Motivasi merupakan pendorong tingkah laku pegawai. Terbentuknya motif
berprestasi sangatlah kompleks, sekompleks perkembangan kepribadian manusia.
Motif ini tidak lepas dari perkembangan kepribadian tersebut, dan tidak pernah
berkembang dalam kondisi vakum. Seperti kita ketahui, betapa besarnya peranan
kehidupan keluarga dalam demi sedikit menampakan pola-pola kepribadian dan
kemudian berkembang dengan segala karakteristiknya mencakup sikap,
kebiasaan, cara berfikir, motif-motif, dan sebagainya.
Donni Juni Priansa (2016; 220-222) mengatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi kerja pergawai antara lain adalah berkaitan dengan:
a. Keluarga dan Kebudayaan
Motivasi berprestasi dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial seperti orangtua
dan teman.
b. Konsep Diri
Konsep diri berkaitan dengan bagaimana pegawai berfikir tentang dirinya.
Jika pegawai percaya bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, maka
pegawai akan termotivasi untuk melakukan hal tersebut.
c. Jenis Kelamin
Prestasi kerja di lingkungan pekerjaan umumnya diidentikan dengan
maskulinitas, sehingga banyak para wanita belajar tidak maksimal khususnya
jika wanita tersebut berada di antara lingkungan pekerjaan yang didominasi
pria.
d. Pengakuan dan Prestasi
Pegawai akan lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras apabila dirinya
merasa dipedulikan atau diperhatikan oleh pimpinan, rekan kerja, dan
lingkungan pekerjaan.
e. Cita-cita atau Aspirasi
Cita-cita atau disebut juga aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai.
Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang
mengandung makna bagi pegawai. Aspirasi ini dapat bersifat positif dan dapat
pula bersifat negatif. Pegawai yang mempunyai aspirasi positif adalah pegawai
yang menunjukan hasratnya untuk memperoleh keberhasilan. Sebaliknya
pegai mempunyai aspirasi negatif adalah pegawai yang menunjukan keinginan
atau hasrat menghindari kegagalan.
f. Kemampuan Belajar
Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri
pegawai, misalnya pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikir dan fantasi.
Dalam kemampuan belajar ini, taraf perkembangan berfikirnya konkrit tidak
sama dengan pegawai yang sudah sampai pada taraf perkemabangan berpikir
operasional. Jadi pegawai yang mempunyai kemampuan belajar tinggi,
biasanya lebih termotivasi dalam belajar, karena pegawai tersebut lebih sering
memperoleh sukses, sehingga kesuksesan tersebut memperkuat motivasinya.
g. Kondisi Pegawai
Kondisi fisik dan kondisi psikologis pegawai sangat mempengaruhi faktor
motivasi kerja, sehingga sebagai pimpinan organisasi harus lebih cermat
melihat kondisi fisik dan psikologis pegawai. Misalnya pegawai yang kelihatan
lesu, mengantuk, mungkin disebabkan waktu berangkat kerja belum sarapan,
atau mungkin di rumah mengalami masalah yang menimbulkan kemarahan,
kejengkelan, bahkan mungkin kecemasan. Maka kondisi-kondisi fisik dan
psikologis ini pun dapat mengurangi atau bahkan menghilang motivasi kerja
pegawai.
h. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan merupakan suatu unsur-unsur dari luar diri pegawai.
Unsur-unsur di sini dapat berasal dari lingkungan keluarga, organisasi,
maupun lingkungan masyarakat, baik yang menghambat atau mendorong.
Kalau dilihat dari lingkungan organisasi, pimpinan harus berusaha mengelola
kondisi lingkungan kerja dalam rangka meningkatkan motivasi pegawai.
i. Unsur-unsur Dinamis dalam Pekerjaan
Unsur-unsur dinamis dalam pekerjaan adalah unsur-unsur yang
keberadaannya dalam proses kerjaan tidak stabil, kadang-kadang kuat,
kadang-kadang lemah, bahkan hilang sama sekali, khususnya kondisi-kondisi
yang sifatnya kondisional. Misalnya keadaan emosi pegawai, gairah belajar,
dan situasi dalam keluarga.
j. Upaya Pimpinan Memotivasi Pegawai
Upaya yang dimaksud adalah bagaimana pimpinan mempersiapkan strategi
dalam memotivasi pegawai
