Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah
ringan, sedang, berat atau panik dapat menggunakan beberapa alat ukur
(instrumen), yaitu:
a. Alat ukur kecemasan yang dikutip dari Hawari (2008) menggunakan
HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety), yang terdiri atas 14
komponen gejala, yaitu:
1) Perasaan cemas (ansietas), meliputi: cemas, firasat buruk, takut
akan pikiran sendiri, mudah tersinggung
2) Ketegangan, meliputi: merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat
tenang, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah
3) Ketakutan, meliputi: pada gelap, pada orang asing, ditinggal
sendiri, pada binatang besar, pada keramaian lalu lintas, pada
kerumunan orang banyak
4) Gangguan tidur, meliputi: sukar masuk tidur, terbangun malam
hari, tidur tidak nyenyak, bangun dengan lesu, banyak mimpimimpi, mimpi buruk, mimpi menakutkan
5) Gangguan kecerdasan, meliputi: sukar konsentrasi, daya ingat
menurun, daya ingat buruk
6) Perasaan depresi (murung), meliputi: hilangnya minat,
berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, bangun dini hari,
perasaan berubah-berubah sepanjang hari
7) Gejala somatik/fisik (otot), meliputi: sakit dan nyeri otot-otot,
kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil
8) Gejala somatik/fisik (sensorik), meliputi: tinnitus (telinga
berdenging), penglihatan kabur, muka merah atau pucat, merasa
lemas, perasaan ditusuk-tusuk
9) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), meliputi,
takikardia, berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi mengeras,
rasa lemas seperti mau pingsan, detak jantung berhenti sekejap
10)Gejala respiratori (pernafasan), meliputi: rasa tertekan atau sempit
di dada, rasa tercekik, sering menarik nafas, nafas pendek/sesak
11)Gejala gastrointestinal (pencernaan), meliputi: sulit menelan, perut
melilit, gangguan pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan,
perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau kembung, mual,
muntah, buang air besar lembek, konstipasi, kehilangan berat
badan
12)Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin), meliputi: sering
buang air kecil, tidak dapat menahan air kencing, tidak datang
bulan, darah haid amat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa
haid amat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi
dingin, ejakulasi dini, ereksi ilmiah, ereksi hilang, impotensi
13)Gejala autonom, meliputi: mulut kering, muka merah, mudah
berkeringat, kepala pusing, kepala terasa berat, kepala terasa sakit,
bulu-bulu berdiri
14)Tingkah laku (sikap) pada wawancara, meliputi: gelisah, tidak
tenang, jari gemetar, kerut kening, muka tegang, otot tegang /
mengeras, nafas pendek dan cepat, muka merah
Cara penilaian HRS-A dengan sistem skoring, yaitu: skor 0 = tidak
ada gejala, skor 1 = ringan (satu gejala), skor 2 = sedang (dua
gejala), skor 3 = berat (lebih dari dua gejala), skor 4 = sangat berat
(semua gejala). Bila skor < 14 = tidak kecemasan, skor 14-20 =
cemas ringan, skor 21-27 = cemas sedang, skor 28-41 = cemas
berat, skor 42-56 = panik.
b. Skala analog visual (Visual analog scale, VAS)
Suatu garis lurus yang mewakili tingkatan kecemasan dan
pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi pasien
kebebasan penuh untuk mengidentifikasi kategori cemas yang
dirasakan. VAS dapat merupakan pengukuran tingkat kecemasan yang
cukup sensitif karena pasien dapat mengidentifikasi setiap titik pada
rangkaian, dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka.
Pengukuran dengan VAS pada nilai nol dikatakan tidak ada
kecemasan,nilai 10-30 dikatakan sebagai cemas ringan, nilai antara
40-60 cemas sedang, diantara 70-90 cemas berat, dan 100 dianggap
panik
