Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berencana memberikan pelayanan program Keluarga Berencana (KB) gratis bagiĀ penduduk miskin yang tinggal di kawasan kumuh perkotaan pada 2009 mendatang secara nasional. Program ini akan diprioritaskan pada 15 kota besar di Jawa dan luar Jawa. Jumlah sasaran yang akan digarap sekitar tiga hingga empat juta pasangan usia subur (Antara, 2008).
Untuk itu, BKKBN mengalokasikan anggaran Rp. 500 miliar untuk program pelayanan KB gratis bagi masyarakat miskin perkotaan pada 2009. dana itu antara lain akan digunakan untuk merekrut petugas lapangan KB (PLKB) dan menambah jumlah unit mobil pelayanan KB keliling yang pada tahun 2008 ini sebanyak 33 unit menjadi 200 unit.
Lebih lanjut program itu nantinya akan direalisasikan dengan menyediakan fasilitas layanan KB keliling bagi masyarakat miskin yang tinggal di kawasan kumuh perkotaan. Mobil-mobil pelayanan KB keliling setiap tiga bulan sekali akan didatangkan ke sentra-sentra masyarakat miskin kota untuk memberikan pelayanan KB dan konsultasi kesehatan reproduksi secara gratis. Program ini difokuskan ke masyarakat miskin karena selama ini mereka adalah kelompok yang memberikan sumbangan paling besar terhadap peningkatan jumlah penduduk (Antara, 2008).
Masih banyak pengambil kebijakan di pemerintah menganggap KB sukses-sukses saja seperti dahulu sebelum jaman reformasi. Padahal ada sesuatu yang gawat. Saat ini terjadi penurunan pemahaman penerimaan program KB. Akses pelayanan KB bagi keluarga miskin yang jumlahnya besar sekali nyaris terbengkelai. Trend pencapaian KB aktif secara keseluruhan menurun. Kecenderungan pencapaian KB aktif di Daerah Istimewa Yogyakarta menurun dari tahun 2006 ke tahun 2007 dari 100,0% ke 99,02 % dari PPM (Sutaryo, 2008).
Dipastikan kalau program KB gagal akan terjadi ledakan penduduk. Setiap orang memerlukan pendidikan, kesehatan (termasuk pangan), dan energi. Sekarang pun di tahun 2007/2008 Indonesia sudah mengalami krisis energi (listrik, minyak tanah, bensin, solar) dan pangan (beras, kedelai, gula, minyak goreng, dll). Kualitas pendidikan di Indonesia, Asia Tenggara, termasuk papan bawah. Oleh karena itu hasilnya manusia Indonesia di daftar Human Development Index dalam 5 tahun terakhir berada disekitar rangking nomor 107-111 (Sutaryo, 2008)
