Arti Penting Penyelarasan Strategik (skripsi dan tesis)

Telah banyak literatur yang merujuk pada pentingnya fenomena penyelarasan strategi TI dan dan bisnis.Luftman dan Brier (1999) menyatakan bahwa penyelarasan strategi TI dan bisnis dibutuhkan agar penerapan TI harmoni dengan tujuan, strategi, dan kebutuhankebutuhan bisnis.Boar (1994) menyebutkan bahwa organisasi perlu membangun, menyelaraskan, dan mengembangkan keunggulan kompetitif melalui pemberdayaan sistem/teknologi informasi untuk menjawab tantangan kompetisi global. Khandelwal (2001) menegaskan bahwa perusahaan yang ingin mewujudkan tujuan perusahaan mereka, Teknologi Informasi yang mendukung proses bisnis organisasi harus memberikan informasi manajemen yang tepat, pada waktu yang tepat. Untuk itu, TI dalam suatu perusahaan wajib selaras dengan tujuan organisasi. Menurut Premkumar dan King (1999), penyelarasan strategik adalah hubungan harmonis antara rencana sistem informasi dengan rencana bisnis. Melalui penyelarasan antara rencana sistem informasi dan rencana bisnis, sumber daya informasi akan mendukung tujuan bisnis dan meraih keuntungan dalam meraih peluang guna pemanfaatan strategis sistem informasi. 13 Dalam keselarasan TI dan bisnis, terdapat empat tingkatan integrasi yaitu sebagai berikut (Jogiyanto, 2005): 1. Administrative integration adalah integrasi yang terjadi antara perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi masih sangat lemah. Tidak ditemukan usaha yang signifikan dari penggunaan sistem teknologi informasi untuk mendukung rencana-rencana bisnis. 2. One-way sequential integration adalah hubungan yang terjadi hanya satu arah, yaitu perencanaan strategi sistem teknologi informasi mendukung perencanaan strategi bisnis. 3. Two-way reciprocal integration adalah integrasi yang terjadi pada perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi saling mendukung untuk mempengaruhi strategi-strategi bisnis. 4. Full integration, Integrasi ini menunjukkan tidak adanya perbedaan antara perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi dan keduanya dilakukan bersamaan di dalam satu perencanaan yang terintegrasi. Dengan demikian, peningkatan kinerja dapat dicapai dan keunggulan kompetitif akan diperoleh sehingga organisasi dapat terus bertumbuh serta mampu bertahan dalam kompetisi yang kian sengit.

Definisi Keselarasan Bisnis – TI (skripsi dan tesis)

Keselarasan strategi TI – strategi bisnis adalah implementasi aplikasi teknologi informasi dengan benar, tepat waktu, dan sejalan dengan strategi bisnis, tujuan maupun kebutuhan perusahaan. Definisi keselarasan tersebut menunjuk pada dua hal, yaitu bagaimana TI diselaraskan dengan bisnis, dan bagaimana bisnis mampu atau dapat selaras dengan TI (Luftman, 2000). Integrasi dari fungsi-fungsi yang ada didalam organisasi perlu diperhatikan dalam proses menyelaraskan strategi TI dan bisnis. Hal tersebut penting dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa TI selalu berada diarah yang benar sesuai dengan bisnis organisasi. Mengingat bahwa strategi bisnis itu sendiri bersifat dinamis dan mudah berubah mengikuti kondisi pasar. Lebih rinci Kefi dan Kalika (2005) menjabarkan perspektif penyelarasan strategi sebagai berikut: a. Persepsi peran strategis sistem/teknologi informasi diukur dari tingkat komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan pemanfaatan sumberdaya sistem/teknologi informasi. Tingkat komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan sistem/teknologi informasi menunjukkan tingkat strategis sistem/teknologi informasi tersebut dalamsuatu organisasi. Dengan kata lain, komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan sistem/teknologi informasi berbanding lurus dengan ketangguhan peran strategis suatu organisasi. b. Kompetensi sistematis sistem/teknologi informasi membangun keunggulan komparatif unik yang dimiliki oleh perusahaan. Artinya jika semakin kompeten sistem/teknologi informasi semakin menunjukkan nilai diferensi atau keunikan suatu organisasi, begitu pula sebaliknya.
 Beberapa literatur yang lain, penyelarasan strategik didefinisikan sebagai: a. Relationship, yang mana tujuan khusus dari strategi sistem/teknolog informasi perlu dikustomisasi dengan tujuan organisasi (Zviran, 1990). b. Partnership, yang mana digunakan untuk menggambarkan hubungan kerja yang mencerminkan komitmen jangka panjang, rasa saling kerjasama risikodan manfaatnya, dan kualitas lain yang sesuai dengan konsep dan teori -eori pengambilan keputusan (Henderson, 1990). c. Sejauh mana strategi teknologi/sistem informasi saling mendukung strategi bisnis (Luftman et al., 1993). d. Integrasi kemampuan internal dan fungsional antara strategi bisnis dan strategi IS/IT dan bagaimana integrasi ini penting untuk mendapatkan keuntungan kompetitif (Henderson & Venkatraman, 1993). e. Sejauh mana misi, tujuan, dan perencanaan teknologi/sistem informasi yang mendukung misi, tujuan, dan perencanaan bisnis (Reich & Benbasat, 1996)

Strategi TI (skripsi dan tesis)

Dalam sebuah perusahaan, strategi TI secara umum memiliki beberapa peranan penting yang tidak dapat diabaikan, diantaranya adalah sebagai berikut: a. Minimize Risk Bisnis selalu akrab dengan risiko, hal tersebut tidak dapat dihindari namun dapat diminimalisir. Risiko kerap muncul dari lingkungan dan faktor eksternal yang berada diluar kontrol perusahaan. Untuk itu TI berperan dalam mengurangi risiko dengan bantuan software forecasting, planning, decision support, dan lain-lain. b. Reduce Cost Upaya untuk mengurangi biaya operasional perusahaan secara langsung akan menambah profitabilitas perusahaan tersebut. Penerapan TI mampu mengurangi biaya operasional perusahaan dengan cara menghilangkan proses yang tidak perlu, mempersingkat alur proses bisnis, otomatisasi proses, serta mengurangi tenaga kerja. c. Added Value Kepuasan pelanggan dapat diciptakan dengan pemanfaatan TI.Nilai tersebut selain untuk memuaskan pelanggan juga digunakan sebagai pembentuk hubungan baik dengan pelanggan untuk jangka panjang. d. Create New Realities Munculnya berbagai teknologi baru dalam dunia internet mempengaruhi gaya hidup manusia. Mulai dari berbelanja online melalui e-commerce, transaksi pembayaran online melalui mobile banking, hingga layanan publik yang diadakan pemerintah melalui egovernment. Hal ini membuktikan bahwa TI dapat menciptakan realita baru didalam masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi maka persaingan juga semakin ketat. Oleh sebab itu pihak manajemen sangat dituntut untuk memiliki strategi TI yang baik untuk menopang jalannya strategi bisnis perusahaan.Perencanaan strategis TI harus selalu meningkat dari waktu ke waktu dan hal ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi manajemen organisasi.

Strategi Bisnis (skripsi dan tesis)

Strategi bisnis adalah rangkuman pernyataan misi atau visi organisasi sehingga ada titik fokus yang jelas dan konsisten (King, 1978).Strategi bisnis berguna untuk memahami kompleksitas kompetitif melalui pendekatan yang sistematis dengan tujuan untuk mencapai keunggulan kompetitif (Venkatraman, 1993). Henderson & Venkatraman (1993)menjabarkan strategi bisnis dan TI dalam beberapa poin, yaitu: a. Digunakan sebagai alat untuk mempercepat perubahan dengan mendefinisikan arah yang harus diikuti untuk mengubah keadaan saat ini. b. Dirumuskan dengan melakukan analisa lingkungan dan dapat digunakan sebagai alat analisis untuk memprediksi risiko bisnis dan peluang masa depan. c. Dapat digunakan untuk mengalokasikan sumber daya perusahaan sebagai pengambil keputusan. d. Sebagai acuan untuk memastikan keputusan yang sejalan dengan fokus perusahaan. e. Alat manajemen analisis yang digunakan untuk perencanaan masa depan bisnis.

Pengaruh Sistem Informasi akuntansi terhadap Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Ivana Mamic (2006) bahwa informasi akuntansi yang berkualitas dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang mengoptimalkan operasi sistem akuntansinya, karena Sistem informasi akuntansi yang berkualitas akan dijadikan manajer untuk pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian. Dan juga sistem informasi akuntansi yang berkualitas akan menghasilkan manajemen bisnis yang berkualitas. 39 Sistem informasi akuntansi bervariasi antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya walaupun satu jenis. Sistem informasi akuntansi mengolah data dalam jumlah besar karena didalamnya meliputi berbagai aktivitas pengolahan transaksi seperti aktivitas pengumpulan data, pengolahan, penyimpanan, dan dokumentasi diberbagai fungsi operasi atau bagian suatu organisasi. Jadi walaupun sistem informasi akuntansi mengadopsi konsep informasi yang berkualitas akan tetapi bobot aktivitasnya lebih banyak berorientasi kepada pengolahan data. (Azhar Susanto, 2010) Menurut Hongjiang Xu (2009) bahwa dalam Sistem Informasi Akuntansi yang berkualitas, maka kualitas informasi yang dihasilkan akan mempengaruhi keberhasilan suatu struktur organisasi. Artinya, kualitas informasi merupakan suatu keunggulan kompetitif bagi suatu organisasi. Di dalam suatu satuan usaha ditunjukkan dengan struktur organisasi. Pemahaman pola – pola distribusi, wewenang, dan tanggung jawab adalah esensiil bagi penetapan kebutuhan informasi dalam suatu organisasi. Sebaliknya kebutuhan informasi menentukan struktur kegiatan pengumpulan dan pengolahan data yang diperlukan di dalam sistem informasi akuntansi. Oleh karena itu, struktur kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan pelaporan data di dalam suatu sistem informasi akuntansi harus secara pararel erat dengan struktur organisasi. Pilihan suatu perusahaan mengenai struktur organisasinya mempunyai implikasi yang penting bagi SIA, tujuannya untuk menyediakan informasi keuangan bagi setiap unit organisasi untuk membantu dalam perencanaan dan pengendalian 40 operasinya. Agar dapat menyediakan informasi keuangan yang relevan salah satunya harus memahami struktur organisasi. (Barry, 1982) Keberadaan suatu SIA dalam suatu organisasi tidak lain adalah untuk dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi para penggunanya dalam proses pengambilan keputusan. Hal itu dikarenakan untuk dapat menghasilkan informasi yang berkualitas, diperlukan adanya suatu SIA yang handal dalam memproses data dan transaksi sehingga informasi yang dihasilkan dapat bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan (Krismiaji, 2002). Kemudian menurut (Romney & Steinbart:2003), SIA yang dapat diandalkan adalah sistem yang mempunyai pengendalian memadai sehingga informasi yang dihasilkan oleh sistem tersebut dapat diandalkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan, dalam hal ini pengendalian merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari sistem informasi akuntansi yang ada. Semakin baik kualitas informasi yang dimiliki oleh suatu organisasi, maka akan semakin baik pulalah komunikasi yang terjadi di dalamnya. Dan semakin terintegritasinya suatu organisasi, informasi yang berkualitas akan meningkatkan kualitas pemahaman para pengelola organisasi tersebut dalam melihat perubahan – perubahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi, sehingga para pengelola organisasi akan dengan cepat dan akurat menanggapi perubahan yang timbul. Melihat peran informasi yang begitu tinggi bagi organisasi maka organisasi menjadi sangat tergantung pada sistem informasi. Dalam hal ini sistem informasi akuntansi memperlakukan informasi sebagai sumber daya yang sangat 41 berrharga yang turut menentukan dapat tidaknya terus beroperasi dan bersaing. (Azhar Susanto, 2004) Salah satu komponen SIA adalah software atau perangkat lunak yang merupakan kumpulan dari perintah-perintah yang tersusun secara sistematis untuk melakukan pengolahan data. Adapun software yang digunakan DJP dalam menghimpun penerimaan negara melalui pembayaran pajak adalah suatu core system aplikasi Modul Penerimaan Negara (MPN) yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2007. Sistem aplikasi MPN memungkinkan penerimaan negara disajikan secara realtime melalui jaringan sistem informasi yang terhubung secara online dengan Bank Persepsi, Bank Devisa Persepsi, dan Pos Persepsi (Heryanto Sijabat:2011). Sistem aplikasi MPN sendiri merupakan modul penerimaan yang memuat serangkaian prosedur mulai dari penerimaan, penyetoran, pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan yang berhubungan dengan penerimaan negara dan merupakan bagian dari Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara atau biasa disebut SPAN (PMK No: 02/PMK.05/2007).

Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak Terhadap Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Organisasi adalah pembinaan hubungan wewenang dan dimaksudkan untuk mencapai koordinasi yang struktural, baik secara vertikal, maupun secara horizontal diantara posisi–posisi yang telah diserahi tugas–tugas khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama. Jadi organisasi adalah hubungan struktural yang mengikat/menyatukan perusahaan dan kerangka dasar tempat individu–individu berusaha, dikoordinasi (Koontz & Donnel:2010). Sedangkan menurut Selznick (2010) organisasi adalah suatu sistem yang dinamis yang selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan tekanan internal dan ekstern dan selalu dalam proses evolusi yang kontinu. Keberhasilan suatu sistem informasi tertentu (kepuasan pengguna, penggunaan sistem, dirasakan kegunaan, kualitas sistem), dan hubungan IS keberhasilan konstruk dengan empat pengguna yang terkait dengan konstruksi (pengguna pengalaman dengan ISS, pelatihan pengguna di ISS, pengguna sikap terhadap ISS, dan partisipasi pengguna dalam pengembangan tertentu IS) dan dua konstruksi yang mewakili konteks (topmanajemen dukungan untuk ISS dan memfasilitasi kondisi untuk ISS). (Rajiv Sabherwal and Anand Jeyaraj: 2006). Sistem informasi sebagai salah satu komponen organisasi didekomposisikan menjadi dua subsistem dasar, salah satunya adalah Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Dekomposisi sistem merupakan proses membagi sistem menjadi berbagai bagian subsistem yang lebih kecil untuk menyajikan, melihat, dan memahami berbagai hubungan antara subsistem (Hall:2007). SIA merupakan kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya ke dalam informasi (Bodnar & Hopwood: 2010)

Hubungan Sistem Informasi Akuntansi dengan Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Manirath Wongsim dan Jing Gao (2011) menyatakan bahwa Penerapan Sistem Informasi Akuntansi berpengaruh Terhadap Kualitas Informasi, yaitu sebagai berikut: “Informasi dimensi Kualitas memiliki hubungan positif dengan proses Sistem Informasi Akuntansi adopsi. Selanjutnya, Informasi dimensi Kualitas memainkan peran penting dalam proses adopsi AIS” Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan kurang lebih sebagai berikut: Dimensi Kualitas Informasi memiliki hubungan yang positif dengan proses adopsi Sistem Informasi Akuntansi. Kemudian, dimensi Kualitas Informasi memainkan peranan yang penting dalam proses adopsi Sistem Informasi Akuntansi

Hubungan Dukungan Manajemen Puncak dengan Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Rajiv Sabherwal dan Anand Jeyaraj (2006) bahwa dukungan manajemen berpengaruh pada penerapan sistem informasi akuntansi, yaitu sebagai berikut: “sistem informasi (kepuasan pengguna, penggunaan sistem, manfaat pengguna, kualitas sistem), dan hubungan ini dengan IS berhasil dengan empat konstruksi userrelated (pengalaman pengguna dengan ISS, pelatihan pengguna di ISS, sikap pengguna terhadap ISS, dan partisipasi pengguna dalam pengembangan dari spesifik IS) dan dua konstruksi yang mewakili konteks (top-manajemen dukungan untuk Iss).

Indikator Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Mc. Leod Mc. Leod & Schell (2007:46) mengatakan bahwa suatu informasi yang berkualitas harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Akurat Artinya informasi harus mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pengujian terhadap hal ini biasanya dilakukan melalui pengujian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda dan apabila hasil pengujian tersebut menghasilkan hasil yang sama maka dianggap data tersebut akurat. 2. Tepat Waktu Artinya informasi itu harus tersedia atau ada pada saat informasi tersebut diperlukan, tidak besok atau beberapa jam lagi. 3. Relevan Artinya informasi yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Kalau kebutuhan informasi ini untuk suatu organisasi maka informasi tersebut harus sesuai dengan kebutuhan informasi diberbagai tingkatan dan bagian yang ada dalam organisasi tersebut. 4. Lengkap Artinya informasi harus diberikan secara lengkap. Misalnya informasi tentang penjualan tidak ada bulannya atau tidak ada data fakturnya.

Adapun karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut Kieso et all (2010:44-47) adalah sebagai berikut:
1. Relevansi Informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam suatu keputusan. Informasi yang tidak ada bantalan maka suatu keputusan dikatakan tidak relevan. a. Nilai prediktif Informasi keuangan memiliki nilai prediktif sebagai masukan dalam proses prediksi yang digunakan oleh investor dalam membentuk ekspektasi mereka sendiri tentang masa depan. b. Nilai konfirmasi Informasi yang relevan juga membantu pengguna mengkonfirmasi atau mengoreksi harapan sebelumnya, dan memiliki nilai conformatory.

 2. Representasi setia Representasi Setia berarti bahwa angka dan deskripsi sesuai dengan apa yang benar-benar ada atau terjadi. Representasi setia adalah suatu keharusan karena sebagian besar pengguna tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi informasi faktual. a. Kelengkapan Kelengkapan berarti bahwa semua informasi yang diperlukan untuk representasi setia disediakan. Sebuah kelalaian dapat menyebabkan informasi palsu atau menyesatkan dan dengan demikian tidak akan membantu pengguna laporan keuangan. 29 b. Kenetralan Netralitas berarti bahwa perusahaan tidak dapat memilih informasi untuk mendukung satu set pihak yang berkepentingan atas yang lain. c. Bebas dari Kesalahan Informasi yang bebas dari kesalahan akan menjadi lebih akurat (representasi setia).

 3. Meningkatkan Kualitas Karakteristik kualitatif yang meningkatkan saling melengkapi dengan karakteristik kualitatif yang mendasar. Karakteristik ini membedakan informasi yang lebih-kurang berguna dari informasi yang berguna. a. Komparabilitas Informasi yang diukur dan dilaporkan dengan cara yang sama untuk perusahaan yang berbeda dianggap sebanding. Komparabilitas memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi similiarities nyata dan perbedaan dalam peristiwa-peristiwa ekonomi antara perusahaan. b. Pemastian Pemastian terjadi ketika tindakan independen, dengan menggunakan metode yang sama, memperoleh hasil yang sama. c. Ketepatan waktu Ketepatan waktu berarti memiliki informasi yang tersedia bagi para pengambil keputusan sebelum kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan. Setelah informasi relevan yang tersedia cepat 30 dapat meningkatkan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan, dan kurangnya ketepatan waktu dapat merampok informasi usefullness nya. d. Understandability. Para pembuat keputusan sangat luas dalam jenis keputusan yang mereka buat, bagaimana mereka membuat keputusan, informasi yang sudah mereka miliki atau dapat memperoleh dari sumber lain, dan kemampuan mereka untuk memproses informasi. Untuk informasi yang akan berguna, harus ada koneksi (hubungan) antara pengguna dan keputusan yang mereka buat

Pengertian Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Shiper dan Vincent dalam (Bavega:2003) menjelaskan bahwa : “Kualitas informasi akuntansi merupakan konsep kompleks dan memiliki banyak definisi. Literatur tentang kualitas kualitas informasi akuntansi keuangan terletak di berbagai bidang seperti relevansi nilai informasi akuntansi, konservatisme akuntansi, dan manajemen laba. Keputusan kegunaan adalah ciri utama kualitas akuntansi keuangan seperti menangkap nilai informasi akuntansi bagi pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan mereka.” Sedangkan Menurut Mc. Leod dalam Azhar Susanto (2009:40) menjelaskan tentang kualitas informasi sebagai berikut, “Informasi dikatakan berkualitas apabila memiliki ciri-ciri yaitu seperti : Akurat, relevan, tepat waktu, dan lengkap.” Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka kesimpulan kualitas informasi akuntansi adalah data yang telah diolah melalui suatu proses menjadi suatu bentuk yang lebih bernilai dan berguna bagi yang menerimanya serta dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan baik pada saat ini maupun dimasa yang akan datang dan sangat penting bagi pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan

Pengertian Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Definisi sistem menurut James A. Hall (2007:6) adalah sebagai berikut: “Sistem adalah kelompok dari dua atau lebih komponen atau subsistem yang saling berhubungan yang berfungsi dengan tujuan yang sama” Sedangkan definisi sistem menurut Azhar Susanto (2009:18) adalah sebagai berikut: “Sistem adalah kumpulam/group dari subsistem/bagian/komponen apapun baik phisik ataupun non-phisik yang saling berhubungan satu smaa lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai tujuan tertentu” Definisi informasi menurut Mardi (2011:13) adalah sebagai berikut: “Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya” Kemudian definisi informasi menurut Marhall B. Romney & Paul J. steinbart (2011:25) adalah sebagai berikut: “information is data have been organized and processed to provide meaning and improove the decision-making process. As a rule, users make better decisions as the quantity of information increase”
Definisi Sistem Informasi menurut James A. Hall (2007:4) adalah sebagai berikut “Sistem informasi adalah serangkaian prosedur formal dimana data dikumpulkan diproses menjadi informasi dan di distribusikan ke para pengguna” Sedangkan definsi Sistem Informasi menurut Laudon dalam Azhar Susanto (2009:55) adalah sebagai berikut : “Sistem Informasi merupakan komponen-komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarkan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan, koordinasi, pengendalian, dan untuk memberikan gambaran aktivitas didalam perusahaan” Definisi Sistem Informasi Akuntansi menurut George H. Bodnar & William S. Hopwood (2006:3) adalah sebagai berikut: “Sistem Informasi Akuntansi merupakan kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya ke dalam informasi” Sedangkan definisi Sistem Informasi Akuntansi menurut Azhar Susanto(2009:124) adalah sebagai berikut : “Sistem Informasi Akuntansi dapat di definisikan sebagai kumpulan dari subsistem-subsistem yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mengolah data keuangan menjadi informasi keuangan yang diperlukan oleh pengambil keputusan dalam proses pengambilan keputusan”. Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka sistem informasi akuntansi adalah kumpulan dari sumber-sumber seperti orang dan peralatan yang dirancang untuk mentransformasikan data keuangan dan data lainnya menjadi informasi, dan informasi ini akan dikomunikasikan kepada para pembuat keputusan.

Indikator Dukungan Manajemen Puncak (top management support) (skripsi dan tesis)

 

Adapun komponen – komponen Dukungan Manajemen Puncak menurut Chen dan Paulraj (2004) adalah sebagai berikut : 1. Decision Quality (Keputusan yang berkualitas) Keputusan yang berkualitas adalah inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah. Sesuai keinginan dan harapan. 2. Decision Acceptance (Penerimaan Keputusan) Penerimaan keputusan adalah suatu reaksi terhadap beberapa solusi alternatif yang dilakukan secara sadar dengan cara menganalisa kemungkinan-kemungkinan dari alternatif tersebut bersama konsekuensinya. Setiap keputusan akan membuat pilihan terakhir, dapat berupa tindakan atau opini. 3. Satisfaction with the Decision Process (Kepuasan dengan proses Keputusan) Kepuasan dengan proses keputusan bahwa kepuasan sebagai respon emosional menunjukkan perasaan yang menyenangkan berkaitan dengan pandangan karyawan terhadap keputusan . . Development of Participant Skills (Membangun keahlian partisipan). Membangun keahlian partisipan adalah keterlibatan mental dan emosi serta pisik pegawai dalam memberikan respon terhadap kegiatan yang dilaksanakan dalam proses pengambilan keputusan serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya

Pengertian Dukungan Manajemen Puncak (skripsi dan tesis)

Setiap oganisasi dalam usaha mencapai tujuan, dan mengukurnya sampai sejauh mana keberhasilan yang dapat dicapai, dan itu memerlukan dukungan manajemen puncak. Menurut Chen dan Paulraj (2004) mendefinisikan dukungan manajemen puncak sebagai berikut: “Berkomitmen pada waktu, biaya, dan sumber daya untuk mendukung supplier agar terjadi kemitraan pada jangka panjang dan perusahaan juga dapat berlangsung berproses secara stabil. Salah satu hal yang penting bagi manajemen puncak dalam menjalankan bisnis adalah harus dapat selalu mengembangkan dan menciptakan satu nilai bagi perusahaan agar dapat meningkatkan kinerja organisasi.” Sedangkan dukungan manajemen puncak menurut Hasmi (2004) menurut adalah sebagai berikut: “Pihak yang bertanggungjawab atas penyediaan pedoman umum bagi kegiatan sistem informasi. Tingkat dukungan yang diberikan oleh manajemen puncak bagi sistem informasi organisasi dapat menjadi suatu faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan semua kegiatan yang berkaitan dengan sistem informasi” Berdasarkan definisi-definisi diatas maka disimpulkan bahwa dukungan manajemen pucak adalah pihak yang bertanggung jawab atas penyediaan pedoman dengan komitmen dalam hal waktu, biaya, dan sumber daya untuk mendukung kegiatan sistem informasi.

Pengaruh Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Terhadap Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Leitch dan Davis , 1992; Boockholdt , 1999; Joia , 2003; Schaltegger et al , 2008; Hansen et al , 2009; Nikolai et al , 2010; Hall, 2011 dalam Norman Alvi 42 Tripambudi (2014) Tujuan keseluruhan dari sistem informasi akuntansi adalah untuk memberikan informasi kepada pengguna maka dari itu kualitas data di awal yang diproses dengan baik maka sangat mempengaruhi kualitas data. Pada teori kegunaan keputusan dalam asasnya menerangkan bahwa diperlukan sistem yang menyajikan suatu informasi; maka sistem informasi akuntansi merupakan dasar penting dalam dasar pembuatan keputusan atau dasar untuk memperoleh kembali konsekuensi keputusan. Tanpa kualitas sistem informasi akuntansi, tidak akan ada informasi akuntansi yang berkualitas (Sacer et al, 2006: 62). Setiap perusahaan menggunakan sistem informasi akuntansi (Chandra, 2002: 34; Boockholdt, 1999: 1) mulai dari manual, dan beberapa menggunakan kombinasi komputer (Davis, 1999: 1; Wilkinson et al, 2000:. 7; Hansen et al ., 2009: 4). Azhar Susanto (2008: 72) mengatakan sistem informasi akuntansi merupakan integrasi dari hardware, software, brainware, prosedur, jaringan telekomunikasi dan data base yang terintegrasi, sistem informasi akuntansi merupakan fungsi penting dalam organisasi, sebagai pengaruh untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi dan untuk mendukung kegiatan manajerial untuk menghasilkan informasi dalam pengambilan keputusan manajemen (Gelinas et al, 2012: 18). Untuk memberikan nilai tambah, untuk menghasilkan keunggulan informasi kompetitif bagi organisasi, manajemen akan menggunakan alat yang disebut sistem informasi akuntansi (Stair Dan Reynolds, 2006: 6).
Menurut Mitchell et al (2000) sistem informasi akuntansi yang digunakan sebagai alat manajemen dalam mengendalikan jangka pendek danjangka panjang, sehingga keberadaan sumber daya informasi ini membuat perusahaan strategis, keunggulan taktis dan keunggulan operasional (McLeod Dan Schell, 2008: 29). informasi akuntansi akan digunakan dalam proses pengambilan keputusan bagi pengguna baik untuk manajemen internal dan manajemen eksternal (Mitchell et al, 2000), dan informasi akuntansi tersebut yang dihasilkan oleh sistem informasi akuntansi (Hall, 2004: 21). Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Norman Alvi Tripambudi (2014) menyatakan bahwa variabel Sistem Informasi Akuntansi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Informasi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem informasi akuntansi yang baik akan berpengaruh pada informasi sehingga informasi yang dihasilkan semakin berkualitas. Dengan adanya informasi yang berkualitas tersebut, maka pemakai sistem akan mudah mengambil keputusan untuk perusahaan dengan menggunakan informasi yang berkualitas sebagai sumber informasi yang dapat memandu dan membantu pemakai sistem dalam menyelesaikan tugas. Pada teori kegunaan keputusan dalam asasnya menerangkan bahwa diperlukan sistem yang menyajikan suatu informasi; maka sistem informasi akuntansi merupakan dasar penting dalam dasar pembuatan keputusan atau dasar untuk memperoleh kembali konsekuensi keputusan. Ketiga variabel tersebut berperan penting menghasilkan kualitas informasi yang baik secara simultan (bersama-sama).

Pengaruh Struktur Organisasi Terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Mirmasoudi et al (2012) dalam Norman Alvi Tripambudi (2014) menyatakan bahwa struktur organisasi adalah sistem formal, tugas dan hubungan otoritas yang mengendalikan bagaimana orang mengkoordinasikan tindakan mereka dan sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh sebab itu, struktur organisasi memiliki dampak penting pada pengaturan komponen pemakai sistem informasi. Wilkinson et al (1999: 39) dalam Rapina (2014) Ada beberapa hubungan penting yang harus dipahami oleh pengembang sistem. Struktur organisasi menentukan banyak alur kunci umum yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi dan Sistem Informasi Manajemen. Ini adalah alur vertikal yang membawa informasi yang dibutuhkan oleh manajer untuk melaksanakan tanggung jawab mereka (Wilkinson et al, 1999: 39). Stair Dan Reynolds (2011: 41) menyatakan bahwa struktur organisasi dapat berdampak pada jenis sistem  informasi yang digunakan. Meskipun ada sejumlah besar kemungkinan, struktur organisasi biasanya jatuh ke dalam salah satu kategori ini: tradisional, proyek, tim, atau multidimensi. Gordon dan Narayanan (1984) melaporkan temuan mereka ada hubungan antara lingkungan, struktur dan sistem informasi organisasi. Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Norman Alvi Tripambudi (2014) mengatakan bahwa hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel struktur organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap sistem informasi akuntansi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik struktur organisasi yang berkembang dalam organisasi maka akan meningkatkan penggunaan sistem informasi akuntansi dalam organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan dengan semakin baiknya sebuah struktur organisasi, maka struktur organisasi yang ada telah mendukung akan perkembangan organisasi sehingga proses adopsi sistem informasi akuntansi yang dapat berguna untuk majunya perusahaan merupakan langkah yang tidak menyalahi struktur dan peraturan perusahaan.. Semakin tinggi tingkat saling ketergantungan akan mempengaruhi terhadap tugas yang dilakukan manajer karena manajer banyak melakukan aktivitas yang saling berkaitan atau berhubungan dengan departemen lain

Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak Terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Galliers dan Currie (2011: 508) dalam Rapina (2014) mengatakan bahwa kriteria yang paling penting untuk menilai keberhasilan pelaksanaan sistem informasi akuntansi adalah komitmen manajemen. Hal ini karena dengan memiliki dukungan manajemen puncak yang kuat akan membantu mengarahkan kekurangan dalam implementasi sistem. Raghunathan dan Raghunathan (1988) Top manajemen bertanggung jawab atas penyediaan pedoman umum bagi kegiatan sistem informasi. Tingkat dukungan yang diberikan oleh top manajemen bagi sistem informasi organisasi dapat menjadi suatu faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan semua kegiatan yang berkaitan dengan sistem informasi. Tjhai Fung Jen (2002) dalam Putri Aryani Septianingrum (2014), semakin besar dukungan yang diberikan manajemen puncak akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi. Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Riri Yulianty Raflis (2007). Dari penelitian menunjukkan bahwa dukungan manajemen puncak berpengaruh signifikan positif terhadap penerapan Sistem Informasi Akuntansi. Ini berarti bahwa hubungan antara dukungan manajemen puncak searah dengan penerapan Sistem Informasi Akuntansi. Semakin baik dukungan dari manajer puncak akan semakin baik pula penerapan Sistem Informasi Akuntansi suatu perusahaan. Hal ini sama dengan 40 teori yang dinyatakan oleh Arpan dan Ishak (2005:7), bahwa dukungan manajemen puncak merupakan faktor penting dalam menentukan efektifitas penerapan sistem informasi dalam organisasi. Dengan adanya keterlibatan atasan dalam kemajuan proyek dan menyediakan sumber daya yang diperlukan maka akan dapat menentukan keberhasilan penerapan suatu sistem. Jika suatu perusahaan dalam penerapan sistem tidak adanya dukungan manajemen puncak maka tujuan tersebut tidak akan tercapai

Ciri-ciri Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Mc. Leod dalam Azhar Susanto (2009: 40), informasi yang berkualitas apabila informasi tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Akurat Artinya informasi harus mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pengujian akurasi dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda apabila pengujian tersebut menghasilkan hasil yang sama maka data tersebut disebut akurat. b. Tepat Waktu Artinya informasi itu harus tersedia atau ada pada saat yang informasi tersebut diperlukan, tidak besok atau tidak beberapa jam lagi. c. Relevan Artinya informasi yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh individu yang ada di berbagai tingkatan dan bagian dalam organisasi d. Lengkap Artinya informasi harus diberikan secara lengkap. Misalnya informasi tentang penjualan tidak ada bulannya atau tidak ada data fakturnya

Pengertian Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Azhar Susanto (2013: 14) informasi yang berkualitas adalah: “…informasi yang mempunyai keakurasian, kecepatan dan kesesuaian dengan kebutuhan manajemen dan kelengkapan dari informasi yang dihasilkan.”  Schonberger dan Lazer (2007: 244) mengatakan bahwa kualitas informasi yang baik adalah: “…informasi yang tepat untuk digunakan dan memiliki nilai tinggi untuk penggunanya, karena informasi tersebut bebas dari kesalahan atau kekurangan lainnya..” Mc Leod dan George (2007: 86) menyatakan bahwa kualitas informasi adalah: “…informasi yang harus tersedia untuk pemecahan sebelum situasi krisis mengembang atau kesempatan akan hilang.” Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas informasi adalah informasi yang tersedia saat di butuhkan, berisi keadaan sebenarnya dan informasi yang diberikan lengkap.”

Karakteristik Kualitas Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Marcus Heidmann (2008:87) mengemukakan karakteristik kualitas sistem informasi akuntansi, yaitu: 1. Integrasi Langkah-langkah integrasi “tingkat dimana suatu sistem memfasilitasi kombinasi informasi dari berbagai sumber untuk mendukung keputusan akuntansi bisnis . Nelson et al. (2005), p. 206. Sistem dapat memfasilitasi integrasi informasi dari area fungsional yang berbeda, yang sering saling melengkapi. 2. Fleksibilitas Langkah-langkah fleksibilitas, sejauh mana sistem dapat beradaptasi dengan berbagai kebutuhan pengguna dan kondisi yang berubah. 3. Aksesibilitas Tindakan aksesibilitas, sejauh mana sistem dan informasi yang dikandungnya dapat diakses dengan usaha yang relatif rendah. 4. Formalisasi Formalisasi mengukur sejauh mana suatu sistem berisi aturan atau prosedur. Untuk mengkoordinasikan kegiatan, organisasi menetapkan prosedur tentang bagaimana bereaksi terhadap rangsangan dari sistem akuntansi manajemen. Hal ini dapat melibatkan persyaratan pelaporan, analisis penyimpangan yang diperlukan dan saluran khusus untuk interaksi dengan departemen lain atau atasan. 5. Kekayaan Media Kekayaan Media mengukur sejauh mana sistem menggunakan saluran yang memungkinkan tingkat tinggi interaksi pribadi. isu-isu strategis yang sulit untuk dihitung dan memerlukan berbeda sudut pandang dalam rangka menciptakan interpretasi bersama. pertemuan tatapmuka dan media yang kaya lainnya yang paling cocok untuk bertukar interpretasi dari isu-isu strategis.

Pengertian Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Menurut Azhar Susanto (2013: 72), sistem informasi akuntansi adalah: “…kumpulan (integrasi) dari sub-sub sistem/komponen baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan dan bekerja sama satu sama lain secara harmonis untuk mengolah data transaksi yang berkaitan dengan keuangan menjadi informasi keuangan.” Menurut Anastasia Diana dan Lilis Setiawati (2011: 4), sistem informasi akuntansi adalah: “…sistem yang bertujuan untuk mengumpulkan dan memproses data serta melaporkan informasi yang berkaitan dengan transaksi keuangan.” Menurut James hall yang dialihbahasakan oleh Dewi Fitriasari (2007: 10) sistem informasi akuntansi adalah: “…sekumpulan perangkat sistem yang berfungsi untuk mencatat data transaksi, mengolah data, dan menyajikan informasi akuntansi kepada pihak internal (manajemen perusahaan) dan pihak eksternal (pembeli, pemasok, pemerintah, kreditur dan sebagainya).” Berdasarkan beberapa pengertian sistem informasi akuntansi di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi merupakan suatu sistem dalam sebuah organisasi yang bertanggung jawab untuk penyiapan informasi yang diperoleh dari pengumpulan dan pengolahan data transaksi yang berguna bagi semua pemakai baik di dalam maupun di luar perusahaan

Jenis-jenis Akuntansi (skripsi dan tesis)

Menurut Rudianto (2012:09) akuntansi dapat dibagi menjadi beberapa jenis spesifikasi dalam praktiknya. Adapun jenis-jenis akuntansi yang lebih khusus, terdiri dari: 1. Akuntansi Manajemen Akuntansi manajemen adalah bidang akuntansi yang berfungsi menyediakan data dan informasi untuk pengambilan keputusan manajemen menyangkut operasi harian dan perencanaan operasi di masa depan. Sebagai contoh, menyediakan data biaya guna penentuan harga jual produk tertentu dan pertimbangan terkait. 2. Akuntansi Biaya Akuntansi biaya adalah bidang akuntansi yang fungsi utamanya sebagai aktivitas dan proses pengendalian biaya selama proses produksi yang dilakukan perusahaan. Kegiatan utama bidang ini adalah menyediakan data biaya aktual dan biaya yang direncanakan oleh perusahaan. 3. Akuntansi Keuangan Akuntansi keuangan adalah bidang akuntansi yang bertugas menjalankan keseluruhan proses akuntansi sehingga dapat menghasilkan informasi keuangan bagi pihak eksternal. Informasi tersebut antara lain: laporan laba rugi, laporan perubahan laba ditahan, laporan posisi keuangan dan laporan keseluruhan transaksi serta keadaan keuangan suatu badan usaha bagi kepentingan pihak-pihak diluar perusahaan. 4. Auditing Auditing adalah bidang akuntansi yang fungsi utamanya melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan. Jika pemeriksaan dilakukan oleh staf perusahaan, maka disebut internal auditor. Hasil pemeriksaan tersebut digunakan untuk kepentingan internal perusahaan itu sendiri. Jika pemeriksaan laporan keuangan dilakukan oleh pihak di luar perusahaan, maka disebut auditor independen atau akuntan publik. 5. Akuntansi Pajak Akuntansi pajak adalah bidang akuntansi yang fungsi utamanya mempersiapkan data tentang segala sesuatu yang terkait dengan kewajiban dan hak perpajakan atau setiap transaksi yang dilakukan perusahaan. Lingkup kerja di bidang ini merupakan aktivitas perhitungan pajak yang harus dibayar dari setiap transaksi yang dilakukan perusahaan, hingga perhitungan pengembalian pajak (restitusi pajak) yang menjadi hak perusahaan tersebut. 6. Sistem Akuntansi Sistem akuntansi adalah bidang akuntansi yang berfokus pada aktivitas mendesain dan mengimplementasikan prosedur serta pengamanan data keuangan perusahaan. Tujuan utama dari setiap aktivitas bidang ini adalah mengamankan harta yang dimiliki perusahaan. 7. Akuntansi Anggaran Akuntansi anggaran adalah bidang akuntansi yang berfokus pada pembuatan rencana kerja perusahaan di masa depan, dengan menggunakan data aktual masa lalu. Di samping menyusun rencana kerja, bidang ini juga bertugas mengendalikan rencana kerja tersebut, yaitu seluruh upaya untuk menjamin agar aktivitas operasi harian perusahaan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. 8. Akuntansi Internasional Akuntansi internasional adalah bidang akuntansi yang berfokus pada persoalan-persoalan akuntansi yang terkait dengan transaksi internasional (transaksi yang melintas batas negara) yang dilakukan oleh perusahaan multinasional. Hal-hal yang termasuk dalam bidang ini adalah seluruh upaya untuk memahani hukum dan aturan perpajakan setiap negara dimana perusahaan multinasional beroperasi. 9. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi sektor publik adalah bidang akuntansi yang berfokus pada pencatatan dna pelaporan transaksi organisasi pemerintahan dan organisasi nirlaba lainnya. Hal ini diperlukan karena organisasi nirlaba adalah organisasi yang didirikan dengan tujuan bukan menghasilkan laba usaha, sebagaimana perusahaan komersial lainnya. Contohnya adalah instansi pemerintahan, rumah sakit, yayasan sosial, panti jompo, dan sebagainya.

Pengertian Akuntansi (skripsi dan tesis)

Menurut V. Wiratna Sujarweni (2015: 1) akuntansi adalah: “…proses dari transaksi yang dibuktikan dengan faktur, lalu dari transaksi dibuat jurnal, buku besar, neraca jalur, sehingga menghasilkan informasi dalam bentuk laporan keuangan yang dapat digunakan oleh pihak-pihak terntetu.” Menurut Mursyidi (2010: 17) akuntansi adalah: “…proses pengindentifikasian data keuangan, memproses pengolahan dan penganalisisan data yang relevan untuk di ubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pembuatan keputusan.” Menurut Accounting Principles Board (APB) dalam Indah Rahmawati (2014: 03), akuntansi adalah: “akuntansi sebagai seni pencatatan, pengelolaan dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang, dan penginterpretasian hasil dari proses tersebut.” Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah kegiatan mengumpulkan, mengklasifikasikan, mencatat transaksi kemudian mengolahnya sehingga menghasilkan informasi yang berupa laporan keuangan yang berguna untuk pihak internal maupun eksternal suatu organisasi

Pengertian Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Anastasia Diana dan Lilis Setiawati (2011: 4), sistem informasi adalah: “…sistem buatan manusia yang biasanya terdiri dari sekumpulan komponen, baik manual ataupun berbasis komputer yang terintegrasi untuk mengumpulkan, menyimpan, dan mengelola data serta menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan sebagai pemakai informasi tersebut.” 33 Sistem informasi menurut Laudon dalam Azhar Susanto (2013: 52) adalah: “…komponen-komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarkan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan, koordinasi, pengendalian, dan untuk memberikan gambaran aktivitas di dalam perusahaan.” Menurut Azhar Susanto (2013: 52), sistem informasi adalah: “…kumpulan dari sub-sub sistem baik phisik maupun non phisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan yaitu mengolah data menjadi informasi yang berguna.” Berdasarkan pengertian sistem informasi di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi merupakan sekumpulan komponen yang saling terintegrasi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarkan informasi untuk pihak-pihak yang berkepentingan

Pengertian Komitmen Manajemen Puncak (skripsi dan tesis)

Menurut O’Reilly and Chatman (2006) menyatakan tentang komitmen manajemen puncak sebagai berikut : “Commitment more broadly as a psychological state of attachment that defines the relationship between a person and an entity”. Menurut Dominic Cooper (2006:2) menyatakan tentang komitmen manajemen puncak sebagai berikut : “Management commitment is defined as enganging in and maintain behaviours that help others achieve a goal”. Menurut ISO 9000 komitmen manajemen puncak adalah : “Tanggung jawab manajemen perusahaan untuk menetapkan sasaran objective yang strategis dan sasaran mutu manajemen harus memiliki komitmen dalam penerapannya”. Selanjutnya definisi menurut Wilkinson, A., Redman, T. and Snape yang dikutif oleh Keith Goffin and Marek Szwejczewski (2006): “Top management commitment is recognized by all quality „gurus‟ as being an essential precondition for the success of quality management” and “having recognized the need for Quality Improvement, the first objective is to secure management commitment”. 9 Menurut Kinball et al, (2008) adalah : “The most important criteria for assessment. This is because having strong management backing will help overcome shortcomings elsewhere in the project”. Sedangkan pengertian komitmen manajemen puncak menurut Brown (2006) menyatakan bahwa : “This relationship can be viewed in terms of depth (strength), focus and terms, which are common in all types and forms of commitments”. Menurut Kerstin V.Siakasi and Elli Georgiadou (2007): “Management commitment and leadership are the driving factors for motivating employees to strive for continous process improvement”. Dari pengertian-pengertian yang terdapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa komitmen manajemen puncak itu adalah prasyarat penting bagi keberhasilan manajemen untuk peningkatan mutu.Selain itu merupakan faktor pendorong untuk memotivasi karyawan agar berupaya meningkatkan kualitas proses yang berkesinambungan. Dengan tujuan membantu mengatasi kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan suatu tugas atau proyek tertentu. Selain itu komitmen manajemen puncak juga harus terlibat langsung dan mempertahankan kinerja yang lain untuk membantu mencapai tujuan. Komitmen manajemen puncak adalah partisipasi secara langsung oleh manajemen baik top maupun middle pada aspek penting tertentu dari organisasi, Business Dictionary (2010). Menurut Dominic Cooper (2006) ,dalam manajemen mutu itu meliputi : 10 1. Setting up and serving on a quality committee (Pengaturan dan melayani pada kualitas komite) 2. Formulating and establishing quality policies and objectives (Merumuskan dan menetapkan kebijakan mutu dan sasaran) 3. Providing resources and training (Menyediakan sumber daya dan pelatihan) 4. Overseeing implementation at all levels of the organization Mengawasi pelaksanaan di semua tingkat organisasi), dan 5. Evaluating and revising the policy in light of results achieved (Mengevaluasi dan merevisi kebijakan dalam terang hasil yang dicapai)

Pengaruh Komponen Manajemen Kontraktor Terhadap Capaian Mutu Penelitian (skripsi dan tesis)

Permana dan Mulyono dalam Jurnal HPJI Vol.2 No.1, Januari 2016:1-12 dengan judul pengaruh komponen manajemen kontraktor terhadap capaian mutu rekonstruksi perkerasan lentur di Provinsi Daerah Istimewa 5 Yogyakarta. Data yang digunakan dalam pelaksanaan proyek pekerjaan jalan di lingkungan Dinas Bina Marga, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Faktorfaktor yang mempengaruhi pencapaian mutu rekonstruksi jalan provinsi di Provinsi DIY adalah tenaga kerja, peralatan, material, metode kerja, administrasi proyek, dan lingkungan. Analisis data dilakukan dengan melakukan kajian terhadap indikator-indikator yang dapat berpengaruh terhadap capaian mutu rekonstruksi jalan di Ruas Jalan Provinsi DIY dilakukan dengan model persamaan struktural, yakni SEM (Structural Equation Modeling) untuk mengkaji hubungan antara faktor-faktor beserta indikatornya terhadap capaian mutu rekonstruksi dengan menggunakan 93 indikator yang mempengaruhi faktor terhadap capaian mutu pelaksanaan pekerjaan rekonstruksi. Dari hasil studi menggunakan indikator-indikator diatas menunjukkan bahwa manajemen kontraktor sebesar 46,6% terhadap capaian mutu rekonstruksi. Sedangkan hubungan komponen manajemen kontraktor terhadap capaian mutu rekonstruksi adalah tenaga kerja memberikan kontribusi sebesar 77%, peralatan sebesar 90,7%, material sebesar 93%, metode kerja sebesar 89%, administrasi proyek sebesar 74,9%, dan lingkungan sebesar 67,1% masing-masing terhadap manajemen kontraktor.

Penerapan Standar Sistem Manajemen Mutu (ISO) 9001:2008 (skripsi dan tesis)

Penelitian Santosa dkk pada Jurnal Ilmiah Elektronik Infrastruktur Teknik Sipil Volume 2 No.1, Februari 2013 dengan judul penerapan standar sistem manajemen mutu (ISO) 9001:2008 pada Kontraktor PT. Tunas Jaya Sanur yang bertujuan untuk mengetahui penerapan standar mutu ISO 9001:2008 dan faktorfaktor yang menjadi kendala dalam penerapan standar mutu yang dipengaruhi nilai penerapan ISO 9001:2008. PT. Tunas Jaya Sanur sebagai suatu perusahaan yang bergerak pada bidang jasa konstruksi telah mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008 dan menerapkannya dalam pelaksanaan proyek-proyek jasa konstruksi, salah satunya pada proyek pembangunan Apartemen dan Shopping Arcade Sea Sentosa Hotel. Dalam pelaksanaan proyek konstruksi tersebut, maka dilakukan wawancara dengan personel yang terkait dalam pelaksanaan proyek konstruksi dan observasi pada pelaksanaan konstruksi tersebut. Penilaian penerapan standar mutu ISO 9001:2008 (klausul 4 sampai dengan klausul 8) ini didapat dengan metode skor audit dan skala pengukuran variabel menggunakan Skala Likert. Dari hasil analisis data penerapan standar mutu ISO 9001:2008 pada proyek pembangunan Apartement dan Shopping Arcade Sea Sentosa Hotel didapat persentase rata-rata penilaian penerapan klausul 4 sampai dengan klausul 8 sebesar 85,69% termasuk kategori sangat baik (81% < Skor < 100%). Faktorfaktor yang menjadi kendala dalam penerapan ISO 9001:2008 adalah faktor tenaga kerja (SDM), metode atau prosedur kerja, dan material atau form atau dokumen

Kepuasan kerja memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (skripsi dan tesis)

Seorang karyawan yang puas dengan pekerjaannya akan membuat karyawan tersebut mendapatkan tingkat produktivitas dan efisiensi yang tinggi, pencapaian tersebut merupakan tujuan perusahaan. Untuk mampu mencapai tujuan tersebut perusahaan harus menyadari pentingnya faktor kepuasan kerja untuk memaksimalkan kinerja karyawannya. Kepuasan kerja mengarah pada perluasan upaya untuk meningkatkan prestasi kerja seorang karyawan agar bekerja lebih keras dan lebih baik. Jika seroang karyawan merasa puas dengan pekerjaannya maka meraka akan melakukan upaya untuk selalu meningkatkan kinerjanya. Sehingga semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan maka akan semakin tinggi pula kinerja karyawan pada sebuah perusahaan manufaktur. Dengan adanya sistem penghargaan seperti promosi yang adil, mampu memotivasi karyawan untuk selalu meningkatkan kinerjanya, dimana penghargaan tersebut akan membuat karyawan merasa puas atas apa yang telah dikerjakannya sehingga kerja mampu memberikan dampak   yang positif atas meningkatnya kinerja karyawan (Nimalathasan, 2012). Kepuasan kerja dalam sebuah perusahaan merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan kinerja karyawan yang mengarah pada kinerja optimal (Prasanga & Gamage, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Almutairi et al. (2013) pada Three-Five Star Hotel di Saudi Arabia mengatakan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Pada akhirnya perusahaan yang memiliki tingkat kepuasan yang tinggi mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi organisasi secara keseluruhan selaras dengan tujuan perusahaan.

Implementasi ISO 9001:2008 memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (skripsi dan tesis)

Perusahaan yang menerapkan sertifikasi ISO 9001:2008 akan membuat seorang karyawan memilki kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaan mereka. Dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab tersebut secara psikologis akan mendorong seorang karyawan untuk lebih bersemangat dalam bekerja. Semangat kerja inilah yang mampu untuk memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kinerja karyawan. Sehingga semakin tinggi implementasi ISO 9001:2008 maka akan semakin tinggi pula kinerja karyawan pada sebuah perusahaan manufaktur. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Feng et al. (2007) menemukan pengaruh yang positif antara ISO 9001:2008 terhadap kinerja karyawan jika ISO mampu diimplementasikan dengan baik dan benar. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Psomas et al. (2013) menemukan pengaruh yang positif dan signifikan antara ISO terhadap kinerja karyawan. 14 Rakha & Abouzid (2015) dalam penelitiannya menyatakan bahwa implementasi ISO 9001:2008 mempunyai dampak yang positif terhadap kinerja karyawan dengan sistem manajemen kualitas (ISO 9001:2008) diterapkan pada semua aspek organisasi untuk memastikan pebaikan kinerja karyawan secara terus menerus.

Implementasi ISO 9001:2008 memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (skripsi dan tesis)

Sertifikat ISO 9001:2008 merupakan sertifikasi untuk standarisasi kualitas pada sebuah perusahaan, dimana standar tersebut harus sesuai dengan standar Internasional. Implementasi standar ISO 9001:2008 sangat di pengaruhi oleh Sumber Daya Manusia, yaitu karyawan pada perusahaan manufaktur. Penerapan standar ISO 9001:2008 ini, sebagai perbaikan manajemen kualitas dalam tubuh sebuah perusahaan, akan memberikan dampak yang positif terhadap sikap individu karyawan berupa kepuasan kerja. Dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan menerapkan standar ISO 9001:2008 akan berdampak positif terhadap kepuasan kerja seorang karyawan, sehingga semakin tinggi penerapan sertifikasi ISO 9001:2008 maka semakin tinggi pula kepuasan kerja seorang karyaawan. Penelitian yang dilakukan oleh Ooi et al. (2005) yang mengatakan bahwa implementasi ISO dengan memperhatikan faktor fokus pada pelanggan dan kerjasama karyawan yang terjalin dalam sebuah perusahaan akan memberikan dampak yang positif terhadap kepuasan kerja karyawan. Valmohammadi & Khodapanahi (2011) dalam penelitiannnya yang dilakukan di perusahaan makanan di Iran Utara menyimpulkan bahwa implementasi ISO 9001:2000 berdampak positif terhadap kepuasan kerja Penelitian yang dilakukan oleh Juana dkk. (2016) mengatakan dalam penelitiannya ada hubungan yang positif dan signifikan antara implementasi ISO 9001:2008 dengan kepuasan kerja. Sejalan dengan penelitian tersebut yang dilakukakan oleh Bekele E. & Zewedie S. (2017) menyatakan bahwa implementasi ISO 9001:2008 mempunyai dampak yang positif terhadap kepuasan kerja.

Kinerja Karyawan (skripsi dan tesis)

Kinerja karyawan merupakan sebuah kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh individu atau kelompok dalam melaksanakan suatu tugas (Schermerhorn, 1989). Kinerja didefinisikan sebagai jumlah dari total barang, jasa dan pemikiran yang didapatkan melalui proses penyelesain tugas yang diberikan kepada karyawan terhadap realisasi organisasi sesuai dengan ketentuan kriteria dan kualifikasi pribadi karyawan (Pugh, 1991). Viswesvaran & Ones (2000) mendefinisikan 11 kinerja karyawan sebagai perilaku dan hasil yang melibatkan karyawan terkait dengan kontribusi pada tujuan organisasi. Kinerja karyawan dapat diukur, dipantau, dan dievaluasi pada tingkat individu (Munchinsky, 2003). Wall et al. (2004) mengatakan kinerja karyawan merupakan salah satu dimensi penting dalam menilai suatu organisasi secara keseluruhan. Sarmiento & Beale (2007) berpendapat kinerja pekerjaan sebagai hasil dua elemen, yaitu kemampuan dan keterampilan baik secara alami ataupun dilatih oleh seorang karyawan dalam rangka pemenuhan tugas yang lebih baik. Tinofirei (2011) berpendapat bahwa kinerja karyawan merupakan keberhasilan menyelesaikan tugas, sebagaimana ditetapkan dan diukur oleh supervisor bedasarkan standar yang dapat diterima dan telah ditetepkan dengan memanfaatkan sumber daya secara efektif dan efisien. Kinerja karyawan menjadi faktor penting dalam peningkatan hasil akhir, peningkatan perilaku dan karakteristik positif karyawan sekaligus meningkatkan produktifitas organisasi (Zahargier & Balasundaram, 2011). Oleh karena itu dari definisi di atas kinerja karyawan merupakan sejauh mana seorang karyawan dapat menyelesaikan tugas yang yang dibebankan kepadanya dan bagaimana tugas tersebut berkontribusi terhadap realisasi tujuan perusahaan (Mawoli & Babandoko, 2011).

Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Kepuasan kerja adalah sebuah konsep yang rumit dengan berbagai dimensi di dalamnya. Salah satu definisi tertua yang mengungkapkan definisi kepuasan kerja dikemukakan oleh Hoppock yang mendefiniskan kepuasan kerja sebagai reaksi emosional yang ditunjukkan karyawan terhadap pekerjaan mereka (Hoppock, 1935). Hackman & Oldham (1975) melihat kepuasan dengan bekerja sebagai kebahagiaan yang dimiliki karyawan dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Kepuasan kerja merupakan tingkat dimana seorang karyawan merasa puas dan suka terhadap pekerjaannya (Spector, 1997). Pada tingkatan organisasi, organisasi dengan karyawan yang lebih puas cenderung lebih efektif dibandingkan organisasi dengan karyawan yang kurang puas (Robbins, 2001). Kidd (2006) menjelaskan kepuasan kerja sebagai perasaan bahwa karyawan memiliki pekerjaan baik itu pengalaman hubungan terhadap pengalaman kerja masa lalu, harapan saat ini dan ekspektasi terhadap masa depan. Kepuasan kerja mampu menimbulkan kenikmatan mental, fisik dan lingkungan yang dimiliki karyawan yang digambarkan sebagai perilaku afektif dan kognitif terhadap aspek-aspek tertentu dari pekerjaannya (Pool & Pool, 2007). Karyawan yang puas dengan pekerjaan yang dilakukan cenderung lebih terlibat dalam setiap kegiatan organisasi dan lebih berkontribusi 10 memberikan layanan berkualitas tinggi (Yee et al, 2008). Bhatti & Shahzad (2008) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa karyawan yang puas dengen pekerjaan mereka akan berbanding lurus dengan kualitas kerja dan komitmen yang lebih tinggi terhadap perusahaan, sehingga keinginan karyawan untuk meninggalkan perusahaan akan menurun. Kepuasan kerja dan kinerja karyawan dianggap sebagai bagian dalam organisasi yang memberikan hasil yang paling signifikan terhadap kesejahteraan individu maupun organisasi (Hart & Cooper, 2001). Prasanga & Gamage (2012) mengungkapkan bahwa kepuasan kerja merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan kinerja karyawan yang mengarah pada kinerja maksimal. Ayranci, E. & Ayranci, A. E. (2015) mengatakan bahwa kepuasan kerja menekankan pada emosi positif terhadap peran seseorang ditempat kerja sehingga mampu meningkatkan kinerja secara maksimal.

Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008 (skripsi dan tesis)

Sistem manajemen mutu (SMM) merupakan kumpulan dari beberapa prosedur dokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses pembuatan produk baik barang maupun jasa terhadap kebutuhan atau persyaratan yang dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi (Gaspersz, 2005). Sistem Manajemen Mutu (SMM) mengintegrasi organisasi untuk menerapkan praktek-praktek manejemen mutu secara menyeluruh dan konsisten guna memenuhi kebutuhan pasar (Gaspersz, 2005). Sistem menajemen mutu berisi seperangkat praktik dan prinsip manajemen universal yang tidak memiliki batas tertentu pada organisasi maupun wilayah negara tertentu (Jun M. et al, 2006). Valmohammadi (2011) mengatakan bahwa tujuan dari Manajemen Mutu adalah untuk menciptakan budaya atau sebuah proses, dimana proses operasional yang diimplementasikan pertama kali dalam suatu organisasi mampu diterapkan secara penuh dan efisien. ISO 9001 merupakan standar manajemen mutu bertaraf Internasional (Duraitman S. et al, 2011). Standar tersebut menjelaskan berbagai persyaratan sistem manajemen mutu yang perlu di   implementasikan secara konsisten oleh perusahaan sehingga mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan, mencapai kepuasan pelanggan dan mencapai peningkatan yang berkelanjutan terhadap efektifitas manajemen mutu yang diterapkan (Psomas et al, 2013). Persyaratan ISO 9001 merupakan praktik terbaik dalam Sistem Manajemen Mutu (Van den Heuvel et al, 2005). Standar ISO merupakan standar yang paling banyak diadopsi oleh organisasi di seluruh dunia (Zeng et al, 2005). Standar ini pertama kali diterbitkan dan digunakan pada tahun 1987 dan diperbarui pada tahun 1994, 2000 dan 2008 (Hoyle, 2009). Martinez-Costa et al. (2009) mengatakan sejak diperbarui pada tahun 2000, ISO 9001 lebih mengintegrasikan prinsip prinsip Total Quality Mangement dan lebih fokus pada proses dan kinerja kedalam standar ISO 9001 daripada dokumentasi. Disamping itu ISO 9001 juga mengadopsi konsep PDCA (Plan Do Check Act) ) sebuah siklus yang menggabungkan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian serta perbaikan secara terus menerus dan diimplementasikan pada setiap proses keseluruhan organisasi (Rakha & Abouzid, 2015). Hackman dan Wageman (1995) dalam Bekele E. & Zewedie S. (2017) mengatakan bahwa dalam standar kualitas ISO 9001 dan konsep kualitas lainnya, karyawan diyakini puas dan berkomitmen dalam pekerjaan yang mereka lakukan sebagai hasil peningkitan 9 partisipasi dan keterlibatan karyawan dalam proses pengambilan keputusan.

Karakteristik Pelayanan (skripsi dan tesis)

Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh pelayanan menurut Zemke (dalam Ratminko dan Atik, 2005:3) yaitu: a. Konsumen memiliki kenangan atau memori atas pengalaman menerima pelayanan, yang tidak bisa dijual atau diberikan kepada orang lain. b. Tujuan penyelenggaraan pelayanan adalah keunikan, setiap konsumen dan setiap kontak adalah dianggap sesuatu yang “spesial”. c. Suatu pelayanan terjadi pada saat tertentu, ini tidak dapat disimpan di gudang atau dikirimkan barang contohnya. d. Konsumen melakukan control kualitas dengan cara membandingkan harapan dan pengalaman yang diperolehnya. e. Jika terjadi kesalahan, satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh karyawan untuk memperbaiki adalah meminta maaf. f. Moral karyawan sangat menentukan untuk kelancaran pemberian pelayanan. Dalam memberikan pelayanan kepada konsumen, karyawan perlu memahami faktor rasional dan emosional konsumen agar dapat memberikan kepuasan. Dalam hal ini, beberapa aspek yang perlu dicermati dari konsumen adalah karyawan menurut Tjiptono (2005:117): a. Suasana lingkungan yang bisa membuat konsumen nyaman dan senang. b. Pelatihan dan pengembangan serta pemberdayaan karyawan agar dapat memahami dan menangani respon emosional pelanggan. c. Sistem penanganan keluhan yang responsif, empatik, fair, dan efektif. d. Menggunakan pendekatan komunikasi berbeda untuk kategori individu yang berlainan. e. Menawarkan nilai sosial dan emosional tertentu. f. Mendirikan kelompok konsumen eksklusif yang mengelola aktivitas khusus. g. Menerapkan pengalaman untuk menciptakan kegembiraan kepada konsumen

Sifat dan Klasifikasi Pelayanan (skripsi dan tesis)

Penawaran suatu perusahaan pada pasar biasanya mencakup beberapa jenis pelayanan. Komponen pelayanan ini dapat merupakan bagian terkecil atau bagian utama dari keseluruhan penawaran tersebut. Penawaran bisa saja murni berupa barang pada satu sisi dan layanan murni pada sisi lainnya. Oleh karena itu, maka penawaran suatu perusahaan dapat diklasifikasikan menjadi lima kategori menurut Simamora (2001:172) yaitu: a. Produk berwujud murni Penawaran semata-mata hanya terdiri dari produk fisik misalnya sabun mandi, pasta gigi, atau sabun cuci tanpa pelayanan lainnnya yang menyertai produk tersebut. b. Produk berwujud disertai dengan layanan pendukung Pada kategori ini penawaran terdiri dari suatu produk fisik yang disertai dengan satu atau beberapa layanan untuk meningkatkan daya tarik kepada konsumennya. Disini pelayanan didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk pelanggan yang telah membeli produknya. Misalnya seperti seseorang yang baru membeli sepeda motor Honda, maka konsumen tersebut akan diberi pelayanan service sepeda motor gratis untuk beberapa bulan. c. Hybrid Penawaran yang terdiri dari barang dan layanan dengan proporsi yang sama. d. Pelayanan utama yang disertai barang dan layanan tambahan (pelengkap) dan barang-barang pendukung lainnya. e. Pelayanan murni Penawaran seluruhnya berupa layanan seperti konsultan psikologi

Pengertian Kualitas Pelayanan (skripsi dan tesis)

Menurut Goetsh dan Davis (dalam Tjiptono, 2005:51) Kualitas adalah kondisi yang berhubungan dengan produk atau jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau memiliki harapan. Menurut American Society for Quality Control (dalam Lupiyoadi, 2001:144) Kualitas adalah “keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk/jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”. Konsep kualitas pelayanan pada dasarnya bersifat relatif yaitu tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas pelayanan yang seharusnya konsisten satu sama lainnya, yaitu: persepsi pelanggan, produk dan pelayanan, dan proses. Ketiga orientasi ini dapat dibedakan dengan jelas bahkan produknya adalah proses itu sendiri (Lupiyoadi, 2001:144). Menurut Parasuraman (dalam Lupiyoadi, 2001:148) ada 5 dimensi dalam menentukan kualitas pelayanan yaitu: 1. Tangibles, atau bukti fisik yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa meliputi fasilitas fisik (gedung, gudang, dan lain sebagainya), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi) serta penampilan pegawainya. 2. Reliability, atau kehandalan yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu. Pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan akurasi yang tinggi. 3. Responsiveness, atau ketanggapan yaitu suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan, dengan menyampaikan informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan. 4. Assurance atau jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi, kredibilitas, keamanan, kompetensi dan sopan santun. 5. Empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.

Pengertian Pelayanan (skripsi dan tesis)

Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/pelanggan (Ratminto dan Atik, 2005:2). Sedangkan menurut Simamora (2001:172) menyatakan bahwa pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.

Persyaratan Standar dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 (skripsi dan tesis)

Karena sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 merupakan sistem manajemen mutu yang berfokus pada proses dan pelanggan, maka pemahaman terhadap persyaratan-persyaratan dari ISO 9001:2000 ini akan membantu organisasi dalam menetapkan dan mengembangkan sistem manajemen mutu secara sistematik untuk memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dan peningkatan proses terus-menerus (continious process impovement). Berikut klausul-klausul yang perlu diperhatikan oleh manajemen organisasi (Gaspersz: 2003): Klausul 1. Ruang Lingkup Ruang lingkup ISO 9001: 2000 telah dikembangkan atau diperluas. Dalam hal ini persyaratan-persyaratan standar telah menekankan untuk memenuhi kepuasan pelanggan melalui efektivitas dari aplikasi sistem mutu, termasuk proses-proses untuk meningkatkan terus-menerus dan jaminan kesesuaian. Klausul 2. Referensi Normatif Klausul ini hanya memuat referensi-referensi dari ISO 9001:2000. Klausul 3. Istilah dan Definisi Klausul ini menyatakan bahwa istilah dan definisi-definisi yang diberikan dalam ISO 9000:2000 (Quality Management System Fundamental and Vocabulary). Klausul 4. Sistem Manajemen Mutu Klausul ini lebih menekankan pada kebutuhan untuk peningkatan terus-menerus (continual improvement). Manajemen organisasi harus menetapkan langkahlangkah untuk implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Klausul 5. Tanggung Jawab Manajemen Klausul ini menekankan pada komitmen dari manajemen puncak menuju perkembangan dan peningkatan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Klausul ini juga .memaksa keterlibatan manajemen puncak dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan, menetapkan kebijakan untuk mutu, menetapkan tujuan-tujuan mutu, perencanaan sistem manajemen mutu, menetapkan tanggung jawab dan wewenang organisasi, mengangkat secara formal seorang yang mewakili manajemen dan menjamin proses komunikasi internal yang tepat, serta harus melakukan peninjauan ulang sistem manajemen mutu. Klausul 6. Manajemen Sumber Daya Manusia Klausal ini menyatakan bahwa suatu organisasi hasus menetapkan dan memberikan sumber-sumber daya yang diperlukan secara tepat, personel yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas harus didefinisikan dalam sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 serta memiliki kompetensi yang berkaitan dengan pendidikan yang relevan, pelatihan, keterampilan dan pengalaman. Klausul 7. Realisasi Produk Klausul ini menyatakan bahwa organisasi harus menjamin bahwa proses realisasi produk berada di bawah pengendalian agar memenuhi persyaratan produk. Klausul 8. Pengukuran, Analisis dan Peningkatan Menurut klausul ini organisasi harus menetapkan rencana-rencana dan menerapkan proses-proses pengukuran, pemantauan, analisis dan peningkatan yang diperlukan agar menjamin kesesuaian dari produk, menjamin kesesuaian dari sistem manajemen mutu dan meningkatkan terus-menerus efektivitas dari sistem manajemen mutu

Manfaat Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 (skripsi dan tesis)

Manfaat dari penerapan ISO 9001:2000 telah diperoleh banyak perusahaan. Beberapa manfaat dapat dicatat sebagai berikut: 1. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui jaminan mutu yang terorganisir dan sistematik. Proses dokumentasi dalam ISO 9001:2000 menunjukkan bahwa kebijakan, prosedur dan instruksi yang berkaitan dengan mutu telah direncanakan dengan baik. 2. Perusahaan yang telah bersertifikat ISO 9001:2000 diizinkan untuk mengiklankan pada media massa bahwa sistem manajemen mutu dari perusahaan itu telah diakui secara internasional. Hal ini berarti meningkatkan image perusahaan serta daya saing dalam memasuki pasar global. 3. Audit sistem manajemen mutu dari perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 dilakukan secara periodik oleh registrar dari lembaga registrasi, sehingga pelanggan tidak perlu melakukan audit sistem mutu. Hal ini akan menghemat biaya dan mengurangi duplikasi audit. 4. Perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 secara otomatis terdaftar pada lembaga registrasi, sehingga apabila pelanggan potensial ingin mencari pemasok bersertifikat ISO 9001:2000, akan menghubungi lembaga registrasi. Jika nama perusahaan itu telah terdaftar pada lembaga registrasi bertaraf internasional, maka hal itu berarti terbuka kesempatan pasar baru. 5. Meningkatkan mutu dan produktivitas dari manajemen melalui kerjasama dan komunikasi yang lebih baik, sistem pengendalian yang konsisten serta pengurangan dan pencegahan pemborosan. Meningkatkan kesadaran mutu dalam perusahaan. 6. Memberikan pelatihan secara sistematik kepada seluruh karyawan dan manajer organisasi melalui prosedur-prosedur dan instruksi-instruksi yang terdefinisi secara baik. 7. Terjadi perubahan positif dalam hal kultur mutu dari anggota organisasi, karena manajemen dan karyawan terdorong untuk mempertahankan sertifikasi ISO 9001:2000 yang umumnya hanya berlaku selama tiga tahun

Langkah-Langkah Membangun dan Mengembangkan Sistem Manajemen Mutu (skripsi dan tesis)

Definisi dari Standar ISO 9000 untuk sistem manajemen mutu (Quality Management System, QMS) adalah struktur organisasi, tanggung jawab, prosedurprosedur; proses-proses dan sumber-sumber daya untuk penerapan manajemen mutu (Gasperst: 2003). Suatu sistem manajemen mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktik-praktik standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Kebutuhan atau persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi. Sistem manajemen mutu mendefinisikan bagaimana organisasi menerapkan praktik manajemen mutu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari sistem manajemen mutu: 1. Sistem manajemen mutu mencakup suatu lingkup yang luas dari aktivitasaktivitas dalam organisasi moderen. Mutu dapat didefinisikan melalui lima pendekatan utama: a. transcendent quality, yaitu suatu kondisi ideal menuju keunggulan; b. product-based quality, yaitu suatu atribut produk yang memenuhi mutu; c. user-based quality, yaitu kesesuaian atau ketepatan dalam penggunaan produk; d. manufacturing-based quality, yaitu kesesuaian terhadap persyaratanpersyaratan standar, dan e. value-based quality, yaitu derajat keunggulan pada tingkat harga yang kompetitif. 2. Sistem manajemen mutu berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja. 3. Sistem manajemen mutu berlandaskan pada pencegahan kesalahan sehingga bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif. Patut diakui pula bahwa banyak sistem manajemen mutu tidak akan efektif 100% pada pencegahan semata, sehingga sistem manajemen mutu juga harus berlandaskan pada tindakan korektif terhadap masalah-masalah yang ditemukan. Dalam kaitan dengan hal ini, sistem manajemen mutu merupakan suatu closed loop system yang mencakup deteksi, umpan balik dan koreksi. Bagaimanapun proporsi yang terbesar (lebih dari 85%) harus diarahkan pada pencegahan kesalahan sejak tahap awal. 4. Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (costumers), hasil-hasil (out-put), pemasok (suppliers) dan pengukuran untuk umpan balik (measurements for feedback and feedforward).

Pengertian ISO (International Organization for Standardization) (skripsi dan tesis)

ISO 9001:2000 adalah suatu standar internasional untuk sistem manajemen mutu. ISO 9001:2000 menetapkan persyaratan-persyaratan dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen mutu, yang bertujuan untuk menjamin bahwa organisasi akan memberikan produk (barang atau jasa) yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Persyaratan-persyaratan yang ditetapkan ini dapat merupakan kebutuhan dari pasar tertentu, sebagaimana ditentukan oleh organisasi. ISO 9001:2000 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyatakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh produk (barang atau jasa). Tidak ada kriteria penerimaan produk dalam ISO 9001:2000, sehingga kita tidak dapat menginspeksi suatu produk terhadap standar-standar produk. ISO 9001:2000 hanya merupakan standar sistem manajemen mutu. Dengan demikian apabila ada perusahaan yang mengiklankan bahwa produknya telah memenuhi standar internasional, itu merupakan hal yang salah dan keliru, karena seyogianya manajemen perusahaan hanya boleh menyatakan standar internasional, karena tidak ada kriteria pengujian produk dalam ISO 9001:2000. Bagaimanapun diharapkan, meskipun tidak selalu, bahwa produk yang dihasilkan dari suatu sistem manajemen mutu internasional akan bermutu baik (standar). Persyaratan- persyaratan dan rekomendasi dalam ISO 9001:2000 diterapkan pada manajemen organisasi yang memasok produk, sehingga akan mempengaruhi bagaimana produk itu didesain, diproduksi, dirakit, ditawarkan dan lain-lain. The International Organization for Standardization (IS0) Technical Committee (TC) 176 bertanggung jawab untuk standar-standar sistem manajemen mutu ISO 9000 (www.iso.ch). Sejak pertama kali dikeluarkan standar-standar ISO 9000 pada tahun 1987, ISO/TC 176 menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna menjamin bahwa standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to date dan relevan untuk organisasi. Revisi terhadap standar ISO 9000 telah dilakukan pada tahun 1994 dan tahun 2000. Dengan demikian standar ISO 9000 yang terbaru adalah ISO 9000 Versi Tahun 2000. ISO 9000 Versi Tahun 2000 mencakup beberapa seri berikut: 1. ISO 9000:2000 QMS Fundamentals and Vocabulary Replacing ISO 8402 and ISO 9001. 2. ISO 9001:2000 QMS Requirements Replacing the 1994 Versions of ISO 9001, 9002 and 9003. 3. ISO 9004: 2000 QMS Guidance for Performance Improvement Replacing ISO 9004 with Most Parts. 4. ISO 19011 Guidance for Auditing Management Systems Replacing ISO 10011 and 14011

Pengertian Manajemen Kualitas Terpadu (skripsi dan tesis)

Manajemen kualitas (quality manajemen) atau kualitas terpadu (total quality manajemen = TQM) didefinisikan sebagai sauatu cara meningkatkan kinerja manajemen secara terus menerus pada setiap level operasi, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia.1 Sedangkan ISO 8402 (quality vocabulary) mendefinisikan manajemen kualitas sebagai semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang menentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan- tujuan dan tanggung jawab, serta mengimplementasikannya melalui alat- alat seperti perencanaan kualitas (quality planning), pengendalian kualitas (quality control), jaminan kualitas (quality assurance) dan peningkatan kualitas (quality improvement).2 Definisi umum mengenai kualitas dikemukakan oleh empat guru kualitas: (1) Joseph M.Juran, mendefinisikan kualitas sebagai kecocokan untuk pemakaian (fitness for use), yang menekankan orientasi pada pemenuhan harapan pelanggan, (2) Philiph B. Crosby, mengemukakan pentingnya melibatkan setiap orang dalam organisasi pada proses, yaitu dengan menekankan kesesuaian individual terhadap persyaratan maupun tuntutan, (3) W. Edwars Deming, penekanan utama adalah perbaikan dan pengukuran kuaitas secara terus menerus, (4) Taguchi, filosofi didasarkan pada premis bahwa biaya dapat diturunkan dengan cara memperbaiki kualitas dan kualitas secara otomatis dapat diperbaiki dengan cara mengurangi variasi dalam produk atau proses. Stragi Taguchi difokuskan pada loss function. 3 Manajemen kualitas sendiri dapat diartikan sebagai pengelolaan kualitas semua komponen yang berkepentingan dengan visi dan misi organisasi. Pada dasarnya manajemen kualitas itu bukanlah pembebananataupun pemeriksaan, tetapi manajem kualitas terpadu adalah lebih dari usaha untuk melakukan sesuatu yang benar setiap waktu, dari pada melakukan pemeriksaan pada waktu tertentu ketika terjadi kesalahan.4 Manajemen kualitas terpadu merupakan perluasan dan pengembangan dari jaminan mutu. Manajemen kualitas terpadu adalah tentang usaha menciptakan kultur mutu, yang mendorong semua anggota stafnya untuk memuaskan para pelanggan. Dalam konsep mutu terpadu pelanggan adalah raja.5 Menurut Bennet and Kerr, manajemen mutu total (TQM) adalah konsep dan metode yang memerlukan komitmen dan keterlibatan pihak manajemen dan seluruh pengelola perusahaan untuk memenuhi keinginan atau kepuasan pelanggan secara konsisten. Dalam TQM tidak hanya manajemen yang bertanggung jawab dalam memenuhi keinginan pelanggan, tetapi juga peran aktif seluruh anggota untuk memperbaiki mutu produk atau jasa yang dihasilkannya.6 Sedangkan menurut Tobin, mendefeinisikan TQM sebagai usaha untuk mendapatkan manfaat kompetitif dengan cara secara terus menerus memperbaiki setiap fase budaya onal.

Proses untuk Mendapatkan ISO 9001:2015 (skripsi dan tesis)

Bagi Kontraktor Kontraktor yang ingin mendapatkan sertifikat ISO 9001:2015 dapat mengikuti langkah-langkah yang secara garis besar sebagai berikut (Gaspersz, 2001): 1. Adanya komitmen dari pimpinan puncak. Tanpa komitmen dari pimpinan puncak, implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 tidak mungkin serta sangat sulit dilakukan. 2. Membentuk komite pengarah atau koordinator ISO. Komite berfungsi mengangkat atau menunjuk salah satu atau lebih auditor internal untuk ISO 9001:2015. Auditor internal merupakan orang yang dilatih terlebih dahulu sebagai penilai. Komite pengarah juga berfungsi sebagai sumber informasi dan penasihat yang berkaitan dengan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015. Komite ini juga akan memantau proses agar sesuai dengan persyaratan standar dalam sistem manajemen mutu ISO 9001:2015. 13 3. Mempelajari persyaratan-persyaratan standar dari sistem manajemen mutu ISO 9001:2015. 4. Mengimplementasikan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015. Pengimplementasian sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 berpedoman pada persyaratan standar dari klausal/elemen 1 sampai dengan elemen 10. 5. Audit sistem manajemen mutu perusahaan secara internal Manajemen dalam hal ini auditor internal melakukan audit terhadap sistem manajemen mutu perusahaan, sehingga telah terbukti persyaratan standar dari sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 telah terpenuhi. 6. Memilih registrasi Setelah manajemen yakin dan percaya bahwa sistem manajemen mutu organisasi telah memenuhi persyaratan standar sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 maka manajemen perlu memilih registrar untuk mulai melakukan penilaian. Biasanya registrar akan meninjau ulang dan memberitahukan tentang kelengkapan dokumen perusahaan. Pada tahap ini apabila masih ada kekurangan, dokumen itu harus diperbaiki dan dilengkapi. 7. Registrasi Jika sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 yang diimplementasikan dalam organisasi telah sesuai dengan persyaratan, dan oleh karena itu dinyatakan lulus dalam penilaian, kepada organisasi itu akan diberikan sertifikat ISO 9001:2015

Manfaat Penerapan ISO 9001:2015 (skripsi dan tesis)

Manfaat dari penerapan ISO 9001:2015 yang telah diperoleh oleh perusahaan diantaranya sebagai berikut (Gaspersz, 2006). 1. Menempatkan penekanan lebih besar pada keterlibatan 2. Membantu menunjukan resiko pada organisasi dan memberikan peluang yang tersrtuktur 3. Menggunakan Bahasa yang disederhanakan dan struktur umum dan istilah, sangat bermanfaat untuk organisasi yang menggunakan beberapa sistem manajemen 4. Mengarahkan manajemen rantai pasokan yang lebih efektif 5. Lebih User-Friendly untuk layanan dan organisasi berbasis pengetahuan

Pengertian ISO 9001 : 2015 (skripsi dan tesis)

Dalam kaitan ini ISO (International Organization for Standardization) adalah suatu badan standar dunia yang dibentuk untuk meningkatkan perdagangan internasional yang berkaitan dengan barang dan jasa. ISO merupakan organisasi internasional yang bertanggung jawab dalam penyusunan standar baru ataupun revisi ISO standar yang telah ada. Standar yang dikeluarkan oleh ISO, dipersiapkan oleh Technical Committee yang mewakili organisasi serta kalangan industri. ISO membawahi sejumlah badan sertifikasi nasional yang terdiri dari 135 negara atau lebih di seluruh dunia. Pada umumnya, ISO terkait dengan mutu produk maupun jasa, standar-standar yang telah ditetapkan akan ditinjau kembali dalam kurun waktu 3 tahun untuk memastikan standar tersebut masih relevan dengan perkembangan dunia usaha. Standar yang ditetapkan oleh ISO tidak bersifat teknis pelaksanaan, tetapi merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan dalam penerapannya (Silaban, 2011). Berbagai standar telah dikeluarkan oleh ISO antara lain untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Jenis-jenis standar yang sudah dikeluarkan antara lain (Silaban, 2011). 1. ISO 14000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu organisasi yang berkaitan dengan tanggung jawabnya terhadap lingkungan. 2. ISO 22000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu organisasi yang memproduksi makanan/minuman yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap keamanan konsumsi para konsumen (Food Safety). 3. ISO 27000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan sistem informasi suatu usaha yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap pengamanan dan keselamatan informasi (Information Security). 4. OHSAS 18000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu proyek yang berkaitan dengan tanggung jawab proyek tersebut terhadap keselamatan dan kesehatan kerja bagi personil yang terlibat didalamnya. 5. ISO 9000 adalah standar internasional yang merupakan persyaratan yang digunakan dalam penerapan sistem manajemen mutu perusahaan. 8 Untuk standar ISO 9000 dibuat oleh “TC-176”, dan telah mengeluarkan tiga seri ISO 9000 yang lebih dikenal dengan “The ISO 9000 Family” (Keluarga ISO 9000), yaitu sebagai berikut (Silaban, 2011). 1. ISO 9000; Sistem Manajemen Mutu – Dasar-Dasar dan Kosakata (“Quality Management System – Fundamentals and Vocabulary”), berisikan tentang dasar-dasar dan konsep sistem manajemen mutu dan kosakata beserta definisi yang digunakan dalam setiap serinya. 2. ISO 9001; Sistem Manajemen Mutu – Persyaratan (“Quality Management System – Requirements”), berisikan standar yang diterbitkan oleh organisasi internasional yang mencakup persyaratan manajemen mutu yang harus dipenuhi dalam penerapan sistem manajemen mutu yang terdapat di dalam ISO 9001 lebih menekankan pada pendekatan proses. 3. ISO 9004; Sistem Manajemen Mutu – Petunjuk untuk Peningkatan secara Berkelanjutan (“Quality Management System Guidelines for Performance Improvements”), merupakan pedoman organisasi untuk mencapai kesempurnaan melalui peningkatan secara berkelanjutan (Continual Improvement). Selanjutnya, ISO 9001 merupakan standar internasional yang mengatur sistem manajemen mutu (quality management system). Oleh karena itu, sering kali disebut sebagai “ISO 9001, QMS”. Tulisan 2015 menunjukkan tahun revisi sehingga ISO 9001:2015 adalah sistem manajemen mutu ISO 9001 hasil revisi tahun 2015. Secara garis besar ISO 9001:2015 tidak terlalu jauh berbeda dengan pendahulunya, yaitu ISO 9001:2008. Adapun perbedaan antara versi 2008 dan 2015 secara signifikan pada pendekatan proses yang menggabungkan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) dengan ‘risk-based thinking’. ISO 9001:2015 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyertakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh produk (barang/jasa). Tidak ada kriteria penerimaan produk dalam ISO 9001:2015, sehingga kita tidak dapat menginspeksi suatu produk terhadap standar-standar produk. ISO 9001:2015 hanya merupakan standar sistem manajemen mutu. Dengan demikian apabila ada perusahaan yang mengiklankan bahwa produknya telah 9 memenuhi standar internasional, itu adalah hal yang keliru, karena seyogyanya manajemen perusahaan hanya boleh menyatakan bahwa sistem manajemen mutu yang telah memenuhi standar internasional, karena tidak ada kriteria pengujian produk dalam ISO 9001:2015 (Gaspersz, 2011).

Pengertian Sistem Manajemen Mutu (skripsi dan tesis)

Sistem manajemen mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi serta praktik-praktik standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin 6 kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang/jasa) terhadap kebutuhan dan persyaratan tertentu (Gasperz, 2006). Sistem manajemen mutu memberi gambaran bagaimana organisasi menerapkan praktik-praktik manajemen mutu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari manajemen mutu antara lain (Gasperz, 2006): 1. Sistem manajemen mutu berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja. 2. Sistem manajemen mutu berlandaskan pada pencegahan terhadap kesalahan-kesalahan yang akan timbul. 3. Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (customer), hasil-hasil (output), proses-proses (processes), masukan-masukan (input), pemasok (suppliers), dan pengukuran umpan balik dan umpan maju (measurements for feedback and feedforward). Dalam sistem manajemen mutu sering terdengar istilah Quality Control dan Quality Assurance. Quality Control adalah kegiatan teknik dan kegiatan memantau, mengevaluasi dan menindaklanjuti agar persayaratan yang telah ditetapkan tercapai, sedangkan istilah Quality Assurance berarti semua tindakan terencana dan sistematis yang diterapkan, untuk meyakinkan pelanggan bahwa proses hasil kerja kontraktor akan memenuhi persyaratan. Dalam mengontrol kualitas produk yang dihasilkan, harus mempersiapkan dokumen–dokumen yang berupa panduan–panduan kerja secara tertulis, serta catatan/rekaman hasil kerja. Dalam setiap lingkungan, pelaksanaan proses yang konsisten merupakan kunci untuk peningkatan terus menerus yang efektif agar selalu memberikan produk (barang/jasa) yang memenuhi harapan pelanggan atau pasar

Pengertian Mutu (skripsi dan tesis)

Kata mutu memiliki banyak definisi yang berbeda, dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Pengertian mutu ditinjau dari definisi konvensional pada umumnya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk seperti: performansi, keandalan, mudah dalam penggunaan, dan sebagainya. Sedangkan pengertian mutu ditinjau dari definisi strategik menyarankan bahwa mutu adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. (Gasperz, 2006). Di samping pendapat tersebut para pakar mutu telah mencoba mendefinisikan mutu sebagai berikut (Tjiptono dan Diana, 2003): 1. Menurut Joseph Juran, mutu adalah kecocokan pengguna produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. 2. Menurut Philip B. Crosby, mutu adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan standar yang disyaratkan atau distandarkan. 3. Menurut Feigenbaum, mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). 4. Menurut Garvin, mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa elemen yang membahas mengenai definisi mutu/kualitas yang diterima secara universal dan dari definisi yang telah ada dapat dilihat beberapa persamaannya diantaranya adalah: 1. Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. 2. Mutu mencakup produk, jasa manusia, proses dan lingkungan. 3. Mutu merupakan kondisi yang selalu berubah

Pengertian Metode Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Metode Economic Order Quantity (EOQ), Economic Order Quantity (EOQ) merupakan salah satu model klasik yang pertama kali diperkenalkan oleh FW Harris pada tahun 1915, tetapi lebih dikenal dengan metode Wilson dikarenakan pada tahun 1934 metode EOQ dikembangkan oleh Wilson (Sofyan, 2013:54). Menurut Carter (2012:314) Kuantitas pesanan ekonomis atau EOQ adalah jumlah persediaan yang dipesan pada suatu waktu yang menimbulkan biaya persediaan tahunan. Sedangkan menurut Freddy Rangkuti (2004;11) Economic Order Quantity, dapat diartikan sebagai : “Jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pesan dengan biaya yang paling rendah”. Metode EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya (inverse cost) pemesanan persediaan. Menurut (Handoko, 2008 : 113) Asumsi dasar untuk menggunakan metode EOQ adalah :
 1. Permintaan dapat ditentukan secara pasti dan konstan sehingga Biaya stocout dan yang berkaitan dengan kapasitasnya tidak ada. 2. Item yang dipesan independent dengan item yang lain. 3. Pemesan diterima dengan segera dan pasti. 4. Harga item yang konstan. Menurut Prawirosentono (2009:186) Unsur metode EOQ adalah biaya pemesanan, biaya penyimpanan, jumlah kebutuhan bahan per tahun, dan jumlah kuantitas bahan setiap kali pemesanan.

Model EOQ di atas dapat diterapkan bila anggapan-anggapan berikut terpenuhi : 1. Permintaan akan produk adalah konstan, seragam dan diketahui. 2. Harga per unit adalah konstan. 3. Biaya penyimpanan per unit per tahun (C) adalah konstan 4. Biaya pemesanan per pesanan (S) adalah konstan. 5. Waktu antara pesanan dilakukan dan barang-barang diterima adalah Konstan 6. Tidak terjadi kekurangan bahan atau back orders.

Jenis-jenis Bahan Baku (skripsi dan tesis)

Menurut Adisaputro dan Asri dalam Jurnal Nathalia (2012: 12) jenis-jenis bahan baku antara lain: 1. Bahan Baku Langsung (Direct material) Bahan baku langsung atau direct material adalah semua bahan yang merupakan bagian dari pada barang jadi yang dihasilkan. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku langsung ini mempunyai hubungan yang erat dan sebanding dengan jumlah barang jadi yang dihasilkan. 2. Bahan Baku Tidak Langsung (Indirect material) Bahan baku tidak langsung disebut juga dengan indirect material, adalah bahan baku yang ikut berperan dalam proses produksi tetapi tidak secara langsung tampak pada barang jadi yang dihasilkan.

Pengertian Bahan Baku (skripsi dan tesis)

Menurut Nasution (2003 : 103) ”bahan baku, yaitu yang merupakan input dari proses transformasi menjadi produk jadi. Cara membedakan apakah bahan baku termasuk bahan penolong dengan mengadakan penelusuran terhadap elemen-elemen atau bahan-bahan kedalam produk jadi. Cara pengadaan bahan baku bisa diperoleh dari sumber-sumber alam, petani atau membeli, misalnya serat diolah menjadi benang-benang”. Perusahaan perlu mengadakan persediaan bahan baku, hal ini dikarenakan bahan baku tidak bisa tersedia setiap saat. Menurut Ahyari (2012 : 150) perusahaan akan menyelenggarakan persediaan bahan baku, hal ini disebabkan oleh : 1. Bahan baku yang digunakan untuk proses produksi dalam perusahaan tidak dapat didatangkan secara satu persatu sebesar jumlah yang tidak diperlukan serta pada saat bahan tersebut dipergunakan. 2. Apabila bahan baku belum atau tidak ada sedangkan bahan baku yang dipesan belum datang maka kegiatan produksi akan berhenti karena tidak ada bahan baku untuk kegiatan proses produksi. 3. Persediaan bahan baku yang terlalu besar kemungkinan tidak menguntungkan perusahaan karena biaya penyimpanannya terlalu besar. Menurut Ahyari (2012 : 150) Faktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku antara lain: a. Perkiraan pemakaian bahan baku 14 b. Harga bahan baku c. Biaya-biaya persediaan d. Kebijaksanaan pembelanjaan e. Pemakaian bahan baku f. Waktu tunggu g. Model pembelian bahan

Tujuan Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Assauri (2008 : 177) pengendalian persediaan bahan baku bertujuan untuk : 1. Menjaga agar jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan yang dapat mengakibatkan terhentinya proses produksi. 2. Menjaga agar persediaan tidak berlebihan sehingga biaya yang ditimbulkan tidak menjadi lebih besar pula. 3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena mengakibatkan biaya pemesanan yang tinggi. “Pengendalian persediaan bertujuan untuk menentukan dan menjamin tersedianya persediaan yang tepat dalam kuantitas dan waktu yang tepat”. (Herjanto,2008 : 220).

Pengertian Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Sofjan Assauri (2008 :176) Pengendalian persediaan bahan baku merupakan suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi daripada persediaan bahan baku dan barang hasil produksi sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dengan efektif dan efisien. Pengendalian persediaan merupakan serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan pesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan harus diadakan (Herjanto, 2008: 219)

Biaya-biaya dalam keputusan Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Yamit (2003 : 219) biaya dalam keputusan persediaan terdapat lima kategori, sebagai berikut : 1. Biaya pemesanan (ordering cost) Adalah biaya yang dikaitkan dengan usaha untuk mendapatkan bahan baku atau barang dari luar. 2. Biaya penyimpanan (carrying cost atau holding cost) Adalah biaya yang memiliki komponen utama yaitu biaya modal, biaya simpan, dan biaya resiko. 3. Biaya kekurangan persediaan (stock-out cost) Adalah biaya yang terjadi apabila persediaan tidak tersedia di gudang ketika dibutuhkan untuk produksi atau ketika langganan memintanya. 4. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas (capacity associated costs) Adalah biaya yang terjadi karena perubahan dalam kapasitas produksi. 5. Biaya bahan atau barang itu sendiri Adalah harga yang harus dibayar atas item yang dibeli. Biaya ini akan dipengaruhi oleh besarnya diskon yang diberikan oleh supplier.

Fungsi-fungsi Persediaan (skripsi dan tesis)

Fungsi Persediaan Menurut Freddy Rangkuti dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Persediaan, Aplikasi di Bidang Bisnis” (2004;15-16) fungsi-fungsi persediaan adalah sebagai berikut : 1.Fungsi Decoupling Apabila persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa tergantung pada suplier. Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada pengadaanya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman.   2. Fungsi Economic Lot Sizing Persediaan lot siza ini perlu mempertimbangkan penghematan atau potongan pembeliaan, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya. Hal ini disebabkan perusahaan melakukan pembelian dalam 13 kuantitas yang lebih besar dibandingkan biaya yang timbul karena besarnya persediaan. 3. Fungsi Antisipasi Apabila perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasar penglaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasonal inventories)

Jenis-jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

Jenis – Jenis Persediaan Persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan menurut beberapa cara. Dilihat dari fungsinya, menurut Sofjan Assauri (2008;170) persediaan dapat dibedakan, yaitu : 1.Batch Stock atau Lot Size Inventory, yaitu persediaan yang timbul dimana barang – barang yang dibeli, dikerjakan/dibuat atau diangkut dalam jumlah yang besar, sehingga barang – barang diperoleh lebih banyak dan cepat daripada penggunaan atau pengeluarannya, dan untuk sementara tercipta suatu  persediaan. 2.Fluctuation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen apabila tingkat permintaan menunjukkan yang tidak beraturan atau tidak tetap dan fluktuasi permintaan tidak dapat diramalkan terlebih dahulu. 3.Anticipation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat  dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan yang meningkat. Di samping perbedaan menurut fungsi, persediaan dapat pula dibedakan atau dikelompokkan menurut jenis dan posisi barang tersebut di dalam urutan pengerjaan produk, yaitu : 1. Persediaan bahan baku (Raw material stock) Persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, barang mana dapat diperoleh dari sumber – sumber alam ataupun dibeli dari suplier atau perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan pabrik yang menggunakannya. 2. Persediaan bagian produk (Purchased parts/komponen stock) Persediaan barang – barang yang terdiri dari bagian yang diterima dari perusahaan lain, yang dapat secara langung dirakit dengan bagian lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya. 3. Persediaan bahan – bahan pembantu atau barang – barang perlengkapan (supplies stock) Persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi. 4. Persediaan barang-barang jadi dalam proses (work in process/progress stock) Persediaan barang-barang yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi lebih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi. 5. Persediaan barang jadi (finished goods stock) Persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau perusahaan lain. Jadi barang jadi ini adalah merupakan produk selesai dan telah siap untuk dijual

Pengertian Persediaan (skripsi dan tesis)

Setiap perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan produksi akan memerlukan persediaan bahan baku. Dengan tersedianya persediaan bahan baku maka diharapkan sebuah perusahaan industri maupun manufaktur dapat melakukan proses produksi sesuai kebutuhan atau permintaan konsumen. Selain itu dengan adanya persediaan bahan baku yang cukup tersedia digudang juga diharapkan dapat memperlancar kegiatan produksi perusahaan dan dapat menghindari terjadinya kekurangan bahan baku. Menurut Sofjan Assauri (2008; 169) Persediaan adalah merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yangdisediakan untuk memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu. “Menurut Kusuma (2009;132) Persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang”

Metode Gabungan EOQ dengan JIT (JIT/EOQ) (skripsi dan tesis)

Berdasarkan rumus EOQ, serangkaian rumus JIT dan EOQ digunakan untuk membantu menjembatani transisi dari EOQ ke JIT. Rumus-rumus JIT/EOQ ini didasarkan pada kenyataan bahwa JIT mengurangi lot pengiriman, sebagai arti dari pelaksanaan JIT dalam lingkup lot besar EOQ. Asumsi-asumsi yang harus digunakan pada kombinasi metode JIT/EOQ menurut Schniederjan (Dalam Sulistyowati, 2006) yaitu biaya unit tidak dipengaruhi oleh jumlah pesanan, biaya pengiriman tidak dipengaruhi oleh jumlah pesanan, dan biaya pemesanan adalah konstan, tidak masalah berapa banyak pengiriman yang dijadwalkan  Asumsi-asumsi ini sama dengan asumsi dari model dasar EOQ dan beralasan dari sudut pandang pemberian kontrol pembeli dalam negosiasi kontrak jangka panjang JIT. Model JIT/EOQ merupakan kombinasi antara model EOQ dan sistem JIT. Berikut beberapa macam persamaan yang digunakan dalam perhitungan model JIT/EOQ (Schniederjans dalam Sulistyowati, 2006).

Keunggulan dan kelemahan metode Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Keunggulan metode EOQ adalah dapat digunakan untuk mengetahui berapa banyak persediaan yang harus dipesan dan kapan seharusnya pemesanan dilakukan, dapat mengatasi ketidakpastian permintaan dengan adanya persediaan pengaman (safety stock), mudah diaplikasikan pada proses produksi secara massal, umum digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat (Heizer dan Render, 2011). Adapun kelemahan yang terdapat pada metode EOQ adalah menempatkan pemasok sebagai mitra bisnis sementara karena paradigma untung-rugi diterapkan oleh mereka, sehingga penggunaan model ini menyebabkan berganti-ganti pemasok, dan hal ini dapat mengganggu proses produksi akibat relasi perusahaan dengan pemasok yang tidak berdasar pada hubungan kerjasama yang erat(Heizer dan Render, 2011).

Metode Pengendalian Persediaan Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Economic Order Quantity (EOQ) merupakan jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pesan dengan biaya yang paling rendah (Rangkuti, 2007). Menurut Heizer dan Render (2011) EOQ merupakan salah satu teknik pengendalian persediaan tertua dan paling terkenal. Teknik ini relatif mudah digunakan, tetapi didasarkan pada beberapa asumsi yaitu tingkat permintaan diketahui dan bersifat konstan, Lead Time diketahui dan bersifat konstan, persediaan diterima dengan segera, tidak mungkin diberikan diskon, biaya variabel yang muncul hanya biaya pemesanan dan biaya peyimpanan persediaan sepanjang waktu, keadaan kehabisan stock (kekurangan) dapat dihindari sama sekali bila pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat. Hampir semua model persediaan bertujuan untuk meminimalkan biaya – biaya total. Dari total biaya – biaya yang muncul, terdapat dua biaya yang penting untuk diperhatikan yaitu biaya pemesanan dan biaya penyimpanan, sedangkan biaya – biaya lain seperti persediaan itu sendiri adalah konstan. Biaya pemesanan (ordering cost) mencakup biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya. Ketika pesanan sedang diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah bagian dari biaya penyetelan. Biaya penyimpanan (holding cost) adalah biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga (Heizer dan Render, 2011). Model EOQ adalah merupakan model yang tangguh. Tangguh (Robust) berarti ia memberikan jawaban yang memuaskan meskipun terdapat beragam variasi dan parameternya. Seperti yang telah banyak diamati, sering kali sulit menentukan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang akurat. Sebagai konsekuensinya, sebuah model tangguh merupakan sebuah keberuntungan. Biaya total EOQ berubah sedikit secara minimal. Hal ini berarti bahwa variasi biaya setup, biaya penyimpanan, permintaan, atau bahkan EOQ relatif sedikit dalam biaya total (Heizer dan Render, 2011).

Tujuan Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Assauri (2008), tujuan dari adanya pengendalian persediaan dalam sebuah organisasi atau perusahaan adalah menjaga agar proses produksi tidak terhenti akibat habisnya persedian bahan baku, menjaga agar biaya – biaya yang ditimbulkan dari persediaan bahan baku sekecil mungkin dengan menjaga jumlah persediaan yang tidak terlalu berlebihan, dan menghindari pembelian dalam jumlah kecil yang dapat mengakibatkan biaya pemesanan menjadi besar. Sedangkan menurut Baroto (2002) fungsi dari pengendalian persediaan adalah untuk menetapkan dan menjamin tersedianya produk jadi, barang dalam proses,  komponen dan bahan baku secara optimal, dalam kuantitas yang optimal, dan pada waktu yang optimal

Pengertian pengendalian persediaan (skripsi dan tesis)

Pengendalian adalah proses managemen yang memastikan dirinya sendiri sejauh hal itu memungkinkan, bahwa kegiatan yang dijalankan oleh anggota dari suatu organisasi sesuai dengan rencana dan kebijaksanaannya (Indrayati, 2007). Pengendalian persediaan adalah serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan pesanan untuk menambah  persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan harus diadakan, jumlah atau tingkat persediaan yang dibutuhkan berbeda – beda untuk setiap perusahaan pabrik, tergantung dari volume produksinya, jenis perusahaan dan prosesnya (Herjanto, 2008). Robert J. Mockler menyatakan bahwa pengendalian merupakan suatu upaya sistematis untuk menetapkan standar prestasi dengan sasaran – sasaran perencanaan, merancang sistem umpan balik informasi, membandingkan prestasi sesungguhnya dengan standar yang lebih dahulu ditetapkan, menentukan apakah ada penyimpangan yang mengukur identifikasi penyimpangan tersebut dan mengambil tindakan perbaikan – perbaikan yang perlu dilakukan untuk menjamin bahwa sumber daya perusahaan yang digunakan sedapat mungkin dengan cara yang paling efektif dan efisien guna tercapainya sasaran perusahaan (Mariyam, 2008)

Biaya – Biaya Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Heizer dan Render (2011) biaya persediaan meliputi biaya penyimpanan (holding cost), biaya pemesanan (ordering cost), dan biaya penyetelan (setup cost). Biaya penyimpanan (holding cost) adalah biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga. Biaya pemesanan (ordering cost) adalah biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya. Ketika pesanan sedang 9 diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah bagian dari biaya penyetelan. Biaya penyetelan (setup cost) adalah biaya untuk mempersiapkan sebuah mesin atau proses untuk membuat sebuah pesanan. Ini menyertakan waktu dan tenaga kerja untuk membersihkan serta mengganti peralatan atau alat penahan. Manajer operasi dapat menurunkan biaya pemesanan dengan mengurangi biaya penyetelan serta menggunakan prosedur yang efisien, seperti pemesanan dan pembayaran elektronik. Sedangkan, menurut Ristono (2009), biaya persediaan dapat dibedakan atas ongkos pembelian (purchase cost), ongkos pemesanan atau Biaya persiapan (order cost/set up cost), Ongkos simpan (carrying cost / holding cost / storage cost), dan Biaya kekurangan persediaan (stockout cost).

 Ongkos pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak luar, atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan atau dapat dikatakan pula bahwa biaya pembelian adalah semua biaya yang digunakan untuk membeli suku cadang. Penetapan dari biaya pembelian ini tergantung dari pihak penjualan barang atau bahan sehingga pihak pembeli hanya bisa mengikuti fluktuasi harga barang yang ditetapkan oleh pihak penjual. Ordering cost adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pemesanan barang ke supplier. Besar kecilnya biaya pemesanan sangat tergantung pada frekuensi pesanan, semakin sering memesan barang maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar dan sebaliknya. Biaya pemesanan secara terperinci meliputi biaya persiapan pesanan (biaya telepon atau ongkos menghubungi supplier, pengeluaran surat menyurat), biaya penerimaan barang, seperti (biaya pembongkaran dan pemasukan ke gudang, biaya laporan penerimaan barang, biaya pemeriksaan barang atau biaya pengecekan), biaya pengiriman pesanan ke gudang, dan biayabiaya proses pembayaran (biaya pembuatan cek, pengiriman cek, atau biaya transfer ke bank supplier, dan sebagainya). Ongkos simpan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk menyimpan persediaan, atau dapat pula dikatakan biaya yang timbul akibat penyimpanan barang maupun bahan (diantaranya: fasilitas penyimpanan, sewa gudang, keusangan, asuransi, pajak dan lain-lain). Yang termasuk dalam biaya simpan adalah biaya sewa atau penggunaan gudang, biaya pemeliharaan barang, biaya pemanasan atau pendinginan, bila untuk menjaga ketahanan barang dibutuhkan faktor pemanas atau pendingin dan biaya menghitung dan menimbang barang. Biaya kekurangan persediaan (stockout cost) adalah biaya yang ditimbulkan akibat hilang kesempatan penjualan sebagai dampak dari kekurangan persediaan. Biaya yang timbul adalah kehilangan pendapatan, selisih harga komponen, terganggunya operasi

Fungsi persediaan (skripsi dan tesis)

 Menurut Heizer dan Render (2011), persediaan dapat melayani beberapa fungsi yang menambal fleksibilitas bagi operasi perusahaan. Pertama, fungsi persediaan sebagai “Decouple” atau memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi contohnya jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan untuk melakukan decouple proses produksi dari pemasok. Kedua, melakukan “decouple” perusahaan dari fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi pelanggan, persediaan seperti ini digunakan secara umum pada bisnis eceran. Ketiga, mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pembelian dalam jumlah besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang. Keempat, melindungi terhadap inflasi dan kenaikan harga. Menurut Assauri (2008), persediaan yang diadakan mulai dari yang bentuk bahan mentah sampai dengan barang jadi, mempunyai fungsi yaitu menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan, menghilangkan risiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan, untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran, mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi, mencapai penggunaan mesin yang optimal, memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersediaanya barang jadi tersebut, serta membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaannya atau penjualannya.
Sedangkan Rangkuti (2007), membagi jenis-jenis persediaan berdasarkan fungsinya menjadi Batch stock/ lot size inventory, Fluctuation stock, dan Anticipation stock. Batch stock/ lot size inventory adalah persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang besar dari jumlah yang dibutuhkan saat itu. Keuntungannya adalah potongan harga pada harga pembelian, efisiensi produksi dan penghematan biaya angkutan. Fluctuation stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Anticipation stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang meningkat

Jenis – jenis persediaan (skripsi dan tesis)

Dalam bukunya, Daft (2006) membagi jenis persediaan menjadi tiga yaitu barang jadi sebelum pengiriman, barang setengah jadi, dan bahan baku. Persediaan 6 barang jadi (finished-goods inventory) adalah barang – barang yang telah melewati proses produksi tetapi belum dijual. Ini merupakan persediaan yang sangat kelihatan. Persediaan barang jadi bersifat mahal karena perusahaan telah menginvestasikan tenaga kerja dan biaya – biaya lainnya untuk membuat produk jadi. Persediaan barang setengah jadi (work-in-process inventory) adalah bahan – bahan yang melewati tingkat proses produksi tetapi belum merupakan produk jadi. Persediaan bahan baku (raw material inventory) adalah bahan – bahan dasar untuk proses produksi perusahaan. Persediaan ini adalah yang paling murah karena organisasi belum menginvestasikan tenaga kerja ke dalamnya. Menurut Heizer dan Render (2005) persediaan dapat dikelompokkan kedalam empat jenis, yaitu persediaan bahan baku (raw material inventory), Persediaan barang setengah jadi (working in process inventory), Persediaan MRO (maintenance / repair / operating inventory), dan Persediaan barang jadi (finished goods inventory). Persediaan bahan baku (raw material inventory) adalah material yang pada umumnya dibeli tetapi belum memasuki proses pabrikasi, sedangkan persediaan barang setengah jadi (working in process inventory) adalah bahan baku atau komponen yang sudah mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai atau menjadi produk jadi. Persediaan MRO (maintenance / repair / operating inventory) yaitu persediaan yang khusus diperuntukkan bagi pasokan pemeliharaan, perbaikan, dan operasi untuk menjaga agar proses produksi tetap produktif, dan persediaan barang jadi (finished goods inventory) adalah persediaan yang telah selesai diproses atau produk yang sudah selesai dan menunggu pengiriman

Pengertian persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Ristono (2009), persediaan dapat diartikan sebagai barang – barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang. Persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan bahan setengah jadi, dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku dan bahan setengah jadi di simpan sebelum digunakan atau dimasukan ke dalam proses produksi, sedangkan persediaan barang jadi atau barang dagangan di simpan sebelum dijual atau dipasarkan. Menurut Heizer dan Render (2011), persediaan adalah salah satu aset termahal dari banyak perusahaan, mewakili sebanyak 50% dari keseluruhan modal yang diinvestasikan. Manajer operasi diseluruh dunia telah menyadari bahwa manajemen persediaan sangatlah penting. Di satu sisi, sebuah perusahaan dapat mengurangi biaya dengan mengurangi persediaan. Di sisi lain, produksi dapat berhenti dan pelanggan menjadi tidak puas ketika sebuah barang tidak tersedia. Tujuan manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan

Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Economic Order Quantity (EOQ) adalah teknik kontrol persediaan yang meminimalkan biaya total dari pemesanan dan penyimpanan. Namun, untuk menerapkan model EOQ ada beberapa asumsi yang harus terpenuhi, beberapa asumsi dalam EOQ adalah sebagai berikut (Heizer & Render, 2015): a. Jumlah permintaan diketahui, cukup konstan, dan independen. b. Waktu tunggu (lead time), yakni waktu antara pemesanan dan penerimaan barang diketahui dan bersifat konstan. c. Persediaan segera diterima seluruhnya. Dengan kata lain, persediaan yang dipesan tiba dalam satu kelompok pada suatu waktu. d. Tidak tersedia diskon kuantitas. e. Biaya variabel hanya biaya untuk memasang atau melakukan pemesanan (biaya pemasangan atau pemesanan) dan biaya untuk menyimpan persediaan dalam waktu tertentu (biaya penyimpanan). f. Kehabisan persediaan (kekurangan persediaan) dapat sepenuhnya dihindari jika pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat (Heizer & Render, 2015).

Demikian pula menurut Stevenson & Chuong (2014), ada enam asumsi yang digunakan untuk menerapkan model EOQ, yakni sebagai berikut: a. Hanya satu produk yang terlibat b. Kebutuhan permintaan tahunan diketahui c. Permintaan tersebar secara merata sepanjang tahun sehingga tingkat permintaan cukup konstan d. Waktu tunggu tidak bervariasi e. Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman tunggal f. Tidak terdapat diskon kuantitas

Model Persediaan (skripsi dan tesis)

Model persediaan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memecahkan dua permasalahan utama, yaitu (1) berapa unit barang yang harus dipesan pada waktu tertentu; dan (2) kapan persediaan tersebut harus dipesan (Anderson dkk. dalam Nugroho dkk. 2012). Model persedian digunakan oleh perusahaan untuk memenuhi permintaan pelanggan. Dalam hubungannya dengan model persediaan, permintaan memiliki dua sifat (Nugroho dkk., 2012), yaitu:  a. Permintaan dependen Permintaan dependen adalah permintaan yang terjadi pada bahan mentah atau bahan dalam proses, dimana permintaan itu berasal dari dalam perusahaan untuk menghasilkan barang jadi. b. Permintaan independen Permintaan independen adalah permintaan yang pada umumnya terjadi pada barang jadi, dimana permintaan itu berasal dari luar perusahaan, sehingga tidak tergantung kegiatan internal perusahaan dan diluar kontrol perusahaan. Permintaan independen memiliki dua model penting, yaitu : 1) Model deterministik Model deterministik mengasumsikan bahwa permintaan dan parameter yang lain bersifat konstan dan cenderung dapat diprediksi. Model deterministik terbagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Economic order quantity (b) Economic production lot size (c) EOQ with planned shortages (d) EOQ with quantity discounts 2) Model probabilistik Model probabilistik mengasumsikan bahwa permintaan dan parameter lain memiliki derajat ketidakpastian yang tinggi, sehingga sulit diprediksi. 21 Lantaran penelitian ini berfokus pada penerapan Economic Order Quantity, yang mana merupakan bagian dari model deterministik, maka pembahasan selanjutnya akan berfokus pada Economic Order Quantity.

Biaya dalam Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Heizer & Render (2015) ada tiga jenis biaya dalam persediaan, yaitu:
a. Biaya penyimpanan (holding cost) Biaya penyimpanan adalah biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaranbunga. Banyak perusahaan yang tidak berhasil menyertakan semua biaya penyimpanan persediaan. Konsekuensinya, biaya penyimpanan persediaan sering ditetapkan kurang dari sebenarnya. b. Biaya pemesanan (ordering cost) Biaya pemesanan mencakup biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya.
c. Biaya pemasangan (setup cost) Biaya pemasangan adalah biaya untuk mempersiapkan sebuah mesin atau proses untuk membuat sebuah pesanan. Ini menyertakan waktu dan tenaga kerja untuk membersihkan serta mengganti peralatan atau alat penahan.
Demikian pula Stevenson & Chuong (2014) mengatakan bahwa terdapat tiga biaya dasar yang berhubungan dengan persediaan, antara lain sebagai berikut:

 a. Biaya penyimpanan (holding/carrying) Biaya penyimpanan adalah biaya untuk menyimpan sebuah barang dalam persediaan untuk jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Biaya penyimpanan berhubungan dengan kepemilikan barang secara fisik dalam penyimpanan. Biayanya meliputi bunga, asuransi, pajak (di beberapa negara), depresiasi, keusangan, kemunduran, kebusukan, pencurian, kerusakan, dan biaya pergudangan.

 b. Biaya pemesanan (ordering costs) Biaya pemesanan adalah biaya untuk memesan dan menerima persediaan. Di samping biaya pengiriman, biaya ini meliputi penentuan berapa banyak yang dibutuhkan, penyiapan faktur, biaya pengiriman,inspeksi pada saat kedatangan untuk mutu dan kuantitas, dan memindahkan barang ke penyimpanan sementara.
c. Biaya kekurangan (shortage costs) Biaya kekurangan adalah biaya yang terjadi ketika permintaan melebihi pasokan persediaan; seringkali berupa laba per unit yang tidak terwujud. Biaya ini meliputi biaya kesempatan untuk tidak melakukan penjualan, kehilangan niat baik pelanggan, pembebanan terlambat, dan biaya-biaya serupa.
Sedangkan menurut Yamit (2011) terdapat lima kategori biaya yang dikaitkan dengan keputusan persediaan, yaitu :
a. Biaya pemesanan (order cost) Biaya pemesanan adalah biaya yang dikaitkan dengan usaha untuk mendapatkan bahan atau bahan dari luar. Biaya pemesanan dapat berupa: biaya penulisan pemesanan, biaya proses pemesanan, biaya materai/perangko, biaya faktur, biaya pengetesan, biaya pengawasan, dan biaya trasnportasi. Sifat biaya pemesanan ini adalah semakin besar frekuensi pembelian semakin besar biaya pemesanan.
b. Biaya penyimpanan (carrying cost) Komponen utama dari biaya penyimpanan meliputi:
 1) Biaya modal. Meliputi: opportunity cost atau biaya modal yang diinvestasikan dalam persediaan, gedung, dan peralatan yang diperlukan untuk mengadakan dan memelihara persediaan.
 2) Biaya simpan. Meliputi: sewa gudang, perawatan dan perbaikan bangunan, gaji personel keamanan, pajak atas persediaan, pajak dan asuransi peralatan, biaya penyusutan dan perbaikan peralatan. Biaya tersebut adalah yang sifat tetap, variabel, maupun semi tetap atau semi variabel.
 3) Biaya resiko. Biaya resiko persediaan meliputi: biaya keusangan, asuransi persediaan, biaya susut secara fisik, dan resiko kehilangan. Sifat biaya penyimpanan adalah semakin besar frekuensi pembelian bahan, semakin kecil biaya penyimpanan.
 c. Biaya kekurangan persediaan Biaya kekurangan persediaan (stockout) terjadi apabila persediaan tidak tersedia digudang ketika dibutuhkan untuk produksi. Biaya yang dikaitkan dengan stockout meliputi biaya penjualan atau permintaan yang hilang (biaya ini sangat sulit dihitung), biaya yang dikaitkan dengan proses pemesanan kembali seperti, biaya ekspedisi khusus, penangan khusus, biaya penjadwalan kembali produksi, biaya penundaan, dan biaya bahan penggant
. d. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas Perubahan kapasitas produksi diperlukan karena perusahaan untuk memenuhi fluktuasi dalam permintaan. Perubahan kapasitas produksi,  menghendaki adanya perubahan dalm persediaan. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas dapat berupa : biaya kerja lembur untuk meningkatkan kapasitas, latihan tenaga kerja baru, dan biaya perputaran tenaga kerja (labour turn over cost).’
 e. Biaya bahan atau barang Biaya bahan atau barang adalah harga yang harus dibayar atas item yang dibeli. Selain biaya-biaya yang dijelaskan di atas terdapat satu lagi jenis biaya yang berhubungan dengan persediaan, yaitu total biaya persediaan atau total inventory cost/ total cost (TIC/TC).

Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

Demi menjalankan fungsi-fungsi persediaan, perusahaan harus memelihara empat jenis (Heizer & Render, 2015), yaitu : a. Persediaan bahan mentah (raw material inventory) Yaitu bahan bahan yang biasanya dibeli tetapi belum memasuki proses produksi. b. Persediaan barang dalam proses Yaitu komponen-kompenen atau bahan mentah yang telah melewati beberapa proses perubahaan, tetapi belum selesai. c. MRO (maintenance, repair, operating) Persediaan yang disediakan untuk perlengkapan pemeliharaan/ perbaikan/operasi yang dibutuhkan untuk menjaga mesin dan proses tetap produktif.   d. Persediaan barang jadi Barang yang sudah siap dijual, tetapi masih merupakan aset dalam pembukuan perusahaan. Sedangkan menurut Stevenson & Chuong (2014), jenis persediaan dapat dikelompokkan menjadi lima, antara lain sebagai berikut: a. Bahan mentah dan suku cadang yang dibeli b. Barang setengah jadi c. Persediaan barang jadi d. Suku cadang pengganti, alat-alat, dan pasokan e. Barang dalam transit ke gudang atau pelanggan (persediaan pipa saluran) Sedangkan Fahmi (2012) mengelompakkan persediaan secara umum menjadi tiga, yaitu: a. Persediaan dalm bentuk barang mentah. b. Persediaan dalam bentuk barang setengah jadi atau barang dalam proses. c. Persediaan dalam bentuk barang jadi.

Fungsi Persediaan (skripsi dan tesis)

Persediaan dapat memiliki berbagai fungsi yang menambah fleksibelitas operasi perusahaan. Keempat fungsi persediaan adalah sebagai berikut (Heizer & Render, 2015): a. Memberikan pilihan barang agar dapat memenuhi permintaan pelanggan yang diantisipasi dan memisahkan perusahaan dari fluktuasi permintaan. Persediaan seperti ini digunakan secara umum pada perusahaan ritel. b. Memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi. Contohnya jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan agar bisa memisahkan proses produksi dari pemasok. c. Mengambil keuntungan dari potongan jumlah karena pembelian dalam jumlah besar dapat menurunkan biaya pengiriman barang. d. Menghindari inflasi dan kenaikan harga. Sementara itu Stevenseon & Chuong (2014) menjelaskan fungsi persediaan dengan lebih rinci, antara lain sebagai berikut: a. Memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan. Persediaan ini di rujuk sebagai persediaan antisipasi karena di simpan untuk memuaskan permintaan yang di perkirakan. b. Memperlancar persyaratan produksi. Perusahaan yang mangalami pola musiman dalam permintaan seringkali membangun persediaan selama periode pramusim untuk mememnuhi keperluan yang luar biasa tinggi selama periode musiman. Persediaan ini di sebut dengan nama yang sesuai yaitu persediaan musiman. c. Memisahkan operasi. Secara historis, perusahaan manufaktur telah menggunakan persediaan sebagai penyangga antara operasi yang berurutan untuk memelihara kontinuitas. d. Perlindungan terhadap kehabisan persediaan. Pengiriman yang tertunda dan peningkatan yang tidak terduga dalam permintaan akan menigkatkan resiko kehabisan persediaan. Resiko kehabisan persediaan dapat di kurangi dengan menyimpan persediaaan aman yang merupakan persediaaan berlebih dari permintaan rata-rata untuk mengkompensasi variabilitas dalam permintaan dan waktu tunggu. e. Mengambil keuntungan dari siklus pesanan. Untuk meminimalkan biaya pembelian dan persediaan, perusahaan seringkali membeli dalam jumlah yang melampaui kebutuhan jangka pendek. f. Melindungi dari peningkatan harga. Secara berkala perusahaan akan menduga bahwa peningkatan harga yang substansial akan terjadi dan membeli jumlah yang lebih besar dari normal untuk mengalahkan kenaikan tersebut. g. Memungkinkan operasi. Fakta bahwa operasi (produksi) membutuhkan waktu tertentu (yaitu, tidak secara instan) berarti bahwa akan terdapat sejumlah persediaan barang dalam proses. Hukum little (littes law) dapat berguna dalam menghitung persediaan pipa saluran. Hukum tersebut menyatakan bahwa jumlah perseidaan rata-rata dalam sebuah sistem sama dengan produk dari tingkat rata-rata permintaan dan waktu rata-rata sebuah unit berada dalam sistem (yaitu tingkat permintaan rata-rata). h. Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas. Pemasok dapat memberikan diskon untuk pesanan besar. Fungsi-fungsi yang telah disebutkan diatas sangat diperlukan perusahaan, karena perusahaan menghadapi berbagai faktor resiko sebagai berikut (Yamit, 2011) : a. Adanya unsur ketidakpastian permintaan (permintaan yang mendadak). b. Adanya unsur ketidakpastian dari pasokan supplier. c. Adanya unsur ketidakpastian tenggang waktu pemesanan

Tujuan Manajemen Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Heizer & Render (2015) tujuan manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi persedian dengan pelayanan pelanggan. Menurut Nugroho dkk. (2012) tujuan dari manajemen persediaan adalah menentukan persediaan yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan pada biaya yang paling minimum. Riskatania dalam Sakkung (2011) mengatakan terdapat dua tujuan dari sistem manajemen persediaan yaitu memberikan tingkat pelayanan pelanggan dan untuk meminimalkan biaya penyediaan layanan tersebut. Sedangkan menurut Yamit (2011) sasaran akhir dari manajemen persediaan adalah untuk meminimumkan total biaya dalam perubahan tingkat persediaan. Berdasarkan penjelasan tujuan manajemen persediaan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan manajemen persediaan adalah melakukan pengelolaan persediaan dengan tepat, sehingga biaya yang dikeluarkan efisien dan di saat yang bersamaan juga mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada pelanggan dengan cara selalu memenuhi permintaan

Manajemen Persediaan (Inventory Management) (skripsi dan tesis)

Manajemen persediaan adalah kemampuan suatu perusahaan dalam mengatur dan mengelola setiap kebutuhan barang baik barang mentah, barang setengah jadi, dan barang jadi agar selalu tersedia baik dalam kondisi pasar yang stabil dan berfluktuasi (Fahmi, 2012). Menurut Riskatania dalam Sakkung (2011), mendefinisikan manajemen persediaan sebagai berikut: manejemen persediaan meliputi perencanaan, koordinasi, dan pengendalian kegiatan yang berkaitan dengan aliran persediaan masuk, melalui, dan keluar dari sebuah organisasi.

Definisi Persediaan (skripsi dan tesis)

Persediaan adalah stok atau simpanan barang-barang. Biasanya, banyak dari barang-barang yang disimpan perusahaan dalam persediaan berhubungan dengan bisnis yang dilakukannya (Stevenson & Chuong, 2014). Jadi, misalkan perusahaan maufaktur akan menyimpan pasokan bahan mentah, suku cadang yang dibeli, barang setengah jadi, dan barang jadi. Toko serba ada akan menyimpan furniture, alat tulis, kosmetik, mainan dan lain lain. Kusuma (2007) mendefinisikan persediaan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang. Persediaan dapat berbentuk bahan baku yang disimpan untuk diproses, komponen yang diproses, barang dalam proses pada proses manufaktur, dan barang jadi yang disimpan untuk dijual. Merujuk pada definisi persediaan di atas, maka dalam penelitian ini persediaan yang sesuai dengan bisnis yang dijalankan oleh kafe Zarazara adalah persediaan bahan baku dari produk utama yaitu es krim nitrogen dan juga bahan baku lainnya

Model Probabilistik dan Persediaan Pengaman (skripsi dan tesis)

Model probabilistik persediaan merupakan model persediaan yang menggambarkan situasi riil yang terjadi dalam prakteknya. Dikarenakan permintaan yang bersifat deterministik atau cenderung stabil sangat jarang ditemukan. Model probabilistik dapat digunakan ketika permintaan tidak diketahui tetapi dapat dispesifikasikan melalui rata-rata distribusi probabilitas (Heizer dan Render , 2011). Permintaan barang yang bervariasi atau tidak stabil akan dapat menyebabkan kekurangan persediaan yang tidak diinginkan selama masa lead time. Dikarenakan sulitnya menghitung biaya akibat kehabisan persediaan , manajer persediaan perlu menentukan sejumlah persediaan pengaman yang akan cukup untuk memenuhi tingkat layanan ( service level ) terhadap konsumen. Menurut Gonzales ,et al (2010) teknik penting yang digunakan bersamaan dengan EOQ adalah Reorder Point (ROP) dan persediaan pengaman (safety stock). Kuantitas ROP menggambarkan tingkat persediaan yang mengacu untuk titik pemesanan kembali. Sedangkan kuantitas safety stock melindungi perusahaan dari kehabisan persediaan. Dalam menentukan ROP perlu diingat beberapa faktor sebagai berikut : 1. Permintaan – Jumlah persediaan yang digunakan setiap hari. 2. Lead Time – Waktu tenggang antara pemesanan sampai pesanan tiba.  3. Safety stock – Kuantitas persediaan yang harus disimpan sebagai antisipasi terjadinya peristiwa-peristiwa yang tidak dapat diprediksi seperti permintaan yang tidak terduga atau waktu tenggang yang tertunda.

Model Economic Order Quantity (EOQ) dalam Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

 Dalam manajemen operasi , sering timbul pertanyaan berapa banyak jumlah barang persediaan yang harus perusahaan simpan, dikarenakan terdapat pandangan bahwa persediaan adalah aset dan juga liabilitas (Koumanakos ,2008). Terlalu banyak persediaan akan mengkonsumsi banyak tempat , menciptakan beban finansial ,dan juga meningkatkan resiko kerusakan dan kehilangan barang. Sebaliknya ,kekurangan persediaan akan menandakan kinerja perusahaan yang buruk seperti forecasting dan penjadwalan yang tidak tepat serta perhatian yang kurang terhadap proses dan produksi sehingga manajemen akan membayar biaya kompensasi yang lebih untuk hal tersebut. Sebelum melihat kedalam metode pengendalian persediaan, perlu ditinjau kembali untuk tujuan seperti apa pengendalian persediaan itu dilakukan. Umumnya pengendalian persediaan dilakukan untuk membuat penyimpanan persediaan seefisien mungkin (Waters, 2003). Terdapat beberapa cara untuk mengukur efisiensi penyimpanan persediaan yaitu jumlah persediaan yang disimpan, biaya persediaan (holding cost) , berapa kali terdapat shortages (kekurangan persediaan ) ketika permintaan tidak dapat terpenuhi, perputaran barang (stock turnover) , dan sebagainya. Yang paling umum untuk digunakan sebagai ukuran kinerja mungkin adalah tingkat pelayanan yang diberikan kepada konsumen. Jika persediaan disimpan dalam jumlah kecil , maka  akan sulit untuk memenuhi permintaan konsumen dan akan terjadi shortages. Sebaliknya , jika persediaan disimpan dalam jumlah besar , kesempatan untuk terjadi shortages akan berkurang tetapi biaya penyimpanan akan tinggi. Tujuan pengendalian persediaan yang paling umum adalah untuk meraih atau memenuhi layanan pelanggan dengan biaya minimum.

Menurut model EOQ , pabrik memesan beberapa barang atau bahan baku ke pemasoknya setiap jangka waktu tertentu , dengan ukuran pesanan (order quantity ) yang cukup untuk memenuhi permintaan produksi untuk periode waktu tertentu (Fazel, 1997). Untuk model ini, jumlah pesanan ekonomis yang 16 dapat meminimalisir biaya total persediaan dapat dihitung secara matematis. Biaya –biaya tersebut termasuk carrying cost, biaya transportasi , dan harga pembelian dari barang tersebut. Biayabiaya tersebut dapat dibagi menjadi biaya-biaya yang lebih spesifik , misalnya carrying cost dapat dibagi menjadi biaya penyimpanan fisik, biaya reorder atau pemesanan kembali, dan lain-lain (Waters,2003). Material atau bahan baku yang dibeli oleh suatu perusahaan kemungkinan memiliki pola konsumsi yang serupa atau bisa juga tidak serupa. Untuk pola konsumsi yang serupa dalam biaya pembelian maupun biaya penyimpanan maka permintaan dan pola konsumsi dapat ditentukan sebelumnya dan digunakan sebagai dasar untuk bernegosiasi dengan pemasok (Joshi dan Campbell , 1991 ) dalam (Fazel , 1997). Model EOQ inilah yang paling sesuai untuk menentukan jumlah pesanan untuk karakteristik barang yang telah disebutkan sebelumnya

Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Mengoptimalkan persediaan merupakan persyaratan dasar bagi perusahaan agar dapat menghasilkan kinerja operasi yang efisien serta untuk  kelangsungan aktivitas-aktivitas perusahaan. Menurut Lamatic (2009) kebijakan pengendalian persediaan didasarkan pada dua permintaan yaitu jaminan atas keberlangsungan produksi atau penjualan dan berkurangnya modal untuk pengembangan , pelestarian , dan menjaga persediaan minimum yang diperlukan. Salah satu alasan untuk pengadaan persediaan adalah agar perusahaan dapat membeli atau menghasilkan barang dalam ukuran lot ekonomis. Untuk menentukan kebijakan persediaan yang optimal , beberapa ukuran berikut ini sangat diperlukan yaitu permintaan, biaya persediaan, dan waktu tenggang. Manajer persediaan seringkali dipertemukan dengan berbagai masalah persediaan dan harus senantiasa sigap menanggapinya. Pada dasarnya terdapat tiga pertanyaan penting tentang pengendalian persediaan yaitu ; ‘Dimana barang akan disimpan?’ , ‘Kapan sebaiknya perusahaan memesan barang ke pemasok?’ dan ‘Berapa jumlah pesanan yang harus dibuat?’ (Waters , 2003). Menyimpan persediaan memerlukan biaya yang tinggi , maka dari itu perusahaan perlu menyimpan persediaan dalam tingkat yang serendah mungkin. Terdapat dua macam permintaan dalam pengendalian persediaan yaitu permintaan deterministik dan permintaan stokastik. Permintaan yang tidak diketahui sampai permintaan tersebut diterima disebut permintaan stokastik (Sobel et al, 2001). Sifat stokastik dari permintaan tersebut menyebabkan kehabisan persediaan atau kehilangan penjualan menjadi suatu permasalahan yang kerap ditemui. Namun , hal tersebut dapat dihindari dengan metode-metode pengendalian persediaan. Dalam model deterministik , semua ukuran dan variable diketahui dan pasti. Namun , dalam dunia nyata hal ini sangat jarang ditemukan. Menurut Lamatic (2009) ketika permintaan diketahui dan waktu tunggu stabil maka perusahaan dapat menempatkan pesanan di waktu yang sesuai tetapi jika permintaan tidak diketahui dan waktu tunggu tidak stabil maka stockout dapat dicegah dengan persediaan pengaman (safety stocks). Model-model pengendalian persediaan berasumsi bahwa permintaan untuk suatu item adalah independen atau dependen terhadap permintaan untuk item lain ( Heizer dan Render , 2011). Sebagai contoh permintaan untuk komponen suku cadang mobil dependen terhadap permintaan atau kebutuhan mobil. Persediaan yang diteliti dalam penelitian ini termasuk dalam permintaan yang independen dikarenakan kayu sengon merupakan bahan tunggal untuk membuat kayu lapis dan tidak terpengaruh oleh item lain. Akutansi, Judul Akutansi, Judul Manajemen, Konsultasi Skripsi, Konsultasi Skripsi Jogja, Konsultasi Skripsi Yogyakarta, Konsultasi Tesis, konsultasi tesis jogja, konsultasi tesis yogyakarta, Manajemen

Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

 

Mengoptimalkan persediaan merupakan persyaratan dasar bagi perusahaan agar dapat menghasilkan kinerja operasi yang efisien serta untuk  kelangsungan aktivitas-aktivitas perusahaan. Menurut Lamatic (2009) kebijakan pengendalian persediaan didasarkan pada dua permintaan yaitu jaminan atas keberlangsungan produksi atau penjualan dan berkurangnya modal untuk pengembangan , pelestarian , dan menjaga persediaan minimum yang diperlukan. Salah satu alasan untuk pengadaan persediaan adalah agar perusahaan dapat membeli atau menghasilkan barang dalam ukuran lot ekonomis. Untuk menentukan kebijakan persediaan yang optimal , beberapa ukuran berikut ini sangat diperlukan yaitu permintaan, biaya persediaan, dan waktu tenggang. Manajer persediaan seringkali dipertemukan dengan berbagai masalah persediaan dan harus senantiasa sigap menanggapinya. Pada dasarnya terdapat tiga pertanyaan penting tentang pengendalian persediaan yaitu ; ‘Dimana barang akan disimpan?’ , ‘Kapan sebaiknya perusahaan memesan barang ke pemasok?’ dan ‘Berapa jumlah pesanan yang harus dibuat?’ (Waters , 2003). Menyimpan persediaan memerlukan biaya yang tinggi , maka dari itu perusahaan perlu menyimpan persediaan dalam tingkat yang serendah mungkin. Terdapat dua macam permintaan dalam pengendalian persediaan yaitu permintaan deterministik dan permintaan stokastik. Permintaan yang tidak diketahui sampai permintaan tersebut diterima disebut permintaan stokastik (Sobel et al, 2001). Sifat stokastik dari permintaan tersebut menyebabkan kehabisan persediaan atau kehilangan penjualan menjadi 13 suatu permasalahan yang kerap ditemui. Namun , hal tersebut dapat dihindari dengan metode-metode pengendalian persediaan. Dalam model deterministik , semua ukuran dan variable diketahui dan pasti. Namun , dalam dunia nyata hal ini sangat jarang ditemukan. Menurut Lamatic (2009) ketika permintaan diketahui dan waktu tunggu stabil maka perusahaan dapat menempatkan pesanan di waktu yang sesuai tetapi jika permintaan tidak diketahui dan waktu tunggu tidak stabil maka stockout dapat dicegah dengan persediaan pengaman (safety stocks). Model-model pengendalian persediaan berasumsi bahwa permintaan untuk suatu item adalah independen atau dependen terhadap permintaan untuk item lain ( Heizer dan Render , 2011). Sebagai contoh permintaan untuk komponen suku cadang mobil dependen terhadap permintaan atau kebutuhan mobil. Persediaan yang diteliti dalam penelitian ini termasuk dalam permintaan yang independen dikarenakan kayu sengon merupakan bahan tunggal untuk membuat kayu lapis dan tidak terpengaruh oleh item lain.

Manajemen Persediaan (skripsi dan tesis)

Manajemen dan pengendalian persediaan sangatlah penting dalam sebuah organisasi dikarenakan jika terdapat kegagalan dalam manajemen persediaan maka perusahaan akan mengalami kerugian yang signifikan. Menurut Benwell (1996) dalam Siali, et al (2013) manajemen persediaan bermula dari pemasok dan kesalahan-kesalahan dari pemasok akan menyebabkan keterlambatan pengiriman barang yang akan berakibat pada jumlah barang yang tinggi yang mengantri di dek penerimaan, atau lebih buruk lagi barang-barang tersebut dapat melewati perusahaan tanpa tercatat sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat akurasi persediaan. Menurut Waters (2003) terdapat beberapa jenis persediaan menurut fisiknya antara lain :
 1. Bahan baku ( Raw material ) Bahan baku adalah item yang dibeli dari supplier untuk digunakan sebagai input dalam proses produksi. Bahan baku tersebut akan dimodifikasi ataupun diubah menjadi barang jadi. Jenis persediaan inilah yang akan menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu bahan baku kayu sengon yang digunakan untuk membuat plywood.
2. Bahan pembantu ( supplies ) Bahan pembantu adalah bahan yang digunakan untuk membantu proses produksi yang bukan merupakan bagian dari barang jadi. Sebagai contoh untuk membuat kayu lapis diperlukan lem perekat antar veneer.
3. Persediaan barang dalam proses ( work in process ) Barang dalam proses adalah barang setengah jadi yang masih harus diproses atau diolah lebih lanjut untuk menjadi produk akhir.
4. Persediaan barang jadi ( finished goods ) Barang jadi merupakan produk akhir yang telah selesai diolah yang siap untuk dijual , didistribusikan maupun disimpan. Manajemen persediaan yang efisien akan membantu organisasi dalam menurunkan lead time persediaan dan juga perusahaan akan mendapatkan keunggulan kompetitif seiring memperoleh kepercayaan dari konsumen (Siali et al, 2013).
Terdapat empat fungsi persediaan menurut Heizer dan Render (2008) yaitu :
1. Decouple atau pemisahan beberapa tahapan dari proses produksi. Sebagai contoh , jika perusahaan mengalami fluktuasi persediaan , maka persediaan tambahan mungkin akan diperlukan untuk melakukan decouple proses produksi dari pemasok.
2. Melakukan decouple perusahaan dari fluktuasi permintaan serta menyediakan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi pelanggan .
3. Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pebelian dalam jumlah yang besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang.
 4. Melindungi dari inflasi dan kenaikan harga. Dikarenakan kemungkinan terjadi ketidakstabilan ekonomi maka barang barang dalam persediaan akan terhindar dari hal tersebut. . Istilah persediaan (inventory) sendiri menunjukkan segala sesuatu atau sumber-sumber daya perusahaan yang disimpan dengan tujuan sebagai antisipasi pemenuhan permintaan (Handoko, 2008). Menurut Waters (2003) terdapat tiga macam jenis persediaan yaitu bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi. Persediaan bahan mentah ( raw materials ) merupakan barang-barang yang tiba dari pemasok dan disimpan sampai diperlukan. Sedangkan persediaan barang dalam proses ( work in process ) merupakan barang-barang hasil dari proses produksi tetapi masih perlu diproses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi. Persediaan barang yang telah selesai diproses inilah yang disebut dengan persediaan barang jadi ( finished goods). Sumber daya- sumber daya ini sering dapat dikendalikan secara lebih efektif melalui penggunaan berbagai sistem atau model manajemen persediaan. Dalam melakukan penyimpanan pastinya terdapat beberapa biaya yang perlu dipertimbangkan (Handoko, 2008) ,yaitu :

1. Biaya penyimpanan ( holding costs / carrying costs ) Biaya penyimpanan merupakan

biaya-biaya yang terkait secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan persediaan biasanya 11 berkisar antara 12 sampai 40% dari harga barang. Sedangkan untuk perusahaan manufaktur biasanya berkisar pada 25%.
 2. Biaya pemesanan ( order costs ) Biaya pemesanan yaitu biaya yang berasal dari pembelian pesanan dari supplier. Biaya pemesanan dapat meliputi biaya telephone, biaya pengepakan, biaya pengiriman , dan lain-lain.
3. Biaya penyiapan (setup costs ) Biaya ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli tetapi diproduksi sendiri oleh perusahaan. Biaya penyiapan ini meliputi biaya mesin, biaya persiapan tenaga kerja langsung , biaya scheduling, biaya ekspedisi , dan lain-lain.
4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan ( shortage costs ) Biaya ini timbul jika persediaan yang ada tidak dapat mencukupi permintaan. Biaya ini merupakan biaya yang paling sulit diperkirakan. Shortage costs dapat meliputi biaya kehilangan penjualan, kehilangan konsumen, biaya pemesanan khusus, terganggunya operasi , dan lain-lain. 5. Biaya Pembelian ( purchasing cost ) Biaya pembelian merupakan harga per unit atau per satuan apabila barang dibeli dari pihak luar , atau biaya produksi per unit apabila barang diproduksi sendiri oleh perusahaan

Perishable Item (skripsi dan tesis)

 Perishable item adalah produk/barang yang memiliki waktu siklus hidup pendek atau dengan kata lain mudah kadaluwarsa. Produk-produk yang mudah kadaluwarsa adalah bahan makanan dan bahan kimia yang jika dikonsumsi  melewati batas waktu kadaluwarsanya akan menyebabkan efek samping yang tidak baik bagi kesehatan. Selain berbahaya bagi tubuh, produk yang kadaluwarsa sudah jelas merugikan perusahaan karena setelah produk tersebut memasuki masa kadaluwarsa, produk tersebut tidak bisa dijual lagi. Bahkan permintaan pelanggan menurun saat mendekati tanggal kadaluwarsanya (Hsu, 2012). Produk yang kadaluwarsa harus segera dikeluarkan dari gudang penyimpanan sehingga tidak semakin meningkatkan biaya simpan. Disisi lain, dengan adanya produk yang kadaluwarsa menyebabkan persediaan terlalu sedikit dan dapat menyebabkan tidak terpenuhinya permintaan sehingga menyebabkan adanya keuntungan yang hilang (Rikardo et al., 2015). Pengendalian persediaan untuk produk yang bersifat perishable lebih sulit, terlebih apabila permintaan produk tersebut fluktuatif dan tidak pasti. Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan akibat hal tersebut, sebagian perusahaan menyiasatinya dengan menyediakan persediaan kebutuhan bahan baku yang banyak. Namun persedian bahan baku yang berlebih, menimbulkan biaya kadaluwarsa yang besar dan kerugian akibat kehilangan penjualan (Suryajaya, Octavia, & Widyadana, 2012).
Biaya-biaya yang hilang akibat bahan baku yang kadaluwarsa ini yaitu biaya pembelian, biaya simpan, biaya transportasi, dan biaya pemesanan dan biaya akibat kekurangan produk (kehilangan penjualan). Produk/barang yang mudah kadaluwarsa juga akan mengalami deterioration. Deterioration adalah penurunan nilai yang mengakibatkan kerusakan pada suatu produk. Cepat lambatnya deterioration tergantung pada sistem penyimpanan produk, terlebih lagi produk segar serti buah-buahan, sayuran ataupun daging. Waktu kadaluwarsa produk menunjukan waktu terakhir kapan produk tesebut dapat digunakan. Meskipun tingkat penurunan nilai cukup lambat, hal tersebut tetap berpengaruh pada sistem penyimpanan dan tidak bisa di abaikan. Klasifikasi penyimpanan produk gudang berdasarkan hal berikut (Goyal & Giri, 2001) : 1. Keusangan/kuno/ketinggalan jaman. Hal ini merujuk pada kehilangan nilainya akibat perkembangan teknologi atau peluncuran produk baru sehingga produk lama menjadi tidak muktahir lagi.  2. Penurunan nilai. Hal ini merujuk pada kerusakan, cacat produksi, penguapan dan sebagainya yang terjadi pada produk. Misalnya bahan makanan, darah, film fotografi yang waktu penggunaan memiliki batas maksimal dan setelah itu tidak bisa digunakan sama sekali. 3. Tidak mengalami kerusakan/penurunan

Biaya Persediaan (skripsi dan tesis)

Biaya persediaan seringkali sulit dideteksi karena sebagian besar pengeluaran yang dikeluarkan untuk persediaan tidak memiliki catatan yang pasti dan nominalnya selalu berubah akibat dipengaruhi banyak faktor. Salah satu contohnya yaitu menentukan biaya persiapan yang biasanya hanya ditentukan oleh catatan perusahaan, namun sulit untuk memisahkan komponen biaya pemesanan variabel dan tetap. Masalah dalam keputusan persediaan dapat diatasi dengan menggunakan kriteria ekonomis, dimana struktur biaya menjadi syarat mutlak. Struktur biaya ini memuat biaya persediaan yang termasuk semua pengeluaran dan kerugian akibat adanya persediaan. Biaya persediaan ini di dalam perusahaan secara umum dibedakan menjadi empat jenis yaitu (Zulfikarijah, 2005) :

 1. Biaya pembelian (purchasing cost) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang, jumlahnya tergantung pada jumlah barang yang dibeli dan harga per unit. Biaya ini menjadi saat penting ketika harga barang dipengaruhi oleh ukuran pembelian dengan adanya diskon harga (price discount/price break) dimana harga per unit akan menurun pada saat jumlah pembelian  meningkat dan sebaliknya. Dalam praktek konsep ini jarang dimasukkan dalam biaya total pembelian karena diasumsikan bahwa harga barang per unit tidak dipengaruhi oleh jumlah barang yang dibeli, sehingga pembelian untuk periode tertentu (satu tahun) konstan dan tidak berpengaruh pada pengoptimalan jumlah barang yang harus dipesan.

2. Biaya pengadaan (procurement cost) merupakan biaya yang berhubungan dengan pembelian barang yang terdiri dari biaya pemesanan (ordering cost) apabila barang yang diperlukan berasal dari luar perusahaan. Biaya ini meliputi semua pengeluaran yang disebabkan oleh adanya kegiatan mendatangkan barang dari luar seperti biaya menentukan pemasok, pengetikan pemesanan, pengiriman pesanan, biaya pengangkutan, biaya penerimaan, dan sebagainya. Biaya lainnya yaitu biaya persiapan (setup cost) yang muncul akibat adanya kegiatan mempersiapkan produksi suatu barang yang berasal dari pabrik meliputi biaya menyusun peralatan produksi, menyetel mesin, mempersiapkan gambar kerja, dan sebagainya. Dalam bebapa kasus, biaya persiapan ini bisa sangat tinggi contohnya biaya yang diperlukan untuk menyalakan boiler batubara. Biaya ini seringkali diperhitungkan sebagai biaya tetap yang dapat berkurang akibat perubahan cara operasi pendesainan dan manajemen

. 3. Biaya penyimpanan (carrying cost/holding cost) merupakan semua pengeluaran yang disebabkan oleh adanya kegiatan menyimpan barang dalam periode waktu tertentu. Biaya ini diwujudkan dalam bentuk prosentase nilai rupiah per unit waktu. Biaya-biaya yang termasuk didalamnya adalah :

 a. Biaya modal (cost of capital) diukur sebagai prosentase nilai persediaan untuk periode waktu tertentu.

b. Biaya penyimpanan (cost of storage) adalah biaya yang dikeluarkan untuk tempat/gudang penyimpanan barang yang didalamnya termasuk biaya tempat, asuransi dan pajak.

 c. Biaya keusangan/kadaluwarsa (obselence cost) atau sama dengan biaya kerusakan (deterioration). Penyimpanan barang dalam waktu yang relatif lama dapat berakibat pada menurunnya nilai barang yang dapat disebabkan 16 oleh adanya perubahan teknologi, model, dan tren konsumen. Biaya ini diukur dengan menghitung besarnya nilai jual barang tersebut. d. Biaya kehilangan (loss cost) terjadi karena kehilangan penjualan akibat barang yang digudang tidak dapat dijual lagi akibat mengalami kerusakan.

 e. Biaya asuransi (insurance cost). Bahaya yang terjadi pada saat penyimpanan persediaan adalah bahaya yang tidak dapat dikendalikan seperti bencana alam, kebakaran, dan sebagainya. beberapa perusahaan besar mengasuransikan persediannya untuk mengantisipasi kerugian tersebut.

 4. Biaya kekurangan persediaan (stockout cost). Biaya ini merefleksikan konsekuensi ekonomis yang disebabkan karena kehabisan persediaan. Kondisi ini merugikan perusahaan karena proses bisnis perusahaan akan terganggu dan kesempatan untuk memperoleh peluang/keuntungan akan hilang karena pelanggan bisa pindah ke perusahaan lain akibat permintaannya tidak terpenuhi yang pada akhirnya berpengaruh pada citra perusahaan. Biaya-biaya yang termasuk didalamnya adalah : a. Jumlah barang yang tidak terpenuhi diukur berdasarkan kehilangan peluang untuk memenuhi permintaan konsumen atau yang biasa disebut biaya penalty dengan satuan rupiah per unit. b. Waktu pemenuhan. Kekurangan persediaan berakibat pada lambatnya waktu penyelesaian barang karena adanya waktu menganggur pada saat perusahaan harus memesan persediaan, waktu menganggur ini merupakan biaya kehilangan pendapatan. Pengukuran biaya ini berdasarkan waktu yang diperluakn untuk mengisi gudang dengan satuan rupiah per satuan waktu c. Biaya pengadaan darurat seringkali diperlakukan sebagai upaya untuk memenuhi permintaan konsumen dalam kondisi kehabisan persediaan, sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar dibandingkan kondisi normal. Pengukurannya berdasarkan pada pemesanan setiap kali kehabisan persediaan

Masalah dalam Persediaan (skripsi dan tesis)

Mengelola persediaan tidak lepas dari berbagai permasalahan yang muncul baik dari internal perusahaan maupun eksternal perusahaan. Permasalahan tersebut menyebebabkan sistem persediaan pada seluruh jaringan rantai pasok tidak efektif. Perusaahaan sering kali dihadapi dengan permasahan yang bervariasi terkait dengan perilaku individu maupun organisasi. Beberapa hambatan dalam mengelola persediaan diseluruh jaringan rantai pasok dan memiliki peluang besar untuk meningkatkan pengaturan serta pengawasan yaitu sebagai berikut (Lee & Billington, 1992) :

 1. Tidak ada metrik yang jelas Kinerja rantai pasok banyak terkait dengan persediaan, misalnya tingkat perputaran inventory (inventory turn rate), rata-rata lama permintaan atau kebutuhan yang bisa dipenuhi oleh persediaan (inventory days of supply), banyaknya persediaan yang kadaluwarsa, dan sebagainya. Walaupun ukuranukuran tersebut relatif jelas definisi dan cara mengukurnya, namun untuk memilih mana yang pas dan berapa target yang harus dicapai bukan hal yang mudah di kondisi nyata. Ukuran kinerja harus bisa mencerminkan kepentingan pemasok dan juga pelanggan yang sebisa mungkin didefinisikan bersama dengan target yang sama pula.

2. Tidak memadainya pelayanan pelanggan Kinerja rantai pasok pada akhirnya harus diukur dengan tingkat tanggapannya terhadap pelanggan. Namun, ada perbedaan tanggapan terhadap pelayangan pelanggan pada setiap perusahaan. Sebagian perusahaan mengukur pelayanannya dengan tingkat persediaan barangnya dimana permintaan pelanggan dapat dipenuhi sebelum waktu yang disepakati. Perusaahaan lain dengan memenuhi pesanan pelanggan meskipun tidak sekaligus misalnya ketika ada pelanggan yang memesan komputer, printer, aksesoris dan software dalam sekali order sedangkan saat itu agen hanya memiliki beberapa diantaranya, maka ia akan memenuhi pesanan yang kosong setelah mendapatkannya dari agen/distributor. 3. Status pesanan tidak akurat Ketika pelanggan memesan suatu produk ke pemasok, mereka berharap bisa mendapatkan informasi kapan pesanan tersebut bisa dipenuhi dan bagaimana perkembangan pesanan mereka dari waktu ke waktu terutama untuk barang yang memiliki nilai tinggi. Namun sering terjadi supplier tidak mampu memberikan informasi akurat yang mengakibatkan perasaan ketidakpastian tinggi dan mendorong pelanggan untuk menyimpan cadangan persediaan yang lebih banyak.

 4. Sistem informasi tidak handal Perusahaan tidak akan bisa memberikan informasi status pesanan jika sistem informasi antar bagian didalam perusahaan maupun sistem yang bisa menghubungkan perusahaan dengan pelanggan tidak handal. Sering kali tiap bagian tidak memiliki informasi yang sama karena belum saling terintegrasi sehingga terkadang jumlah persediaan di gudang dengan catatan penjualan berbeda.
5. Mengabaikan dampak ketidakpastian Banyak sumber ketidakpastian dalam rantai pasok, beberapa diantaranya yaitu lead time supplier dan performansi pengiriman, kualitas bahan baku, waktu proses produksi (termasuk downtimes mesin dan reworks), waktu transit dan jumlah permintaan. Untuk mengurangi dampak ketidakpastian, manajer rantai pasok harus memahami sumbernya dan seberapa besar dampak yang ditimbulkan. Namun, sering kali mereka tidak memiliki dokumen dan catatan mengenai hal tersebut sehingga yang terjadi persediaan sebuah barang berlebihan sedangkan barang yang lain mengalami kekurangan atau salah memperhitungkan lead time yang dibutuhkan untuk perpindahan material di sepanjang jaringan supply chain.
 6. Kebijakan persediaaan terlalu sederhana Memahami dan mencatat sumber ketidakpastian adalah hal pertama yang harus dilakukan sebelum membuat sebuah kebijakan. Banyak model persediaan yang menggunakan berbagai asumsi dan tidak bisa diterapkan di lapangan. Perusahaan sering menyamaratakan kebijakan persediaan untuk semua item yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Ada yang lead time tinggi namun permintaan relatif stabil, ada yang kebutuhannya sangat fluktuatif namun bisa diprediksi. Kebijakan safety stock, reorder point, dan kebijakan lainnya harus disesuaikan dengan itemnya. 7. Diskriminasi terhadap pelanggan internal Produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang sudah terintegrasi dengan perusahaan lain, mengirim produknya langsung ke perusahaan tersebut karena mendapat keuntungan lebih dibandingkan menjualnya langsung. Sudah  menjadi rahasia umum bahwa pelayanan yang diberikan kepada pelanggan yang membeli langsung ke mereka tidak sebaik ke pelanggan yang membeli melalui mitra perusaahaan. Ketika pelanggan yang membeli langsung, maka perusahaan akan menundanya dan menyebabkan backorder.

8. Koordinasi yang buruk Pelanggan yang ingin memesan berbagai macam produk dari beberapa pemasok yang berbeda dalam satu kali pemesanan, maka perusahaan akan melakukan kordinasi untuk memenuhi pesanan tersebut. Produk yang dipesan akan dikirim secepat mungkin ke pelanggan ketika tiba. Koordinasi yang baik antar pemasok sangat penting dan memberikan target waktu. Namun, target waktu yang dibuat tanpa pertimbangan pada akhirnya tidak berguna dan sering terlupakan. Akibat dari buruknya kordinasi menyebabkan keterlambatan, pelayanan yang buruk, meningkatnya persediaan, dan pada akhirnya menyebabkan kerugian.

9. Analisis metode pengiriman yang tidak lengkap Mengganti moda transportasi dapat memberikan efek yang signifikan pada biaya investasi dan performansi pelayanan. Meskipun memilih moda transportasi berdasarkan pertimbangan ekonomis, transportasi juga merupakan faktor yang penting. Memilih moda transportasi harus disesuaikan dengan jenis dan nilai barang yang diangkut. Ketika perusahaan mencari solusi untuk meminimalkan lead time pengiriman yang panjang, transportasi udara biasanya tidak masuk sebagai pertimbangan, padahal ini tidak selalu benar. Perusaahan yang melakukan analisis transportasi ternyata bisa meminimalkan biaya pengiriman dari transportasi laut ke udara. Untuk produk yang relatif kecil volumenya dan membutuhkan kecepatan respon yang tinggi, ongkos transportasi yang mahal bisa dibayar dengan penghematan dari berkurangnya tumpukan persediaan.

10. Biaya-biaya persediaan yang tidak sesuai Analisis biaya-biaya dan investasi dalam persediaan menjadi hal sangat penting dalam pengambilan keputusan. Banyak variasi biaya yang berbedabeda bahkan dalam perusahaan yang sama. Hal ini terjadi karena tidak ada  standar yang jelas untuk menentukan mana yang paling berpengaruh dalam peningkatan biaya. Sebagian besar perusahaan hanya memasukkan biaya modal, pergudangan dan penyimpanan. Padahal, komponen biaya persediaan termasuk biaya kerusakan bagi produk yang memiliki siklus hidup pendek sehingga semakin lama disimpan akan semakin menurunkan nilainya dan biaya akibat pemrosesan kembali untuk produk yang mengalami kerusakan atau cacat dan bisa diolah kembali.
 11. Hambatan dalam organisasi Beberapa eselon dalam rantai pasok memiliki iklim dan budaya organisasi yang berbeda-beda, dimana setiap organisasi memiliki ukuran performansi dan evaluasi reponsibilitas masing-masing. Hambatan organisasi mungkin bisa mengganggu kordinasi pengawasan persediaan, termasuk perbedaan dalam objek dan metrik performansi, ketidaksetujuan pada penanggung jawab persediaan, dan ketidakinginan untuk berkomitmen saling membantu. Sebagian besar yang memiliki struktur organisasi tidak terpusat dan beberapa diantaranya sering mengalami hambatan dalam pengawasan persediaan

. 12. Proses desain produk tanpa kordinasi dengan jaringan supply chain Desain produk baru terjadi dengan cepat dan ketepatan produksi serta perakitan adalah hal yang kritis untuk efektivitas biaya dan kualitas, namun implikasinya bagi persediaan dalam rantai pasok sering tidak dipahami dengan baik. Hal itu mengakibatkan persediaan meningkatkan biaya distribusi dan penyimpanan. Sama halnya dengan memperkenalkan produk tanpa dukungan perencanaan rantai pasok yang jelas menyebabkan masalah ketidaktersedianya produk dan panjangnya waktu lead time yang akan berakibat pada kesuksesan suatu produk.
13. Keputusan rantai pasok yang tidak terintegrasi Ketika perusahaan menempatkan pabrik atau pusat distribusi dalam jaringan rantai pasok akan berimplikasi pada biaya operasional tetap dan biaya logistik. Akibat perubahan jaringan pada operasional, jaringan yang terletak jauh dari perusahaan sering kali mengalami keterlambatan pelayanan, keterlambatan pengiriman produk, lead time yang panjang, dan resiko lain yang terjadi pada saat proses pengiriman produk.
14. Rantai pasok yang belum tuntas Memaksimalkan kinerja internal rantai pasok dengan melibatkan supplier ekternal dan konsumen akan meningkatkan operasional internal. Beberapa perusahaan yang hanya mengutamakan kepentingan pelanggan langsungnya seperti retail dan perusahaan lain sebagai jaringan terakhir dalam rantai pasok mereka. Perusahaan dengan hirarki pusat distribusi menjadi perhatiannya hanya memperhatikan biaya persediaan dan pelayanan hanya pada pusat distribusi utama. Mereka mengutamakan pelayan yang diberikan kepada dealer yang menjadi pelanggan, bukan kepada end user. Pemberian pelayana yang baik kepada dealer bukan berarti memberikan pelayanan yang baik pula kepada end user

Fungsi dan Tujuan Persediaan (skripsi dan tesis)

Adanya persediaan disebabkan karena tidak samanya jumlah permintaan dengan persediaan dan waktu yang dibutuhkan untuk memproses bahan baku menjadi produk. Perencanaan dan pengendalian persediaan berguna untuk menjadikan proses produksi dan pemasaran tetap stabil saat permintaan meningkat ataupun menurun. Persediaan bahan baku digunakan untuk mengurangi ketidakpastian produksi akibat fluktuasi pasokan bahan baku, persediaan penyangga dan komponen digunakan untuk mengurangi ketidakpastian produksi akibat kerusakan mesin, dan persediaan produk digunakan untuk memenuhi fluktuasi permintaan yang tidak segera dipenuhi oleh produksi mengingat produksi membutuhkan bahan baku (Kusuma, 2001). Pesediaan dibutuhkan karena adanya lead time antar operasi, pembelian bahan baku dan pendistribusian bahan baku ke setiap titik pemasaran. Lead time adalah waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu produk atau dengan kata lain lead time adalah waktu tunggu. Terdapat empat faktor yang dijadikan sebagai fungsi perlunya persediaan, diantaranya sebagai berikut (Yamit, 2003) :

1. Faktor waktu menyangkut lamanya proses produksi dan distribusi sebelum barang jadi sampai kepada konsumen.  2. Faktor ketidakpastian waktu dari supplier menyebabkan perusahaan memerlukan persediaan bahan baku agar tidak menghambat proses produksi dan pengiriman barang kepada konsumen. 3. Faktor ketidakpastian penggunaan dari dalam perusahaan yang disebabkan kesalahan peramalan, kerusakan mesin, keterlambatan operasi, bahan cacat dan berbagai kondisi lainnya. 4. Faktor ekonomis karena adanya keinginan perusahaan untuk mendapatkan biaya rendah dalam memproduksi atau membeli item dengan menentukan jumlah yang paling ekonomis. Pembelian dalam jumlah besar memungkinkan perusahaan mendapat potongan harga yang dapat menurunkan biaya pembelian dan biaya transportasi per unit menjadi lebih rendah.

Persediaan dapat membantu fungsi-fungsi penting yang akan menambah fleksibilitas operasi perusahaan. Terdapat tujuh tujuan penting dari persediaan, yaitu sebagai berikut (Zulfikarijah, 2005) :
1. Fungsi ganda. Fungsi utama persediaan adalah memisahkan proses produksi dan distribusi. Pada saat penawaran atau permintaan item tidak teratur, maka mengamankan persediaan merupakan keputusan terbaik. (Finished goods) Alat-alat kantor (Supplies) Bahan baku (Raw materials) Idle Dijual Digunakan Keadaan Persediaan Fungsi selanjutnya Barang dalam proses (In-process goods) Tidak Lengkap Ditransformasikan Barang jadi  2. Mengantisipasi adanya inflasi. Persediaan dapat mengantisipasi perubahan harga dan inflasi, penempatan persediaan kas dalam bank merupakan pilihan yang tepat untuk pengendalian investasi. 3. Memperoleh diskon terhadap jumlah persediaan yang dibeli. 4. Menjaga adanya ketidakpastian. Dalam sistem persediaan, terdapat ketidakpastian dalam hal : permintaan, penawaran, dan waktu tunggu. Persediaan pengaman barang jadi akan mengantisipasi terjadinya lonjakan permintaan untuk menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Persediaan bahan baku mengantisipasi ketidakpastian pengiriman oleh penjual (supplier) dan persediaan barang setengah jadi (work in process) juga harus dijaga untuk mengantisipasi terjadinya perubahan penjadwalan yang cepat. 5. Menjaga produksi dan pembelian yang ekonomis dengan menentukan ukuran lot pembelian dengan mempertimbangkan waktu tunggu. 6. Mengatisipasi perubahan permintaan dan penawaran. 7. Memenuhi kebutuhan secara terus menerus. Persediaan dipengaruhi oleh keputusan lokasi pabrik, secara teknis persediaan bergerak diantara tahapantahapan produksi dan didalam pabrik dapat juga di klasifikasikan dalam persediaan transit. Kadangkala persediaan transit ini juga disebut dengan pipa saluran persediaan karena berada dalam distribusi pipa saluran.

Definisi dan Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

Pengendalian persediaan merupakan salah satu aspek utama dan kritis untuk mencapai kesuksesan sebuah perusahaan. Persediaan adalah sumberdaya menganggur (idle resource) yang menunggu proses lebih lanjut berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga (Nasution, 2003). Persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang. Persediaan dapat berbentuk bahan baku yang disimpan untuk diproses, komponen yang diproses, bahan dalam proses (work in process) pada proses manufaktur, dan barang jadi yang disimpan untuk dijual (Kusuma, 2001). 6 Inventory adalah persediaan barang fisik yang berada pada lokasi tertentu pada waktu tertentu. Persediaan dibutuhkan karena permintaan penawaran terkadang tidak sesuai disebabkan alasan fisik dan ekonomi (Narasimhan, W, & Billington, 1995). Permintaan sebuah produk tinggi atau rendah dipengaruhi oleh berbagai macam kondisi misalnya inflasi-deflasi, musim ataupun dari pihak produsen sendiri karena pemberian diskon besar-besaran. permintaan akan menurun ketika terjadinya inflasi yang mengakibatkan produk-produk di pasaran mengalami kenaikan harga. Sebaliknya, permintaan meningkat ketika produk di pasaran mengalami penurunan harga. Contoh lainnya permintaan kebutuhan sekolah seperti tas, seragam dan buku tulis akan meningkat ketika memasuki tahun ajaran baru. Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah barang yang disimpan baik berupa bahan baku, work in process, maupun produk jadi dengan tujuan untuk mengantisipasi melonjaknya permintaan sehingga tidak bisa memenuhi kepuasan pelanggan. Namun disisi lain, persediaan yang berlebihan juga tidak diharapkan terjadi karena akan meningkatkan biaya operasional perusahaan akibat biaya simpan yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Keberadaan persediaan disatu sisi di anggap sebagai pemborosan (waste) sehingga dapat dikatakan sebagai beban (liability) yang harus dihilangkan, tetapi disisi lain juga dianggap sebagai kekayaan atau aset yang sangat diperlukan untuk menjamin kelancaran pemenuhan permintaan (Prasetyo, Nugroho, & Pujiarti, 2006).

Dalam sistem manufaktur, persediaan dapat dibagi atas beberapa jenis atau klasifikasi, diantaranya sebagai berikut (Indrajit & Djokopranoto, 2003):

1. Bahan baku (raw material) adalah bahan mentah yang belum diolah, yang akan diolah menjadi barang jadi, sebagai hasil utama dari perusahaan yang bersangkutan.

2. Barang setengah jadi (semi finished products) adalah hasil olahan bahan mentah sebelum menjadi barang jadi, yang sebagian akan diolah lebih lanjut menjadi barang jadi dan sebagian kadang-kadang dijual apa adanya untuk menjadi bahan baku perusahaan lain.

 3. Barang jadi (finished products) adalah barang yang sudah selesai diolah dan merupakan hasil utama perusahaan yang bersangkutan serta siap untuk dipasarkan. 4. Barang umum dan suku cadang (general materials and spare parts) adalah segala jenis barang dan suku cadang yang digunakan untuk operasional perusahaan. Barang ini juga biasa disebut barang pemeliharaan, perbaikan, dan oparasi atau MRO materials (maintenance, repair and operation). 5. Barang utnuk proyek (work in progress) adalah barang-barang yang ditumpuk menunggu pemasangan dalam suatu proyek baru. 6. Barang dagangan (commodities) adalah barang yang dibeli sudah berupa produk jadi dan disimpan di gudang untuk menunggu penjualan kembali dengan keuntungan tertentu

Pengaruh Role Conflict terhadap Komitmen Independensi Audit Internal (skripsi dan tesis)

Konflik peran didefinisikan oleh Leigh et al. (dalam Amilin dan Dewi, 2008) menyatakan bahwa konflik peran merupakan hasil dari ketidakkonsistenan harapan-harapan berbagai pihak atau persepsi adanya ketidakcocokan antara tuntutan peran dengan kebutuhan, nilai-nilai individu, dan sebagainya. Sebagai akibatnya, seseorang yang mengalami konflik peran akan berada dalam suasana terombang-ambing, terjepit, dan serba salah. Robbins (2006) menyatakan bahwa role conflict (konflik peran) merupakan suatu situasi dimana seorang individu dihadapkan pada pengharapan peran yang berlainan. Konflik peran tersebut akan muncul apabila individu menemukan bahwa patuh pada tuntutan satu peran menyebabkan dirinya kesulitan mematuhi tuntutan peran yang lainnya. Auditor internal juga dapat mengalami personal role conflict, ketika diminta untuk berperan dalam berbagai cara yang tidak konsisten dengan nilainilai pribadi mereka atau diharuskan bertindak melawan serta melaporkan pelanggaran rekan kerja mereka. Hal itu dikemukakan dalam penelitian Ahmad dan Taylor (2009) bahwa nilai pekerjaan utama auditor internal memiliki komitmen pribadi untuk melatih independensi, dipengaruhi oleh sifat dan sejauh mana konflik peran mereka. Dengan demikian auditor internal dapat berdampak negatif pada kemampuan mereka untuk melaksanakan fungsi termasuk kemampuan untuk menggunakan independensi. Hasil penelitian Ahmad dan Taylor (2009) konflik peran berpengaruh negatif signifikan terhadap komitmen independensi auditor internal. Dimensi yang berpengaruh paling besar terhadap komitmen independensi adalah konflik antara nilai personal auditor dengan persyaratan dan ekspektasi manajemen dan profesi audit internal (dimensi konflik peran) serta wewenang dan tekanan waktu yang diamali auditor internal (dimensi ambiguitas peran). Berdasarkan teori Higiene yang dikembangkan juga oleh Herzberg, yaitu apabila kondisi kerja memadai seperti konflik peran yang dihadapi kecil, maka dapat menentramkan pekerjaan seperti meningkatnya sikap komitmen independensi. Dengan kata lain, meningkatnya konflik peran yang dialami oleh seorang auditor internal akan berakibat pada turunnya perusahaan tersebut lebih mencurahkan tenaganya untuk mengatasi konflik peran yang dihadapi daripada menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Pengaruh Role Ambiguity terhadap Komitmen Independensi Audit Internal (skripsi dan tesis)Pengaruh Role Ambiguity terhadap Komitmen Independensi Audit Internal (skripsi dan tesis)

Ambiguitas peran didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana informasi yang berkaitan dengan suatu peran tertentu kurang atau tidak jelas (Kahn etal. dalam Beauchamp et al. , 2004). Rizzo et al. (1970 dalam Michael et al. , 2009) menyatakan bahwa ambiguitas peran menunjukkan ambivalensi saat apa yang diharapakan tidak jelas karena kekurangan informasi mengenai suatu peran dan apa yang dibutuhkan dalam suatu tugas. Menurut Hall (2004) dalam Rahman et al. (2007), ketidakjelasan peran atau role ambiguity dianggap sebagai titik awal dari pemberdayaan psikologis dari individu. Individu yang tidak memiliki tanggung jawab yang jelas dan tidak tahu bagaimana untuk mencapai hal tersebut, maka mereka cenderung tidak mempercayai bahwa mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan dan kemampuan untuk mengerjakan sebuah tugas dengan layak atau merasa kurang layak pada pekerjaannya. Agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, para auditor memerlukan keterangan tertentu yang menyangkut hal-hal yang diharapkan untuk mereka lakukan dan hal-hal yang tidak harus mereka lakukan. Penelitian Angga Prasetyo (2011) bahwa konflik peran memiliki efek negatif yang signifikan pada komitmen independensi auditor internal, dan ambiguitas peran (role ambiguitas) memiliki berpengaruh negatif signifikan terhadap komitmen terhadap independensi auditor internal, karena apabila individu tidak jelas akan peran utama mereka hingga kurangnya informasi yang dibutuhkan bagi kesuksesan kinerja peran tersebut akan mengakibatkan kinerja menurun. Ambiguitas peran dapat menyebabkan rentan terhadap ketidakpuasaan kerja hingga kejenuhan yang mengakibatkan turunnya komitmen independensi. Dalam penelitian Schuller et al., Beehret al., dan Babin (dalam Koustelios, 2004), ditemukan bahwa ambiguitas peran mengakibatkan kepuasan kerja yang rendah, absenteeism, low involvement, dan tekanan kerja. Ambiguitas peran dapat menyebabkan perusahaan rentan terhadap ketidakpuasan kerja hingga kejenuhan sehingga mengakibatkan turunnya komitmen independensi audior internal. Sedangkan dalam teori ambiguitas peran berhubungan dengan kurangnya keyakinan bahwa seorang karyawan merasakan tentang tanggungjawabnya dan wewenang dalam perusahaan (Lawrence et a1,2008). Menilai peran dari profesi internal auditor itu apakah terdapat unsur ambiguitas atau tidak, internal auditor diminta untuk menyatakan tingkat kejelasan yang mereka alami dalam tentang ambiguitas peran menjelaskan bahwa ambiguitas peran dalam beberapa sub bidang tidak menyebabkan auditor internal merasakan komitmen independensi mereka melemah, akan tetapi dalarn subbidang yang lainnya memiliki pengaruh terhadap komitmen independensi.

Dimensi atau Indikator Independensi Auditor Internal (skripsi dan tesis)

Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untukmemenuhi kewajiban profesionalismenya; memberikan opini yang objektif, tidakbias; dan tidak dibatasi; dan melaporkan masalah apa adanya; bukan melaporkansesuai keinginan eksekutif atau lembaga (Sawyer, 2009:35). Menurut Arens, Elder,dan Beasley (2008: 111) dalam independensi dibagi menjadi dua, yaitu independensidalam fakta (independence in fact) ada apabila auditor senyatanya mampumempertahankan sikap tidak bias sepanjang audit, dan independensi dalampenampilan (independence in appearance) adalah hasil dari intepretasi lain atasindependensi ini. Oleh karena itu, pada penelitian ini yang menjadi indikator untukvariabel independensi auditor internal adalah independence in fact dan independencein appearance. Dimensi atau indikator dari pelaksanaan independensi auditor internal menurut Nurjannah (2008) adalah sebagai berikut: 1. Kemandirian Auditor Kemandirian para pemeriksa internal dapat memberikan penilaianpenilaianyang tidak memihak dan tanpa prasangka, yang mana sangat diperlukan ataupenting bagi pemeriksaan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diperolehmelalui status organisasi dan sikap objektifitas dari para pemeriksa internal(auditor internal). a. Kemandirian Auditor Dilihat Dari Status Organisasi. Kemandirian auditor dilihat dari status organisasi adalah bahwa status organisasi dari bagian internal audit haruslah memberikan keleluasaan untuk memenuhi atau menyelesaikan tanggung jawab pemeriksaan yang diberikan kepadanya. Internal audit haruslah mendapat dukungan dari manajemen senior dan dewan, sehingga mereka akan mendapatkan suatu kerja sama dari pihak yang diperiksa dan dapat menyelesaikan pekerjaannya secara bebas dari berbagai campur tangan pihak lain. b. Kemandirian Auditor Dilihat Dari Sikap Objektifitas. Kemandirian auditor dilihat dari sikap objektifitas adalah sikap mental yang bebas dan yang harus dimiliki oleh pemeriksa internal (auditor internal) dalam melaksanakan pemeriksaan. Auditor internal tidak boleh menempatkan penilaian sehubungan dengan pemeriksaan yang dilakukan secara lebih rendah dibandingkan dengan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain atau menilai sesuatu berdasarkan hasil penilaian orang lain. Bukan hanya penting bagi auditor internal untuk memelihara sikap mental independen dan tanggung jawab mereka, akan tetapi penting juga bahwa pemakai laporan keuangan menaruh kepercayaan terhadap independensi tersebut. 2. Independensi dalam Kenyataan (Independence In Fact) Independensi dalam kenyataan adalah apabila dalam kenyataannya auditormampu mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang pelaksanaanauditnya. 3. Independensi dalam Penampilan (Independence In Appearance) Independensi dalam penampilan adalah hasil penilaian atau interpretasi pihaklain terhadap independensi auditor dalam menjalankan tugasnya. Mautz danSharaf (Sawyer, 2009:35), dalam karya terkenal mereka,”The Philosophy ofAuditing” (Filosofi Audit), memberikan beberapa indikator independensiprofesional. Indikator tersebut memang diperuntukkan bagi akuntan publik,tetapi konsep yang sama dapat diterapkan untuk auditor internal yang inginbersikap objektif. Indikator- indikatornya adalah sebagai berikut: a. Independensi dalam Program Audit 1) Bebas dari intervensi manajerial atas program audit. 2) Bebas dari segala intervensi atas prosedur audit. 3) Bebas dari segala persyaratan untuk penugasan audit selain yang memang disyaratkan untuk sebuah proses audit. b. Independensi dalam Verifikasi 1) Bebas dalam mengakses semua catatan, memeriksa aktiva, dan karyawan yang relevan dengan audit yang dilakukan. 2) Mendapatkan kerja sama yang aktif dari karyawan manajemen selama verifikasi audit. 3) Bebas dari segala usaha manajerial yang berusaha membatasi aktivitas yang diperiksa atau membatasi pemerolehan bahan bukti. 4) Bebas dari kepentingan pribadi yang menghambat verifikasi audit. c. Independensi dalam Pelaporan 1) Bebas dari perasaan wajib memodifikasi dampak atau signifikansi dari fakta-fakta yang dilaporkan. 2) Bebas dari tekanan untuk tidak melaporkan hal-hal yang signifikan dalam laporan audit. 3) Menghindari penggunaan kata-kata yang menyesatkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam melaporkan fakta, opini, dan rekomendasi dalam interpretasi auditor. 4) Bebas dari segala usaha untuk meniadakan pertimbangan auditor mengenai fakta atau opini dalam laporan audit internal.

  Komitmen Independensi (skripsi dan tesis)

 

Auditor Internal Selain komitemen yang berasal dari manajemen puncak, Menurut Roufiq (2010) mengungkapkan bahwa ada langkah awal dalam membangun independensi auditor internal adalah komitmen.Pengertian Komitmen menurut Hornby (Purba 2009:72) adalah suatu sikap kerja (job attitude) atau keyakinan yang merupakan cerminan kekuatan yang relatif dari keberpihakan, keterlibatan individu pada suatu organisasi dan kerelaan untuk bekerja keras dan memberikan energi serta waktu untuk sebuah pekerjaan (job) atau aktivitas.Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa komitmen merupakan perwujudan dan kerelaan seseorang dalam bentuk pengikatan dengan diri sendiri (individu) atau dengan organisasi yang digambarkan oleh besarnya usaha (tenaga, waktu dan pikiran) untuk mencapai tujuan pribadi dan visi bersama. Menurut Subiyanto (2013) Komitmen dari auditor internal terhadap independensi ini harus dituangkan dalam kode etik internal auditperusahaan dan dilaksanakan secara konsekwen serta tidak boleh memiliki kepentingan terhadap obyek atau aktivitas yang diauditnya, jika internal auditor memiliki keterkaitan dengan obyek audit yang mengakibatkan secara fakta auditor tidak independen. Komitmen terhadap independensi juga harus diimplementasikan oleh internal auditor dalam menetapkan metode, cara, teknik, dan pendekatan audit yang dilaksanakan. Kebebasan dan sikap mental internal auditor ini akan tercermin dari laporan internal audit yang lengkap, obyektif serta berdasarkan analisa yang cermat dan tidak memihak. Untuk mendukung independensi dan sikap mental obyektif ini, 2 hal utama yang perlu dilaksanakan adalah rotasi secara berkala penugasan pekerjaan internal audit dan review secara cermat terhadap laporan hasil internal audit serta prosesnya

Pengertian Independensi (skripsi dan tesis)

Arens dan Loebbecke diterjemahkan oleh Jusuf (2009) tentang independen bahwa: Independensi merupakan tujuan yang harus selalu diupayakan, dan itu dapat dicapai sampai tingkat tertentu, misalnya sekalipun auditor dibayar oleh klien, ia harus tetap memiliki kebebasan yang cukup untuk melakukan audit yang andal. Sedangkan dalam Kode Etik Akuntan Publik dalam Christiawan (2002:83) disebutkan bahwa”independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam melaksanakan tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas”. Adapun penjelasan tentang independensi menurut Mautz dan Sharaf (2008) menyatakan bahwa : Independensi merupakan suatu standar auditing yang penting, karena opini akuntan independen bertujuan untuk menambah kredibilitas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Jika akuntan tersebut tidak independen terhadap kliennya, maka opininya tidak akan memberikan tambahan apapun. Dalam buku Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP, 2009) seksi 220 PSA No. 04 alinea 2, dijelaskan bahwa”Independensi berarti tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum”. Sedangkan menurut Ralph Estes menyatakan pendapat mengenai”independensi adalah sebagai kondisi keterbukaan, netral, untuk atau terhadap pihak lain”. Sawyer diterjemahkan olehDesi Adhariani (2009:35) mengungkapkan bahwa: Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untuk memenuhi kewajiban profesionalismenya; memberikan opini yang objektif, tidak bias; dan tidak dibatasi; dan melaporkan masalah apa adanya; bukan melaporkan sesuai keinginan eksekutif atau lembaga. Adapun pengertian dari independensi selalu dihubungkan dengan objektifitas dalam internal auditor seperti yang dijelaskan oleh IIA dalam Mutchler (2003:235) sebagai berikut: Objectivity ia a mental attitude which internal auditors should maintain while performing engangements. The internal auditors should have an impartial, un-biasedattitude and avoid conflict of interest situations, as that would prejudice his/her desired characteristic of the environment in which the assurance services are performed by the individual orteam, it is desirable for the individual or team to be free from material conflicts of interest that threaten objectivity. Dengan arti : Objektifitas adalah sikap mental yang harus dimiliki oleh auditor internal dalam melaksanakan pekerjaannya. Auditor internal harus bersikap tidak memihak, berperilaku yang tidak bias dan menghindari situasi konflik kepentingan yang akan membuat auditor internal dapat melaksanakan penilaian yang sesuai dengan kenyataan. Independensi merupakan karakteristik yang diperoleh dari lingkungan sekitar dalam pelaksanaan assurance service yang dilakukan oleh satuan kerja dalam tim maupun individu yang harus bebas dari konflik kepentingan yang dapat mengancam penilaian yang objektif auditor internal. Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun meskipun ia bekerja atau mengabdi pada perusahaan, sebab bilamana tidak demikian halnya, bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, maka dengan otomatis ia akan kehilangan sikap independensi yang justru paling penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya. Berbagai definisi independensi telah disampaikan oleh para ahli dapat disimpulkan, sebagai berikut: 1. Independensi merupakan syarat yang sangat penting bagi profesi auditor untuk menilai kewajaran informasi yang disajikan oleh manajemen kepada pemakai laporan keuangan. 2. Independensi diperlukan oleh auditor untuk memperoleh kepercayaan dari klien maupun dari masyarakat, khususnya bagi para pemakai laporan keuangan. 3. Independensi diperlukan agar dapat kreadibilitas laporan keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen.

Pengertian Komitmen (skripsi dan tesis)

Pengertian komitmen menurut Hornby dalam Purba (2009:72) adalah Suatu sikap kerja (job attitude) atau keyakinan yang merupakan cerminan kekuatanyang relatif dari keberpihakan, keterlibatan individu pada suatu organisasi dan kerelaan untuk bekerja keras dan memberikan energi serta waktu untuk sebuah pekerjaan (job) atau aktivitas. Adapun pengertian komitmen menurut Purba (2009 : 73) mengungkapkan bahwa”komitmen merupakan suatu keadaan di mana individu telah mengikat tindakannya terhadap keyakinan yang sangat mendukung kegiatan dan keterlibatannya sendiri”. De Porter dan Hernacki dalam Sutarno dan Salimi Nurhadi (2006:67) menyatakan bahwa komitmen adalah tekad yang kuat, yang mendorong seseorang untuk mewujudkannya, terlepas dari beberapa rintangan yang mungkin dihadapi. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa komitmen merupakan perwujudan dan kerelaan seseorang dalam bentuk pengikatan dengan diri sendiri (individu) atau dengan organisasi yang digambarkan oleh besarnya usaha (tenaga, waktu dan pikiran) untuk mencapai tujuan pribadi dan visi bersama. Apabila seseorang itu mempunyai komitmen, maka ia akan selalu bekerja dengan penuh semangat dan sungguh-sungguh, serta akan berusaha menjalin kerjasama yang lebih baik antar sesama perusahaan. Selain itu, apabila seseorang mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaannya maka dapat diindikasikan seseorang tersebut mempunyai komitmen yang tinggi pula dan untuk mencapai tujuan pekerjaan yang telah ditetapkan suatu perusahaan, maka seseorang akan dituntut untuk memiliki komitmen yang tinggi yang merupakan wujud tanggung jawabnya terhadap pekerjaan. Secara konseptual terdapat tiga faktor yang mempengaruhi komitmen menurut Minner dalam Purba (2009: 73), yaitu: 1. Suatu keyakinan yang kuat dan menerima tujuan-tujuan serta nilai-nilai organisasi 2. Kemauan untuk melaksanakan upaya untuk kepentingan organisasi 3. Adanya suatu keinginan yang kuat untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi

Standar Profesi Audit Internal (skripsi dan tesis)

Standar profesional audit internal yang diterbitkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal dalam Pusdiklatwas BPKP (2008) membagi standar menjadi 2 kelompok, meliputi: 1. Standar Atribut a. Tujuan, kewenangan dan tanggung jawab harus dinyatakan secara formal, konsisten serta disetujui pimpinan dan dewan pengawas organisasi. b. Independen dan objektif harus dimiliki auditor internal dalam melaksanakan tugasnya. c. Keahlian dan kecermatan profesional harus dimiliki dalam melaksanakan penugasan, seperti pengetahuan, keterampilan dan kompetensi dalam menjalankan tanggung jawab. d. Program quality assurance fungsi audit internal harus dikembangkan dan dipelihara dengan terus memonitor efektivitasnya. 2. Standar Kinerja a. Pengelolaan Fungsi Audit Internal Dilakukan secara efektif dan efisien agar memberi nilai tambah bagi organisasi, dengan melakukan perencanaan, komunikasi dan persetujuan, pengelolaan sumber daya, penetapan kebijakan dan prosedur, koordinasi yang memadai dan menyampaikan laporan berkala pada pimpinan dan dewan pengawas. b. Lingkup Penugasan Fungsi audit internal melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian dan governance, dengan menggunakan pendekatan yang sistematis, teratur dan menyeluruh. c. Perencanaan Penugasan Auditor internal harus mengembangkan dan mendokumentasikan rencana untuk setiap penugasan yang mencakup ruang lingkup, sasaran, waktu dan alokasi sumberdaya. Di sini auditor internal harus melakukan pertimbangan perencanaan, menentukan sasaran penugasan, menetapkan ruang lingkup penugasan, menentukan sumber daya dan menyusun program kerja yang menetapkan prosedur untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi dan mendokumentasikan informasi selama penugasan. d. Pelaksanaan Penugasan Auditor internal harus mengidentifikasi informasi yang handal dan relevan, mendasarkan kesimpulan dan hasil penugasan pada analisis dan evaluasi yang tepat, mendokumentasikan informasi yang relevan, dan supervisi penugasan dengan tepat untuk memastikan tercapainya sasaran, terjaminnya kualitas serta meningkatnya kemampuan staf. e. Komunikasi Hasil Penugasan Auditor internal harus mengkomunikasikan hasil penugasan secara tepat waktu yang memenuhi: kriteria komunikasi yang tepat; kualitas komunikasi yang akurat, objektif, jelas, ringkas, konstruktif, lengkap dan tepat waktu; pengungkapan atas ketidakpatuhan terhadap standar yang dapat mempengaruhi penugasan tertentu dan menyampaikan hasil penugasan pada pihak yang berhak. f. Pemantauan Tindak Lanjut Menyusun dan menjaga sistem untuk memantau tindak lanjut hasil penugasan serta menyusun prosedur tindak lanjut untuk memantau dan memastikan pelaksanaan tindak lanjut secara efektif oleh manajemen. g. Resolusi Penerimaan Risiko oleh Manajemen Mendiskusikan masalah terkait risiko risidual yang tidak dapat diterima organisasi, jika tidak menghasilkan keputusan penanggung jawab fungsi auditor internal dan manajemen senior harus melapor pada pimpinan dan dewan pengawas organisasi untuk mendapat resolusi.

Fungsi dan Tanggung Jawab Audit Internal (skripsi dan tesis)

Fungsi audit internal menurut Mulyadi (2014) sebagai berikut: (1) Pemeriksaan (audit) dan penilaian terhadap efektivitas struktur pengendalian intern dan mendorong penggunaan struktur pengendalian intern yang efektif dengan biaya minimum. (2) Menentukan sampai seberapa jauh pelaksanaan kebijakan manajemen puncak dipatuhi. (3) Menentukan sampai sejauh manakekayaan perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari segala macam kerugian. (4) Menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian dalam perusahaan. (5) Memberikan rekomendasi perbaikan kegiatankegiatan perusahaan. Sedangkan menurut Hiro Tugiman (2008:11) adalah : Fungsi audit internal adalah suatu fungsi penilaian bebas dalam suatu organisasi, guna menelaah atau mempelajari dan menilai kegiatan-kegiatan perusahaan untuk memberikan saran-saran kepada manajemen, agar tanggung jawab dapat dilaksanakan secara efektif. Tanggung jawab seorang auditor internal dalam Standar Profesi Akuntan Publik yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (2012:322.1) adalah: Auditor internal bertanggung jawab menyediakan jasa analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan dan rekomendasi dan informasi lain kepada manajemen entitas dan bagian komisaris atau pihak lain yang setara wewenang dan tanggung jawabnya. Untuk memenuhi tanggungjawabnya tersebut auditor intern mempertahankan objektivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya.

Tujuan dan Ruang Lingkup Audit Internal (skripsi dan tesis)

Ada beberapa tujuan audit internal menurut Hiro Tugiman (2008:11) adalah untuk membantu para anggota organisasi agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif, serta mencakup pengembangan pengawasan yang efektif dengan biaya yang wajar. Sedangkan tujuan audit internal menurut Guy et. al diterjemahkan Paul A. Rajoe, dkk (2007:410) tujuan audit internal adalah tujuan audit internal meliputi juga meningkatkan pengendalian yang efektif pada biaya yang wajar. Adapun menurut Sukrisno Agoes (2012:222) tujuan pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor internal adalah membantu semua pimpinan perusahaan (managemen) dalam melaksanakan tanggungjawab dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, audit internal harus melakukan kegiatan-kegiatan berikut: 1. Menelaah dan menilai penerapan pengendalian internal dan pengendalian operasioanal memadai atau tidak serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal. 2. Memastikan ketaatan terhadap rencana-rencana dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan manajemen. 3. Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk kecurangan, pencurian, dan penyalahgunaan yang dapat merugikan perusahaan. 4. Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya. 5. Menilai suatu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan manajemen. 6. Memberikan saran perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka efisiensi dan efektivitas. Ruang lingkup audit internal menurut Boynton diterjemahkan Paul A. Rajoe dan Ichsan Setyo (2006) bahwa: Ruang lingkup audit internal menilai keefektifan sistem pengendalian internal serta pengevaluasian terhadap kelengkapan dan keefektifan sistem pengendaliann internal yang dimiliki organisasi, serta kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang diberikan. Audit internal harus mengimplementasikan hal-hal berikut: 1. Mereview keandalan (reabilitas dan integritas) informasi finansial dan operasional serta cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan hal tersebut. 2. Mereview berbagai sistem yang telah ditetapkan untuk memastikan kesesuaiannya dengan berbagai kebijaksanaan, rencana, prosedur hukum, dan peraturan yang dapat berakibat penting terhadap kegiatan organisasi serta harus menentukan apakahorganisasi telah mencapai kesesuaian dengan hal-hal tersebut. 3. Mereview berbagai cara yang dipergunakan untuk melindungi harta dan bila dipandang perlu, memverifikasi keberadaan harta-harta tersebut. 4. Menilai keekonomisan dan keefisienan penggunaan berbagai sumber. 5. Mereview berbagai operasi atau program untuk menilai apakah hasilnya akan konsisten dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan apakah kegiatan atau program tersebut dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.

Pengertian Audit Internal (skripsi dan tesis)

Definisi internal audit menurut Sukrisno Agoes (2012: 204) adalah: Internal audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan ketentuan dari profesi yang berlaku. Peraturan pemerintah misalnya peraturan dibidang perpajakan, pasar modal, lingkungan hidup, perbankan, perindustrian, investasi, dan lain-lain. Sedangkan menurut Hiro Tugiman (2008:11) pengertian audit internal adalah”Internal audit atau pemeriksaan internal adalah suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan”. Adapun pengertian Internal Audit menurut Sawyer diterjemahkan olehDesi Adhariani(2009: 10) adalah: Sebuah penilaian yang sistematis dan obyektif yangdilakukan auditor internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi untuk menentukan apakah (1) informasi keuangan dan operasi telahakurat dan dapat diandalkan; (2) risiko yang dihadapi perusahaan telah diidentifikasi dan diminimalis; (3) peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang bisa diterima telah diikuti; (4) kriteria operasi yang memuaskan telah dipenuhi; (5) sumber daya telah digunakan secara efisien danekonomis; dan (6) tujuan organisasi telah dicapai secara efektif-semua dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membantu anggota organisasi dalam menjalankan tanggung jawabnya secara efektif. Menurut Institute of Internal Audit (IIA) sebagai ikatan internal auditor di Amerika yang dibentuk pada tahun 1941 dalam Boynton (2006), merumuskan definisi internal audit, yaitu: Internal Auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control, and governance processes. Dari beberapa definisi tentang Audit Internal di atas, dapat disimpulkan beberapa poin penting yaitu: 1. Audit internal adalah aktivitas pemeriksaan dan pemberian jasa konsultasi yang dikelola secara independen dan efektif sehingga dapat membantu memberikan nilai tambah untuk aktivitas operasional perusahaan dan membantu dalam pencapaian tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. 2. Audit Internal merupakan suatu fungsi penilaian independen dalam suatu organisasi. Hal Ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan penilaian tersebut adalah anggota dari organisasi tersebut. 3. Dalam pengukuran yang dilakukan auditor internal, independensi dan objektivitas harus dipegang. Memberikan suatu pendekatan disiplin yang sistematis untuk mengevaluasidan meningkatkan efektivitas manajemen risiko pengendalian dan proses pengelolaan organisasi. 4. Auditor internal memeriksa dan mengevaluasi seluruh kegiatan baik finansial maupun nonfinansial. Menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan dijalankan sesuai target dalam mencapai tujuan organisasi.

Sistem Informasi Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN) (skripsi dan tesis)

Sistem Informasi Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN) merupakan subsistem dari Sistem Akuntansi Instansi (SAI). SAI merupakan serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada Kementerian/Lembaga. SIMAK BMN disajikan untuk meningkatkan pemahaman serta kontrol yang sistematis bagi mereka yang pernah atau yang memang berada dalam lingkup tugas dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari satuan kerja pada bagian atau seksi 28 perlengkapan/rumah tangga atau yang semacamnya sehingga sesuai struktur Unit Akuntansi Barang melekat kewajiban untuk penyusunan laporan barang milik negara dalam rangka penyusunan laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga. SIMAK BMN diselenggarakan dengan tujuan untuk menghasilkan informasi yang diperlukan sebagai alat pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN dan pelaporan manajerial (managerial report). SIMAK BMN menghasilkan informasi sebagai dasar penyusunan neraca Kementerian Negara/Lembaga dan informasiinformasi untuk perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian. Dokumen/laporan yang dihasilkan dari SIMAK BMN terdiri dari: a) Daftar BMN; b) Kartu Identitas Barang (KIB) Tanah; c) Kartu Identitas Barang (KIB) Bangunan Gedung; d) Kartu Identitas Barang (KIB) Alat Angkutan Bermotor; e) Kartu Identitas Barang (KIB) Alat Persenjataan; f) Daftar Inventaris Lainnya (DIL); g) Daftar Barang Ruangan (DBR); h) Laporan Barang Kuasa Pengguna (LBKP); i) Laporan Kondisi Barang (LKB). Daftar BMN meliputi: Daftar Barang Intrakomptabel, Daftar Barang Ekstrakomptabel, Daftar Barang Bersejarah, Daftar Barang Persediaan, dan Daftar 29 Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP). LBKP meliputi: LBKP Intrakomptabel, LBKP Ekstrakomptabel, LBKP Gabungan, LBKP Persediaan, LBKP Barang Bersejarah, dan LBKP KDP. LBKP Gabungan merupakan hasil penggabungan LBKP Intrakomptabel dan LBKP Ekstrakomptabel. LBKP Barang Bersejarah hanya menyajikan kuantitas tanpa nilai.

Kompetensi Sumber Daya Manusia (skripsi dan tesis)

Kompetensi adalah karakteristik dasar seseorang yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak, membuat generalisasi terhadap segala situasi yang dihadapi, serta bertahan cukup lama dalam diri manusia (Spencer dan Spencer, 1993:41). Pasal 1 ayat 10 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan bahwa kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai standar yang ditetapkan. Dalam kaitan organisasi pemerintahan, kompetensi menurut Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 46 A 26 Tahun 2003 tentang Kompetensi Pegawai adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) berupa pengetahuan keterampilan dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya sehingga PNS tersebut dapat melaksanakan tugas jabatannya secara profesional, efektif, dan efisen. Wyatt (dalam Ruky, 2003:106) menyatakan kompetensi adalah kombinasi keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan perilaku (attitude) yang dapat diamati dan diterapkan secara kritis untuk suksesnya sebuah organisasi dan prestasi kerja serta kontribusi pribadi karyawan terhadap organisasinya Kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan (Sudarmanto, 2009). Kompetensi dapat disimpulkan sebagai sebuah pernyataan terhadap apa yang seseorang harus lakukan ditempat kerja untuk menunjukan pengetahuannya, keterampilannya dan sikap sesuai standar yang dipersyaratkan. Spencer dan Spencer (1993:73) menyatakan lima karakteristik yang membentuk kompetensi, sebagai berikut: 1) Motif (motive) Motive adalah apa yang secara konsisten dipikirkan atau keinginan yang menyebabkan melakukan tindakan. Apa yang mendorong, perilaku yang mengarah dan dipilih terhadap kegiatan atau tujuan tertentu. 27 2) Sifat/ciri bawaan (trait) Trait adalah ciri fisik dan reaksi-reaksi yang bersifat konsisten terhadap situasi atau informasi. 3) Konsep diri (self concept) Self concept merupakan sikap, nilai atau self image dari orang-orang. Seperti percaya diri (self confidence), keyakinan bahwa ia akan efektif dalam berbagai situasi, merupakan bagian dari konsep dirinya. 4) Pengetahuan (knowledge) Knowledge yaitu suatu informasi yang dimiliki seseorang khususnya pada bidang spesifik. Pengetahuan merupakan kompetensi yang kompleks. 5) Keterampilan (skill) Skill adalah kemampuan untuk mampu melaksanakan tugas-tugas fisik dan mental tertentu

Kualitas Laporan Barang Milik Negara (skripsi dan tesis)

Barang milik negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau berasal dari perolehan lainnya yang sah (PP No. 27, 2014). Yang dimaksud dengan berasal dari perolehan lainnya yang sah, meliputi: 1) barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis; 2) barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak; 3) barang yang diperoleh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan; atau  4) barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur setiap Menteri/Pimpinan Lembaga sebagai Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Kementerian Negara/Lembaga untuk mengelola barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya serta menyusun dan menyampaikan laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya. Pasal 6 dan 7 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah mewajibkan setiap Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang untuk menyusun dan menyampaikan laporan barang pengguna semesteran dan laporan barang pengguna tahunan yang berada dalam penguasaannya kepada Pengelola Barang. Laporan barang milik negara merupakan bagian dari laporan keuangan. Laporan barang milik negara mencatat transaksi yang berkaitan dengan berkaitan dengan pos-pos persediaan, aset tetap, maupun aset lainnya. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 102/PMK.05/2009 tentang Tata Cara Rekonsiliasi Barang Milik Negara Dalam Rangka Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, laporan barang milik negara adalah laporan yang menyajikan posisi BMN pada awal dan akhir suatu periode serta mutasi BMN yang terjadi selama periode tersebut. Laporan BMN disusun setiap semester sehingga dalam satu tahun anggaran, disusun tiga macam Laporan BMN yaitu Laporan Semester I, Laporan Semester II, dan Laporan Tahunan. 23 Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 Standar Akuntansi Pemerintahan menyatakan bahwa karakteristik kualitatif laporan barang milik negara adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Keempat karakteristik berikut merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan barang milik negara dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki yaitu: 1) Relevan Laporan barang milik negara bisa dikatakan relevan jika informasi yang termuat di dalamnya dapat memengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini, dan memprediksi masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Informasi yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Informasi yang relevan antara lain memiliki karakteristik: a) memiliki manfaat umpan balik (feedback value), yaitu informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasi di masa lalu. b) memiliki manfaat prediktif (predictive value), yaitu informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini. c) tepat waktu, yakni informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan. 24 d) lengkap, yakni informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin, yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi dapat dicegah. 2) Andal Informasi dalam laporan barang milik negara bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan yang material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi yang andal memenuhi karakteristik: a) penyajian jujur, yaitu informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. b) dapat diverifikasi (veriability), yaitu informasi yang disajikan dalam laporan barang milik negara dapat diuji, dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda, hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh. c) netralitas, yaitu informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu. 3) Dapat dibandingkan yaitu informasi yang termuat dalam laporan barang milik negara akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan barang milik negara periode sebelumnya atau laporan barang milik negara entitas pelaporan lain pada  umumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. Apabila entitas pemerintah akan menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan, perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan. 4) Dapat dipahami yaitu informasi yang disajikan dalam laporan barang milik negara dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud.

Pendekatan Kontijensi (skripsi dan tesis)

Dasar dari pendekatan kontijensi adalah tidak adanya jawaban terbaik yang berlaku terhadap semua masalah yang muncul. Pendekatan kontijensi menyatakan tidak adanya rancangan dan penggunaan sistem pengendalian manajemen yang dapat diterapkan efektif untuk semua kondisi organisasi, namun sebuah sistem pengendalian tertentu hanya efektif untuk situasi atau organisasi/perusahaan/pemerintahan tertentu. Pendekatan kontijensi yang digunakan menarik minat banyak peneliti karena ingin mengetahui apakah tingkat keterandalan variabel independen selalu berpengaruh sama pada setiap kondisi atau tidak terhadap variabel dependennya. Dengan pendekatan kontijensi diduga terdapat faktor situasional lain yang mungkin akan saling berinteraksi dalam memengaruhi situasi tertentu.  Tujuan penggunaan pendekatan kontijensi dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi variabel kontijensi yang memengaruhi kualitas laporan BMN. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ada ketidakkonsistenan antara satu peneliti dengan peneliti lainnya, sehingga disimpulkan bahwa terdapat variabel lain yang memengaruhinya. Perbedaan hasil temuan tersebut dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan kontijensi (Govindarajan, 1988). Pendekatan kontijensi memungkinkan adanya variabel-variabel yang dapat bertindak sebagai moderating maupun intervening. Pendekatan kontijensi dalam penelitian ini akan digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara kompetensi SDM dan penggunaan SIMAK BMN dengan kualitas laporan barang milik negara. Berdasarkan pendekatan di atas, ada dugaan bahwa role stress dapat memoderasi hubungan antara kompetensi SDM dan penggunaan SIMAK BMN pada kualitas laporan barang milik negara

Pengukuran Efektivitas Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Sistem informasi merupakan sebuah kombinasi yang terorganisir dari orang, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah dan menyajikan informasi bagi organisasi (O’Brien, 2003:13). Laudon dan Laudon (2000) menyatakan sistem informasi adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan yang berfungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pembuatan keputusan dan pengawasan organisasi. Penggunaan sistem informasi merupakan perilaku yang muncul akibat adanya keuntungan atas pemakaian sistem informasi tersebut (Seddon, 1997). Perilaku yang ditimbulkan dari pemakaian sistem informasi ini dalam proses selanjutnya diharapkan akan memberi dampak terhadap kinerja individu. Keberhasilan sistem informasi merupakan suatu model yang digunakan dalam berbagai penelitian sebagai kriteria dasar untuk mengevaluasi sistem informasi (DeLone dan McLean, 1992). Model kesuksesan sistem informasi telah banyak dikembangkan oleh para peneliti. Zmud et al. (1978) menyatakan keefektifan  sistem informasi ditentukan oleh kinerja pemakai, penggunaan sistem informasi dan kepuasan pemakai. Kepuasan pengguna sistem informasi merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan sistem informasi. Hal ini cukup beralasan karena jika pengguna sistem informasi merasa puas maka dianggap sebagai keberhasilan sistem informasi tersebut (Jogiyanto, 2007:205).
Dalam beberapa literatur penelitian, kepuasan pengguna seringkali digunakan sebagai ukuran pengganti dari efektifitas sistem informasi (Melone, 1990). Doll dan Torkzadeh (1988) mendefinisikan kepuasan akhir pengguna sebagai sikap afektif terhadap aplikasi tertentu oleh seseorang yang berinteraksi dengan aplikasi langsung. Kepuasan pengguna secara luas telah diakui sebagai matriks kunci indikator kesuksesan sistem informasi (DeLone dan Mclean, 1992). Gupta et al. (2007) menyatakan bahwa untuk mengetahui efektivitas sistem informasi maka yang dapat digunakan sebagai ukuran adalah kepuasan pengguna. Kepuasan pengguna lebih tepat digunakan untuk mengukur kesuksesan sistem informasi bila sistem informasi dimaksudkan dalam skala besar dan terintegrasi serta penggunaannya diamanatkan/diwajibkan (Brown et al., 2002; 2008). Kepuasan pemakai mengungkapkan adanya kesesuaian antara harapan seseorang dengan hasil yang diperoleh. Suatu sistem yang baik bukan hanya dilihat dari kecanggihannya tetapi juga dilihat dari penerimaan dan pemahaman pengguna yang merasa puas dengan sistem informasi yang dihasilkan (Kustono, 2000). McGill et al. (2003) melakukan pengujian empiris pada seluruh dimensi dalam model keberhasilan sistem informasi dari DeLone dan McLean (1992). Hasil pengujian menunjukkan bahwa kepuasan pengguna akhir suatu sistem informasi memainkan peranan signifikan dalam menentukan penggunaan sistem aplikasi. Hasil penelitian DeLone dan McLean (1992), Rai et al. (2002), McGill et al. (2003) serta Livari (2005) menunjukkan bahwa kualitas sistem informasi berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakainya. Supriyatna dan Jin (2006) menyebutkan bahwa kepuasan pengguna sistem informasi dapat diukur dengan menggunakan enam variabel, yaitu kelengkapan fungsi/fitur, stabilitas/keandalan, kemudahan penggunaan, inovasi, keamanan, dan fleksibilitas, dengan penjelasan sebagai berikut: 1) Kelengkapan fungsi/fitur, yaitu keberadaan fungsi/fitur yang lengkap seperti data atau informasi yang ditampilkan pada sistem informasi yang bertujuan mempermudah dan menunjang pemanfaatan bagi penggunanya. 2) Stabilitas/keandalan merupakan ketangguhan atau kemampuan aplikasi yang digunakan dalam sistem informasi untuk dapat beroperasi tanpa mengalami gangguan (error) yang berarti dalam jangka waktu lama serta handal dalam proses pengambilan, pengolahan, dan penyajian informasi dan data dengan tingkat kebenaran/keyakinan yang baik. Disamping itu, sistem juga dapat menampilkan data dan informasi yang dibutuhkan secara tepat waktu dan selalu baru. 3) Kemudahan penggunaan digunakan untuk menyatakan kemudahan yang dimiliki oleh sistem informasi terutama dalam penampilan informasi, navigasi dan interaksi antara pengguna dengan sistem dimana fitur-fitur dalam sistem user friendly. 4) Inovasi berkaitan dengan reputasi, kreasi, pembaruan, dan terobosan yang dimiliki dari sistem informasi menyangkut perbandingan dengan organisasi lain dalam hal penyediaan informasi serupa. 5) Keamanan menunjukkan kemampuan security sistem informasi dalam menghadapi kemungkinan masuknya virus maupun perusakan atau penghapusan data. 6) Fleksibilitas menggambarkan kemampuan sistem informasi untuk dapat di implementasikan pada segala jenis dan spesifikasi sistem komputer yang tersedia di pasaran termasuk kemampuannya untuk digabungkan dengan penggunaan database yang tersedia lainnya.

Teori Peran (skripsi dan tesis)

Teori peran menekankan sifat individual sebagai pelaku sosial yang mempelajari perilaku sesuai dengan posisi yang ditempatinya di lingkungan kerja dan masyarakat (Kahn et al., 1964). Teori peran mencoba menjelaskan interaksi antar individu dalam organisasi, berfokus pada peran yang mereka mainkan. Setiap peran sosial adalah seperangkat hak, kewajiban, harapan, norma dan perilaku seseorang untuk menghadapi dan memenuhi perannya. Kahn et al. (1964) mengenalkan teori peran pada literatur perilaku organisasi. Mereka menyatakan bahwa sebuah lingkungan organisasi dapat memengaruhi harapan setiap individu mengenai perilaku peran mereka. Harapan tersebut berupa norma-norma atau tekanan untuk bertindak dalam cara tertentu. Individu akan menerima pesan tersebut, menginterpretasikannya, dan merespon dalam berbagai cara. Masalah akan muncul ketika pesan yang dikirim tersebut tidak jelas, tidak  secara langsung, tidak dapat diinterpretasikan dengan mudah, dan tidak sesuai dengan daya tangkap si penerima pesan. Akibatnya, pesan tersebut dinilai ambigu atau mengandung unsur konflik. Individu akan mengalami konflik dalam dirinya apabila terdapat dua tekanan atau lebih yang terjadi secara bersamaan yang ditujukan pada diri individu tersebut (Katz dan Kahn, 1978). Rizzo et al. (1970) menyatakan salah satu bentuk konflik peran adalah ketika perilaku-perilaku yang diharapkan seseorang tidak konsisten, yang dapat menimbulkan stres, ketidakpuasan, dan memiliki kinerja yang kurang efektif dibandingkan jika harapan yang diinginkan dari perilakunya tersebut tidak mengalami konflik.
 Keliat (1992) menyatakan stres peran terdiri dari: 1) Konflik peran, dialami jika peran yang diminta konflik dengan sistem individu atau dua peran yang konflik satu sama yang lain. 2) Peran yang tidak jelas, terjadi jika individu yang diberi peran yang tidak jelas dalam hal perilaku dan penampilan yang diharapkan. 3) Peran yang tidak sesuai, terjadi jika individu dalam proses transisi merubah nilai dan sikap. Misalnya, seseorang yang masuk dalam satu profesi, dimana terdapat konflik antara nilai individu dan profesi. 4) Peran berlebih, terjadi jika individu menerima banyak peran misalnya, sebagai istri, mahasiswa, perawat, ibu. Individu dituntut melakukan banyak hal tetapi tidak tersedia waktu untuk menyelesaikannya. Implikasi dari teori peran dalam penelitian ini adalah penyusun laporan BMN mempunyai peran ganda/berlebih karena merangkap banyak pekerjaan dalam  waktu bersamaan. Harapan bagi penyusun laporan BMN dapat dibentuk pimpinan organisasi atau masyarakat. Individu atau pihak yang berbeda dapat membentuk harapan yang mengandung konflik bagi pemegang peran itu sendiri. Oleh karena setiap individu dapat menduduki peran ganda, maka dimungkinkan bahwa dari beragam peran tersebut akan menimbulkan persyaratan/harapan peran yang saling bertentangan (Ahmad dan Taylor, 2009).

Teori Stewardship (skripsi dan tesis)

Teori stewardship menggambarkan situasi dimana manajemen tidaklah termotivasi oleh tujuan-tujuan individu tetapi lebih ditujukan pada sasaran hasil utama mereka untuk kepentingan organisasi (Donaldson dan Davis, 1991). Filosofi mengenai teori stewardship dibangun berdasarkan sifat manusia yaitu dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab, memiliki integritas, serta dapat berlaku jujur untuk pihak lainnya. Dengan kata lain, teori stewardship memandang bahwa manajemen dapat berperilaku baik untuk kepentingan publik pada umumnya maupun shareholders pada khususnya. Teori 14 stewardship menggambarkan hubungan yang kuat antara kepuasan dan kesuksesan organisasi. Tercapainya kesuksesan dalam sebuah organisasi dapat dicapai dengan cara maksimalisasi utilitas principals dan manajemen. Maksimalisasi utilitas kelompok pada akhirnya akan memaksimumkan kepentingan individu yang ada dalam kelompok organisasi tersebut. Teori stewardship dapat diterapkan pada penelitian akuntansi organisasi sektor publik seperti organisasi pemerintahan (Morgan et al., 1996). Pemerintah berperan sebagai steward dengan fungsi pengelola sumber daya dan rakyat sebagai principals selaku pemilik sumber daya. Pemilik sumber daya (principals) mempercayakan pengelolaan sumber daya tersebut kepada pihak lain (steward) yang lebih capable. Kesepakatan yang terjalin antara pemerintah (steward) dan rakyat (principals) berdasarkan kepercayaan, kolektif sesuai tujuan organisasi. Pemerintah akan berusaha maksimal dalam menjalankan pemerintahan untuk mencapai tujuan pemerintah yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Penelitian ini menggunakan teori stewardship karena dalam organisasi sektor publik, akuntabilitas merupakan kewajiban pemegang amanah (steward) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak pemberi amanah (principals) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Mardiasmo, 2009:20).
Dalam konteks pelaporan BMN, pemerintah yang bertindak sebagai steward mempunyai kewajiban menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna informasi keuangan pemerintah (principals).  Implementasi teori stewardship pada struktur organisasi pemerintahan pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, dapat terjadi antara pimpinan dan staf penyusun laporan BMN. Pimpinan dapat berlaku sebagai principals yang mempercayakan pengelolaan BMN kepada staf penyusun laporan BMN selaku steward. Staf pengelola barang sebagai steward wajib menyampaikan laporan mengenai pengelolaan BMN kepada pimpinan secara periodik. Untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut maka steward mengarahkan semua kemampuan dan keahliannya untuk dapat menghasilkan laporan BMN yang berkualitas.

Pengaruh Employee Intensity Terhadap Tingkat Sticky Cost Pada Biaya Penjualan Administrasi dan Umum (skripsi dan tesis)

Employee Intensity adalah rasio jumlah karyawan terhadap penjualan bersih (Pithectkeun dan Panmanee, 2012). Biaya gaji termasuk dalam komponen biaya penjualan administasi dan umum, sehingga penjualan memperngaruhi biaya gaji. Menghentikan tenaga kerja sangat mahal karena perusahaan harus mengeluarkan biaya pesangon. Perusahaan akan kehilangan investasi yang spesifik ketika pekerja diberhentikan saat penjualan menurun dan menambah karyawan saat penjualan meningkat sehingga biaya gaji bersifta sticky (Windyastuti dan Biyanto, 2005 dalam Wahyuningtyas dan Nugrahanti, 2014). Namum apabila manajer mengambil keputusan untuk melakukan adjustment cost terhadap biaya gaji dengan kata lain manajer melakukan pemutusan hubungan kerja maka sticky cost tidak terjadi (Anderson et al, 2003 dalam Wahyuningtyas dan Nugrahanti, 2014)