Kelemahan EVA


Dengan berbagai keunggulan, EVA juga mempunyai beberapa kelemahan. Pertama, EVA hanya
menggambarkan penciptaan nilai pada suatu tahun tertentu. Dengan demikian, dalam
menggunakan EVA untuk menilai kinerja, harus melihat EVA masa kini dan masa datang.
Kedua, proses perhitungan EVA memerlukan estimasi atas biaya modal, dan estimasi ini
terutama untuk perusahaan yang belum go public, sulit untuk dilakukan dengan tepat. Kesalahan
dalam perhitungan biaya modal dapat mengurangi manfaat dari EVA (Utama, 1997).
Menurut Soetjipto (1997) EVA sebagai tolok ukur kinerja sumber daya manusia kurang
valid karena perhitungan EVA yang sesungguhnya cukup rumit, masih mengandung unsur
keberuntungan. EVA bukanlah tolok ukur kinerja bisnis yang baik karena hanya mengukur
kinerja keuangan saja. EVA juga hanya mengukur hasil akhir (outcome) dan tidak mengukur
aktivitas-aktivitas penentunya (driver).
Sedangkan kelemahan EVA menurut Alfred Rappaport, professor di Kellog Graduate
School of Management, North Westeren University berpendapat bahwa EVA hanyalah
merupakan tolok ukur jangka pendek dan berdasarkan sunk cost (investasi historis) (Conville,
1994). EVA menurut Rappaport, juga mendorong pengalokasian dana perusahaan untuk
investasi dengan biaya modal yang rendah. Investasi yang demikian umumnya memiliki resiko
yang kecil sehingga secara tidak langsung EVA mendorong perusahaan untuk menghindari
resiko padahal sebagian besar inovasi-inovasi dalam bisnis memiliki resiko yang sangat tinggi
terutama dalam era pasar bebas yang penuh dengan ketidakpastian.
Hal lain tentang kelemahan EVA dikemukakan oleh Stewart III (1995), senior partner di
Stern Stewart & Co., bahwa EVA bukanlah lampu wasiat yang mampu merubah kondisi
perusahaan dalam sekejap. Berdasarkan pengalamannya, perusahaan-perusahaan dengan total
penjualan hingga US$ 1 Milyar membutuhkan waktu 6-9 bulan untuk mengimplementasikan
EVA secara utuh sedangkan perusahaan-perusahaan yang lebih besar dari itu membutuhkan
waktu beberapa tahun