Bentuk dari Kebijakan Dividen


Dalam perkembangannya, muncul berapa teori tentang kebijakan
dividen. Menurut Ilhamsyah & Soekotjo, (2017) ada dua penadapat
mengenai relevansi kebijakan dividen, yaitu 1.pendapat yang menyatakan
bahwa dividen tidak relevan dan 2. Pendapat yang menyatakan bahwa
dividen adalah relevan dalam kaitannya dengan kemakmuran pemegang
saham.

  1. Pendapat tentang tidakrelevanan dividen (irrelevant theory)
    Pendapat ini dikemukan oleh Modigliani dan Miller, (1985). Modigliani
    dan Miller memberikan argumentasi bahwa pembagian laba dalam
    bentuk dividen tidak relevan. MM menyatakan bahwa, dividend payout
    rasio (DPR) hanya merupakan bagian kecil dari keputusan pendanaan
    perusahaan. DPR tidak mempengaruhi kekayaan pemegang saham. MM
    beragumentasi bahwa nilai perusahaan ditentukan tersendiri oleh
    kemampuan aktiva perusahaan untuk mengahasilkan laba atau
    kebijakan investasi. Jadi dalam ragka membagi laba perusahaan menjadi
    dividen dan laba yang ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan.
    Dalam hal ini MM berasumsi bahwa adanya pasar modal sempurna
    dimana tidak ada biaya transaksi, biaya pengembangan(floating cost)
    dan tidak ada pajak.
  2. Pendapat tentang relevensi dividen (Relevant Theory)
    Pendapat ini mencoba membantah pendapat ketidakrelevan pembayaran
    dividen. Sejumlah argumentasi diajukan untuk mendukung posisi yang
    kontradiksi yaitu bahwa dividen adalah relevan untuk kondisi yang tidak
    pasti. Dengan kata lain, para investor dapat dipengaruhi pleh kebijakan
    dividen. Pendapat ini terutama ditunjukan untuk keadaan yang penuh
    ketidakpastian.
    Terdapat beberapa pendapat dan terori yang mengemukakan tentang
    dividen diantaranya dividend Irrelevance Theory, The Bird in Han d Theory,
    Tax Preferance Theory, Information Content or Signaling Hypothesis,
    Clientele Effect.
  3. Pertama. Dividend Irrelevance Theory menyatakan bahwa kebijakan
    dividen perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai
    perusahaan maupun biaya modalnya. Peningkatan pembayaran dividen
    hanya dimungkinkan apabil laba yang diperoleh perusahaan meningkat.
    Keuntungan yang diperoleh atas kenaikan harga saham akibat
    pembayaran dividen akan diimbangi dengan penurunan harga saham
    karena adanya penjualan saham baru. Oleh karenanya pemegang saham
    dapat menerima kas dari perusahaan saat ini dalam bentuk pembayaran
    dividen atau menerimanya dalam bentuk capital again. Kemakmuran
    pemegang saham sekali tidak dipengaruhi oleh kebijakan dividen saat
    ini maupun dimasa datang.
  4. Kedua. The Bird in Hand Theory, teori ini menyatakan bahwa biaya
    modal sendiri perusahaan akan naik jika DPR rendah karena investor
    lebih memandang dividen yield yang lebih pasti daripada capital gains
    yield. Perlu diingat bahwa dilihat dari sisi investor, biaya modal sendiri
  5. Ketiga. Tax Preferance Theory, menyatakan bahwa investor
    menghendaki perusahaan untuk menahan laba setelah pajak dan
    digunakan untuk pembiayaan investasi dari pada dividen dalam bentuk
    kas. Oleh karenanya perusahaan sebaiknya menentukan Dividen Payout
    Ratio yang rendah atau bahkan tidak membagikan dividen. Karena
    dividen cenderung dikenakan pajak yang lebih tinggi daripada capital
    again, maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih
    tinggi untuk saham dengan dividen yield yang tinggi.
  6. Keempat. Infarmation Content or Signaling Hypothesis,M-M
    berpendapat bahwa suatu kenaikan dividen yang diatas kenaikan normal
    biasnya merupakan suatu sinyal kepada para investor bahwa manajemen
    perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik dimasa yang akan
    datang. Sebaliknya, suatu penurunan atau kenaikan dividen yang
    dibawah kenaikan normal diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa
    perusahaan mengahdapi masa sulit dimasa mendatang. Namun
    demikian sulit dikatakan apakah kenaikan atau penurunan harga setelah
    adanya kenaikan atau penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh
    efek sinyal atau mungkin disebabkan oleh efek sinyal dan preferensi
    terhadap dividen.
  7. Lima. Clientele Effect, menyatakan bahwa pemegang saham yang
    berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan
    dividen perusahaan. Kelompok investor yang membutuhkan
    penghasilan saat ini lebih menyukai Dividend Payout Ratio (DPR) yang
    tinggi, sebaliknya kelompok investor yang tidak begitu membutuhkan
    uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba
    bersih perusahaan Brigham dan Houston, (2004:66).