Kepemimpinan Otentik bisa diartikan dengan gaya
kepemimpinan di mana pemimpin cenderung mendorong peningkatan
kesadaran diri, memiliki pandangan moral yang terinternalisasi,
menjaga keseimbangan dalam pengolahan informasi, serta
membangun hubungan yang transparan untuk mendukung
perkembangan pribadi yang positif (Mayora & Purwanto, 2019).
Kepemimpinan otentik diperkenalkan sebagai sebuah konsep
yang bertujuan untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif
mengenai interaksi antara pemimpin dan pengikut, serta untuk
memahami karakteristik personal dari pemimpin berdasarkan prinsip-
prinsip psikologi positif. Prinsip-prinsip ini mencakup penelitian
mengenai emosi positif, atribut positif seperti kekuatan, kebajikan, dan
keterampilan, serta nilai-nilai positif dalam institusi seperti
demokrasi, keluarga, dan kebebasan (Pioli et al., 2020).
Menurut Kvasic et al. (2020), pemahaman tentang
kepemimpinan otentik dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang
berbeda. Pertama-tama, terdapat perbedaan dalam perspektif
intrapersonal, interpersonal, dan pengembangan terhadap
kepemimpinan otentik. Perspektif intrapersonal menitikberatkan pada
pemimpin itu sendiri, mencakup aspek pemahaman diri dan
pengaturan perilaku. Para pendukung pendekatan ini menemukan
bahwa pemimpin otentik memperlihatkan kepemimpinan yang jujur,
mengarahkan sesuai dengan keyakinan pribadi mereka, dan dengan
cara yang unik bagi diri mereka sendiri. Di sisi lain, pendukung
perspektif interpersonal menekankan bahwa kepemimpinan otentik
merupakan hasil dari konstruksi relasional yang timbul dari hubungan
antara pemimpin dan pengikut. Ini adalah proses yang berbasis pada
ketergantungan timbal balik, di mana pemimpin berinteraksi dengan
pengikut dan sebaliknya.
