Model Indikator Formatif (skripsi dan tesis)

Konstruk dengan indikator formatif mempunyai karakteristik berupa komposit, seperti
yang digunakan dalam literatur ekonomi yaitu index of sustainable economics welfare,
the human development index, dan the quality of life index. Asal usul model formatif
dapat ditelusuri kembali pada “operational definition”, dan berdasarkan definisi
operasional, maka dapat dinyatakan tepat menggunakan model formatif atau reflesif.
Jika η menggambarkan suatu variabel laten dan x adalah indikator, maka: η= x
Oleh karena itu, pada model formatif variabel komposit seolah-olah dipengaruhi
(ditentukan) oleh indikatornya. Jadi arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator
ke variabel laten.
Ciri-ciri model indikator formatif adalah:
1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator ke konstruk
2. Antar indikator diasumsikan tidak berkorelasi (tidak diperlukan uji konsistensi
internal atau Alpha Cronbach)
3. Menghilangkan satu indikator berakibat merubah makna dari konstruk
4. Kesalahan pengukuran diletakkan pada tingkat konstruk (zeta)

Model Indikator Refleksif (skripsi dan tesis)

Model indikator refleksif dikembangkan berdasarkan pada classical test theory yang mengasumsikan bahwa variasi skor pengukuran konstruk merupakan fungsi dari true score ditambah error. Ciri-ciri model indikator reflektif adalah: 1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari konstruk ke indikator 2. Antar indikator diarapkan saling berkorelasi (memiliki internal consitency reliability) 3. Menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna dan arti konstruk 4. Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indikator

SEM (Structural Equation Modeling) (skripsi dan tesis)

SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik statistik yang
mampu menganalisis pola hubungan antara
konstruk laten dan indikatornya,
konstruk laten yang satu dengan lainny
a, serta kesalahan pengukuran secara
langsung. SEM memungkinkan dilakukannya anal
isis di antara be berapa variabel
dependen dan independen secara langsung (Hair et al, 2006).
Teknik analisis data menggunakan
Structural Equation Modeling
(SEM),dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang
ada dalam penelitian
SEM adalah merupakan sekumpulan teknik-teknik statistik yang
memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan secara simultan. Hubungan
itu dibangun antara satu atau beberapa variabel independen (Santoso, 2011).
Yamin (2009) mengemukakan bahwa di dalam SEM peneliti dapat
melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pe
meriksaan validitas dan reliabilitas
instrumen (setara dengan analisis fakt
or konfirmatori), pengujian model hubungan
antar variabel laten (setara dengan analisis
path
), dan mendapatkan model yang
bermanfaat untuk prediksi (setara dengan mo
del struktural atau analisis regresi).
Alasan yang mendasari digunakannya SEM adalah (1) SEM mempunyai
kemampuan untuk mengestimasi hubungan antar variabel yang bersifat
multiple
relationship.
Hubungan ini dibentuk dalam model struktural (hubungan antara
konstruk dependen dan independen). (2) SEM mempunyai kemampuan untuk
menggambarkan pola hubungan antara konstr
uk laten dan variabel manifes atau
variabel indikator.
Berikut istilah – istilah dalam SEM
1. Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas,
perantara dan tergantung. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan
anak panah. Anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebab-akibat antara
variabel-variabel eksogen atau perantara dengan satu variabel tergantung atau
lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan-kesalahan (variabel error)
dengan semua variabel endogen masing-masing. Anak panah ganda
menunjukkan korelasi antara pasangan variabel-variabel eksogen.
2. Model sebab akibat (causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (
pathanalysis) , yang menyusun hipotesis hubungan sebab akibat (causal
relationships ) diantara variabel- variabel dan menguji model-model sebab
akibat (causal models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifes (indikator),
variabel-variabel laten atau keduanya.
3. Variabel eksogen dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak
ada penyebab – penyebab eksplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel eksogen dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah berkepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut.
4. Variabel endogen ialah variabel yang mempunyai anak panah-anak panah
menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk didalamnya
mencakup semua variabel perantara dan tergantung.
5. Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung
kecuali diukur dengan satu atau lebih variabel manifes.
6. Variabel manifes adalah variabel yang digunakan untuk menjelaskan atau
mengukur sebuah variabel laten. Dalam satu variabel laten terdiri dari beberapa
variabel manifes.
13
7. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut “beta” yang
menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel
tergantung dalam suatu model jalur tertentu.
8. Analisis faktor penegasan (
confirmatory factor analysis)
, suatu teknik
kelanjutan dari analisis faktor dima
na dilakukan pengujian hipotesis-hipotesis
struktur
factor loadings
dan interkorelasinya.
Analisis jalur (
path analysis
) adalah suatu bentuk terapan dari analisis
multiregresi (Kerlinger, 2003). Metode
path analysis
adalah suatu metode yang
mengkaji pengaruh (efek) langsung maupun tidak langsung dari variabel-variabel
yang dihipotesiskan sebagai akibat pengaruh perlakuan terhadap variabel tersebut.
Teknik ini digunakan untuk menguji hubungan kausal yang diduga masuk akal
(
plausibility
) antara satu variabel dengan variabel lain di dalam kondisi
noneksperimental (Muhidin, 2009).
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau
objek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek
dengan objek yang lain (Sugiyono, 2006). Variabel juga dapat merupakan atribut
dari bidang keilmuan atau kegiatan
tertentu. Dalam model kausal, harus
dibedakan antara variabel eksogen dan endogen. Variabel eksogen adalah variabel
yang variabilitasnya diasumsikan ditentukan oleh sebab-sebab yang berada di luar
model. Sedangkan variabel endogen adalah variabel yang variasinya dapat
diterangkan oleh variabel eksogen dan endogen yang berada di dalam sistem.
Variabel endogen diperlakukan sebagai variabel terikat dalam suatu himpunan
variabel tertentu mungkin juga dikonsepsikan sebagai variabel bebas dalam
hubungannya dengan variabel yang lain.
14
Validitas berasal dari kata “
validity
” yang mempunyai arti ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam me
lakukan fungsi ukurnya (Burhan dkk, 2002:
316). Validitas alat ukur merupakan suatu mekanisme kontrol dalam metode
penelitian survei. Suatu
instrument
pengukuran dikatakan valid jika
instrument
dapat mengukur sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur. Jadi validitas dapat
menentukan apakah
instrument
yang digunakan dalam penelitian mencapai taraf
kesahihan atau tidak.
Uji reliabilitas untuk mengetahui apakah instrumen memiliki indeks
kepercayaan yang baik jika diujikan berulang. Suatu instrument pengukuran
dikatakan reliable jika pengukurannya konsiste
n dan akurat. Jadi uji reliabilitas
dilakukan dengan tujuan mengetahui konsistensi dari instrument sebagai alat ukur,
sehingga hasil pengukuran dapat dipercaya.
Metode
Partial Least Square
(PLS) merupakan metode analisis yang
powerful
karena dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan
banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar (Imam Ghozali,2008).
Partial
least square
juga dikembangkan untuk perancangan model statistik yang
mempunyai model lemah atau indikator yang tersedia memenuhi model
pengukuran refleksif, formatif dan rekursif (gabungan). Di dalam PLS variabel
laten bisa berupa hasil pencerminan indikatornya, diistilahkan dengan indikator
refleksif
(reflesive indicator)
. Di samping itu, variabel yang dipengaruhi oleh
indikatornya, diistilahkan dengan indikator formatif
(formative indicator)
.
Model refleksif dipandang secara mate
matis indikator seolah-olah sebagai
variabel yang dipengaruhi oleh variabel la
ten. Hal ini mengakibatkan bila terjadi
15
perubahan dari satu indikator akan be
rakibat pada perubahan pada indikator
lainnya dengan arah yang sama.

Structural Equation Modelling (SEM) dan Partial Least Squares (PLS) (skripsi dan tesis)

 

SEM merupakan suatu teknik pemodelan statistika yang mampu menganalisi hubungan antar peubah laten, peubah indikator dan kesalahan pengukuran secara langsung. Di samping hubungan kausal searah, metode SEM

juga memungkinkan untuk melakukan analisis hubungan dua arah (Ghozali, dkk. 2005). Peubah laten adalah peubah yang tidak dapat diobservasi, sehingga tidak dapat diukur secara langsung. Pengamatan pada peubah laten melalui efek pada peubah-peubah terobservasi. Peubah terobservasi adalah indikator-indikator yang dapat diukur (Ghozali, et al. 2005). Ghozali (2008) memaparkan bahwa SEM dikembangkan berdasarkan 2 (dua) kelompok yaitu SEM berbasis covariance (CBSEM) dan SEM berbasis varian/Partial Least Squares (PLS). Perbedaan utama CBSEM dan PLS adalah pada CBSEM model yang dianalisis harus dikembangkan berdasarkan pada teori yang kuat dan bertujuan untuk mengkonfirmasi model dengan data empirisnya. Sedangkan PLS lebih menitikberatkan pada model prediksi sehingga dukungan teori yang kuat tidak begitu menjadi hal terpenting (Ghozali, 2008). CBSEM bertujuan memberikan pernyataan tentang hubungan kausalitas atau memberikan deskripsi mekanisme hubungan kausalitas (sebab-akibat). Sedangkan PLS memiliki tujuan untuk mencari hubungan linear prediktif antar peubah (Ghozali, 2008). Wold (1985) dalam Ghozali (2008) menyatakan bahwa PLS merupakan metode analisis yang powerfull, data tidak harus berdistribusi normal multivariate (indikator dengan skala kategori ordinal, interval sampai ratio dapat digunakan pada model yang sama), dan sampel tidak harus besar. PLS dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori dan juga untuk menjelaskan ada atau tidak adanya hubungan antar peubah laten. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif. Menurut Chin (1998) dalam Ghozali (2008) menyatakan bahwa karena PLS tidak mengasumsikan adanya distribusi tertentu untuk estimasi parameter, maka teknik parametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan. Model evaluasi PLS berdasarkan pada pengukutan prediksi yang mempunyai sifat non parametrik. PLS tidak hanya dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori, namun dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara peubah laten. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif dan hal ini tidak mungkin dijalankan dalam SEM karena akan terjadi unidentified model.

Metode Bootstrapping (skripsi dan tesis)

Metode bootstrap telah dikembangkan oleh Efron (1979)
sebagai alat untuk membantu mengurangi ketidak andalan
yang berhubungan dengan kesalahan penggunaan distribusi
normal dan penggunaannya. Pada bootstrap dibuat pseudo
data (data bayangan) menggunakan informasi dan sifat-sifat
dari data asli, sehingga data bayangan memiliki karakteristik
yang mirip dengan data asli [9].
Pada metode bootstrap dilakukan pengambilan sampel
dengan pengembalian dari sampel data (resampling with
replacement) [10]

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan metode analisis multivariat yang dapat digunakan untuk menggambarkan keterkaitan hubungan linier secara simultan antara variabel pengamatan (indikator) dan variabel yang tidak dapat diukur secara langsung (variabel laten). Variabel laten merupakan variabel tak teramati (unobserved) atau tak dapat diukur (unmeasured) secara langsung, melainkan harus diukur melalui beberapa indikator. Terdapat dua tipe variabel laten dalam SEM yaitu endogen () dan eksogen (ξ)

Profesionalisme (skripsi dan tesis)

Profesionalisme dapat dijadikan sebuah elemen motivasi yang
memberikan sumbangan terhadap prestasi kerja atau kinerja dengan
ketrampilan yang tinggi.Sikap profesionalisme dibutuhkan dalam
menghasilkan kualitas pekerjaan yang sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan
semakin berkualitas pekerjaan seorang pegawai, kinerjanya semakin
cemerlang. Semakin baik kinerjanya, masyarakat dan pihakpihak terkait
akan semakin percaya.
Profesional adalah tingkat penguasaan dan pelaksanaan terhadap
knowledge, skill, dan character. Seorang yang profesional akan
mempunyai tingkat tertentu pada ketiga bidang tersebut menurut Bernardi
(dalam prasetyoningrum : 2010). Perilaku profesional diperlukan bagi
semua profesi, agar profesi yang telah menjadi pilihannya mendapat
kepercayaan dari masyarakat menurut Bonner and Lewis (dalam
prasetyoningrum : 2010).
Profesionalisme sebagai sikap dan perilaku seseorang dalam
melakukan profesi tertentu. Seorang yang profesional, di samping
mempunyai keahlian dan kecakapan teknis, harus mempunyai kesungguhan
dan ketelitian bekerja, mengejar kepuasan orang lain, keberanian
menanggung risiko, ketekunan dan ketabahan hati, integritas tinggi,
konsistensi dan kesatuan pikiran, kata dan perbuatan menurut Christian
(dalam prasetyoningrum : 2010).
Hall (dalam prasetyoningrum : 2010). Menyatakan bahwa ada lima
dimensi profesionalisme seseoang, yaitu :
1. Afiliasi komunitas (Community affiliation)
2. Kebutuhan untuk mandiri (Autonomy demand)
3. Keyakinan terhadap peraturan sendiri / profesi (Belief selfregulation)
4. Dedikasi pada profesi (Dedication)
5. Dan kewajiban sosial (Social obligation)
Karyawan yang memiliki profesionalisme tinggi diharapkan dapat
memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencapaian tujuan
organisasi. Secara khusus, peningkatan profesionalisme diharapkan dapat
memberikan dampak bagi peningkatan kinerja dan kepuasan bagi
karyawan, ini merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap
karyawan yang bekerja dalam suatu organisasi. Dengan demikian
peningkatan profesionalisme akan dapat membantu menyelaraskan
pencapaian tujuan organisasi dan tujuan personal. Menurut Sagie, Krausz.
dkk (dalam Prasetyoningrum : 2010). Yang menyatakan bahwa
Profesionalisme berhubungan positif terhadap kinerja karyawan.
Menurut Lui et al (dalam Prasetyoningrum : 2010). Merumuskan
definisi – definisi yang masih ada tentang profesionalisme dalam literatur
manajemen adalah ambisius. Mengadopsi sebuah perspektif sosialisasi,
melihat profesionalisme sebagai nilai – nilai, tujuan dan norma – norma
yang dipelajari dalam sosialisasi profesionalisme.

Lingkungan Kerja (skripsi dan tesis)

Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan atau instansi perlu
diperhatikan, hal ini disebabkan karena lingkungan kerja mempunyai
pengaruh langsung terhadap para pegawai. Lingkungan keja daripada para
pegawai akan mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap jalannya
operasi suatu pekerjaan di perusahaan atau instansi, Lingkungan kerja ini
yang akan mempengaruhi para pegawai, sehingga dengan demikian baik
langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi produktivitas
perusahaan atau instansi. Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila
manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan
nyaman. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka
waktu yang lama. Lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut
tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung
diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien. Lingkungan kerja yang
baik dan memuaskan para pegawai tentu akan meningkatkan produktivitas
kerja daripada pegawai. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak baik akan
menurunkan produktivitas kerja daripada pegawai.
Menurut Alex S. Nitisemito (dalam mandasari : 2015) Lingkungan
kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat
mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan
Secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua, yaitu
Lingkungan Kerja Fisik (temparatur, kelembaban, sirkulasi udara,
pencahayaan, kebisingan, getaran mekanik, bau tidak sedap, warna) dan
Lingkungan Kerja Non Fisik (keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan
hubungan kerja)
Menurut Darvis (dalam Permansari : 2013). Lingkungan kerja
dalam suatu organisasi mempunyai arti penting bagi individu yang bekerja
di dalamnya, karena lingkungan ini akan mempengaruhi secara langsung
maupun tidak langsung manusia yang ada di dalamnya. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
disekitar para pekerjaan dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas tugas yang dibebankan Menurut Alex S. Niti Semito
(dalam Hidayat dan Taufiq : 2012).
Menurut Darvis (dalam Permansari : 2013). Tiga faktor utama yang
menentukan lingkungan akan mempengaruhi secara langsung maupun
tidak langsung manusia yang ada di dalamnya adalah :
1. Ada bukti yang menunjukan bahwa tugas dapat diselesaikan dengan
lebih baik pada lingkungan kerja organisasi yang baik.
2. Ada bukti bahwa manager dapat mempengaruhi lingkungan kerja
dalam organisasi atau unit kerja yang dipimpin.
3. Kecocokan antara individu dengan organisasi mempunyai peranan
yang sangat penting dalam mencapai prestasi dan kepuasan individu
itu sendiri dalam organisasi.
Indikator – indikator lingkungan kerja oleh Arikunto (dalam
Hidayat dan Taufiq : 2012) yaitu sebagai berikut:
1. Penerangan
2. Warna ruangan
3. Suasana
4. Udara
5. Tata ruang kantor

Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Menurut Ruky (dalam Mandasari : 2015). Kinerja merupakan suatu
bentuk usaha kegiatan atau program yang diprakarsai dan dilaksanakan
oleh pimpinan organisasi atau perusahaan untuk mengarahkan dan
mengendalikan prestasi karyawan. Sedangkan menurut Mangkunegara
(dalam Mandasari : 2015). Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas
dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawan yang diberikan kepadanya.
Kinerja karyawan sering diartikan sebagai pencapaian tugas,
dimana karyawan dalam bekerja harus sesuai dengan program kerja
organisasi untuk menunjukkan tingkat kinerja organisasi dalam mencapai
visi, misi, dan tujuan organisasi. Kinerja seseorang merupakan ukuran
sejauh mana keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas pekerjaannya.
Kinerja karyawan merupakan suatu tindakan yang dilakukan karyawan
dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan menurut ,
Handoko (dalam Wirawan, Bagia. dkk : 2016).
Mathis dan Jackson (dalam Mandasari 2015) menjelaskan ada tiga
faktor utama yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah :
1. Kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan tersebut.
2. Tingkat usaha yang dicurahkan.
3. Dan dukungan organisasi yang diterimanya.
Menurut Hasibuan (dalam Hidayat dan Taufiq : 2012) menyatakan
bahwa prestasi kerja atau kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
yang didasarkan kecakapan, pengalaman dan kesungguhan. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa prestasi kerja atau kinerja ini merupakan gabungan
dari tiga faktor penting yaitu:
1. Kemampuan dan minat seorang karyawan.
2. Kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas.
3. Peran serta tingkat motivasi seorang karyawan.
Menurut Malthis dan Jackson (dalam Mandasari : 2015) Kinerja
Karyawan dapat diukur melalui beberapa indicator yaitu :
1. Kualitas kerja.
2. Kuantitas kerja.
3. Ketepatan waktu.
Suyadi Prawirosentono (dalam Wirawan, Bagia. Dkk : 2016),
kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam satu organisasi, sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi
yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hokum dan sesuai dengan
moral dan etika. Menurut Rivai (dalam Wirawan, Bagia. dkk : 2016)
Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan untuk
menyelesaikan tugas atau pekerjaan seseorang sepatutnya memiliki derajat
kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.

Hubungan antara pelatihan, kemampuan, dan kinerja (skripsi dan tesis)

Mangkunegara (2005:52) mengemukakan mengenai hubungan
pelatihan, kemampuan, dan kinerja; “Pelatihan merupakan penciptaan
suatu lingkungan dimana para pekerja dapat memperoleh atau
mengubah sikap, kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang
berkaitan dengan pekerjaan tertentu yang bertujuan untuk
meningkatkan kinerja karyawan”.
Pada hubungan antara variabel-variabel di atas dapat diartikan
bahwa pelatihan ini banyak memiliki pengaruh dalam peningkatan
kinerja, dan bagaimana kemampuan sebagai pendukung dalam
pengadaan pelatihan yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi
yang dimiliki guna tercapainya target produksi yang dibebankan
kepada karyawan.

Hubungan Kemampuan dengan Kinerja (skripsi dan tesis)

Masalah kinerja tidak dapat dipisahkan dari kemampuan kerja
karyawan. Mangkunegara (2007:67) mengatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi pencapaian kerja adalah faktor kemampuan (ability)
dan motivasi (motivation). Perusahaan memerlukan karyawan yang
memiliki kemampuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan
agar mampu meningkatkan kinerja. Melalui peningkatan kemampuan
kerja, maka kinerja karyawan akan ikut meningkat. Hal ini didukung
dengan hasil penelitian yang dilakukan Kusuma dkk (2015) dengan
hasil kemampuan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

Hubungan Pelatihan dengan Kemampuan (skripsi dan tesis)

Mathis dan Jackson (2006:301) mendefinisikan Pelatihan
(training) sebagai proses di mana seseorang mendapatkan kapabilitas
untuk membantu pencapaian tujuan organisasional. Menurut
Widyasari dkk (2015) menemukan bahwa pelatihan (Metode,
instruktur, dan materi pelatiha) berpengaruh signifikan terhadap
kemampuan. Artinya, pelatihan sangat penting dilakukan sehingga
karyawan dapat meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan
keterampilan dalam mengerjakan suatu pekerjaan tertentu sesuai
dengan standar atau kebutuhan organisasi.

Hubungan Pelatihan dengan Kinerja (skripsi dan tesis)

Menurut Rivai dan Sagala (2010:211) mendefinisikan pelatihan
sebagai suatu kegiatan dalam meningkatkan kinerja saat ini dan
kinerja di masa yang akan datang. Artinya, pelatihan (training)
merupakan salah satu peran penting dalam peningkatan kinerja
karyawan. Pelatihan dilakukan sebagai solusi dari permasalahan
kinerja karyawan. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang
dilakukan Widyasari dkk (2015) dengan hasil penelitian pelatihan
yang meliputi metode, instruktur, dan materi berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan

Metode Pelatihan (skripsi dan tesis)

Metode pelatihan yang digunakan harus sesuai dengan jenis
pelatihan yang akan dilaksanakan perusahaan. Rivai dan Sagala
(2010:226) membedakan metode pelatihan menjadi dua, yaitu :
1) On the job training, yaitu metode pelatihan dengan memberikan
petunjuk mengenai pekerjaan secara langsung pada saat bekerja
untuk melatih karyawan bagaimana melaksanakan pekerjaan
mereka sekarang. Contoh metode ini adalah instruksi, rotasi,
magang.
2) Off the job training, yaitu metode yang dilakukan diluar jam kerja.
Contoh metode ini adalah ceramah,video, studi kasus, simulasi,
dan studi mandiri.
d. Indikator Pelatihan
Adapun indikator pelatihan menururt Rivai (2005:240) yaitu
sebagai berikut:
1) Materi pelatihan
Dengan mengetahui kebutuhan akan pelatihan, langkah
pertama yang dapat ditentukan yaitu mengenai materi yang harus
diberikan misalnya kelengkapan materi pelatihan.
2) Metode pelatihan
Sesuai dengan materi pelatihan yang diberikan, maka dapat
ditentukan metode atau cara penyajian yang paling tepat.
Penentuan atau pemilihan metode pelatihan disesuaikan dengan
materi yang akan disajikan.
3) Instruktur
Pelatih harus mempunyai keahlian dan kemampuan untuk
mentransformasikan keahlian tersebut pada peserta pelatihan.
4) Peserta pelatihan
Agar program pelatihan dapat mencapai sasaran yang
diinginkan hendaknya para peserta yang dipilih secara mental
telah dipersiapkan untuk mengikuti program tersebut. Peserta
yang dipilih juga harus memiliki motivasi yang tinggi dalam
mengikuti pelatihan.
5) Sarana pelatihan.
Sarana pendukung evaluasi pelatihan dimaksudkan untuk
mengukur kelebihan suatu program, kelengkapan peralatan, dan
kondisi lingkungan yang merupakan umpan balik untuk menilai
atau menghasilkan output yang sesuai.

Manfaat Pelatihan (skripsi dan tesis)

Manfaat pelatihan menurut Rivai dan Sagala (2010:217) dibagi
menjadi 3, yaitu :
1) Manfaat untuk karyawan
a) Membantu karyawan dalam membuat keputusan dan
pemecahan masalah
b) Membantu mendorong dan mencapai pengembangan diri dan
rasa percaya diri
c) Meningkatkan kepuasan kerja
d) Membantu karyawan mendekati tujuan pribadi sementara
meningkatkan keterampilan interaksi
2) Manfaat untuk perusahaan
a) Membantu pengembangan perusahaan
b) Memberikan informasi tentang kebutuhan perusahaan
dimasa yang akan datang
c) Meningkatkan efisiensi, efektivitas, produktifitas, dan
kualitas kerja
d) Membantu dalam menekan biaya dalam berbagai bidang
seperti produksi, SDM, administrasi
3) Manfaat dalam hubungan SDM, intra dan antargrup dan
pelaksanaan kebijakan
a) Meningkatkan komunikasi antargrup dan individual
b) Membantu dalam orientasi karyawan baru dan karyawan
transfer atau promosi
c) Meningkatkan keterampilan interpersonal

Pengertian Pelatihan (skripsi dan tesis)

Pelatihan (training) menurut Mathis dan Jackson (2006:301)
yaitu proses di mana seseorang mendapatkan kapabilitas untuk
membantu pencapaian tujuan organisasional. Rivai dan Sagala
(2010:212) mendefinisikan pelatihan sebagai suatu kegiatan dalam
meningkatkan kinerja saat ini dan kinerja di masa yang akan datang.
Pelatihan memiliki peran dalam membantu karyawan mendapatkan
keahlian dan kemampuan tertentu sehingga berhasil dalam
melaksanakan pekerjaannya.

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kerja adalah
faktor kemampuan (ability) dan motivasi (motivation)
(Mangkunegara,2007:67). Keith Davis (1964:484) dalam
Mangkunegara (2007:67) merumuskan faktor–faktor yang
mempengaruhi pencapaian kerja sebagai berikut :
Human Performance = Ability + Motivation
Motivation = Attitude + Situation
Ability = Knowledge + Skill
1) Faktor kemampuan : secara psikologis kemampuan (ability)
karyawan terdiri dari potensi (IQ) dan kemampuan reality
(knowledge + skill). Artinya, karyawan dengan IQ di atas rata –
rata (IQ 110 – 120) dengan pendidikan memadai untuk
jabatannya dan terampil dalam mengerjakan tugas sehari–hari,
maka karyawan tersebut akan lebih mudah untuk mencapai
kinerja yang diharapkan. Para karyawan perlu ditempatkan pada
pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man in the
right place, the right man on the right job).
2) Faktor motivasi : motivasi terbentuk dari sikap (attitude)
karyawan dalam menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi
merupakan kondisi yang menggerakkan karyawan yang terarah
untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Simamora dalam Mangkunegara (2005:14)
mengatakan bahwa kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :
1) Fakor individual yang terdiri dari :
a) Kemampuan dan keahlian
b) Latar belakang
c) Demografi
2) Faktor psikologis yang terdiri dari :
a) Persepsi
b) Attitude
c) Personality
d) Pembelajaran
e) Motivasi
3) Faktor organisasi yang terdiri dari :
a) Sumber daya
b) Kepemimpinan
c) Penghargaan
d) Struktur
e) Job design
2. Kemampuan
a. Pengertian kemampuan
Menurut Robbins dan Judge (2008:57) kemampuan (ability)
merupakan suatu kapasitas yang dimiliki setiap individu untuk
mengerjakan tugas dalam suatu pekerjaan tertentu. Kemampuan
individu pada hakekatnya dibagi menjadi dua faktor yaitu kemampuan
intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual, yaitu
kemampuan yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan mental.
Kemampuan fisik, yaitu kemampuan yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan,
dan keterampilan yang sempurna.
Kemampuan merupakan faktor penentu keberhasilan
departemen personalia dalam mempertahankan sumber daya manusia
yang efektif (Handoko, 2001:117). Berdasarkan pedapat di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa kemampuan merupakan potensi yang
dimiliki seseorang dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan
Menurut Abdullah (2014:59) terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kompetensi (kemampuan) seseorang, yaitu :
1) Keyakinan dan nilai–nilai
2) Keterampilan
3) Pengalaman
4) Karakteristik kepribadian
5) Motivasi
6) Emosional
7) Intelektual
8) Budaya organisasi
c. Klasifikasi Kemampuan Kerja
Menurut Fitz dalam Swasto (2000:80) mengemukakan bahwa
kemampuan kerja dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Kemampuan pengetahuan, yaitu suatu pemahaman secara luas
mencakup segala hal yang pernah diketahui berkaitan dengan
tugas–tugas individu dalam organisasi.
2) Kemampuan keterampilan, yaitu kemampuan terkait teknik
pelaksanaan kerja tertentu yang berkaitan dengan tugas individu
dalam organisasi.
3) Kemampuan sikap, yaitu kemampuan yang mempunyai pengaruh
tertentu terhadap tanggapan seseorang kepada orang lain, objek
dan situasi yang berhubungan dengan orang tersebut.

Indikator Kinerja (skripsi dan tesis)

Indikator – indikator kinerja menurut Mangkunegara (2007:75)
yaitu :
1) Kuantitas kerja, yaitu seberapa lama karyawan menyelesaikan
tugas dalam setiap harinya. Kuantitas kerja dapat dilihat dari
kecepatan dalam menyelesaikan kerja ekstra.
2) Kualitas kerja, yaitu seberapa baik seorang karyawan
mengerjakan apa yang harusnya dikerjakan. Dalam hal ini
menyangkut ketepatan, ketelitian, keterampilan, dan kebersihan.
3) Tanggung jawab, yaitu kesadaran karyawan dalam melaksanakan
pekerjaan seperti mengikuti instruksi, inisiatif, hati –hati, dan
kerajinan.
4) Sikap karyawan, dalam hal ini sikap terhadap perusahaan,
pekerjaan, dan kerjasama dengan karyawan lain.

Pengertian Kinerja (skripsi dan tesis)

Mangkunegara (2007:67) mendefinisikan kinerja karyawan
sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seorang karyawan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab
yang diberikan perusahaan kepadanya. Robbins (2008)
mendefinisikan kinerja sebagi ukuran dari hasil yang dicapai
karyawan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan kriteria tertentu
yang disetujui bersama.
Unjuk kerja merupakan hasil kerja yang dihasilkan oleh
karyawan atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai perannya di
dalam organisasi (Hariandja, 2009:195). Berdasarkan pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan suatu hasil yang didapat
karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan perusahaan.

Motivasi Belajar (skripsi dan tesis)

Melakukan perbuatan mengajar secara relative tidak semudah melakukan
kebiasaan yang rutin dilakukan. Oleh karena itu diperlukan adanya sesuatu yang
mendorong kegiatan agar semua tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Hal tersebut
adalah adanya motivasi. Menurut (Oemar Hamalik,2009 ) motivasi dipandang sebagai
suatu proses.
Menurut Mc Donald yang di kutip oleh( Oemar Hamalik,2009) “Motivation is
an energy charge within the person characterized by affective arousal and anticipatory
goal reaction”, yang dapat diartikan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energy
dalam diri ( pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi
untuk mencapai tujuan.Sedangkan menurut winkel motivasi adalah motif yang sudah
menjadi aktif pada saat – saat melakukan percobaan, sedangkan motif sudah ada dalam
diri seseorang jauh sebelum orang itu melalkukan suatu perbuatan. Menurut (
Nasution,2000) motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu.

Kondisi Sosial Ekonomi (skripsi dan tesis)

Keadaan sosial ekonomi setiap orang itu berbeda-beda dan bertingkat, ada yang
keadaan sosial ekonominya tinggi, sedang, dan rendah.
Sosial ekonomi menurut (Abdulsyani,1994) adalah kedudukan atau posisi
seseorang dalam kelompok manusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi,
pendapatan, tingkat pendidikan, jenis rumah tinggal, dan jabatan dalam organisasi,
berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan pengertian keadaan sosial
ekonomi dalam penelitian ini adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat
berkaitan dengan tingkat pendidikan, tingkat pendapatan pemilikan kekayaan atau
fasilitas serta jenis tempat tinggal.

Prestasi Belajar (skripsi dan tesis)

(Santrock,2004) mendefinisikan belajar sebagai “a relatively permanent
influence on behavior, knowledge, and thinking skills, which comes about through
experience.” Pendapat yang sama dikemukakan oleh Woolfolk (2007:206) yang
menyatakan bahwa “learning occurs when experience causes a relatively permanent
change in an individual’s knowledge or behavior.” Kedua pengertian tersebut samasama menyatakan bahwa seseorang dikatakan telah belajar jika terjadi perubahan yang
sifatnya relatif tetap dalam pengetahuan dan tingkah lakunya, yang diperoleh melalui
pengalaman.
Belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental/psikis,
yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan
sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap.
Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. Perolehan perubahan itu
dapat berupa suatu hasil yang baru atau pula penyempurnaan terhadap hasil yang telah
diperoleh (Winkel, 2004).
Prestasi belajar pada hakekatnya merupakan hasil yang telah dicapai seseorang
setelah melakukan usaha belajar. Pada umumnya semakin baik usaha belajar, maka
akan semakin baik pula prestasi yang akan dicapai. Menurut (Sardiman, 2001) “prestasi
belajar adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor
yang mempengaruhi, baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar”,
sedangkan menurut (Tu’u, 2004) “prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau
keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang lazimnya ditunjukkan
dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru”.
Keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu tingkat kecerdasan yang baik, pelajaran sesuai dengan bakat yang dimiliki,
ada minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran, motivasi yang baik dalam
belajar, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran yang dikembangkan guru.
Suasana keluarga yang mendorong anak untuk maju, lingkungan sekolah yang tertib,
Analisis Jalur (Path Analysis) Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi dan Motivasi Belajar
teratur, dan disiplin merupakan pendorong dalam proses pencapaian prestasi belajar
(Tulus Tu`u, 2004).
Slameto (2010:54) mengemukakan bahwa faktor-faktor tersebut dapat
dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu:
1. Faktor-faktor intern
a. Faktor jasmaniah, meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.
b. Faktor psikologis, meliputi faktor intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi,
kematangan, dan kesiapan.
c. Faktor kelelahan, meliputi kelelahan jasmanin dan kelelahan rohani.
2. Faktor-faktor ekstern
a. Faktor keluarga, meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar
belakang kebudayaan.
b. Faktor sekolah, meliputi metode mengajar, relasi guru dengan siswa, relasi siswa
dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, keadaan gedung,
metode belajar, dan tugas rumah.
c. Faktor masyarakat, meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

Komponen Indeks Pembangunan Manusia (skripsi dan tesis)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks (HDI)
merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan
manusia yang dianggap, sangat mendasar, yaitu angka harapan hidup, tingkat
pendidikan, standar hidup layak.
1. Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun
yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup. Penghitungan angka
harapan hidup melalui pendekatan tak langsung (inderect estimation). Jenis
data yang digunakan adalah Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih
Hidup (AMH).
2. Tingkat Pendidikan
Salah satu komponen pembentuk IPM adalah dari dimensi pengetahuan yang
diukur melalui tingkat pendidikan. Dalam hal ini, indikator yang digunakan
adalah rata-rata lama sekolah (means years of schooling) dan angka melek
huruf.
3. Standar Hidup Layak
Dimensi lain dari ukuran kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak.
Dalam cakupan lebih luas, standar hidup layak menggambarkan tingkat
kesejahteraan yang dinikmati oleh penduduk sebagai dampak semakin
membaiknya ekonomi. .

Konsep Pembangunan Manusia (skripsi dan tesis)

Mengutip isi Human Development Report (HDR) pertama tahun 1990, pembangunan manusia
adalah suatu proses untuk memperbanyak pilihan-pilihan yang dimiliki oleh manusia. Diantara
banyak pilihan tersebut, pilihan yang terpenting adalah untuk berumur panjang dan sehat, untuk
berilmu pengetahuan, dan untuk mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar
dapat hidup secara layak.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis
sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui
pendekatan empat dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat;
pengetahuan, ketenagakerjaan dan kehidupan yang layak. Keempat dimensi tersebut memiliki
pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi kesehatan,
digunakan angka harapan hidup waktu lahir. Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan
digunakan gabungan indikator angka melek huruf. Lalu untuk mengukur ketenagakerjaan
digunakan jumlah tenaga kerja. Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan
indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari
rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian
pembangunan untuk hidup layak.
Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan manusia, empat hal pokok
yang perlu diperhatikan adalah produktivitas, pemerataan, kesinambungan,
pemberdayaan (UNDP, 1995: 12). Secara ringkas empat hal pokok tersebut
mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Produktivitas
Penduduk harus dimampukan untuk menigkatkan produktivitas dan untuk
berpatisipasi penuh dalam proses penciptaan pendapatan dan pekerjaan
nafkah. Pembangunan ekonomi, yang dengan demikian merupakan himpunan
bagian dari model pembangunan manusia.
2. Pemerataan
Penduduk harus memiliki kesempatan atau peluang yang sama untuk
mendapatkan akses terhadap semua sumber daya ekonomi dan sosial.
3. Kesinambungan
Akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial harus dipastikan tidak hanya
untuk generasi-generasi yang akan datang. Semua sumber daya fisik,
manusia, dan lingkungan harus selalu diperharui (replenished).
4. Pemberdayaan
Peduduk harus berpartisipasi penuh dalam keputusan dan proses yang akan
menentukan bentuk atau arah kehidupan mereka, serta untuk berpatisipasi dan
mengambil manfaat dari proses pembangunan, karenanya pembangunan
harus penduduk, bukan hanya untuk mereka.

Konsep dan Istilah Dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Dalam analisis jalur dikenal beberapa konsep dan istilah dasar, yaitu:
a. Model jalur adalah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas; perantara
dan tergantung.
b. Jalur penyebab untuk suatu variabel yang diberikan.
c. Variabel exogenous adalah semua variabel yang tidak ada penyebab eksplisitnya atau
dalam diagram tidak ada anak panah yang menuju kearahnya, selain pada bagian
kesalahan pengukuran.
d. Variabel endogenous adalah variabel yang mempunyai anak panah menuju kearah
variabael tersebut.
e. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut ‘beta’ yang menunjukkan
pengaruh dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung dalam suatu model jalur
tertentu.
f. Variabel-variabel exogenous yang dikorelasikan.
g. Koefisien-koefisien jalur dapat digunakan untuk mengurai korelasi-korelasi dalam suatu
model kedalam pengaruh langsung dan tidak langsungyang berhubungan dengan jalur
langsung dan tidak langsung yang direfleksikan dengan anak panah dalamsuatu model
tertentu.
h. Model recursive. Model penyebab yang mempunyai satu arah.
i. Model non-recursive. Model penyebab dengan disertai arah yang memblik (feed back
loop) atau adanya pengaruh sebab-akibat (reciprocal)
j. Direct effect. Pengaruh langsung yang dapat dilihat dari koefisien jalur dari suatu variabel
ke variabel lainnya.
k. Indirect effect. Urutan jalur melalui satu lebih variabel perantara.

Manfaat Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Manfaat model analisis jalur adalah untuk:
a. Penjelasan atau explanation terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang
diteliti.
b. Prediksi nilai variabel endogen berdasarkan nilai variabel eksogen.
c. Faktor dominan yaitu penentu variabel eksogen mana yang berpengaruh dominan
terhadap variabel endogen, juga untuk mekanisme pengaruh jalur-jalur variabel eksogen
terhadap variabel endogen.
d. Pengujian teori menggunakan teori trimming baik untuk uji reliabilitas konsep yang
sudah ada ataupun uji pengembangan konsep baru.

Karakteristik Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Merujuk pendapat yang dikemukakan oleh Land, Ching, Heise, Maruyama, Schumaker, dan
Lomax, Joreskog ( dalam Kusnendi, 2008 : 147 – 148 ). Karakteristik analisis jalur adalah
metode analisis data multivariate dependesi yang digunakan untuk menguji hipotesis
hubungan asimetris yang dibangun atas dasar kajian teori tertentu, dengan tujuan untuk
mengetahui pengaruh langsung atau tuidak langsung seperangkat variabel penyebab terhadap
variabel akibat.
Menguji hipotesis hubungan asimetris yang dibangun atas kajian teori tertentu artinya
yang diuji adalah model yang menjelaskan hubungan kausual antar variabel yang dibangun
atas kajian teori-teori tertentu. Hubungan kausual tersebut secara eksplisit dirumuskan dalam
bentuk hipotesis, baik positif maupun negati

Pengertian Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur dikembangkan pada tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu oleh
Sewall Wright (Joreskog dan Sorbom, 1996; Johnson dan Wichern, 1992). Analisis
merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interprestasi akibat yang
ditimbulkannya. Analisis jalur memiliki kedekatan dengan regresi berganda, sehingga regresi
berganda adalah bentuk khusus analisis jalur. Teknik ini dikenal sebagai model sebab-akibat.
“Analisis jalur ialah salah satu teknik untuk menganalisis hubungan sebab-akibat yang terjadi
pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantung tidak hanya
secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung” (Robert D. Rutherford, 1993). Defenisi
lain mengatakan “Analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda
dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingakat kepentingan dan signifikasi hubungan
sebab-akibat hipotetikal dalam perangkat variabel” (Paul Webley, 1997). Pengertian lain
mengatakan “Analisi jalur adalah model perluasan regresi yang digunakan untuk menguji
keselaran matriks korelasi dengan dua atau lebih model hubunga sebab-akibat yang
dindingkan oleh peneliti (David Garson, 2003).
Model analisis jalur digunakan untuk menganaisis palo hubungsn antar variabel dengan
tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung seperangkat variabel bebas
(exogen) terhadap variabel terikat ( endogen). Oleh sebab itu, rumusan masalah penelitian
dalam kerangka analisis jalur adalah:
a. Apakah variabel eksogen (X1, X2, X3,….., Xn) berpengaruh terhadap variabel
endogen.
b. Berapa besar pengaruh kausal langsung, kausal tidak langsung, kausal total
maupum stimulan seperangkat variabel eksogen (X1, X2, X3,….., Xn) terhadap
variabel endogen.

Indonesian Family Life Survey (IFLS) (skripsi dan tesis)

Indonesia Family Live Survey (IFLS) atau Survei Aspek Kehidupan Rumah
Tangga Indonesia (SAKERTI) adalah survei rumah tangga, komunitas dan fasilitas
yang dilakukan di negara berkembang oleh RAND (Research ANd Development),
bekerja sama dengan lembaga penelitian di masing–masing survei. Selain di
Indonesia survei ini juga dilakukan dibeberapa Negara berkembang lainnya seperti
Malaysia (1976-1977, 1988-1989), Guatemala (1995) dan Bangladesh (1996).
IFLS merupakan survei longitudinal rumah tangga Indonesia dan merupakan survei
paling komprehensif yang pernah dilakukan di Indonesia. Survei ini adalah studi
panel rumah tangga, individu dan fasilitas umum yang berlangsung secara
terintegrasi lima gelombang semenjak tahun 1993 di 24 provinsi di Indonesia yaitu
provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bangka
Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, seluruh provinsi di Jawa, Bali, NTB, seluruh
provinsi di Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. IFLS gelombang 5
dilakukan pada akhir 2014 dengan jumlah 15.900 rumah tangga dan 709 komunitas
dengan jumlah individu dalam rumah tangga sebanyak 50.000 individu yang
merupakan kolaborasi dari RAND dan Survey METER (Strauss, Witoelar, &
Bondan, 2016: 4).
Sampel awal dari rumah tangga dan masyarakat dimulai pada tahun 1993
(IFLS-1) sebagai baseline di 13 provinsi Indonesia mencakup 321 area pencacahan
(enumeration areas) dengan 7200 rumah tangga dan 16.300 individu. Sampel IFLS
mencapai 83% dari jumlah populasi pada tahun 1993. Kemudian kembali di survei
pada akhir 1997 (IFLS-2) dengan persentase responden yang dapat dihubungi
mencapai 94,4%, sampel mencapai 7.600 rumah tangga dan 25.000 individu. Pada
tahun 1998, 25% dari sampel atau sekitar 2000 rumah tangga kembali di survei
pada akhir 1998 (IFLS2+1998). Namun data tersebut tidak di publikasikan untuk
umum. RAND melakukan survei IFLS2+1998 setahun setelah IFLS-2 bertujuan
untuk melihat dampak krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada kurun waktu
1997 sampai 1998. Tahun 2000 kembali dilakukan survei (IFLS-3) dengan
persentase responden yang dapat dihubungi mencapai 95.3% dengan sampel 10.400
rumah tangga dan 31.000 individu. Persentase responden yang dapat dihubungi
kembali dengan nilai tinggi juga dapat dipertahankan pada IFLS-4 tahun 2007
dengan jumlah 13.500 rumah tangga dan 43.000 individu yang diwawancarai.
Jumlah peningkatan sampel menjadi 15.900 rumah tangga dan 50.000 individu
diwawancarai pada IFLS-5 tahun 2014. Persentase responden yang dapat dihubungi
mencapai 90,5% dari IFLS 1, 2, 3 dan 4. Serta 92% responden yang dapat dihubungi
dari rumah tangga asli pada IFLS-1 (Strauss, Witoelar, & Bondan, 2016: 50).
Pada tahun 2012, RAND bersama Survey METER meluncurkan IFLS-East
untuk melihat kondisi provinsi-provinsi Indonesia bagian timur. Survei
mengumpulkan data di tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat dimana
mereka tinggal serta kesehatan dan fasilitas pendidikan pada komunitas tersebut.
Survei ini dilakukan pada sekitar 10.000 individu dan 2.500 rumah tangga di
komunitas (wilayah pencacahan) yang tersebar di tujuh provinsi di Indonesia
bagian timur yaitu Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara,
Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (Sikoki et al, 2013: 1).

Dekomposisi Hubungan Antar Variabel (skripsi dan tesis)

Model dekomposisi adalah model yang menekankan pada pengaruh yang
bersifat kausalitas antar variabel, baik pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung dalam kerangka analisis jalur. Model dekomposisi pengaruh kausal antar variabel dibedakan menjadi tiga sebagai berikut (Alwin & Hauser, 1975: 38-39):
a. Pengaruh Langsung (Direct Effect)
Pengaruh langsung adalah pengaruh dari variabel X ke variabel Y langsung
tanpa melalui variabel lain. Sebagai contoh pada Gambar 2.1 pengaruh
langsung dari 𝑋1 ke 𝑋3 ditunjukan oleh 𝜌31
b. Pengaruh Tidak Langsung ( Indirect Effect)
Pengaruh tak langsung terjadi jika variabel eksogen mempengaruhi variabel
endogen melalui variabel ketiga. Sebagai contoh pada Gambar 2.1 pengaruh
tak langsung dari 𝑋1 ke 𝑋5 ditunjukan oleh anak panah satu arah dari 𝑋1 ke 𝑋3
dan 𝑋3 ke 𝑋5. Pengaruh tak langsung dari 𝑋1 ke 𝑋5 dapat dituliskan 𝜌31 × 𝜌53.
c. Pengaruh Total (Total Effect)
Pengaruh total adalah jumlah dari pengaruh langsung dan pengaruh tidak
langsung. Contoh dari Gambar 2.1 di atas adalah pengaruh total dari 𝑋3 ke
𝑋5 adalah 𝜌53 sama dengan pengaruh langsung dari 𝑋3 ke 𝑋5 karena tidak
mempunyai pengaruh tidak langsung melalui variabel lain.
5. Langkah-Langkah Analisis Jalur
Menurut Hair et al. (1998: 654-655), dalam analisis jalur diperlukan langkahlangkah tertentu yang harus dilakukan. Langkah-langkah tersebut adalah
22
a. Pengembangan Model Berbasis Teori
Langkah pertama dalam pengembangan model adalah pencarian atau
pengembangan sebuah model yang mempunyai justifikasi teoritis yang kuat.
Model yang dirancang merupakan model-model yang bisa dinyatakan ke dalam
bentuk persamaan dan mengandung hubungan kausal di dalamnya. Mengingat
bahwa model tersebut dikembangkan untuk menjawab permasalahan
penelitian yang berbasis pada teori dan konsep, maka dinamakan model
hipotik.
b. Konversi Diagram Jalur Kedalam Persamaan Struktural
Setelah model teoritis dibangun maka langkah selanjutnya adalah
mengembangkan model tersebut dalam diagram jalur. Diagram jalur tersebut
dapat mempermudah melihat hubungan-hubungan kausalitas yang ingin diuji.
Setelah dituangkan dalam diagram jalur maka dikonversi ke dalam persamaan
struktural.
c. Pengujian model
Pengujian pada model dilakukan untuk melihat apakah model yang
terbentuk sudah cukup signifikan. Alat uji paling fundamental untuk mengukur
kesesuaian model adalah χ2
. Namun, uji χ2
lebih sensitif terhadap ukuran
sampel yang besar. Oleh karena itu Hu dan Bentler (1999) merekomendasikan
Comparative Fit Index (CFI) untuk mengevaluasi kecocokan model relatif
terhadap model dasar lainnya. Semakin besar nilai CFI maka model semakin
baik, dengan maksimal nilai 1.
𝐶𝐹𝐼 = 1 −
max[𝑇𝑇 − 𝑑𝑓𝑇]
max[(𝑇𝑇 − 𝑑𝑓𝑇) , (𝑇𝐵 − 𝑑𝑓𝐵),0]
23
dengan,
𝑇𝑇 : statistik 𝑇 untuk model target
𝑑𝑓𝑇 : 𝑑𝑓 untuk model target
𝑇𝐵 : statistik 𝑇 untuk model target awal
𝑑𝑓𝐵 : 𝑑𝑓 untuk model target awal
Dengan ukuran sampel ≥ 250 nilai CFI yang disarankan adalah ≥ 0.96
(Yu, 2002: 40). Pada data kategorik, Yu dan Muthén (2002)
merekomendasikan Weighted Root Mean Square (WRMR), bukan
Standardized Root Mean Square Residual (SRMR).
d. Interprestasi Hasil Komputasi
Langkah terakhir adalah menginterpretasikan model. Apabila rangkaian
dari analisis jalur telah dilakukan maka dapat dimanfaatkan sebagai
1) Prediksi nilai variabel endogen berdasarkan nilai variabel eksogen
2) Penjelasan terhadap fenomena atau permasalahan yang dipelajari atau
diteliti

Diagram Jalur (skripsi dan tesis)

Model diagram yang biasanya digunakan untuk mengetahui hubunganhubungan kausalitas antar variabel yang diteliti biasanya menggunakan diagram jalur (path diagram). Salah satu komponen yang penting dalam analisis jalur yaitu diagram jalur. Diagram jalur digunakan untuk mengetahui hubungan kausalitas antar variabel ke dalam bentuk gambar sehingga mudah untuk dibaca. Sebagai ilustrasi misal ada variabel 𝑋1, 𝑋2,𝑋3, 𝑋4 dan 𝑋5 dan digambarka  Variabel endogen adalah 𝑋3, 𝑋4 dan 𝑋5 dan variabel eksogen adalah 𝑋1 dan 𝑋2 sedangkan kurva dan anak panah yang menghubungkan variabel 𝑋1 dan 𝑋2 mengindikasikan hubungan korelasional di antara variabel tersebut. Karena variabel eksogen 𝑋1 dan 𝑋2merupakan penyebab maka variabel ini tidak memiliki error. Sebaliknya variabel endogen yang merupakan akibat memiliki error berturut-turut 𝜀1, 𝜀2, 𝜀3

Definisi Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur atau path analysis dikembangkan pertama kali oleh Sewall Wright pada tahun 1934. Bohrnstedt mengartikan analisis jalur sebagai “a technique for estimating the effect’s a set of independent variabels has on a  dependent variabel from a set of observed correlations, given a set of hypothesized causal asymetric relatin among the variabels”. Analisis jalur merupakan bagian dari model regresi yang dapat digunakan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lainnya. Terdapat dua jenis variabel yang digunakan dalam analisis jalur ini, yaitu variabel independen atau yang dikenal dengan nama variabel eksogen yang disimbolkan dengan huruf 𝑋1,𝑋2, … , 𝑋𝑚 dan variabel dependen atau variabel endogen yang disimbolkan dengan huruf 𝑌1, 𝑌2, … , 𝑌𝑚. Sedangkan tujuan analisis jalur yaitu A method of measuring the direct effect influence along each separate path in such a system and thus of finding the degree to which variation of a given effect is determined by each particular cause. The method depend on the combination of knowledge of the degree of correlation among the variables in a system with such knowledge as many possessed of the casual relations (Maruyama, 1998: 16)

Model Regresi (skripsi dan tesis)

Model regresi menspesifikasikan hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen, sehingga salah satu variabel dapat diduga dengan variabel
lainnya. Model regresi merupakan suatu cara untuk melihat kecenderungan
berubahnya variabel dependen. Model regresi dasar yang melibatkan satu variabel
independen disebut dengan model regresi sederhana.. Model regresi sederhana
dapat ditulis sebagai berikut
𝑌𝑖 = 𝛽0 + 𝛽1𝑋𝑖 + 𝜀𝑖
dengan,
𝑌𝑖
: nilai variabel dependen pada observasi ke-𝑖
𝛽0, 𝛽1 : parameter koefisien regresi
𝑋𝑖
: nilai variabel independen pada observasi ke-𝑖
12
𝜀𝑖
: error pada observasi ke-𝑖 dengan E(𝜀𝑖
)=0, 𝑉𝑎𝑟(𝜀𝑖) = 𝜎
2 dan 𝜀𝑗
tidak berkorelasi sehingga 𝐶𝑜𝑣(𝜀𝑖
, 𝜀𝑗) = 0 untuk semua nilai 𝑖 dan
𝑗, 𝑖 ≠ 𝑗.
Model regresi sederhana dapat diperluas menjadi model regresi berganda.
Model regresi ganda adalah model regresi yang menggunakan lebih dari satu
variabel independen yang disusun dalam satu persamaan. Model regresi ganda
dapat ditulis
𝑌𝑖 = 𝛽0 + 𝛽1𝑋1𝑖 + ⋯ + 𝛽𝑘𝑋𝑘𝑖 + 𝜀𝑖 (2.1)
dengan,
𝑌𝑖
: nilai variabel dependen pada observasi ke-𝑖
𝛽0, 𝛽1…𝛽𝑘: parameter koefisien regresi
𝑋𝑘𝑖 : nilai variabel independen ke-𝑘 pada observasi ke-𝑖
𝜀𝑖
: error pada observasi ke-𝑖 dengan E(𝜀𝑖
)=0, 𝑉𝑎𝑟(𝜀𝑖) = 𝜎
2 dan 𝜀𝑗
tidak berkorelasi sehingga 𝐶𝑜𝑣(𝜀𝑖
, 𝜀𝑗) = 0 untuk semua nilai 𝑖 dan
𝑗, 𝑖 ≠ 𝑗.
Analisis regresi tidak hanya digunakan untuk data kuantitatif saja, tetapi juga
bisa digunakan untuk data kualitatif. Penggunaan variabel dummy dapat dilakukan
untuk analisis regresi dengan data kualitatif. Jika terdapat 𝑘 variabel maka terdapat
𝑘 − 1 variabel dummy (𝐷𝑖
, 𝑖 = 1,2, … , 𝑘) (Hayes & Preacher, 2014: 456).

Analisis Multivariat (skripsi dan tesis)

Analisis statistika multivariat merupakan analisis statistika yang digunakan untuk menguji hubungan antar variabel secara bersamaan. Apabila hasil pengamatan tersebut merupakan kumpulan beberapa variabel acak yang saling berkorelasi maka analisis semacam ini akan diperlukan untuk mengamati gejala yang mungkin terjadi dari data hasil pengukuran tersebut. Oleh karena itu, analisis tersebut dinamakan analisis multivariat (Johnson & Wichern, 2007: 1). Analisis statistika multivariat muncul sebagai jawaban atas kekurangan dari analisis statistika univariat pada pengamatan yang merupakan kumpulan dari beberapa variabel acak. Apabila dianalisis dengan univariat maka hasil yang diperoleh mungkin menyesatkan. Hal ini karena analisis univariat melakukan uji terhadap masing-masing variabel acak secara terpisah dan tidak memperhitungkan kemungkinan adanya korelasi antara beberapa variabel acak. Analisis multivariat melibatkan data hasil pengukuran secara bersamaan, sehingga sebagian besar teknik analisis multivariat ini mensyaratkan operasi matriks dalam setiap perhitungannya

Model Persamaan Struktural (skripsi dan tesis)

Persamaan struktural atau juga disebut model struktural yaitu apabila setiap variabel endogen (endogenous) secara unik keadaannya ditentukan oleh seperangkat variabel eksogen (exogenous). Selanjutnya gambar meragakan struktur hubungan kausal antar variabel disebut diagram jalur. Jadi, persamaan ini Y=F(X1; X2; X3) dan Z=F(X1; X3;Y) merupakan persamaan struktural karena setiap persamaan menjelaskan hubungan kausal yaitu variabel eksogen X1, X2, dan X3 terhadap variabel endogen Y dan Z

Persamaan model struktural untuk diagram jalur, yaitu: Jadi, secara sistematik analisis jalur mengikuti pola model struktural, sehingga langkah awal untuk mengerjakan atau penerapan model analisis jalur yaitu dengan merumuskan persamaan struktural dan diagram jalur yang berdasarkan kajian teori tertentu yang telah diuraikan.

Model Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Sebelum menghitung koefisien jalur yang didasarkan pada koefisien regresi, diagram jalur terlebih dahulu dibuatkan dengan lengkap. Adapun model diagram jalur dan persamaan struktural yang paling sederhana sampai dengan yang lebih rumit di antaranya:
 1. Model Regresi Berganda Model ini merupakan pengembangan regresi berganda dengan menggunakan dua variabel exogenous, yaitu X1 dan X2 dengan satu variabel endogenous Y.

2. Model Mediasi Model mediasi atau perantara di mana variabel Y memodifikasi pengaruh variabel X terhadap variabel Z
3. Model Kombinasi Model ini merupakan kombinasi model regresi berganda dan model mediasi, yaitu variabel X berpengaruh terhadap variabel Z secara langsung dan secara tidak langsung mempengaruhi variabel Z melalui variabel Y
4. Model Kompleks Model ini merupakan model yang lebih kompleks, yaitu variabel X1 secara langsung mempengaruhi variabel Y2 dan melalui variabel X2 secara tidak langsung mempengaruhi Y2, sementara variabel Y2 juga dipengaruhi oleh variabel Y
5. Model Rekursif dan Model Non RekursifDari sisi pandang arah sebab-akibat, ada dua tipe model jalur, yaitu rekursif dan non rekursif. Model tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: – Anak panah menuju satu arah, yaitu dari 1 ke 2, 3, dan 4; dari 2 ke 3 dan dari 3 menuju ke 4. Tidak ada arah yang terbalik, misalnya dari 4 ke 1. – Hanya terdapat satu variabel exogenous, yaitu 1 dan tiga variabel endogenous, yaitu 2, 3, dan 4. Masing-masing variabel endogenous diterangkan oleh variabel 1 dan error (e1, e2, e3). – Satu variabel endogenous dapat menjadi penyebab variabel endogenous lainnya, tetapi bukan ke variabel exogenous. Model non rekursif terjadi jika anak panah tidak searah atau terjadi arah yang terbalik (looping), misalnya dari 4 ke 3 atau dari 3 ke 1 dan 2, atau bersifat sebabakibat (reciprocal cause). Ada tiga tipe model dalam model rekursif dan non rekursif, yaitu:
a). Model persamaan satu jalur
b). Model persamaan dua jalur
c). Model persamaan tiga jalur

Beberapa Istilah dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Model jalur adalah ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas, perantara dan terikat. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan anak panah. Anak panah-anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebabakibat antara variabel-variabel bebas (exogenous) atau perantara dengan satu variabel dengan variabel terikat atau lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan (variable residue) dengan semua variabel terikat (endogenous) masingmasing. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan variabelvariabel exogeneus. Variabel exogenous dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak ada penyebab-penyebab eksplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel exogenous dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah dengan kepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut. Variabel endogenous ialah variabel yang mempunyai anak-anak panah menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk di dalamnya ialah mencakup semua variabel perantara dan terikat. Variabel perantara endogenous   mempunyai anak panah yang menuju ke arahnya dan dari arah variabel tersebut dalam suatu model diagram jalur. Adapun variabel tergantung hanya mempunyai anak panah yang menuju ke arahnya. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut „beta‟ yang menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel terikat dalam suatu model jalur tertentu. Oleh karena itu, jika suatu model mempunyai dua atau lebih variabel-variabel penyebab, maka koefisien-koefisien jalurnya merupakan koefisien-koefisien regresi parsial yang mengukur besarnya pengaruh satu variabel terhadap variabel lain dalam suatu model jalur tertentu yang mengontrol dua variabel lain sebelumnya dengan menggunakan data yang sudah distandarkan atau matriks korelasi sebagai masukan. Jenis pengaruh dalam analisis jalur yaitu Direct Effect (DE) dan Indirect Effect (IE). Direct Effect (DE) adalah pengaruh langsung yang dapat dilihat dari koefisien dari satu variabel ke variabel lainnya, dan Indirect Effect (IE) adalah urutan jalur melalui satu atau lebih variabel perantara

Manfaat Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Manfaat model analisis jalur di antaranya adalah: 1. Untuk penjelasan terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang diteliti.   2. Prediksi nilai variabel terikat (Y) berdasarkan nilai variabel bebas (X), dan prediksi dengan analisis jalur ini bersifat kualitatif. 3. Faktor dominan terhadap variabel terikat (Y) dapat digunakan untuk menelusuri mekanisme pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel (Y). 4. Pengujian model mengggunakan teori trimming baik untuk uji reliabilitas konsep yang sudah ada ataupun uji pengembangan konsep baru

Asumsi-asumsi Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Sebelum melakukan analisis, ada beberapa prinsip dasar atau asumsi yang mendasari analisis jalur, yaitu: 1. Pada model analisis jalur, hubungan antar variabel adalah bersifat linier, adaptif, dan bersifat normal. 2. Hanya sistem aliran kausal ke satu arah artinya tidak ada arah kausalitas yang berbalik. 3. Variabel terikat (endogen) minimal dalam skala ukur interval dan ratio. 4. Menggunakan sampel probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel untuk memberikan peluang yang sama pada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. 5. Variabel observasi diukur tanpa kesalahan (instrumen pengukuran valid dan reliabel) artinya variabel yang diteliti dapat diobservasi secara langsung. 6. Model yang dianalisis dispesifikasikan (diidentifikasi) dengan benar berdasarkan teori-teori dan konsep-konsep yang relevan artinya model teori yang dikaji atau diuji dibangun berdasarkan kerangka teoritis tertentu yang mampu menjelaskan hubungan kausalitas antar variabel yang diteliti.

Pengertian Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur dikenal dengan path analysis dikembangkan pertama tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu Sewall Wright. Analisis jalur sebenarnya sebuah teknik yang merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interpretasi akibat yang ditimbulkannya. Teknik ini juga dikenal sebagai model sebab-akibat (causing modeling). Definisi analisis jalur, di antaranya: “Analisis jalur ialah suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantungnya tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung” (Robert D. Rutherford, 1993). Definisi lain mengatakan “Analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingkat kepentingan (magnitude) dan signifikansi (significance) hubungan sebab akibat hipotetikal dalam seperangkat variabel” (Paul Webley, 1997). Model analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variabel bebas (eksogen) terhadap variabel terikat (endogen). Model analisis jalur yang dibicarakan adalah pola hubungan sebab akibat. Oleh karena itu rumusan masalah penelitian dalam kerangka analisis jalur hanya berkisar pada variabel bebas (X1, X2, …, Xk) berpengaruh terhadap variabel terikat Y, atau berapa besar pengaruh kausal langsung, kausal tidak langsung,   kausal total maupun simultan seperangkat variabel bebas (X1, X2, …, Xk) terhadap variabel terikat Y

Definisi Efisiensi (skripsi dan tesis)

Menurut S.P Hasibuan (1984) yang mengutip pernyataan H.Emerson adalah bahwa efisiensi merupakan hasil terbaik antara input (masukan) dan ouput (keluaran), efisiensi adalah sesuatu yang kita kerjakan berkaitan dengan menghasilkan hasil yang optimal dengan tidak membuang banyak waktu dalam proses pengerjaannya. Menurut Makmun (2002) dan Giatman (2006), Efisiensi berhubungan dengan seberapa baik kita menggunakan sumber daya yang ada untuk menyelesaikan suatu hasil.Sedangkan, menurut Agus Maulana (1997) Efisiensi diartikan sebagai kemampuan suatu unit usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan, efisiensi selalu dikaitkan dengan tujuan organisasi yang harus dicapai oleh perusahaan. Berdasarkan pengertian diatas, maka efisiensi dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara masukan (input) dengan keluaran (output), atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari satu input yang digunakan

Sturktur Organisasi dan Fungsi (skripsi dan tesis)

Seperti halnya organisasi yang lain, Toko Aktual Komputer Sumedang juga
mempunyai struktur organisasi beserta fungsinya, karena pengorganisasian itu sendiri
mempunyai arti adanya suatu penetapan struktur peran melalui penentuan aktivitasaktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, pendelegasian
wewenang untuk menjalankannya, pengkoordinasian hubungan wewenang dan
informasi baik horizontal maupun vertikal serta bila ingin peran organisasi itu berarti
bagi orang lain, maka harus ada tujuan yang bisa dibuktikan, konsep yang jelas dari
batas kewajiban atau aktivitas yang terlibat, batas-batas untuk menentukan
kebijaksanaan yang dimengerti atau wewenang, dan harus disediakan informasi serta
alat lain sebagai sumber-sumber yang penting bagi hasil kerja dalam suatu peran.
Dengan adanya organisasi akan menunjukkan gambaran secara otomatis
hubungan kerjasama antara yang satu dengan yang lainnya di dalam satu organisasi.
Berikut ini adalah gambaran stuktur organisasi dan kewenangan di Toko Aktual
Komputer yaitu: Fungsi dari tiap-tiap bagian adalah sebagai berikut:
a. Pemilik adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki perusahaan.
Para pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut.
b. Operational adalah proses validasi yang digunakan untuk menentukan keberadaan,
kuantitas dan untuk menghindari masalah yang terkait untuk menentukan hal-hal
dalam esensi intrinsik.
c. Accounting adalah sistem akuntansi yang berkaitan dengan ketentuan dan
penggunaan informasi akuntansi untuk manajer atau manajemen dalam suatu
organisasi dan untuk memberikan dasar kepada manajemen untuk membuat
keputusan bisnis yang akan memungkinkan manajemen akan lebih siap dalam
pengelolaan dan melakukan fungsi kontrol.
d. Bagian Penjualan adalah bentuk pemberian yang diberikan oleh produsen baik
terhadap pelayanan barang yang diproduksi maupun terhadap jasa yang ditawarkan
guna memperoleh minat konsumen, dengan demikian pelayanan mempengaruhi
minat konsumen terhadap suatu barang atau jasa dari pihak perusahaan yang
menawarkan produk atau jasa.
e. Cashier adalah orang yang bertugas untuk menangani keuangan suatu organisasi
baik organisasi yang mempunyai tujuan komersial maupun yang non-komersial.
f. Staff Accounting
a. Membuat arsip
b. Melakukan tagihan kepada customer
c. Membuat laporan keuangan

Keuntungan Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Keuntungan dari metode AHP dibandingkan yang lain, yaitu:
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai pada
sub-kriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai
kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan.
3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambil
keputusan.
4. AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi objektif dan
multi objektif yang berdasar pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam
hirarki.

Prosedur Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Dalam pengambilan keputusan dengan metode AHP, prosedur atau langkahlangkah dalam metode AHP menurut kursini (2007:135), adalah:
1. Mengidentifikasi masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun
hiearki dari permaslahan yang dihadapi.
2. Menentukan prioritas elemen
a. Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen berpasangan sesuai kriteria
yang diberikan.
b. Matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk
mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang
lainnya.
3. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandngan berpasangan disintesis untuk
memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini
adalah:
a. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
b. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk
memperoleh normalisasi matriks.
c. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah
elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata.
4. Mengukur Konsistensi
Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah sebagai berikut:
a. Kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relative elemen
pertama, nilai pada kolom keduadengan prioritas relative elemen kedua dan
seterusnya.
b. Jumlahkan setiap baris
c. Hasil dari penjumahan baris dibagi dengan elemen prioritas relative yang
bersangkutan.
d. Jumlahkan hsil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya
disebut λ maks.
5. Hitung Consistency Index (CI) dengan rumus:
CI = (λmax – n)/n
Keterangan:
n = banyaknya elemen.
6. Hitung Rasio Konsistensi/Consistency Ratio (CR) dengan rumus:
CR = CI/RI
Keterangan:
CR = Consistency Ratio
CI = Consistency Index
RI = Index Random Consistency
7. Memeriksa konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data
judgment harus diperbaiki. Namun jika Rasio Konsistensi (CI/CR) kurang atau
sama dengan 0,1, maka hasil diperhitungkan bisa dinyatakan benar.

Prinsip Dasar Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Menurut Sudaryono (2010:35), dalam menyelesaikan permasalahan dengan AHP
ada beberapa prinsip yang harus dipahami, diantaranya adalah:
1. Membuat hierarki sistem yang kompleks bisa dipahami dengan memecahnya
menjadi elemen-elemen pendukung, menyusun elemen secara hierarki, dan
menggabungkannya.
2. Penilaian kriteria dan alternatif kriteria dan alternatif dilakukan dengan
perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan skala 1
sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat.
3. Menentukan prioritas untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan
perbandingan berpasangan. Nilai-nilai perbandingan relatif dari seluruh alternatif
kriteria bisa disesuaikan dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan
bobot dan prioritas. Bobot dan prioritas dihitung dengan memanipulasi matriks atau
melalui penyelesaian persamaan matematika.
4. Konsistensi logis konsistensi memiliki dua makna. Pertama objek-objek yabg serupa
bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Kedua, menyangkut
tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria tertentu.

Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Menurut Nugeraha (2017:114) mengemukakaan bahwa, “AHP adalah sebuah konsep untuk pembuatan keputusan berbasis multicriteria (kriteria yang banyak). Beberapa kriteria yang dibandingkan satu dengan lainnya (tingkat kepentingannya) adalah penekanan utama pada konsep AHP ini.” AHP menjadi sebuah metode penentuan atau pembuatan keputusan, yang menggabungkan prinsip-prinsip subjektifitas dan objektifitas si pembuat sistem penunjang keputusan atau keputusannya. AHP juga merupakan salah satu metode untuk membantu menyusun suatu prioritas dari berbagai pilihan dengan menggunakan berbagai kriteria. Karena sifatnya yang multikriteria, AHP cukup banyak digunakan dalam penyusunan prioritas. Sebagai contoh untuk menyusun prioritas penelitian, pihak manajemen lembaga penelitian sering menggunakan beberapa kriteria seperti dampak penelitian, biaya, kemampuan SDM, dan waktu pelaksanaan. Di samping bersifat multikriteria, AHP juga didasarkan pada suatu proses yang terstruktur dan logis. Pemilihan atau penyusuna prioritas dilakukan dengan suatu prosedur yang logis dan terstruktur. Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli-ahli yang representatif berkaitan dengan alternatif-alternatif yang disusun prioritasnya. Metode AHP merupakan salah satu model untuk pengambilan keputusan yang dapat membantu kerangka berfikir manusia. Metode ini mula-mula dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahuan 70- an. Dasar berpikirnya metode AHP adalah proses membentuk skor secara numerik untuk menyusun rangking setiap alternatif keputusan berbasis pada bagaimana sebaiknya alternatif itu dicocokkan dengan kriteria pembuat keputusan

Langkah dan Prosedur Metode Analytical Hierarcy Process (skripsi dan tesis)

Untuk memecahkan suatu masalah dengan menggunakan metode
Analytical Hierarchy Process diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mendefinisikan permasalahan dan menentukan tujuan.
b. Menyusun masalah kedalam suatu struktur hierarki sehingga
permasalahan yang komplek dapat ditinjau dari sisi yang detail
dan terstruktur.
c. Menyusun prioritas untuk tiap elemen masalah.
d. Melakukan pengujian konsistensi terhadap perbandingan antar
elemen yang didapatkan pada tiap tingkat hierarki.
Perhitungan Metode Analytical Hierachy Process Saaty(1993)
menjelaskan bahwa elemen-elemen pada setiap baris dari matrik persegi
merupakan hasil perbandingan berpasangan. Setiap matrik pairwise
comparison dicari eigenvektornya untuk mendapat local priority

Tahapan Metode Analytical Hierarcy Process (skripsi dan tesis)

Menurut Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani, 1998. Metode
Analytical Hierarchy Process dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
Dalam tahap ini terlebih dahulu menentukan masalah yang akan
dipecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah
yang ada kemudian tentukan solusi yang mungkin cocok bagi
masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih
dari satu. Solusi tersebut nantinya dikembangkan lebih lanjut
dalam tahap berikutnya.
2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.
Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun
level hirarki yang berada dibawahnya yaitu kriteria-kriteria yang
cocok untuk menilai alternatif yang diberikan dan menentukan
alternatif tersebut. Tiap criteria mempunyai intensitas yang
berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika
mungkin diperlukan).
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang
menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen
terhadap tujuan atau criteria yang setingkat di atasnya. Matriks
yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat
untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang
mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin
dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan
untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks
mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi
dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment
dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan
suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai
proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah criteria dari level
paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di
bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya A1,
A2, A3, A4, A5, An.
4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah
penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah
banyaknya elemen kriteria yang dibandingkan. Hasil
perbandingan dari masing-masing elemen berupa angka dari 1
sampai 9 yang mengartikan perbandingan tingkat kepentingan
suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan
dengan dirinya sendiri maka hasil perbandingan diberi nilai 1.
Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisa membedakan
intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada
sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan 5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya. Jika tidak
konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan
berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk
penentuan prioritas elemen elemen pada tingkat hirarki terendah
sampai mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara
menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks, membagi setiap
nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk
memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai
dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk
mendapatkan rata-rata.
8. Memeriksa konsistensi hierarki.
Yang diukur dalam Metode Analytical Hierarchy Process adalah
rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi
yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar
menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit
untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan
kurang dari atau sama dengan 10%

Analytical Hierarcy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Analytical Hierarcy Proses merupakan salah satu metode untuk membantu
pengambil keputusan dalam mengambil keputusan sesuai dengan criteria
atau syarat yang telah ditentukan, dan criteria pengambilan keputusan
tersebut merupakan criteria yang bermacam-macam.
Metode Analytical Hierarcy Process (AHP) bersifat multi criteria karena
menggunakan banyak criteria dalam penyusunan suatu prioritas system
pendukung keputusan.
Disamping sifatnya yang multi criteria, metode AHP juga didasarkan pada
suatu proses yang logis dan terstruktur, karena penyusunan prioritasnya
dilakukan dengan menggunakan prosedur yang logis dan terstruktur.
Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli yang representative yang menyusun
prioritasnya.
Metode Analytical Hierarcy Process adalah salah satu metode pengambil
keputusan yang dapat membantu berfikir manusia. Metode ini
dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada awal tahun 1970-an. Proses
berfikir metode ini adalah membentuk score secara numeric untuk
menyusun cara alternative setiap pengambilan keputusan dimana keputusan
tersebut dicocokkan dengan criteria pembuat keputusan (Fariz, 2010).
Peralatan proses pengambilan keputusan pada metode Analytical Hierarcy
Process yang utama adalah sebuah hierarki fungsional dengan input
utamanya pendapat manusia. Dengan hierarki, masalah yang tidak
terstruktur dapat dipecahkan kedalam kelompok-kelompoknya yang
kemudian kelompok tersebut diatur kedalam suatu bentuk hierarki.
Dalam penjabaran hierarki tujuan, tidak ada pedoman pasti tentang
bagaimana pengambil keputusan menjabarkannnya menjadi tujuan yang
lebih rendah. Pengambil keputusan menentukan penjabaran tujuan itu
berhenti dan memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang didapat jika
tujuan tersebut terperinci lebih lanjut. Berikut ini adalah beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam penjabaran hierarki tujuan, yaitu:
a. Pada saat penjabaran tujuan kedalam subtujuan harus memperhatikan
setiap tujuan yang akan tercakup dalam subtujuan yang lebih rinci.
b. Meskipun hal pertama dapat terpenuhi, tapi juga perlu menghindari
terjadinya pembagian yang terlalu banyak.
c. Karena itu, sebelum menetapkan tujuan harus dapat menjabarkan
hierarki sampai ke tujuan yang paling rendah dengan cara
mengujinya.
Dalam menyelesaikan permasalahan dengan Analytical Hierarchy Process
(AHP) ada beberapa prinsip yang harus dipahami, di antaranya adalah
sebagai berikut:
1. Decomposition (membuat hierarki)
Dalam menyusun hirarki harus menentukan tujuan melalui kriteriakriteria yang dipakai untuk menilai alternatif-alternatif yang ada. Setiap
kriteria terkadang memiliki subkriteria dibawahnya yang memiliki nilai
intensitas masing-masing 2. Comparative judgment (penilaian kriteria dan alternatif)
Kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan.
Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah
skala yang dipakai dalam penilaiannya.
3. Synthesis of priority (menentukan prioritas)
Menentukan prioritas setiap kriteria digunakan sebagai bobot dari criteria
tersebut dalam pengambilan keputusan. Metode Analytical Hierarchy
Process (AHP) melakukan analisis prioritas setiap kriteria dengan metode
perbandingan berpasangan antara dua elemen sehingga semua elemen
yang ada akan tercakup dalam perbandingan.
4. Logical Consistency (konsistensi logis)
Konsistensi memiliki dua makna. Yang pertama yaitu objek-objek yang
serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Yang kedua yaitu
menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria
tertentu. (Kosasi, Sandy. 2002).
Metode Analytical Hierarcy Process (AHP) sering digunakan sebagai
metode pemecah masalah dibanding dengan metode yang lain. Berikut ini
adalah beberapa kelebihan penggunaan metode AHP (menurut Suryadi dan
Ramdhani, 1998):  a. Berstruktur hierarki, sebagai dampak dari criteria yang dipilih, sampai
pada subkriteria yang paling dalam.
b. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi
berbagai criteria dan cara alternative yang dipilih oleh pengambil
keputusan.
c. Memperhitungkan daya tahan dan hasil analisis pengambil keputusan.
Karena Metode AHP memperhitungkan tingkat validitas sampai dengan
batas toleransi inkonsistensi dengan berbagai kriteria dan cara alternatif yang
dipilih oleh pengambil keputusan, metode AHP juga mempunyai kemampuan
untuk memecahkan masalah yang multi criteria yang didasarkan pada
perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hierarki, sehingga menjadi
model pengambil keputusan yang komprehensif.
Dengan demikian, terdapat empat aksioma-aksioma yang terkandung
dalam model AHP yaitu :
1. Reciprocal Comparison
Dalam pengambilan keputusan harus dapat membuat perbandingan dan
menyatakan pendapatnya. Pendapat tersebut harus memenuhi syarat yaitu
apabila A lebih penting daripada B dengan sekala x, maka B lebih penting
daripada A dengan sekala 1/x.
2. Homogeneity
Pendapat seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala terbatas, elemenelemenya dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. Kalau aksioma
ini tidak dipenuhi maka elemen-elemen yang dibandingkan tersebut tidak
homogen dan harus dibentuk cluster (kelompok elemen) yang baru.
3. Independence
Pendapat seseorang dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria
tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif yang ada melainkan oleh
objektif keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa model dalam metode
AHP adalah searah, maksudnya perbandingan antara elemen-elemen
dalam satu tingkat tergantung pada elemen-elemen pada tingkat diatasnya.
4. Expectation
Dalam pengambilan keputusan, struktur hirarki diasumsikan lengkap.
Apabila tidak terpenuhi maka pengambilan keputusan tidak memakai
seluruh kriteria yang tersedia sehingga keputusan yang diambil dianggap
tidak lengkap.
Metode Analytical Hierarcy Process juga dapat memberikan fasilitas
evaluasi pro dan kontra secara rasional. Karena itu, metode AHP dapat
memberikan solusi yang optimal melalui cara berikut:
a. Menganalisis keputusan secara kuantitatif dan kualitatif.
b. Mengevaluasi masalah kemudian memberikan solusi sederhana melalui
model hierarki.
c. Memberikan pendapat yang logis.
d. Melakukan Pengujian kualitas keputusan.
e. Waktu yang dibutuhkan relative singkat.

Kriteria Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

System pendukung keputusan diciptakan untuk membantu seseorang
dalam mengambil keputusan tertentu dan dengan criteria tertentu. Berikut
ini beberapa criteria system pendukung keputusan.
a. Interaktif
System pendukung keputusan memiliki user interface yang
komunikatif, sehingga pemakai dapat memproses data secara cepat
untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
b. Fleksibel
System pendukung keputusan memiliki banyak variabel masukan
yang mampu memproses dan memberikan hasil keluaran berupa
keputusan alternative dan efektif kepada para pengambil keputusan.
c. Data Kualitas
System pendukung keputusan mampu menerima data dengan
kualitas yang dikuantitaskan agar hasil yang diharapkan lebih
obyektif, sebagai data masukan untuk memproses atau mengolah
data.
d. Prosedur Pakar
Artinya suatu system pendukung keputusan mengandung suatu
prosedur yang berupa kepakaran seseorang yang nantinya digunakan
untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu dari kejadian tertentu.
Berikut adalah macam-macam metode dalam system pendukung keputusan:
1. Metode Sistem pakar
2. Metode Regresi linier
3. Metode B/C Ratio
4. Metode AHP
5. Metode IRR
6. Metode NPV
7. Metode FMADM
8. Metode SAW

Sistem Pendukung Keputusan (SPK) (skripsi dan tesis)

System Pendukung Keputusan atau Decision Support System (DSS)
merupakan bagian dari system informasi yang biasa digunakan oleh
pengambil keputusan dalam mengambil keputusan. Decision Support
System diciptakan oleh G. Antony Gorry dan Michael. S. Scott Morton pada
tahun 1960-an. Akan tetapi, istilah Sistem Pendukung Keputusan (SPK) itu
baru ada pada tahun 1971. Mereka menciptakan system pendukung
keputusan dengan tujuan untuk menciptakan aplikasi computer, dimana
aplikasi tersebut merupakan suatu system berbasis computer yang nantinya
dapat membantu pengambil keputusan dalam mengambil keputusan dalam
memecahkan masalah yang tidak terstruktur dengan memanfaatkan data dan
model tertentu.
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah
system computer interaktif yang dapat membantu pengambil keputusan
dalam memecahkan masalah yang tidak terstruktur menggunakan data dan
model tertentu. Dalam mengambil keputusan tersebut pengambil keputusan
melakukan berbagai cara diantaranya yaitu: menggunakan kombinasi dari
model, teknik analisis, dan pengambilan informasi dari permasalahannya.
(Efrain Turban, 2005).
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah
system informasi yang membantu pengambil keputusan dengan
memberikan kesempatan kepadanya untuk mengidentifikasi masalah dan
mencari informasi dalam mengambil keputusan. System Pendukung
Keputusan (SPK) hampir sama dengan Sistem Informasi Manajemen (SIM),
karena sumber data dari SPK dan SIM adalah basis data. (Kusrini, 2007).
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah suatu
system computer berupa perangkat lunak yang dapat membantu suatu
instansi dalam mengambil keputusan secara efektif dan alternative sesuai
dengan criteria yang ditentukan.
SPK atau DSS dirancang untuk membantu seluruh proses pengambilan
keputusan mulai dari proses pengidentifikasian masalah, pemilihan data
yang relevan, penentuan model pendekatan yang digunakan dalam proses
pengambilan keputusan, sampai pada proses evaluasi pemilihan alternatif.
Menurut (Suryadi dan Ramdhani, 2002) model proses pengambilan
keputusan terdiri dari tiga tahap yaitu sebagai berikut:
1. Intelligence. Tahap ini merupakan proses pencarian dalam ruang
lingkup masalah serta proses pengenalan masalah. Data masukan
diperoleh, kemudian diproses, setelah itu diuji untuk mengidentifikasi
masalah tersebut.
2. Design. Tahap merupakan proses menemukan, mengembangkan, dan
menganalisis tindakan alternative apa yang bisa dilakukan. Tahap ini
meliputi proses memahami masalah, memberikan solusi, kemudian
menguji solusi tersebut apakah dapat menyelesaikan masalah dengan
baik atau tidak.
3. Choice. Tahap ini merupakan proses pemilihan dari berbagai tindakan
alternative yang dapat dipergunakan denga baik. Hasil dari pilihan
tersebut kemudian di implementasikan kedalam proses pengambilan
keputusan.
Sesuai dengan pendapat para pakar diatas, Keen (1980) menerapkan
istilah SPK ”untuk situasi dimana system dapat dikembangkan hanya
melalui suatu proses pembelajaran yang adaptif.” Jadi, ia mendefinisikan
SPK sebagai suatu proses dimana pemakai SPK, perancang SPK, dan SPK
itu sendiri mampu mempengaruhi satu dengan yang lainnya, dan
menghasilkan system pendukung keputusan yang dapat dipergunakan
dengan tepat. Sedangkan menurut Little (1970) yang mendefenisikan SPK
sebagai “sekumpulan prosedur berbasis model untuk pemrosesan dan
penilaian data dalam membantu pengambil keputusan”. Dia juga
menyatakan bahwa untuk berhasil, system tersebut haruslah sederhana,
mudah dipakai, obyektif dan lengkap dengan criteria penting yang
disyaratkan. Dan juga menurut Bonczek, dkk. (1980) mereka
mendefinisikan SPK sebagai sistem berbasis komputer yang terdiri dari tiga
komponen yang saling berinteraksi yaitu :
a. System bahasa merupakan mekanisme untuk memberikan komunikasi
antara pengguna dan komponen SPK lain.
b. System pengetahuan merupakan pengetahuan tentang masalah yang ada
pada SPK baik sebagai data atau sebagai prosedur.
c. System pemrosesan masalah merupakan hubungan antara dua
komponen, terdiri dari satu atau lebih kapabilitas manipulasi masalah
yang diperlukan untuk pengambilan keputusan.
Menurut (Turban, 2005) Sistem Pendukung Keputusan (SPK) terdiri dari
berbagai komponen sebagai berikut:
1. Subsistem Manajemen Data, berisi data yang relevan dan dapat diproses
software yang disebut DBMS (Data Base Management System).
2. Subsistem Manajemen Model, berupa sebuah software yang berisi
model-model financial yang menyediakan kemampuan analisa dan
software management yang sesuai.
3. Subsistem Manajemen Pengetahuan, merupakan subsistem yang
mendukung subsistem lain sebagai komponen yang berdiri sendiri.
4. Subsistem Antarmuka Pengguna, merupakan subsistem yang dipakai
oleh user dalam berkomunikasi.
Setiap sistem pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, Menurut Kosasi
(2002), kelebihan SPK sebagai berikut:
a. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat menunjang pembuatan
keputusan manajemen dalam menangani masalah semi terstruktur dan
tidak terstruktur.
b. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat membantu manajer pada
berbagai tingkatan manajemen, mulai dari manajemen tingkat atas
sampai manajemen tingkat bawah.
c. Sistem pendukung keputusan (SPK) memiliki kemampuan pemodelan
dan analisis pembuatan keputusan.
d. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat menunjang pembuatan
keputusan yang saling berurutan baik secara kelompok maupun
perorangan.
e. Sistem pendukung keputusan (SPK) menunjang berbagai bentuk proses
pengambilan keputusan dan jenis keputusan.
f. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat melakukan adaptasi setiap
saat dan bersifat fleksibel.
g. Sistem pendukung keputusan (SPK) mudah berinteraksi dengan sistem
dan mudah dikembangkan oleh pengguna (user) terakhir.
h. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat meningkatkan efektivitas
dalam pengambilan keputusan.
i. Sistem pendukung keputusan (SPK) mudah melakukan pengaksesan
berbagai sumber dan format data.
Di samping berbagai kelebihan seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
Sistem pendukung keputusan (SPK) juga memiliki beberapa kekurangan
atau keterbatasan, diantaranya adalah:
1. Ada beberapa kemampuan manajemen dan kemampuan manusia yang
tidak dapat dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak
semuanya mencerminkan persoalan sebenarnya.
2. Kemampuan suatu system pendukung keputusan (SPK) terbatas pada
pengetahuan yang dimilikinya (pengetahuan dasar serta model dasar).
3. Proses-proses yang dapat dilakukan oleh system pendukung keputusan
(SPK) biasanya tergantung pada kemampuan perangkat lunak yang
digunakan oleh pengambil keputusan.
4. Sistem pendukung keputusan (SPK) tidak memiliki kemampuan yang
dimiliki oleh manusia, karena itu bagaimana pun canggihnya suatu
Sistem pendukung keputusan (SPK), hanyalah suatu kumpulan
perangkat keras, perangkat lunak dan sistem operasi yang tidak
dilengkapi dengan kemampuan berpikir seperti manusia.

Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Sistem pendukung keputusan (SPK) adalah suatu sistem informasi berbasis komputer mengkombinasikan model dan data untuk menyediakan dukungan kepada pengambil keputusan dalam memecahakan masalah semi terstruktur atau masalah ketergantungan yang melibatkan user secara mendalam (Arbelia, 2014). Multiple Criteria Decision Making (MCDM) merupakan cara atau metode yang digunakan untuk mengambil keputusan dengan menetapkan alternatif atau pilihan terbaik dari beberapa alternatif berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yang digunakan untuk batasan atau standar dalam mengambil keputusan. MCDM dibagi menjadi 2 berdasarkan tujuannya, yaitu MADM (Multi Attribute Decision Making) dan MODM (Multi Objective Decision Making). Perbedaan utama keduanya adalah pada MADM dipergunakan untuk menentukan keputusan atau pilihan dari alternatif dengan jumlah yang terbatas/diskret, sedangkan pada MODM dipergunakan pada permasalahan yang kontinyu/berkelanjutan, seperti pada masalah pemrograman matematis (Trianto, 2013).

Leasing (skripsi dan tesis)

Leasing adalah suatu perjanjian yang memberikan hak untuk menggunakan harta, pabrik atau alat-alat (tanah atau aktiva yang didepresiasi atau kedua-duanya) yang umumnya mempunyai jangka waktu tertentu. (Baridwan, 2004) Istilah leasing yang berarti sewa-menyewa. Dalam peraturan perundang– undangan yang berlaku di Indonesia, leasing diistilahkan “sewa guna” dalam Kepmenkeu No. 1169/KMK.01/1991 tentang kegitan Sewa guna usaha (leasing) disebutkan bahwa sewa guna usaha merupakan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal (misal mobil atau mesin pabrik) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Secara umum leasing berarti equipment funding, yaitu pembiayaan peralatan/barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Leasing juga berarti pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang modal dengan pembayaran secara berkala oleh perusahaan yang menggunakan barang modal tersebut, dan dapat membeli atau memperpanjang jangka waktu berdasarkan nilai sisa

Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Analytical Hierarchy Process merupakan suatu metode yang dipergunakan untuk menyelesaikan masalah yang komplek di mana data dan informasi statistik dari masalah yang dihadapi sangat sedikit. AHP juga salah satu bentuk model pengambilan keputusan dengan multiple criteria sehingga, metode ini dapat melakukan analisis secara simultan dan terintegrasi antara parameter – parameter yang kualitatif atau bahkan kuantitatif. (Saaty, 2008) Dalam penelitian ini, metode AHP dipakai untuk menentukan pemohon sebagai nasabah yang hendak mengajukan kredit di PT Andalan Finance Yogyakarta. Jadi pada dasarnya, kriteria yang disayaratkan perusahaan kepada pemohon menjadi salah satu kriteria layak atau tidak nya nasabah untuk mendapatkan kredit. Sehingga, ketika pihak perusahaan sudah mengumpulkan data tentang nasabah mengenai kriteria yang dimiliki setiap debitur, maka secara kolektif kriteria tersebut akan dikonversikan dalam angka, kemudian diolah melalui proses komputasi oleh sistem. Dari hasil perhitungan yang dilakukan sistem, maka akan muncul bobot dari setiap pemohon. Perhitungan bobot yang paling berat menjadi hasil siapa pemohon yang layak menerima kredit. Di dalam metode AHP terkenal dengan namanya Indeks Random (IR). Indeks Random ini biasanya digunakan untuk membantu melakukan perhitungan dalam menyelesaikan keputusan yang hubungannya dengan kriteria suatu masalah. Jadi, IR ini akan digunakan tergantung kepada berapa banyak kriteria yang digunakan sehingga IR secara sistematis Kemudian di dalam metode AHP ada yang namanya Rasio Konsistensi (CR). Fungsi dari rasio konsistensi ini ada untuk mengetahui apakah hitungan yang dilakukan sudah konsisten atau belum. Bisa diketahui sudah konsisten atau tidak adalah apabila dalam perhitungan CR lebih dari 0,1 maka, perhituangan harus diulang kembali, akan tetapi apabila perhitungan dibawah 0,1 atau 0,00 maka perhitungan metode AHP adalah konsisten

Langkah- langkah dalam metode AHP (skripsi dan tesis)

AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multiobjektif dan multi-kriteria yang berdasar pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hirarki. Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode AHP meliputi:   1. Mendefisinikan masalah dan menentukan solusi. 2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan kriteria dan alternatif pada tingkatan kriteria paling bawah Penjelasan: a. Tujuan (goal) yang akan di capai atau penyelesaian masalah yang dikaji. b. Kriteria, kriteria apa saja yang harus dipenuhi oleh smua alternatif (penyelesaian) agar layak untuk menjadi pilihan ideal. c. Alternatif, pilihan penyelesaian masalah. 3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan. Perbandingan dilakukan berdasarkan ‘judgment” dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.  4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga di peroleh judgment seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2]buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. 5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi. 6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. 7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai vektor eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesis judgment dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan. 8. Memeriksa konsisten hirarki. Jika nilainya lebih dari 10 persen maka penilaian data judgment harus diperbaiki. Pemilihan kriteria dan alternatif media televisi berbasis berita informasi. Dalam penelitian ini penulis mengambil 4 kriteria media televisi berbasis berita informasi, yaitu: 1. Penting Dapat dimaknai sebagai sesuatu yang utama, yang membutuhkan perhatian, dan harus diketahui masyarakat luas. Karena sesuatu, selain membutuhkan jalan keluar atau solusi, juga terkait erat dengan kepentingan masyarakat luas. 2. Menarik Tidak semua berita yang disiarkan di media televisi karena pentingnya, sebagian diangkat menjadi berita karena aspek menariknya sebuah peristiwa, kejadian, atau suatu gagasan. Sesuatu dikatakan menarik bila sesuatu itu unik, langka, aneh, atau sesuatu yang mengandung daya tarik insani (human interest). Di dalamnya bisa karena ada unsur ketegangan, kecemasan, kepopuleran, atau sisi daya tarik insani lainnya. Ini sebabnya peristiwa, atau kejadian yang menarik tetap layak diberitakan.   3. Aktual (baru) berita yang disampaikan harus yang terkini atau terbaru, jarak maupun waktu kejadian harus berdekatan dengan waktu penyampaian berita. 4. Faktual (nyata) Berita atau informasi yang disampaikan harus berdasarkan fakta atau kejadian yang sebenarnya. Dan harus menjadi pertimbangan mutlak dalam menentukan kelayakan suatu berita. Sumber: www.hukumonline.com

Analytical Hierrchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

AHP (Analytical HierarchyProcess) adalah salah satu metode dalam sistem pengambilan keputusan yang menggunakan beberapa variabel dengan proses analisis bertingkat. Analisis dilakukan dengan memberi nilai prioritas dari tiap-tiap variabel, kemudian melakukan perbandingan berpasangan dari variabelvariabel dan altematif-alternatif yang ada. AHP yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, dapat memecahkan masalah yang kompleks dimana aspek atau kriteria yang diambil cukup banyak. Ini disebabkan oleh struktur masalah yang belum jelas ketidakpastian persepsi pengambil keputusan serta data statistik yang tidak ada sama sekali. Menurut Yahya (2014:131) kelebihan AHP dibandingkan dengan yang lainnya adalah: 1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih. 2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan. 3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan

Sistem Pendukung Keputusan (SPK) (skripsi dan tesis)

 

SPK (Sistem Pendukung Keputusan) adalah pengembangan dari sistem informasi manajemen terkomputerisasi, yang dirancang sedemikian rupa sehingga bersifat interaktif dengan pemakaiannya. Sifat interaktif ini untuk memudahkan integrasi antara berbagai komponen dalam proses pengambilan keputusan, seperti prosedur, kebijakan, teknik analisis, serta pengalaman dan wawasan manajerial guna membentuk suatu kerangka keputusan yang bersifat fleksibel. Sudirman dan Widjajani (2014:5) mengemukakan ciri-ciri SPK yang dirumuskan oleh Alters Keen, sebagai berikut : 1. SPK ditujukan untuk membantu keputusan-keputusan yang kurang terstruktur dan umumnya dihadapi oleh para manajer yang berada di tingkat puncak. 2. SPK merupakan gabungan antara kumpulan model kualitatif dan kumpulan data. 3. SPK memiliki fasilitas interaktif yang dapat mempermudah hubungan antara manusia dan komputer. 4. SPK bersifat luwes dan dapat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi

Prinsip kerja AHP (skripsi dan tesis)

Prinsip kerja AHP penyerhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian-bagianya, srta menata suatu hierarki. Ide dasar prinsip kerja AHP sebagai berikut: 1. Penyusunan hierarki persoalan diuraikan menajdi unsur-unsur yang memiliki kriteria dan alternative yang kemusia disusun menjadi sebuah diagram mempresentasikan keputusan memilih dengan menggunakan metode AHP. 2. Penilaian kriteria dan alternative dinilai melalui perbandingan berpasangan, kriteria tersebut menggunakan skala.   3. Penentuan prioritas, setiap kriteria dan alternative perlu dilakukan perbandingan berpasangan yang akan diolah untuk menentukan peringkat relatife dari seluruh alternatif. Kriteria kualitatif dan kuantitatif akan dibandingkan sesuai dengan judgement yang telah ditentukan berdasarkan bobot dan prioritas. 4. Konsistensi logis, semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai kriteria yang logis

Analisis AHP (Analytical Hierarchy Process) (skripsi dan tesis)

Proses Hirarki Analitik (PHA) atau yang biasa dikenal Analitycal Hierarchy process (AHP) merupakan teknik yang dikelompokkan oleh Dr. Thomas L. Saaty, pada awal tahun 1991. PHA telah banyak digunakan oleh para pengambil keputusan untuk membantu memecahkan masalah yang kompleks dan telah teruji efektif dalam mengidentifikasi dan menentukan prioritas dalam suatu pengambilan keputusan. Metode PHA ditunjukan untuk memodalkan problema-problema tidak terstruktur, baik dalam bidang ekonomi, social, maupun sains manajemen. Teuku Afriliansyah, (2018) analisis AHP merupakan suatu model pendukung keputusan. AHP memerlukan pemilihan nilai alternatif dalam perbandingan berpasangan karena dapat memiliki sifat ketidakpastian serta harus dipertimbangkan kembali agar terdapat banyak penilaian dan perbandingan pasangan. AHP merupakan sebuah metode pengambilan keputusan yang digunakan sebagai alternatif yang diperoleh berdasarkan kriteria tertentu. Metode AHP banyak digunakan pada saat mengambil keputusan agar dapat menyelesaikan masalah – 18 masalah dalam hal perencanaan, menentukan alternatif, menyusun prioritas, pemilihan kebijakan, penentuan kebutuhan, peramalan hasil, perencanaan hasil, perencanaan sistem, pengukuran performance, optimasi dan pemecahan suatu konflik tertentu. Menurut Saaty (1991), secara khusus metode AHP dapat digunakan untuk persoalan keputusan seperti: 1. Menetapkan prioritas 2. Menghasilkan seperangkat alternatif 3. Memilih alternatif kebijakan yang terbaik 4. Menetapkan berbagai persyaratan 5. Mengaplikasikan sumber daya 6. Meramalkan hasil dan menaksir resiko 7. Mengukur prestasi 8. Merancang sistem 9. Menjamin kemantapan sistem 10. Mengoptimumkan 11. Merencanakan 12. Memecahkan konflik Tiga prinsip dasar proses AHP (Saaty,1991) adalah: 1. Menggambarkan dan menguraikan secara hirarki, yang disebut dasar menyusun secara hirarki, yaitu memecah-mecah persoalan menjadi unsurunsur terpisah. 19 2. Perbedaan prioritas dan sintesis, yang kita sebut penetapan priorias, yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatife penting. 3. Konsistensi silogis, yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Langkah – langkah dalam metode Analitical Hierarcy Process adalah sebagai berikut: 1. Menentukkan jenis-jenis kriteria yang digunakan. 2. Menyusun kriteria-kriteria tersebut dalam bentuk matriks berpasangan. 3. Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif. 4. Jumlahkan hasil bagi tersebut dengan banyaknya elemen yang digunakan. 5. Selanjutnya hitung consistency index (CI) menggunakan rumus CI = (λmaks – n) / (n-1) 6. Menentukkan nilai lamda max (eigen value) dengan rumus: ƛ Max = ∑𝑎  n 7.Menghitung Konsistensi index (Ci) Perbandingan antara CI dan RI untuk satu matriks didefinisikan sebagai rasio konsistensi, CR= CI/RI Beberapa penyusunan AHP pada bagian Hirarki sebagai berikut: 1. Penyederhanaan masalah ke dalam bagian-bagian yang menjadi elemen – elemen pokok 21 2. Penentuan kriteria-kriteria yang relevan dari setiap elemen pokok, hingga identifikasi beberapa aternatif keputusan 3. Tidak ada batasan tentang jumlah tingkat dalam hirarki 4. Hirarki harus bersifat fleksibel (dapat diubah) untuk menampung adanya kriteria yang baru ditemukan. Menurut Saaty (1991), keuntungan penggunaan metode AHP antara lain: 1. Kesatuan, AHP bekerja pada model tunggal berupa hirarki dari suatu proses pemilihan alternatife terbaik yang bersifat mudah di mengerti dan luas untuk aneka ragam persoalan. 2. Penyusunan hirarki, AHP mempresentasikan permasalahan kompleks ke dalam model hirarki yang logis dan sederhana. Hal ini mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa ke dalam setiap tingkat. 3. Kompleksitas, AHP memadukan analisis secara bagian-bagian (rancangan deduktif) dan rancangan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks. 4. Saling ketergantungan, AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam suatu sistem dan tidak memaksakan pemikiran yang rumit atau sulit untuk dapat dimengerti. 5. Konsistensi, AHP dapat melacak konsistensi logis dari pemberian atau penetapan berbagai priotitas dari setiap kriteria ataupun alternative. 6. Sintesis, AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternative. 22 7. Pengukuran, AHP memberikan suatu skala pengukuran yang bersifat fleksibel, yaitu melakukan pembandingan kriteria dari berbagai alternative skala prioritas. 8. Pengulangan proses, AHP memungkinkan kita dapat memperluas definisi dari suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian melakukan pengulangan. 9. Tawar-menawar, AHP mempertimbangkan prioritas relative dari berbagai elemen-elemen dari sistem dan memungkinkan orang untuk memilih alternative terbaik berdasarkan tujuan-tujuan mereka. 10. Penilaian dan consensus, AHP tidak memaksakan sensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representative dari berbagai penilaian yang berbeda-beda. Berikut ini Kelebihan dari penggunaan metode AHP yaitu: 1. Jika Rasio Indeks (RI) lebih besar dari 0,1, maka mutu informasi harus diperbaiki dengan revisi penggunaan pertanyaan maupun melakukan pengisian ulang kuesioner. Jika tindakan ini gagal memperbaiki konsisitensi, ada kemungkinan persoalan ini tidak terstruktur secara tepat. 2. Responden adalah orang-orang yang harus menikuti, menguasai, dan mempengaruhi pengambilan kebijakan atau mengetahui informasi yang dibutuhkan. AHP memiliki beberapa kekurangan, ialah sebagai berikut: 1. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan 23 subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru. 2. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk

Analycal hierarchy process ( AHP ) (skripsi dan tesis)

Salah satu jenis pemodelan yang diterapkan dalam sistem pendukung keputusan adalah Analytical Hierarchy Process(AHP). AHP dikembangkan oleh Thomas L.Saaty. Metode AHP merupakan metode hirarki fungsional dengan masukan utamanya nilai-nilai yang didapatkan berdasarkan persepsi manusia. Terdapat 4 prinsip pokok dalam AHP yaitu : a. Menyusun hirarki yaitu memecah persoalan menjadi kelompok-kelompok atau unsur-unsur yang terpisah. b. Penilaian kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan dengan mangacu pada skala penilaian perbandingan berpasangan Saaty. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hierarki. c. Penetapan prioritas dengan menentukan peringkat elemen (kriteria) menurut relative pentingnya. d. Konsistensi logis yaitu menjamin semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis. Untuk   penilaiannya menggunakan  Skala Perbandigan 1-9 Saaty

Sistem Pendukung keputusan (skripsi dan tesis)

Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah suatu bentuk computer base information system (CBIS) yang interaktif, fleksibel, dan secara khusus dikembangkan untuk mendukung penyelesaian dari manajemen yang tidak 10 terstruktur untuk memperbaiki pembuatan keputusan, sistem pendukung keputusan menggunakan data-data sebagai inputan dan dengan suatu proses menghasilkan output yang akan membantu pembuat keputusan (Turban, 1995). Pengambilan keputusan merupakan pemilihan diantaranya beberapa alternatif pemecahan masalah. Pada hakikatnya keputusan itu diambil jika pimpinan menghadapi masalah atau untuk mencegah timbulnya masalah dalam organisasi. Pimpinan harus mengambil keputusan untuk memilih cara mana yang dianggap paling tepat yang akan digunakan ( Ibnu Syamsi, 2000 ) Dalam sistem pengambilann keputusan terdapat tahapan – tahapan yang harus dilalui antara lain : 1. Tahap Pemahaman ( inteligence Phace ) Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses dan diuji dalam rangka mengidentifikasi masalah. 2. Tahap Perancangan ( Design Phace ) Tahap ini merupakan proses pengembangan dan pencarian alternatif tindakan / solusi yang dapat diambil. Tersebut merupakan representasi kejadian nyata yang disederhanakan, sehingga diperlukan proses validasi dan vertifikasi untuk mengetahui keakuratan model dalam meneliti masalah yang ada. 3. Tahap Pemilihan ( Choice Phace )  Tahap ini dilakukan pemilihan tahap diantaraberbagai alternatif solusi yang dimunculkan pada tahap perencanaan agar ditentukan / dengan memperhatikan kriteria – kriteria berdasarkan tujuan yang akan dicapai. 4. Tahap Implementasi ( Implementation Phace ) Tahap ini dilakukan penerapan terhadap rancangan sistem yang telah dibuat pada tahap perancangan serta pelaksanaan alternatif tindakan yang telah dipilih pada tahap pemilihan

Proses Penentuan Prioritas dengan Metode AHP (skripsi dan tesis)

Tahapan-tahapan pengambilan keputusan dalam metode AHP pada dasarnya meliputi: a. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan b. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan kriteria-kriteria, sub kriteria dan alternatif-alternatif pilihan yang ingin diranking c. Membentuk matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan pilihan atau “judgment” dari pembuat keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya d. Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen di dalam matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom e. Menghitung nilai eigen vector dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten pengambil data (preferensi) perlu diulangi. Nilai eigen vector yang dimaksud adalah nilai eigen vector maximum yang diperoleh dengan menggunakan matlab maupun manual f. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki g. Menghitung eigen vector dari setiap matriks perbandingan  berpasangan. Nilai eigen vector merupakan bobot setiap elemen. h. Langkah ini mensintesis pilihan dan penentuan prioritas elemenelemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan i. Menguji konsistensi hirarki. Jika tidak memenuhi dengan CR<0,100 maka penilaian harus diulang kembali

AHP (Analytic Hierarchy Process) (skripsi dan tesis)

Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Prof. Thomas Lorie Saaty (1998) dari Wharston Business school untuk mencari ranking atau urutan prioritas dari berbagai alternatif dalam pemecahan suatu permasalahan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang senantiasa dihadapkan untuk melakukan pilihan dari berbagai alternatif. Diperlukan penentuan prioritas dan uji konsistensi terhadap pilihan-pilihan yang telah dilakukan. Dalam situasi yang kompleks, pengambilan keputusan tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja melainkan multi faktor dan mencakup berbagai jenjang maupun kepentingan. Pada dasarnya AHP adalah suatu teori umum tentang pengukuran yang digunakan untuk menemukan skala rasio baik dari perbandingan berpasangan yang diskrit maupun kontinu. Perbandingan-perbandingan ini dapat diambil dari ukuran aktual atau skala dasar yang mencerminkan kekuatan perasaan dan preferensi relatif. AHP memiliki perhatian khusus tentang penyimpangan dari konsistensi, pengukuran dan ketergantungan di dalam dan di luar kelompok elemen  strukturalnya. Analytic Hierrchy Process (AHP) mempunyai landasan aksiomatik yang terdiri dari: 1. Resiprocal Comparison, yang mengandung arti bahwa matriks perbandingan berpasangan yang terbentuk harus bersifat berkebalikan. Misalnya, jika A adalah k kali lebih penting dari pada B maka B adalah 1/ k kali lebih penting dari A. 2. Homogenity, yang mengandung arti kesamaan dalam melakukan perbandingan. Misalnya, tidak dimungkinkan membandingkan jeruk dengan bola tenis dalam hal rasa, akan tetapi lebih relevan jika membandingkan dalam hal berat. 3. Dependence, yang berarti setiap jenjang (level) mempunyai kaitan (complete hierarchy) walaupun mungkin saja terjadi hubungan yang tidak sempurna (incomplete hierarchy). 4. Expectation, yang artinya menonjolkan penilaian yang bersifat ekspektasi dan preferensi dari pengambilan keputusan. Penilaian dapat merupakan data kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Dalam menyelesaikan persoalan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Beberapa prinsip dasar yang harus dipahami antara lain: a. Decomposition; b. Comparative judgment; c. Synthesis of Priority; d. Logical Consistency. 15 a. Decomposition Pengertian decomposition adalah memecahkan atau membagi problema yang utuh menjadi unsur-unsurnya ke dalam bentuk hirarki proses pengambilan keputusan, dimana setiap unsur atau elemen saling berhubungan. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan dilakukan terhadap unsur-unsur sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan yang hendak dipecahkan. Struktur hirarki keputusan tersebut dapat dikategorikan sebagai complete dan incomplete. Suatu hirarki keputusan disebut complete jika semua elemen pada suatu tingkat memiliki hubungan terhadap semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya, sementara hirarki keputusan incomplete kebalikan dari hirarki yang complete. Bentuk struktur dekomposisi yakni : Tingkat pertama : Tujuan keputusan (Goal) Tingkat kedua : Kriteria – kriteria Tingkat ketiga : Alternatif – alternatif Hirarki masalah disusun untuk membantu proses pengambilan keputusan dengan memperhatikan seluruh elemen keputusan yang terlibat dalam sistem. Sebagian besar masalah menjadi sulit untuk diselesaikan karena proses pemecahannya dilakukan tanpa memandang masalah sebagai suatu sistem dengan suatu struktur tertentu. b. Comparative judgment Comparative Judgment dilakukan dengan membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkatan diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP karena akan berpengaruh terhadap urutan prioritas dari elemen-elemenya. Hasil dari penilaian ini lebih mudah disajikan dalam bentuk matriks pairwise comparisons yaitu matriks perbandingan berpasangan yang memuat tingkat preferensi beberapa alternatif untuk tiap kriteria. Skala preferensi yang digunakan yaitu skala 1 yang menunjukkan tingkat yang paling rendah (equal importance) sampai dengan skala 9 yang menunjukkan tingkatan yang paling tinggi (extreme importance). c. Synthesis of Priority Synthesis of Priority dilakukan dengan menggunakan eigen vector method untuk mendapatkan bobot relatif bagi unsur-unsur pengambilan keputusan. d. Logical Consistency Logical Consistency merupakan karakteristik penting AHP. Hal ini dicapai dengan mengagregasikan seluruh eigen vector yang diperoleh dari berbagai   tingkatan hirarki dan selanjutnya diperoleh suatu vector composite tertimbang yang menghasilkan urutan pengambilan keputusan

Tahapan Pembuatan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Sebelum melakukan rancang bangun terhadap sistem pendukung keputusan, ada beberapa tahapan yang perlu dilalui, yang diharapkan akan menghasilkan alternatif informasi sebagai dasar pengambilan suatu keputusan. Alur/ proses pemilihan alternatif tindakan/keputusan biasanya terdiri dari langkahlangkah berikut : a. Tahap Penelusuran (Intelligence Phase) Suatu tahap penelusuran terhadap masalah yang dihadapi, terdiri dari aktivitas penelusuran, pendeteksian serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diuji dalam rangka mengidentifikasi masalah. b. Tahap Perancangan (Design Phase) Tahap proses pengambil keputusan setelah tahap intellegence meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi dan menguji kelayakan solusi. Aktivitas yang biasanya dilakukan seperti menemukan, mengembangkan dan menganalisa alternatif tindakan yang dapat dilakukan. c. Tahap Pilihan (Choice Phase) Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian  diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan. d. Tahap Implementasi (Implementation Phase) Pada tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. Pada tahap ini perlu disusun serangkaian tindakan yang terencana, sehingga hasil keputusan dapat dipantau dan disesuaikan apabila diperlukan perbaikan-perbaikan

Tujuan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Tujuan sistem pendukung keputusan yang dikemukakan (Mc Leod, 1995) mempunyai tiga tujuan yang akan dicapai adalah :   a. Membantu manajer dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah semiterstruktur. b. Mendukung penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya. c. Meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan manajer daripada efisiensinya

Definisi Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Pengertian sistem pendukung keputusan yang dikemukakan oleh Michael S Scott Morton dan Peter G W Keen, dalam buku Sistem Informasi Manajemen (McLeod, 1998) menyatakan bahwa sistem pendukung keputusan merupakan sistem penghasil informasi yang ditujukan pada suatu masalah yang harus dibuat oleh manajer. Raymond McLeod, Jr mendefinisikan sistem pendukung keputusan merupakan suatu sistem informasi yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam memecahkan masalah yang dihadapinya (McLeod, 1998). Definisi selengkapnya adalah sistem penghasil informasi spesifik yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer pada berbagai tingkatan (McLeod, 1998). Menurut Litlle (1999) sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi berbasis komputer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstruktur ataupun tidak terstruktur dengan menggunakan data atau model.

Tahapan-tahapan Implementasi AHP (skripsi dan tesis)

Menurut Syukron (2014:257) tahapan-tahapan dalam implementasi AHP untuk dapat membuat suatu keputusan dalam pemilihan strategi bisnis atau pada suatu kasus produksi adalah sebagai berikut : 1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan. 2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum dilanjutkan dengan sub-sub tujuan, kriteria, dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkat kriteria yang bawah. 3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan konstribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat biasanya perbandingan dilakukan berdasarkan judgement dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. 4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgement seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah. Dengan n adalah banyaknya jumlah elemen yang diperbandingkan. 5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi. 6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. 7. Menghitung eigen vector untuk setiap matrik perbandingan berpasangan. Nilai eigen vector merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesiskan judgement dalam menentukan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan.  8. Memeriksa inkonsistensi hirarki. Jika nilainya > 10% maka penilaian data judgement harus diperbaiki. Penelitian yang dilakukan oleh Asamoah dkk. (2012) menggunakan pendekatan AHP untuk evaluasi dan seleksi pemasok bahan baku API dan excipients pada perusahaan manufaktur farmasi di Ghana. Kriteria pemilihan pemasok yang digunakan yaitu quality, reliability/capacity, dan cost. Hasil analisis menggunakan AHP menunjukkan kriteria quality menjadi prioritas utama dengan bobot 0,6334, kemudian diikuti dengan kriteria reliability/ capacity 0,2605, dan kriteria cost dengan bobot 0,1061. Pemasok bahan baku API yang dipilih yaitu S&D karena memiliki bobot tertinggi yaitu sebesar 0,481, sedangkan untuk pemasok bahan baku excipients yang terpilih yaitu Hellmuth Carroux dengan bobot tertinggi yaitu 0,4132 yang kemudian diikuti oleh Thosco dengan bobot 0,2771, Clonoose 0,2038, dan Lavina 0,0971. Berdasarkan temuan penelitian, AHP mempermudah dalam mengevaluasi, meranking, dan memilih pemasok yang tepat. Penelitian yang dilakukan oleh Ngatawi dan Setyaningsih (2011) pendekatan AHP digunakan untuk menganalisis pemilihan pemasok pada PT. XXX yang bergerak dalam bidang industri furniture. Dalam melakukan pemilihan pemasok, kriteria pengiriman menjadi prioritas utama dengan bobot 0,469, kriteria pelayanan memiliki bobot sebesar 0,172, kriteria produk memiliki bobot 0,164, kriteria kualitas memiliki bobot 0,110, dan kriteria biaya memiliki bobot sebesar 0,085. Berdasarkan pengolahan data dan analisis data menggunakan perhitungan AHP, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah menetapkan pemasok A 32 sebagai pemasok terbaik. Hal tersebut diketahui dengan adanya nilai akhir tertinggi yaitu sebesar 0,240

Penyusunan Hirarki Dalam AHP (skripsi dan tesis)

Setiap analisis yang menggunakan AHP mula-mula harus mendefinisikan situasi dengan seksama, memasukkan sebanyak mungkin rincian yang relevan, lalu menyusun model secara hirarki yang terdiri atas beberapa tingkat rincian, yaitu fokus masalah, kriteria, dan alternatif. Hirarki tertinggi ialah fokus masalah. Hirarki ini hanya terdiri atas satu elemen yaitu sasaran/tujuan menyeluruh. Fokus masalah merupakan masalah utama yang perlu dicari solusi.  Tingkat kedua ialah kriteria. Kriteria merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan atas fokus masalah. Tingkat terendah ialah alternatif. Alternatif merupakan berbagai tindakan akhir, atau rencana-rencana alternatif. Alternatif merupakan pilihan keputusan dari penyelesaian masalah yang dihadapi (Herjanto, 2009:254-255)

Prinsip-prinsip Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan analisis menggunakan metode AHP, terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Menurut Syukron (2014:256) ada tiga prinsip pokok AHP, yaitu :   1. Prinsip Penyusunan Hirarki Untuk memperoleh pengetahuan yang rinci, pikiran kita menyusun realitas yang kompleks ke dalam bagian yang menjadi elemen pokoknya, dan kemudian bagian kendala dan bagian-bagiannya lagi dan seterusnya secara hirarki. 2. Prinsip Menentukan Prioritas Prioritas ini ditentukan berdasarkan pandangan para pakar atau pihakpihak terkait yang berkompeten terhadap pengambilan keputusan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. 3. Prinsip konsistensi logis Dalam mempergunakan prinsip ini, AHP memasukkan baik aspek kualitatif maupun kuantitatif untuk mengekspresikan penilaian dan preferensi secara ringkas dan padat sedangkan aspek kualitatif untuk mendefinisikan persoalan dan hirarkinya

Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu metode pengambilan keputusan yang pertama kali dikembangkan oleh Prof. Thomas Lorie Saaty yang merupakan ahli matematika dari Wharton School of Business. Metode AHP pertama kali dikembangkan pada tahun 1970 dan dipublikasikan pada tahun 1980. Menurut Syukron (2014:255) Analytical Hirarchy Process (AHP) adalah sebuah hirarki fungsional dalam pengambilan keputusan dengan input utamanya adalah persepsi manusia.   Taylor (2014:449) menyatakan: “AHP adalah sebuah metode untuk memeringkat alternatif keputusan dan memilih yang terbaik dengan beberapa kriteria. AHP mengembangkan satu nilai numerik untuk memeringkat setiap alternatif keputusan, berdasarkan pada sejauh mana tiap-tiap alternatif memenuhi kriteria pengambil keputusan.” Menurut Herjanto (2009:253) AHP adalah suatu teknik pengambilan keputusan yang dikembangkan untuk kasus-kasus yang memiliki berbagai tingkat (hirarki) analisis. Menurut Wibisono (2006:167) Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah alat bantu pengambilan keputusan yang sederhana, untuk menangani masalah yang kompleks, tidak terstruktur, bahkan multiatribut. Putri (2012) menyatakan: “ AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem, dimana pengambil keputusan berusaha memahami suatu kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi dalam mengambil keputusan.” Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa AHP merupakan suatu metode pengambilan keputusan yang dikembangkan untuk menyusun suatu permasalahan ke dalam suatu hirarki yang selanjutnya dilakukan pembobotan (menentukan prioritas) berdasarkan persepsi para pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik

Anthropometri (skripsi dan tesis)

Aspek–aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas kerja adalah merupakan suatu faktor penting dalam menunjang peningkatan pelayanaan jasa produksi. Terutama dalam hal perancangan ruang dan fasilitas akomodasi. Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas dalam dekade sekarang ini adalah merupakan sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi. Hal tersebut tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai ukurananthropometri tubuh operator maupun penerapan data–data anthropometrinya. Pengertian athropometri adalah studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia (Wignjosoebroto, 2008). Pengertian Istilah antropometri berasal dari kata “anthro” = manusia dan “metri” = ukuran. Secara definitif dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan ukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampai terbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentile sampai 100 percentile. 18 Data dimensi manusia ini sangat berguna dalam perancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusia yang memakainya. Pemakaian data antropometri mengusahakan semua alat disesuaikan dengan kemampuan manusia, bukan manusia disesuaikan dengan alat. Penyusunan data Anthropometri perlu memperhatikan variabilitas yang ada, sebab terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Keacakan (Random) Walau telah terdapat dalam suatu kelompok populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku/ bangsa, kelompok usia dan pekerjaannya, namun masih ada perbedaan yang cukup signifikan antara berbagai macam masyarakat. Distribusi frekuensi secara statistik dari dimensi kelompok anggota masyarakaat jelas dapat dioprokasikan dengan menggunakan distribusi normal, yaitu dengan menggunakan data persentil yang telah diduga, jika mean (rata-rata) dan standart deviasi (SD) nya telah dapat diestimasi. b. Jenis kelamin Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul, dan sebagainya. c. Suku bangsa Setiap suku, bangsa, ataupun kelompok ethnic memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dimensi tubuh suku bangsa Negara Barat pada umumnya mempunyai ukuran yang lebih besar daripada dimensi tubuh suku bangsa negara Timur. d. Jenis pekerjaan Beberapa jenis pekerjaan tertentu menurut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan/ stafnya. Seperti misalnya : buruh dermaga/ pelabuhan adalah harusmempunyai postur tubuh yang 19 relatif lebih besar dibanding dengan karyawan perkantoran pada umumnya. Apalagi jika dibanding dengan jenis pekerjaan militer. e. Usia Ukuran tubuh manusia berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahun. f. Pakaian Hal ini juga merupakan sumber variabilitas yang disebabkan oleh bervariasinya iklim/ musim yang berbeda dari satu tempat ketempat yang lainnya terutama untuk daerah dengan empat musim. Misalnya pada waktu musim dingin manusia akan memakai pakaian yang relatif lebih tebal dan ukuran yang relatif lebih besar. g. Faktor kehamilan pada wanita Faktor ini sudah jelas akan mempunyai pengaruh perbedaan yang berarti dibanding dengan wanita yang tidak hamil. h. Cacat tubuh secara fisik Suatu perkembangan yang menggembirakan pada dekade terakhir yaitu dengan diberikanya skala prioritas pada rancangan bangun fasilitas akomodasi, untuk para penderita cacat tubuh secara fisik sehingga mereka dapat ikut serta merasakan “kesamaan” dalam penggunaan jasa dari ilmu ergonomi didalam pelayanaan untuk masyarakat. Masalah yang sering timbul misalnya: keterbatasan jarak jangkauan, dibutuhkan ruang kaki (knee space) untuk desain meja kerja, jalur khusus untuk keluar masuk perkantoran, kampus, hotel, restoran, super market dan lainlain. (Nurmianto, 2004) i. Posisi tubuh (posture) Sikap ataupun posisi tubuh berpengaruh terhadap ukuran 20 tubuh; oleh karena itu posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran. Berkaitan dengan posisi tubuh manusia, anthropometri dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 1. Anthropometri statis (structural body dimensions) Anthropometri statis adalah pengukuran manusia pada posisi diam dan linier pada permukaan tubuh. Anthropometri statis disebut juga pengukuran dimensi struktur tubuh dimana tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur dalam anthropometri statis ini meliputi antara lain berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang lutut pada saat berdiri atau duduk, panjang lengan, dan sebagainya. Ukuran dalam hal ini diambil dengan percentile tertentu seperti 5-th percentile, 50-th percentile dan 95-th percentile. Untuk itu, dibutuhkan metode pengukuran tertentu agar hasil pengukuran cukup representatif. 2. Anthropometri dinamis (functional body dimension) Anthropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat manusia melaksanakan kegiatannya. Hasil yang diperoleh merupakan ukuran tubuh yang berkaitan erat dengan gerakangerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Anthropometri dalam posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang dinamis banyak diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas ataupun ruang kerja. Terdapat tiga kelas pengukuran anthropometri dinamis, yaitu: N( x ,sX). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data anthropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut. 21 Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka prinsip–prinsip yang harus diambil didalam aplikasi data anthropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu antara lain : A. Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim. Disini perancangan produk dibuat agar dapat memenuhi 2 sasaran produk yaitu :  Bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim  Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada) B. Prinsip perancangan produk yang bisa dioperasikan diantara rentang tertentu. Disini rancangan bisa diubah–ubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh, contoh yang paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil yang mana dalam hal ini letaknya bisa digeser maju mundur dan sudut sandarannya bisa diubah–ubah sesuai dengan yang diinginkan. Dalam kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel semacam ini, maka data anthropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang 5 – 95 persentil. C. Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata–rata. Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata– rata ukuran manusia. Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang berada dalam ukuran rata–rata. Disini produk dirancang dan dibuat untuk mereka yang berukuran sekitar rata–rata, sedangkan mereka yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan sendiri. (Ginting Rosnani, 2010). 22 Berkaitan dengan aplikasi data anthropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa langkah dalam pembuatannya : a. Terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut. b. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut. c. Tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai produk tersebut. Hal ini lazim dikenal sebagai market segmentation seperti produk mainan untuk anak–anak, peralatan rumah tangga untuk wanita, dan lain–lain. d. Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti semisal apakah rancangan tersebut untuk ukuran individu ekstrim, rentang ukuran yang fleksibel ataukah ukuran rata–rata. e. Pilih persentase populasi yang harus diikuti, 5, 50, 95, ataukah nilai persentil lain yang dikehendaki. f. Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya tetapkan nilai ukurannya dari tabel data anthropometri yang sesuai. Aplikasikan data tersebut dan tambahkan factor kelonggaran (allowance) bila diperlukan seperti halnya tambahan ukuran akibat factor tebalnya pakaian yang harus dikenakan operator, pemakaian sarung tangan (Glove), dan lain – lain. (Ginting Rosnani, 2010)

Tujuan dan Pentingnya Ergonomi (skripsi dan tesis)

Maksud dan tujuan dari disiplin ilmu ergonomi adalah meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja. Human Engineering atau sering juga disebut sebagai ergonomi didefinisikan sebagai perancangan “man-machine interface’, sehingga pekerja dan mesin/produk lainnya bisa berfungsi lebih efektif dan efisien sebagai sistem manusia-mesin yang terpadu. (Wignjosoebroto, 2003) Dengan melakukan penilaian ergonomi di tempat kerja dapat diperoleh keuntungan yaitu (Wesley E Woodson, 2010) : 1. Mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya manusia melalui peningkatan ketrampilan yang diperlukan. 2. Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan. 3. Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia. 4. Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja. Peran ergonomi sangat besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Pendekatan khusus yang ada pada disiplin ilmu ergonomi adalah aplikasi yang statis dari segala informasi yang relevan yang berkaitan dengan karakteristik dan perilaku manusia didalam perancangan peralatan, fasilitas, dan lingkungan kerja yang   dipakai. Untuk itu, analisis dan penelitian ergonomi akan meliputi halhal yang berkaitan dengan (Wignjosoebroto, 2003):  Anatomi (struktur), fisiologi (pekerjaan), dan antropometri (ukuran) tubuh manusia.  Psikologi dan fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia.  Kondisi-kondisi kerja yang dapat mencederai baik dalam waktu yang pendek maupun panjang, ataupun membuat celaka manusia. Dengan memperlihatkan hal-hal tersebut, maka penelitian dan pengembangan ergonomi akan memerlukan dukungan dari berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, antropometri, faal/anatomi, dan teknologi (Wignjosoebroto, 2003).

Konsep Dasar Ergonomi (skripsi dan tesis)

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata ergos yang
berarti kerja dan nomos yang artinya ilmu, sehingga secara harfiah ergonomi
dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai hubungan antara
manusia dengan pekerjaannya. Secara umum ergonomi didefinisikan satu
cabang ilmu yang setatis untuk memanfaatkan informasi – informasi
mengenai sikap, kemampuan, dan keterbatasan manusia dalam merancang
suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu
dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu,
dengan efektif, sehat, nyaman, dan efesian. Disini di jelaskan bahwa fokus
ilmu ergonomi adalah manusia itu sendiri dalam arti dengan kaca mata
ergonomi, sistem kerja yang terdiri atas mesin, peralatan, lingkungan dan
bahan harus disesuaikan dengan sifat, kemampuan dan keterbatasan
manusia tetapi bukan manusia yang harus menyesuaikan dengan mesin, alat
dan lingkungan dan bahan. (Kohar Sulistiadi dan Sri Lisa Susanti, 2003).
Semboyan yang digunakan adalah “Sesuaikan pekerjaan dengan
pekerjanya dan sesuaikan pekerja dengan pekerjaannya” (Fitting the Task
to the Person. (Adnyana Manuaba, 2000) menyatakan bahawa fokus ilmu
ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan peralatan,
mesin, pekerjaan, sistem, organisasi dan lingkungan dengan kemampuan,
keahlian dan manusia sehingga tercapai suatu kondisi dan lingkungan yang
sehat, aman, nyaman, efisien dan produktif, melalui pemanfaatan fungsional
tubuh manusia secara optimal dan maksimal. Dari beberapa pendapat di
atas, dapat ditarik tiga hal penting dalam mempelajari ilmu ergonomi, antara
lain :
 Ergonomi menitikberatkan manusia (human-centered). Fokus
ergonomi pada manusia merupakan hal yang utama bukan pada mesin
atau pada peralatan.
 Ergonomi membutuhkan bangunan sistem kerja yang terkait dengan
pengguna. Mesin dan peralatan yang merupakan fasilitas kerja harus
disesuaikan dengan performen manusia.
 Ergonomi menitikberatkan pada perbaikan sistem kerja. Suatu
perbaikan proses harus disesuaikan dengan perbedaan kemampuan
dan kelemahan setiap individu, hal ini harus dirumuskan dengan cara
diukur baik secara kualitatif maupun kauntitafif dalam jangka waktu
tertentu.
Sasaran dari ilmu ergonomi ini adalah untuk meningkatkan prestasi
kerja yang tinggi dalam kondisi aman, sehat, aman dan tenteram. Aplikasi
ilmu ergonomi digunakan untuk perancangan produk, meningkatkan
kesehatan dan keselamatan kerja serta meningkatkan produktivitas kerja.
Dengan mempelajari tentang ergonomi maka kita dapat mengurangi resiko
penyakit, meminimalkan biaya kesehatan, nyaman saat bekerja dan
meningkatkan produktivitas dan kinerja serta memperoleh banyak
keuntungan. Oleh karena itu penerapan prinsip ergonomi di tempat kerja
diharapkan dapat menghasilkan beberapa manfaat sebagai berikut
(Sulistiadi, 2003):
1. Mengerti tentang pengaruh dari suatu jenis pekerjaan pada diri pekerja
dan kinerja pekerja.
2. Memprediksi potensi pengaruh pekerjaan pada tubuh pekerja.
3. Mengevaluasi kesesuaian tempat kerja, peralatan kerja dengan pekerja
saat bekerja.
4. Meningkatkan produktivitas dan upaya untuk menciptakan kesesuaian
antara kemampuan pekerja dan persyaratan kerja.
5. Membangun pengetahuan dasar guna mendorong pekerja untuk
meningkatkan produktivitas.
6. Mencegah dan mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat kerja.
7. Meningkatkan keselamatan kerja.
8. Meningkatkan keuntungan, pendapatan, kesehatan untuk individu dan
institusi.
Manusia dengan segala sifat dan tingkahlakunya merupakan makhluk
yang sangat kompleks. Untuk mempelajari manusia, tidak cukup ditinjau
dari satu disiplin ilmu saja. Oleh sebab itulah untuk mengembangkan
ergonomi diperlukan dukungan dari berbagai disiplin ilmu, antara lain
psikologi, antropologi, faal kerja atau fisiologi, biologi, sosiologi,
perencanaan kerja, fisika dan lain-lain. Masing-masing disiplin ilmu
tersebut berfungsi sebagai pemberi informasi. Pada gilirannya, para
perancang, dalam hal ini para ahli teknik, bertugas untuk meramu masingmasing informasi diatas, dan menggunakannya sebagai pengetahuan untuk
merancang fasilitas kerja sehingga mencapai kegunaan yang optimal

Aksioma-aksioma pada model AHP (skripsi dan tesis)

1. Resiprocal Comparison,artinya pengambil keputusan harus dapat membuat perbandingan dan menyatakan preferensinya. Preferensi tersebut harus memenuhi syarat resiprocal yaitu kalau A lebih disukai daripada B dengan skala x, maka B lebih disukai daripada A dengan skala 1/x. 2. Homogenity, artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu sama lain. Kalau aksioma ini tidak terpenuhi maka elemen-elemen yang dibandingkan tersebut tidak homogeneity dan harus dibentuk suatu „cluster‟ (kelompok elemen-elemen) yang baru. 3. Independence, artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatifalternatif yang ada melainkan oleh obyektif keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan dalam AHP adalah searah ke atas, artinya perbandingan antara elemen-elemen pada tingkat di atasnya. 4. Expectation, artinya untuk tujuan pengambilan keputusan, struktur hirarki diasumsikan lengkap. Apabila asumsi ini tidak dipenuhi  maka pengambil keputusan. Memutuskan tidak memakai seluruh kriteria dan atau obyektif yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang diambil dianggap tidak lengkap. Prosedur atau langkah-langkah AHP.

Aplikasi AHP (skripsi dan tesis)

Beberapa contoh aplikasi AHP adalah sebagai berikut:
1. Membuat suatu set alternatif;
2. Perencanaan
3. Menentukan prioritas
4. Memilih kebijakan terbaik setelah menemukan satu set alternatif;
5. Alokasi sumber daya
6. Menentukan kebutuhan/persyaratan;
7. Memprediksi outcome
8. Merancang sistem
9. Mengukur performa
10. Memastikan stabilitas sistem
11. Optimasi
12. Penyelesaian konflik

Tahapan AHP (skripsi dan tesis)

Dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut
(Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani, 1998) :
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
Dalam tahap ini kita berusaha menentukan masalah yang akan
kita pecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari
masalah yang ada kita coba tentukan solusi yang mungkin cocok
bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah
lebih dari satu. Solusi tersebut nantinya kita kembangkan lebih
lanjut dalam tahap berikutnya.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan utama.
Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan
disusun level hirarki yang berada di bawahnya yaitu kriteriakriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau menilai
alternatif yang kita berikan dan menentukan alternatif tersebut.
Tiap kriteria mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Hirarki
dilanjutkan dengan sub kriteria (jika mungkin diperlukan).
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan
kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau
kriteria yang setingkat di atasnya
Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki
kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi,mendapatkan informasi
lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang
mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara
keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan
matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu
mendominasi dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan
judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat
kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk
memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria
dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di
bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya
E1,E2,E3,E4,E5.
4. Melakukan mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga
diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah,
dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.
Hasil perbandingan dari masing-masing elemen akan
berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan perbandingan
tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam
matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil
perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat diterima
dan bisa membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan
tersebut diisikan pada sel yang bersesuaian dengan elemen yang
dibandingkan. Skala perbandingan perbandingan berpasangan dan
maknanya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di bawah.
Intensitas Kepentingan
1 = Kedua elemen sama pentingnya, Dua elemen mempunyai
pengaruh yang sama besar.
3 = Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yanga
lainnya, pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu
elemen dibandingkan elemen yang lainnya.
5 = Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya,
Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu
elemen dibandingkan elemen yang lainnya.
7 = Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen
lainnya, Satu elemen yang kuat disokong dandominan terlihat
dalam praktek.
9 = Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya, Bukti
yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain
memeliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin
menguatkan.
2,4,6,8 = Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan
yang berdekatan, Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di
antara 2 pilihan Kebalikan = Jika untuk aktivitas i mendapat satu
angka dibanding dengan aktivitas j , maka j mempunyai nilai
kebalikannya dibanding dengan i
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya.
Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan
berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan
prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai
mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara
menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks,membagi setiap nilai
dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk
memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai
dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk
mendapatkan rata-rata.
8. Memeriksa konsistensi hirarki.
Tahapan ini diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan
melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah
yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang
mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna,
rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %

Kelebihan dan kelemahan AHP (skripsi dan tesis)

Layaknya sebuah metode analisis, AHP pun memiliki kelebihan
dan kelemahan dalam system analisisnya. Kelebihan-kelebihan
analisis ini adalah :
1. Kesatuan (Unity)
AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur
menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.
2. Kompleksitas (Complexity)
AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui
pendekatan sistem dan pengintegrasian secara deduktif.
3. Saling ketergantungan (Inter Dependence)
AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling
bebas dan tidak memerlukan hubungan linier.
4. Struktur Hirarki (Hierarchy Structuring)
AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung
mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda dari
masing-masing level berisi elemen yang serupa.
5. Pengukuran (Measurement)
AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk
mendapatkan prioritas.
6. Konsistensi (Consistency)
AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian
yang digunakan untuk menentukan prioritas.
7. Sintesis (Synthesis)
AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa
diinginkannya masing-masing alternatif.
8. Trade Off
AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada
sistem sehingga orang mampu memilih altenatif terbaik
berdasarkan tujuan mereka.
9. Penilaian dan Konsensus (Judgement and Consensus)
AHP tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi
menggabungkan hasil penilaian yang berbeda.
10. Pengulangan Proses (Process Repetition)
AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu
permasalahan dan mengembangkan penilaian serta pengertian
mereka melalui proses pengulangan.
Sedangkan kelemahan metode AHP adalah sebagai berikut:
1. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama
ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini
melibatkan subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi
tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
2. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian
secara statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari
kebenaran model yang terbentuk.

Prosedur AHP (skripsi dan tesis)

 

Terdapat tiga prinsip utama dalam pemecahan masalah dalam AHP menurut Saaty, yaitu: Decomposition, Comparative Judgement, dan Logical Concistency. Secara garis besar prosedur AHP meliputi tahapan sebagai berikut: 1. Dekomposisi masalah Dekomposisi masalah adalah langkah dimana suatu tujuan (Goal) yang telah ditetapkan selanjutnya diuraikan secara sistematis kedalam struktur yang menyusun rangkaian sistem hingga tujuan dapat dicapai secara rasional. Dengan kata lain, suatu tujuan yang utuh, didekomposisi (dipecahkan) kedalam unsur penyusunnya. 2. Penilaian/pembobotan untuk membandingkan elemen-elemen Apabila proses dekomposisi telah selasai dan hirarki telah tersusun dengan baik. Selanjutnya dilakukan penilaian perbandingan berpasangan (pembobotan) pada tiap-tiap hirarki berdasarkan tingkat kepentingan relatifnya. 3. Penyusunan matriks dan Uji Konsistensi Apabila proses pembobotan atau pengisian kuisioner telah selesai, langkah selanjutnya adalah penyusunan matriks berpasangan untuk melakukan normalisasi bobot tingkat kepentingan pada tiap-tiap elemen pada hirarkinya masingmasing. Pada tahapan ini analisis dapat dilakukan secara manual ataupun dengan menggunakan program komputer seperti Expert Choice. 8 4. Penetapan prioritas pada masing-masing hirarki Untuk setiap kriteria dan alternatif,perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat alternatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria kualitatif, maupun kriteria kuantitatif, dapat dibandingkan sesuai dengan penilaian yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan proritas. Bobot atau prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematik. 5. Sistesis dari prioritas Sistesis dari prioritas didapat dari hasil perkalian prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan yang ada pada level atasnya dan menambahkannya ke masing-masing elemen dalam level yang dipengaruhi oleh kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau lebih dikenal dengan istilah prioritas global yang kemudian dapat digunakan untuk memberikan bobot prioritas lokal dari elemen yang ada pada level terendah dalam hirarki sesuai dengan kriterianya. 6. Pengambilan/penetapan keputusan. Pengambilan keputusan adalah suatu proses dimana alternatifalternatif yang dibuat dipilih yang terbaik berdasarkan kriterianya.

Konsep AHP (Analytical Hierarchy Process) (skripsi dan tesis)

AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang
dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan
menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks
menjadi suatu hirarki, menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai
suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu
struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level
faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir
dari alternatif. Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat
diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi
suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur
dan sistematis. (Syaifullah:2010).
AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding
dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih,
sampai pada sub kriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi
berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan.
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan
keputusan.
Penggunaan AHP bukan hanya untuk institusi pemerintahan atau
swasta namun juga dapat diaplikasikan untuk keperluan individu terutama
untuk penelitian-penelitian yang berkaitan dengan kebijakan atau
perumusan strategi prioritas. AHP dapat diandalkan karena dalam AHP
suatu prioritas disusun dari berbagai pilihan yang dapat berupa kriteria yang
sebelumnya telah didekomposisi (struktur) terlebih dahulu, sehingga
penetapan prioritas didasarkan pada suatu proses yang terstruktur (hirarki)
dan masuk akal. Jadi pada intinya AHP membantu memecahkan persoalan
yang kompleks dengan menyusun suatu hirarki kriteria, dinilai secara
subjektif oleh pihak yang berkepentingan lalu menarik berbagai
pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas (kesimpulan).
Peralatan utama AHP adalah sebuah hierarki fungsional dengan input
utamanya persepsi manusia. Keberadaan hierarki memungkinkan
dipecahnya masalah kompleks atau tidak terstruktur dalam sub – sub
masalah, lalu menyusunnya menjadi suatu bentuk hierarki (Kusrini, 2007).

Analisis Dalam Metode Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Analisis data dalam metode analisis isi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sebagai metode yang sistematis analisis isi mengikuti suatu proses-proses tertentu dalam pengaplikasiannya. Adapun langkah-langkah analisis isi deskriptif dalam penelitian sebagaimana dikutip dalam Kriyantono, (2006, hlm. 167) ini adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan populasi penelitian dan menetukan jumlah sampel penelitian dengan menggunakan teknik sampel acak sederhana.

 2. Langkah selanjutnya yang penting dalam analisis isi ialah menentukan unit analisis. Unit analisis adalah apa yang akan diobservasi, dicatat dan dianggap sebagai data, memisahkan menurut batas-batasnya dan mengidentifikasi untuk analisis berikutnya. Unit analisis penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu unit sampling dan unit pencatatan dimana unit pencatatan penelitian ini termasuk dalam jenis unit analisis sintaksis.

 3. Menentukan dan menggunakan penilai tambahan (coder) selain dari peneliti untuk mengurangi bias dan subjektifitas peneliti dalam analisis penelitian.
4. Setelah mengkode semua isi berita ke dalam lembar coding yang telah disusun peneliti lalu menghitung reliabilitas dari hasil coding.
 5. Tahap selanjutnya adalah menggunakan tabel distribusi frekuensi. Salah satu cara yang sering dipakai dalam analisi data adalah frekuensi distribusi relatif, dimana data dibagi dalam beberapa kelompok dan dinyatakan atau diukur dalam presentase. Dari setiap tabel diberikan penjelasan dalam bentuk uraian yang disusun sistematis. Kegunaan dari distribusi frekuensi adalah membantu peneliti untuk mengetahui bagaimana distribusi frekuensi dari data penelitian. Data hasil penelitian ini akan diolah secara statistik deskriptif kuantitatif. Teknik analisis untuk pengukuran digunakan berdasarkan pendekatan kuantitatif dilihat dari frekuensi absolut akan jumlah persentase kejadian dari variabel yang akan ditampilkan dalam angka.
 6. Interpretasi data hasil penelitian. Membandingkan hasil tabel frekuensi distribusi dibandingkan dengan dasar teori yang dijadikan acuan dalam penelitian. Kegiatan ini berusaha mencari makna lebih luas dari hasil data yang telah dikumpulkan untuk nantinya akan diambil suatu kesimpulan akhir dari penelitian.
7. Penarikan kesimpulan

Pengertian analisis isi (skripsi dan tesis)

Neuendorf (dalam Eriyanto,2011, hlm. 16) mengemukakan bahwa analisis isi adalah sebuah peringkasan (summarizing), kuantifikasi dari pesan yang didasarkan pada metode ilmiah (diantaranya objektifintersubjektif, reliabel, valid, dapat digeneralisasikan, dapat direplikasi dan pengujuian hipotesis) dan tidak dibatasi untuk jenis variabel tertentu atau konteks di mana pesan dibentuk dan ditampilkan. Analisis isi sering digunakan dalam penelitian disiplin ilmu komunikasi. Analisis isi dipakai untuk menganalisis isi dari media cetak maupun elektronik. Selain itu analisis isi juga dipakai untuk mempelajari isi semua konteks komunikasi, baik komunikasi antarpribadi, kelompok ataupun organisasi. (Eriyanto, 2011, hlm. 10). Ciri khas dari penelitian menggunakan analisis isi adalah metode ini hanya dapat menganalisis pesan yang yang tersurat (tampak) bukan makna yang dirasakan oleh peneliti. Pada saat proses coding dan pengumpulan data, peneliti harus menilai dari aspek yang terlihat. Akan tetapi, pada tahap  analisis data, peneliti bisa menafsirkan aspek-aspek yang tidak terlihat di dalam pesan.

Analisis Framing (skripsi dan tesis)

Analisis Framing adalah bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antarkelompok yang muncul atau tampak di media. Dikenal konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam. Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles merupakan premis atau klaim moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran.

Analisis Semiotik (Semiotic Analysis) (skripsi dan tesis)

Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.

Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya

Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik.

Analisis Wacana (skripsi dan tesis)

Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak digunakan oleh para peneliti. Jika pada analisis kuantitatif, pertanyaan lebih ditekankan untuk menjawab “apa” (what) dari pesan atau teks komunikasi, pada analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada “bagaimana” (how), yaitu bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan.

Beberapa perbedaan mendasar antara analisis wacana dengan analisis isi yang bersifat kuantitatif adalah sebagai berikut.

Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori, seperti dalam analisis isi.

Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata), sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang bersifat latent (tersembunyi).

Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how).

Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi, sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi.

Model analisis wacana yang diperkenalkan oleh van Dijk sering kali disebut sebagai “kognisi sosial”, yaitu suatu pendekatan yang diadopsi dari bidang psikologi sosial. Menurut van Dijk, ada 3 dimensi yang membentuk suatu wacana sehingga analisis yang dilakukan terhadap suatu wacana harus meliputi ketiga dimensi tersebut, yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial.

Reliabilitas dan Validitas Pada Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Masalah reliabilitas (keterandalan) dan validitas pengukuran (kesahihan) merupakan 2 hal pokok dalam penelitian yang tidak boleh ditinggalkan. Reliabilitas didefinisikan sebagai keterandalan alat ukur yang dipakai dalam suatu penelitian. Apakah kita benar-benar dapat mengukur dengan tepat sesuai dengan alat atau instrumen yang dimiliki.

Dikenal beberapa jenis reliabilitas, yaitu berikut ini.

  1. Intercoder dan intracoder, yaitu pemberian kode dari luar dan dari dalam.

  2. Pretest, yaitu pengujian atau pengukuran perbedaan nilai antara juri-juri pemberi nilai.

  3. Reliabilitas kategori, yaitu derajat kemampuan pengulangan penempatan data dalam berbagi kategori.

Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam penelitian. Dalam analisis isi, validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut.

  1. Pengukuran produktivitas (productivity), yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan indikator yang tepat yang berhubungan dengan variabel.

  2. Predictive validity, yaitu derajat kemampuan pengukuran dengan peristiwa yang akan datang.

  3. Construct validity, yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat pengukuran yang dipakai dalam penelitian tersebut.

Skala pada Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Telah dijelaskan dua macam teknik penskalaan (scaling) yang bertujuan khusus untuk mengukur intensitas. Pertama, metode Q-Sort, menyediakan suatu cara penskalaan universe pernyataan-pernyataan mengenai variabel tertentu. Skala Q-Sort mempergunakan distribusi skala 9 titik. Pada lajur pertama, (Y) berisi 9 point nilai, yang menunjukkan tingkat terendah (1) sampai tingkat tertinggi (9), dan lajur kedua (X) yang menunjukkan persentase pernyataan dalam tiap kategori. Untuk menentukan item-item masuk pada kategori tertentu pada skala yang telah tersedia, dipakai orang-orang yang dianggap sebagai juri penilai. Dalam hal ini perlu ditetapkan keterandalan (reliabilitas) alat ukur, dan kesahihan (validitas) pengukuran.

Kedua, metode skala perbandingan pasangan (pair comparison scaling), yaitu teknik menentukan skala relatif item-item yang tidak melibatkan distribusi nyata. Penggunaan metode ini adalah untuk mengetahui pernyataan-pernyataan yang paling intens di antara pasangan-pasangan yang mungkin. Keseluruhan metode ini akan menghasilkan suatu skala relatif antaritem

Dasar-dasar Rancangan Penelitian Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Prosedur dasar pembuatan rancangan penelitian dan pelaksanaan studi analisis isi terdiri atas 6 tahapan langkah, yaitu (1) merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesisnya, (2) melakukan sampling terhadap sumber-sumber data yang telah dipilih, (3) pembuatan kategori yang dipergunakan dalam analisis, (4) pendataan suatu sampel dokumen yang telah dipilih dan melakukan pengkodean, (5) pembuatan skala dan item berdasarkan kriteria tertentu untuk pengumpulan data, dan (6) interpretasi/ penafsiran data yang diperoleh.

Urutan langkah tersebut harus tertib, tidak boleh dilompati atau dibalik. Langkah sebelumnya merupakan prasyarat untuk menentukan langkah berikutnya. Permulaan penelitian itu adalah adanya rumusan masalah atau pertanyaan penelitian yang dinyatakan secara jelas, eksplisit, dan mengarah, serta dapat diukur dan untuk dijawab dengan usaha penelitian.

Pada perumusan hipotesis, dugaan sementara yang akan dijawab melalui penelitian, peneliti dapat memilih hipotesis nol, hipotesis penelitian atau hipotesis statistik.

Penarikan sampel dilakukan melalui pertimbangan tertentu, disesuaikan dengan rumusan masalah dan kemampuan peneliti.

Pembuatan alat ukur atau kategori yang akan digunakan untuk analisis didasarkan pada rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, dan acuan tertentu. Misalnya, kategori tinggi-sedang-rendah, dengan indikator-indikator yang bersifat terukur.

Kemudian, pengumpulan atau coding data, dilakukan dengan menggunakan lembar pengkodean (coding sheet) yang sudah dipersiapkan. Setelah semua data diproses, kemudian diinterpretasikan maknanya

Tahapan Proses Penelitian Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Terdapat tiga langkah strategis penelitian analisis isi.

Pertama, penetapan desain atau model penelitian. Di sini ditetapkan berapa media, analisis perbandingan atau korelasi, objeknya banyak atau sedikit dan sebagainya.

Kedua, pencarian data pokok atau data primer, yaitu teks itu sendiri. Sebagai analisis isi maka teks merupakan objek yang pokok bahkan terpokok. Pencarian dapat dilakukan dengan menggunakan lembar formulir pengamatan tertentu yang sengaja dibuat untuk keperluan pencarian data tersebut.

Ketiga, pencarian pengetahuan kontekstual agar penelitian yang dilakukan tidak berada di ruang hampa, tetapi terlihat kait-mengait dengan faktor-faktor lain

Desain Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Setidaknya dapat diidentifikasi tiga jenis penelitian komunikasi yang menggunakan analisis isi. Ketiganya dapat dijelaskan dengan teori 5 unsur komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Lasswell, yaitu who, says what, to whom, in what channel, with what effect. Ketiga jenis penelitian tersebut dapat memuat satu atau lebih unsur “pertanyaan teoretik” Lasswell tersebut.

Pertama, bersifat deskriptif, yaitu deskripsi isi-isi komunikasi. Dalam praktiknya, hal ini mudah dilakukan dengan cara melakukan perbandingan. Perbandingan tersebut dapat meliputi hal-hal berikut ini.

  1. Perbandingan pesan (message) dokumen yang sama pada waktu yang berbeda. Dalam hal ini analisis dapat membuat kesimpulan mengenai kecenderungan isi komunikasi.

  2. Perbandingan pesan (message) dari sumber yang sama/tunggal dalam situasi-situasi yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang pengaruh situasi terhadap isi komunikasi.

  3. Perbandingan pesan (message) dari sumber yang sama terhadap penerima yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang pengaruh ciri-ciri audience terhadap isi dan gaya komunikasi.

  4. Analisis antar-message, yaitu perbandingan isi komunikasi pada waktu, situasi atau audience yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang hubungan dua variabel dalam satu atau sekumpulan dokumen (sering disebut kontingensi (contingency).

  5. Pengujian hipotesis mengenai perbandingan message dari dua sumber yang berbeda, yaitu perbedaan antarkomunikator.

Kedua, penelitian mengenai penyebab message yang berupa pengaruh dua message yang dihasilkan dua sumber (A dan B) terhadap variabel perilaku sehingga menimbulkan nilai, sikap, motif, dan masalah pada sumber B.

Ketiga, penelitian mengenai efek message A terhadap penerima B. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah efek atau akibat dari proses komunikasi yang telah berlangsung terhadap penerima (with what effect)?

Syarat analisis isi (skripsi dan tesis)

analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut.

  1. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, naskah/manuscript).

  2. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut.

  3. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan-bahan/data-data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas/spesifik

Pengertian Analisis Isi (skripsi dan tesis)

 

Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.

Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi. Baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik/metode penelitian. Holsti menunjukkan tiga bidang yang banyak mempergunakan analisis isi, yang besarnya hampir 75% dari keseluruhan studi empirik, yaitu penelitian sosioantropologis (27,7 persen), komunikasi umum (25,9%), dan ilmu politik (21,5%).

Sejalan dengan kemajuan teknologi, selain secara manual kini telah tersedia komputer untuk mempermudah proses penelitian analisis isi, yang dapat terdiri atas 2 macam, yaitu perhitungan kata-kata, dan “kamus” yang dapat ditandai yang sering disebut General Inquirer Program.

Teori Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Teori ini dikemukakan oleh Husserl bahwa realitas yang ada bersifat subyektif dan sangat bergantung dari cara orang memandang dan memahami sehingga hasilnya dapat berbeda pada setiap orang (David, 409: 2007). Dalam pemikiran Husserl, konsep fenomenologi itu berpusat pada persoalan tentang kebenaran. Baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga sebagai metode, karena dalam fenomenologi kita memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu fenomena yang murni. Husserl yakin bahwa ada kebenaran bagi semua dan manusia dapat mencapai kebenaran itu. Akan tetapi, Husserl melihat bahwa sesungguhnya di dalam filsafat itu sendiri tiada kesesuaian dan kesepakatan karena tidak adanya metode yang tepat sebagai pegangan yang dapat diandalkan. Bagi Husserl metode yang benar-benar ilmiah adalah metode yang  sanggup membuat fenomena menampakkan diri sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa memanipulasinya. Ada suatu slogan yang terkenal di kalangan penganut fenomenologi, yaitu: zu den sachen selbst (terarah kepada benda itu sendiri). Dalam keterarahan benda itu, sesungguhnya benda itu sendirilah yang dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat dirinya sendiri. Berangkat dari proses pemikiran yang demikian, maka lahirlah metode fenomenologis (David, 411: 2007).

DEFINISI PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti biasanya telah memiliki dugaan berdasarkan teori yang ia gunakan, dugaan tersebut disebut dengan hipotesis (Baca juga: Pengertian Hipotesis dan Langkah Perumusan Hipotesis). Untuk membuktikan hipotesis secara empiris, seorang peneliti membutuhkan pengumpulan data untuk diteliti secara lebih mendalam.

Proses pengumpulan data ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Pengumpulan data dilakukan terhadap sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Data adalah sesuatu yang belum memiliki arti bagi penerimanya dan masih membutuhkan adanya suatu pengolahan. Data bisa memiliki berbagai wujud, mulai dari gambar, suara, huruf, angka, bahasa, simbol, bahkan keadaan. Semua hal tersebut dapat disebut sebagai data asalkan dapat kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian, ataupun suatu konse

Jenis Wawancara (skripsi dan tesis)

Terdapat dua jenis wawancara, yakni: 1). wawancara mendalam (in-depth
interview), di mana peneliti menggali informasi secara mendalam dengan cara terlibat langsung dengan kehidupan informan dan bertanya jawab secara bebas tanpa pedoman pertanyaan yang disiapkan sebelumnya sehingga suasananya hidup, dan dilakukan berkalikali; 2). wawancara terarah (guided interview) di mana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Berbeda dengan wawancara mendalam, wawancara terarah memiliki kelemahan, yakni suasana tidak hidup, karena peneliti terikat dengan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Sering terjadi pewawancara atau peneliti lebih memperhatikan daftar pertanyaan yang diajukan daripada bertatap muka dengan informan, sehingga suasana terasa kaku.

Wawancara (skripsi dan tesis)

Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara (interview) adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara pewawancara (interviewer) dan sumber informasi atau orang yang di wawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung (yusuf, 2014).
Metode wawancara/interview juga merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden/ orang yang di wawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara. Dalam wawancara tersebut biasa dilakukan secara individu maupun dalam bentuk
kelompok, sehingga di dapat data informatik yang orientik.
Wawancara bertujuan mencatat opini, perasaan, emosi, dan hal lain berkaitan dengan individu yang ada dalam organisasi. Dengan melakukan interview, peneliti dapat memperoleh data yang lebih banyak sehingga peneliti dapat memahami budaya melalui bahasa dan ekspresipi hak yang diinterview; dan dapat melakukan klarifikasi atas hal‐ hal yang tidak diketahui. Pertanyaan pertama yang perlu diperhatikan dalam interview adalah Siapa yang
harus diinterview ? Untuk memperoleh data yang kredibel makain terview harus dilakukan dengan Know ledgeable Respondent yang mampu menceritakan dengan akurat fenomena yang diteliti. Isu yang kedua adalah Bagaimana membuat responden mau bekerjasama? Untuk merangsang pihak lain mau meluangkan waktu untuk diinterview, maka perilaku
pewawancara dan responden harus selaras sesuai dengan perilaku yang diterima secara sosial sehingga ada kesan saling menghormati. Selain itu, interview harus dilakukan dalam waktu dan tempat yang sesuai sehingga dapat menciptakan rasa senang, santai dan bersahabat.
Kemudian, peneliti harus berbuat jujur dan mampu meyakinkan bahwa identitas responden tidak akan pernah diketahui pihak lain kecuali peneliti dan responden itu sendiri. Data yang diperoleh dari wawancara umumnya berbentuk pernyataan yang menggambarkan pengalaman, pengetahuan, opini dan perasaan pribadi. Untuk memperoleh data ini peneliti dapat menggunakan metode wawancara standar yangt erskedul (Schedule Standardised
Interview), interview standart akterskedul (Non‐Schedule Standardised Interview) atau interview informal (Non Standardised Interview). Ketiga pendekatan tersebut dapat dilakukan dengan teknik sebagai berikut: a) Sebelum wawancara dimulai, perkenalkan diri dengan sopan untuk menciptakan hubungan baik b) Tunjukkan bahwa responden memiliki kesan
bahwa dia orang yang “penting” c) Peroleh data sebanyak mungkin d) Jangan mengarahkan jawaban e) Ulangi pertanyaan jika perlu f) Klarifikasi jawaban g) Catat interview (Chairi, 2009).
Teknis pelaksanaan wawancara dapat dilakukan secara sistematis atau tidak sistematis. Yang dimaksud secara sistematis adalah wawancara dilakukan dengan terlebih dahulu peneliti menyusun instrument pedoman wawancara. Disebut tidak sistematis, maka peneliti meakukan wawancara secara langsung tanpa terlebuh dahulu menyusun instrument pedoman wawancara. Saat ini. dengan kemajuan teknologi informasi, wawancara bisa saja dilakukan
tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Dalam wawancara harus direkam, wawancara yang direkamakn memberikan nilai tambah. Karena, pembicaraan yang di rekam akan menjadi bukti otentik bila terjadi salah penafsiran. Dan setelah itu data yang direkam selanjutnya ditulis kembali dan diringkas. Dan peneliti memberikan penafsiran atas data yang diperoleh lewat wawancara. Susunan wawancara itu dapat dimulai dengan sejarah kehidupan, tentang gambaran umum situasi pertisipan. Pertanyaan yang diajukan juga berupa hasil pengalaman. Dalam mengajukan pertanyaan, peneliti harus memberikan penekanan kepada arti dari pengalaman
tersebut. Prinsip umum pertanyaan dalam wawancara adalah ; harus singkat, open ended, singular dan jelas. Peneliti harus menyadari istilah-istilah umum yang dimengerti partisipan. Dan sebaiknya wawancara tidak lebih dari 90 menit. Bila dibutuhkan, peneliti dapat meminta waktu lain untuk wawancara selanjutnya (Semiawan, 2010). Wawancara mendalam adalah
interaksi/pembicaraan yang terjadi antara satu orang pewawancara dengan satu orang informan (Manzilati, 2017).
Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Karena merupakan proses pembuktian, maka bisa saja hasil wawancara
sesuai atau berbeda dengan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Agar wawancara efektif, maka terdapat berapa tahapan yang harus dilalui, yakni ; 1). mengenalkan diri, 2). menjelaskan maksud kedatangan, 3). menjelaskan materi wawancara, dan 4). mengajukan pertanyaan (Yunus, 2010: 358).

Teknik Pengumpulan Data Metode Kualitatif (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian kualitatif, kualitas riset sangat tergantung pada kualitas dan kelengkapan  data yang dihasilkan. Pertanyaan yang selalu diperhatikan dalam pengumpulan data adalah apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Penelitian kualitatif bertumpu pada triangulation data
yang dihasilkan dari tigametode : interview, participan to bservation, dan telaah catatan organisasi (document records)
Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data lazimnya menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Juga tidak diabaikan kemungkinan menggunakan sumbersumber non-manusia (non-human source of information), seperti dokumen, dan rekaman (record) yang tersedia. Pelaksanaan pengumpulan data ini juga melibatkan berbagai aktivitas pendukung lainnya, seperti menciptakan rapport, pemilihan informan, pencatatan data/informasi hasil pengumpulan data. Karena itu dalam bagian ini akan dibahas secara berturut-turut; Penciptaan rapport, Pemilihan informan, Pengumpulan data dengan metode observasi, dokumentasi, wawancara, Pengumpulan data dari sumber non-manusia dan
Pencatatan data/ informasi hasil pengumpulan data.
a. Penciptaan Rapport
Menurut Faisal (1990) penciptaan rapport ini merupakan prasyarat yang amat penting. Peneliti tidak akan dapat berharap untuk memperoleh informasi secara produktif dari informan apabila tidak tercipta hubungan harmonis yang saling mempercayai antara pihak peneliti dengan pihak yang diteliti.Terciptanya hubungan harmonis satu dengan yang lain
saling mempercayai, tanpa kecurigaan apapun untuk saling membuka diri, merupakan permasalahan yang berkaitan dengan penciptaan rapport. Untuk mencapai tingkat rapport yang membuat informan bisa menjadi semacam co-reseacher (sejawat atau pasangan bagi seorang peneliti), menurut Faisal, lazimnya ia mengalami proses 4 (empat) tahap, yaitu; (1)
apprehension (2) exploration (3) cooperation, dan (4) participation.
b. Pemilihan Informan
Pemilihan informan dengan sendirinya perlu dilakukan secara purposif (bukan secara acak) yaitu atas dasar apa yang diketahui tentang variasi-variasi yang ada atau elemenelemen yang ada atau sesuai kebutuhan penelitian. Dengan kata lain jika suatu penelitian sudah tidak ada informasi yang dibutuhkan lagi (data yang diperoleh sudak dianggap cukup) maka peneliti tak perlu lagi melanjutkannya dengan mencari informasi atau informan lain (sample baru). Artinya jumlah sample/ informan bisa sangat sedikit, tetapi bisa juga sangat
banyak. Itu sangat tergantung pada; (1) memilihan informannya itu sendiri, dan (2) kompleksitas/keragaman fenomena yang di kaji (pokok masalah penelitian). Jadi yang penting dalam penelitian kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi bukan jumlah sample atau informannya. Oleh karena itu terdapat tiga tahap yang biasa dilakukan dalam pemilihan sample/informan, yaitu: (1) pemilihan sample/informan awal, apakah informan (untuk diwawancarai) ataukah suatu situasisosial (untuk diobservasi). (2) pemilihan sample/informan lanjutan, guna memperluas informasi dan melacak seganap variasi
informasi yang mungkin ada, dan (3) menghentikan pemilihan sample/informan lanjutan sekiranya sudah tidak muncul lagi informasi- informsi baru (Subadi, 2006)
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data-data penelitian dari sumber data (subyek maupun sampel penelitian). Teknik pengumpulan data merupakan suatu kewajiban, karena teknik pengumpulan data ini
nantinya digunakan sebagai dasar untuk menyusun instrumen penelitian. Instrument penelitian merupakan seperangkat peralatan yang akan digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data-data penelitian (Kristanto, 2018). Pengumpulan data merupakan tahapan yang sangat
penting dalam sebuah penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahapan ini tidak boleh salah
dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif. Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta(participant observaction), wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi (Sugiono, 2017). Pada dasarnya kegunaan data (setelah diolah dan dianalisis)
ialah sebagai dasar yang objektif didalam proses pembuatan keputusan–keputusan/kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam rangka ntuk memecahkan persoalan oleh pengambil keputusan (Situmorang, 2010).
Misalnya, jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai persepsi guru terhadap kurikulum yang baru, maka teknik yang di pakai ialah wawancara, bukan observasi. Sedangkan, jika peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menciptakan suasana kelas yang
hidup, maka teknik yang dipakai adalah observasi. Begitu juga jika, ingin diketahui mengenai kompetensi siswa dalam mata pelajaran tertentu, maka teknik yang dipakai adalah tes, atau bisa juga dokumen berupa hasil ujian. Dengan demikian, informasi yang inin di peroleh menentukan
jenis teknik yang di pakai (materials determine a means) (Rahardjo, 2011).
Namun, masih di perlukan kecakapan peneliti menggunakan teknik-teknik tersebut.
Karena bisa jadi jika belum berpengalaman atau belum memiliki pengetahuan yang memadai, peneliti tidak berhasil menggali informasi yang dalam, sebagaimana karakteristik data dalam penelitian kualitatif, karena kurang cakap menggunakan teknik tersebut, walaupun teknik yang dipilih sudah tepat. Solusinya terus belajar dan membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya
yang sejenis akan sangat membantu menambah kecakapan peneliti.
Penggunaan istilah „data‟ sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kualitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian
sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau focus penelitian.
Dalam bahasa teknik pengumpulan data untuk penelitian kualitatif akan dibagi menjadi dua kegiatan belajar belajar yakni : kegiatan belajar 1) tentang teknik wawancara dan observasi, kegiatan belajar 2) tentang teknik dokumentasi dan trialungasi (Suwendra, 2018). Dan di dalam metode penelitian kualitatif juga lazimnya data di kumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu ; 1) wawancara, 2) observasi, 3) dokumentasi, dan 4) diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Sebelum masing-masing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting yang harus dipahami oleh setiap peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk memperoleh informasi apa, dan pada bagian focus masalah mana yang memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, dst. Pilihan teknik tergntung pada jenis informasi yang di peroleh.
Keberhasilan dalam pengumpulan data banyak ditentukan oleh kemampua n peneliti menghayati situasi sosial yang dijadikan fokus penelitian. Ia dapat melakukan wawancara dengan subjek yang ia teliti, ia harus mampu mengamati situasi sosial, yang terjadi dalam konteks yang sesungguhnya, ia dapat memfoto fenomena, symbol, dan tanda yang terjadi, ia mungkin pula merekam dialog yang terjadi. Peneliti tidak akan mengakhiri fase pengumpulan data, sebelum ia yakin bahwa data yang terkumpul dari berbagai sumber yang berbeda dan terfokus pada situasi sosial yang di teliti telah mampu menjawab tujuan penelitian. Dalam konteks ini validitas, reabilitas, dan triangulasi (triangulation) telah dilakukan dengan benar, sehingga ketepatan (accuracy) dan kredibilitas (credibility) tidak diragukan lagi oleh siapapun (yusuf, 2014).
Data penelitian kualitatif biasanya berbentuk teks, foto, cerita, gambar, artifacts, dan bukan berupa angka-angka hitung-hitungan. Data dikumpulkan bilamana arah dan tujuan penelitian sudah jelas dan juga bila sumber data yaitu informan atau partisipan sudah diidentifikasi, dihubungi serta sudah mendapatkan persetujuan atas keinginan mereka untuk memberikan informasi yang dibutuhkan. Jadi, data penelitian kualitatif diperoleh dengan berbagai macam cara : wawancara, observasi, dan dokumen. Perolehan data dengan berbagai macam cara ini disebut triangulasi (triangulation). Alasan menggunakan trangulasi adalah bahwa tidak ada metode pengumpulan data tunggal yang sanga cocok dan dapat benar-benar sempurna. Dalam banyak penelitian kualitatif, peneliti umumya menggunakan teknik triangulasi dalam arti menggunakan interview dan observasi (Semiawan, 2010).

Triangulasi Kualitatif (skripsi dan tesis)

Triangulasi adalah menguji keabsahan data dengan mencocokkan atau membandingkannya dengan sesuatu yang lain (di luar data yang mau diuji keabsahannya). Katakan saja bahwa anda mau menguji keabsahan data anda maka yang perlu dan segera dilakukan adalah mencari data atau sesuatu yangrelevan dengan data anda.

Dua cara yang bisa anda lakukan saat anda melakukan triangulasi:

Triangulasi dengan sumber yang sama tetapi dengan cara atau metode yang berbeda

Triangulasi dengan cara atau metode yang sama tetapi dengan sumber yang berbeda

Dari dua cara triangulasi di atas ternyata yang paling banyak digunakan adalah pencocokkan dengan sumber yang berbeda. Triangulasi sumber data adalah  mengecek kembali data-data yang sudah anda dapatkan dari informan utama dengan cara menanyakan kebenaran data kepada informan tambahan (bisa satu atu lebih).

Sedangkan triangulasi metode adalah mengecek kembali data dengan cara yang berbeda.

Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk melahirkan sebuah teori baru atau mengembangkan sebuah teori lama yang dihasilkan oleh peneliti sebelumnya. Jika anda tidak menemukan sebuah teori (baru) maka bisa dikatakan bahwa penelititan yang anda lakukan nihil hasilnya. Melahirkan sebuah teori baru tentunya bukan sembarang teori tetapi sebuah teori yang akan bisa dan dapat diterima oleh orang banyak. Oleh karena itu perlu dilakukan triangulasi teori sebelum teori anda dipublikasikan yaitu dengan mencocokkan teori anda dengan teori yang relevan bertujuan untuk menghindari penyimpangan individual.

Karakteristik Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Creswell (2007, p. 45-47) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian kualitatif yang baik, antara lain:

  1. peneliti menggunakan prosedur mendapatkan data yang tepat.
  2. Peneliti membatasi penelitian di dalam asumsi dan karakteristik dari pendekatan kualitatif.
  3. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitiannya.
  4. Peneliti memulai penelitian dengan satu fokus.
  5. Penelitian berisi metode yang rinci, pendekatan yang tepat dalam pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan.
  6. Peneliti menganalisis data menggunakan pemisahan analisis dalam beberapa level.
  7. Peneliti menulis secara persuasif, sehingga pembaca dapat merasakan pengalaman yang sama.
  8. Proses penelitian dengan pendekatan kualitatif

Penelitian kualitatif dimulai dengan ide yang dinyatakan dengan pertanyaan penelitian (research questions). Pertanyaan penelitian tersebut yang nantinya akan menentukan metode pengumpulan data dan bagaimana menganalisisnya. Metode kualitatif bersifat dinamis, artinya selalu terbuka untuk adanya perubahan, penambahan, dan penggantian selama proses analisisnya (Srivastava, A. & Thomson, S.B., 2009).

Alasan memilih metode kualitatif (skripsi dan tesis)

Sale, et al. (2002) menyatakan bahwa penggunaan metode dipengaruhi oleh dan mewakili paradigma yang merefleksikan sudut pandang atas realitas. Lebih lanjut, Kasinath (2013) mengemukakan ada tiga alasan untuk menggunakan metode kualitatif, yaitu (a) pandangan peneliti terhadap fenomena di dunia (a researcher’s view of the world), (b) jenis pertanyaan penelitian (nature of the research question), dan (c) alasan praktis berhubungan dengan sifat metode kualitatif (practical reasons associated with the nature of qualitative methods).

Sementara itu, menurut McCusker, K., & Gunaydin, S. (2015), pemilihan penggunaan metode kualitatif dalam hal tujuan penelitiannya adalah untuk memahami bagaimana suatu komunitas atau individu-individu dalam menerima isu tertentu. Dalam hal ini, sangat penting bagi peneliti yang menggunakan metode kualitatif untuk memastikan kualitas dari proses penelitian, sebab peneliti tersebut akan menginterpretasi data yang telah dikumpulkannya.

Metode kualitatif membantu ketersediaan diskripsi yang kaya atas fenomena. Kualitatif mendorong pemahaman atas substansi dari suatu peristiwa. Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak hanya untuk memenuhi keinginan peneliti untuk mendapatkan gambaran/penjelasan, tetapi juga membantu untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam (Sofaer, 1999). Dengan demikian, dalam penelitian kualitatif, peneliti perlu membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait permasalahan yang akan ditelitinya.

Definisi penelitian kualitatif (skripsi dan tesis)

Definisi penelitian kualitatif dapat ditemukan pada banyak literatur. Antara lain, Ali dan Yusof (2011) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai:

Any investigation which does not make use of statistical procedures is called “qualitative” nowdays, as if this were a quality label in itself.

Definisi dari Ali dan Yusof tersebut, menekankan pada ketidakhadiran penggunaan alat-alat statistik dalam penelitian kualitatif. Hal ini tentunya untuk mempermudah dalam membedakan penggunaan metode kualitatif dengan penggunaan metode kuantitatif. Karena metode kuantitatif bergantung pada penggunaan perhitungan dan prosedur analisis statistika.

Sementara itu, metode kualitatif lebih menekankan pada pengamatan fenomena dan lebih meneliti ke subtansi makna dari fenomena tersebut. Analisis dan ketajaman penelitian kualitatif sangat terpengaruh pada kekuatan kata dan kalimat yang digunakan. Oleh karena itu, Basri (2014) menyimpulkan bahwa fokus dari penelitian kualitatif adalah pada prosesnya dan pemaknaan hasilnya. Perhatian penelitian kualitatif lebih tertuju pada elemen manusia, objek, dan institusi, serta hubungan atau interaksi di antara elemen-elemen tersebut, dalam upaya memahami suatu peristiwa, perilaku, atau fenomena (Mohamed, Abdul Majid & Ahmad, 2010).