Sistem Pendukung Keputusan (SPK) (skripsi dan tesis)

System Pendukung Keputusan atau Decision Support System (DSS)
merupakan bagian dari system informasi yang biasa digunakan oleh
pengambil keputusan dalam mengambil keputusan. Decision Support
System diciptakan oleh G. Antony Gorry dan Michael. S. Scott Morton pada
tahun 1960-an. Akan tetapi, istilah Sistem Pendukung Keputusan (SPK) itu
baru ada pada tahun 1971. Mereka menciptakan system pendukung
keputusan dengan tujuan untuk menciptakan aplikasi computer, dimana
aplikasi tersebut merupakan suatu system berbasis computer yang nantinya
dapat membantu pengambil keputusan dalam mengambil keputusan dalam
memecahkan masalah yang tidak terstruktur dengan memanfaatkan data dan
model tertentu.
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah
system computer interaktif yang dapat membantu pengambil keputusan
dalam memecahkan masalah yang tidak terstruktur menggunakan data dan
model tertentu. Dalam mengambil keputusan tersebut pengambil keputusan
melakukan berbagai cara diantaranya yaitu: menggunakan kombinasi dari
model, teknik analisis, dan pengambilan informasi dari permasalahannya.
(Efrain Turban, 2005).
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah
system informasi yang membantu pengambil keputusan dengan
memberikan kesempatan kepadanya untuk mengidentifikasi masalah dan
mencari informasi dalam mengambil keputusan. System Pendukung
Keputusan (SPK) hampir sama dengan Sistem Informasi Manajemen (SIM),
karena sumber data dari SPK dan SIM adalah basis data. (Kusrini, 2007).
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah suatu
system computer berupa perangkat lunak yang dapat membantu suatu
instansi dalam mengambil keputusan secara efektif dan alternative sesuai
dengan criteria yang ditentukan.
SPK atau DSS dirancang untuk membantu seluruh proses pengambilan
keputusan mulai dari proses pengidentifikasian masalah, pemilihan data
yang relevan, penentuan model pendekatan yang digunakan dalam proses
pengambilan keputusan, sampai pada proses evaluasi pemilihan alternatif.
Menurut (Suryadi dan Ramdhani, 2002) model proses pengambilan
keputusan terdiri dari tiga tahap yaitu sebagai berikut:
1. Intelligence. Tahap ini merupakan proses pencarian dalam ruang
lingkup masalah serta proses pengenalan masalah. Data masukan
diperoleh, kemudian diproses, setelah itu diuji untuk mengidentifikasi
masalah tersebut.
2. Design. Tahap merupakan proses menemukan, mengembangkan, dan
menganalisis tindakan alternative apa yang bisa dilakukan. Tahap ini
meliputi proses memahami masalah, memberikan solusi, kemudian
menguji solusi tersebut apakah dapat menyelesaikan masalah dengan
baik atau tidak.
3. Choice. Tahap ini merupakan proses pemilihan dari berbagai tindakan
alternative yang dapat dipergunakan denga baik. Hasil dari pilihan
tersebut kemudian di implementasikan kedalam proses pengambilan
keputusan.
Sesuai dengan pendapat para pakar diatas, Keen (1980) menerapkan
istilah SPK ”untuk situasi dimana system dapat dikembangkan hanya
melalui suatu proses pembelajaran yang adaptif.” Jadi, ia mendefinisikan
SPK sebagai suatu proses dimana pemakai SPK, perancang SPK, dan SPK
itu sendiri mampu mempengaruhi satu dengan yang lainnya, dan
menghasilkan system pendukung keputusan yang dapat dipergunakan
dengan tepat. Sedangkan menurut Little (1970) yang mendefenisikan SPK
sebagai “sekumpulan prosedur berbasis model untuk pemrosesan dan
penilaian data dalam membantu pengambil keputusan”. Dia juga
menyatakan bahwa untuk berhasil, system tersebut haruslah sederhana,
mudah dipakai, obyektif dan lengkap dengan criteria penting yang
disyaratkan. Dan juga menurut Bonczek, dkk. (1980) mereka
mendefinisikan SPK sebagai sistem berbasis komputer yang terdiri dari tiga
komponen yang saling berinteraksi yaitu :
a. System bahasa merupakan mekanisme untuk memberikan komunikasi
antara pengguna dan komponen SPK lain.
b. System pengetahuan merupakan pengetahuan tentang masalah yang ada
pada SPK baik sebagai data atau sebagai prosedur.
c. System pemrosesan masalah merupakan hubungan antara dua
komponen, terdiri dari satu atau lebih kapabilitas manipulasi masalah
yang diperlukan untuk pengambilan keputusan.
Menurut (Turban, 2005) Sistem Pendukung Keputusan (SPK) terdiri dari
berbagai komponen sebagai berikut:
1. Subsistem Manajemen Data, berisi data yang relevan dan dapat diproses
software yang disebut DBMS (Data Base Management System).
2. Subsistem Manajemen Model, berupa sebuah software yang berisi
model-model financial yang menyediakan kemampuan analisa dan
software management yang sesuai.
3. Subsistem Manajemen Pengetahuan, merupakan subsistem yang
mendukung subsistem lain sebagai komponen yang berdiri sendiri.
4. Subsistem Antarmuka Pengguna, merupakan subsistem yang dipakai
oleh user dalam berkomunikasi.
Setiap sistem pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, Menurut Kosasi
(2002), kelebihan SPK sebagai berikut:
a. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat menunjang pembuatan
keputusan manajemen dalam menangani masalah semi terstruktur dan
tidak terstruktur.
b. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat membantu manajer pada
berbagai tingkatan manajemen, mulai dari manajemen tingkat atas
sampai manajemen tingkat bawah.
c. Sistem pendukung keputusan (SPK) memiliki kemampuan pemodelan
dan analisis pembuatan keputusan.
d. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat menunjang pembuatan
keputusan yang saling berurutan baik secara kelompok maupun
perorangan.
e. Sistem pendukung keputusan (SPK) menunjang berbagai bentuk proses
pengambilan keputusan dan jenis keputusan.
f. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat melakukan adaptasi setiap
saat dan bersifat fleksibel.
g. Sistem pendukung keputusan (SPK) mudah berinteraksi dengan sistem
dan mudah dikembangkan oleh pengguna (user) terakhir.
h. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat meningkatkan efektivitas
dalam pengambilan keputusan.
i. Sistem pendukung keputusan (SPK) mudah melakukan pengaksesan
berbagai sumber dan format data.
Di samping berbagai kelebihan seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
Sistem pendukung keputusan (SPK) juga memiliki beberapa kekurangan
atau keterbatasan, diantaranya adalah:
1. Ada beberapa kemampuan manajemen dan kemampuan manusia yang
tidak dapat dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak
semuanya mencerminkan persoalan sebenarnya.
2. Kemampuan suatu system pendukung keputusan (SPK) terbatas pada
pengetahuan yang dimilikinya (pengetahuan dasar serta model dasar).
3. Proses-proses yang dapat dilakukan oleh system pendukung keputusan
(SPK) biasanya tergantung pada kemampuan perangkat lunak yang
digunakan oleh pengambil keputusan.
4. Sistem pendukung keputusan (SPK) tidak memiliki kemampuan yang
dimiliki oleh manusia, karena itu bagaimana pun canggihnya suatu
Sistem pendukung keputusan (SPK), hanyalah suatu kumpulan
perangkat keras, perangkat lunak dan sistem operasi yang tidak
dilengkapi dengan kemampuan berpikir seperti manusia.