(14) menyatakan bahwa ada enam dimensi dalam kepuasan
kerja, yaitu:
a. Pekerjaan itu sendiri, sejauhmana tugas kerja dianggap
menarik dan memberikan kesempatan untuk maju atau
belajar, dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk
memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan dan
menerima tanggungjawab selama kerja.
b. Gaji atau upah, yaitu jumlah yang diterima meliputi besar
gajinya, kesesuaian antara gaji dengan pekerjaan.
c. Kesempatan promosi, yaitu yang berhubungan dengan
masalah kenaikan jabatan, kesempatan untuk maju dan
pengembangan karir.
d. Pengawasan, yaitu termasuk didalamnya hubungan antara
karyawan dengan atasan, pengawasan kerja dan kualitas
kerja.
e. Rekan kerja, yaitu sejauhmana hubungan sesama karyawan.
f. Kondisi kerja, yaitu yang menyangkut dengan suasana kerja
yaitu peralatan kerja, ventilasi, tata ruang dan sebagainya.
Menurut (15), kondisi kerja didefinisikan sebagai lingkungan
di mana karyawan bekerja, meliputi tempat kerja, instrumen
kerja, pekerjaan itu sendiri, kebijakan organisasi, dan
peraturan yang berlaku. (16) menambahkan bahwa faktor-
faktor seperti suhu, pencahayaan, ventilasi, kebersihan,
kebisingan, jam kerja, dan ketersediaan sumber daya
merupakan bagian dari kondisi kerja yang dapat
memengaruhi kenyamanan dan produktivitas. Lebih lanjut,
(12) menyatakan bahwa pekerja lebih menginginkan kondisi
kerja yang memberikan kenyamanan fisik, karena
ketidakhadiran kondisi tersebut dapat berdampak buruk pada
kesejahteraan fisik dan mental karyawan, sebagaimana
dikutip dalam (10)
Dengan demikian, dimensi-dimensi kepuasan kerja yang
digunakan untuk mengukur kepuasan pegawai meliputi
beberapa aspek utama. Aspek pekerjaan itu sendiri
mencakup rasa tanggung jawab dan kesesuaian dengan
keterampilan serta minat pegawai. Gaji atau kompensasi
dinilai berdasarkan keseimbangan antara upah yang diterima
dengan beban kerja dan standar industri. Kesempatan
promosi juga menjadi bagian penting, di mana pegawai
mendapatkan peluang peningkatan posisi atau keterampilan.
Pengawasan kerja berfokus pada kualitas dukungan dan
kepemimpinan yang diberikan oleh atasan. Hubungan sosial
dengan rekan kerja berperan dalam membangun lingkungan
kolaboratif, dan kondisi kerja yang aman serta nyaman turut
mendukung produktivitas. Dimensi-dimensi ini memberikan
pandangan komprehensif untuk menilai kepuasan kerja
pegawai
