Penelitian Cohort (skripsi dan tesis)

Penelitian cohort merupakan penelitian epidemiologis non eksperimental yang mengkaji antara variable independen (faktor resiko) dan fariabel dependen (efek kejadian atau penyakit). Pendekatan yang digunakan pada rancangan penelitian ini adalah pendekatan waktu secara longitudinal. Oleh karena itu, penelitian kohort ini disebut juga sebagai penelitian prospektif. Peneliti yang menggunkan rancangan ini mengobservasi variable independen (faktor resiko ) terlebih dahulu, kemudian subjek diikutii hingga priode waktu tertentu untuk melihat pengaruh variable independen terhadap variable dependen (kejaidan atau penykit yang diteliti) (Nursalam, 2003).

 

Pre Experimental Design (skripsi dan tesis)

Rancangan ini merupakan rancangan penelitian eksperimen yang  paling lemah dan tidak digunakan untuk membuktikan kausalitas. Pre experimental design terdiri atas one shot case study, pretest-pretest design dan static group comparison.

One shot case study

Penelitian ini dilakukan dengn memberikan intervensi/perlakuan untuk kemudian dilihat dampaknya atau pengaruhnya /hasil pengamatan seperti penelitian berikut : “Pengaruh PKMRS terhadap Tingkat Kepatuhan Kontrol
.” Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah, subjek diberikan penyuluhan tentang kesehatan masyarakat, kemudian dilihat dampaknya terhadap tingkat kepatuhan control.

Pre test-post test design

Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest (pengamatan awal) terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi, Setelah diberikan intervensi, kemudian dilakukan kembali posttest (pengamatan akhir).

Static group comparison

Rancangan ini merupakan rancangan preeksperimental dengan cara menmbah kelompok control. Caranya adalah pada kelompok perlakuan setelah diberikan perlakuan, lalu dilakukan pengamatan, sedangkan pada kelompok control hanya dilakukan pengamatan saja.

Kelemahan desain preexperimental ini adlah akan terdapat bnyak variable-variabel luar yang berpengaruh dan sulit dikontrol sehingga tingkat validitas akan berkurang atau akan menyebabkan hasil intervensi yang di dapat kurang akurat.

True Experimental Design (Desain Eksperimen Murni) (skripsi dan tesis)

True experimental design merupakan jenis rancangan penelitin yang mempunyai ketelitian tinggi karena sampelnya dipilih secara acak dan ada kelompok kontrolnya. Pada penelitian ini semua variable luar dapat dikontrol sehingga rancangan ini dapat dikenal dengan experiment yang betul-betul experiment.

Ada tiga jenis true experimental design, yakni 1) randomized pretest-posstest control group design, 2) randomized posstest only control design, 3) solomom four group design.

Randomized Pretest-Posstest Control Group Design

Model rancangan ini adalah ada dua kelompok yang dipilih secara acak, lalu diberi pretest untuk mencari perbedaan dengan kelompok control terhadap eksperimen yang digunakan.

Randomized Posstest Only Control Design

Cara yang digunakan untuk model rancangan ini adalah ada dua kelompok yang dipilih secara acak, kemudian satu kelompk diberi perlakuan, sedangkan yang lainnya tidak diberi perlakuan dan kemudian langsung diamati atau diukur.

Solomom Four Group Design

Cara yang digunakan dalam rancangan ini adalah mengambil sampel yang telah diacak sebelumnya, kemudian dibagi dalam empat kelompok, kelompok pertama dilakukan observasi/pengamatan, kemudian diberikan perlakuan lalu diukur/diobservasi. Pada kelompok kedua dilakukan observasi awal tanpa perlakuan kemudian diukur/diamati. Untuk kelompok ketiga langsung diberi perlakuan dan sesudahnya dilakukan pengamatan, sedangkan pada kelompok keempat langsung dilakukan pengamatan.

Quasy Experimental Design (Desain Eksperimen Semu) (skripsi dan tesis)

Rancangan ini merupakan bentuk desain eksperimen yang lebih baik validitas internalnya daripada rancangan preeksperimental dan lebih lemah dari true experimental. Desain ini terdiri atas time series design, nonequivalent control group design, equivalent time sampel design, dll.

Time Series Design

Dalam rancangan ini, pada sampel penelitian, sebelum dilaksanakannya perlakuan dilakukan observasi beberapa kali dan sesudah perlakuan juga dilakukan beberapa kali observasi.

 Nonequivalent Control Group Design

Sampel pada penelitian ini diobservasi terlebih dahulu sebelum diberi perlakuan, kemudian setelah diberikan perlakuan sampel tersebut diobservasi kembali.

Equivalent Time Sampel Design

Sampel penelitian dipilih dalam rancangan ini adalah dua sampel yang ekivalen waktunya. Sampel A diberikan perlakuan X dan sampel B tidak diberikan perlakuan, keduanya kemudian diobservasi dan dilakuak secara berulang-ulang.

Macam penelitian deskriptif (skripsi dan tesis)

Macam penelitian deskriptif antara lain adalah :

    • Survey

Adalah suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan obyek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu. Keuntungan dari survey adalah dapat menjaring responden secara luas dan dapat mendapatkan informasi yang bermacam-macam serta hasil informasi dapat dipergunakan untuk tujuan lainnya.

  •       Case Studi/studi kasusDilaksanakan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri ari unit tunggal. Unit tunggal disini dapat berarti satu orang, kelompok penduduk yang terkena suatu masalah misalnya keracunan atau suatu kelompok masyarakat disuatu daerah. Tujuannya adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga ataupun masyarakat.Cirri-ciri studi kasus

1)      Cenderung untuk meneliti sejumlah unit yang kecil, tetapi mengenai variable dan kondisi yang besar jumlahnya.

2)      Penelitian kasus sangat berguna untuk informasi latar belakang guna merencanakan yang lebih besar dalam ilmu kesehatan dan sosial.

3)      Penelitian kasus memberikan contoh yang berguna berdasarkan data yang diperoleh untuk member gambaran mengenai penemuan yang disimpulkan dengan statistic.

Kelemahan studi kasus

1)      Tidak memungkinkan generalisasi yang objektif pada populasi sebab perincian kasus memang sangat terbatas representatifnya.

2)      Hasilnya kurang obyektif

Ciri-ciri penelitian deskriptif (skripsi dan tesis)

Ciri-ciri penelitian deskriptif adalah :

  • Pada umumnya bersifat menyajikan potret keadaan yang bisa mengajukan hipotesis atau tidak
  • Merancang cara pendekatan, hal yang mmeliputi mecam datanya, penentuan sampelnya, penentuan metode pengumpulan datanya dan penyajian hasilnya.
  • Tidak perlu kelompok pembanding.
  • Tidak mencari penyebab suatu masalah.
  •   Mengumpulkan data.
  • Penyusunan laporan.

Penelitian Observasional Deskriptif (skripsi dan tesis)

Metode penelitian deskritif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalhan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan, membuat kesimpulan dan laporan.

Metode penelitian deskriptif juga diharapkan seorang eneliti berusaha untuk memaprkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdaasarkan data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasikan data. Penelitian ini juga bisa bersifat komparatif, korelatif, ataupun analitik.

Masalah yang layak diteliti dalam penelitian ini adalah masalah yang sedang banyak dihadapi saat ini, khususnya dibidang pelayanan kesehatan. Masalah ini baik yang berkaitan dengan aspek yang cukup banyak, menelaah satu kasus tunggal, mengadakan perbandingan  antara satu hal dengan hal yang lain, melihat pengaruh sesuatu terhadap faktor yang lain atau melihat hubungan suatu gejala dengan faktor yang lain.

Definisi Desain Penelitian Klinik (Skripsi dan tesis)

Agar suatu peneliti dapat mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan maka perlu ditetapkan dahulu desain penelitiannya. Adapun yang dimaksud dengan desain penelitian disini adalah macam atau jenis penelitian tertentu yang terpilih untuk dilaksanakan dalam rangka mencaapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Jika ditinjau dari kehendak untuk mencapai tujuan penelitian, maka peranan desain penelitian adalah amat penting. Peranan tersebut setidak-tidaknya dapat dibedakan atas dua macam yaitu :

  1. Sebagai alat untuk mencapai tujuan penelitian. Memilih suatu desaain penelitian berarti menetapkan macam atau jenis penelitian yang akan dilaksaanakan. Peranan desain penelitian disini adalah sama dengan peranan penelitian itu sendiri yakni sebagai alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Sebagai pedoman dalam melaksankan penelitian. Karena setiap macam atau jenis penelitian meneliti tata laksana tersendiri, maka pemilihan terhadap suatu desain penelitian berarti sekaligus memilih pula tatalaksananya. Tatalaksana ini pada dasaarnya adalah suatu pedoman yang harus dipakai sebagai pegangan dalam melakukan penelitian.

 

Dengan perkataan lain peranan suatu desain penelitian dapat diibaratkan sebagai kendaraan bagi para penumpang, yang akan mengantarkannya sampai ke tujuan, serta juga sebagai rambu-rambu lalu lintas yang akan menuntun keselamatan dalam perjalanan.

Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian. Desain penelitian yang umumnya digunakan di bidang keperawatan adlah rancangan penelitian deskriptif (korelasi, cross sectional), rancangan observasional (case control, cohort), dan rancangan intervensi atau eksperimen (preexperimental, true experimental, dan quasy experimental). (Aziz Alimul Hidayat. 2007)

Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Desain penelitian mengacu pada jenis atau macam penelitian yang dipilih untuk mencapai tujuan penelitian, serta berperan sebagai alat dan pedoman untuk mencapai tujuan tersebut. Desain penelitian membantu peneliti untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian dengan sahih, objektif, akurat serta hemat.

Desain harus disusun dan dilaksanakan dengan penuh perhitungan agar dapat menghasilkan petunjuk empiris yang kuat relevansinya dengan pertanyaan penelitian. Terdapat hal penting yang perlu dinilai sebelum kita menentukan jenis penelitian yaitu :

Pertama, sejak awal peneliti harus menentukan apakah akan dilakukan intervensi dalam penelitian tersebut, yaitu dengan melakukan penelitian intervensional (eksperimental) atau apakah hanya melakukan pengamatan saja tanpa intervensi yaitu dengan melakukan observasional.

Kedua, bila peneliti memilih studi observasional, perlu ditentukan apakah akan mengadakan pengamatan sewaktu (croosectional) atau melakukan follow up dalam jangka waktu tertentu (longitudinal). Ketiga, apakah akan dilakukan studi retrospektif yaitu meneliti peristiwa yang sudah berlangsung atau prospektif yaitu dengan mengikuti subyek untuk meneliti peristiwa yang belum terjadi.

Kekuatan Dan Kelemahan Studi Kohort (skripsi dan tesis)

Kekuatan studi kohort, meliputi:
1. Pada awal penelitian, sudah ditetapkan bahwa subjek harus bebas dari penyakit, kemudian diikuti sepanjang periode waktu tertentu sampai timbulnya penyakit yang diteliti, sehingga sekuens waktu antara faktor risiko dan penyakit atau efek dapat diketahui secara pasti.
2. Dapat menghitung dengan akurat jumlah paparan yang dialami populasi.
3. Dapat menghitung laju insidensi atau kecepatan terjadinya penyakit, karena penelitian dimulai dari faktor risiko sampai terjadinya penyakit.
4. Dapat meneliti paparan yang langka.
5. Memungkinkan peneliti mempelajari sejumlah efek atau penyakit secara serentak sebuah paparan. Misalnya, apabila kita telah mengidentifikasi kohort berdasarkan pemakaian kontrasepsi oral (pil KB), maka dengan studi kohort dapat diketahui sejumlah kemungkinan efek kontrasepsi oral pada sejumlah penyakit, seperti infark miokardium, kanker payudara, dan kanker ovarium.
6. Dapat memeriksa dan mendiagnosa dengan teliti penyakit yang terjadi.
7. Bias dalam menyeleksi subjek dan menentukan status paparan kecil
8. Hubungan sebab akibat lebih jelas dan lebih meyakinkan.

Kelemahan studi kohort, meliputi:
1. Tidak efisien dan praktis untuk mempelajari kasus yang langka
2. Pada studi prospektif, akan memerlukan biaya banyak (mahal), dan membutuhkan banyak waktu.
3. Pada studi retrospektif, membutuhkan ketersediaan catatan yang lengkap dan akurat.
4. Validitas hasil penelitian dapat terancam, karena adanya subjek subjek yang hilang pada saat follow-up.
5. Dapat menimbulkan masalah etika, karena peneliti membiarkan subjek terkena pajanan yang merugikan.

Langkah-Langkah Dalam Studi Kohort (skripsi dan tesis)

  

            Dalam melakukan studi kohort, peneliti sebaiknya melakukan tahapan sebagai berikut:

  1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis

            Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti, adalah merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian, menentukan apa yang menjadi variabel dalam penelitian, baik variabel dependen, maupun variabel independen, dan yang selanjutnya peneliti akan merumuskan hipotesa penelitian.

  1. Menentukan kelompok terpapar dan tidak terpapar

     Pada studi kohort, harus diperhatikan mengenai penentuan kelompok yang akan mendapat paparan dengan kelompok yang tidak akan mendapat paparan. Pemilihan kelompok terpapar yang berasal dari populasi umum memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat dari subjek penelitian.

Populasi umum merupakan pilihan yang tepat pada beberapa keadaan, seperti:

  1. Prevalensi paparan pada populasi cukup tinggi
  2. Batas geografik jelas, dan secara demografik stabil
  3. Ketersediaan catatan demografi yang lengkap dan up to date

            Selain populasi umum, kita dapat menggunakan populasi khusus. Populasi khusus merupakan alternatif pada keadaan apabila prevalensi paparan dan kejadian penyakit pada populasi umum rendah, dan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi yang akurat.

            Kelompok tidak terpapar atau kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan subjek yang tidak mengalami pemaparan, atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target. Penentuan kelompok tidak terpapar dapat dipilih dari populasi yang sama dengan populasi kelompok terpapar, dan dapat dipilih dari populasi yang bukan asal kelompok terpapar, tetapi harus dipastikan kedua populasi harus sama dalam hal faktor faktor yang merancukan penilaian hubungan antara paparan dan penyakit yang sedang diteliti.

            Kelemahan dalam menggunakan populasi umum adalah derajat kesehatan berbeda, data kependudukan, kesehatan, dan catatan medik pada populasi umum tidak seakurat pada populasi khusus.

  1. Menentukan Sampel

            Hitung perkiraan besarnya sampel yang dibutuhkan. Untuk menentukan perkiraan besarnya sampel satu kohort dapat digunakan rumus dari Sndecor and Cochran. Untuk dua kohort, terutama untuk pengujian hipotesis, harus diperhatikan kekuatan uji yaitu 1-β.4.

  1. Pengambilan data dan pencatatan

            Kedua kelompok yang telah ditetapkan, yaitu kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, kemudian diikuti selama jangka waktu tertentu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam penelitian. Selanjutnya peneliti melakukan pencatatan semua keterangan yang telah diperoleh sesuai tujuan penelitian.

  1. Pengolahan dan analisis data hasil penelitian

            Semua data yang telah diperoleh, meliputi data kejadian penyakit yang dialami oleh kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, dilakukan pengolahan data agar dapat ditangani dengan mudah, meliputi kegiatan editing, coding, processing, dan cleaning.

Setelah data diolah, dilakukan analisis data secara univariat dan bivariat, atau multivariat. Untuk menilai apakah paparan (faktor risiko) yang dialami subjek sebagai penyebab timbulnya penyakit, dilakukan uji kemaknaan dengan uji statistik yang sesuai. Keputusan uji statistik dapat dicari dengan pendekatan klasik ataupun probabilistik.

            Pada penelitian kohort, peneliti menghitung besarnya risiko yang dihadapi kelompok terpapar untuk terkena penyakit menggunakan perhitungan Relative risk/ RR (risiko relatif) dan Atribute risk/ AR (risiko atribut). RR adalah perbandingan antara insidensi penyakit yang muncul dalam kelompok terpapar dan insidensi penyakit yang muncul dalam kelompok tidak terpapar.

Analisis

  1. Insiden Risk ( IR ) = a/ (a+b)
  2. Relative Risk ( RR ) = IR kelompok terpapar : IR kelompok tidak terpapar = (a/a + b) : (c/c + d)
  3. Attributable Risk = IR kelompok terpapar – IR kelompok tidak terpapar

            RR harus selalu disertai nilai interval kepercayaan yang dikehendaki, misalnya 95%. Interpretasi hasil RR adalah:

  1. Jika nilai RR = 1, berarti variabel yang diduga sebagai faktor risiko tidak ada pengaruh dalam terjadinya efek.
  2. Jika nilai RR > 1 dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti variabel tersebut faktor risiko dari penyakit.
  3. Jika nilai RR < 1 dan rentang nilai interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti faktor risiko yang kita teliti merupakan faktor protektif untuk terjadinya efek.
  4. Jika nilai interval kepercayaan RR mencakup nilai 1, berarti mungkin nilai RR = 1 sehingga belum dapat disimpulkan bahwa faktor yang kita teliti sebagai faktor risiko atau faktor protektif.

 Karakteristik Studi Kohort (skripsi dan tesis)

Pada studi kohort, pemilihan subjek dilakukan berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek mengalami outcome yang diamati  atau tidak. Studi kohort memiliki karakteristik:

  1. Studi kohort bersifat observasional
  2. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
  3.      Studi kohort sering disebut sebagai studi insidens
  4. Terdapat kelompok kontrol
  5. Terdapat hipotesis spesifik
  6. Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
  7. Untuk kohort retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder

Pengertian Kohort Retrospektif (skripsi dan tesis)

Studi Kohort adalah studi yang mempelajari hubungan antara faktor risiko dan efek (penyakit atau masalah kesehatan), dengan memilih kelompok studi berdasarkan perbedaan faktor risiko. Kemudian mengikuti sepanjang periode waktu tertentu untuk melihat berapa banyak subjek dalam masing-masing kelompok yang mengalami efek penyakit atau masalah kesehatan.

Studi kohort dibedakan menjadi dua, yaitu: kohort prospektif dan kohort retrospektif. Studi kohort disebut prospektif apabila faktor risiko, atau faktor penelitian diukur pada awal penelitian, kemudian dilakukan follow up untuk melihat kejadian penyakit dimasa yang akan datang. Lamanya follow up dapat ditentukan berdasarkan lamanya waktu terjadinya penyakit.

 Pada studi kohort retrospektif, faktor risiko dan efek atau penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dimulainya penelitian. Dengan demikian variabel tersebut diukur melalui catatan historis.

Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini,pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi.

Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini, pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting dalam studi retrospektif adalah populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi kohort, dan yang diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui pencatatan data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian kohort retrospektif hanya dapat dilakukan, apabila data tentang faktor risiko tercatat dengan baik sejak terjadinya paparan pada populasi yang sama dengan efek yang ditemukan pada awal pengamatan.

Studi Kohort Penyakit Tidak Menular (PTM) (skripsi dan tesis)

 

Di Badan Litbangkes telah dilakukan penelitian studi kohort faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) termasuk faktor risiko perilaku serta sindrom metabolik, direncanakan dilaksanakan  minimal 10 tahun. Tahun 2011 telah dilakukan survey baseline data faktor risiko PTM utama, dan selanjutnya akan dilakukan follow-up  setiap individu yang diteliti untuk mengetahui perubahan faktor risiko dan kejadian PTM utama.  Pengumpulan data dilakukan secara prospektif, dengan followup secara periodik beberapa bulan untuk memantau faktor risiko perilaku dan fisik, dan setiap tahun/beberapa tahun untuk memantau faktor risiko biologik dan kejadian PTM. Penelitian ini membandingkan kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM dari kelompok individu  yang memiliki  faktor risiko PTM  seperti diet tidak sehat (kurang serat, tinggi garam, tinggi lemak), konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, merokok, sindrom metabolik (hipertensi, hiperglikemia/TGT, dislipidemia, obesitas) dan kombinasinya, dengan kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM pada kelompok individu yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut.
Adapun manfaat studi kohor PTM antara lain:
1)    Informasi insidens dan kecepatan terjadinya sindrom metabolik, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, PPOK dan strok merupakan evidenve based penting yang diperlukan bagi pelaksana program dalam rangka penyusunan rencana dan penentuan prioritas program pengendalian faktor risiko PTM
2)    Informasi prediktor utama PTM utama, dan risiko relatif faktor bermanfaat untuk pengembangan model pencegahan dan pengendalian PTM, serta pengobatannya secara efektif.
3)    Informasi prediktor PTM utama dan sindrom metabolik serta kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM merupakan tambahan ilmu pengetahuan bagi ilmuwan untuk melakukan penelitian etiologi lebih lanjut,
4)    Data dan laporan longitudinal dari studi ini dapat menggambarkan riwayat alamiah penyakit. Hal ini merupakan sumber data yang berpotensi untuk dianalisis lebih lanjut
5)    Bagi masyarakat khususnya responden, penelitian ini akan memberikan informasi faktor risiko dan PTM yang diderita. Dengan demikian masalah kesehatan yang diderita  dapat diketahu

Kelebihan dan Kekurangan dari Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Kelebihan :

  1. Cocok untuk mempelajari penyakit yang jarang ditemukan
  2. Hasil cepat, ekonomis
  3. Subjek penelitian bisa lebih sedikit
  4. Memungkinkan mengetahui sejumlah faktor risiko yang mungkin berhubungan dengan penyakit
  5. Kesimpulan korelasi kurang baik, karena ada pembatasan dan pengendalian faktor risiko
  6. Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau cohort
  7. Tidak memerlukan waktu lama (lebih ekonomis)

Kekurangan :

  1. Pengukuran variable yang retrospektif, objektifitas dan reliabilitasnya kurang karena subjek penelitian harus mengingat kembali factor-faktor risikonya,
  2. Tidak dapat diketahui efek variable luar karena secara teknis tidak dapat dikendalikan
  3. Kadang-kadang sulit memilih control yang benar-benar sesuai dengan kelompok kasus karena banyaknya factor resiko yang harus dikendalikan. 

Ciri-Ciri Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dan populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut Kontrol.Jenis penelitian ini dapat saja berupa penelitian restrospektif bila peneliti melihat ke belakang dengan menggunakan data yang berasal dari masa lalu atau bersifat prospektif bila pengumpulan data berlangsung secara berkesinambungan sering dengan berjalannya waktu. Idealnya penelitian kasus kontrol itu menggunakan kasus (insiden) baru untuk mencegah adanya kesulitan dalam menguraikan faktor yang berhubungan dengan penyebab dan kelangsungan hidup

Pengertian Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Penelitian Case Control adalah rancangan epidemiologis yang mempelajari hubungan antara paparan (amatan penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Mempelajari seberapa jauh faktor risiko mempengaruhi terjadinya efek.

Kelebihan Dan Kekurangan Dari Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

Kelebihan :

  1. Kesesuaian dengan logika normal dalam membuat inferensi kausal
  2. Dapat menghitung laju insidensi
  3. Untuk meneliti paparan langkah
  4. Dapat mempelajari beberapa akibat dari suatu paparan

Kekurangan :

  1. Lebih mahal dan butuh waktu lama
  2. Pada kohort retrospektif, butuh data sekunder yang lengkap dan handal
  3. Tidak efisien dan tidak praktis untuk kasus penyakit langka
  4. Risiko untuk hilangnya subyek selama penelitian, karena migrasi, partisipasi rendah atau meninggal
  5. rawan terhadap bias

Karakteristik Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

  1. Bersifat observasional
  2. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
  3. Disebut sebagai studi insidens
  4. Terdapat kelompok control
  5. Terdapat hipotesis spesifik
  6. Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
  7. Untuk kohor retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder

 Langkah-Langkah Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

 

  1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti, adalah merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian, menentukan apa yang menjadi variabel dalam penelitian, baik variabel dependen, maupun variabel independen, dan yang selanjutnya peneliti akan merumuskan hipotesa penelitian.

  1. Menentukan kelompok terpapar dan tidak terpapar

Pada studi kohort, harus diperhatikan mengenai penentuan kelompok yang akan mendapat paparan dengan kelompok yang tidak akan mendapat paparan. Pemilihan kelompok terpapar yang berasal dari populasi umum memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat dari subjek penelitian. Populasi umum merupakan pilihan yang tepat pada beberapa keadaan, seperti:

  1. Prevalensi paparan pada populasi cukup tinggi
  2. Batas geografik jelas, dan secara demografik stabil
  3. Ketersediaan catatan demografi yang lengkap dan up to date

Selain populasi umum, kita dapat menggunakan populasi khusus. Populasi khusus merupakan alternatif pada keadaan apabila prevalensi paparan dan kejadian penyakit pada populasi umum rendah, dan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi yang akurat.

                        Kelompok tidak terpapar atau kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan subjek yang tidak mengalami pemaparan, atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target. Penentuan kelompok tidak terpapar dapat dipilih dari populasi yang sama dengan populasi kelompok terpapar, dan dapat dipilih dari populasi yang bukan asal kelompok terpapar, tetapi harus dipastikan kedua populasi harus sama dalam hal faktor faktor yang merancukan penilaian hubungan antara paparan dan penyakit yang sedang diteliti.

                        Kelemahan dalam menggunakan populasi umum adalah derajat kesehatan berbeda, data kependudukan, kesehatan, dan catatan medik pada populasi umum tidak seakurat pada populasi khusus.

  1. Menentukan Sampel

Langkah selanjutnya dalam studi kohort adalah menetapkan besarnya sampel yang akan digunakan dalam penelitian.

  1. Pengambilan data dan pencatatan

Kedua kelompok yang telah ditetapkan, yaitu kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, kemudian diikuti selama jangka waktu tertentu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam penelitian. Selanjutnya peneliti melakukan pencatatan semua keterangan yang telah diperoleh sesuai tujuan penelitian.

  1. Pengolahan dan analisi data hasil penelitian

Semua data yang telah diperoleh, meliputi data kejadian penyakit yang dialami oleh kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, dilakukan pengolahan data agar dapat ditangani dengan mudah, meliputi kegiatan editing, coding, processing, dan cleaning. Selanjutnya data yang diperoleh disajikan dalam tabel.

Pengertian Kohort (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian kohort adalah sebuah rancangan penelitian dimana peneliti mengelompokkan atau mengklasifikasikan kelompok terpapar dan tidak terpapar, kemudian diamati sampai waktu tertentu untuk melihat ada tidak efek atau penyakit yang timbul.

Pada awal subjek penelitian harus bebas dari penyakit/masalah kesehatan, dari hasil pengamatan setelah rentang waktu yang ditentukan, dianalisis dengan teknik tertentu sehingga dapat disimpulkan apakah ada hubungan paparan dengan penyakit atau efek yang terjadi.

Rancangan penelitian kohort dibedakan menjadi kohort prospektif dan kohort retrosfektif :

  1. Kohort Prospektif :  Rancangan penelitian kohort prospektif apa bila paparan atau faktor risiko diukur pada wal penelitian, kemudian di follow up untuk mengetahui efek dari paparan dimasa datang. Lamanya follow up berdasarkan perkiraan lamanya efek akan terjadi. Biasanya penelitian ini dilakukan bertahun-tahun.
  2. Kohort Retrosfektif : Pada rancangan penelitian kohort retrospektif faktor risiko dan efek/penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dilakukan penelitian. Dengan demikian, variabel-variabel tersebut.

Studi Epidemiologi (skripsi dan tesis)

Epidemiologi merupakan suatu studi yang mengamati penyebaran (distribusi) dan penyebab (determinan) dalam kaitanya dengan masalah kesehatan pada skelompok populasi. Oleh karena itu dalam studi epidemiologi dibutuhkan rancangan yang baik dan jelas sehingga dapat memperoleh data yang diharapkan.

Ada dua studi yang dalam epidemiologi, yaitu (1) studi deskriptif dan (2) studi analitik. Studi deskriptif, telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya, dimana studi deskriptif untuk memperoleh gambaran kasus/kejadian/isu kesehatan masyarakat berdasar pada distribusi orang (who), tempat (where) dan waktu (when). Dalam studi ini merupakan support data untuk perumusan masalah dan hipotesis.

Yang dipelajari saat ini adalah epidemiologi analitik untuk membuktikan kebenaran hipotesis, sebagai studi lanjutan dari epidemiologi deskriptif. Studi lanjutan yang dilakukan oleh sebab dalam studi ini dalam studi ini dilengkapi dengan kelompok pembanding. Epidemiologi analitik adalah studi epidemiologi yang bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab (determinan) dari masalah kesehatan, sehingga dalam hal ini adalah menjawab pertanyaan mengapa (why) sebagai penyebab masalah kesehatan.  Untuk kemidian adalah dapat memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk tindakan pengendalian. Dalam studi analitik ada observasional  dan eksperimental.  Desaing epidemiologi analitik adalah (1) crossectional study (studi potong lintang), (2) case control study (studi kasus kontrol), yang merupakan studi retrospektif sedangkan (3) cohort study (studi kohort), dan experimental study (studi perlakuan) merupakan studi prospektif

Studi kohort (skripsi dan tesis)

Cohort merupakan istilah yang berasal dari bahasa romawi kuno yang artinya “sekelompok tentara yang maju bersama-sama ke medan pertempuran”  studi cohort sebagai studi prospektif  dengan 2 tujuan utama (1) mendeskripsikan insidens suatu kejadian penyakit/masalah kesehatan selama periode waktu tertentu, (2) meneliti hubungan antara faktor risiko dengan efek.

Walaupun studi ini pada dasarnya merupakan studi prospektif, tetapi kohort dapat dibagi menjadi 2 yaitu (1) Studi kohort prospektif apabila faktor risiko, atau faktor penelitian diukur pada awal penelitian, kemudian dilakukan follow up untuk melihat kejadian penyakit dimasa yang akan datang. Lamanya follow up dapat ditentukan berdasarkan lamanya waktu terjadinya penyakit. Sedangkan (2) studi kohort retrospektif dimana faktor risiko dan efek atau penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dimulainya penelitian. Dengan demikian variabel tersebut diukur melalui catatan historis. Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini, pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting dalam studi retrospektif adalah populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi kohort, dan yang diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui pencatatan data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian kohort retrospektif hanya dapat dilakukan, apabila data tentang faktor risiko tercatat dengan baik sejak terjadinya paparan pada populasi yang sama dengan efek yang ditemukan pada awal pengamatan. Berikan komentarnya!

Meta-analisis (skripsi dan tesis)

Meta-analisis mengandung pengertian suatu analisis pada sekumpulan hasil-hasil penelitian individual yang telah dianalisis, yang bertujuan untuk mengintegrasi hasil temuan dalam penelitian individual tersebut. Metaanalisis termasuk dalam studi observasional retrospektif; subyek penelitiannya adalah artikel atau laporan penelitian original baik yang dipublikasi ataupun tidak. Meta-analisis merupakan suatu cara untuk mengombinasikan secara kuantitatif beberapa hasil studi yang relevan, yang diperoleh dengan cara systematic review; atau singkatnya meta-analisis adalah suatu systematic review yang dilakukan analisis statistika untuk mendapatkan satu hasil gabungan. Sampai saat ini meta-analisis paling banyak digunakan untuk uji klinis

Uji klinis pragmatis dan eksplanatori (skirpsi dan tesis)

Uji klinis selalu dilakukan pada manusia atau pasien. Terdapat dua jenis uji klinis, yakni uji klinis pragmatis (pragmatic trial), dan uji klinis eksplanatori (explanatory trial). Hasil penelitian uji klinis yang relevan langsung dengan praktik adalah uji klinis pragmatis, yang direncanakan diterapkan dalam praktik klinis. Berikut beberapa karakteristik uji klinis pragmatis:
 Spektrum pasien sama dengan spektrum pasien dalam praktik sehari-hari. Ini ditandai dengan kriteria inklusi yang tidak amat ketat. Misalnya uji klinis untuk obat antidiabetes baru, kriteria inklusinya sama dengan kebanyakan pasien diabetes melitus pada umumnya di klinik (ada yang obes, malnutrisi, hipertensi, hiperkolesterolemia, dan seterusnya). Bila kriteria inklusi terlalu ketat (pasien diabetes yang tidak obes, tidak hipertensi, tidak hiperlipidemia, tidak ada riwayat penyakit jantung koroner dst), maka validitas interna studi tersebut (sangat) baik, akan tetapi  validitas eksternanya kurang baik (penerapan hasil penelitian tersebut dalam praktik menjadi terbatas).
 Yang diutamakan dalam uji klinis pragmatis adalah luaran uji klinis, tidak dipermasalahkan mekanisme bagaimana luaran itu terjadi. Misalnya uji klinis untuk menilai apakah obat tradisional tertentu dapat merangsang nafsu makan pada anak, maka yang dipentingkan adalah luarannya (berupa meningkatnya nafsu makan yang secara obyektif dinilai dengan peningkatan berat badan subyek penelitian), bukan mekanisme bagaimana terjadinya peningkatan nafsu makan.
 Bila luaran berskala binomial (sembuh atau tidak, berhasil atau tidak), maka analisis sebaiknya juga dilakukan secara intention-totreat analysis. Inti dari analisis ini adalah semua subyek yang telah dirandomisasi harus disertakan dalam analisis, tanpa melihat subyek tersebut telah mengikuti penelitian sampai selesai atau tidak. (Lihat bawah). Di lain sisi ada jenis uji klinis yang lain yang disebut uji klinis eksplanatori (explanatory trial) yang bertujuan mempelajari mekanisme mengapa terdapat perbedaan outcome pada kedua kelompok. Uji klinis seperti ini amat bermanfaat untuk pemahaman ilmiah, akan tetapi tidak secara langsung relevan dengan praktik sehari-hari. Pada uji klinis eksplanatori ini analisis akhir biasanya hanya melibatkan para peserta yang mengikuti penelitian sampai selesai (per protocol analysis atau on treatment analysis).

Tiga kesetaraan dalam uji klinis (skripsi dan tesis)

 Dalam praktik sehari-hari kita mengobati pasien dengan penyakit A dengan memberikan obat B, dan memintanya kembali kontrol 1 minggu kemudian. Bila semua gejala dan tanda yang semula ada menjadi hilang, maka pasien dinyatakan sembuh. Pertanyaan apakah kesembuhan tersebut semata-mata disebabkan oleh penggunaan obat B? Jawabnya adalah tidak. Karena selain obat B, ada 3 hal lain yang dapat menyebabkan pasien sembuh atau dinyatakan sembuh, yakni:
  Pertama adalah memang perjalanan penyakitnya seperti itu, dengan atau tanpa obat ia memang akan sembuh dalam waktu 1 minggu (natural history of the disease atau prognostic factors);
 Kedua, pasien minum obat lain, minum jamu, atau melakukan diet, atau istirahat cukup dan seterusnya (faktor-faktor ekstra atau extraneous factors);
  Ketiga adalah kriteria sembuh atau luaran yang dipergunakan (pengukuran outcome, measurement).  Dalam membandingkan hasil intervensi di antara dua kelompok yakni kelompok eksperimental (E) dan kelompok kontrol (C), maka ketiga hal yang disebut di atas harus setara atau sebanding.
 Setara dalam faktor prognostik. Kedua kelompok harus benarbenar sebanding dalam hal faktor prognostik; tidak boleh salah satu kelompok memiliki derajat penyakit yang lebih berat, atau kadar kolesterol yang lebih tinggi, usia lebih tua, atau status gizi lebih buruk, dan seterusnya dibanding kelompok lainnya.
Untuk dapat memperoleh 2 kelompok yang sebanding, proses yang diperlukan adalah randomisasi. Randomisasi apabila dilakukan dengan benar dan melibatkan cukup banyak subyek cenderung untuk membagi sama rata faktor prognostik dan sekaligus juga pelbagai faktor perancu (confounding variables) kedua kelompok.
 Setara dalam perlakuan. Semua subyek pada kedua kelompok harus diperlakukan sama, kecuali untuk pemberian obat atau prosedur yang diteliti. Tidak boleh misalnya subyek kelompok E memperoleh perhatian yang lebih baik, diberi tempat perawatan lebih nyaman, atau ditambah dengan diet atau obat tambahan, sedang kelompok kontrol tidak. Perlakuan yang sama ini dapat dijamin dengan penyamaran (masking, blinding). Pada cara ini satu atau lebih pihak yang terkait dalam uji klinis (peneliti, subyek, evaluator, petugas laboratorium, dll) dibuat tidak tahu jenis terapi yang diberikan. Bila dapat dilakukan penyamaran ganda (peneliti dan subyek tidak tahu obat / prosedur yang diberikan kepada subyek) maka kesahihan uji klinis amat baik.
 Setara dalam pengukuran luaran / outcome. Bila luaran uji klinis adalah “data keras” seperti meninggal atau hidup, atau hasil laboratorium yang dilakukan dengan mesin automatis yang terstandar, maka proses penyamaran tidak (terlalu) diperlukan. Namun apabila luarannya bersifat subyektif (nyeri, cemas, dan sebagainya) atau pemeriksaan yang memerlukan interpretasi (USG, foto Rontgen), maka sangat dianjurkan untuk dilakukan blinding atau penyamaran.  Bila pada uji klinis kesetaraan dalam ketiga hal tersebut dapat dilakukan (yakni dengan randomisasi dan penyamaran), maka apabila terdapat perbedaan luaran antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol, satusatunya penyebab adalah perbedaan intervensi. Dengan demikian maka desain terbaik untuk uji klinis adalah uji klinis dengan randomisasi dan penyamaran ganda (randomized double blind clinical trial). Bila jumlah subyek cukup banyak, maka randomisasi dapat dilakukan pada semua uji klinis, namun penyamaran tidak selalu dapat dilakukan, misalnya uji klinis yang membandingkan efektivitas obat dibandingkan dengan operasi untuk penyakit atau kondisi kesehatan tertentu. Validitas suatu uji klinis ditentukan juga oleh kelengkapan subyek yang mengikuti sampai akhir penelitian (completeness of follow-up); umumnya bila jumlah subyek yang mengikuti sampai akhir penelitian kurang dari 80%, maka uji klinis dianggap tidak valid. Luaran uji klinis terbanyak adalah variabel berskala numerik (misal kadar kolesterol, berat badan, tekanan darah) atau variabel nominal dikotom misalnya meninggal atau hidup, sembuh atau tidak sembuh, kenaikan / penurunan berat badan.

Penelitian eksperimental (skripsi dan tesis)

Studi eksperimental atau studi intervensional dapat dianggap sebagai penelitian kohort yang penelitinya melakukan “manipulasi” pada variabel prediktor atau faktor risiko dengan melakukan intervensi tertentu dan kemudian melakukan analisis terhadap varibel efek atau luaran yang timbul sebagai akibat intervensi tersebut. Dibandingkan dengan pelbagai studi observasional, studi eksperimental lebih kuat untuk menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel prediktor dan variabel efek, dan merupakan desain penelitian yang paling baik untuk mengendalikan pengaruh variabel perancu (confounding). Penelitian eksperimental dapat dibagi menjadi 3 kelompok:
 Eksperimen benar (true-experiment) memiliki syarat pokok yaitu terdapat proses randomisasi.
 Eksperimen semu (quasi experiment), biasanya dimaksudkan uji klinis tanpa randomisasi
  Pra-eksperimen (pre-experiment design), pada umumnya tanpa kelompok kontrol

Analisis uji diagnostik (skripsi dan tesis)

Analisis uji diagnostik meliputi:

  Sensitivitas yaitu proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik positif (positif benar = PB). Sensitivitas menunjukkan kemampuan suatu alat diagnostik untuk mendeteksi penyakit. Sensitivitas = PB/(PB+PS)
  Spesifisitas yaitu proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil uji yang negatif (negatif benar = NB). Spesifisitas menunjukkan kemampuan alat diagnostik untuk menentukan bahwa subyek tidak sakit. Spesifisitas = NB/(NS+NB)
 Prevalens penyakit, atau prior probability, yaitu probabilitas seseorang (berdasar karakteristik demografis dan klinis) untuk menderita penyakit, sebelum subyek menjalani uji diagnostik. Prevalens = (PB+PS)/(PB+PS+NS+NB)
 Nilai duga positif (positive predictive value) adalah probabilitas seorang dengan hasil uji diagnostik positif memang menderita penyakit yang ditentukan menurut baku emas. Nilai duga positif = PB/(PB+PS).
 Nilai duga negatif (negative predictive value) adalah probabilitas seorang dengan hasil uji diagnostik negatif tidak menderita penyakit. Nilai duga negatif = NB/(NS+NB).
 Likelihood ratio (rasio kemungkinan) menunjukkan besarnya kemungkinan subyek yang sakit akan mendapat suatu hasil uji diagnostik tertentu dibagi dengan kemungkinan subyek yang tidak sakit mendapatkan hasil uji diagnostik yang sama. Positive likelihood ratio (rasio kemungkinan positif) adalah perbandingan antara proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik yang positif dengan proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil uji yang positif pula, dengan formula: sensitivitas / (1-spesifitas). Di lain sisi terdapat negative likelihood ratio (rasio kemungkinan negatif) yang menunjukkan perbandingan antara proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik negatif dan proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil yang negatif, dengan formula (1-sensitivitas) / spesifisitas.

Uji diagnostik (skripsi dan tesis)

Sebagian besar penelitian diagnostik termasuk dalam desain cross sectional. Pada uji diagnostik tidak dilakukan intervensi kemudian dilihat pengaruh intervensi tersebut. Pada uji diagnostik sekelompok subyek dilakukan 2 jenis pemeriksaan, pemeriksaan pertama adalah jenis uji diagnostik yang diteliti, sedangkan pemeriksaan kedua adalah pemeriksaan terbaik untuk diagnosis penyakit / keadaan klinis tertentu (disebut sebagai baku emas atau gold standard). Hasil kedua pemeriksaan tersebut dianalisis. Sifat-sifat uji diagnostik mempunyai kemiripan dengan uji prognostik. Perbedaan antara kedua uji ini hanya pada variabel luarannya. Sebagai contoh: uji diagnostik yang bertujuan melihat apakah benturan keras pada kepala dapat merupakan prediktor terjadinya perdarahan intrakranial dan uji prognostik untuk mengetahui apakah benturan keras pada kepala akan dapat memprediksi mortalitas akibat perdarahan intrakranial. Pada contoh ini tampak perbedaan antara kedua desain. Bedanya terletak pada variabel outcome, uji diagnostik berupaya untuk memprediksi ada atau tidaknya penyakit, sedang uji prognostik bermaksud untuk memprediksi kejadian luaran / outcome penyakit.
Penyakit + + Penyakit – a b Risiko (-) c d (+) Risiko (+) a+b c+d 47 Uji diagnostik yang ideal akan selalu memberikan jawaban yang benar (atau hasil positif) pada semua subyek yang sakit dan memberikan hasil negatif pada semua subyek yang tidak sakit. Namun uji diagnostik yang ideal seperti itu jarang ditemukan; hampir pada semua jenis uji diagnostik terdapat kemungkinan untuk diperoleh hasil uji positif pada subyek yang tidak sakit (positif semu), dan sebaliknya mungkin ditemukan hasil negatif pada subyek yang sakit (negatif semu). Selain itu, uji diagnostik yang baik seyogianya mempunyai sifat-sifat hasilnya cepat diperoleh, aman, sederhana, tidak menyakiti/invasif, sahih, reliabel, dan relatif murah. Struktur uji diagnostik secara garis besar sama dengan studi observasional, yaitu memiliki variabel prediktor (hasil uji) dan variabel efek/outcome (ada tidaknya penyakit). Variabel prediktor dapat dalam skala nominal dikotom (positif, negatif), kategorikal (+++, ++, +, -), atau numerik (miligram per desiliter). Bila hasil suatu uji diagnostik berskala kategorikal atau numerik, maka perlu ditentukan titik potong (cut-off point) untuk dapat membedakan subyek yang menjadi sakit atau tidak sakit. Variabel outcome pada uji diagnostik adalah ada atau tidaknya penyakit yang ditentukan dengan baku emas (gold standard). Meskipun struktur uji diagnostik sama dengan studi observasional, namun analisis uji diagnostik sangat berbeda. Apabila pada studi observasional umumnya ditujukan untuk mencari informasi tentang etiologi atau faktor risiko, uji diagnostik dimaksudkan apakah satu uji dapat membedakan subyek dengan penyakit dari subyek yang tidak sakit. Hasil uji diagnostik diringkas dalam tabel 2 x 2, yang terdiri atas sel a, b, c, d. Sel a berisi subyek yang sakit (menurut baku emas) dan didiagnosis sakit oleh uji (positif benar, PB). Sel b berisi subyek yang tidak sakit menurut baku emas namun didiagnosis sakit oleh uji (positif semu, PS). Sel c berisi subyek yang sakit namun didiagnosis sehat oleh uji (negatif semu, NS). Sel d, berisi subyek yang tidak sakit dan didiagnosis sehat oleh uji (negatif benar, NB).

Studi kohort (skripsi dan tesis)

Penelitian kohort merupakan desain penelitian yang amat penting untuk menguji hipotesis tentang faktor risiko atau penyebab suatu penyakit atau keadaan. Dua hal yang menjadi karakteristik studi kohort adalah: Seleksi individu dalam pembentukan kelompok dilakukan dari populasi yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara:
 Desain kohort dengan pembanding internal: direkrut sejumlah subyek tanpa faktor risiko, kemudian diikuti dan secara alamiah sebagian akan terpajan pada faktor risiko, sebagian tidak.
 Desain kohort dengan pembanding eksternal (double cohort study) yakni dari populasi yang sama direkrut subyek dengan faktor risiko, dan sekelompok subyek tanpa faktor risiko. Kedua kelompok subyek (yang terpajan dan tidak) diikuti sampai timbul efek atau penyakit. Studi kohort merupakan satu-satunya desain untuk memperlihatkan insidens suatu penyakit atau kelainan tertentu. Studi kohort dapat dilakukan secara prospektif atau retrospektif.

Pada studi kohort dapat diperoleh data deskriptif yakni berupa insidens terjadinya penyakit atau kelainan, dan dapat pula diperoleh risiko relatif, yakni berapa besar subyek dengan faktor risiko mengalami efek ketimbang subyek yang tidak memiliki faktor risiko mengalami efek. Penelitian kohort retrospektif mempunyai prinsip dasar yang tidak berbeda dengan penelitian kohort prospektif, yaitu pada kelompok subyek tertentu diikuti atau dipantau, kemudian dilakukan pengukuran variabel prediktor/risiko, masa tindak lanjut (follow-up), dan pengukuran variabel efek, semuanya dilakukan di masa lampau. 46 Agar validitas studi kohort retrospektif baik, harus diyakinkan bahwa data dan semua catatan pada masa lalu baik dan lengkap

Studi kasus-kontrol (skripsi dan tesis)

Studi kasus-kontrol bertujuan menilai peran faktor risiko dalam timbulnya penyakit. Studi diawali dengan merekrut kelompok subyek dengan penyakit tertentu (kasus) dan kelompok subyek tanpa penyakit tersebut (kontrol). \Pada kedua kelompok secara retrospektif diteliti faktor risiko yang diduga berperan dalam kejadian penyakit. Kekerapan pajanan faktor risiko pada kelompok kasus dibandingkan dengan pada kontrol. C

 Rasio odds adalah perbandingan 2 odds. Sebagai contoh peneliti melakukan suatu penelitian kasus-kontrol untuk mengetahui peran faktor risiko X terhadap kejadian gagal ginjal kronik (GGK). Lihat Gambar I-2. Peneliti mencari 50 pasien GGK (kelompok kasus) di suatu rumah sakit besar, dan 50 subyek lainnya tanpa GGK (kontrol) dari populasi yang sama. Pada kelompok kasus dan kelompok kontrol ditelusur berapa yang memiliki faktor risiko X. Misalnya pada akhir penelitian ternyata dari 50 subyek pada kelompok kasus ada 20 yang memiliki faktor X, (odds untuk terjadinya GGK = 20/30), sedangkan pada kelompok kontrol dari 50 subyek hanya 5 yang memiliki faktor X (odds untuk terjadinya GGK pada kelompok kontrol = 5/45). Rasio odds adalah perbandingan antara kedua odds, yakni odds pada kelompok kasus dibagi dengan odds pada 44 kelompok kontrol; dalam contoh ini RO = 20/30: 5/45 = 6 (interval kepercayaan 95% 2,3 sampai 12,7). Artinya pada sampel ditemukan subyek yang memiliki faktor X ternyata 6 kali lebih besar kemungkinan untuk menderita GGK daripada subyek yang tidak memiliki faktor X, sedangkan di populasi yang diwakili oleh sampel tersebut 95% terletak antara 2,3 dan 12,7 kali.

Studi cross sectional Pada Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Pada studi cross sectional pengukuran variabel dilakukan hanya satu kali, pada satu saat; jadi pada studi ini tidak ada tindak lanjut atau follow-up. Studi cross sectional dapat bersifat deskriptif ataupun analitik. Studi cross sectional deskriptif dikenal sebagai studi prevalens. Pada studi cross sectional analitik yang mencari hubungan antar-variabel, variabel bebas dan luaran dinilai simultan pada satu saat.
 Analisis statistika pada studi cross sectional analitik bergantung pada jenis data yang ada. Untuk data numerik (misal perbandingan kadar kolesterol antara dua kelompok) digunakan uji-t untuk data independen atau untuk data berpasangan. Untuk data nominal analisis dilakukan dengan uji kaikuadrat (data independen) atau uji McNemar untuk data berpasangan. Bila yang diteliti adalah faktor risiko dan luarannya nominal 2 nilai (sakit atau tidak) maka dapat dihitung rasio prevalens yang perhitungan dan interpretasinya sama dengan risiko relatif pada studi kohort). Studi cross sectional juga tidak jarang digunakan untuk menilai beberapa faktor risiko sekaligus untuk terjadinya luaran. Untuk tujuan ini digunakan analisis multivariat; bila semua faktor risiko dan luaran variabel berskala numerik   digunakan regresi multipel, sedangkan bila luarannya nominal dan faktor risikonya berbagai jenis variabel digunakan regresi logistik. Bentuk khusus studi cross sectional yang sering dicari pada PTK adalah uji diagnostik.

Jenis desain penelitian klinis (skripsi dan tesis)

Desain penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan ada atau tidaknya intervensi menjadi dua kelompok, yakni studi observasional dan studi eksperimental. Pada studi observasional peneliti tidak mengintervensi subyek penelitian mana yang mendapat perlakuan apa; peneliti hanya mengamati, mengukur variabel, mengelompokkan dan menganalisis data. Termasuk dalam studi observasional adalah laporan kasus dan seri kasus, studi cross sectional (termasuk uji diagnostik), studi kohort (termasuk di dalamnya analisis kesintasan), studi kasus-kontrol, dan meta-analisis. Berbeda dengan studi observasional, pada studi eksperimental atau disebut juga sebagai studi intervensional, peneliti melakukan intervensi dengan cara menentukan subyek mana yang mendapat perlakuan apa (meski sebaiknya caranya adalah dengan randomisasi). Studi eksperimental dapat dilakukan di laboratorium, di lingkungan klinik, dan dapat juga di komunitas. Studi eksperimental yang dilakukan di klinik disebut sebagai uji klinis (clinical 42 trial). Baku emas uji klinis adalah uji klinis randomisasi (UKR) atau randomized controlled trial (RCT).

Meta-analisis (skripsi dan tesis)

Meta-analisis adalah metode analisis statistik yang menggabungkan data dari dua atau lebih penelitian dengan topik serupa yang bertujuan untuk memberikan satu kesimpulan penelitian. Subjek penelitian merupakan laporan penelitian orisinal baik yang sudah dipublikasi maupun yang belum. Desain penelitian ini adalah metode analisis gabungan yang memiliki level validitas paling tinggi. \ Meta-analisis memiliki keterbatasan yang terletak pada masalah metodologi yaitu kesesuaian penggunaan teknik statistika untuk penggabungan data berbagai penelitian. Meta-analisis harus dihindari jika kualitas penelitian sebelumnya tidak baik karena akan memberikan hasil yang tidak valid. Meta-analisis tidak dianjurkan dilakukan pada penelitian yang terlalu heterogen. Meta-analisis potensial terhadap bias publikasi.

 Meta-analisis terdiri dari empat langkah yaitu identifikasi penelitian yang disertakan dalam meta-analisis. Langkah kedua adalah seleksi atau penilaian kualitas laporan penelitian. Langkah ketiga meta-analisis berupa abstraksi atau kuantifikasi hasil penelitian untuk digabungkan. Langkah terakhir adalah analisis, yakni penggabungan dan pelaporan hasil meta-analisis

Uji Klinis (skripsi dan tesis)

 Uji klinis merupakan bentuk penelitian eksperimental untuk meneliti efek dari intervensi tertentu, biasanya berupa terapi untuk satu penyakit. Subjek penelitian dalam populasi penelitian secara acak dialokasikan menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil penelitian diperoleh dengan membandingkan status penyakit subjek penelitian. Desain penelitian terkuat adalah uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial). Keunggulan utama dari uji klinis adalah kontrol atas confounding factor, berbagai jenis bias dapat ditiadakan atau dikurangi dengan efektif. Uji klinis merupakan desain penelitian terbaik untuk meneliti hubungan kausalitas. Kekurangan uji klinis yaitu memerlukan banyak partisipan, biaya yang mahal dan pelaksanaan yang rumit. Uji klinis tidak tepat digunakan untuk meneliti penyakit yang jarang terjadi. Uji klinis memiliki resiko intervensi pada manusia.

Tahapan uji klinis dalam pengembangan obat terdiri dari empat fase. Fase pertama yaitu penerapan pertama suatu obat baru pada manusia yang melibatkan 20-80 relawan subjek sehat untuk di monitor secara ketat. Tujuan utama fase ini untuk menentukan mekanisme aksi farmakologik dari obat dan mendapatkan bukti awal efektivitas obat. Fase kedua adalah pengambilan data awal dari efektivitas 10 obat baru pada pasien dengan penyakit target atau kondisi tertentu. Fase kedua melibatkan sekitar 100 sampai 300 pasien yang dimonitor secara ketat untuk dilihat efek samping jangka pendek. Fase ketiga melibatkan ribuan pasien dengan penyakit target yang secara acak diberikan obat baru dan plasebo atau pengobatan yang ada (terapi standar) kemudian dibandingkan efek dari tiap kelompok intervensi tersebut. Fase ini menambahkan informasi mengenai efektivitas dan keamanan yang dibutuhkan untuk evaluasi seluruh risiko dan keunggulan obat tersebut. Fase keempat atau disebut juga sebagai uji pasca-pemasaran (postmarketing trial) bertujuan untuk mengevaluasi obat baru dalam jangka waktu yang relatif lama (5 tahun atau lebih). Fase terakhir penting untuk mendeteksi efek samping yang timbul dari pemakaian obat tersebu

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimental atau intervensional adalah penelitian dengan pemberian perlakuan atau intervensi terhadap subjek penelitian, peneliti akan mempelajari efek dari intervensi tersebut. Penelitian eksperimental memiliki kapasitas asosiasi yang lebih tinggi dari penelitian observasional sehingga simpulan yang diperoleh lebih definitif. Penelitian eksperimental memerlukan biaya yang tinggi dan pelaksanaannya rumit sehingga penggunaannya lebih terbatas. Penelitian eksperimental bersifat prospektif dan secara khusus dirancang untuk mengevaluasi dampak langsung dari pengobatan atau tindakan pencegahan terhadap penyakit.

Kohort (skripsi dan tesis)

 Kohort adalah bentuk penelitian prospektif untuk menyelidiki hubungan antara paparan atau faktor risiko potensial dengan status penyakit pasien. Kohort mengidentifikasi subjek yang bebas dari penyakit dan mengklasifikasikan subjek berdasarkan ada atau tidaknya paparan atau faktor risiko. Peneliti akan mengikuti subjek dalam jangka waktu tertentu untuk meneliti perkembangan penyakit dan mengevaluasi perbedaan status penyakit antara kelompok subjek dengan faktor risiko dengan kelompok subjek tanpa faktor risiko.

Penelitian kohort merupakan desain penelitian yang dapat digunakan untuk menghitung angka insidensi. Insidensi adalah jumlah dari kasus baru suatu penyakit dalam populasi risiko selama periode waktu tertentu. Analisis dari penelitian kohort melibatkan penghitungan baik dari cumulative incidence atau incidence rate. Perbandingan antara insidens terjadinya efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan insidens terjadinya efek pada kelompok tanpa faktor risiko menghasilkan Relative Risk (RR). Relative risk dihitung dengan formula RR=a/(a+b):c/(c+d). Interpretasi hasil dari relative risk yaitu jika bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara faktor risiko 8 dengan penyakit. Nilai relative risk kurang dari satu berarti faktor risiko tersebut memiliki asosiasi negatif atau penurunan risiko terjadinya penyakit. Nilai relative risk lebih dari satu berarti faktor risiko tersebut merupakan faktor risiko yang berbahaya atau berhubungan positif dengan terjadinya penyakit.
Kelebihan penelitian kohort yaitu paparan atau faktor risiko diukur sebelum terjadinya penyakit sehingga dapat dipastikan paparan mendahului terjadinya penyakit. Kohort berguna untuk meneliti paparan atau faktor risiko yang jarang terjadi dan dapat meneliti berbagai efek hasil atau penyakit. Kelemahan utama dalam desain penelitian ini adalah membutuhkan biaya yang lebih mahal dan waktu penelitian yang lama. Kohort memiliki risiko kehilangan subjek penelitian untuk diikuti perkembangan penyakitnya. Kohort tidak tepat untuk meneliti penyakit atau hasil yang jarang terjadi

Kasus kontrol (skripsi dan tesis)

Penelitian kasus kontrol merupakan bentuk penelitian retrospektif yang menelaah hubungan antara penyakit dengan faktor risiko tertentu dengan membandingkan dua kelompok yang berbeda status penyakit berdasarkan faktor risiko yang diteliti. Kasus kontrol memilih sebuah grup partisipan dengan penyakit tertentu (kasus) dan sebuah grup dari individu sebanding yang bebas dari penyakit (kontrol). Pemilihan subjek penelitian dimulai dari efek atau penyakit, lalu ditelusuri ke masa lalu untuk mengidentifikasi adanya faktor risiko.  Penelitian membandingkan karakteristik dari grup kasus dan kontrol, menyimpulkan bahwa karakteristik yang berbeda berhubungan dengan terjadinya penyakit. Peneliti mendapatkan riwayat pajanan melalui survei pasien atau ulasan rekam medis. Kasus kontrol bersifat retrospektif yaitu pengumpulan data terjadi sebelum hipotesis terbentuk.   Penelitian kasus kontrol berguna untuk meneliti penyakit yang langka atau ketika hasil yang dievaluasi jarang terjadi. Keunggulan lainnya yaitu dapat meneliti berbagai paparan atau faktor risiko sekaligus dalam satu penelitian. Kasus kontrol memiliki waktu penelitian yang lebih singkat dan biaya yang lebih rendah  dibandingkan dengan penelitian kohort atau uji klinis.

Kekurangan penelitian kasus kontrol yaitu potensial terhadap bias seleksi jika tidak memiliki grup kontrol yang tepat. Penelitian kasus kontrol potensial terhadap recall bias. Kasus kontrol memiliki keterbatasan hanya dapat meneliti satu efek hasil atau penyakit.
Mengetahui hubungan antara paparan dengan penyakit diukur dengan Odds Ratio (OR) yang merupakan perbandingan peluang paparan pada kasus dengan peluang paparan pada kontrol. Tabel 2.3 menyajikan data penelitian kasus kontrol. Odds ratio dikalkulasikan dengan rumus OR= (a/b):(c/d)=ad/bc. Interpretasi hasil dari odds ratio yaitu bila bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara paparan atau faktor risiko dengan penyakit. Nilai odds ratio lebih dari satu berarti paparan atau faktor risiko tersebut berhubungan dengan terjadinya penyakit. Nilai odds ratio kurang dari satu berarti paparan atau faktor risiko tersebut merupakan faktor protektif atau ada penurunan risiko terjadinya penyakit.

Potong Lintang (skripsi dan tesis)

 Penelitian potong lintang adalah penelitian yang mengevaluasi pajanan dan hasil penyakit pada satu waktu tertentu secara bersamaan. Potong lintang menghubungkan status pajanan atau faktor risiko dengan terjadinya penyakit tanpa meneliti urutan waktu dari perkembangan penyakit. Pemilihan subjek penelitian dilakukan secara acak dari populasi yang ada, kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap status penyakit dan faktor risiko yang dimiliki oleh subjek penelitian
Potong lintang merupakan desain penelitian yang dapat digunakan untuk menghitung angka prevalensi. Prevalensi adalah proporsi dari individu yang memiliki penyakit pada suatu populasi dalam waktu tertentu. Prevalensi berguna untuk mengukur beban penyakit dalam populasi.
 Perbandingan antara prevalensi kasus atau efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan prevalensi kasus pada kelompok tanpa faktor risiko dinyatakan dengan Prevalence Ratio (PR). Prevalence ratio dikalkulasikan dengan rumus PR=a/(a+b):c/(c/d). Interpretasi hasil dari prevalence ratio jika bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara faktor risiko dengan penyakit. Nilai prevalence ratio kurang dari satu berarti faktor risiko memiliki asosiasi negatif dengan terjadinya penyakit. Nilai prevalence ratio lebih dari satu berarti faktor risiko tersebut memiliki asosiasi positif dengan terjadinya penyakit

Serial Kasus (skripsi dan tesis)

Serial kasus adalah penelitian pada sekelompok pasien dengan diagnosis yang sama, pasien diikuti untuk ditelaah perjalanan alami penyakit baik dari presentasi klinis, riwayat dan prognosisnya. Serial kasus membantu untuk memahami distribusi penyakit dalam populasi dan mempelajari variasi penyakit dari waktu ke waktu. Serial kasus bisa mencakup penyakit yang sering ditemukan namun terdapat hal-hal khusus yang layak untuk dipublikasi misalnya terdapatnya perubahan manifestasi klinis, laboratorium, ataupun perjalanan penyakit yang tidak lazim. Serial kasus yang seringkali dilakukan adalah pengaruh tindakan pengobatan pada sejumlah kasus. Kelemahan dari serial kasus terletak pada kualitas data karena tidak ada standarisasi pengumpulan informasi pasien, pengukuran, tes, dan evaluasi lainnya. Kelebihan serial kasus yaitu berguna dalam memberikan data awal untuk uji klinis. Serial kasus berperan penting dalam penelitian epidemiologi untuk mempelajari gejala penyakit dan membentuk definisi kasus

Laporan Kasus (skripsi dan tesis)

Laporan kasus adalah penelitian yang mendeskripsikan kelainan, penyakit, sindrom yang jarang ditemukan atau penyakit yang biasa ditemukan namun memiliki presentasi yang tidak lazim. Respon yang tidak lazim terhadap pengobatan penyakit juga sering dilaporkan dalam laporan kasus. Pengembangan prosedur atau teknik baru sering diawali dengan laporan atau serial kasus.3,6,11 Laporan kasus biasanya dimulai dengan deskripsi kasus yang disajikan secara kronologis sejak kasus pertama kali diperiksa, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sampai penegakan diagnosis dan penentuan tata laksana. Laporan kasus dilengkapi dengan diskusi membandingkan penemuan tersebut dengan kasus serupa yang pernah dilaporkan dalam kepustakaan dunia. Laporan kasus hanya dapat menyimpulkan penemuan atau mekanisme yang tidak terduga dari suatu penyakit

Penelitian Observasional (skripsi dan tesis)

Penelitian observasional adalah pengamatan atau pengukuran terhadap berbagai jenis subjek penelitian yang dilakukan menurut keadaan alamiah, tanpa ada manipulasi atau intervensi dari peneliti. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik, perilaku dan paparan pada subjek dengan penyakit, kondisi atau komplikasi tertentu. Peneliti sebagai investigator tidak melakukan tindakan 3 terhadap subjek penelitian, tetapi mengamati secara alami hubungan antara faktor risiko dengan hasil observasi.

Non Probalitiy sampling (skripsi dan tesis)

Tiap subyek dalam populasi (terjangkau) tidak memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih maupun tidak terpilih sebagai sampel penelitian. a. Consecutive sampling : semuaa subyek yang datangberurutan dan memenuhi criteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi. b. Convenient sampling : merupakan cara termudah sekaligus terlemah untuk menarik sampel. Sampel diambil tanpa sistematika tertentu, sehingga jarang dianggap mewakili populasi terjangkau. c. Judgmental samling/ purposive sampling : peneliti memilih responden berdasarkan pada pertimbangan subyektif dan praktis, bahwa responden tersebut dapat memberikan informasi yang memasai untuk menjawab pertanyaan penelitian

Probability sampling (skripsi dan tesis)

Tiap subyek dalam populasi (terjangkau) memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih maupun tidak terpilih sebagai sampel penelitian. a. Simple random sampling : dari seluruh subyek dalam populasi ditentukan besaran sampel sesuai perhitungan, kemudian tiap subyek diberi nomor dan dipilih sebagian dari mereka (sesuai besar sample yang dibutuhkan) dengan bantuan tabel angka random atau dengan ramdomisasi menggunakan program computer. b. Systematic sampling : setelah dilakukan penomoran subyek, kemudian ditentukan tiap subyek dengan nomor ke-sekian yang dipilih menjadi sampel. c. Stratified random sampling : sampel dipilih secara acak untuk tiap strata, kemudian hasilnya digabungkan menjadi satu sample yang terbebas dari variasi untuk setiap strata. Variabel yang sering digunakan untuk stratifikasi adalah: gender, usia, ras, kondisi social-ekonomi. Status gizi, lokasi penelitian. d. Cluster sampling : sample dipilih secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secara alamah, misalnya : kelurahan, kecamatan, kodya, kabupaten, dsb.Cara ini efektif untuk populasi yang tersebar luas.

Penelitian Cohort (skripsi dan tesis)

 

Pada penelitian cohort yang diidentifikasi lebih dahulu adalah kausa atau factor risikonya, kemudian sekelompok subyek (disebut sebagai kohort) diikuti secara prospektif selama periode tertentu untuk menentukan terjadi atau tidaknya efek. Hal ini berlawanan denga penelitian case-control. Subyek yang terpapar fakror risiko menjadi kelompok yang diteliti, sedangkan subyek yang tidak terpapar menjadi kelompok control, kemudian kedua kelompok tersebut diamati selama periode waktu tertentu untuk kemudian ditentukan apakah telah terjadi efek atau penyakit yang diteliti (prospektif) Pada penelitian cohort, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai risiko insidens atau risiko relatif, yaitu perbandingan antara insidens efek pada kelompok dengan factor risiko dengan insidens efek pada kelompok tanpa factor risiko.. Selain cohort prospektif dikenal juga cohort retrospektif, yaitu peneliti mengidentifikasi factor risiko dan efek pada subyek yang terjadi di masa lalu, atau dengan kalimat lain, saat penelitian dilakukan, outcome/ efek yang diteliti sudah terjadi

Penelitian case-control (skripsi dan tesis)

Peneliti melakukan observasi/ pengukuran variabel bebas dan variabel tergantung pada waktu yang berbeda. Peneliti melakukanpengukuran variabel tergantung (efek), sedangkan variabel bebasnya dicari secara retrospektif. Maka dari itu studi ini disebut juga sebagai studi longitudinal, yaitu subyek tidak hanya diobservasi pada satu saat tetapi diikuti selama periode yang ditentukan. Pada studi ini dilakukan identifikasi subyek (kasus) yang telah terkena penyakit (efek), kemudian ditelusur secara retrospektif ada atau tidaknya faktor risiko yang diduga berperan. Pada penelitian case-control, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai odds ratio. Odds ratio menunjukkan berapa besar peran faktor risiko yang diteliti terhadap terjadinya penyakit (efek)

Penelitian cross-sectional (skripsi dan tesis)

Peneliti melakukan pengamatan/ observasi/ pengukuran pada satu waktu tertentu (semua subyek tidak harus dimamati/diukur tepat dalam waktu yang sama), tiap subyek hanya diamati satu kali dan pengukuran variabel subyek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut. Pada studi ini peneliti tidak melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan. Pada penelitian cross-sectional, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai rasio prevalens, yaitu perbandingan antara prevalens efek pada kelompok subyek yang memiliki faktor risiko dengan prevalens efek pada kelompok subyek tanpa faktor risiko.

Penelitian Observasional (skripsi dan tesis)

Pada penelitian observasional peneliti melakukan pengamatan atau pengukuran terhadap satu atau lebih variabel subyek penelitian. Penelitian ini memiliki kapasitas asosiasi yang hanya sampai pada tingkatan dugaan atau dugaan kuat dengan landasan teori atau telaah logis. Pada studi observasioanl asosiasi sebab-akibat lebih lemah dibandingkan dengan studi eksperimental. Penelitian ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu penelitian deskriptif dan penelitian analitik. 1. Penelitian Deskriptif Pada penelitian ini peneliti hanya melakukan deskripsi mengenai fenomena yang ditemukan, dan tidak menganalisis mengenai mengapa fenomena tersebut terjadi. Pada studi ini tidak diperlukan rumusan hipotesis sehingga terhadap data yang dikumpulkan tidak dilakukan uji hipotesis/ uji statistika. Contohnya antara lain : insidensi, prevalensi, survey, gambaran klinis. Data pada penelitian deskriptif dapat digunakan untuk penelitian analitik pada tahapan berikutnya. 2. Penelitian Analitik Peneltian ini memiliki tujuan utama mencari hubungan antara variabel satu dengan yang lain. Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh, sehingga pada penelitian ini selalu diperlukan hipotesis. Hubungan antar variabel dapat dilakukan dengan berbagai jenis uji hipotesis (uji statistika). Laporan penelitian analitik selalu diawali dengan deskripsi subyek penelitian terlebih dahulu sebelum dilakukan analisis. Penelitian analitik obserbvasional umumnya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : cross-sectional, case-cotrol, dan cohort. Akhir-akhir ini meta-analysis, suatu desain khusus yang menghubungkan banyak studi, digolongkan dalam studi observasional analitik

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Studi eksperimental sering disebut pula studi intervensional adalah salah satu rancangan penelitian yang dipergunakan untuk mencari hubungan sebab-akibat. Pada studi eksperimental peneliti melakukan manipulasi terhadap satu atau lebih variabel penelitian kemudian mempelajari efek perlakukan tersebut. Pada penelitian ini asosiasi sebab-akibat yang diperoleh lebih tegas dan nyata sehingga simpulan yang dapat diperolehpun lebih definitive disbanding penelitian observasional. Namun studi ini umumnya memerlukan biaya yang mahal dan pelaksanaannya rumit. Di klinik studi ini sering dilakukan dan didominasi oleh uji klinis untuk menilai efek terapi obat atau prosedur pengobatan/ perawatan/ tindakan. Di lapangan studi eksperimental dilakukan dalam bentuk intervensi komunitas, misalnya penelitian tentang pengaruh penyuluhan cara menggosok gigi terhadap indeks kebersihan mulut. Di laboratorium studi ini dilakukan dengan bakteri atau hewan coba. Diantara ketiga lokasi ini, kondisi yang ideal dapat dibuat di laboratorium, di klinik sampai batas tertentu dapat dibuat mendekati ideal, sedangkan di lapangan studi eksperimental/ intervensi dilakukan atas dasar keadaan factual yang ada di masyarakat. Studi eksperimental memiliki tingkatan (gradasi), yaitu mulai dari : o studi pra-eksperimental/ pre-experimental study  studi kuasi eksperimental/ quasi experimental study (tidak ada randomisasi)  studi eksperimental murni/ true experimental study (desain terkuat, ditandai adanya randomisasi)

 Kohort (skripsi dan tesis)

Penelitian kohort atau sering disebut penelitian prospektif adalah suatu penelitian survey (non eksperimen) yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara factor resiko dengan efek (penyakit). Faktor resiko yang akan dipelajari diidentifikasi dulu kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek yaitu penyakit atau salah satu indicator status kesehatan. Contoh klasik studi kohort adalah Framingham Heart Study.
Rancangan penelitian kohort disebut juga sebagai survey prospektif meskipun sesungguhnya kurang tepat. Rancangan penelitian ini merupakan rancangan penelitian epidemiologis noneksperimental yang paling kuat mengkaji hubungan antara faktor risiko dengan dampak atau efek suatu penyakit.
Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan longitudinal ke depan, dengan mengkaji dinamika hubungan antara faktor risiko dengan efek suatu penyakit. Pendekatan yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor risiko, kemudian dinamikanya diikuti atau diamati sehingga timbul suatu efek atau penyakit.
Kesimpulan hasil penelitian diketahui dengan membandingkan subyek yang mempunyai efek positif (sakit) antara kelompok subyek dengan faktor risiko positif dan faktor risiko negative (kelompok kontrol).
 
Kelebihan penelitian Kohort :
a.    Dapat membandingkan dua kelompok, yaitu kelompok subyek dengan faktor risiko positif dan subyek dari kelompok control sejak awal penelitian.
b.    Secara langsung menetapkan besarnya angka risiko dari waktu ke waktu.
c.    Keseragaman observasi terhadap faktor risiko maupun efek dari waktu ke waktu.
 
Kekurangan penelitian Kohort :
a.    Memerlukan waktu penelitian yang relative cukup lama.
b.    Memerlukan sarana dan prasarana serta pengolahan data yang lebih rumit.
c.    Kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out sehingga mengurangi ketepatan dan kecukupan data untuk dianalisis.
d.    Menyangkut etika sebab faktor risiko dari subyek yang diamati sampai terjadinya efek, menimbulkan ketidaknyamanan bagi subyek.

Case Control (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian ini ada yang menyebutnya sebagai studi retrospektif, meskipun istilah ini kurang tepat. Penelitian ini berusaha melihat ke belakang, yaitu data digali dari dampak (efeknya) atau akibat yang terjadi. Kemudian dari dampak tersebut ditelusuri variable-variabel penyebabnya atau variable yang mempengaruhi.
Penelitian epidemiologi kasus-kontrol ini hasil korelasinya lebih tajam dan mendalam bila dibandingkan dengan rancangan penelitian potong-lintang, sebab menggunakan subyek kontrol atau subyek dengan dampak positif dicarikan kontrolnya dan subyek dengan dampak negatif juga dicari kontrolnya. Kemudian variable penyebab atau yang berpengaruh ditelusuri lebih dulu, baru kemudian faktor risiko atau variable yang berpengaruh diamati secara retrospektif.
 
Kelebihan penelitian case control :
a.    Tidak menghadapi kendala etik, seperti halnya penelitian kohort dan eksperimental.
b.    Pengambilan kasus dan kontrol pada kurun waktu yang bersamaan.
c.    Adanya pengendalian faktor risiko sehingga hasil penelitian lebih tajam.
d.    Tidak perlu intervensi waktu, lebih ekonomis sebab subyek bias dibatasi.
 
Kekurangan penelitian case control :
a.    Tidak diketahuinya efek variable luar oleh karena keterbatasan teknis yaitu variable yang tidak ikut dikenakan waktu matching.
b.    Bias penelitian akibat tidak dilakukan pengukuran oleh peneliti dengan tanpa mengetahui yang harus diukur (blind measurement).
c.    Kelemahan pengukuran variable secara retrospektif adalah obyektivitas dan reliabilitasnya sehingga untuk faktor-faktor risiko yang tidak jelas informasinya dari anamnesis maupun data rancangan sekunder sangat berisiko bila menggunakan rancangan mengatasinya, anamnesis sebaiknya dilengkapi data penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis, misalnya pemeriksaan laboratorium klinis, roentgenologi, mikrobiologis, dan imunologis. Apabila data tersebut adalah data sekunder, perlu dilengkapi dengan uraian mengenai cara memperopleh data secara lengkap.
d.    Kadang-kadang untuk memilih kontrol dengan matching kita mengalami kesulitan oleh karena banyaknya faktor risiko dan/atau sedikitnya subyek penelitian.

Cross Sectional (skripsi dan tesis)

Jenis penelitian ini berusaha mempelajari dinamika hubungan hubungan atau korelasi antara faktor-faktor risiko dengan dampak atau efeknya. Faktor risiko dan dampak atau efeknya diobservasi pada saat yang sama, artinya setiap subyek penelitian diobservasi hanya satu kali saja dan faktor risiko serta dampak diukur menurut keadaan atau status pada saat observasi.
Angka rasio prevalensi memberi gambaran tentang prevalensi suatu penyakit di dalam populasi yang berkaitan dengan faktor risiko yang dipelajari atau yang timbul akibat faktor-faktor risiko tertentu.
 
·      Kelebihan studi cross-sectional:
Kelebihan rancangan studi potong lintang adalah kemudahannya untuk untuk dilakukan dan murah, sebab tidak memerlukan follow-up. Jika tujuan penelitian “sekedar“ mendeskripsikan distribusi penyakit dhubungkan dengan paparan faktor-faktor penelitian, maka studi potong lintang merupakan rancangan studi yang cocok, efisien dan cukup kuat disegi metodologik. Selain itu seperti penelitian observasional lainnya, studi potong lintang tidak “memaksa” subjek untuk mengalami factor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan (factor resiko). Demikian pula, tidak ada subjek yang kehilangan kesempatan memperoleh terapi yang diperkirakan bermanfaat, bagi subjek yang kebetulan menjadi control.
 
Kekurangan penelitian cross sectional :
a.    Dibutuhkan subyek penelitian yang relatif besar atau banyak, dengan asumsi variable bebas yang berpengaruh cukup banyak.
b.    Kurang dapat menggambarkan proses perkembangan penyakit secara tepat.
c.    Faktor-faktor risiko tidak dapat diukur secara akurat dan akan mempengaruhi hasil penelitian.
d.    Nilai prognosanya atau prekdisinya (daya ramal) lemah atau kurang tepat.
e.    Korelasi faktor risiko dengan dampaknya adalah paling lemah bila dibandingkan dengan rancangan penelitian analitik yang lainnya.
f.     Kesimpulan hasil penelitian berkaitan dengan kekuatan rancangan yang disusun sangat berpengaruh, umumnya kekuatan rancangan yang baik adalah sekitar 40%, artinya hanya sebesar 40% variable bebas atau faktor risiko mampu menjelaskan variable terikat atau dampak, sisanya yaitu 60% tidak mampu dijelaskan dengan model yang dibua

Penelitian “Cross-Sectional” (skripsi dan tesis)

Kalau pada penelitian kohor dan kasus kelola ada pendekatan periode waktu tertentu (period time approach) baik secara prospektif (ke depan) maupun retrospektif (ke belakang), pada penelitian cross-sectional waktunya hanya pada saat observasi saja (point time approach). Oleh karenanya, metode ini sering pula disebut sebagai penelitian prevalensi atau kadang-kadang disebut sebagai survai. Disebut sebagai penelitian prevalensi karena hasil penelitian hanya dapat menghitung angka prevalensi yaitu angka yang menggambarkan banyaknya kasus (baru dan lama) pada periode tertentu saja. Penelitian ini yang merupakan penelitian yang paling lemah diantara penelitian epidemiologik lainnya, dapat dipakai sebagai tahap pertama dalam penelitian kohor atau dapat pula digunakan untuk rnencari kelompok kasus dan kelompok kontrol dalam penelitian kasus kelola. Akan tetapi, biasanya penelitian inilah yang paling sering dilakukan, umpamanya dalam Survai Kesehatan Rumah Tangga dan Survai Demografi Kesehatan Indonesia. Dari survai-survei tersebut, dapat diketahui umpamanya data tekanan darah ibu hamil, proporsi akseptor KB dan prevalensi penyakit kencing manis. Keunggulan metode penelitian ini antara lain mudah dilaksanakan, relatif murah, menghasilkan angka prevalensi dan dapat mengamati banyak variabel. Sedangkan keterbatasannya tidak dapat meneliti kondisi atau kasus penyakit yang sedikit (rare)

banyak “bias” yang timbul, kurang baik untuk meramalkan kecenderungan, memerlukan sampel besar, kurang akurat untuk menggambarkan suatu penyakit dan faktor risiko serta tidak dapat menghitung angka insidensi

Penelitian Kasus Kelola (skripsi dan tesis)

Sebenaraya, informasi yang diharapkan dari penelitian kasus kelola hampir sama dengan yang dihasilkan dari penelitian kohor, tetapi waktunya lebih pendek dan jauh lebih efisien. Penelitian ini yang juga sering disebut sebagai penelitian retrospektif merupakan bagian dari epidemiologi modern. Berbeda dari penelitian kohor yang subjek penelitiannya diambil berdasarkan status keterpaparan (exposure status), penelitian kasus kelola memilih kelompok kasus dan kelompok kelola berdasar status penyakit (disease status), sehingga secara umum harus terbebas dari status keterpaparan. Disamping itu, kelompok kelola harus berasal dari populasi yang sama dengan kelompok kasus, sehingga bila kelompok kelola tersebut mempunyai penyakit yang diamati, maka kelompok kelola tersebut seharusnya menjadi kelompok kasus.
 Sebagai catatan, status penyakit yang dimaksud di sini tidak melulu mengidap atau tidak mengidapnya seseorang terhadap suatu penyakit, tetapi dapat juga umpamanya sudah meninggal atau masih hidupnya seorang bayi. Pada penelitian ini, setelah 2 kelompok subyek dipilih, ditanyakan atau diamati faktor faktor yang mempengaruhi status penyakit tersebut secara retrospektif, entah 1 tahun yang lalu ataupun beberapa waktu yang lalu. Untuk melihat faktor faktor yang mempengaruhi kematian perinatal umpamanya, ditanyakan tentang ada tidaknya pemeriksaan kehamilan, komplikasi hamil, komplikasi bersalin, penolong persalinan, faktor lingkungan, status sosial ekonomi dan pendidikan ibu. Keunggulan metode ini terutama dapat digunakan dengan kasus penyakit yang sedikit, umpamanya terhadap ADDS, kematian perinatal dan maternal. Disamping itu, relatif murah, waktunya relatif singkat dan penelitiannya merupakan penelitian yang relatif kecil. Sebaliknya kritik terhadap metode penelitian ini, karena adanya banyak “bias”.
Masalah “selection bias” terjadi karena sulitnya memilih kelompok kasus dan kelompok kelola. Bias yang lain adalah “information bias” atau “recall bias”. Contohnya, seorang ibu yang kehilangan anaknya akan selalu lebih ingat kejadian-kejadian terdahulu daripada seorang ibu yang anaknya masih segar bugar pada saat wawancara. Atau seorang ibu yang bayinya cacad (kelompok kasus) akan selalu lebih ingat obat yang dimakan pada trimester pertama kehamilannya dibanding dengan ibu yang bayinya normal. Sementara itu, dalam penelitian ini hanya dapat diamati satu variabel tidak bebas saja. Keterbatasan yang lain adalah tidak dapat dihitungnya angka insidensi.

Penelitian Kohor (skripsi dan tesis)

Penelitian kohor dikenal juga sebagai longitudinal studies, prospective studies ataupun follow-up studies. Pada penelitian ini, sampel yang semula bebas dari suatu penyakit tetapi berbeda status paparan (exposure) nya, diikuti sampai waktu tertentu. Keunggulan metodf ini terutama karena dapat menghitung angka insidensi (incidence rate), yaitu angka yang mencerminkan kasus baru suatu penyakit. Pisamping itu juga dapat mengeksplorasi lebih dari satu variabel tergantung (outcome), nyaris tanpa “bias” dan dapat menetapkan angka risiko secara langsung dari satu saat ke saat yang lain. Sebaliknya, karena waktu yang diperlukan untuk penelitian ini relatif lebih lama dan memerlukan jumlah sampel yang cukup besar, maka penelitian ini sangat mahal dantidak efisien. Keterbatasan lainnya, kadang-kadang hasil penelitian ini berlakunya tidak cukup lama. Sementara itu, subyek yang dipakai sebagai sampel ada saja yang tidak dapat diikuti sampai selesai (drop out).

Dasar Pengetahuan kesehatan Reproduksi pada Remaja (skripsi dan tesis)

Menurut BKKBN (2008), dasar pengetahuan kesehatan reproduksi yang perlu diketahui remaja yaitu : 1) Pengetahuan tentang perubahan fisik, kejiwaan, dan kematangan seksual. Misalnya informasi tentang haid dan mimpi basah, tentang alat reproduksi remaja laki-laki dan perempuan. 2) Proses reproduksi yang bertanggung jawab sebagai bekal pemahaman seks bagi kebutuhan manusia secara biologis, menyalurkan dan mengendalikan naluri seksual yang menjadi kegiatan positif seperti olahraga atau hobi yang bermanfaat. Sementara penyaluran berupa hubungan seksual hanya untuk melanjutkan keturunan yaitu dengan cara menikah terlebih dahulu. 3) Pergaulan yang sehat antara remaja laki-laki dan perempuan, serta kewaspadaan terhadap masalah remaja yang banyak ditemukan. Remaja juga memerlukan pembekalan tentang kiat untuk mempertahankan diri secara fisik maupun psikis dan mental dalam menghadapi berbagai godaan, seperti ajakan untuk melakukan hubungan seksual diluar nikah dan penggunaan NAPZA. 4) Persiapan pranikah. Informasi ini diperlukan agar calon pengantin lebih siap secara mental dan emosional dalam memasuki kehidupan berkeluarga. 5) Kehamilan dan persalinan, serta cara pencegahannya. Remaja perlu mengetahui tentang hal ini, sebagai persiapan remaja laki-laki dan perempuan dalam memasuki kehidupan berkeluarga masa depan.

Pengertian Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi, komponen, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak hanya bebas dari penyakit atau bebas dari kecacatan, namun juga sehat secara mental dan sosial budaya (BKKBN, 2008)

Pengertian Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Menurut WHO (1992), sehat adalah suatu keadaan yang lengkap meliputi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial bukan semata-mata bebas dari penyakit atau kelemahan. Hal ini diharapkan agar adanya keseimbangan yang serasi dalam interaksi antara individu dengan masyarakat dan makhluk hidup lain serta lingkungannya (Mubarak, 2009). Menurut WHO (1994), kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesejahteraan fisik, emosional, mental dan sosial yang utuhberhubungan dengan reproduksi, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan namun dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Individu yang sehat secara reproduksi memiliki cara pendekatan yang positif dan penuh rasa hormat terhadap seksualitas dan hubungan seksual, mereka juga berpotensi untuk merasakan kesenangan dan pengalaman seksual yang aman, bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan (Potter & Perry, 2009). Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2000), kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi, serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi 10 bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman (Triwibowo & Pusphandani, 2015)

Hubungan Media dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Penggunaan media terkait dengan kesehatan reproduksi menjadi hal yang dilematis. Di satu sisi, media dapat memberikan informasi yang tepat mengenai kesehatan reproduksi. Namun tidak sedikit remaja yang menggunakan media secara tidak tepat, misalnya melihat gambar dan video porno. Berdasarkan penelitian Andriani, dkk. (2016) yang dilakukan pada siswa SMK Negeri 1 Kendari didapatkan hasil bahwa akses media informasi yang negatif menjadi faktor yang membuat perilaku seksual remaja menjadi berisiko (p value= 0,001). Peran media menjadi penting dalam membentuk pengetahuan seorang remaja dalam memahami masalah kesehatan reproduksi. Informasi yang kurang tepat, akan sangat mempengaruhi pengetahuan yang menjadi kurang tepat juga. Sumber informasi itu dapat diperoleh dengan bebas mulai dari teman sebaya, bukubuku, film, video, sosial media, bahkan dengan mudah membuka situs-situs lewat internet. Berdasarkan hasil penelitian pada santri di Pondok Pesantren Darut Taqwa Bulusan Semarang keragaman jenis media informasi pada kategori banyak terpapar ≥5 jenis media informasi berhubungan dengan kesehatan reproduksi dengan p value= 0,001 (Sidik, 2015). Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Nurmasnyah, dkk. (2013) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta didapatkan hasil bahwa media, baik cetak maupun elektronik, telah menyumbangkan informasi terkait dengan kesehatan reproduksi. Materi yang ada dalam kesehatan reproduksi pada media seperti penundaan usia kawin, HIV-AIDS, 28 infeksi menular seksual (IMS), iklan kondom, narkoba, minuman keras dan mencegah kehamilan. Hasil penelitian Putri (2015) pada remaja di SMP 3 Muhammadiyah Wirobrajan didapatkan hasil p value= 0,000. Artinya, terdapat hubungan secara signifikan antara pemanfaatan media massa dengan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja. Dengan pemanfaatan media massa yang tinggi akan menambah pengetahuan seseorang menjadi lebih baik sehingga membantu seorang dalam pemahaman tentang pentingnya mengetahui kesehatan reproduksi pada remaja.

Hubungan Peran Keluarga dengan Kesehatan Reproduksi (skripsid an tesis)

Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama bagi anaknya. Keluarga merupakan benih akal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak mengikuti orang tua dan berbagai kebiasaan dan perilaku dengan demikian keluarga adalah elemen pendidikan lain yang paling nyata, tepat dan amat besar (Putri dalam Andriani, dkk., 2016). Pengetahuan dan persepsi yang salah tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja berperilaku berisiko terhadap kesehatan reproduksinya. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru menjadi penting dalam mendampingi remaja mencari dan menemukan informasi kesehatan reproduksi yang tepat (Kemenkes RI, 2018). Hasil penelitian Andriani, dkk. (2016) diketahui bahwa peran kelurga berhubungan secara signifikan dengan perilaku seksual remaja (p value= 0,004). Dimana semakin negatif peran keluarga maka semakin besar kemungkinan mereka untuk melakukan perilaku seksual yang berisiko. Perilaku seksual yang berisiko tersebut dapat memperburuk kesehatan reproduksi remaja. Orang tua diharapkan  memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang seksual, menyediakan waktu yang cukup, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sehingga remaja akan lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Menurut Uyun (2013) orang tua diharapkan mampu mendidik anak dengan 5 fungsi, diantaranya fungsi yang pertama yaitu fungsi religius dengan mendidik dan mengajak anak pada kehidupan yang beragama. Kedua, fungsi edukatif dengan mengajar dan memberi informasi tentang kesehatan reproduksi pada anak. Ketiga, fungsi protektif dengan melarang atau menghindarkan anak dari perbuatanperbuatan yang tidak diharapkan, mengawasi atau membatasi perbuatan anak dalam hal-hal tertentu, menganjurkan untuk melakukan perbuatan yang diharapkan mengajak bekerja sama dan saling membantu, memberi contoh yang tauladan. Fungsi keempat yaitu fungsi sosialis dengan mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik. Sehingga diperlukan fungsi sosialisasi dari orangtua sebagai penghubung dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial. Kelima, fungsi ekonomi dengan memberi nafkah dan menyediakan barang yang dibutuhkan anak untuk kebersihan diri guna mendukung kesehatan reproduksi (Uyun, 2013). Hasil penelitian Nurmasnyah Nurmasnyah, dkk. (2013) diketahui bahwa peran orang tua sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi lebih rendah dibandingkan teman sebaya. Responden lebih suka membicarakan atau menanyakan tentang kesehatan reproduksi kepada temannya dibandingkan orang tuanya. Hal tersebut menunjukkan kurangnya peran keluarga dalam kesehatan reproduksi.

Hubungan Sikap dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

 Manusia dilahirkan dengan sikap pandangan atau sikap perasaan tertentu, tetapi sikap terbentuk sepanjang perkembangan. Peranan sikap dalam kehidupan manusia sangat besar. Bila sudah terbentuk pada diri manusia, maka sikap itu akan turut menentukan cara tingkah lakunya terhadap objek–objek sikapnya. Adanya sikap akan menyebabkan manusia bertindak secara khas terhadap objeknya (Gerungan, 2012). Menurut Nurhakim, dkk. (2018) berdasarkan hasil penelitiannya terhadap siswa SMAN 4 Garut diketahui bahwa masih banyak sikap remaja yang tidak mendukung kesehatan reproduksi karena mereka menganggap bahwa masalah seks masih tabu atau kurang sopan untuk dibicarakan, terutama pada pada orang tua. Padahal setiap remaja bisa membicarakan hal ini dengan guru disekolah dan orangtua selama dirumah agar informasi yang didapatkan benar. Sikap yang baik (positif) akan suatu hal akan membuat seseorang tidak melakukan tindakan yang negatif yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Aritonang (2015) didapatkan hasil  bahwa seseorang yang memiliki sikap positif (baik) maka semakin negatif untuk melakukan hubungan seksual pra nikah dengan p value= 0,001, yang mana hubungan seksual pra nikah ini dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi. Hasil penelitian Fitri dan Masyudi (2017) pada remaja putri di SMA Negeri 2 Takengon didapatkan hasil p value= 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan kesehatan reproduksi pada remaja putri. Semakin negatif sikap remaja putri maka semakin tinggi masalah kesehatan reproduksi.

Hubungan Pengetahuan dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Pengetahuan diawali dari rasa ingin tahu yang ada dalam diri manusia. Pengetahuan selama ini diperoleh dari proses bertanya dan selalu ditujukan untuk menemukan kebenaran (Hendra, 2008). Pengetahuan dasar tentang kesehatan reprosuksi pada remaja menurut Kemenkes RI salah satunya yaitu pengenalan dan mengetahui tentang proses, fungsi, dan sistem alat reproduksi. Pengetahuan dan persepsi yang salah tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja berperilaku berisiko terhadap kesehatan reproduksinya sehingga sangat penting untuk melihat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi (Kemenkes RI, 2018). Remaja yang mempunyai pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi dapat berhati-hati dalam melangkah. Remaja akan dapat memberikan penilaian mengenai patut tidaknya melakukan melakukan hubungan seksual dengan pasangannya sebelum menikah. Penilaian yang dibuat remaja tersebut dilakukan secara sadar bukan keterpaksaan (Imron, 2012). Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sangat diperlukan oleh remaja. Hal ini dikarenakan dengan memiliki informasi dan pengetahuan yang benar maka remaja akan banyak mengambil manfaat. Dampak positif dari pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi yaitu dapat mencegah perilaku seks pranikah serta dampaknya termasuk kehamilan tidak di inginkan, HIV/AIDS, dan IMS dapat dicegah (Oie, 2014). Pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi dapat berpengaruh dengan ada atau tidaknya masalah kesehatan reproduksi terutama pada remaja. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Fitri dan Masyudi (2017) pada remaja putri di SMA Negeri 2 Takengon didapatkan hasil p value= 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kesehatan reproduksi pada remaja putri.
Hasil penelitian Winerungan, dkk. (2013) pada remaja di SMP negeri 8 Manado didapatkan hasil bahwa pengetahuan berpengaruh dengan kejadian iritasi vagina yang merupakan masalah kesehatan reproduksi dengan p value= 0,000. 24 Artinya, semakin kurang tingkat pengetahuan yang dimiliki remaja maka semakin tinggi kejadian iritasi vagina yang merupakan masalah kesehatan reproduksi. Hasil penelitian Sugiarto (2012) juga menunjukkan bahwa pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi dapat menimbulkan masalah kesehatan reproduksi (kurangnya perilaku pencegaha keputihan). Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku pencegaha keputihan (p value= 0,008

Organ Reproduksi Wanita (skripsi dan tesis)

Organ reproduksi wanita dibagi menjadi dua yaitu organ reroduksi dalam dan luar (Widyastuti, 2012).
 1) Organ reproduksi luar
 a. Mons veneris (Rambut Kemaluan) Merupakan suatu bangunan yang terdiri atas kulit yang di bawahnya terdapat jaringan lemak menutupi tulang kemaluan/simphisis. Mons veneris ditutupi rambut kemaluan. Fungsi Mons veneris adalah sebagai pelindung terhadap benturan-benturan dari luar dan dapat menghindari infeksi dari luar dan berfungsi untuk melindungi alat genetalia dari masuknya kotoran selain itu untuk estetika (Irianto, 2014). b. Labia Mayora (bibir besar) Terdiri atas bagian kanan dan kiri lonjong mengecil ke bawah dan bersatu di bagian bawah. Bagian luar labia mayora terdiri dari kulit berambut, kelenjar lamak, dan kelenjar keringat. Bagian dalamnya tidak berambut dan mengandung kelenjar lemak, bagian ini mengandung banyak ujung syaraf sehingga sensitif terhadap hubungan seks. Berfungsi untuk menutupi organorgan genetalia di dalamnya dan mengeluarkan cairan pelumas pada saat menerima rangsangan seksual (Irianto, 2014). c. Labia Minora (bibir kecil) Merupakan lipatan kecil di bagian dalam labia mayora. Bagian depannya mengelilingi klitoris. Kedua labia ini mempunyai pembuluh darah, sehingga dapat menjadi besar saat keinginan seks bertambah. Labia ini analog dengan kulit skrotum pada pria. Berfungsi untuk menutupi organ-organ genetalia di dalamnya serta merupakan daerah erotik yang mengandung pambuluh darah dan syaraf (Irianto, 2014).  d. Klitoris Merupakan bagian yang erektil, seperti penis pada wanita. Mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sehingga sangat sensitif saat hubungan seks (Irianto, 2014). e. Vestibulum (Vestibula) Bagian kelamin ini dibatasi oleh kedua labia kanan-kiri dan bagian atas oleh klitoris serta bagian belakang pertemuan labia minora. Pada bagian vestibulum terdapat muara vagina (liang senggama), saluran kencing, kelenjar Bartholini dan kelenjar Skene. Berfungsi untuk mengeluarkan cairan apabila ada rangsangan seksual yang berguna untuk melumasi vagina pada saat bersenggama (Irianto, 2014). f. Himen (selaput dara) Merupakan selaput tipis yang menutupi sebagian lubang vagina luar. Pada umumnya himen berlubang sehingga menjadi saluran aliran darah menstruasi atau cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar rahim dan kelenjar endometrium (lapisan dalam rahim) (Widyastuti, 2012).
 2) Organ Reproduksi dalam a. Vagina (Liang Kemaluan) Merupakan saluran muskulo-membranasea (otot-selaput) yang menghubungkan rahim dengan dunia luar. Bagian ototnya berasal dari otot levator ani dan otot sfingter ani (otot dubur) sehingga dapat dikendalikan dan dilatih. Dinding vagina mempunyai lipatan sirkuler (berkerut) yang disebut “rugae”. Berfungsi sebagai sebagai jalan lahir bagian lunak, sebagai sarana hubungan seksual, saluran untuk mengalirkan lendir dan darah menstruasi (Irianto, 2014). b. Rahim (Uterus) Bentuk rahim seperti buah pir atau alpukat, dengan berat sekitar 30 gram. Terletak di panggul kecil diantara rektum (bagian usus sebelum dubur) dan di depannya terletak kandung kemih. Hanya bagian bawahnya disangga oleh ligamen yang kuat, sehingga bebas untuk tumbuh dan berkembang saat kehamilan. Berfungsi sebagai alat tempat terjadinya menstruasi, sebagai alat tumbuh dan berkembangnya hasil konsepsi, tempat pembuatan hormon misal HCG (Irianto, 2014). c. Tuba Fallopii (Saluran telur) Tuba Fallopii berasal dari ujung ligamentum latum berjalan ke arah lateral, dengan panjang sekitar 12 cm. Tuba Fallopii bukan merupakan saluran lurus, tetapi mempunyai bagian yang lebar sehingga membedakannya menjadi empat bagian. Tuba fallopii merupakan bagian yang paling sensitif terhadap infeksi dan menjadi penyebab utama terjadinya kemandulan (infertilitas). Fungsi tuba fallopii sangat vital dalam proses kehamilan, yaitu menjadi saluran tempat bertemunya spermatozoa dan ovum, mempunyai fungsi penangkap ovum, tempat terjadinya pembuahan (fertilitas), menjadi saluran dan tempat pertumbuhan hasil pembuahan sebelum mampu menanamkan diri pada lapisan dalam Rahim (Irianto, 2014). d. Indung Telur (Ovarium) Indung telur terletak antara rahim dan dinding panggul, dan digantung ke rahim oleh ligamentum ovarii proprium dan ke dinding panggul oleh ligamentum infundibulo-pelvikum. Indung telur merupakan sumber hormonal perempuan yang paling utama, sehingga mempunyai dampak keperempuanan dalam pengatur proses menstruasi. Indung telur mengeluarkan telur (ovum) setiap bulan silih berganti kanan dan kiri. Pada saat telur (ovum) dikeluarkan perempuan di sebut “dalam masa subur”. Fungsi ovarium adalah sebagai penghasil sel telur/ovum, sebagai organ yang menghasilkan hormon (estrogen dan progesteron) (Irianto, 2014). e. Parametrium (Penyangga rahim) Merupakan lipatan peritonium dengan berbagai penebalan, yang menghubungkan rahim dengan tulang panggul. Lipatan atasnya mengandung tuba fallopii dan ikut serta menyangga indumg telur. Bagian ini sensitif terhadap infeksi sehingga mengganggu fungsinya (Widyastuti, 2012). 2.2 Hubungan Pengetahuan dengan Kesehatan Reproduksi

Unsur-unsur Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Remaja merupakan fase kehidupan manusia yang spesifik, pada saat usia remaja terjadi peningkatan hormon-hormon seksual. Peristiwa ini berdampak macam-macam pada fisik dan jiwa remaja. Secara fisik akan muncul apa yang disebut sebagai tanda-tanda seks sekunder seperti payudara membesar, bulu-bulu kemaluan tumbuh, haid pada perempuan, dan mimpi basah pada laki-laki. Secara 16 psikologis muncul dorongan birahi yang besar tetapi juga secara psikologis mereka masih dalam peralihan dari anak-anak kedewasa. Secara biologis aktivitas organ dan fungsi reproduksi mereka meningkat pesat tetapi secara psikoloogis aktivitas organ dan fungsi reproduksi mereka meningkat pesat tetapi secara psikologis dan sosiologis mereka dianggap belum siap menjadi dewasa. Konflik yang terjadi antara berbagai perkembangan tersebut membuat mereka juga beresiko mengalami masalah kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi tersendiri (Widyastuti, 2012). Oleh karena itu kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi remaja perlu ditangani secara khusus dengan cara-cara yang ditunjukkan untuk menyiapkan mereka menjadi remaja (yang kelak menjadi orang tua) yang bertanggung jawab. Mereka bukan saja memerlukan informasi dan pendidikan, tetapi juga pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi mereka. Pemberian informasi dan pendidikan tersebut harus dilakukan dengan menghormati kerahasiaan dan hak-hak privasi lain mereka. Masalah kesehatan seksual dan reproduksi adalah isu-isu seksual remaja, termasuk kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi tidak aman, penyakit menular melalui seks, dan HIV/AIDS, dilakukan pendekatan melalui promosi perilaku seksual yang bertanggung jawab dan reproduksi yang sehat, termasuk disiplin pribadi yang mandiri serta dukungan pelayanan yang layak dan konseling yang sesuai secara spesifik untuk umur mereka. Hal-hal yang ada seputar kesehatan reproduksi remaja antara lain.
 1. Kesehatan Alat-Alat Reproduksi
 Masalah-masalah yang berkaitan dengan kondisi kesehatan alat-alat reproduksi ini menyentuh remaja perempuan juga remaja laki-laki. Masalah-  masalah yang dihadapi remaja perempuan antara lain adalah payudara mengeluarkan cairan, benjolan pada payudara, masalah seputar haid (nyeri haid yang tidak teratur), keputihan, dan infeksi saluran reproduksi. Selain itu juga diajukan pertanyaan-pertanyaan, seputar siklus haid, waktu terjadinya masa subur, masalah keperawanan dan masalah jerawat (Widyastuti, 2012).
 2. Hubungan dengan Pacar
 Persoalan-persoalan yang mewarnai hubungan dengan pacar adalah masalah kekerasan oleh pacar, tekanan untuk melakukan hubungan seksual, pacar cemburuan, pacar berselingkuh dan bagai mana menghadapi pacar yang pemarah. Tindakan seseorang dapat digolongkan sebagai tindak kekerasan dalam percintaan bila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah di lakukan pasangannya (Irianto, 2014).
3. Masturbasi
 Masturbasi atau onani adalah salah satu cara yang dilakukan jika seseorang tidak mampu mengendalikan dorongan seksual yang dirasakannya. Jika dibandingkan dengan melakukan hubungan seksual, maka onani dapat dikatakan mengandung resiko yang lebih kecil bagi pelakunya untuk menghadapi kehamilan yang tidak dikehendaki dan penularan penyakit menular seksual. Bahaya onani adalah apabila dilakukan dengan cara tidak sehat misalnya menggunakan alat yang bisa menyebabkan luka atau infeksi. Onani juga bisa menimbulkan masalah bila terjadi ketergantungan/ketagihan, bisa juga menimbulkan perasaan bersalah (Irianto, 2014).
 4. Hubungan Seksual Sebelum Nikah
Para remaja berpacaran dewasa ini berkisar dari melakukan ciuman bibir, raba-raba daerah sensitif, saling menggesekkan alat kelamin (petting) sampai ada pula yang melakukan senggama. Perkembangan zaman juga mmpengaruhi perilaku seksual dalam berpacaran para remaja. Hal ini dapat dilihat bahwa hal-hal yang ditabukan remaja pada beberapa tahun yang lalu seperti berciuman dan bercumbu, kini sudah dianggap biasa. Bahkan, ada sebagian kecil dari mereka setuju dengan free sex. Perubahan dalam nilai ini, misalnya terjadi dengan pandangan mereka terhadap hubungan seksual sebelum menikah (Irianto, 2014).
5. Penyakit Menular Seksual
Hubungan seksual sebelum menikah juga berisiko terkena penyakit menular seksual seperti sifilis, gonorhoe (kencing nanah), herps sampai terinfeksi HIV.
6. Aborsi
Salah satu cara menghadapi kehamilan yang tidak di inginkan adalah dengan melakukan tindakan aborsi. Aborsi masih merupakan tindakan yang ilegal di Indonesia. Upaya sendiri untuk melakukan aborsi banyak dilakukan dengan mengkonsumsi obat-obatan tertentu, jamu, dan lain-lain (Irianto, 2014).

Hak-Hak Reproduksi (skripsi dan tesis)

Hak-hak reproduksi menurut kesepakatan dalam Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan bertujuan untuk mewujudkan kesehatan bagi individu secara utuh, baik kesehatan jasmani maupun rohani, meliputi : 1. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi 2. Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi 3. Hak kebebasan berfikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi 4. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan 5. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak 6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksinya 7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual 8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya 9. Hak atas pelayanan dan kehidupan reproduksinya 10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga  11. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi 12. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi (Widyastuti, 2012).
Menurut BKKBN 2016, kebijakan teknis operasional di Indonesia, untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak reproduksi: 1. Promosi hak-hak reproduksi Dilaksanakan dengan menganalisis perundang-undangan, peraturan, dan kebijakan saat ini berlaku apakah sudah seiring dan mendukung hak-hak reproduksi dengan tidak melupakan kondisi lokal sosial budaya masyarakat. 2. Advokasi hak-hak reproduksi Advokasi dimaksudkan agar mendapat dukungan komitmen dari para tokoh politik tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM/LSOM, dan swasta. 3. KIE hak-hak reproduksi Dengan KIE diharapkan masyarakat semakin mengerti hak-hak reproduksi sehingga dapat bersama-sama mewujudkannya. 4. Sistem pelayanan hak-hak reproduksi

Perkembangan Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Masa remaja juga dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksi pun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan. Pada masa pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan seks remaja (BKKBN, 2011). Remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual. Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut (Mappiare, 2012). Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi ini, seorang remaja sudah dapat menjalankan fungsi prokreasinya, artinya sudah dapat mempunyai keturunan. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa remaja sudah mampu bereproduksi dengan aman secara fisik. Usia reproduksi sehat untuk wanita adalah antara 20 – 30 tahun. Faktor yang mempengaruhinya ada bermacam-macam. Misalnya, sebelum wanita berusia 20 tahun secara fisik kondisi organ reproduksi seperti rahim belum cukup siap untuk memelihara hasil pembuahan dan pengembangan janin. Selain itu, secara mental pada umur ini wanita belum cukup matang dan dewasa. Ibu muda biasanya kemampuan perawatan pra-natal kurang  baik karena rendahnya pengetahuan dan rasa malu untuk datang memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan (BKKBN, 2011). Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masa awal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah perilaku seks bebas (free sex) masalah kehamilan yang terjadi pada remaja usia sekolah diluar pernikahan, dan terjangkitnya penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS (BKKBN, 2011)

Ruang Lingkup Kesehatan Repoduksi (skripsi dan tesis)

Secara garis besar, ruang lingkup kesehatan reproduksi (BKKBN, 2011) meliputi: 1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir 2. Kesehatan reproduksi remaja 3. Pencegahan dan penanggulangan pada penyimpangan seksual dan napza yang dapat berakibat pada HIV/AIDS 4. Kesehatan reproduksi pada usia lanjut Uraian ruang lingkup kesehatan reproduksi remaja berdasarkan pada pendekatan siklus kehidupan, yakni memperhatikan kekhususan kebutuhan penanganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut. Ini dikarenakan masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, maka apabila tidak ditangani dengan baik maka akan berakibat buruk bagi masa kehidupan selanjutnya Salah satu ruang lingkup kesehatan reproduksi dalam siklus kehidupan adalah kesehatan reproduksi remaja. Tujuan dari program kesehatan reproduksi remaja adalah untuk membantu remaja agar memahami kesehatan reproduksi, sehingga remaja memiliki sikap dan perilaku sehat serta bertanggung jawab kaitannya dengan masalah kehidupan reproduksi (Widyastuti dkk., 2012).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi (Taufan, 2010) yaitu: 1. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan kurangnya pengetahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil). 2. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, kurangnya peran orang tua dalam mendidik dan menawasi anak, dsb).  3. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua dan remaja, depresi karena ketidak seimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang memberi kebebasan secara materi). 4. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual)

Perubahan Fisik Yang Mulai Menandai Kematangan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Terjadi pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja, termasuk pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan, sehingga  mampu melangsungkan fungsi reproduksi. Perubahan ini ditandai dengan munculnya tanda-tanda sebagai berikut. 1. Perubahan seks primer Perubahan seks primer ditandai dengan mulai berfungsinya alat-alat reproduksi yaitu ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki. 2. Perubahan seks sekunder Pada remaja putri yaitu pinggul melebar, pertumbuhan rahim dan vagina, payudara membesar, tumbuh rambut di ketiak dan sekitar kemaluan atau pubis. Pada remaja laki-laki yaitu terjadi perubahan suara, tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, dada lebih besar, badan berotot, tumbuhnya kumis, cabang dan rambut disekitar kemaluan dan ketiak (Kemenkes RI, 2010).

Pengertian Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata produksi artinya membuat atau menghasilkan. Jadi istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Sedangkan yang disebut organ reproduksi adalah pertumbuhan tulangtulang dan kematangan seksual yang berfungsi untuk reproduksi manusia, yang terjadi masa remaja. Kesehatan reproduksi menurut Kemenkes RI (2015) adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Ruang lingkup pelayanan kesehatan repoduksi menurut International Conference Population and Development (ICPD) tahun 1994 di Kairo terdiri dari kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pencegahan dan penanganan infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan penanganan komplikasi aborsi, pencegahan dan penanganan infertilitas, kesehatan reproduksi usia lanjut, deteksi dini kanker saluran reproduksi serta kesehatan reproduksi lainnya seperti kekerasan seksual, sunat perempuan dan sebagainya.
Kesehatan reproduksi menurut Depkes RI adalah suatu keadaan sehat, secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kedudukan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi, dan pemikiran kesehatan reproduksi 10 bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit, melainkan juga bagaimana seseorang dapat memiliki seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sudah menikah (Nugroho, 2010). Guna mencapai kesejahteraan yang berhubungan dengan fungsi dan proses sistem reproduksi, maka setiap orang (khususnya remaja) perlu mengenal dan memahami tentang hak-hak reproduksi berikut ini. 1. Hak untuk hidup 2. Hak mendapatkan kebebasan dan keamanan 3. Hak atas kesetaraan dan terbebas dari segala bentuk diskriminasi 4. Hak privasi 5. Hak kebebasan berpikir 6. Hak atas informasi dan edukasi 7. Hak memilih untuk menikah atau tidak, serta untuk membentuk dan merencanakan sebuah keluarga 8. Hak untuk memutuskan apakah ingin dan kapan mempunyai anak 9. Hak atas pelayanan dan proteksi kesehatan 10. Hak untuk menikmati kemajuan ilmu pengetahuan 11. Hak atas kebebasa berserikat dan berpartisipasi dalam arena politik 12. Hak untuk terbebas dari kesakitan dan kesalahan pengobatan (Kemenkes RI, 2010)

Pengertian aktivitas fisik (skripsi dan tesis)

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan energi sehingga menyebabkan pembakaran energi. Energi yang diperlukan untuk melakukan aktivitas fisik bervariasi menurut tingkat intensitas dan lama melakukan aktivitas fisik. Semakin berat dan semakin lama aktivitas fisik dilakukan, maka semakin tinggi energi yang diperlukan . Upaya menurunkan berat badan melalui aktivitas fisik umumnya hanya menurunkan berkisar 2-3%, sedangkan olahraga mempengaruhi kecepatan penurunan berat badan menurut frekuensi dan durasinya

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi (skripsi dan tesis)

Faktor yang mempengaruhi konsumsi panngan yang dimakan seseorang menurut Khomsan (2006), adalah faktor ekonomi dan harga, dan faktor sosial budaya dan religi. Faktor ekonomi dan harga dapat mempengaruhi secara langsung karena perbedaan pendapatan seseorang dapat mempengaruhi perubahan konsumsi mkananan yang dimakan. Faktor sosial budaya dan religi dapat mempengaruhi konsumsi makanan karena kebudayaan seseorang berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan yang digunakan untuk dikonsumsi, kebudayaan juga menentukan makanan yang boleh dimakan atau makanan yang bersifat tabu  . Terdapat faktor lain yang mempengaruhi pola makan seseorang  , yaitu: (1) Presonal Preference, yakni pola makan atau konsumsi seseorang dapat dipengaruhi oleh kesukaan atau ketidaksukaannya terhadap makanan tersebut. perasaan suka tidak suka seseorang terhadap makanan tergantung pada asosiasinya terhadap makanan tersebut; (2) Rasa lapar, nafsu makan, dan rasa kenyang, yang diartikan sebagai, rasa lapar merupakan sensasi yang kurang menyenangkan, karena berhubungan dengan kekurangan makanan. Sebaliknya, nafsu makan adalah sensasi yang menyenangkan berupa keinginan seseorang untuk makan. Ada pula rasa kenyang yaitu perasaan puas karena telah memenuhi keinginan makan

Pengertian konsumsi makanan (skripsi dan tesis)

Konsumsi pangan adalah jenis dan jumlah pangan yang dimakan oleh seseorang dengan tujuan pada waktu tertentu. Mengkonsumsi pangan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu secara biologis, psikologis, maupun sosial. Hal ini terkait dengan fungsi makanan yaitu gastronomik, identitas budaya, religi, magis, komunikasi, lambang status ekonomi, kekuatan dan kekuasaan . Asupan zat gizi pada orang dewasa lebih terfokus pada bagaimana memelihara berat badan yang sehat dan latihan fisik, menghindari berat badan yang berlebihan, dan melanjutkan untuk membangun kekuatan. Kebutuhan energi umum orang dewasa ditetapkan melalui batasan makan yang direkomendasikan dan tingkat aktifitas

Edukasi gizi (skripsi dan tesis)

Edukasi gizi menurut Fasli Jalal (2010) adalah suatu proses yang berkesinambungan untuk menambah pengetahuan tentang gizi, membentuk sikap dan perilaku hidup sehat dengan memperhatikan pola makan sehari-hari dan faktor lain yang mempengaruhi makanan, serta meningkatkan derajat kesehatan dan gizi seseorang. Tujuan dari pemberian edukasi gizi adalah mendorong terjadinya perubahan perilaku yang positif yang berhubungan dengan makanan dan gizi8 . Bentuk dari kegiatan edukasi gizi salah satunya adalah penyuluhan. Langkah-langkah dalam melakukan penyuluhan menurut Maulana (2007)9 adalah: (1) Mengenali masalah, masyarakat dan wilayah; (2) Menentukan prioritas penyuluhan; (3) Menentukan tujuan penyuluhan dengan mempertimbangkan tujuan yang jelas, realistis (dapat dicapai) dan dapat diukur; (4) Menentukan sasaran penyuluhan; (5) Menentukan isi penyuluhan; (6) Menentukan metode penyuluhan yang akan digunakan; (7) Memilih alat peraga atau media penyuluhan;  (8) Menyusun rencana penilaian (evaluasi); (9) Menyusun rencana kerja atau rencana pelaksanaan

Karakteristik Siswa SD Usia 10-12 Tahun (skripsi dan tesis)

Anak usia SD umur 10-12 tahun merupakan individu yang sangat aktif dalam melakukan aktivitas fisik dan mengisi waktu luangnya. Mereka tidak bisa tinggal diam selalu bergerak setiap rangsangan dari sekelilingnya selalu dijawab dengan gerakan. Mereka selalu ingin mencoba sesuatu yang dilihatnya. Menurut Sukinta (1992: 43) karakteristik siswa MI/SD Usia 10-12 tahun adalah : a) pertumbuhan otot lengan tungkai makin bertambah b) Ada kesegaran mengenai badannya c) Anak laki-laki lebih menguasai permainan kasar d) Pertumbuhan tinggi dan berat tidak baik e) Kekuatan otot tidak menunjang pertumbuhan f) Waktu reaksi makin baik g) Perbedaan akibat jenis kelamin makinnyata h) Koordinasi makin baik i) Badan lebih sehat dan kuat j) Tungkai mengalami masa pertumbuhan yang lebih kuat bila diban dingkan dengan bagian badan atas. Karakteristi usia anak ini membutuhkan energi yang sangat banyak, energi yang dibutuhkan dproses dari zat gizi yang dikonsumsinya. Terpenuhinya sumber energi yang dan makin banyak gerak akan akan membuat pertumbuhan yang baik disamping dukungan faktor gizi.

Keterkaitan Antara Status Gizi dengan Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Sebagai usaha menunjang pelaksanaan program pemerintah dalam hal peningkatan kesehatan masyarakat, berbagai upaya dapat dilakukan yang bertiik pangkal pada bermacam bidang, berbagai jalur tetapi tujuannya sama. Salah satu cara adalah melakukan aktifitas fisik melalui latihan jasmani atau olahraga.sehubung dengan itu, maka pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan diberikan melalui SD sampai SLTA. Menurut Moelyono (1999: 35), seseorang yang memiliki kondisi gizi yang baik akan tampil aktif, giat bekerja, gembira, jarang sakit. Anak yang ada dalam kondisi kurang gizi pada umumnya lemas, lekas lelah, tidak bergairah, sering sakit dan biasanya kurang dapat melakukan hobinya kerena keadaan tubuhnya lemah. Dengan kata lain anak yang kondisi gizinya baik akan memiliki kecukupan energi yang dibuthkan untuk melakukan aktivitas termasuk di dalamnya aktivitas fisik

Tes Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

 Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Menurut Anne Anastasi dalam karya tulisnya (psychological testing) yang dikutip oleh Anas Sudijono (2005: 66), yang dimaksud tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis dan tingkah laku individu. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa tes adalah cara (yang dapat dipergunakan/prosedur yang dapt ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan, yang 18 dibentuk pemberian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab atau perintah, sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee. Di mana nilai tersebut dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh testee lainnya, atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu. Dalam mengukur tingkat kesegaran jasmani seseorang dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa tes antara lain:
 a) Tes Kesegaran Jasmani Indonesia dari TK-SMA
 TKJI meliputi 5 butir yaitu lari cepat, angkat tubuh, angkat tubuh untuk putra dan gantung siku untuk putri, baring duduk, loncat tegak dan lari jauh. Di setiap tingkat jumlah proporsi tes TKJI dari TK-SMA berbeda-beda hal ini disesuaikan berdasarkan jenis tingkatan kelas atau umur. Sumber: TKJI Depdiknas.PPKJ.2010.
b) Harvard Step Tes Merupakan tes pengukuran dengan naik turun bangku selama 5 menit, digunakan untuk mengukur kardiorespirasi.
 c) Multi State Fitness Tes
 Merupakan tes yang menggunakan irama musik danpelaksanaannya yaitu iramanya secara bertahap dari tahap satu ketahap berikutnya frekwensinya semakin meningkat.
 d) Tes Cooper
 Merupakan tes lari selama 12 menit dimana dalam tes  cooper ini manggunakan istilah kapasitas aerobik karena prooogram standar penafsiran hasil tes disusun berdasarkan prediksi langsung terhadap VO2 maks.
e) Tes A.C.S.P.F.T
 Merupakan tes yang terdiri dari beberapa item yaitu lari cepat 40 meter, lompat jauh tanpa awalan, bergantuang siku tekuk, lari jauh 600 meter, shutle run 4 x 10 meter,sit up 30 detik tekuk togok ke mika Menurut Suryanto dkk dalam jurnal penelitian.
f) Tes Lari 1000 meter
 Intrumen dari tes kesegaran jasmani menurut Diknas PPKJ Tahun 2009 yaitu tes lari 1000 meter bagi usia 10-12 tahun dengan menggunakan norma penilaian

Faktor Yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

.

 Kesegaran jasmani yang baik sangat diperlukan oleh setiap orang. Dari komponen-komponen kesegaran jasmani menunjukkan bahwa kesegaran jasmani ternyata memiliki pengertian yang luas dan kompleks. Kesegaran jasmani yang dibutuhkan setiap orang berbeda, tergantung dari sifat tantangan sifat fisik yang dihadapi. Menurut http/www.afand.cybermq.com faktor-faktor yang mempengaruhi  kesegaran jasmani adalah: 1. Umur. Kebugaran jasmani anak-anak meningkat sampaimencapai maksimal pada usia 25-30 tahun, kemudian akanterjadi penurunan kapasitas fungsional dari seluruh tubuh,kira-kira sebesar 0,8-1% per tahun, tetapi bila rajinberolahraga penurunan ini dapat dikurangi sampai separuhnya. 2. Jenis Kelamin. Sampai pubertas biasanya kebugaran jasmani anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan, tapi setelah pubertas anak-anak laki-laki biasanya mempunyai nilai yang jauh lebih besar. 3. Genetik. Berpengaruh terhadap kapasitas jantung paru, postur tubuh, obesitas, haemoglobin/sel darah dan serat otot. Makanan.Daya tahan yang tinggi bila mengkonsumsi tinggi karbohidrat(60- 70%).Diet tinggi protein terutama untuk memperbesar otot dan untuk olahraga yang memerlukan kekuatan otot yang besar. 4. Rokok. Kadar CO yang terhisap akan mengurangi nilai VO2 maksimal, yang berpengaruh terhadap daya tahan, selain itu menurut penelitian Perkins dan Sexton, nicotine yang ada,dapat memperbesar pengeluaran energi dan mengurangi nafsu makan

Komponen Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Ada beberapa komponen kesegaran jasmani dan itu sangat penting untuk diketahui karena komponen-komponen tersebut merupakan penentu baik buruknya tingkat kesegaran jasmani seseorang. Menurut Endang Rini S dkk (2008: 2) komponen kesegaran jasmani dikelompokkan menjadi: a. Komponen yang berhubungan dengan kesehatan, meliputi daya tahan paru dan jantung, kekuatan, daya tahan otot, kelentukan dan komposisi tubuh. b. Kesegaran yang berhubungan dengan ketrampilan, meliputi kecepatan, koordinasi, power, kelincahan, perasaan gerak. Menurut Djoko Pekik Irianto (2000: 40) kesegaran yang berhubungan dengan kesehatan memiliki empat komponen dasar, meliputi: a) Daya tahan paru jantung. b) Kekuatan dan daya tahan otot. c) Kelentukan. d) Komposisi tubuh.
 Menurut Abdul Kadir Ateng (1992: 66) komponen kebugaran jasmani terdiri atas kekuatan dan daya tahan otot, daya tahan respirasikardiovaskuler, tenaga otot, kelentukan, kecepatan, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, dan ketepatan. Mengacu pada batasan kesegaran jasmani dan pendapat para pakar mengenai unsur yang terdapat dalam kesegaran jasmani maka dapat ditarik kesimpulan bahwa komponen kesegaran jasmani adalah unsur-unsur yang dimiliki oleh jasmani dan mampu berfungsi dengan baik pula.Komponenkomponen tersebut bersifat saling melengkapi dan untuk meningkatkan kesegaran jasmani kita harus melatihnya. Dapat dikemukakan bahwa ada empat komponen penting yang minimal dapat meningkatkan kesegaran jasmani yaitu: a) Dayatahan kardiorespirasi Dayatahan kardiorespirasi adalah kapasitas system jantung, parudan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal saat melakukan aktivitas sehari-hari dalam waktu yang cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Daya tahan jantung paru sangat penting untuk menunjang kerja otot dengan mengambil oksigen dan menyalurkannya keseluruh jaringan otot yang sedang aktif sehingga dapat digunakan untuk proses metabolisme tubuh. b) Daya tahan otot. Menurut Djoko Pekik Irianto (2000: 47) daya tahan otot adalah : “ kemampuan otot untuk melakukan serangkaian kerja dalam waktu lama”. c) Kekuatan otot. Kekuatan otot adalah tenaga, gaya atau tegangan yang dapat dihasilkan oleh otot atau sekelompok otot pada suatu kontraksi dengan beban maksimal. Seseorang mungkin memiliki kekuatan pada bagian otot tertentu namun belum tentu memiliki pada bagian otot lainnya. 16 d) Kecepatan. Kecepatan adalah kemampuan tubuh untuk melakukan gerakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Menurut Abdul Kadir Ateng (1992: 66) kecepatan adalah kemampuan individu untuk melakukan gerakan-gerakan yang berulang-ulang dalam waktu yang sesingkatsingkatnya. e) Power/ daya ledak. Power adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum, denganusaha yang dikerahkan dalam waktu yang sependekpendeknya. Menurut Suharno dalam skripsi Murdiman(1995: 37) menyatakan daya ledak adalah kemampuan sebuah otot atau sekelompok otot untuk mengatasi beban dengan kecepatan tinggi dalam satu gerakan yang utuh. Jadi dapat disimpulkan daya ledak merupakan kemampuan otot untuk melakukan usaha dalam waktu yang cepat.

Pengertian Kesegaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Pendidikan jasmani memiliki peranan yang sangat penting dalam mengintensifkan penyelenggaraan pendidikan suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah, dan terencana. Melalui pendidikan jasmani diharapkan dapat membantu siswa memiliki kesegaran jasmani yang baik. Tingkat kesegaran jasmani yang dimiliki seseorang menjadi peranan penting dalam melakukan aktivitas atau kegiatan sehari-hari. Tingkat kesegaran jasmani yang tinggi diperlukan oleh semua orang, termasuk anak usia sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA/sederajat). Dengan memiliki tingkat kesegaran jasmani yang tinggi, siswa mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan waktu lebih lama dibanding siswa yang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang rendah.
Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 2-3) kesegaran jasmani adalah “ Kemampuan seseorang untuk dapat melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa menimbulkankelelahan yang berlebihan sehingga masih dapat menikmati waktuluangnya.” Kesegaran digolongkan menjadi 3 kelompok  yaitu: 1. Kesegaran statis: keadaan seseorang yang bebas dari penyakit dan cacat atau disebut sehat. 2. Kesegaran dinamis: kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang tidak memerlukan ketrampilan khusus. Misalnya berjalan, berlari, melompat. 3. Kesegaran motorik: kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang menuntut ketrampilan khusus. Misalnya seorang pelari dituntut memiliki teknik berlari yang benar untuk memenangkan perlombaan. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 43) menyatakan bahwa kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari dengan tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dengan pengeluaran energi yang cukup besar, guna memenuhi kebutuhan geraknya dan menikmati waktu luang serta untuk memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu diperlukan.
 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan tugas serta pekerjaan sehari-hari secara efisien dan efektif tanpa mengalami kelelahan yang berlebih, sehingga masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggang dan keperluan mendadak. Dengan demikian kesegaran jasmani yang diperlukan setiap individu tidak sama tergantung pada kebutuhan dan tugas fisik yang dilakukannya. Semakin berat tugasnya semakin tinggi kesegaran jasmani yang harus dimiliki.

Pemeriksaan status gizi (skripsi dan tesis)

Status gizi adalah ekperesi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk fariabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik buruknya penyediaan makanan sehari-hari. Status gizi yang baik diperlukan untuk mempertahankan kebugaran dan kesehatan. Menurut Djoko Pekik Iriyanto (2007: 65-66) pemeriksaan status gizi dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Pemeriksaan langsung Untuk mengetahui status gizi seseorang dapat dilakukan pemeriksaan langsung. 2) Pemeriksaan tidak langsung Selain pemeriksaan gizi secara langsung juga juga dilakukan pemeriksaan secara tidak langsung. Pengukuran untuk anak menggunakn indek berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) pada usia 6-17 tahun. Pengukuran status gizi dalam penelitian ini dihitung dengan membagi berat badan dalam gram dan tinggi badan dengan centi meter dikuadratkan. Hasil penghitungan tersebut kemudian dikonsultasikan pada tabel penelitian status gizi berdasarkan BB/TB (Winarto dalam Djoko Pekik Iriyanto, 2006: 19). Cara penghitungan ini dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Adapun 12 cara penelitiannya adalah dengan menghitung perosentase pencapaian BB standar berdasarkan tinggi badan

Macam-macam zat gizi dan pentingnya gizi lengkap bagi anak (skripsi dan tesis)

 Anak sekolah dasar kelas atas khususnya kelas V, VI berkisar pada usia 10-12 tahun. Pada usia ini, jika kesehatan tidak terganggu maka pertumbuhan badan sangat cepat. Agar kesehatan anak tetap terjaga maka anak diharuskan mengkonsumsi makanan yang lengka. Dalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh anak untuk pertumbuhan yaitu berupa: karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, air dan serat makanan. Menurut Djoko Pekik Iriyanto(2007)
 1. Karbohidrat
Karbohidrat adalah satu atau beberapa senyawa kimia termasuk gula, pati dan serat. 2. Lemak Dalam tubuh
 lemak bermanfaat sebagai. • Sebagai sumber energi, 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori. • Melarutkan fitamin sehingga dapat diserap oleh usus. • Memperlama rasa kenyang.
3. Protein
 Tubuh manusia memerlukan protein untuk menjalankan berbagai fungsi antara lain: • Membangun sel tubuh, ssemakin bertambahnya usia semakin bertambahnya jaringan baru seperti tulang dan otot. • Mengganti sel tubuh, sering jaringan atau sel rusak misalnya akibat cidra sehingga perlu protein sebagai pengganti sel-sel yangrusak tersebut. • Membuat air susu enzim dan hormon • Membuat protein darah. • Menjaga keseimbangan asam basa dalam tubuh.
4. Vitamin Dalam tubuh, vitamin bekerja sebagai,biokatalisator yaitu bekerja sebagai pelancar reaksi-reaksi dalam tubuh.
 5. Mineral
Secara umum fungsi mineral dalam tubuh sebagai berikut: • Menyediakan bahan sebagai komponen penyusun tulang dan gigi. • Membantu fungsi organ, memelihara irama jantung, kontraksi otot. • Memelihara keteraturan metabolisme seluler
. 6. Air
Air merupakan komponen besar dalam setruktur tubuh manusia kurang lebih 60-70% berat badan orang dewasa berupa air, sehingga air sangat diperlukan oleh tubuh. Sebagai komponen yang paling besar air memiliki peranan yang sangat penting yaitu  • Sebagai transportasi zat-zat gizi, membuang sisa-sisa meta bolisme, hormon kesasaran. • Mengatur temperatur tubuh terutama selama aktifitas fisik • Mempertahankan keseimbangan volume darah

Hakikat gizi (skripsi dan tesis)

Zat gizi adalah zat yang di peroleh dari bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari yang berfungsi untuk proses-proses didalam tubuh. Menurut Asmira (1980: 9), zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh oleh tubuh dan berasal dari makanan, dikatakan bahwa kebutuhan tubuh akan zat-zat gizi tidak dapat dipenuhi hanya satu atau dua makanan saja, karena pada umunya tidak ada satu bahan makanan yang mengandung gizi yang sangat lengkap. (Rizqie 2001: 1), Mengatakan zat gizi adalah setiap zat yang dicerna, diresap dan digunakan mendorong kelangsungan faal tubuh. Beberapa zat gizi dapat dibuat oleh tubuh sendiri dan sebagian besar lainnya harus diperoleh dari makanan yang dikonsumsi setiap hari melalui makanan

Status Gizi Remaja (skripsi dan tesis)

Analisis darah dari NDNS tahun 1997 menemukan bahwa: a. 13 % anak laki-laki dan 27% anak perempuan mempunyai kadar ferritin serum rendah, yang menunjukkan cadangan zat besi yang rendah. b. Kadar darah vitamin C, folat, riboflavin, dan tiamin rendah. c. 8% anak laki-laki dan 11, 5% anak perempuan mempunyai kolesterol plasma di atas 5,2 mmol/L. d. Penggunaan garam meja berhubungan dengan peningkatan tekanan darah sistolik e. 10-25% mempunyai kadar plasma vitamin D rendah

Pola Makan Remaja (skripsi dan tesis)

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa dan melibatkan perubahan fisik dan emosionalnya, seiring bertambahnya kemandirian dan banyaknya pilihan pribadi. Makanan yang menjadi pilihan remaja berakibat pada asupan dan status gizi mereka. Remaja memilih makanan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti : a. Kenyamanan, terutama saat makan di luar rumah b. Preferensi c. Selera d. Merek e. Mode dan tekanan atau pengaruh dari kelompok sebaya f. Ideologi pribadi, seperti pilihan untuk diet vegetarian g. Sibuk dengan pengendalian berat badan h. Memilih makanan yang kurang sehat sebagai perilaku untuk menentang orang tua dan solidaritas dengan teman sebaya i. Mengikuti diet tertentu untuk meningkatkan kemampuan olahraga (More, 2013: 389-392). Kebutuhan gizi pada remaja harus tercukupi, apabila tidak cukup maka akan menghambat perkembangan tulang, sehingga berdampak pada kekerdilan. Kekurangan gizi pada masa remaja juga dapat menghambat pubertas. Beberapa komponen gizi bagi remaja adalah sebagai berikut (More, 2013: 393-394): a. Vitamin Referensi vitamin untuk remaja pada dasarnya sama dengan orang dewasa, namun untuk niasin dan vitamin B6 harus lebih tinggi daripada kebutuhan orang dewasa.
Untuk remaja putri disarankan untuk mengkomsumsi makanan sebagai berikut : 1) ekstrak ragi 2) Biji-bijian, kacang buncis dan kacang polong 3) Jeruk dan jus jeruk 4) Sayur berwarna hijau b. Mineral Referensi untuk kalsium, fosfor dan zat besi lebih tinggi daripada untuk orang dewasa, sedangkan untuk magnesium pada remaja putri harus lebih tinggi dibanding untuk orang dewasa yang digunakan untuk masa pertumbuhan dan perkembangan remaja. c. Kalsium dan fosfor Kalsium dan fosfor dibutuhkan untuk pertambahan jaringan tulang. Asupan kalsium yang adekuat pada masa remaja dapat mencegah osteoporosis. Kepadatan tulang yang rendah dan tulang retak pada remaja putri mungkin bisa disebabkan karena kandungan fosfat yang 47 tinggi dalam minuman karbonasi yang diminum bersama diet rendah kalsium yang umumnya dilakukan remaja tanpa mengkonsumsi tiga porsi susu, keju dan/atau yogurt. d. Zat besi Zat besi merupakan nutrisi pokok selama pertumbuhan. Zat besi untuk anak laki-laki yang berumur 11-18 tahun disarankan sebanyak 11,3 mg/hari lebih tinggi daripada laki-laki yang berusia lebih mudah atau laki-laki dewasa. Sedangkan untuk anak perempuan yang berumur 11-18 tahun kadar zat besi lebih tinggi yaitu 14,8 mg/hari yang digunakan untuk menutupi kehilangan terkait saat menstruasi.
The National Diet and Nutrition Surveys (NDNS) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakseimbangan nutrisi pada remaja yaitu (More, 213: 400-401) : a. Ngemil, yaitu salah satu pola makan yang biasa ditemui pada remaja, dimana biasanya remaja lebih banyak mengkonsumsi makanan berupa camilan kering sederhana daripada buah segar. b. Tingginya konsumsi makanan dan minuman ringan yang mengandung gula berlebih. c. Buruknya konsumsi buah dan sayuran, dimana banyak remaja makan di bawah porsi dalam satu hari d. Asupan makanan yang berbasis susu tidak adekuat, sejak usia 11 tahun dan hanya minum susu sedikit.  e. Diet teratur f. Tidak sarapan Selain faktor-faktor di atas, kurang gizi pada remaja juga disebabkan oleh (More, 2013:402-406): a. Obesitas, yaitu kelebihan berat badan di atas berat badan normal. b. Vegetarianisme. Pada dasarnya diet vegetarian tidak masalah, namun apabila tidak direncanakan dengan baik dan tidak seimbang, hasilnya malah tidak adekuat. c. Pelangsingan yang tidak semestinya. Pelangsingan yang tidak diawasi dan tidak perlu dilakukan bisa menyebabkan asupan mikronutrien yang rendah. d. Gangguan makan, seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa dan gangguan makan yang tidak tergolongkan e. Alkohol. Mengkonsumsi alcohol yang tinggi merupakan salah satu penyebab kekhawatiran kesehatan dan sosial remaja. Remaja belum mempunyai kemampuan yang tinggi dalam metabolism alcohol dibanding orang dewasa. Meminum alcohol secara regular dapat menyebabkan konsumsi energy yang tinggi, karena alcohol mempunyai kepadatan energy yang tinggi sehingga tidak menimbulkan nafsu makan

Karakteristik Siswa SMP (skripsi dan tesis)

Anak usia sekolah menengah pertama, berada pada tahap perkembangan pubertas (10-14 tahun). Menurut Desmita (2010: 36) terdapat beberapa karakteristik siswa usia Sekolah Menengah Pertama yaitu: a. Terjadinya ketidakseimbangan proporsi tinggi dan berat badan b. Mulai timbulnya cirri-ciri seks sekunder c. Kecenderungan ambivalensi, serta keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul,serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua. d. Senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa. e. Mulai mempertanyakan secara skeptic mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan f. Reaksi dan ekspresi emosi masih labil g. Mulai mengembangkan standard dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang sesuai dengan dunia sosial h. Kecenderungan minat dan pilihan karir relative sudah lebih jelas.
 Menurut Yusuf (2004: 26-27), masa usia Sekolah Menengah bertepatan dengan masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena mempunyai sifat-sifat yang khas dan perannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Masa remaja terbagi lagi menjadi: a. Masa praremaja (remaja awal) Masa ini berlangsung dalam waktu yang relative singkat. Ditandai dengan sifat-sifat negatif dengan gejala seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pemisitik, dan lain sebagainya. Secara garis besar, sifat negatif tersebut terbagi menjadi negatif dalam berprestasi (jasmani maupun prestasi mental) dan negatif dalam sikap sosial, baik dalam bentuk menarik diri dalam masyarakat maupun dalam bentuk agresif. b. Masa remaja (remaja madya) Pada masa ini mulai timbul dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang mampu memahami dan menolongnya, teman yang bisa merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, juga mulai terbentuknya proses pendirian atau pandangan hidup. Selain itu, pada anak laki-laki sering aktif meniru, sedangkan pada anak perempuan kebanyakan pasif, mengagumi dan memujanya dalam khayalan. c. Masa remaja akhir Selanjutnya adalah masa remaja akhir, pada masa ini sudah mampu menentukan pendirian hidupnya dan terpenuhi tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup dan mulai memasuki masa dewasa

Gaya Hidup Sehat (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler seperti yang dikutip oleh Kotler dan Keller (2009: 210), gaya hidup didefinisikan sebagai berikut: “Secara luas, gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang terungkap pada aktivitas, minat dan opininya. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya”. Menurut Silvy menyebutkan gaya hidup menunjukkan bagaimana seseorang hidup, bagaimana orang tersebut mengelola keuangannya dan bagaimana mengelola waktu yang mereka miliki. Definisi lain menyebutkan bahwa gaya hidup sering dideskripsikan sebagai suatu kegiatan, minat dan pendapat seseorang serta lebih keperilaku seseorang yaitu bagaimana orang tersebut memanfaatkan uang dan waktunya serta bagaimana mengisi kehidupannya (Listyorini, 2012: 14).
 Mowen dalam Syaifulloh dan Sri (2013: 1167) menyebutkan bahwa gaya hidup adalah suatu pola yang menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana dia membelanjakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktunya. Bloch seperti yang dikutip oleh Wijaya (2013: 151) menyebutkan bahwa gaya hidup sehat merupakan orientasi pencegahan masalah kesehatan dan memaksimalkan kesejahteraan pribadi melalui pola konsumsi. Seseorang yang mempunyai gaya hidup sehat, cenderung untuk melakukan usaha-usaha yang sehat bagi tubuhnya misalnya dengan berolahraga, mengkonsumsi makanan natural dan menerapkan pola hidup yang seimbang. Selain itu, seseorang yang mempunyai gaya hidup sehat cenderung lebih mempertimbangkan semua kegiatan yang menunjang kesehatan (Wijaya, 2013: 151-152). Definisi lain menyebutkan bahwa gaya hidup sehat sebagai tindakan seseorang yang berkaitan dengan kesehatan yang diukur dengan indikator konsumsi makanan organic, perawatan kesehatan dan keseimbangan hidup. Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa gaya hidup sehat adalah gambaran mengenai perilaku seseorang yang meliputi bagaimana orang tersebut memanfaatkan waktu dan uang yang dimilikinya serta bagaimana cara ia menggunakan hidupnya dalam menjaga kesehatan tubuhnya. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, konsumsi alcohol dan aktivitas fisik yang rendah. Penelitian ini akan memfokuskan pada aktivitas fisik.
 Irianto (2006: 7-10) menyebutkan bahwa untuk memperoleh tubuh yang bugar dan sehat harus memahami pola hidup sehat, yaitu: a. Makan Makanan merupakan setiap sustrat yang bisa diproses di dalam tubuh, terutama untuk membangun dan mendapatkan tenaga untuk kesehatan sel di dalam tubuh. Tidak semua makanan dapat memberikan kesehatan, terdapat beberapa kriteria makanan yang sehat, yaitu: 1) Mempunyai kuantitas yang cukup 2) Seimbang 3) Mempunyai kualitas yang cukup 4) Sehat/bersih 5) Makanan harus segar alami 6) Diutamakan kategori nabati 7) Memasak dengan tidak berlebihan 8) Penyajiannya yang teratur 9) Makanan disajikan sebanyak 5 kali (3 kali makanan utama dan 2 kali makanan selingan) 10) Minum air putih sebanyak 18 Liter setiap hari b. Istirahat Tubuh manusia mempunyai kemampuan kerja yang terbatas, sehingga tidak akan mampu bekerja sepanjang waktu tiada henti. Salah satu indikator keterbatasan fungsi tubuh adalah kelelahan. Oleh karena 43 itu, istirahat sangat diperlukan agar tubuh mempunyai waktu melakukan pemulihan, sehingga dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan nyaman. c. Berolahraga Olahraga adalah salah satu alternatif untuk memperoleh kebugaran tubuh, karena dengan berolahraga tubuh akan memperoleh manafaat seperti fisik, psikis dan sosial. Saat ini masyarakat sudah banyak yang menyadari pentingnya berolahraga, sehingga banyak ditemukan cara berolahraga yang dilakukan baik secara individual maupun berkelompok

Pengukuran Kebugaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Tingkat kebugaran jasmani dalam penelitian ini diukur dengan indikator tes kesegaran jasmani Indonesia (TKJI) untuk anak sekolah, yang terdiri atas: 1) Lari 50/60 meter   2) Tes gantung angkat tubuh untuk putra, tes gantung siku tekuk untuk putri 3) Tes baring duduk selama 60 detik 4) Tes loncat tegak 5) Tes lari 1000 meter untuk putra dan 800 meter untuk putri (Ulfa dkk, 2017: 716)

Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebugaran jasmani seseorang adalah (Shomoro & Mondal, 2014) : 1) Umur
Tingkat kebugaran jasmani maksimal akan tercapai pada saat seseorang berusia 30 tahun.
2) Jenis Kelamin
Kebugaran jasmani laki-laki setelah mengalami pubertas akan lebih baik bila dibandingkan dengan perempuan, yang disebabkan perkembangan otot dan kekuatan otot yang semakin baik.
3) Merokok
Nikotin yang terdapat di dalam rokok akan meningkatkan pengeluaran energy dalam tubuh dan kadar karbondioksida, sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh.
 4) Status Kesehatan
Gangguan fungsi pada tubuh seseorang akan mempengaruhi kemampuan tubuh dalam melakukan aktivitas. Oleh karena itu kesehatan seseorang juga akan mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani.
5) Aktivitas fisik
Olahraga adalah salah satu aktivitas fisik yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani karena energi yang digunakan dan dikeluarkan selama melakukan kegiatan sangat bermanfaat untuk tubuh.
 6) Obesitas
Penggunaan tenaga yang lebih banyak akan membuat kebutuhan oksigen jauh lebih besar yang akan memacu jantung untuk bekerja lebih keras.

Aspek-Aspek Kebugaran Jasmani (skrispi dan tesis)

 Lutan (2001: 63) seperti yang dikutip oleh Rismayanthi (2012: 32) menyebutkan bahwa terdapat dua aspek dalam kebugaran jasmani seseorang, yaitu
: 1) Kebugaran yang berkaitan dengan kesehatan  Kebugaran yang berkaitan dengan kesehatan ini mengandung empat unsur pokok, yaitu: a) Kekuatan otot dan daya tahan otot b) Daya tahan aerobic c) Fleksibilitas d) Komposisi tubuh
2) Kebugaran yang berkaitan dengan performa, mengandung unsurunsur sebagai berikut: a) Koordinasi b) Agility c) Kecepatan gerak d) Power e) Keseimbangan
 c. Komponen Kebugaran Jasmani
Menurut Irianto dalam Rismayanthi (2012: 32) mengelompokkan komponen kebugaran jasmani menjadi empat komponen, yaitu: 1) Daya tahan kardio respirasi adalah sanggup tidaknya sistem jantung, paru-paru dan pembuluh darah dalam menjalankan fungsinya secara optimal ketika melakukan kegiatan sehari-hari dalam waktu yang lama dan tidak disertai rasa lelah yang berarti. 2) Daya tahan jantung paru sangat penting dalam menunjang kerja otot, yaitu dengan cara mengambil oksigen dan menyalurkannya ke otot yang aktif.  3) Daya tahan otot dan kekuatan otot, daya tahan otot merupakan kemampuan otot dalam melaksanakan aktivitas kerja dalam waktu yang lama. Kekuatan otot merupakan kemampuan otot dalam melawan beban suatu usaha. 4) Kelenteruan, yaitu kemampuan persendian untuk bergerak melawan beban dalam suatu usaha. 5) Komposisi tubuh adalah perbandingan berat tubuh berupa lemak dengan tubuh tanpa lemak yang dinyatakan dalam persentase. Kumar dan Sudhakara (2018: 908) menjelaskan bahwa kebugaran jasmani meliputi beberapa komponen yaitu derajat kesehatan yang memadai, postur tubuh, fungsi organ vital yang baik, nutrisi dan kebiasaan kesehatan yang baik, yang didukung oleh daya tahan, kekuatan, stamina dan fleksibilitas. Guta (2017: 35) menyebutkan bahwa kebugaran jasmani meliputi kekuatan otot, daya tahan otot, daya tahan kardiovaskular, kekuatan, keseimbangan dan koordinasi.
 d. Macam-Macam Kebugaran Jasmani Menurut Irianto dalam Rismayanthi (2012: 32) menyebutkan bahwa kebugaran jasmani dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) Kebugaran statis, yaitu kondisi seseorang yang bebas dari penyakit dan cacat fisik. 2) Kebugaran dinamis, yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja dengan efisien dan tidak membutuhkan keterampilan khusus. 3) Kebugaran motoris, yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang menuntut keterampilan khusus.

Definisi Kebugaran Jasmani

 Secara umum, kebugaran adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan kerja sehari-hari dengan efisien, dimana tidak menimbulkan kelelahan yang berlebihan sehingga masih bisa mengisi waktu luangnya dengan kegiatan lain (Irianto, 2004: 2). Rusli Lutan dalam kutipan Rismayanthi (2012: 31) menyebutkan bahwa kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan adalah mampu tidaknya seseorang dalam melakukan aktivitas fisik yang membutuhkan daya tahan dan fleksibilitas. Menurut Irianto seperti yang dikutip oleh Rismayanthi (2012: 31) menyebutkan secara umum kebugaran jasmani yaitu kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas sehari-hari dengan efisien tanpa adanya kelelahan yang berlebihan, sehingga bisa menikmati waktu luang yang dimilikinya.
Definisi lain menyebutkan kebugaran jasmani adalah mampu tidaknya seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya tanpa diikuti kelelahan dan masih bisa menikmati waktu luangnya serta masih bisa melaksanakan tugas yang tidak terduga (Sumarjo, dalam Rismayanthi, 2012: 31). 34 Guta (2017: 35) mendefinisikan kebugaran jasmani sebagai kemampuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari dengan semangat dan kewaspadaan tanpa merasa lelah dan masih mempunyai waktu luang dan energi untuk mengerjakan tugas yang tidak biasa dan keadaan darurat yang tidak bisa diduga. Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan tidak menimbulkan kelelahan yang berarti, sheingga tubuh masih mempunyai tenaga untuk mengatasi beban kerja tambahan atau berikutnya. Kumar dan Sudhakara (2018: 908) menyebutkan bahwa kebugaran jasmani pada umumnya diperoleh melalui latihan, nutrisi yang baik, dan istirahat yang cukup. Pada awalnya, istilah kebugaran jasmani diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanda adanya rasa lelah yang berarti. Kebugaran jasmani sebagai bagian dari kebugaran secara umum, diartikan sebagai sarana untuk mengembangkan kepribadian seseorang secara keseluruhan

Definisi Status Gizi (skripsi dan tesis)

Gizi adalah suatu proses menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari oragn-organ serta menghasilkan energi. Status gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan gizi dan penggunaan zat gizi tersebut atau bentuk dari nutriture variabel tertentu (Supariasa, 2016: 20). Status gizi adalah suatu keadaan dimana ekspresi dari keadaan tersebut menimbulkan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan faktor indikator baikburuknya asupan makanan sehari-hari (Rismayanthi, 2012: 31). Menurut Almatsier (2010: 3), status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat mengkonsumsi makanan dan menggunakan zat-zat yang bergizi.
 Teori Habict, seperti yang dikutip oleh Waspadji dkk (2010: 92) mendefinisikan bahwa status gizi adalah sebagai berikut: Status gizi adalah tanda-tanda atau penampilan fisik yang diakibatkan karena adanya keseimbangan antara pemasukan gizi di satu pihak, serta pengeluaran oleh organisme di lain pihak yang terlihat melalui variabel-variabel tertentu, yaitu melalui suatu indikator status gizi. Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan status gizi adalah suatu keadaan atau kondisi yang menunjukkan kondisi tubuh seseorang berdasarkan asupan makanan yang dikonsumsinya, apakah memenuhi zat-gizi atau tidak. Seseorang yang mempunyai status gizi optimal adalah kondisi seseorang dimana antara asupan zat gizi di dalam tubuhnya dengan kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuhnya seimbang (Waspadji dkk, 2010: 92). Seseorang yang mengalami kekurangan gizi atau kelebihan gizi disebut dengan malnutrisi. Supariasa (2016: 20) membagi malnutri menjadi empat bentuk, yaitu: 1) Undernutrition, yaitu suatu kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan pangan secara relative atau absolute selama periode tertentu. 2) Specific deficiency, yaitu suatu kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan zat gizi tertentu. 3) Overnutrition, yaitu suatu kondisi dimana seseorang mengalami kelebihan konsumsi pangan selama periode tertentu. 11 4) Imbalance, yaitu suatu kondisi dimana seseorang mengalami malnutrisi karena disproporsi zat gizi.

Nutrisi dan Kognitif (skripsi dan tesis)

Hubungan antara nutrisi dengan otak telah menjadi fokus dari banyak penelitian. Penelitian telah menunjukkan dampak asupan nutrisi terhadap fungsi otak. Pembawa pesan kimia dalam otak yang disebut neurotransmitter telah dipelajari   dalam hubungannya dengan gizi. Growden dan Wurtman (1980) mengemukakan bahwa otak tidak bisa lagi dipandang sebagai organ otonom, bebas dari proses metabolisme lainnya di dalam tubuh; sebaliknya, otak perlu dipengaruhi oleh asupan nutrisi, konsentrasi asam amino dan kolin (dalam darah) yang merangsang otak untuk membentuk banyak neurotransmiter seperti serotonin, asetilkolin, dopamin, dan norepinefrin. Asupan nutrisi sangat penting untuk otak, yang fungsinya untuk membentuk asam amino dan kolin dalam jumlah yang tepat. Asam amino dan kolin merupakan dua molekul prekursor yang diperoleh dari darah yang dibutuhkan bagi otak untuk berfungsi secara normal. Hal ini tidak mengherankan jika apa yang kita makan langsung mempengaruhi otak (Colby-Morley,1981).
 Wood didalam Kretsch et al. (2001) menunjukkan kemungkinan lebih lanjut bahwa nutrisi memiliki peran dalam mempengaruhi fungsi kognitif. Penelitian telah dilakukan pada anak usia sekolah untuk melihat korelasi langsung antara gizi buruk dan prestasi sekolah yang menurun. Zat besi memainkan peranan penting dalam fungsi otak. Kretsch et al. mengutip hasil penelitian yang dilakukan pada pria berusia 27-47 dan terbukti bahwa zat besi mempengaruhi konsentrasi. Skor yang rendah pada tes konsentrasi sejalan dengan rendahnya zat besi yang ada dalam tubuh. Penelitian dilakukan untuk melihat hubungan antara zat besi dengan konsentrasi anak; anak-anak dengan anemia defisiensi besi terbukti memiliki konsentrasi yang rendah. Kretsch et al. juga menemukan bahwa zinc adalah zat nutrisi lain yang ikut berperan dalam fungsi kognitif, khususnya memori. Dalam tes fungsi mental, peneliti menemukan bahwa kemampuan responden untuk mengingat kata – kata sehari – hari melambat secara signifikan setelah tiga minggu mengurangi konsumsi zinc (Wood, 2001). Erickson (2006) menyebutkan lima zat nutrisi kunci, berdasarkan penelitian, diperlukan untuk menjaga agar otak berfungsi dengan baik. Keseluruhan zat ini dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi. Protein dapat ditemukan dalam daging, ikan, susu, dan keju. Protein digunakan untuk membentuk sebagian besar jaringan  tubuh, termasuk neurotransmitter pembawa pesan kimia yang membawa informasi dari satu sel otak ke sel-sel otak lainnya. Kurangnya protein, menyebabkan performa sekolah yang buruk dan menyebabkan anak-anak menjadi lesu, dan pasif, yang semuanya membantu mempengaruhi perkembangan sosial dan emosi anak. Karbohidrat biasanya ditemukan dalam biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Karbohidrat dipecah menjadi glukosa (gula) sehingga dapat digunakan otak sebagai sumber energi. Mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan seseorang merasa lebih tenang dan santai karena zat kimia otak yang disebut serotonin. Serotonin dibuat dalam otak melalui penyerapan dan konversi triptofan. Tryptophan diserap dalam darah dan penyerapan ini ditingkatkan dengan karbohidrat (Erickson, 2006).
Erickson juga menyebutkan bahwa lemak membentuk lebih dari 60% dari bagian otak dan bertindak sebagai kontrol aspek parsial contohnya suasana hati. Asam lemak omega-3 sangat penting untuk meningkatkan kinerja otak dan kurangnya lemak ini dapat menyebabkan depresi, memori lemah, IQ rendah, ketidakmampuan belajar, dan disleksia. Makanan penting untuk memastikan asupan asam lemak Omega-3 adalah ikan tertentu dan kacang-kacangan (Erickson,2006). Erickson (2006) menyebut vitamin dan mineral sebagai zat penting untuk fungsi otak optimal. Yang paling penting adalah vitamin A, C, E, dan vitamin B kompleks. Mangan dan magnesium adalah dua mineral penting untuk fungsi otak; natrium, kalium dan kalsium berperan dalam transmisi pesan dan proses berpikir.

Faktor – faktor yang mempengaruhi belajar (skripsi dan tesis)

Secara garis besar, Suryabrata (1989) menyatakan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: 1. Faktor – faktor yang berasal dari dalam diri pembelajar, yang meliputi: (a) faktor – faktor fisiologis (b) faktor – faktor psikologis. 2. Faktor – faktor yang berasal dari luar diri pembelajar, yang meliputi: (a) faktor – faktor sosial (b) faktor – faktor non sosial. Faktor – faktor fisiologis yang mempengaruhi belajar mencakup dua hal, yaitu: 1. Keadaan jasmani pada umumnya. Keadaan jasmani yang segar akan siap dan aktif dalam belajarnya, sebaliknya orang yang keadaan jasmaninya lesu dan lemas akan mengalami kesulitan untuk menyiapkan diri dalam melakukan aktifitas belajar. 2. Keadaan fungsi – fungsi fisiologis tertentu. Keadaan fungsi – fungsi fisiologis tertentu, terutama kesehatan pancaindra merupakan alat untuk belajar. Karenanya, berfungsinya indra dengan baik merupakan syarat untuk dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik. Indra yang terpenting dalam hal ini adalah mata dan telinga karena kedua indra inilah yang merupakan pintu gerbang masuknya berbagai informasi yang diperlukan dalam proses belajar.
 Faktor – faktor psikologis yang mempengaruhi belajar antara lain mencakup: 1. Minat, adanya minat terhadap objek yang dipelajari akan mendorong orang untuk mempelajari sesuatu dan mencapai hasil belajar yang maksimal. Karena minat merupakan komponen psikis yang berperan mendorong seseorarng untuk meraih tujuan yang diinginkan, sehingga ia bersedia melakukan kegiatan berkisar objek yang diminati. 2. Motivasi, motivasi belajar seseorang akan menentukan hasil belajar yang dicapainya. Bahkan dua orang yang sama, namun memiliki motivasi belajar yang berbeda. Maslow (dalam Frandsen, 1961) mengemukakan motif – motif belajar itu ialah: a. Adanya kebutuhan fisik b. Adanya kebutuhan akan rasa aman c. Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dari orang lain d. Adanya kebutuhan untuk mendapat kehormatan e. Adanya kebutuhan untuk aktualisasi diri 3. Intelegensi, merupakan modal utama dalam melakukan aktivitas belajar dan mencapai hasil belajar yang maksimal. Orang berintelegensi rendah tidak akan mungkin mencapai hasil belajar yang melebihi orang yang berintelegensi tinggi. 4. Memori, kemampuan untuk merekam, menyimpan, dan mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari akan sangat membantu dalam proses belajar dan mencapai hasil belajar yang baik. 5. Emosi, penelitian tentang otak menunjukkan bahwa emosi yang positif akan sangat membantu kerja saraf otak untuk “merekatkan” apa yang dipelajari ke dalam memori (Goleman, 1995; LeDoux, 1993, MacLean, 1990). Karena informasi pelajaran yang dikirim ke pusat memori melalui amygdala sebagai pusat emosi berjalan tanpa halangan.
Faktor – faktor sosial yang mempengaruhi belajar merupakan faktor manusia baik manusia itu hadir secara langsung maupun tidak. Faktor ini mencakup: 1. Orang tua, diakui bahwa orang tua, fasilitas belajar yang disediakan, perhatian, dan motivasi merupakan dukungan belajar yang harus diberikan orang tua untuk kesuksesan belajar anak. 2. Guru, terutama kompetensi pribadi dan profesional guru sangat berpengaruh pada proses dan hasil belajar yang dicapai anak didik. 3. Teman – teman atau orang – orang di sekitar lingkungan belajar, kehadiran orang lain secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh buruk atau baik pada belajar seseorang. Faktor – faktor non-sosial yang memengaruhi belajar merupakan faktor – faktor luar yang bukan faktor manusia yang memengaruhi proses dan hasil belajar, diantaranya: 1. Keadan udara, suhu, dan cuaca. Keadaan udara dan suhu yang terlalu panas dapat membuat seseorang menjadi tidak nyaman belajar sehingga juga tidak mencapai hasil belajar yang maksimal. 2. Waktu. Sebagian besar orang lebih mudah memahami pelajaran di pagi hari dibanding siang dan sore hari. 3. Tempat. Seseorang biasanya sulit belajar ditempat yang ramai dan bising. 4. Alat – alat atau perlengkapan belajar. Dalam pembelajaran tertentu yang memerlukan alat, belajar tidak akan mencapai hasil yang maksimal jika tanpa alat tersebut.

Definisi Belajar (skripsi dan tesis)

Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti Universitas Sumatera Utara keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Pada dasarnya belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2003). Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (Abdurrahman,1999). Dalam kegiatan pembelajaran, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan – tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional. Menurut Benjamin S. Bloom tiga ranah hasil belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Menurut A.J. Romizowski hasil belajar merupakan keluaran (output) dari suatu sistem pemrosesan masukan (input). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam – macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance) (Abdurrahman, 1999). Untuk memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian yang merupakan tindak lanjut atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya (Juliah, 2004). Menurut Hamalik (2003) hasil belajar adalah pola – pola perbuatan, nilai – nilai, pengertian – pengertian dan sikap – sikap, serta persepsi dan abilitas. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan proses belajar sesuai dengan tujuan pengajaran.Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap – sikap baru, yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa (Hamalik, 2005)

Pemeriksaan antropometri untuk Status Gizi (skripsi dan tesis)

 Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh manusia dalam hal ini dimensi tulang, otot, dan jaringan lemak (Hendarto, 2011). Antropometri saat ini telah digunakan untuk menilai status nutrisi, kesehatan, dan perkembangan dari anak (Srivastava, 2012).   Ada beberapa dasar pengukuran tinggi dan berat badan, berdasarkan buku Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik tahun 2011, ukuran – ukuran yang lazim digunakan dalam menilai tumbuh kembang anak, antara lain:
1. Tinggi badan
 Panjang badan diukur dengan menggunakan papan pengukur panjang untuk anak dibawah 2 tahun atau PB kurang dari 85 cm. Pengukuran panjang badan dilakukan oleh 2 orang pemeriksa. Pemeriksa pertama memposisikan sang bayi agar lurus dipapan pengukur sehingga kepala sang bayi agar lurus di papan pengukur sehingga kepala sang bayi menyentuh papan penahan kepala dalam posisi bidang datar. Pemeriksa kedua menahan agar lutut dan tumit sang bayi menempel dengan papan penahan kaki (Hendarto, 2011). Untuk anak yang dapat berdiri tanpa bantuan dan kooperatif, tinggi badan diukur dengan menggunakan stadiometer, yang memiliki penahan kepala yang bersudut 90 terhadap stadiometer yang dapat digerakkan. Sang anak diukur dengan telanjang kaki atau dengan kaus kaki tipis dan dengan pakaian minimal agar pengukur dapat memeriksa apakah posisi anak tersebut sudah benar. Saat pengukuran sang anak harus berdiri tegak, kedua kaki menempel, tumit, bokong, dan belakang kepala menyentuh stadiometer, dan menatap kedepan pada bidang datar (Hendarto, 2011). 2. Berat badan
Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan berat badan. Sampai anak berumur 24 bulan atau berdiri sendiri, maka digunakan timbangan bayi. Sebelum menimbang, timbangan dikalibrasi sehingga jarum menunjuk angka nol. Pada saat melakukan penimbangan, sebaiknya menggunakan pakaian seminimal mungkin. Berat badan dicatat dengan ketelitian 0,01 Kg pada bayi dan 0,1 Kg pada anak yang lebih besar (Hendarto, 2011)
 3. Lingkar kepala
Lingkar kepala diukur dengan menggunakan pita pengukur fleksibel yang tidak dapat diregangkan. Panjang lingkar sebaiknya diambil dari lingkar maksimum dari kepala, yaitu diatas tonjolan supraorbital dan melingkari oksiput. Saat pengukuran harus diperhatikan agar pita pengukur tetap datar pada permukaan kepala dan paralel di kedua sisi. Pengukuran dicatat dengan ketelitian sampai 0,1 cm (Hendarto, 2011)
. 4. Lingkar lengan atas (LILA)
 Untuk pengukuran LILA, anak harus berdiri tegak lurus dengan lengan dilemaskan disisi tubuh. Pita ukur yang fleksibel dan tidak dapat diregangkan diletakkan tegak lurus dengan aksis panjang dari lengan, dirapatkan melingkari lengan, dan dicatat dengan ketelitian sampai ke 0,1 cm. sebaiknya dilakukan 3 kali dan diambil nilai rata – ratanya (Hendarto, 2011).
 5. Tebal lipatan kulit triseps (TLK)
Dalam mengukur TLK, seorang anak harus dalam posisi tegak dengan lengan disisi tubuh. TLK diukur di pertengahan lengan atas, tepat ditengah otot triseps di lengan bagian belakang (diukur dan diberi tanda sebelumnya). Pengukur mencubit lemak dengan ibu jari dan jari telunjuk, sekitar 1 cm diatas titik tengah yang telah ditandai, dan dengan menempatkan caliper pada titik yang telah ditandai. Empat detik kemudian, caliper dilepaskan, hasil pengukuran diambil lalu caliper dilepaskan. Pengukuran sebaiknya dilakukan 3 kali, lalu diambil rata – ratanya (Hendarto, 2011).

Masalah gizi anak usia sekolah (skripsi dan tesis)

 Ada beberapa masalah gizi yang terjadi pada anak usia sekolah dalam buku Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan tahun 2012, antara lain:
1. Anemia defisiensi besi
 Keadaan ini terjadi, karena terlalu sedikit kandungan zat besi dalam makanan yang dikonsumsi terutama pada anak yang sering jajan sehingga mengendurkan keinginan untuk menyantap makanan lain (Adriani, 2012)
2. Penyakit Defisiensi Yodium
Salah satu gambaran penyakit kekurangan yodium adalah pembesaran kelenjer gondok yang disebut penyakit gondok oleh awam atau nama ilmiahnya struma simpleks (Adriani, 2012).
 3. Karies gigi  Karies gigi sering terjadi pada anak, karena terlalu sering makan cemilan yang lengket dan banyak mengandung gula. Karies yang terjadi pada gigi sulung memang tidak berbahaya, namun kejadian ini biasanya terus berlangsung sampai anak menjadi dewasa. Gigi yang berlubang akan menyerang gigi yang permanen bahkan sebelum gigi tersebut menembus gusi (Adriani, 2012).
 4. Berat badan berlebih (Obesitas)
Jika tidak teratasi, berat badan berlebih akan berlanjut sampai remaja dan dewasa. Sama seperti pada orang dewasa, kelebihan berat badan terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Berbeda dengan dewasa, berat badan anak tidak boleh diturunkan, karena penyusutan berat akan sekaligus menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Laju pertumbuhan berat selayaknya dihentikan atau diperlambat sampai proporsi berat badan terhadap tinggi badan kembali normal. Perlambatan ini dicapai dengan cara mengurangi makan dan memperbanyak olahraga (Adriani, 2012).
 5. Berat Badan Kurang
 Kekurangan berat yang berlangsung pada anak yang sedang tumbuh merupakan masalah serius. Kondisi ini mencerminkan kebiasaan yang buruk. Sama seperti masalah kelebihan berat, langkah penanganan harus didasarkan kepada penyebab serta kemungkinan pemecahannya (Adriani, 2012)

Faktor – faktor yang mempengaruhi status gizi (skripsi dan tesis)

A. Faktor Eksternal Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
 1) Pendapatan Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
 2) Pendidikan Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan status gizi baik (Suliha, 2001).
3) Pekerjaan Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang hidup keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu – ibu akan mempunyai pengaruh terhadap keluarga (Markum, 1991).
4) Budaya Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan (Soetjiningsih, 1998).
B. Faktor Internal Faktor internal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
1) Usia Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
 2) Jenis Kelamin Jenis kelamin sepertinya mempengaruhi status nutrisi dari segi genetik (Felix, 2010).
3) Kondisi Fisik Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesadaran mereka yang buruk. Bayi dan anak – anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat.
 4) Infeksi Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all, 1986).

Definisi Gizi (skripsi dan tesis)

Gizi adalah asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan diet tubuh. Gizi baik adalah keseimbangan antara asupan makanan dan aktivitas fisik. Kurang gizi dapat menyebabkan kekebalan tubuh berkurang, peningkatan kerentanan terhadap penyakit, gangguan perkembangan fisik dan mental, serta mengurangi produktivitas (WHO, 2013). Gizi kurang didefinisikan sebagai asupan makanan yang tidak mencukupi dan menyebabkan terjadinya penyakit infeksi yang berulang. Dalam hal ini termasuk kurus untuk usia seseorang, terlalu pendek, dan kekurangan vitamin dan mineral (UNICEF, 2006). Gizi lebih didefinisikan sebagai asupan nutrisi yang berlebihan atau makanan yang berlebihan dimana akhirnya mempengaruhi kesehatan yang dapat berkembang menjadi obesitas, yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang serius, termasuk penyakit jantung, hipertensi, kanker dan diabetes tipe 2 (UNITE FOR SIGHT, 2012). Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan penggunaannya (Cakrawati, 2012). Status nutrisi berbanding lurus dengan kesehatan tubuh dari individu (Goon et al, 2011).