Menurut pendapat dari Wulansari (2015) mengatakan bahwa upaya
untuk mengatasi perilaku temper tantrum yaitu dengan cara :
a. Para orangtua memuji anak.
b. Para orangtua mencoba untuk mengatasi tantrum anak dengan
mengalihkan perhatiannya dengan yang lain (memindah tempat duduknya)
c. Para orangtua meminta teman yang lain untuk tidak mengganggu anak
tersebut dan mendiamkannya untuk melakukan apapun.
d. Para orangtua memperlakukannya seperti anak yang lain, hanya saja selalu
mengingatkan ke anak-anak yang lain agar tetap fokus ke pelajaran.
Muzzakir (2008), menerangkan bahwa terapi musik dengan metode orff
adalah suatu teori yang melibatkan berbagai fungsi sensori, misalnya
perabaan dan pendengaran, yang merupakan perpaduan dari komunikasi
berirama seperti bahasa tubuh, gerak, dan improvisasi dengan menyanyi dan
memainkan alat-alat perkusi sederhana. Terapi musik dengan metode orff
dapat diberikan pada berbagai kasus terutama pada anak-anak yang
mengalami gangguan fisik, mental, maupun emosional. Setelah dilakukan
terapi selama lima sesi yang dilakukan oleh terapis dan pengamat
mendapatkan hasil bahwa musik dapat mempengaruhi dan mendukung anak
untuk terlibat secara spontan dalam interaksi dengan orang lain. Saat bermain
musik anak dimungkinkan memperoleh perasaan aman dan bebas.
Menurut pendapat dari Achroni (2012) bahwa saat anak sedang
mengalami perilaku temper tantrum beberapa hal yang tidak boleh kita
lakukan sebagai orang tua atau sebagai pendidik yaitu :
a. Memberi anak lebel negatif, seperti nakal, tukang ngamuk, atau penjahat
kecil
b. Membalas aksi tantrum anak dengan kemarahan. Hal ini dapat
memperburuk keadaan. Kemarahan yang ditunjukkan orang tua atau orang
terdekat akan membuat aksi tantrum anak makin parah dan lama
c. Memberikan hukuman fisik, misalnya memukul atau mencubit.
Memberikan hukuman fisik menandakan bahwa orang tua telah
kehilangan kontrol diri. Meminta anak untuk memiliki kontrol diri
sementara orang tua sendiri menunjukkan sikap yang sebaliknya tentu
akan sulit untuk dipenuhi anak
d. Merasa malu. Jika anak melakukan aksi tantrum di depan umum, orang tua
khususnya tidak perlu merasa malu. Hal ini karena semua orang di tempat
tersebut sangat memahami perasaan orangtua dari anak yang sedang
melakukan tantrum. Tidak orang yang memandang negatif perilaku
tantrum di depan umum. Semua orang pasti mengerti bahwa ini merupakan
kejadian normal
e. Memenuhi semua keinginan anak atau menjajikan sesuatu untuk
membuatnya tenang. Jika orang terdekat melakukan hal ini, maka anak
akan menggunakan sebagai senjata untuk mereka berperilaku tantrum. Jika
anak menginginkan sesuatu yang dilarang, jangan menyerah dengan
memenuhi keinginan tersebut agar tantrum dapat berhenti. Biarkan anak
belajar bahwa ia tidak bisa mendapatkan semua yang diinginkannya dan
tantrum tidak dapat digunakan sebagai senjata untuk memaksakan
keinginannya.
Pendapat yang sama mengatakan bahwa beberapa hal yang dapat
dilakukan oleh orang terdekat untuk mengatasi tantrum pada anak yaitu
dengan cara :
a. Memberikan perhatian, baik itu dengan tujuan menghibur, menyuruhnya
diam, atau menjanjikan sesuatu. Anak yang sedang menunjukkan perilaku
tantrum umumnya tidak akan mendengarkan siapa pun. Biarkan
kemarahan anak memuncak, lalu meleleh. Berdasarkan penelitian,
membiarkan tantrum anak mencapai titik puncak, kemudian meleleh tanpa
melakukakan intervensi apa pun akan membuat tantrum berlangsung
singkat. Sebaliknya, upaya mengajak anak berkomunikasi justru dapat
memperparah dan memperlama aksi tantrum anak.
b. Membiarkan anak melakukan tantrum tanpa melakukan intervensi juga
memberi anak kesempatan untuk belajar mengontrol diri dan mengatasi
kemarahan atau kekecewaannya
c. Setelah tantrum anak mereda, peluklah anak sambil mengatakan kalimat-
kalimat positif yang membesarkan hatinya. Kalimat yang menunjukkan
bahwa perasaan marahnya sangat wajar dan dimengerti karena semua
orang pasti merasakan pula kemarahan pada situasi-situais tertentu
d. Jika aksi tantrum anak dilakukan di tempat-tempat yang bersiko membuat
anak dalam bahaya atau terluka, peluklah anak erat-erat lalu bawalah ke
tempat yang aman
e. Mengalihkan perhatiannya, misalnya dengan mainan, film kartun
kesukaannya, atau aktivitas kegemarannya
