Teori Gaya Kepemimpinan


Pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan memungkinkan terjadinya
keberhasilan saat memimpin pada waktu tertentu, akan tetapi karena perubahan
waktu dapat menyebabkan gaya kepemimpinan tersebut menjadi tidak efektif.
Beberapa teori yang ada untuk gaya kepemimpinan dengan menggunakan
pendekatan kontinjensi terdiri dari lima model (Bangun, 2012;347), diantaranya :

  1. Model Fiedler
    Gaya kepemimpinan model Fiedler mengemukakan bahwa kinerja kelompok
    yang efektif bergantung pada penyesuaian antara gaya kepemimpinan saat
    berinteraksi dengan bawahan dan tingkat dimana situasi yang ada memberikan
    kendali dan pengaruh pada pemimpin. Fiedler mencoba mengubah gaya
    seorang pemimpin sesuai dengan situasi yang tidak diperkirakan. Berbagai
    gaya kepemimpinan yang berbeda juga memiliki sifat berbeda pula dan dapat
    dikatakan tidak ada satu pun gaya yang sesuai dengan situasi maka untuk
    mencapai hasil kerja yag efektif dapat dicapai dengan menyesuaikan pemimpin
    dengan situasi atau mengubah situasi sesuai dengan pemimpin.
  2. Model Situasional (Harsey dan Blanchard)
    Model situasional mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang efektif
    bergantung dari kedewasaan atau kesiapan semua pengikut menerima atau
    menolak pemimpin. Kesiapan pengikut tersebut merupakan keinginan untuk
    berprestasi, kemampuan yang berhubungan dengan tugas, kemauan
    bertanggung jawab, pengalaman, dan keterampilan sehingga tercapainya
    kepemimpinan yang efektif atau tidak tergantung dari bawahan menerima atau
    menolak pemimpin.
  3. Model Pertukaran Pemimpin – Anggota (leader member exchange)
    Seorang pemimpin pada kenyataannya akan melakukan gaya kepemimpinan
    yang berbeda dengan bawahan sehingga secara tidak langsung dilakukan terori
    pertukaran pemimpin ke anggota. Teori tersebut mengatakan dengan adanya
    perubahan waktu, pemimpin membangun hubungan tertentu dengan kelompok
    kecil bawahannya. Bawahan yang tergolong kelompok dalam memiliki kinerja
    lebih tinggi, kepuasan yang tinggi, dan keinginan untuk resign lebih rendah
    bila dibandingkan dengan kelompok luar.
  4. Model Jalur – Sasaran (goal – path)
    Model goal-path dikembangkan Robert House dengan asumsi bahwa fungsi
    utama pemimpin untuk membantu bawahan agar mencapai tujuan organisasi.
    Beberapa faktor yang dipertimbangkan untuk keefektifan pemimpin adalah
    faktor-faktor situasional mencakup karakteristik bawahan seperti kebutuhan,
    keyakinan diri sendiri, dan kemampuan serta lingkungn kerja seperti tugas,
    sistem ganjaran, dan hubungan dengan rekan kerja. Teori gaya kepemimpinan
    milik Robert House mengkategorikan empat kelompok perilaku pemimpin
    seperti kepemimpinan direktif, kepemimpinan suportif, kepemimpinan
    partisipatif, dan kepemimpinan berorientasi pada prestasi.
  5. Model Partisipasi – Pemimpin
    Dikembangkan oleh Victor Vroom dan Phillip Yetton yang menghubungkan
    gaya kepemimpinan dengan partisipasi dalam mengambil keputusan. Gaya
    kepemimpinan tersebut harus menyesuaikan diri agar mencerminkan struktur
    tugas.
    Melalui pendekatan kontinjensi, para peneliti mencob untuk mencari
    faktor-faktor pada semua situasi yang dapat mempengaruhi gaya kepmimpinan ang
    efektif. Teori yang dihasilkan pada pendekatan kontinjensi secara keseluruhan
    bertujuan untuk mencapai gaya kepemimpinan yang efektif yaitu tuntutan tugas,
    harapan dan perilaku rekan sekerja, karakteristik, harapan, dan perilaku karyawan,
    serta budaya organisasi dan kebijakannya