Karyawan yang memiliki tuntutan pekerjaan dari suatu perusahaan
maka akan berpengaruh terhadap pencapaian kesejahteraan di tempat kerja.
Penelitian mengenai hubungan antara job demands dan workplace well-
being, sampai saat ini masih jarang yang mengembangkan penelitian
tersebut. Namun, ada beberapa penelitian yang sekiranya dapat mendukung
kedua variabel tersebut memiliki hubungan. Wood, Stride, Threapleton,
Wearn, Nolan, Osborn, Paul dan Johnson (2010) menjelaskan bahwa
rendahnya level tuntutan pekerjaan (job demands) seseorang yang
dikombinasikan dengan tingginya kontrol akan pekerjaan (job control) dan
hubungan yang suportif di tempat kerja meningkatkan kesejahteraan pekerja
(staff well-being). Jadi bagaimana tingkatan tuntutan pekerjaan seseorang
yang didukung dengan kontrol pekerjaan serta bagaimana lingkungan kerja
dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan.
Penelitian yang dilakukan pada karyawan shift oleh Arwansyah (2010)
menjelaskan bahwa individu yang merasa tuntutan pekerjaannya rendah
akan merasakan kesejahteraan di lingkungan kerja yang tinggi karena
mendapatkan pengalaman yang positif sehingga ia akan merasa kebutuhan
dasarnya terpenuhi dan sebaliknya. Berdasarkan hasil dari penelitian
Arwansyah (2010), terdapat hubungan negatif yang signifikan antara job
demands dengan workplace well-being. Hal ini menunjukkan bahwa ketika
pekerja memiliki tingkat quantitative job demands yang rendah, pekerja juga
memiliki tingkat workplace well-being yang tinggi. Begitu pula ketika pekerja
memiliki tingkat quantitative job demands yang tinggi, maka pekerja tersebut
memiliki tingkat workplace well-being yang rendah.
Penelitian lain dari Love, Irani, Standing, dan Themistocleous (2007)
menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan (job demands) dan variabel lainnya
yang dijelaskan dalam model Karasek, yakni Job-Strain Model (JSM),
menjadi prediktor yang signifikan untuk kesejahteraan psikologis pekerja
(employee’s psychological well-being) pada pekerja kesehatan. Dari
penelitian-penelitian tersebut, job demands diketahui memiliki pengaruh
dengan well-being pada karyawan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk
melihat apakah terdapat pengaruh antara job demands dengan workplace
well-being.
