Pengukuran Loyalitas


Menurut griffin (2005: 31) loyalitas pelanggan tampaknya merupakan ukuran
yang lebih dapat diandalkan untuk memprediksi pertumbuhan penjualan dan
keuangan. Berbeda dari kepuasan, yang merupakan sikap, loyalitas dapat di
definisikan berdasarkan perilaku membeli. Pelanggan yang loyal adalah orang
yang:

  1. Melakukan pembelian berulang secara teratur.
    Pelanggan yang loyal adalah mereka yang melakukan pembelian barang
    atau pun jasa secara teratur bahkan mereka akan tetap membeli meski pun
    harganya mengalami kenaikan.
  2. Membeli antar lini produk dan jasa.
    Pelanggan yang loyal bukan hanya membeli satu jenis produk atau jasa
    saja dari sebuah perusahaan , melainkan mereka juga membeli produk ataupun
    jasa tambahan yang disediakan oleh perusahaan tersebut.
  3. Mereferensikan kepada orang lain.
    Pelanggan yang loyal selalu ingin mereferensikan suatu produk atau jasa
    yang digunakannya kepada orang lain, baik kepada teman maupun saudara.
    Mereka selalu berusaha mempengaruhi orang lain untuk menggunakan produk
    atau jasa yang sama dengan selalu menceritakan kelebihan produk atau jasa yang
    dia gunakan sampai orang tersebut mencoba menggunakannya.
  4. Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing.
    Para pelanggan yang loyal selalu menolak apabila ditawari produk atau
    jasa dari perusahaan lain (pesaing). Mereka sudah memiliki kecintaan tersendiri
    terhadap produk atau jasa yang telah digunakan.
    Basu (1994) menjelaskan loyalitas mencangkup dua komponen yang
    penting, yaitu berupa loyalitas sebagai perilaku dan loyalitas sebagai sikap.
    Kombinasi dari dua komponen tersebut akan menghasilkan empat jenis situasi
    kemungkinan loyalitas, yaitu: no loyalty, spurious loyalty, latent loyalty, dan
    loyalty”. Tjiptono (2007) menjelaskan empat jenis situasi kemungkinan loyalitas
    dari Basu (1994), sebagai berikut:
  5. No Loyalty
    Hal ini dapat terjadi bila sikap dan perilaku pembelian ulang pelanggan sama-
    sama lemah, maka loyalitas tidak terbentuk.
  6. Spurious Loyalty
    Keadaan seperti ini ditandai dengan pengaruh non sikap terhadap perilaku, seperti
    norma subjektif dan faktor situasional. Situasi semacam ini dapat dikatakan pula
    inertia, dimana konsumen sulit membedakan berbagai merk dalam kategori
    produk dengan tingkat keterlibatan rendah. Sehingga pembelian ulang di lakukan
    atas dasar pertimbangan situasional, seperti familiarity (dikarenakan penempatan
    produk yang strategis pada rak pajangan, lokasi outlet di pusat perbelanjaan)
  7. Latent Loyalty
    Situsi latent loyalty tercermin bila sikap yang kuat disertai pola pembelian ulang
    yang lemah. Situasi yang menjadi perhatian besar para pemasar ini disebabkan
    pengaruh faktor-faktor non sikap yang sama kuat atau bahkan cenderung lebih
    kuat daripada faktor sikap dalam menentukan pembelian ulang.
  8. Loyalty
    Situasi ini merupakan situasi yang ideal yang paling di harapkan para pemasar. Di
    mana konsumen bersikap positif terhadap produk atau produsen dan disertai pola
    pembelian ulang yang konsisten