Investasi


Investasi dapat diartikan sebagai komitmen atas sejumlah dana atau sumber
daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh
sejumlah keuntungan di masa mendatang (Tandelilin, 2010 dalam Afiffudin,
2014). Dalam berinvestasi, investor tidak tahu dengan pasti hasil yang akan
diperolehnya dari investasi yang dilakukannya. Dalam keadaan seperti ini,
investor menghadapi resiko investasi, investor hanya dapat memperkirakan
hasil dan resiko yang akan diperoleh di masa depan. Dengan demikian, dalam
berinvestasi, investor menghadapi dua permasalahan yaitu bersangkutan
dengan perhitungan yang diharapkan dan yang kedua menyangkut ukuran
penyebaran nilai. Terdapat dua unsur yang melekat pada setiap modal atau
dana yang diinvestasikan yaitu hasil (return) dan resiko (risk). Hubungan
resiko dan return yang diharapkan dari suatu investasi merupakan hubungan
yang searah dan linier. Artinya semakin besar return yang diharapkan,
semakin besar pula tingkat resiko yang harus dipertimbangkan. Untuk
memprediksikan saham perusahaan, investor perlu melakukan analisis
terhadap suatu efek atau sekelompok efek. Untuk itu ada dua pendekatan
yang digunakan Halim (2005), yaitu:

  1. Pendekatan Fundamental
    Pendekatan yang didasarkan pada informasi-informasi yang diterbitkan
    oleh emiten maupun administrator bursa efek. Analisis ini dimulai dari
    siklus usaha perusahaan secara umum, selanjutnya ke aktor industrinya,
    akhirnya dilakukan evaluasi terhadap kinerjanya dan saham yang
    diterbitkannya.
  2. Pendekatan Teknikal
    Pendekatan yang didasarkan pada data (perubahan) harga saham di masa
    lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga saham di masa
    mendatang. Dengan analisis ini para analis memperkirakan pergeseran
    penawaran (supply) dan permintaan (demand) dalam jangka pendek, serta
    berusaha untuk cenderung mengabaikan resiko dan pertumbuhan laba
    dalam menentukan barometer dari penawaran dan permintaan