Menurut Warren dalam Siregar (2022) Pengendalian internal yang baik atas
persediaan harus diterapkan. Dua tujuan utama dari pengendalian internal atas persediaan
adalah mengamankan persediaan dan melaporkannya secara tepat dalam laporan
keuangan. Pengendalian internal ini bisa bersifat preventif (pencegahan) maupun detektif.
Pengendalian preventif (preventive control) dirancang untuk mencegah kesalahan atau
kekeliruan pencatatan. Pengendalian detektif (detective control) ditujukan untuk
mendeteksi kesalahan atau kekeliruan yang telah terjadi.
Untuk memeriksa apakah terdapat internal kontrol yang cukup baik atas
persediaan, ada beberapa ciri internal kontrol yang baik menurut Ariyanto (2023:96) yaitu:
- Adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab antara bagian pembelian, bagian
penerimaan barang, gudang, akuntansi dan keuangan. - Digunakan formulir-formulir yang benar bernomor urut tercetak seperti permintaan
pembelian, order pembelian, surat jalan, laporan penerimaan barang, order penjualan
dan faktur penjualan. - Untuk pembelian dalam jumlah besar dilakukan tender.
- Adanya otorisasi baik pembelian, penjualan, penerimaan kas serta pengeluaran kas.
- Digunakan anggaran untuk pembelian, produksi, penjualan dan penerimaan dan
pengeluaran kas. - Pemesanan barang dilakukan dengan memperhitungkan economic order value.
- Digunakan perpetual sistem dan kartu stok persediaan.
