Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional danOrganizational Citizenship Behavior (OCB

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bass dan Rigio (2006) menyatakan
bahwa kepemimpinan transformasioanl dengan keefktifan organisasi dalam
tingkat yang lebih tinggi sehingga menyebabkan kinerja tim lebih tinggi.
Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa kepemimpinan transformasional
berkorelasi signifikan dengan kinerja yang merupakan kriteria keefektifan karena
OCB pada karyawan atau bawahan. Kemampuan bawahan dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan dna motivasi intrinsic bawahan merupakan hal yang mendukung
usaha bawahan dalam menyelesaikan pekerjaan (Bass dan Rigio, 2006).
Penelitian Bass dan Rigio (2006) menyebutkan bahwa kepemimpinan
transformasioanal sebagai dasar munculnya OCB sesuai standar yang telah
ditetapkan.
Organ (1995) mendefinisikan bahwa Organizational Citizenship Behaviour
sebagai perilaku individu yang mempunyai kebebasan untuk memilih, yang secara
tidak langsung diakui oleh system reward, dan memberi kontribusi pada
keefektifan dan efisiensi dari fungsi organisasi. Menurut Organ dkk (2006) ada
lima ciri-ciri Organizational Citizenship Behaviour (OCB) yaitu altruism,
conscientiousness, sportsmanship, courtesy, dan civic virtue. Organ menyebutkan
salah satu factor penguat dan factor pendukung Organizational Citizenship
Behaviour (OCB) adalah persepsi terhadap kiualitas hubungan antara atasan
dengan bawahan.
Menurut Matin dkk (2010), tipe kepemimpinan yang dapat memunculkan
OCB dari seorang karyawan adalah kepemimpinan transformasional. Pemimpin
akan memotivasi karyawan untuk bersedia bekerja melampaui kepentingan
pribadinya sehingga dapat meningkatkan komitmen karyawan dan memotivasi
karyawan. Ketika perusahaan menerapkan kepemimpinan transformasional maka
karyawan akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi pada
hirarki kebutuhan Maslow yaitu aktualisasi diri.
Bass dan Riggio (2006) menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan dibedakan
menjadi dua, yaitu kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan
transaksional. Kepemimpinan transaksional yaitu gaya pemimpin yang melibatkan
sebuah proses pertukaran yang dapat menghasilkan kepatuhan bawahan akan
permintaan pemimpin tetapi tidak bisamenghasilkan antusiasme dan komitmen
terhadap perusahaan. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh
pemimpin tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang
telah diberikan dengan kesepakatan pertukaran yang sudah disepakati bersama.
Sehingga kurangnya aktualisasi diri dari bawahan yang akan memberikan
kemampuan yang dimiliki secara maksimal. Sedangkan kepemimpinan
transformasional lebih memberikan stimulasi dan inspirasi kepada bawahanya
untuk melibihi minat pribadi bawahan sebagai suatu tujuan, misi, atau visi
kolektif yang lebih tinggi (Bass dan Riggio, 2006). Sehingga bawahan dapat
meningkatkan kemampuan yang dimiliki secara maksimal dan merasa
diperhatikan oleh pemimpinnya.
Bass dan Riggio (2006) menyatakan salah satu aspek kepemimpinan
transformasional adalah pemimpin yang memiliki idealized influence yang diakui
bawahan. Pemimpin yang memiliki idealized influence atau kharismatik yang
pada umumnya dapat memperoleh perasaan cinta dari bawahan, bahwa bawahan
menjadi merasa percaya diri dan saling mempercayai di bawah kepemimpinan
seorang pemimpin yang kharismatik. Bagi seorang pemimpin yang berkharisma,
bawahan menerima pemimpin sebagai model yang diinginkan, tumbuh
antusiasme kerja dari bawahan, mampu membuat bawahan berkerja lebih lama
tanpa menginginkan reward.
Aspek yang kedua dari kepemimpinan transformasional menurut Bass dan
Riggio (2006) adalah inspirational motivation. Inspirational motivation adalah
pemimpin memberikan inspirasi atau menjadi sumber inspirasi bagi bawahanya.
Dapat juga memberikan arti atau tantangan bagi bawahan dengan memberikan
semangat dan harapan, menyebarkan visi, komitmen pada tujuan organisasi atau
perusahaan. Semangat dan harapan pada karyawan dapat meningkatkan
kemungkinan keberhasilan dalam pekerjaan, dalam berhubungan dengan rekan
kerjaketika sedang beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan. Dengan adanya
sikap semangat ini, karyawan mampu menghilangkanrasa takut dan khawatir yang
berlebihan, karena berbagai kekhawatiran tersebut hanya menghalangi seseorang
dalam mencapai hal yang diinginkan. Memiliki sikap semangat berarti juga
menyadari kelebihan-kelebihan dalam diri serta kekurangan-kekurangan yang
dimiliki, hal ini dapat memaksimalkan OCB pada karyawan.
Aspek yang ketiga menurut Bass dan Riggio (2006) adalah indizidualized
consideration, perilaku dan perhatian terhadap bawahan yang sifatnya individual.
Artinya pemimpin bisa memahami dan peka terhadap permasalahan dan
kebutuhan dari tiap-tiap bawahan. Setiap karyawan yang dekat dengan
pemimpinya akan mendapatkan perhatian khusus. Perhatian khusus dari
pemimpinnya akan menjadikan kontrol bagi karyawan saat melakukan pekerjaan
agar karyawan tersebut bekerja secara optimal.
Aspek yang keempat menurut Bass dan Riggio (2006) adalah intellectual
stimulation, yaitu kemampuan pemimpin untuk menstimulasi pemikiran atrau ide-
ide dari bawahan. Elemen kepemimpinan ini antara lain kemampuan seorang
pemimpin dalam menciptakan, menafsirkan dan mengkolaborasi simbol yang
muncul dalam kehidupan, dan mengajak bawahan untuk berfikir secara kreatif.
Karyawan yang memiliki kreatifitas dalam berfikir karena pemimpinnya memiliki
kemampuan menstimulasi pemikiran dan ide-ide terhadap karyawanya maka
dengan hal tersebut dapat menghasilkan output atau hasil pekerjaan yang lebih
maksimal.
Pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang mampu memotivasi
bawahan untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik dari keinginan bawahan itu
sendiri dan bahkan lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Sebagai
seorang pemimpin harus bisa menggerakan karyawanya, agar hasil kerja atau
kinerja karyawan tersbeut dapat memenuhi visi dan misi perusahaan. Apabila
seorang pemimpin berhasil dalam membuat karyawanya bekerja dengan baik
dalam perusahaan, bisa diartikan bahwa pemimpin tersebut berhasil dalam
mempengaruhi karyawannya sehingga timbul rasa bahagia dan hormat terhadap
pemimpinya,dari sikap itu timbul kesadaran dari para karyawan untuk
menjalankan pekerjaanya. Dengan demikian penerapan gaya kepemimpinan
transformasional pada pemimpin dapat mempengaruhi sikap OCB karyawan
karena karyawan memperoleh inspirasi, motivasi dan perhatian dari pemimpinya