Ada 5 macam strategi retensi karyawan, yaitu kompensasi, pemenuhan
harapan, induksi, praktik SDM yang memperhatikan keluarga karyawan, serta
pelatihan dan pengembangan. Kelima hal itu tidak semata-mata bisa
meningkatkan retensi karyawan. Ada sejumlah hal lain yang perlu diperhatikan,
terkait dengan strategi retensi karyawan (Torrington, 2003).
- Strategi Retensi Kompensasi
Kompensasi dimasukkan sebagai strategi retensi pertama, karena hal ini sering
kali dianggap sebagai pemicu utama ketidakpuasan karyawan yang pada
akhirnya menyebabkan ketiadaan retensi. Bila mereka merasa tidak puas,
mereka mungkin tidak bekerja seperti seharusnya, dan pada akhirnya,
perusahaan sulit mengharapkan retensi mereka. Tetapi bila kompensasi yang
diterima sudah sesuai dengan kebutuhan karyawan, maka yang terjadi
hanyalah pemeliharaan tingkat kepuasan, bukan kepuasan yang meningkat
pesat. - Strategi Retensi Pemenuhan Harapan
Karyawan masuk ke dalam perusahaan dengan sejumlah harapan, antara lain
harapan untuk mendapat promosi, harapan untuk bekerja dengan tenang,
harapan untuk mendapat kesesuaian imbalan dengan tenaga yang telah
dicurahkan. Pemenuhan harapan karyawan sebenarnya termasuk di dalam
kontrak psikologis. - Strategi Induksi
Induksi terkait dengan masa orientasi karyawan baru. Ada sejumlah tujuan
induksi, yaitu membantu karyawan baru untuk menyesuaikan emosinya
dengan tempat kerja baru, menjadi wadah untuk menyampaikan informasi
dasar tentang organisasi, dan menyampaikan aspek budaya yang dimiliki
perusahaan, seperti kebiasaan yang ada di perusahaan itu. - Strategi Retensi Praktik SDM
Praktik SDM dengan memerhatikan keluarga karyawan. Contoh, bila seorang
karyawan yang sudah berkeluarga akan dimutasi, pihak perusahaan harus
mempertimbangkan nasib keluarga inti karyawan tersebut. Satu solusi yang
baik adalah, saat menugaskan karyawan yang sudah berkeluarga ke luar kota,
pihak perusahaan harus memperhatikan akomodasi bagi keluarga karyawan
tersebut, setidaknya membantu mencarikan akomodasi bagi keluarga
karyawan itu. - Strategi Retensi Bidang Pelatihan Dan Pengembangan Karyawan
Penugasan untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan yang tidak adil pun
bisa mengurangi retensi karyawan. Perusahaan harus menyampaikan alasan
yang masuk akal dan transparan saat akan mengirim karyawan mengikuti
pelatihan dan pengembangan. Tanpa transparansi, akan timbul kecurigaan.
Rasa curiga dapat menimbulkan konflik, menghasilkan situasi kerja yang tidak
sehat, dan pada akhirnya mengurangi retensi karyawan
