Dimensi-Dimensi Kinerja Karyawan


Ada enam kategori hasil yang digunakan untuk mengukur nilai kinerja
karyawan menurut Bernardin & Russell (dalam, Kaswan, 2017: 279) antara lain
sebagai berikut:
a. Kualitas.
Seberapa jauh/baik proses atau hasil menjalankan aktivitas mendekati
kesempurnaan, ditinjau dari kesesuaian dengan cara ideal dalam memenuhi
tujuan yang dikehendaki oleh suatu aktivitas.
b. Kuantitas.
Jumlah yang dihasilkan, dinyatakan dalam dolar atau rupiah, jumlah unit
kegiatan yang telah diselesaikan.
c. Ketepatan waktu.
Seberapa jauh/baik sebuah aktivitas diselesaikan, atau hasil yang produksi, pada
waktu yang paling awal yang dikehendaki dari sudut pandang koordinasi dengan
output yang lain maupun memaksimum waktu yang ada untuk kegiatan-kegiatan
lain.
d. Efektivitas biaya.
Seberapa jauh/baik sumber daya organisasi (misalnya, manusia, monoter,
teknologi, bahan) dimaksimumkan dalam pengertian memperoleh keuntungan
tertinggi atau pengurungan dalam kerugian dari masing-masing unit, atau contoh
penggunaan sumber daya.
e. Kebutuhan untuk supervise.
Seberapa jauh/baik seorang karyawan dapat melaksanakan fungsi kerja tanpa
harus meminta bantuan pengawasan atau memerlukan intervensi pengawasan
untuk mencegah hasil yang merugikan.
f. Dampak interpersonal/kontekstual kinerja.
Seberapa jauh/baik karyawan meningkatkan harga-diri, itikad baik (goodwill),
dan kerjasama antar sesama karyawan dan bawahan.
Dimensi kinerja juga dikemukakan oleh Campbell (dalam, Kaswan, 2017:
279-281) bahwa ada delapan dimensi perilaku dalam kinerja karyawan, yaitu:
a. Kemampuan tugas spesifik pekerjaan. Seberapa baik karyawan dapat melakukan
tugas yang merupakan persyaratan teknis utama dari suatu pekerjaan dan yang
membedakan satu pekerjaan lainnya.
b. Kemampuan tugas yang tidak spesifik pekerjaan. Seberapa baik karyawan dapat
melakukan tugas yang tidak khusus untuk pekerjaan itu, namun diperlukan oleh
kebanyakan atau sebagian besar pekerjaan di dalam organisasi.
c. Komunikasi lisan dan tulis. Seberapa baik karyawan dapat menulis atau
berbicara dengan orang lain, atau sekelompok orang.
d. Menunjukkan usaha. Seberapa besar orang berkomitmen terhadap tugas
pekerjaannya dan seberapa tekun dan intensif seorang karyawan melakukan
tugas pekerjaannya.
e. Memelihara disiplin pribadi. Seberapa besar seorang karyawan menghindari
perilaku negatif, seperti penyalahgunaan obat, alkohol, melanggar aturan,
mangkir.
f. Memfasilitasi kinerja tim dan rekan kerja. Seberapa baik karyawan mendukung,
membantu, dan mengembangkan rekan kerjanya dan membantu sebuah
tim/kelompok berfungsi sebagai kesatuan yang efektif.
g. Supervise. Seberapa baik seseorang mempengaruhi karyawan dalam interaksi
tatap muka.
h. Manajemen dan administrasi. Seberapa baik seseorang menjalankan fungsi lain
manajemen yang bukan bersifat mengawasi, seperti menetapkan tujuan,
mengorganisasi orang dan sumber daya, memantau kemajuan, mengendalikan
biaya, dan mencari sumber daya tambahan