Pengertian Kepuasan Kerja


Suatu perusahaan harus dapat memenuhi kepuasan kerja setiap
karyawannya. Tingginya tingkat kepuasan kerja karyawan secara tidak
langsung membuktikan bahwa perusahaan tersebut mempunyai
kemampuan organisasional yang baik. Salah satu hal yang harus
mendapat perhatian yang cukup besar dalam suatu organisasi adalah
terciptanya kepuasan kerja karyawan, karena dengan adanya kepuasan
kerja maka seseorang akan lebih bersemangat dalam bekerja sehingga
dapat menunjang pencapaian tujuan organisasi.
Robbins and Judge (2011) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai
perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari
sebuah evaluasi karakteristiknya. Seseorang yang memiliki tingkat
kepuasan kerja tinggi, akan memiliki perasaan positif terhadap
pekerjaan. Sebaliknya seseorang yang memiliki kepuasan kerja yang
rendah akan memiliki perasaan negatif terhadap pekerjaan.
Robbins (2003) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah suatu
sikap umum terhadap pekerjaan seseorang sebagai perbedaan antara
banyaknya ganjaran yang diterima pekerja dengan banyaknya ganjaran
yang diyakini seharusnya diterima.
Kepuasan kerja merupakan persepsi seseorang mengenai pekerjaan,
berdasarkan faktor-faktor lingkungan kerja seperti gaya atasan, aturan
dan prosedur kerja, rekan kerja, kondisi kerja dan tingkat kompensasi
yang diterima. Elemen-elemen kerja yang berhubungan dengan
kepuasan kerja di antaranya adalah nilai kompensasi, promosikerja,
kondisi kerja, supervisi, cara kerja organisasi dan hubungan yang
tercipta antara atasan dan bawahan.
kepuasan kerja adalah suatu perasaan positif tentang pekerjaan
seseorang yang merupakan hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya.
Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi memiliki
perasaan-perasaan positif tentang pekerjaan tersebut, sementara
seseorang yang tidak puas memiliki perasaanperasaan yang negatif
tentang pekerjaan tersebut. Unsur lainnya adalah pola pikir karyawan
terhadap pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, sikap karyawan terhadap
pekerjaan, kesehatan, umur, tingkat aspirasi, status sosial, dan kegiatan
sosial politik dapat mempengaruhi kepuasan kerja.
Fred Luthans (2006), membagi kepuasan kerja menjadi lima
dimensi dasar, yaitu:

  1. Pembayaran seperti gaji dan upah
    Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan pegawai yang
    dianggap layak atau tidak. Tetapi kunci yang
    menghubungkan upah dengan kepuasan bukanlah jumlah
    mutlak yang dibayarkan, yang lebih penting adalah persepsi
    keadilan. Serupa pula karyawan berusaha mendapatkan
    kebijakan dan praktik promosi lebih banyak, dan status
    social yang ditingkatkan. Oleh karena itu, individuindividu
    yang mempersepsikan keputusan promosi dibuat dalam cara
    yang adil (fair) kemungkinan besar akan mengalami
    kepuasan dari pekerjaan mereka.
  2. Pekerjaan itu sendiri
    Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu
    sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sukar tidaknya
    suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya
    dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut akan
    meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
  3. Promosi jabatan
    Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya
    kesempatan untuk memperoleh peningkatan karir selama
    bekerja. Promosi menunjuk pada suatu kesempatan untuk
    memperoleh jenjang jabatan tertentu yang lebih tinggi dalam
    organisasi. Kesempatan tersebut bisa timbul karena berbagai
    faktor diantaranya pengetahuan dan kemampuan yang tinggi
    untuk menyelesaikan pekerjaan. Pencapaian prestasi tertentu
    juga memungkinkan diberikannya kesempatan untuk
    mendapatkan jenjang jabatan yang lebih menantang.
  4. Kepemimpinan (supervisi)
    Atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan
    bawahannya. Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai
    seorang figur ayah, ibu, teman dan sekaligus atasannya.
    Perilaku seorang atasan merupakan faktor determinan utama
    dari kepuasan kerja.
  5. Hubungan dengan rekan kerja
    Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan
    antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain,
    baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
    Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan
    akan sosial. Oleh karena itu, bila mempunyai rekan sekerja
    yang ramah dan menyenangkan dapat menciptakan kepuasan
    kerja yang meningkat. Dukungan, motivasi, perhatian, dan
    tingkat pemahaman ditunjukkan sebagai suatu proses positif
    dari sebuah interaksi antar sesama pegawai dalam organisasi.
    Kepuasan kerja seseorang dapat dipengaruhi oleh kelima
    faktor diatas, apabila seseorang karyawan memiliki
    kepuasan kerja terhadap organisasi di mana ia bekerja, maka
    dapat mempengaruhi dan mendukung karyawan dalam
    menyelesaikan pekerjaan pekerjaan yang dibebankan kepada
    mereka.