Konsep Interaksi Guna Lahan-Transportasi (skripsi dan tesis)

Konsep dasar dari interaksi atau hubungan antara tata guna lahan dan transportasi adalah aksesibilitas (Hanson dalam Suberlian, 2003 : 39). Aksesibilitas adalah konsep yang menggabungkan sistem pengaturan tata guna lahan secara geografis

dengan sistem jaringan transportasi yang menghubungkannya. Aksesibilitas adalah suatu

ukuran kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi

satu sama lain dan “mudah” atau “susahnya” lokasi tersebut dicapai melalui sistem

jaringan transportasi (Black dalam Suberlian, 2003:39).

Untuk menjelaskan bagaimana interaksi itu terjadi, ( Miller, dalam Suberlian,

2003:39) menunjukkan kerangka sistem interaksi guna lahan dan transportasi.

Perkembangan guna lahan akan membangkitkan arus pergerakan, selain itu perubahan

tersebut akan mempengaruhi pula pola persebaran dan pola permintaan pergerakan.

Sebagai konsekuensi dari perubahan tersebut adalah adanya kebutuhan sistem jaringan

serta sarana transportasi. Sebaliknya konsekuensi dari adanya peningkatan penyediaan

sistem jaringan serta sarana transportasi akan membangkitkan arus pergerakan baru.

Interaksi seperti dikemukakan bagan tersebut di atas menunjukkan bahwa

bekerjanya sistem interaksi guna lahan dan transportasi sangat dinamis dan melibatkan

unsur-unsur lain sebagai pembentuk watak setiap komponen seperti pada komponen guna

lahan terliput adanya unsur kependudukan, sosial ekonomi, ekonomi wilayah, harga

lahan dan sebagainya. Selain itu komponen sistem transportasi terliput adanya unsur

kemajuan teknologi, keterbatasan sistem jaringan, sistem operasi dan lain sebagainya.

Implikasi dari perubahan atau perkembangan sistem aktivitas adalah meningkatnya

kebutuhan prasarana dan sarana dalam bentuk pemenuhan kebutuhan aksesibilitas.

Peningkatan aksesibilitas ini selanjutnya akan memicu berbagai perubahan guna lahan.

Proses perubahan yang saling mempengaruhi ini akan berlangsung secara dinamis.

Perubahan penggunaan lahan selanjutnya akan menjadi faktor dominan dalam

mengarahkan dan membentuk struktur kota. Perubahan ini akan mengakibatkan pula

peningkatan produktivitas guna lahan dalam bentuk alih fungsi ataupun peningkatan

intensitas ruang. Tentunya proses ini tidak selalu berimplikasi positif, implikasi yang

bersifat negatif kerap terjadi pada saat beban arus pergerakan mulai mengganggu

keseimbangan kapasitas jalan pada sistem jaringan kota (Paquette, dalam Suberlian, 2003

: 41). Selanjutnya Martin (1959 dalam Suberlian, 2003 : 41) menyatakan bahwa adanya

saling keterkaitan antara perkembangan guna lahan, perubahan guna lahan, perubahan

populasi, serta perubahan pada sistem transportasi membentuk siklus suatu sistem

dinamis yang saling mempengaruhi antara guna lahan dan transportasi.

Meyer ( dalam Suberlian, 2003 : 42) menyimpulkan bahwa sistem interaksi guna

lahan dan transportasi tidak pernah mencapai keseimbangan, sebagai contoh : populasi

sebagai salah satu subsistem selalu berkembang setiap saat mengakibatkan subsistem

lainnya akan berubah untuk mengantisipasi kondisi. Yang pasti adalah sistem tersebut

akan selalu menuju kesetimbangan.

Hal yang utama dalam kesetimbangan sama pentingnya dengan efisiensi (Rafsky,

dalam Suberlian, 2003 : 42). Kesetimbangan mensyaratkan adanya pembangunan

jaringan transportasi untuk mengembangkan suatu kawasan dalam kota. Tentunya akan

menjadi tidak efisien, jika suatu industri baru ditempatkan pada suatu lokasi yang

mempunyai kepadatan tinggi dan volume lalu lintas yang tinggi. Industri baru tersebut

akan sukar berkembang. Kebijaksanaan untuk mengalokasikan industri pada daerah

pinggir kota perlu diimbangi dengan penyediaan jaringan transportasi yang memadai.

Interaksi guna lahan dan transportasi merupakan interaksi yang sangat dinamis

dan kompleks. Interaksi ini melibatkan berbagai aspek kegiatan serta berbagai

kepentingan. Perubahan guna lahan akan selalu mempengaruhi perkembangan

transportasi dan sebaliknya. Didalam kaitan ini, (Black, dalam Suberlian, 2003:42)

menyatakan bahwa pola perubahan dan besaran pergerakan serta pemilihan moda

pergerakan merupakan fungsi dari adanya pola perubahan guna lahan diatasnya.

Sedangkan setiap perubahan guna lahan dipastikan akan membutuhkan peningkatan yang

diberikan oleh sistem transportasi dari kawasan yang bersangkutan.

Model interaksi guna lahan dan transportasi didalam kerangka konsep tersebut

juga dipengaruhi oleh faktor luar yang ikut berinteraksi didalam sistem, yaitu faktor

kebijakan. Kerangka konsep tersebut akan menjadi pendekatan dalam mekanisme kerja

model interaksi guna lahan permukiman dan transportasi dalam studi.