Capital Asset Pricing Model bukanlah satu-satunya teori yang mencoba
menjelaskan bagaimana suatu aktiva ditentukan harganya oleh pasar, atau
bagaimana menentukan tingkat keuntungan yang dipandang layak untuk suatu
investasi. Ross (1976) merumuskan suatu teori yang disebut sebagai Arbitrage
Pricing Theory (APT). APT pada dasarnya menggunakan pemikiran yang
menyatakan bahwa dua kesempatan investasi yang mempunyai karakteristik yang
identik sama tidaklah bisa dijual dengan harga yang berbeda. Konsep yang
dipergunakan adalah hukum satu harga (the law of one price). Apabila aktiva
yang berkarakteristik sama tersebut terjual dengan harga yang berbeda, maka akan
terdapat kesempatan untuk melakukan arbitrage dengan membeli aktiva yang
berharga murah dan pada saat yang sama menjualnya dengan harga yang lebih
tinggi sehingga memperoleh laba tanpa risiko.
Perbedaan antara kedua model tersebut terletak pada perlakuan APT terhadap
hubungan antar tingkat keuntungan sekuritas. APT mengasumsikan bahwa tingkat
keuntungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam perekonomian dan
industri. Korelasi antara tingkat keuntungan dua sekuritas terjadi karena sekuritassekuritas tersebut dipengaruhi oleh faktor yang sama. Sebaliknya, meskipun
CAPM mengakui adanya korelasi antar tingkat keuntungan, model tersebut tidak
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi korelasi tersebut. Baik CAPM
maupun APT berpendapat bahwa ada hubungan yang positif antara tingkat
keuntungan yang diharapkan dengan risiko.
CAPM menjelaskan bahwa beta merupakan pengukur risiko yang relevan, dan
terdapat hubungan yang positif dan linear antara tingkat keuntungan yang
diharapkan dengan beta. Dalam APT hubungan yang sama juga dijumpai. Saham
mempunyai risiko tidak sistematis, dan tingkat keuntungan aktual saham tersebut
tergantung pada risiko tidak sistematis tersebut. Tetapi karena risiko ini hilang
karena diversifikasi, maka pemodal dapat mengabaikan risiko tersebut apabila
mereka ingin menambah suatu saham dalam portofolio investasi mereka. Karena
itu, apabila pemodal mengabaikan risiko tidak sistematis, maka risiko
sistematislah yang dihubungkan dengan tingkat keuntungan yang diharapkan.
Meskipun demikian, sayangnya faktor-faktor yang kita identifikasikan dalam APT
tidak bisa kita kenali. Dengan kata lain APT tidak menjelaskan faktor-faktor apa
yang mempengaruhi pricing (Husnan,1994).
