Model Input Output pertama kali diperkenalkan oleh Wassily W. Leontief dari Harvard University pada tahun 1963. Analisis Input Output merupakan suatu model matematis untuk menelaah struktur perekonomian yang saling kait mengkait antar sektor atau kegiatan ekonomi. Analisis Input Output bertolak dari anggapan bahwa suatu sistem perekonomian terdiri atas sektor-sektor yang berkaitan. Masing-masing sektor tersebut menggunakan output dari sektor lain sebagai input untuk memproduksi output yang akan diproduksi sektor tersebut (PAU SE UGM dan BAPPENAS 2000: IV – 1).
Baumol menyatakan analisis Input Output sebagai usaha untuk memasukkan fenomena keseimbangan umum dalam analisis empiris sisi produksi (lihat Nazara 1997 :2), selanjutnya Nazara (1997: 2) menyatakan bahwa analisis Input Output merupakan suatu peralatan analisis keseimbangan umum. Analisis itu didasarkan suatu situasi perekonomian, dan bukan pendekatan teoritis ala Walras semata. Keseimbangan dalam analisis Input Output didasarkan arus transaksi antar pelaku perekonomian. Penekanan utama dalam analisis Input Output ini adalah pada sisi produksi. Teknologi produksi yang digunakan oleh perekonomian tersebut memegang peranan penting dalam analisis. Lebih spesifik lagi, teknologi yang memegang peranan besar adalah teknologi dalam kaitannya dengan penggunaan input antara.
Analisis dengan menggunakan metode ini didasarkan atas suatu tabel yang disebut tabel Input Output. Tabel Input Output adalah suatu sistem informasi statistik yang disusun dalam bentuk matrik yang mengambarkan transaksi barang dan jasa-jasa antar sektor-sektor ekonomi. Aspek yang ingin ditonjolkan oleh tabel Input Output adalah bahwa setiap sektor mempunyai keterkaitan/ketergantungan dengan sektor lain, seberapa besar ketergantungan suatu sektor ditentukan oleh besarnya input yang digunakan dalam proses produksinya, dengan kata lain pengembangan suatu sektor tidak akan tercapai tanpa dukungan input yang memadai dari sektor lain, oleh karena itu perencanaan suatu sektor harus pula memperhatikan prospek pengembangan sektor-sektor terkait secara terintegrasi.
Untuk memberikan gambaran tabel Input Output berikut diberikan suatu ilustrasi tabel dengan menyederhanakan suatu sistem ekonomi menjadi tiga sektor produksi (Boediono, 1999 : 52)
Tabel 2.1
Ilustrasi Tabel Input Output 3 X 3 Sektor
|
|
Permintaan antara |
Permintaan Akhir |
Jumlah output |
|||
| 1 | 2 | 3 | ||||
| Sektor
Produksi |
1 | X11 | X12 | X13 | F1 | X1 |
| 2 | X21 | X22 | X23 | F2 | X2 | |
| 3 | X31 | X32 | X33 | F3 | X3 | |
| Nilai Tambah | V1 | V2 | V3 | V | – | |
| Jumlah input | X1 | X2 | X3 | – | X | |
Selanjutnya dengan mengunakan tabel Input Output tiga sektor seperti contoh di atas, dapat dibuat persamaan dari masing-masing sektor yaitu :
X11 + X12 + X13+ F1 = X1
X21 + X22 + X23+ F2 = X2
X31 + X32 + X33+ F3 = X3
Kemudian, untuk mendapatkan model koefisien input langsung yang dikenal dengan sebutan koefisien teknologi, digunakan rumus
………………… (2.1)
Matrik (I – A)-1 dikenal dengan nama matrik kebalikan Leontief. Elemen matrik ini dinotasikan dengan aij dan mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian. Permintaan akhir tersebut adalah variabel yang eksogen sifatnya.
