antara kinerja perseorangan/individu dengan kinerja perusahaan. Apabila kinerja karyawan baik, maka kemungkinan besar perusahaan juga baik

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja Fisik (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Menurut Umi Farida & Hartono (2016, h. 10-15), beberapa faktor yang dapat memengaruhi terbentuknya suatu kondisi lingkungan kerja fisik di antaranya : 1.“Pewarnaan”Faktor warna dalam suatu ruangan dapat berpengaruh dalam diri manusia, utamanya pada karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya. Perusahaan setidaknya harus memperhatikan faktor warna dalam perusahaan untuk meningkatkan semangatdan gairah kerja karyawan yang ada ditempat tersebut.2.“Kebersihan Lingkungan”Terdapat banyak pepatah tentang kebersihan yang muncul dimasyarakat, diantaranya yaitu “Kebersihan pangkal kesehatan” dan “Kebersihan sebagian dari iman”. Pepatah tersebut memberikan arti bahwa kebersihan lingkungan itu sangat penting. Kebersihan lingkungan haruslah dijaga dalam setiap perusahaan, karena hal tersebut dapat mempengaruhi karyawan dalam bekerja. Entah itu berhubungan dengan konsentrasi kerja, kesehatan kejiwaan karyawan, semangat dan gairah kerja karyawan.

 3.“Penerangan/cahaya di tempat kerja”Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi karyawan guna mendapat keselamatan dan kelancaran kerja. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan adanya penerangan/cahaya yang cukup. 4.“Pertukaran udara/ ventilasi”Pertukaran udara yang cukup akan menyegarkan fisik karyawan dan jika pertukaran udara kurang, maka dapat menimbulkan rasa pengap sehingga mudah menimbulkan kelelahan dari para karyawan. Perusahaan harus memperhatikan pertukaran udara yang ada di perusahaan tersebut. Apabila merasa pertukaran udara secara alami kurang, maka bisa menambahkan kipas angin, AC, dsb.5.“Keamanan”Faktor keamanan perlu diwujudkan keberadaannya, karena apabila karyawan merasa aman berada di tempat kerja tersebut maka ia akan mendapatkan ketenangan dalam bekerja dan apabila karyawan tidak merasa aman ditempat kerja tersebut maka ini akan menimbulkan kegelisahan ketika melaksanakan pekerjaan mereka yang kemudian berimbas pada menurunnya kinerja karyawan

Pengertian lingkungan kerja fisik (skripsi, tesis, dan disertasi)

”“Lingkungan kerja adalah keadaan dimana tempat kerja yang baik meliputi fisik dan non fisik yang dapat memberikan kesan menyenangkan, aman, tentram, dan lain sebagainya. Menurut Sedarmayanti (2009, h. 26), pengertian dari lingkungan kerja fisik yaitu semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja dimana dapat mempengaruhi karyawan baik secaralangsung maupun tidak langsung. Sedangkan lingkungan kerja non fisik merupakan suatu hubungan yang berkaitan dengan rekan kerja, atasan, dsb. Lingkungan kerja yang sehat (aman, nyaman dan bersih) harus menjadi perhatian bagi setiap perusahaan. Karena dengan lingkungan kerja yang seperti itu, para karyawan akan terhindar dari gangguan yang tidak diinginkan yang dapat merusak semangat kerja dan berimbas pada kinerja mereka juga. Kebersihan lingkungan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama sehingga semua karyawan diharapkan bisa menjaga kebersihan lingkungannya. Banyak manfaat yang didapatkan jika lingkungan kerja perusahaan dipelihara dan kelolan dengan baik. Bukan hanya bagi pihak perusahaan, namun bagi pihak luar perusahaan juga.

Indikator Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Menurut Wirawan (2015, h. 280), indikator disiplin kerja yang dapat dipergunakan untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat kedisiplinan tenaga kerja dalam suatu oraganisasi, antara lain :1.IntegritasIntegritas merupakan suatu sikap konsisten dari karyawanyang dapat membangun kinerja karyawan suatu perusahaan. Integritas dari karyawan berhubungan denganperilaku dapat dipercaya dalam melaksanakan tugasserta dapat menghormati pimpinan dan rekan kerja.2.Mematuhi peraturanPeraturan adalah hal-hal apa yang perlu dilakukan ataupun tidak perlu dilakukan. Peraturan yang berlaku disuatu perusahaan harus dipatuhi oleh karyawan, sehingga itu dapat memperlancar jalannya aktivitas kerja. 3.Mematuhi jam kerjaJam kerja berkaitan dengan waktu dimana karyawan dapat datang kerja ataupun pulang kerja.4.Manajemen waktuManajemen waktu meliputi hal dalammempergunakan jam kerja untuk melaksanakan tugas pekerjaandan melakukan pekerjaan sesuai dengan skedul kerja.

Macam-Macam Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Menurut Mangkunegara (2013, h. 129-130), terdapat 2 macamdisiplin kerja, yaitu disiplin preventif, dan disiplin korektif.1.“Disiplin Preventif”Disiplin Preventif adalahupaya yang dilakukan untuk mencegah/menggerakkan karyawan agar mematuhi peraturan yang berlaku dalam perusahaan (tidak melakukan kesalahan/ pelanggaran). Disiplin Preventif merupakan suatu sistem yang berhubungan dengan kebutuhan kerja untuk semua bagian sistem yang ada dalam organisasi. Disiplin kerja akan lebih mudah digerakkan apabila sistem organisasinya baik. 2.“Disiplin Korektif”Disiplin Korektif merupakan upaya menggerakan seseorang untuk memperbaiki, memelihara, dan memberikan pelajaran bagi yang melanggar peraturan yang berlaku dalam perusahaan dengan memberikan sanksi atau hukuman.

Pengertian Disiplin Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Keith Davis (dalam Mangkunegara, 2013, h. 129) mengemukakan bahwa “Dicipline is management action to enforce organizatition standards”.Berdasarkan pendapat Ketih Davis tersebut, disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman organisasi. Bedjo Siswanto (dalam Umi Farida & Sri Hartono, 2016, h. 40), mendefinisikan bahwa “Disiplin kerja sebagai suatu sikap patuh, menghormati, menghargai dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya”.

Manajemen Sumber Daya Manusia (skripsi, tesis, dan disertasi)

”Mulyadi (2015, h. 2), menjelaskan bahwa manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pendayagunaan sumber daya manusia dalam mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan orang lain. Sumber daya manusia perlu dikelola secara profesional dengan mengatur mereka mulai dari awal sampai berkembangnya karier mereka dalam perusahaan

Affective Events Theory (AET) (skripsi, tesis, dan disertasi)

Affect merupakan komponan emosional dari sikap. Robbins & Judge (2007) mendefinisikan Teori peristiwa afektif adalah sebuah model yang menyatakan bahwa peristiwa – peristiwa di tempat kerja menyebabkan reaksi – reaksi emosional di bagian karyawan, yang kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku di tempat kerja. Teori tersebut dimulai dengan mengenali bahwa emosi adalah sebuah respon terhadap peristiwa dalam lingkungan kerja. Lingkungan kerja meliputi semua hal yang melingkupi pekerjaan tersebut – beragam tugas dan tingkat otonomi, tuntutan pekerjaan, dan persyaratan – persyaratan untuk mengekspresikan kerja emotional. Lingkungan ini menciptakan peristiwa – peristiwa kerja yang dapat berupa percekcokan, kegembiraan, atau keduanya. AET menyatakan bahwa berbagai kejadian sehari – hari berpengaruh pada emosional karyawan yang mempengaruhi tanggapan yang mengarah pada hasil organisasi dan individu. Secara khusus, AET menggambarkan bagaimana lingkungan kerja dan kejadian sehari – hari seperti kondisi lingkungan, peran dan desain pekerjaan menentukan keadaan afektif mengarah pada keadaan sikap dan
perilaku, seperti kepuasan kerja. (Herman dan Ashlea, 2013). Sedangkan dalam penelitian Hur et al (2012) AET menyatakan bahwa pengalaman organisasi atau peristiwa dalam kerja merupakan pengaruh dari reaksi afektif, dan dengan demikian dapat mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan (Weiss and Cronpanzano, 1996). Hal yang terjadi pada seseorang dalam pengaturan kerja dan orang – orang sering bereaksi emosional terhadap peristiwa tersebut. pengalaman –pengalaman afektif memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku dan sikap” (Weiss and Cronpanzano, 1996

Attitudinal organizational pride (skripsi, tesis, dan disertasi)

Berdasarkan pada teori sikap, organisasi merupakan objek potensial dari sikap (Ajzen dalam Gouthier dan Rhein, 2011). Karena individu memiliki sikap tertentu terhadap berbegai benda, adalah mungkin bagi mereka untuk mengembangkan Attitudinal organizational pride dalam diri yang stabil terhadap pekerjaan mereka (“kebanggaan kerja”) atau kea rah organisasi tempat mereka bekerja (“attitudinal organizational pride”) (CHA,2004). Dalam hal ini attitudinal organizational pride memiliki dukungan tinggi terhadap perusahaan. Fairfiled & Wagner (2004) berpendapat sikap biasanya hasil dari pengalaman, yang mereka pelajari dan hanya emosi pembanding –bertahan cukup lama. Berbeda dengan emotional organizational pride, attitudinal organizational pride adalah kolektif, yang merupakan hasil dari kebutuhan karyawan untuk tetap bergabung dengan organisasi (Lea dan webley, 1997

Emotional organizational pride (skripsi, tesis, dan disertasi)

Emotional pride dideskripsikan pengalaman mental sesaat secara langsung dan kuat (Fisher dan Ashkanasy, 2000). Dalam dunia kerja dan terutama dalam jasa, pride merupakan salah satu emosi yang paling intens. Menurut prinsip atribusi eksternal, karyawan dapat dibanggakan berdasarkan prestasi rekan – rekan mereka, tim kerja mereka, atau perusahaan pada umumnya, dan dengan demikian dapat mengembangkan emosi – emosi kebanggaan organisasi. Oleh karena itu, prestasi tertentu yang sebelumnya terjadi dalam organisasi, dapat digunakan sebagai perangsang suatu peristiwa saat diperlukan. Fisher dan Ashkanasy (2000) Durasi (jangka waktu) emosi kebanggaan organisasi relative singkat. Bagozzi et al.,(1999) berpendapat Jika karyawan tetap bergabung dengan perusahaan yang sama untuk jangka waktu tertentu, emosi kebanggaan organisasi di tempat kerja dapat dialami tidak hanya sekali tetapi berulang – ulang. Karyawan juga dapat mengalami emosi kebanggaan yang dipicu oleh peristiwa seperti prestasi kebanggaan organisasi yang tidak atas kontribusi mereka sendiri. Prasyarat dalam kebanggaan organisasi berdasar emosi adalah kebutuhan yang kuat dari seorang individu untuk tetap bergabung dengan perusahaan.
Pemicu awal respon pada kebanggaan organisasi secara emosional adalah perbandingan kognitif antara prestasi actual dari perusahaan dan harapan karyawan tentang bagaimana tugas organisasi dipenuhi oleh perusahaan (Eccles dan Wigfield ,2002). Kebanggaan organisasi seperti semua emosi, mempengaruhi sikap dan perilaku yang dihasilkan sampai ke hilir (Elfenbein, 2007 dalam Gouthier dan Rhien 2011).

Pride (skripsi, tesis, dan disertasi)

Arnett et al.,(2002) berpendapat pride adalah suatu emosi yang sangat penting dalam memahami perilaku manusia. Ini merupakan hasil dari penilaian diri sendiri dan pendapat orang lain. Pridemerupakan keyakinan bahwa seseorang memiliki komperen dan dipandang positif orang lain. Hal ini dapat mendorong pengendalian diri dan tanggung jawab terhadap perilaku seseorang yang sesuai dengan norma – norma. Pride dalam sebuah organisasi merupakan hasil dari persepsi tententu tentang organisasi dan dari pengalaman organisasi. Eccles (2002) berpendapat seseorang merasa bangga ketika dapat mencapai sesuatu dan memilki suatu objek yang dinilai memiliki keunikan tersendiri baik subjektif maupun objektif. Pride sering disajikan sebagai proses pendukung perbaikan diri dan identitas social. Sedangkan dalam penelitian Katzenbach (2003) pridemerupakan ekspresi emosional komitmen individu yang memotivasi sebagian besar orang – orang.

Attitudinal (skripsi, tesis, dan disertasi)

Attitude merupakan komponen penentu dari perilaku karena keduanya berhubungan dengan persepsi, kepribadian, perasaan dan
motivasi. Attitude merupakan keadaan mental yang dipelajari dan diorganisasikan melalui pengalaman, menghasilkan pengaruh spesifik pada respons seseorang terhadap orang lain, objek, situasi yang berhubungan. Komponen perilaku dari sikap merujuk pada kecenderungan seseorang untuk bertindak dalam suatu cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu (John et al., 2007). Sedangkan menurut Robbins & Judge sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif – baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan – terhadap objek, individu, atau peristiwa. Attitude merupakan kecenderungan psikologi yang merupakan hasil dari evaluasi – dengan beberapa tingkatan setuju atau ketidaksetujuan – pada seseorang atau objek. (Eagly dan Chaiken dalam Goutheir dan Rhein, 2011). Attitude secara khusus merupakanhasil dari pengalaman – pengalaman; bisa mereka pelajari dan dalam pembading untuk emosi belaka – yang dapat bertahan lama (Fairfield dan Wagner, 2004).

Turnover Intention (skripsi, tesis, dan disertasi)

Turnover Intention adalah hasrat keinginan yang mendasar dan terencana untuk meninggalkan organisasi (Tett dan Meyer dalam Humborstad dan Perry, 2011). Nahusona et al(2004) berpendapat Turnover intention adalah kecenderungan atau tingkat dimana seorang karyawan memiliki kemungkinan untuk meninggalkan organisasi. Turnover Intention memiliki pengaruh pada perusahaan dankaryawan. Bari perusahaan akan terjadi pengeluaran biasa untuk merekrut karyawan baru dan pelatihan karyawan baru (Mukherjee dan Malhotra, 2006)Bagi karyawan, perputaran sering diiringi dengan konsekuensi ekstrim seperti ketidakpastian tentang masa depan atau perubahan tempat tinggal. Maksudnya untuk tinggal dengan organisasi merupakan pengaruh yang kurang afektif. Karena implikasi ekstrim terkait dengan perubahan pekerjaan, niat karyawan untuk   
meninggalkan organisasi dapat digambarkan sebagai suatu keputusan baik tercermin dan kognitif (Fisher, 2002)

Commitment To Customer Service (skripsi, tesis, dan disertasi)

Komitmen kerja atau komitmen organisasi merupakan suatu kondisi yang dirasakan oleh karyawan yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat terhadap organisasi. Menurut Streers dan Porter (1983) suatu bentuk komitmen kerja yang muncul bukan hanya bersifat loyalitas yang pasif, tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan kerja organisasi yang memiliki tujuan memberikan segala usaha demi keberhasilan kerja organisasi yang bersangkutan. Menurut Robbin & Judge (2007) manajemen suatu perusahaan harus memastikan bahwa karyawan melakukan yang terbaik untuk menyenangkan pelanggan – pelanggannya. Kebanyakan organisasi mengalami kegagalan karena karyawannya gagal menyenangkan pelanggan. Menurut John et al. (2007) Komitmen merupakan perasaan identifikasi, keterlibatan, dan kesetiaan yang diekspresikan oleh karyawan terhadap perusahaan. Komitmen terhadap suatu organisasi melibatkan tiga sikap yaitu:a.Rasa identifikasi dengan tujuan organisasib.Perasaan terlibat dalam tugas – tugas organisasi c.Perasaan setia terhadap organisasi.

Creativity (skripsi, tesis, dan disertasi)

Kreativitas merupakan ciri kepribadian yang melibatkan kemampuan untuk meloloskan diri dari pemikiran kaku dan menghasilkan ide yang baru dan berguna. Kreativitas merupakan ciri kepribadian yang dapat didorong dan dikembangkan dalam organisasi. Caranya dengan memberikan orang kesempatan dan kebebasan berfikir dengan cara yang tidak konvensional. Menurut Baccaroni (2005) titik awal kratifitas dalam perusahaan adalah kreatifitas, berjalan melalui proses refleksi pada kemungkinan solusi, datangnya gagasan dan diakhiri dengan studi kelayakan ide yang ada. Konseptualisasi ide – ide baru mengacu pada konsep kreatifitas atau kemampuan untuk menghasilkan ide – ide baru, yang sesuai dengan masalah. Pada tingkat individu, peningkatan kreatifitas ditunjukkan dengan perilaku pemecahan masalah pada pekerjaan (Stenberg dalam Gouther dan Rhein, 2011).
Kreativitas dipandang sebagai produksi ide – ide baru dan solusi yang berguna oleh satu atau lebih individu dalam lingkungan kerja. (Klijn and Tomic, 2008).

Perilaku Karyawan (skripsi, tesis, dan disertasi)

Perilaku adalah semua yang dilakukan seseorang. Beberapa penjelasan perilaku yaitu: (a) perilaku adalah akibat, (b) perilaku diarahkan oleh tujuan, (c) perilaku yang bisa diamati dapat diukur, (d) perilaku yang tidak dapat secara langsung diamati (misalnya berfikir dan mengawasi ) juga penting dalam mencapai tujuan, (e) perilaku dimotivasi atau didorong (Gibson et al.,1996)Menurut Sukengsari dan Sobirin (2005) perilaku adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap seseorang atas sesuatu dengan cara tertentu. Perilaku merupakan fungsi dari individu dan lingkungan. Hal tersebut dapat diartikan bahwa perilaku ditentukan oleh individu dan lingkungan, sadangkan individu dipengaruhi oleh sikap, karakteristik kerja dan pemaknaan terhadap peran, dan lingkungan meliputi lingkungan intern dan ekstern individu itu densiri, dapat berupa lingkungan kerja dimana inidvidu tersebut bekerja. Lingkungan ini dapat membentuk perilaku kerja tiap individu. Perilaku kerja merupakan tindakan dan kemampuan kerja dalam melaksanakan tugas – tugas di tempat mereka bekerja. Robbins (2002) berpendapat perilaku kerja adalah bagai mana orang – orang dalam
lingkungan kerja dapat mengaktualisasikan dirinya melalui sikap dalam bekerja