Menurut Ryff, psychological well-being adalah suatu kondisi
seseorang yang bukan hanya bebas dari tekanan atau masalah-masalah
mental saja, tetapi lebih dari itu yaitu kondisi seseorang yang mempunyai
kemampuan menerima diri sendiri maupun kehidupannya di masa lalu (self-
acceptance), pengembangan atau pertumbuhan diri (personal growth),
keyakinan bahwa hidupnya bermakna dan memiliki tujuan (purpose in life),
memiliki kualitas hubungan positif dengan orang lain (positive relationship
with others), kapasitas untuk mengatur kehidupannya dan lingkungannya
secara efektif (environmental mastery), dan kemampuan untuk menentukan
tindakan sendiri (autonomy) (Purnama et al., 2022).
Psychological well-being berhubungan dengan kepuasan pribadi,
engagement, harapan, rasa syukur, stabilitas suasana hati, pemaknaan
terhadap diri sendiri, harga diri, kegembiraan, kepuasan dan optimisme,
termasuk juga mengenali kekuatan dan mengembangkan bakat dan minat
yang dimiliki, psychological well-being memimpin individu untuk menjadi
kreatif dan memahami apa yang sedang dilaksanakan (Laila, 2019).
Hurlock (2013) menyebutkan psychological well being adalah keadaan
sejahtera (well being) dan kepuasan hati, yaitu kepuasan yang
menyenangkan yang timbul bila kebutuhan dan harapan individu terpenuhi.
Berdasarkan berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
psychological well being adalah kondisi dimana individu merasa puas
dengan hidupnya.
