Stress kerja menurut Robbin (2016) antara lain sebagai berikut :Tuntutan tugas,
merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan seseorang seperti kondisi kerja, tata
kerja dan letak fisik.Tuntutan peran, berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada
seseorang sebagai suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam suatu
organisasi.Tuntutan antar pribadi, merupakan tekanan yang diciptakan oleh pegawai
lain.Struktur organisasi, gambaran instansi yang diwarnai dengan struktur organisasi yang
tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang, dan tanggung
jawab.
Menurut Robbins (2018), stress kerja merupakan suatu tanggapan dalam
menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses psikologis,
sebagai konsekuensi dari tindakan. Stress kerja juga dapat diartikan sebagai bentuk
tekanan emosional atau ketegangan yang dirasakan karyawan karena menghadapi sebuah
tuntutan yang cukup besar, sebuah hambatan serta adanya kesempatan penting sehingga
akan mempengaruhi pikiran, kondisi fisik seseorang dan emosi karyawan (Hariandja,
2018).
Menurut Siagian (2017) stress kerja adalah sebuah kondisi ketegangan yang
dialami karyawan yang dapat mempengaruhi jalan pikiran dan emosi seseorang serta
kondisi fisik seseorang. Pendapat lain dikemukakan oleh Mangkunegara (2018)
menyatakan bahwa stress kerja merupakan perasaan karyawan akibat tekanan atau merasa
tertekan ketika menghadapi tugas dan pekerjaan. Stress kerja merupakan sebuah kondisi
tentang ketegangan yang dirasakan karyawan yang dapat adanya ketidak seimbangan
antara fisik dan psikis, sehingga akan mempengaruhi kondisi seorang pegawai, tingkat
emosi dan pola pikir karyawan. Stress yang berlebihan akan dapat mengganggu
kemampuan seseorang dalam menghadapi lingkungan. Dengan demikian ketika
karyawan sedang mengalami berbagai macam gejala stress maka akan dapat
mengganggu dalam pelaksanaan kerja mereka (Rivai, 2018).
Menurut Parker dan Decotiis (2017) dalam Mauladi dan Dihan (2015)
mendefinisikan stress merupakan bentuk penyimpangan atas fungsi fisiologis atau
psikologis dari kondisi normal yang disebabkan oleh adanya urgensi di lingkungan
terdekat individu.Mungkin tidak berfungsinya psikologis fisiologis dalam konsep stress
kerja belum dapat disimpulkan, dan bermasalah dalam hal itu tidak membedakan apakah
individu menyadari disfungsi.Ini adalah pandangan bahwa disfungsi fisiologis lebih
mungkin menjadi konsekuensi dari stress dan tidaknya dan, lebih lanjut, bahwa stress
kerja agar memiliki konsekuensi apapun harus setidaknya pada beberapa tingkat
kesadaran. Konseptualisasi ini merupakan gagasan “penyimpangan dari normal” dalam
pengalaman individu; yaitu, apa yang normal dirasakan satu individu mungkin tidak
normal bagi orang lain.
Sedangkan Beehr dan Newman (2016) dalam Mauladi dan Dihan (2015),
mendefinisikan stress kerja sebagai tuntutan pekerjaan yang berlebihan melebihi
kemampuan pekerja meliputi interaksi antara kondisi pekerjaan dengan sikap individu,
yang mengubah kondisi normal dan fungsi psikologis pekerja sehingga menyebabkan
orang merasa sakit, tidak nyaman atau tegang karena pekerjaan,
tempat kerja atau situasi kerja yang tertentu. Adapun gejala stress menurut Beehr
dan Newman mengaktegorika n gejala stress kedalam beberapa aspek, yaitu :
- Kecemasan dan ketegangan,
- Bingung, marah dan sensitif,
- Menunda atau menghindari pekerjaan,
- Prestasi dan produktivitas menurun,
- Meningkatnya frekuensi absensi,
- Meningkatnya agresifitas,
- Menurunnya kualitas hubungan interpersonal.
