Berdasarkan tingkat proses halusinasi menurut Stuart dan Sundeen (1995) dibagi empat yaitu:
- Tingkat I: Comforting
Halusinasi pada tingkat I ini ditandai dengan adanya ansietas/kecemasan. Individu yang dapat mengelola kecemasan akan mampu mengontrol pikiran dan pengalaman sensorinya. Perilaku pasien yang dapat diobservasi pada tingkat halusinasi 1 ini adalah: pasien tampak tersenyum lebar; menyeringai tetapi tampak tidak tepat; menggerakkan bibir tanpa membuat suara; pergerakkan mata yang cepat; respon verbal yang lambat seperti asyik, serta diam dan tampak asyik.
- Tingkat II: Condemming
Seseorang yang mengalami halusinasi tingkat II mengalami kecemasan tingkat berat. Tingkat halusinasi ini juga bisa ditandai dengan pengalaman halusinasi yang bersifat menjijikan atau menakutkan
- Tingkat II: Condemming
Seseorang yang mengalami halusinasi tingkat II mengalami kecemasan tingkat berat. Tingkat halusinasi ini juga bisa ditandai dengan pengalaman halusinasi yang bersifat menjijikan atau menakutkan.
- Tingkat IV: Conquering
Halusinasi pada tingkat IV ini ditandai dengan kondisi dimana seseorang menjadi panik, dan ketakutan. Isi halusinasi pada tingkat IV ini sudah mengancam jika individu yang berhalusinasi tersebut tidak mengikuti perintah dari halusinasinya.
Menurut Stuart dan Laraia cit. Nurjannah (2008), mengkategorikan jenis indera dimana halusinasi berpengaruh terdapat beberapa macam yaitu :
- Pendengaran (auditory)
Sesuai dengan namanya yaitu pendengaran, maka jenis halusinasi ini terkait dengan kondisi dimana pasien sering mendengar suara-suara dan pasien meyakini bahwa suara tersebut tampak nyata. Isi dari suara tersebut dapat berupa suara berbisik atau suara-suara yang berbicara tentang pasien, suara perbincangan beberapa orang, suara yang membicarakan apa yang pasien pikirkan, suara yang memerintah dan kadang suara tersebut memerintahkan pasien untuk melakukan sesuatu.
- Penglihatan (visual)
Halusinasi penglihatan yang dialami pasien dikaitkan dengan kondisi dimana pasien mungkin melihat gambaran seperti bentuk lintasan cahaya, gambaran geometris, gambaran kartun, atau pandangan yang terperinci atau komplek. Pandangan tersebut bisa menyenangkan atau menakutkan bagi pasien
- Penciuman (olfactory)
Jenis halusinasi ini, pasien mungkin mencium bau busuk dan, sangat menjijikan, bau tengik seperti darah atau air kencing, tetapi kadang-kadang bau yang dihirup pasien adalah bau yang menyenangkan. Halusinasi penciuman ini umumnya berkaitan dengan stroke, tumor, atau kejang.
- Pengecap (gustatory)
Pasien merasa halusinasi ini pada indra pengecapan dimana pasien merasa mengecap sesuatu yang busuk, yang menjijikan seperti kotoran manusia, rasa tengik seperti darah atau air kencing.
- Peraba (tactile)
Pasien yang mengalami halusinasi peraba ini, merasakan tidak nyaman atau nyeri tanpa adanya rangsangan yang bisa diidentifikasi. Contoh dari halusinasi ini adalah adanya perasaan bahwa pasien merasakan sensasi listrik datang dari tanah, obyek mati atau orang lain.
- Cenesthetic
Halusinasi ini adalah halusinasi dimana pasien merasakan fungsi tubuhnya sendiri misalkan pasien merasakan darahnya mengalir melalui pembuluh darah, merasakan bagaimana makanan dicerna dan merasakan bagaimana pembentukan air kencing.
- Kinestetic
Halusinasi jenis ini terkait dengan kondisi dimana pasien merasakan tubuhnya bergerak pada saat berdiam atau sebaliknya merasakan tubuhnya diam saat dia bergerak.
