Model-Model Motivasi


Model motivasi berkembang dari teori klasik (tradisional) menjadi teori
modern, sesuai dengan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan.
Perbandigan antara dasar kefalsafahan teori klasik (tradisional) dengan teori
modern dibedakan dalam dua hal.
Pertama: teori klasik menitikberatkan pada analisis dan penguraian
(spesialisasi), sedangkan teori modern penegasannya terletak pada keterpaduan
dan perencanaan, serta menyajikan seluruh pandangan yang dibutuhkan.
Kedua: teori klasik secara tidak langsung telah menyatakan unidimensi
bahwa jika sesuatu merupakan sebuah benda maka benda tersebut tidak dapat
menjadi benda kedua, sedangkan teori modern biasanya memanfaatkan suatu
pandangan yang multidimensi. Misalnya motivasi bukan saja memenuhi
kebutuhan fisik, tetapi juga harus memberi kepuasan rohani.
Menurut Hasibuan S.P. Hasibuan (2016; 148-149) model-model motivasi
ada tiga, yaitu:
a. Model Tradisional
Model ini mengemukakan bahwa untuk memotivasi bahwa agar gairah
kerjanya meningkat, perlu diterapkan sistem insentif, yaitu memberikan
insentif (uang/barang) kepada karyawan yang berprestasi baik. Semakin
banyak produksinya semakin besar pula balas jasanya. Jadi, motivasi bawahan
hanya untuk mendapatkan insentif (barang/uang) saja.
b. Model Hubungan Manusia
Model ini mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan supaya gairah
kerjanya menigkat ialah dengan mengakui kebutuhan sosial mereka dan
membuat mereka merasa berguna dan penting. Sebagai akibatnya, karyawan
mendapatkan beberapa kebeasan membuat keputusan dan kreativitas dalam
pekerjaannya. Dengan memeperhatikan kebutuhan materil dan materil
karyawan, motivasi kerjanya akan menigkat pula. Jadi motivasi karyawan
adalah untuk mendapatkan materil dan nonmaterial.
c. Model Sumber Daya manusia
Model ini mengatakan bahwa karyawan dimotivasi oleh banyak faktor, bukan
hanya uang/barang atau keinginan akan kepuasan, tetapi juga kebutuhan akan
pencapaian dan pekerjaan yang berarti. Menurut model ini, karyawan
cenderung memperoleh kepuasan dari prestasi yang baik. Karyawan bukanlah
berprestasi baik karena merasa puas, melainkan karena termotivasi oleh rasa
tanggung jawab yang lebih luas untuk membuat keputusan dalam
melaksanakan tugas-tugasnya