Adapun metode pencatatan-pencatatan persediaan. Ada dua metode pencatatan
persediaan menurut Kieso, et al., (2017:370) yaitu:
- Metode Pencatatan Perpetual.
Dalam metode pencatatan perpetual, perusahaan akan mencatat setiap kali terjadi
transaksi yang mempengaruhi persediaan seperti pembelian, penjualan, retur
pembelian, atau retur penjualan. Dalam sistem ini setiap pembelian akan di jurnal
dalam akun persediaan barang dagangan, penjualan akan di jurnal pada akun penjualan
dan harga pokok penjualan juga di jurnal. Setiap perubahan dalam persediaan diikuti
dengan pencatatan dalam rekening persediaan sehingga jumlah persediaan sewaktuwaktu dapat diketahui dengan melihat kolom saldo rekening persediaan. Nilai
persediaan akhir dapat diketahui tapi perhitungan fisik tetap harus dilakukan untuk
mencocokkan persediaan akhir menurut perhitungan fisik dengan catatan akuntansi. - Metode Fisik atau Periodik.
Penggunaan metode fisik mengharuskan adanya perhitungan barang yang masih ada
pada tanggal penyusunan laporan keuangan. Perhitungan persediaan ini diperlukan
untuk mengetahui berapa jumlah barang yang masih ada dan kemudian diperhitungkan
harga pokoknya. Dalam metode ini mutasi persediaan barang tidak diikuti dalam bukubuku, setiap pembelian barang dicatat dalam rekening pembelian, karena tidak ada
catatan mutasi persediaan barang maka harga pokok penjualan juga tidak dapat
diketahui sewaktu-waktu. Dengan metode periodik, maka akun-akun seperti retur
pembelian, potongan pembelian dan biaya angkut digunakan secara terpisah,
sedangkan pada metode perpetual untuk menentukan harga pokok penjualan tidak
mengenal akun-akun tersebut, namun menggantinya dengan akun persediaan.
Perhitungan fisik (stock opname) pada saat akhir periode mutlak harus dilakukan oleh
perusahaan yang menggunakan metode pencatatan periodik. Hal ini harus dilakukan
agar dapat mengetahui dan menetapkan jumlah persediaan barang akhir dan harga
pokok penjualan selama satu periode.
