Tantrum adalah ledakan kemarahan yang tidak terkendali yang disertai
tangisan keras, menjerit, berguling-guling di lantai, melempar barang,
berteriak-teriak, tidak mau beranjak dari tempat tertentu, memukul,
menendang, atau membuat tubuh kaku (Achroni, 2012).
Temper tantrum merupakan luapan emosi yang meledak-ledak dan
tidak terkontrol. Kejadian ini seringkali muncul pada anak usia 15 bulan
sampai 5 tahun. Tantrum terjadi pada anak yang aktif dengan energi yang
melimpah (Hasan, 2011).
Temper tantrum merupakan suatu ledakan emosi yang kuat sekali,
disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit-jerit, menghentak-
hentakkan kedua kaki dan tangan pada lantai atau tanah (Chaplin, 2009).
Anak tantrum adalah anak yang marah secara berlebihan. Perilaku ini
sering terjadi pada anak di bawah 4 tahun. Kebiasaan mengamuk akan lebih
sering dilakukan bila anak mengetahui bahwa cara ini keinginannya akan
terpenuhi. Semakin sering, anak tantrum, maka semakin tinggi
kecenderungannya untuk kembali memanfaatkan tantrum ketika dia perlu
berkomunikasi, mengeluh, atau melampiaskan energy dan emosinya yang
terpendam (Dewi, 2005). Secara tipikal tantrum mulai terjadi pada saat anak
mulai membentuk sense of self. Pada usia ini anak sudah cukup untuk
memiliki perasaan “me” dan “my wants”, tetapi mereka belum memiliki
keterampilan yang memadai bagaimana cara memuaskan keinginan mereka
secara tepat. Tantrum puncaknya pada usia 2-4 tahun yakni sekitar 23-80 %
(Syamsuddin, 2013 )
