Penyebab temper tantrum


Temper tantrum sering terjadi karena anak merasa frustasi dengan
keadaannya, sedangkan ia tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan
kata-kata atau ekspresi yang diinginkannya (Hasan, 2011). Pada anak usia 2-
4 tahun, tantrum terjadi karena anak usia tersebut biasanya sudah mulai
mengerti banyak hal dari yang didengar, dilihat maupun dialaminya, tetapi
kemampuan bahasa atau berbicaranya masih sangat terbatas. Puncak tantrum
terjadi saat usia 2-4 tahun, disebut juga toddler atau terrible two. Hal ini
disebabkan karena anak-anak pada usia 2-4 tahun mempunyai karekteristik
tersendiri yang berbeda dengan bayi dan anak usia prasekolah. Anak usia 2-
4 tahun memiliki perilaku yang mirip dengan perilaku remaja, seperti
misalnya sulit di nasihati dan cenderung menentang. Itulah mengapa anak
pada usia ini mengalami puncak tantrum (Soetjiningsih, 2007).
Berikut adalah pemicu timbulnya tantrum pada anak usia dini menurut
Rahmah (2013) antara lain: (1) ditolak permintaannya; (2) tak mampu
mengungkapkan keinginannya; (3) tak mampu menguasai atau melakukan
suatu hal; (4) terhalangnya keinginan untuk mandiri; (5) lelah, lapar, dan atau
merasa tidak nyaman; (6) suasana hatinya memang sedang buruk; (7) mencari
perhatian.
Menurut Hurlock (2010) situasi yang menimbulkan temper tantrum
antara lain; (1) Rintangan terhadap gerak yang diinginkan anak, baik
rintangan itu berasal dari orang lain atau dari ketidakmampuan diri sendiri,
(2) Rintangan terhadap aktivitas yang sudah mulai berjalan, (3) Rintangan
terhadap keinginan, rencana, dan niat yang ingin dilakukan anak.
Menurut Salkind (2002), temper tantrum terjadi pada anak yang
pemalu, penakut, dan sering cemas terhadap orang asing. Keterlambatan
dalam perkembangan bahasa, gangguan pendengaran, gangguan system
syaraf pusat dapat menyebabkan temper tantrum. Lingkungan anak akan
mempengaruhi intensitas dan frekuensi tantrum.
Pendapat lain dari Achroni (2012), perilaku temper tantrum dapat
disebabkan oleh berbagai hal, antara lain sebagai berikut yaitu anak merasa
frustasi karena keinginannya yang besar unuk melakukan sesuatu, tetapi
kemampuannya yang terbatas membuat ia tidak dapat melakukan yang
diinginkannya tersebut. Misalnya, anak gagal memasang kepingan puzzle di
tempatnya yang benar. Ketidakberhasilan ini akan memicu untuk merasakan
kemarahan dan meledak dalam bentuk perilaku temper tantrum; keinginan
anak tidak dipenuhi oleh orang tua atau orang terdekat dimana dalam hal ini
yaitu pendidik sehingga anak menunjukkan perilaku temper tantrum untuk
memaksa orang tua maupun orang terdekat untuk segera memenuhi
keinginannya; anak dipaksa berhenti bermain dan segera membereskan
mainannya, padahal ia tengah asyik bemain; tidak mampu mengungkapkan
pikiran, perasaan, atau keinginan karena keterbatasan bahasa; anak mudah
untuk meniru model kemarahan orang tua atau orang yang terdekat di
lingkungannya yang melampiaskan amarahnya secara meledak-ledak; anak
dilarang melakukan sesuatu, padahal anak sangat menginginkannya.
Sehingga penyebab dari munculnya perilaku temper tantrum pada
anak pra sekolah usia 2-4 tahun yaitu ditolak permintaannya, tak mampu
mengungkapkan keinginannya, tak mampu menguasai atau melakukan suatu
hal, terhalangnya keinginan untuk mandiri, lelah, lapar, dan atau merasa tidak
nyaman, suasana hatinya memang sedang buruk, mencari perhatian