Keterlibatan Loyalitas Karyawan Terhadap Organisasi


Loyalitas karyawan yang mempunyai keterlibatan tinggi
dengan pekerjaannya, mempersiapkan kerja sebagai sesuatu yang
penting bagi pengembangan self-esteem-nya. Dengan demikian, diduga
bahwa karyawan yang mempunyai keterlibatan kerja yang tinggi akan
menunjukkan kinerja (kualitas performance) yang berbeda dengan
mereka yang keterlibatannya rendah.
Patchen (dalam Sutrisno, 2010) memandang bahwa karyawan
yang mempunyai keterlibatan kerja yang tinggi tersebut menunjukkan:
(a) motivasi kerja yang tinggi, (b) mempunyai solidaritas yang tinggi
terhadap kelompok kerja atau organisasi, dan (c) rasa bangga dengan
pekerjaannya. Maka kualitas kekaryaannya dilihat dan sejauh mana
seorang karyawan memberikan kontribusi yang maksimal terhadap
peningkatan efisiensi, dimana eksistensi kerja tersebut adalah
menyangkut pendapatan perusahaan, penurunan biaya produksi,
perluasan pasar, berkurangnya keluhan konsumen, menurunnya
absensi dan pemutusan kerja.
Pengalaman menunjukkan bahwa baik manajemen maupun
para karyawan sendiri menyadari bahwa pemeliharaan hubungan yang
serasi antara organisasi dengan para anggotanya bukan hanya
merupakan tanggung jawab manajeman. Para karyawan pun
diharapkan turut terlibat secara aktif. Siagian (2005) menyebutkan
berbagai literatur tentang pendorong keterlibatan karyawan yang loyal
terhadap organisasi memberi petunjuk bahwa terdapat enam
pendekatan, yaitu:

  1. Gugus kendali mutu. Para pakar manajemen memperkenalkan
    dalam praktek konsep ini berarti dibentuknya kelompok-
    kelompok kecil (gugus) pekerja yang bertemu secara berkala
    dibawah pimpinan seseorang untuk mengidentifikasikan dan
    memecahkan sendiri masalah-masalah yang dihadapi oleh
    gugus tersebut dalam pelaksanaan pekerjaannya.
  2. Pengembangan tim. Dalam kehidupan kekaryaan modern
    dewasa ini semakin disadari bahwa terdapat interelasi dan
    interdependensi antara satu tugas dengan tufgas lainnya. Berarti
    sukar membanyangkan adany tugas yang dapat diselesaikan
    secara tuntas hanya oleh seseorang, terutama apabila tugas
    tersebut bersifat pemecahan masalah. Konsekuensinya ialah
    keharusan bekerja dalam satu tim. Berdasarkan kenyataan
    bahwa suatu masalah terpecahkan dengan lebih baik apabila
    pemecahannya dipikirkan oleh suatu kelompok dibandingkan
    dengan apabila dikerjakan sendiri oleh seseorang, pembinaan
    tim dipandang sebagai salah satu kegiatan manajeman yang
    penting dalam rangka peningkatan mutu keterlibatan karyawan.
    Sasarannya bukan hanya peningkatan kemampuan
    memecahkan masalah, akan tetapi juga untuk memupuk rasa
    kebersamaan antara para anggota kelompok kerja dan kesetiaan
    karyawan pada pekerjaannya.
  3. System sosio-teknikal. Merupakan upaya memadukan struktur
    tugas, kelompok kerja, dan teknologi yang dibawa ke
    lingkungan pekerjaan. Sasaran perpaduan ini adalah
    pemeliharaan hubungan karyawan sekaligus mengurangi
    kebosanan yang mudah timbul apabila seseorang melakukan
    kegiatan yang sangat rutin dan repetitive. Salah satu teknik
    yang sudah dikembangkan adalah ergonomika.
  4. Ergonomika. Yang pertama kali dikembangkan di jerman
    (barat) adalah suatu studi yang mempelajari hubungan antara
    ciri fisik seorangpekerja dan tuntutan tugasnya. Sasaran studi
    itu ialah mengurangi ketegangan fisik dan mental dalam rangka
    peningkatan produktivitas dan efektivitas kerja seseorang.
  5. Keputusan bersama. Sesungguhnya konsep ini didasarkan pada
    prinsip yang sangat sederhana, yaitu para karyawan perlu
    dilibatkan dalam proses pengmbilan keputusan yang
    menyangkut nasib dan pekerjaan mereka. Para pekerja atau
    wakilnya secara formal diikutsertakan dalam proses
    pengambilan keputusan itu,seperti misalnya dalam hal menutup
    suatu pabrik, melakukan pemutusan hubungan kerja dan
    keputusan-keptusan lain yang menyangkut nasib para pekerja.
  6. Kelompok kerja yang otonom. Yang dimaksud ialah
    terbentuknya kelompok-kelompok kerja tanpa pimpinan yang
    ditunjuk dan diangkat oleh organisasi. Artinya kelompok-
    kelompok kerja sendirilah yang memutuskan antara mereka
    sendiri berbagai hal yang secara tradisional ditangani oleh
    penyelia. Sebagai contoh penentuan tugas harian, penggunaan
    rotasi pekerjaan orientasi pegawai baru, program pelatiahan dan
    jadwal produksi. Bahkan ada kalanya kelompok kerja juga
    yang menangani rekrutmen dan seleksi pegawai baru. Malahan
    ada organisasi yang sudah menyerahkan wewenang pengenaan
    sanksi disipliner kepada kelompok kerja yang otonom tersebut.