Teori Struktur Modal

  1. Trade Off Theory
    Atmaja (2008) menyatakan trade of theory tidak dapat
    menentukan struktur modal yang optimal secara tepat karena
    sulitnya menentukan secara tepat PV biaya financial distress dan
    PV agency costs. Tetapi model ini memberikan 3 masukkan
    penting:
    a. Perusahaan yang memiliki aktiva yang tinggi variabilitas
    keuntungannya akan memiliki probabilitas financial distress
    yang besar. Perusahaan semacam ini harus menggunakan
    sedikit hutang.
    b. Aktiva tetap yang tidak umum, aktiva yang tidak nampak
    dan kesempatan bertumbuh akan kehilangan banyak nilai
    jika terjadi financial distress. Perusahaan yang
    menggunakan aktiva semacam ini seharusnya menggunakan
    sedikit hutang.
    c. Perusahaan yang membayar pajak yang tinggi (dikenai
    sedikit pajak yang besar) sebaiknya lebih banyak
    menggunakan hutang dibanding perusahaan yang
    membayar pajak rendah (tingkat pajak rendah).
    Menurut Aji dalam Kartika (2009) ada 3 model kesimpulan
    tentang penggunaan leverage yaitu:
    a. Perusahaan dengan risiko usaha yang lebih rendah dapat
    meminjam lebih besar tanpa harus dibebani oleh expected
    cost of financial distress sehingga diperoleh keuntungan
    pajak karena penggunaan hutang yang lebih besar.
    b. Perusahaan yang memiliki tangible assets dan marketable
    assets seharusnya dapat menggunakan hutang yang lebih
    besar dari pada perusahaan yang memiliki nilai terutama
    dari itangible assets. Hal ini disebabkan itangible assets
    lebih mudah untuk kehilangan nilai apabila terjadi financial
    distress, dibandingkan standar asset dan tangible asset.
    c. Perusahaan di Negara yang tingkat pajaknya tinggi
    seharusnya memuat hutang yang lebih besar dalam struktur
    modalnya dari pada perusahaan yang dibayarkan diakui
    pemerintah sebagai biaya sehingga mengurangi pajak
    penghasilan.
  2. Pecking Order Theory
    Teori ini menjelaskan bahwa perusahaan lebih menyukai
    pendanaan secara internal daripada eksternal. Penggunaan dana
    internal tidak mengharuskan perusahaan mengungkapkan
    informasi baru kepada pemodal sehingga dapat menurunkan
    harga saham.
    Secara ringkas teori pecking order menyatakan bahwa
    (Brealey dan Myers dalam Husnan dan Pudjiastuti, 1998):
    a. Perusahaan lebih menyukai pendanaan internal.
    b. Perusahaan akan berusaha menyesuaikan rasio pembagian
    dividen dengan perubahan pembayaran dividen yang terlalu
    besar.
    c. Pembayaran dividen yang cenderung konstan dan fluktuasi
    laba yang diperoleh mengakibatkan dana internal kadangkadang berlebih ataupun kurang untuk investasi.
    d. Apabila pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan
    akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dulu.
    Penerbitan sekuritas akan dimulai dari penerbitan obligasi,
    kemudian obligasi yang dapat dikonversikan menjadi modal
    sendiri, baru akhirnya menerbitkan saham baru.