Kepemilikan Manajerial


Kepemilikan manajerial merupakan situasi dimana manajer
memiliki saham perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut
sekaligus sebagai pemegang saham perusahaan. Dalam laporan keuangan,
keadaan ini ditunjukkan dengan besarnya presentase kepemilikan saham
perusahaan oleh manajer. Karena hal ini merupakan informasi penting bagi
pengguna laporan keuangan maka informasi ini akan diungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan. Adanya kepemilikan manajerial menjadi hal
yang menarik jika dikaitkan dengan agency theory (Yulius dan Josua 2009).
Adanya kepemilikan saham oleh pihak manajemen akan
menimbulkan suatu pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan yang
diambil oleh manajemen perusahaan. Kepemilikan manajerial juga dapat
diartikan sebagai persentase saham yang dimiliki oleh manajer dan direktur
perusahaan pada akhir tahun untuk masing-masing periode pengamatan. Masalah teknis tidak akan timbul jika kepemilikan dan pengelolaan
perusahaan tidak dijalankan secara terpisah. Pemilik (pemegang saham)
bertujuan untuk memaksimumkan kekayaannya dengan melihat nilai
sekarang dari arus kas yang dihasilkan oleh investasi perusahaan sedangkan
manajer bertujuan pada peningkatan pertumbuhan dan ukuran perusahaan.
Tujuan manajer ini dilandasi oleh dua alasan, yaitu :
1) Pertumbuhan yang meningkat akan memberikan peluang bagi manajer
bawah dan menengah untuk dipromosikan. Selain itu, manajer dapat
membuktikan diri sebagai karyawan yang produktif sehingga dapat
diperoleh penghargaan lebih dari wewenang untuk menentukan pengeluaran
(biaya-biaya)
2) Ukuran perusahaan yang semakin besar memberikan keamanan pekerjaan
atau mengurangi kemungkinan lay-off dan kompensasi yang semakin besar.
Semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan, maka
manajemen cenderung berusaha lebih giat untuk kepentingan pemegang
saham yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Kepemilikan saham
manajerial akan membantu penyatuan kepentingan antar manajer dengan
pemegang saham. Kepemilikan manajerial akan mensejajarkan kepentingan
manajemen dengan pemegang saham, sehingga manajer ikut merasakan
secara langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan ikut pula
menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan
yang salah. Argumen tersebut mengindikasikan mengenai pentingnya
kepemilikan manajerial dalam struktur kepemilikan perusahaan.
Namun, tingkat kepemilikan manajerial yang terlalu tinggi juga
dapat berdampak buruk terhadap perusahaan. Dengan kepemilikan
manajerial yang tinggi, manajer mempunyai hak voting yang tinggi
sehingga manajer mempunyai posisi yang kuat untuk mengendalikan
perusahaan, hal ini dapat menimbulkan masalah pertahanan, dalam artian,
adanya kesulitan bagi para pemegang saham eksternal untuk mengendalikan
tindakan manajer. Agency problem bisa dikurangi bila manajer mempunyai
kepemilikan saham dalam perusahaan, semakin meningkat proporsi
kepemilikan saham manajerial maka akan baik kinerja perusahaan.
Kepemilikan saham yang besar dari segi ekonomisnya memiliki insentif
untuk memonitor. Secara teoritis ketika kepemilikan manajerial rendah,
maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya oportunistik manajemen
akan meningkat. Kepemilikan manajerial terhadap saham perusahaan
dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara
pemegang saham luar dengan manajemen. Sehingga permasalahan
keagenan diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga
sekaligus sebagai seorang pemilik. Kepemilikan manajerial berhasil
menjadi mekanisme corporate governance yang dapat mengurangi konflik
kepentingan antara manajer dan berbagai pihak yang berkepentingan
dengan perusahaan. Semakin besar kepemilikan saham manajerial dapat
mencegah tindakan opportunistik manajer. Hubungan antara kepemilikan
manajerial dengan discretionary accruals. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa adanya hubungan negatif antara kepemilikan manajerial dengan
discretionary accruals. Penelitian yang menguji hubungan kepemilikan
manajerial dengan discretionary accrual dan kandungan informasi laba
menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial berhubungan secara
negatif dengan discretionary accrual. Hasil penelitian tersebut juga
manyatakan bahwa kualitas laba meningkat karena kepemilikan manajerial
tinggi.