Work Engagement memediasi pengaruh Servant Leadership terhadapAdaptive Performance


Bahwa keterikatan kerja, sebagai suatu kondisi mental yang ditandai oleh
emosi positif, mendorong kinerja tugas dan adaptif karyawan. Menurut teori ini,
kondisi afektif positif dan kesejahteraan psikologis secara umum memperluas
repertoar pikiran-tindakan seseorang, yaitu cara orang berpikir dan berperilaku.
Karena sikap positif membangun sumber daya melalui kognisi dan perilaku yang
lebih luas, hal ini menghasilkan kinerja yang lebih baik. Karena karyawan yang
terlibat sangat termotivasi dan merasakan emosi positif seperti kebanggaan,
kegembiraan, minat, dan inspirasi di tempat kerja, mereka memiliki sumber daya
dan kemauan yang diperlukan untuk menunjukkan upaya di tempat kerja (Bakker
dkk., 2014; Van den Heuvel dkk., 2010) dalam (Kaltiainen & Hakanen, 2022).
(Christian dkk., 2011; Lichtenthaler & Fischbach, 2019) dalam (Kaltiainen &
Hakanen, 2022) mengaitkan keterikatan kerja dengan kinerja tugas yang lebih
tinggi. Meskipun keterikatan kerja telah dipostulatkan dapat meningkatkan
kinerja adaptif (Van den Heuvel dkk., 2010) dalam (Kaltiainen & Hakanen, 2022),
bukti empiris yang berkaitan dengan hubungan ini masih jauh lebih sedikit.
Meskipun ini merupakan studi pertama yang mengkaji hubungan antara
keterikatan kerja dan berbagai subaspek kinerja adaptif, Eldor dan Harpaz (2016)
dalam (Kaltiainen & Hakanen, 2022) menemukan bahwa keterikatan kerja
berkorelasi positif dengan adaptabilitas umum. Demikian pula, Kaya dan
Karatepe (2020) dalam (Kaltiainen & Hakanen, 2022) menunjukkan bahwa
servant leadership berkorelasi dengan keterikatan kerja yang lebih tinggi, yang
pada gilirannya berkaitan dengan adaptabilitas interpersonal yang lebih tinggi dari
waktu ke waktu di antara karyawan yang berhubungan dengan pelanggan